HALAL INTERNATIONAL LIFESTYLE NEWS RISET

SGIE Report 2025/26: Ekonomi Islam Tumbuh Kuat

ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Ekonomi Islam bukan lagi sebuah gagasan yang sedang berkembang. Ini adalah sebuah sistem yang sedang berkembang dan tidak hanya bertumbuh kuat dari sisi pasar, tetapi juga semakin bergerak menuju penguatan sistem, standar, rantai pasok, pembiayaan, dan inovasi, kata Rafi-uddin Shikoh,CEO dan Managing Partner DinarStandard.

Gelombang pertumbuhan ekonomi Islam akan dipimpin oleh mereka yang mampu mengkonversi permintaan pasar ke dalam sistem, standar, infrastruktur kepercayaan, dan institusi yang mengurangi ketergantungan sekaligus memperluas peluang,” ujarnya.

Resmi diluncurkan 2 Juni 2026, di Ibn Haldun University, Istanbul, Türkiye. Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) sebagai Partner Indonesia dari DinarStandard mendapatkan kesempatan pertama dan eksklusif untuk menerima serta menyampaikan insight terbaru dari SGIE Report 2025/26 kepada publik Indonesia.

SGIE Report 2025/2026 mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Islam ke depan, antara lain Al-
mengaktifkan sertifikasi halal, ketertelusuran berbasis blockchain, keuangan Islam digital,
pilgrimage digitization, halal pharmaceuticals, clean-label cosmetics, digital-native modest fashion, serta media dan hiburan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 merupakan publikasi yang disusun oleh DinarStandard bekerja sama dengan Salaam Gateway.com. Laporan ini didukung oleh Islamic Development Bank Institute (IsDBI) sebagai thought leadership partner, Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA) sebagai global strategic partner.

Pengeluaran konsumen pada ekonomi Islam global mencapai US$ 2,60 triliun pada tahun 2024, dengan sektor halal food and beverages sebagai kontributor terbesar sebesar US$ 1,53 triliun. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$ 2,06 triliun pada tahun 2029.

Aset keuangan syariah global mencapai US$ 5,99 triliun pada tahun 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$ 9,72 triliun pada tahun 2029, mencerminkan prospek pertumbuhan yang kuat pada sektor keuangan syariah global.

Analisis sentimen konsumen yang dilakukan oleh DinarStandard terhadap lebih dari 86 juta interaksi media sosial menunjukkan bahwa values-driven consumer activism telah berkembang dari respons jangka pendek berupa boikot menjadi preferensi konsumsi yang lebih berkelanjutan terhadap merek yang etis, lokal, dan alternatif.

Laporan ini mengidentifikasi sejumlah area peluang strategis yang berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Islam ke depan, antara lain sovereign rantai nilai halal, sertifikasi halal berbasis AI.

Digitalisasi yang sesuai dengan syariah keuangan, digitalisasi ibadah haji, produksi halal lokal, halal obat-obatan, kosmetik berlabel bersih, serta media bertema Islami dan hiburan.

Ekonomi Islam global terus berkembang pesat. Pada tahun 2024, lebih dari dua miliar Muslim di dunia membelanjakan sekitar US$2,6 triliun pada enam sektor utama ekonomi Islam, yaitu halal food, pharmaceuticals, cosmetics, modest fashion, Muslim-friendly travel, serta media & recreation.

Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$3,56 triliun pada 2029, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 6,5 persen.

Secara global, laporan tersebut juga mencatat bahwa aset Islamic finance mencapai US$5,99 triliun pada 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$9,72 triliun pada 2029.

Laporan ini menyoroti bahwa fase pertumbuhan berikutnya ekonomi Islam akan ditandai oleh penguatan kedaulatan ekonomi melalui pengembangan halal value chain, standar sertifikasi, kapasitas produksi lokal dan regional, infrastruktur Islamic finance,platform digital, serta peningkatan kepercayaan konsumen.

Dalam pemeringkatan GIEI 2025/2026, Malaysia menempati posisi pertama, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Indonesia, dan Bahrain.

Hasil tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan ekosistem nasional yang mengintegrasikan regulasi, pembiayaan, perdagangan, inovasi, dan pengembangan sektor halal.

Dari sisi investasi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi Islam berhasil menarik investasi senilai US$13,1 miliar melalui 346 transaksi sepanjang 2024/2025.

Sektor Islamic finance menjadi penerima investasi terbesar, diikuti oleh  makanan  halal, media & rekreasi, wisata ramah Muslim, dan obat-obatan halal. Negara- negara dengan nilai transaksi investasi tertinggi adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Indonesia, Azerbaijan, dan Türkiye.

Sektor halal food tetap menjadi sektor terbesar dalam ekonomi Islam global dengan nilai belanja konsumen Muslim mencapai US$1,53 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$2,06 triliun pada 2029.

Sementara itu, sektor Muslim-friendly travel menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, dari US$249 miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 2029. SGIE Report juga mencatat bahwa impor negara-negara OIC pada sektor-sektor terkait halal mencapai US$421,5 miliar pada 2024.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Türkiye, Indonesia, dan Malaysia menjadi lima importir terbesar. Adapun Brasil, Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Türkiye merupakan lima eksportir terbesar ke pasar OIC yang secara bersama-sama menyumbang 32 persen dari total ekspor ke negara-negara anggota OIC.

Selain itu, SGIE Report 2025/2026 mengungkap perubahan perilaku konsumen Muslim global. Analisis media sosial DinarStandard terhadap lebih dari 86 juta engagement menunjukkan bahwa tren konsumsi berbasis nilai (values-driven consumption) terus berlanjut, melampaui gelombang boikot yang sempat terjadi sebelumnya.

Konsumen Muslim kini semakin mendukung produk dan merek yang dianggap etis, lokal, dan menawarkan alternatif yang selaras dengan nilai-nilai mereka.

DinarStandard™ merupakan perusahaan riset dan konsultasi strategi pertumbuhan yang berfokus pada pengembangan ekonomi Islam global.

Sejak 2008, DinarStandard telah mendukung berbagai pemerintah, lembaga investasi, pelaku industri, dan organisasi multilateral di berbagai negara melalui riset berbasis data dan strategi yang berorientasi pada dampak.

Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan ekosistem halal dan ekonomi syariah melalui riset, advokasi, edukasi, promosi, serta kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas.

IHLC aktif mendorong penguatan posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia dan menjadi mitra berbagai organisasi internasional dalam pengembangan ekonomi Islam.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)