Tenun Ikat Watubo Jadi Daya Pikat Delegasi IMF-WB 2018

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Kain tradisional atau wastra Nusantara menjadi daya tarik tersendiri di Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – Bank Dunia (World Bank) 2018 Bali. Peserta dan delegasi bisa menemukannya di pameran seni dan kerajinan Paviliun Indonesia yang berlokasi di area Hotel Westin, Nusa Dua.

Salah satu karya paling diminati peserta dan delegasi adalah tenun ikat dari Desa Watublapi, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) milik Kelompok Tenun Watubo. Tenun ini populer karena seluruh pengrajinnya menggunakan bahan pewarna alami untuk memproduksi kain-kain tenun. “Pewarna alami telah kami gunakan sejak 10-15 tahun lalu,” kata pendiri Kelompok Tenun Watubo, Rosvita, Senin (8/10/2018).

Wanita yang akrab disapa Kak Ros ini bercerita tenun Watubo diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda Desa Watublapi. Saat ini ada dua kelompok pengrajin tenun di Watublapi yang beranggotakan lebih dari 60 orang.

Mereka terdiri dari anak-anak muda, dewasa, hingga dewasa tua. Kain tenun yang dihasilkan bukan hanya untuk pakaian sehari-hari, namun juga busana adat dengan harga cukup variatif, mulai dari Rp 200 ribu hingga lima juta rupiah. Selembar kain tenun sepanjang tiga meter dan lebar 80 centimeter (cm) dikerjakan dalam waktu tiga bulan.

Pengrajin tenun Watubo tetap setia menggunakan pewarna alami meski proses pengerjaannya lebih lama dibanding memakai pewarna kimia atau sintetis. Kak Ros mengatakan tak jarang wisatawan mempertanyakan harga kain tenun Desa Watublapi yang mahal. “Kami sarankan jika mereka mencari tenun lebih murah atau sitentis, ada di luar Desa Watublapi,” katanya seperti diunduh lama Republika.

Diakui Kak Ros, dukungan pemerintah daerah dan swasta sangat membantu menghidupkan perekonomian pengrajin lokal. Kelompok Tenun Watubo sering mengikuti berbagai pameran, hingga promosi lewat media sosial. Omset kelompok pengrajin perbulannya berkisar Rp 50-100 juta.

Kak Ros berharap tenun Watubo juga bisa dikenal dunia lewat pertemuan tahunan ini. Lewat sanggar seni yang didirikannya, Kak Ros berkomitmen terus mengajarkan keterampilan tenun tradisional kepada generasi muda Desa Watublapi, mulai dari tingkat sekolah dasar. Tak jarang anak-anak desa di Kecamatan Hewokloang itu sudah bisa menenun sendiri, bahkan menjual hasil tenunnya.

Wisatawan bisa lebih mengenal tenun Watubo dengan menginap di homestay-homestay milik penduduk lokal. Di sana pengunjung bisa belajar mengenal lingkungan Watublapi, cara menggunakan alat tenun tradisional, proses pengerjaan kain, dan mengetahui mengapa harga kain tenun yang dihasilkan dari pewarna alami harganya lebih mahal dari pewarna sitentis.

Desa Watublapi saat ini tengah dipersiapkan menjadi kampung wisata oleh pemerintah daerah setempat. Atraksi wisata lain tak kalah menarik, mulai dari wisata kuliner, tarian, dan peninggalan sejarah sejak zaman penjajahan Portugis di NTT. (EP)

Tragis, Ditemukan 797 Merek Sampah Plastik di 3 Obyek Wisata Pantai

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Obyek wisata Pantai di Indonesia kian menyedihkan. Selain pemandangan yang indah, juga pemandangan sampah plastik tersebar dimana-mana. Lebih menyedihkan lagi, sampah plastik itu dibawa dan dibuang para wisatawan yang berwisata menikmati panorama pantai. Kesadaran wisatawan ini sangat rendah menjaga kebersihan pantai. Dan selalu berpikiran bahwa alam yang akan menyapu sampah plastik itu.

