ASITA Minta OTA dan Airlines Miliki Keinginan Sinergi dan Tumbuh Bersama

0
60

Maskapai nasional Garuda Indonesia akan hapuskan komisi agent yang jadi ujung tombak penjualan tiketnya. ( foto: Google)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies ( ASITA) meminta agar Online Travel Agency ( OTA) dan Airlines agar bersinergi dan miliki keinginan tumbuh bersama untuk mengembangkan pariwisata Indonesia.

“ Para stakesholder ini agar membuat kebijakan yang tidak merugikan pihak terkait. Traveloka misalnya sebagai OTA yang dikuasai asing atas nama strategi pemasarannya bisa menjual harga tiket jauh lebih murah, memberikan harga promosi berbulan-bulan dan insentif yang menarik sehingga merugikan bisnis biro perjalanan wisata ( BPW),” kata Asnawi Bahar, Ketua ASITA, hari ini

Berbicara pada jumpa pers di kantor DPP ASITA, Fatmawati, Asnawi mengatakan di awal tahun 2019, OTA dan Airlines kehilangan komitmen dan mengambil kebijakan jalan sendiri tanpa memikirkan akibatnya bagi usaha terkait apalagi dilakukan saat masyarakat Indonesia sudah melek wisata.

“Di saat industri pariwisata berkembang dan banyak peluang yang bisa digarap bersama,  Garuda Indonesia malah menghapuskan komisi agent yang selama ini menjadi ujung tombak dalam penjualan tiket penerbangannya,” ujarnya di dampingi Sekjen ASITA, Nunung Rusmiati

Selain itu juga tingginya tiket pesawat rute domestik Garuda Indonesia memicu wisatawan Indonesia malah ramai-ramai berwisata ke luar negri karena penerbangan asing ke Jepang, misalnya untuk return tiket Jakarta-Tokyo cukup membayar Rp 4 juta/orang.

Bukan hanya itu, Lion AirGrup khususnya pesawat Lion Air dan Wings Air per 8 Januari 2019 ini juga mengenakan biaya bagasi kepada penumpangnya. Hal ini, kata Asnawi membuat kericuhan di tengah masyarakat apalagi untuk 30 kg harga bagasi bisa mencapai Rp 930.000.

“Kebijakan LionGrup ini selain meningkatkan biaya logistik di semua sektor juga akan mempengaruhi pergerakan wisatawan terutama domestik ( nusantara),” ungkap Asnawi.

Pihaknya berharap pemerintah turun tangan dengan ulah OTA maupun kalangan penerbangan ini sehingga tidak merugikan masyarakat dan menciptakan persaingan usaha yang sehat.

“Kami minta pemerintah menyoroti kiprah OTA asing apakah punya agenda untuk mengembangkan usaha atau memang politik sengaja ‘membunuh’ usaha BPW,” kata Rusmiati.

Dia juga menyinggung langkah Garuda menghilangkan komisi untuk agent pastinya juga akan dilakukan oleh penerbangan asing yang selama ini menjadi mitra BPW sehiuntukanggita ASITA makin sulit beroperasi.

“Kami sudah menulis permohonan bertemu Presiden Jokowi agar OTA, Airlines dan Kementrian terkait berpihak pada pengembangan pariwisata nasional termasuk usaha BPW di dalamnya, kata Rusmiati.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.