Uncategorized

Marta Uli Emilia: Kuncinya Adalah Berdoa & Bekerja 

Marha Uli Emilia di acara peletakan batu pertama Santri Tani NU sekaligus membagikan santunan anak yatim dan para orangtua.

SELATPANJANG, bisniswisata.co.id: Tak ada tanda kelelahan di wajahnya saat turun dari motor menunggu antrian di tempat penyeberangan kempang Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau. Padahal jalanan berliku dan berlubang otomatis menghempas-hempas tubuhnya akibat buruknya infrastruktur yang dilalui.

CEO PT. Shali Riau Lestari itu, Marta Uli Emilia bersama putrinya Roderick Manna Yunita yang juga cucu dari salah satu tokoh Riau, Matio Panjaitan mengunjungi Desa di Pulau Merbau yang merupakan wilayah 3 T yaitu Terluar, Tertinggal dan Termiskin.

Jelang Lebaran biasanya kepadatan di tempat penyebrangan yang didominasi sepeda motor ini terjadi setiap tahun, dimana masyarakat Kecamatan Merbau dan Pulau Merbau hanya menggunakan jalur tersebut menuju ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Selatpanjang, maupun sebaliknya.

Petualangannya kali ini setelah singgah dua kali di mesjid untuk bergabung dengan rombongan motor Wakil Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar, maupun rombongan T Rusli Ahmad, Ketua PWNU Pekanbaru yang bergabung di tempat penyeberangan kempang Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau.

Semua rombongan siang ini setelah melaksanakan sholat Jumat adalah untuk menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan Ponpes Santri Tani NU seluas satu hektar di Desa Melati Pulau Merbau.

Skill Entrepreneurship

Acara peletakan batu pertama pendirian Pondok Pesantren Santri Tani Nahdatul Ulama itu kelak Inshaa Allah akan mengubah daerah itu menjadi Ponpes yang menghasilkan santri dengan skill entrepreneurship di bidang pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan.

Tak tanggung-tanggung Marta bahkan mengundang  Prof H.Muhammad Asraf  Phd, Ketua Komissioner Satgas Nawacita Indonesia, scientist yang mumpuni dan membantu Presiden Joko Widodo untuk mencapai Nawacita.

Nawacita adalah sembilan prioritas pembangunan dan Indonesia diharapkan mampu berubah dan menjadi negara yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Ibarat merubah sampah menjadi emas maka peran Prof H.Muhammad Asraf  Phd mampu menjadikan sampah sebagai makan ternak, pupuk, rekayasa genetik dan lainnya. 

“Namun kondisi jalan yang hanya bisa ditempuh dengan motor serta kondisi kesehatan beliau maka Pak Asraf tetap di hotel di ibukota kabupaten,” kata Marta.

Sebagai Ponpes dengan konsep Agro bisnis, tanah dengan pH netral berada pada angka 6,5 hingga 7,8. Tingat keasam-basaan ini merupakan pH ideal kandungan senyawa organik, mikroorganisme, unsur hara dan mineral-mineral dalam kondisi yang optimal. 

“Biasanya tanah ber- pH netral cocok digunakan untuk bercocok tanam kelak Ponpes bisa memenuhi kebutuhan buah-buahan dari negara tetangga seperti Singqpura dan Malaysia yang tepat di depan mata,” kata Martha mengungkapkan visi dan harapan dari para pendiri Santri Tani NU yang tidak lain adalah teman-teman dekatnya juga.

Foto bersama Ketua PWNU Riau, T Rusli Ahmad

Wanita non Muslim ini dalam berlomba-lomba berbuat kebaikan di dunia ini memang tidak membatasi diri dengan suku, agama, ras karena semua umat manusia adalah milik Tuhan yang esa. Dia memiliki keyakinan yang sama bahwa semua penciptaan manusia adalah karena ada Allah sang pencipta. 

Tak heran prinsipnya dalam menggerakkan roda-roda bisnisnya di usaha limbah adalah berdoa dan bekerja dengan all-out. ” Bekerja jangan setengah-setengah kalau niat baik memang banyak cobaan tapi lewati saja semuanya, Tuhan tahu pasti  niat buruk oknum penghambat dan mereka akan tersingkir dengan sendirinya,” ujarnya.

Sejatinya kata Marta, ibarat sebuah bisnis, hubungan manusia dan tuhannya juga seperti  Chief Executive Operation ( CEO)  dan bosnya. Manusia mengikuti perintahNya, menjalankan misinya berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk bekal hidupnya kelak di kehidupan lainnya.