Hasil temuan Greenpeace Indonesia bersama sejumlah komunitas kebersihan pantai ternyata sebanyak 797 merek sampah plastik di tiga pantai di tiga wilayah Indonesia. Audit merek sampah plastik tersebut dilakukan pada pertengahan September 2018 di tiga lokasi: Pantai Kuk Cituis (Tangerang Banten), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pantai Mertasari (Bali).

“Ada 797 merek dari sampah plastik yang kami temukan dari tiga lokasi, di mana yang terbesar adalah merek-merek makanan dan minuman (594 merek), kemudian merek-merek perawatan tubuh (90), kebutuhan rumah tangga (86), dan lainnya (27),” kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, dalam siaran pers yang diterima Bisniswisata.co.id, Senin (08/10/2018).

Selain itu, ujar dia, Greenpeace menemukan banyak sampah plastik yang tidak terlihat lagi mereknya. “Ini mengindikasikan sampah tersebut sudah lama terbuang dan berada di lingkungan tersebut,” jelas Atha.

Dipaparkan, secara global hanya 9 persen sampah plastik yang didaur ulang dan 12 persen dibakar. Dengan kata lain, 79 persen sisanya berakhir di tempat-tempat pembuangan maupun saluran-saluran air seperti sungai yang bermuara ke lautan.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan produktivitas sektor perikanan berpotensi untuk terus menurun akibat semakin banyaknya sampah plastik masuk ke kawasan perairan nasional.

“Produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Moh. Abduh Nurdihajat.

Dia memaparkan, menjelang penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018, KKP juga menggelar Gerakan Bersih Pantai dan Laut seperti di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, pada Rabu pekan lalu (3/10/2018).

Kegiatan bersih pantai tersebut dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah di pesisir pantai, terutama sampah plastik untuk kemudian ditimbang. Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 1 ton sampah terkumpul, yakni tepatnya 1.007,54 kg. Sampah-sampah tersebut selanjutnya akan dikirim ke tempat pengolahan sampah di Manggarai Barat. ”

Sampah plastik telah menjadi ancaman yang serius. Tak hanya sampah yang berasal dari daratan Labuan Bajo, tapi juga sampah dari pelayaran laut dan yang terbawa arus serta dari pulau-pulau kecil sekitar Pulau Komodo,” ujar Abduh.

Ditambahkan, jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan.

Mengingat pencemaran laut sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia, maka diperlukan upaya bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan pengendaliannya. “Upaya bersama menyelamatkan potensi pesisir dan laut dari ancaman pencemaran terutama sampah laut harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan,” sambungnya. (redaksi@bisniswisata.co.d)

Swiss-Belhotel Ramaikan Bisnis Perhotelan di Serang

this formate

SERANG, bisniswisata.co.id: Swiss-Belhotel International, manajemen hotel berskala global, meresmikan Swiss Belinn Modern Cikande Serang, sebuah hotel baru berkelas menengah yang berdiri di Serang Propinsi Banten. Hotel ini berdiri di propinsi paling barat pulau Jawa, sekaligus meramaikan bisnis perhotelan di Kota Serang.

Peresmian ini sangat penting karena menandai datangnya hotel bertaraf internasional pertama di Serang yang diselenggarakan pada tanggal 27 September 2018 dengan menampilkan pertunjukan tari tradisional, pidato dari jajaran eksekutif serta peresmian dengan upacara pemotongan pita.

“Saya merasa terhormat berada di sini hari ini karena kami merayakan peresmian Swiss-Belinn ModernCikande. Hotel ini akan menyediakan akomodasi, fasilitas, dan keramahan bertaraf internasional sehingga dapat meningkatkan jumlah pengunjung terutama para pelaku bisnis yang datang mengunjungi daerah Banten yang tengah berkembang,” papar Chairman and President Swiss-Belhotel International Gavin M. Faull dalam keterangan resmi, Senin (08/10/2018).

Atas nama Swiss-Belhotel International, sambung dia, ingin mengucapkan terima kasih kepada PT Modernland Realty Tbk atas pembangunan properti yang luar biasa ini. “Kami berharap dapat memberikan keramahan yang telah menjadi ciri khas Swiss-Belhotel kepada semua tamu kami,” komentar Gavin M. Faull.