Oleh karena itulah kegiatan CSR yang dilakukannya juga melibatkan putri sulungnya Roderick Manna Yunita karena kakeknya alm Matio Panjaitan juga melakukan CSR puluhan tahun yang lalu juga aktif melakukannya bahkan menghibahkan tanah pribadinya untuk pembangunan Mesjid Raya yang kini dimiliki provinsi ini.

Bersinergi bersama PWNU Riau maupun PCNU Meranti yang mendirikan yayasan untuk mengelola Santri Tani NU, diharapkan kegiatan CSR yang dilakukannya segera menularkan ‘virus’ pada perusahaan lainnya untuk mengubah  daerah 3 T itu menjadi Kabupaten Meranti yang rakyatnya hidup sejahtera.

” Dari Manna saya harapkan meneruskan kegiatan sosial sambil dia melihat peluang Akses, Amenities dan Atraksi dari Ponpes Santri Tani NU ini sehingga mengundang wisatawan untuk datang belajar maupun menikmati pariwisata berkelanjutan di tempat ini dari ilmu prof Asraf yang diterapkan di sini,” kata Martha.

Kalau sudah mengalami jalan darat, Manna mungkin punya visi operasikan kapal penyeberangan, buat Pulau Merbau juga jadi Santosa Island Singapura dan peluang lain yang bisa dilihat dan dikerjakannya, harap bundanya.

Seeing is believing 

         Roderick Manna Yunita 

Ramlan Abdullah, Ketua PCNU Kepulauan Meranti di tempat terpisah bercerita ihwal pendirian Ponpes Santri Tani NU  juga di utarakan pada Martha Uli Emelia salah seorang penggiat lingkungan yang juga CEO PT Shali Riau Lestari.

“Perteman yang dibina selama ini dengan  kak Marta seperti  kakak sendiri banyak pengalaman berharga yang saya dapat darinya. Saya merasa bangga beliau sudah berhasil membina kawan- kawan petani  di Tapung Hulu, Riau,”

Dahulu Tapung Hulu juga terisolir tapi sekarang sudah sangat maju ekonomi dan pembangunan jalan yg diusulkan langsung oleh Martha ke PUPR pusat.

“Kak Marta sudah saya ajak keliling beberapa pulau di kabupaten Kepulauan Meranti , pada tahun lalu saya mengajak kak Marta ke Pulau Padang tepatnya dikurau  dan setiba disana saya melihat kak Marta menangis,”

Jawabannya ingat daerah Kurau adalah  tempat papanya berbisnis, mencari nafkah untuk keluarga dan melakukan kegiatan sosialnya. Ingatannya pada masa kecil melekat karena sering mendampingi papanya.

Kenapa masyarakatnya masih miskin ? padahal  ada sejumlah perusahaan asing yang sampai sekarang  mengeruk isi bumi tapi kondisi masyarakat Kurau tetap juga minus.

” Kak Martha saya ajak keliling ke pulau Merbau dan dalam perjalanan naik sepeda motor kak Marta berapa kali minta istirahat karena jalan dipulau Merbau hampir  semuanya rusak parah, jalan antar desa rusak, jalan dari desa menuju kecamatan juga rusak parah bahka jalan itu dibangun masih Meranti dibawah kepemerintahan kabupaten Bengkalis,” kata Ramlan Abdullah.

Seeing is believing dianggap Martha konsep yang tepat agar Manna Yunita merasakan dan melihat langsung kondisi masyarakat yang ada sehingga alumnus Universitas Oregon, AS yang mendalami ilmu ekonomi dan perbankan ini bisa melihat peluang-peluang untuk mensejeterahkan masyarakat dengan tepat.

” Perjalanan mencapai lokasi sudah perjuangan tersendiri. Kalau nanti daerah ini jalan-jalan desanya sudah mulus maka buat generasi Gen Z kegiatan tour pulau saja sudah menarik. Kita bisa undang sekolah-sekolah di Singapura dan Malaysia untuk eksplore Pulau Merbau,” kata Manna Yunita.

Dia berharap kehadiran Ponpes Santri Tani NU jika sudah beroperasi bisa jadi tempat study tour bagi sekolah-sekolah di sekitarnya maupun dari negara tetangga di depan mata 

Pemerintah harus upayakan dulu infrastruktur termasuk kapal penyebrangan yang sudah berhadap-hadapan dengan negara tetangga ini, ujarnya.

“Selanjutnya kalau masyarakat sudah kembali ke pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan dengan tekhnologi yang diajarkan uncle Asraf, saya optimistis Pulau Merbau jadi tempat wisata yang berkelanjutan,” kata Manna yang diamini oleh bundanya, Marta Uli Emilia.

 

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)