Berlokasi tepat di dalam komplek area bisnis Kota Serang, menyediakan pilihan akomodasi baik untuk menginap jangka pendek maupun panjang, menjadikan Swiss-Belinn ModernCikande pilihan ideal bagi para pelaku bisnis. Hotel ini berjarak 100 km dari pusat kota Jakarta dan dengan mudah diakses dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta melalui tol, sedangkan kota industri Cilegon dan dekat dari pusat industri Karawaci.

Swiss-Belinn ModernCikande menampilkan total 165 kamar termasuk suite, semuanya mempunyai area kerja dan fasilitas berstandar internasional termasuk TV LED 42 inci, Wi-Fi, outlet listrik universal, kotak penyimpanan elektronik berukuran laptop, dan kamar mandi dilengkapi dengan shower. Ada juga 12 apartemen berisi satu kamar tidur dengan dapur kecil dan ruang tamu terpisah untuk tamu yang perlu tinggal sedikit lebih lama.

Para tamu pun dapat menikmati sarapan dan aneka pilihan menu makanan di restoran Swiss Kitchen™, ditambah layanan kamar 24-jam, sedangkan bar di area kolam renang menyediakan suasana yang nyaman untuk menikmati koktail setelah bekerja. Fasilitas lainnya yang tersedia termasuk pusat kebugaran, spa, kolam renang dengan area anak-anak, dan ruang sholat.

Hotel ini juga menyediakan enam ruang serbaguna dapat menampung semua jenis acara, mulai dari acara sosial besar hingga pertemuan bisnis pribadi, seminar pelatihan, dan banyak lagi, serta dilengkapi dengan teknologi audio-visual yang modern.

Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa, menghadap Selat Sunda yang menjadi pemisah dengan Pulau Sumatera yang jaraknya berdekatan. Provinsi ini juga tidak jauh dari Jakarta dan pelabuhan-pelabuhan utama, dan posisi yang sangat strategis ini menjadikan Banten sebagai daerah ekonomi yang penting bagi seluruh Indonesia.

Fokus pada penyediaan akomodasi yang bergaya namun terjangkau, fasilitas dan konektivitas yang modern, brand Swiss-Belinn dengan skala menengah sangat tepat bagi kota-kota yang sedang berkembang seperti Serang. Swiss-Belinn ModernCikande diharapkan menjadi pilihan terdepan untuk meningkatnya jumlah pengunjung yang datang ke daerah ini.

Acara peresmian dihadiri Bupati Serang, Hj. Ratu Tatu Chasanah, bersama dengan Presiden Komisaris PT. Modernland Realty Tbk Luntungan Honoris dan Presiden Direktur William Honoris serta Managing Director PT. Modern Asia Hotel (anak perusahaan PT. Modernland Realty, Tbk) Reagan Honoris, Chairman and President Swiss-Belhotel International Gavin M. Faull dan Senior VP Operations and Development Indonesia, Malaysia, Cambodia Emmanuel Guillard serta sejumlah undangan penting lainnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Alitalia Kesulitan Bisnis, Pembayaran Hutang Diperpanjang

this formate

ROMA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Italia kini tengah mengupayakan perpanjangan waktu selama enam bulan menjadi jatuh pada 15 Desember 2018. Perpanjangan waktu tersebut ditujukan kepada maskapai penerbangan Alitalia agar dapat melunasi hutangnya sebanyak EUR 900 juta atau setara US$ 1 miliar (US$ 1 = EUR 0,8670) guna tetap mendapat izin beroperasi.

Salah satu keterangan sumber Pemerintah yang dilansir Reuters, Senin (08/10/2018) hal ini dilakukan sambil menunggu perusahaan maskapai tersebut laris terjual. Maskapai Alitalia sempat jadi simbol kebanggaan Italia, kini tengah mengalami kesulitan bisnis. Salah satu penyebabnya antara lain, menurunnya peminat lantaran kalah bersaing dengan transportasi umum lain seperti kereta cepat.

Pemerintah Roma pun sempat melakukan upaya penyelamatan dengan mencarikan pembeli strategis, namun proses tersebut terhambat dikarenakan adanya pergantian kepemimpinan di Roma.

Reuters menyebut, mengenai kasus penyelamatan perusahaan raksasa ini pihak Alitalia masih enggan berkomentar. Sementara itu, sumber lain Reuter dalam lini Pemerintahan Roma yang baru, menyebut bahwa Roma ingin melepas 51% sahamnya di Atalia kepada publik. Pemerintah juga sudah melakukan pendekatan dengan para konglomerat di Italia, serta kalangan pemain industri di negara asalnya.

Gianfranco Battisti, Kepala Ferrovie dello Stato (FS) Italia bulan lalu mengatakan, Alitalia bisa menjadi peluang bagi perusahaan milik negara di Italia, antara lain untuk memperkuat sinergi dalam tiket dan rute perjalanan. Namun, Battisti pada Jumat (5/10) lalu mengatakan bahwa FS tidak mau fokus kepada partisipasi keuangan di perusahaan lain pada saat ini.

Sesungguhnya, ada beberapa perusahaan penerbangan yang tertarik untuk memboyong Alitalia. Misalnya saja pada awal tahun lalu EasyJet, Lutfhansa dan Wizz Air sempat menyatakan ketertarikannya dalam memiliki saham di Alitalia.

Menteri Industri Italia Luigi di Maio memastikan bahwa keputusan terkait kasus kerugian yang menimpa Alitalia akan rampung pada bulan November 2018. Pihaknya juga akan melakukan pertemuan dengan Alitalia pada 12 Oktober 2018 mendatang.

Sebelumnya, rencana penyelematan Alitalia diperkirakan akan rampung pada 30 April 2018 lalu, namun jadwal tersebut molor lantaran adanya perubahan Pemerintahan. (EP)

Majukan Bisnis, Komunitas Mitra Bisnis Manfaatkan Mobile Apps

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komunitas Mitra Bisnis, yang didirikan sejak tiga minggu lalu oleh bos TX Travel, Anton Teddy (58), menggelar seminar bisnis bertema Mentor adalah Pebisnis Aktif, Bukan Motivator atau Trainer di Jakarta, akhir pekan lalu.

Melalui seminar yang dihadiri para owner bisnis yang sebagian adalah anggota dari Mitra Bisnis tersebut, diharapkan Anton dapat membantu para pelaku bisnis untuk sharing dan mentoring tentang bisnis bersama mentor yang merupakan pebisnis aktif dan bukan sekadar motivator.

Anton mengaku tidak ingin membentuk komunitas bisnis yang hanya mendengarkan motivasi atau training, tetapi sharing dan konsultasi langsung dengan pelaku bisnis riil. “Saya ingin punya komunitas khusus pebisnis supaya orang-orang bisnis bisa sharing, networking, mentoring, dan ada mentornya. Ibarat sekolah ada gurunya,” kata Anton dalam keterangan resmi, Senin (08/10/2018)

Namun, Anton tidak ingin membangun komunitas bisnis hanya seperti grup whatsapp atau grup bisnis yang tidak memiliki value. Untuk itu, lewat komunitas Mitra Bisnis, Anton menjembatani bisnis gaya lama dengan gaya baru, yaitu dengan memanfaatkan teknologi. “Semua anggota harus bayar, ada biayanya karena semua akan diberikan mobile apps,” terangnya.

Mobile apps tersebut merupakan media yang dapat menjadi tempat sharing, mentoring, consulting, hingga menjajakan produk masing-masing. Dengan keberadaan apps tersebut, Anton menjamin akan ada solusi bagi setiap permasalahan bisnis yang dialami oleh para pengusaha.

Anton membanderol mobile apps dari Kompro dengan harga Rp5 juta dan Rp20 juta. Anggota yang membeli mobile apps dengan harga Rp5 juta akan mendapatkan fasilitas apps, seperti katalog. Sementara yang membeli dengan harga Rp20 juta, bisa melakukan pemasaran, seperti mengunggah produk dan lain sebagainya.

Anton menjelaskan, mobile apps berbayar tersebut sudah meliputi biaya unggah, mentoring, desain, dan lain-lain. Dalam sesi sharing dan mentoring, para anggota akan diberikan ilmu berkaitan dengan bisnis, mulai dari tata cara mengelola media sosial, mengunggah foto produk, memasarkan, dan memberikan solusi dari berbagai permasalahan bisnis.

Meski baru tiga minggu berjalan, komunitas bisnis Mitra Bisnis sudah memiliki 70 anggota yang telah bergabung. Ke depan, Anton berencana ingin membentuk komunitas bisnisnya menjadi seperti koperasi yang akan dikembangkan dengan usaha simpan pinjamnya, yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan bisnis seperti permodalan. (EP)

Gempa Palu, Obyek Wisata Owabong Sumbang Seluruh Pendapatan Tiket

this formate

PURBALINGGA, bisniswisata.co.id: Penanganan pascagempa Lombok belum lagi usai, ketika gempa Palu dan Donggala disusul tsunami kembali memporakporandakan jantung Nusantara. Empati dan kesadaran untuk berbagi muncul dari berbagai belahan Indonesia dan dunia. Bencana, selalu menorehkan luka yang mendalam. Mereka kehilangan anggota keluarga, juga harta benda.

Sejujurnya, amat jauh untuk menghubungkan antara wisata dan bencana. Dua kosakata ini berada di kutub yang berbeda. Wisata lekat dengan rekreasi dan kesenangan. Sebaliknya, bencana adalah kosakata yang mewakili kesedihan dan kesusahan.

Namun, apa yang dilakukan Perusahaan Daerah (PD) Obyek Wisata Air Bojongsari (Owabong) Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) ini menunjukkan meski berada di kutub berbeda, mereka tetap bisa berbagi kebahagiaan dengan korban bencana gempa Palu dan Donggala.

Owabong menyumbangkan seluruh pendapatan tiket selama lima hari (1-5 Oktober 2018) untuk korban gempa Palu dan Donggala. Tiket itu meliputi wahana Family Park, Sanggaluri Park dan penginapan di Owabong Cottage. Dengan disumbangkannya seluruh pendapatan tiket, secara tidak langsung, wisatawan yang berkunjung ke Owabong berbagi kebahagiaan dengan korban gempa dan Tsunami Palu dan Donggala.

“Kita mengumpulkan donasi untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah dengan cara berwisata ke Owabong,” kata Direktur Owabong, Hartono, seperti dilansir laman Liputan6.com, Ahad (07/10/2018).

Ia juga mengajak seluruh pengelola destinasi wisata lain di Purbalingga untuk melakukan hal yang sama. Tujuannya tentu untuk meringankan penderitaan korban bencana gempa Palu ini.

Tercatat Selama lima hari itu, PD Owabong berhasil mengumpulkan dana dari tiket masuk sebesar Rp 114 juta. Seluruhnya bakal disumbangkan kepada korban gempa Palu dan Donggala. Selain menyumbangkan pendapatan tiket tersebut, Owabong juga akan mengirimkan empat orang relawan ke Palu termasuk dia sendiri untuk membantu tim penolong.

“Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Purbalingga, perihal pengiriman relawan dan sekaligus bantuan. Dengan disumbangkannya pendapatan tiket selama lima hari itu, secara tak langsung wisatawan yang datang ke Owabong ikut membantu korban bencana alam itu<' paparnya. Dibalik itu juga ada makna, ketika kita bisa menikmati wisata dengan ceria, ketika itu pula kita harus ingat dengan saudara-saudara kita yang terkena musibah, sambungnya. Objek Wisata Air Bojongsari (Owabong) Purbalingga merupakan wahana air kolam renang, kini ada wahana baru berupa kawasan Coralia 3 yang meliputi kolam snorkeling untuk anak dan dewasa, clock jump, russian swing, serta sikoplok atau panjat tebing di atas kolam. Tahun 2017, Pengunjung objek wisata di bawah manajemen PD Owabong sebanyak 1.272.025 orang. Target tahun 2018 diharapkan ada kenaikan 15 hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya. (EP)

Christine Lagarde Tanam Terumbu Karang di Nusa Dua

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Siapa bilang Christine Lagarde hanya ngurusi moneter dan perekonomian. Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), organisasi dunia yang bertugas mengatur sistem keuangan internasional dan menyediakan pinjaman kepada negara-negara yang membutuhkannya juga peduli terhadap lingkungan.

Saat berada di Nusa Dua Bali meninjau persiapan Meeting IMF and World Bank, menyempatkan untuk menanam terumbu karang. Bersama Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ahad (7/10/218) menanam terumbu karang di pantai Nusa Dua, kawasan menjadi pusat pertemuan 32 ribu delegasi ekonomi yang menghadiri Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018, pada 8-14 Oktober 2018.

Christine Lagarde usai penanaman terumbu karang di belakang Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, mengatakan bahwa kegiatan ini untuk menyediakan biota laut yang akan meningkatkan kualitas hidup flora dan fauna di bawah laut. “Keunikan bahari tersebut harus dijaga, sebagai kekayaan negeri ini,” ujar wanita kelahiran 9th arrondissement of Paris, Paris, Perancis 1 Januari 1956.

Indonesia memiliki 60 persen terumbu karang yang berada di dunia. Sayangnya, terumbu karang sangat mudah rusak akibat berbagai sebab, termasuk perubahan iklim dan kegiatan destruktif di tempat-tempat wisata. “Penanaman terumbu karang diharapkan dapat menghasilkan aquarium bawah air yang unik dan indah,” tambah Christine Madeleine Odette Lagarde, nama lengkapnya

Lagarde bersama Luhut, Perry dan Sri Mulyani turut memasang langsung karang pada struktur penyangga yang kemudian akan diletakkan di dasar laut oleh para relawan. Perry Warjiyo mengatakan di tengah rangkaian pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018, perlu ada kegiatan untuk melestarikan ekosistem lingkungan. “Kita harus menjaga lingkungan dan mencintai kehidupan,” sambungnya seperti dilansir Antara.

Pertemuan Tahunan IMF-World Bank akan diselenggarakan pada 8-14 Oktober 2018. Diperkirakan sekitar 32 ribu delegasi termasuk Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara akan hadir di pertemuan yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. (EP)

Sayang, Negara Muslim Tak Masuk 10 Besar Penjual Kuliner Halal

this formate

KARACHI, bisniswisata.co.id: Kuliner halal identik dengan makanan yang diproses sesuai ketentuan hukum Islam. Bahkan jenis makanan halal itu, seharusnya dipasarkan oleh negara-negara Muslim. Sayangnya, tidak ada satu pun negara Muslim yang masuk jajaran 10 negara pertama dalam daftar pedagang makanan halal teratas.

Dilansir di Pakistan Today, Sabtu (6/10), Pakistan yang mengklaim sebagai negara Muslim terbesar kedua dalam hal jumlah penduduk, nyatanya berada jauh di jajaran belakang urutan daftar tersebut. Pakistan hanya menyumbang 0,25 persen dalam keseluruhan perdagangan makanan halal senilai tiga triliun dolar AS. Namun, tidak disebutkan 10 negara pertama dalam daftar penjual makanan halal teratas.

Federasi Kamar Dagang dan Industri Pakistan (FPCCI) yang merupakan organisasi pedagang Pakistan terbesar, mengadakan acara untuk menemukan peluang potensial bagi para pedagang di negara itu. Para ahli Pakistan beranggapan negara tersebut memiliki potensi mengekspor makanan halal.

Mereka menjabarkan bagaimana selama ini pemerintah merugikan sepak terjang pengekspor makanan halal dan negara karena tindakan pemerintah juga berdampak pada negara, seperti dalam bentuk sumber daya keuangan. Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut kebijakan pemerintah yang diduga merugikan pedagang makanan.

Salah satu usulan pertemuan itu adalah membentuk Otoritas Pembangunan Halal Pakistan (PHDA). Otoritas tersebut bertugas menunjukkan kendala dalam meningkatkan perdagangan makanan halal. Di negara yang 98 persen penduduknya beragama Muslim, konsep perdagangan halal membutuhkan pengakuan.

Karena itu, pertemuan itu mendesak menteri keuangan fokus pada industri ini karena memiliki potensi menghasilkan miliaran dolar AS bagi perekonomian Pakistan. Acara itu juga dihadiri sejumlah diplomat dari berbagai negara, seperti Rusia, Jepang, Malaysia, Iran, dan Thailand. (EP)

Blue Bear Skatepark Kembangkan Sport Tourism dan Edukasi Lingkungan

this formate

UBUD GIANYAR, bisniswisata.co.id: Pariwisata Ubud Gianyar Bali tak pernah sepi dari aktivitas serta atraksi wisata. Bahkan Ubud terkenal dengan dunia seni kelas tinggi dan panorama alam yang indah. Kini Ubud membidik wisatawan dengan minat khusus pada olah raga skateboard sekaligus mengembangkan sport tourism dan edukasi lingkungan.

Pengembangan itu dikembangkan Blue Bear Skatepark, wahana taman bermain skateboard yang ada di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud. “Keberadaan wahana skateboard ini sudah ada dua bulan lalu yang kini dikunjungi 50 pemain per hari, 50% di antaranya warga asing,” papar Direktur PT Beruang Biru Bali Komang Priatna Suardi, seperti dilansir laman Bisnis, Ahad (07/10/2018).

Taman bermain Skateboard ini, lanjut Priatna, menawarkan tempat bermain dan menggelar kompetisi rutin untuk menjaring bibit pemain lokal untuk diorbitkan secara nasional maupun internasional. “Sebagian besar warga asing yang bermain adalah anak-anak dari para ekspatriat. Ke depan, menjaring lebih banyak turis asing lewat kerja sama biro perjalanan maupun promosi melalui digital marketing.

Uniknya, fasilitas lintasan skate yang dipadukan dengan restoran masakan Italia dan Nusantara ini, juga menawarkan edukasi lingkungan, terutama soal menjaga kebersihan dan mengurangi penggunaan plastik. Program unik untuk menjaga lingkungan ini dipersembahkan bagi yang ingin bermain secara gratis dengan syarat cukup membawa kantong plastik.

Skateboarder bisa bermain selama dua jam pada jam buka mulai pukul 09.00 WITA-21.00 WITA hanya dengan membawa 10 item sampah plastik atau membayar Rp30.000. Plastik yang terkumpul akan diserahkan kepada Yayasan Sayan Hidup yang dikelola warga sekitar untuk didaur ulang.

“Plastik lebih diprioritaskan karena sampah ini berbahaya, bisa menyebabkan global warming, banjir dan merusak ekosistem. Plastik yang berserakan juga merusak citra pariwisata. Juga, seorang skateboarder harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan peduli kebersihan serta kelestarian alam,” lontarnya.

Manajer Blue Bear Skatepark Rifadli Frayudha mengungkapkan fasilitas ini sangat memudahkan para skateboarder dari Gianyar maupun para siswa sekolah internasional di sekitar kawasan tersbut. “Kini mereka tak perlu bermain jauh ke Denpasar atau Badung, kecuali kalau ada kompetisi,” tuturnya.

Selain memiliki lintasan skateboard di luar ruang, Blue Bear bekerja sama dengan pemerintah desa setempat membangun fasilitas sejenis yang bisa dibongkar pasang di dalam balai banjar yang bisa digunakan saat hujan. “Kami juga menggelar program skateschool membidik anak-anak di bawah umur untuk bermain skateboard dengan baik dan benar,” paparnya.

Diakui, sampah plastik yang banyak berserakan terutama di tempat-tempat wisata sangat mengganggu pemandangan bahkan membahayakan bagi lingkungan. Untuk itu, pihaknya berkeinginan membantu meminimalisir pembuangan sampah plastik sembarangan lewat “Waste for Skate.”

Skateboard saat ini mulai banyak ditekuni generasi milenial. Untuk menggugah para milenial ini lebih peduli pada lingkungan inilah digagas program menukar sampah dengan bermain skateboard. “Kami ingin memberikan edukasi dan menggugah kepedulian anak-anak terhadap lingkungan, terutama sampah plastik,” katanya.

Ternyata animo anak-anak untuk menukarkan sampah agar bisa bermain skateboard gratis, cukup besar. Terbukti selama 2 bulan soft opening, skatepark ini mampu mengumpulkan ribuan unit sampah plastik. “Gerakan ramah lingkungan ini merupakan upaya untuk ikut serta mengampanyekan penanggulangan sampah plastik yang gencar disuarakan pemerintah. Dengan program waste for skate ini diharapkan ada kesadaran dari generasi milenial untuk lebih peduli lingkungan,” sambungnya.

Fasilitas di Blue Bear relatif aman. Sebab konstruksinya dikerjakan oleh De’en Skatepark Co Bali, yang telah berpengalaman di bidang ini sejak tahun 2004. (EP)

Sebulan, Tiga Pameran Seni Rupa di Ubud

this formate

UBUD GIANYAR, bisniswisata.co.id: Ubud Bali memang identik dengan kota seni. Akhir pekan ini, ada tiga pameran seni rupa di Ubud Gianyar selama sebulan penuh dari 7 Oktober hingga 7 November 2018. Pameran seni ini, menawarkan aneka wacana yang mengukuhkan eksistensi perupa dalam mengeksplorasi ruang dan waktu yakni keberagaman media dan merespons isu kekinian.

Pameran Pertama: Inner Gazing di Komaneka Fine Art Gallery menyajikan karya empat perupa yakni Wayan Januariawan, Wayan Suja, Wayan Sudarna Putra, dan Putu Sudiana. Pameran ini merupakan wahana bagi keempat seniman untuk bereksperimen dengan seni kontemporer secara bebas. “Mereka bebas menawarkan gagasan dan perspektif dalam wacana kekaryaan sesuai zamannya,” kata Pemilik galeri Koman Wahyu Suteja
di Ubud Gianyar, Ahad (07/10/2018).

Bahasa visual perupa ini, lanjut dia, menarasikan berbagai isu sehari-hari ditemui di lingkungan sekitarnya. Juga mencerna berbagai berita berkelindan melalui media social. Keempat perupa ini memiliki wilayah jelajah eksplorasi kekaryaan yang berbeda, mulai pilihan gaya visual, cara ungkap, konsep dan pandangan tentang berkesenian. Pameran berlangsung 7 Oktober -7 November 2018.

Pameran Kedua: di Arma Museum bertajuk The Challenge of Contemporaneity yang menyajikan karya 23 perupa dari Bali dan Yogyakarta di antaranya Antonius Kho, AS Kurnia, Budi Ubrux, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Nasirun, Galung Wiratmaja, Ida Bagus Purwa, MadeGunawan, dan Made Wiradana. Pameran yang dibuka Wakil Gubernur Bali Tjjokorda Oka Arthja Ardhana Sukawati, Sabtu (6/10/2018) itu akan berlangsung 6 Oktober-6 November 2018.

Pendiri Museum Arma Anak Agung Gede Rai mengatakan sejumlah pameran di Ubud untuk membangkitkan, menjaga, dan mendorong para perupa untuk lebih mengembangkan karya, khususnya menyiasati era digital dengan berbagai kemungkuinan. “Jika dulu para kolektor datang langsung ke Bali untuk mendapatkan karya, kini era digital seniman bisa menawarkan melalui platform digital yang memiliki daya jangkau global,” katanya seperti diunduh laman Bisnis.

Pameran Ketiga: Indonesian Watercolour Society (IWS) bertajuk 25 Tahun (Jubilee) IWS di Museum Njana Tilem. Pameran ini diikuiti sejumlah maestro cat air yang akan berlangsung 7 hingga 14 Oktober 2018. Lies Darja, panitia IWS mengatakan pameran seni rupa Jubilee ini diharapkan diharapkan mampu mempererat persahabatan antarbangsa Asia –melalui seni rupa– serta mendukung pariwisata. (EP)