BINH MY, HCMC, bisniswisata.co.id: Pagi itu ketika tengah menyaksikan atraksi silat sebagai sambutan bagi famtrip asal Indonesia, Singapura, Malaysia di Desa Wisata Binh My yang masuk wilayah Ho Chi Minh City ( HCMC) Vietnam, seorang wanita berada diantara peserta yang saya kira adalah tuan rumah warga desa tersebut.
Ternyata namanya Isna Subari asal Lampung, salah satu peserta Famtrip Vietnam is calling juga dan teman seperjalanan yang datang bersama putranya, Fairuz Axioma.
Maklum kunjungan ke desa wisata itu menjadi agenda hari pertama di Vietnam sehingga baru pagi inilah kami peserta Vietnam is Calling berkumpul setelah semalam datang bergelombang ada yang mengambil penerbangan langsung dati Jakarta maupun via Singapura ke Ho Chi Minh City.
Setelah saya berkenalan dan melepas gelak tawa karena semula saya menyangka dia wanita Vietnam. Barulah Isna Subari menjelaskan dia adalah pemilik dari Restoran Cikwo Resto and Coffee di Bandar Lampung.
Tinggi tubuh dan wajah orang Vietnam memang mirip dengan orang Indonesia dan Isna Subari mirip dengan para penyambut yang warga lokal.
Dia langsung akrab bahkan dari handphone sudah siap materi promosinya tentang Cikwo Resto and Coffee yang merupakan salah satu tempat kuliner di Lampung menyuguhkan masakan khas Lampung.
Tak hanya makanan, sebagai tempat kuliner di Lampung, Cikwo Resto and Coffee yang berlokasi di Pekon Gunung Sugih, Kecamatan Balik Bukit, juga menyediakan minuman kopi robusta khas Lampung Barat dengan kualitas premium.
Isna mengatakan, pihaknya ingin perkenalkan makanan khas Lampung serta kopi robusta lampung ke masyarakat luas. Bahkan saat pertama kali buka cabang di Liwa Lampung Barat , belum ada tempat-tempat makan yang menyediakan makanan khas Lampung khususnya Lampung Barat.
“Biasanya makanan-makanan ini tersedia hanya pas acara tertentu saja seperti acara adat seperti perkawinan dan sebagainya, Saat itu orang kalau datang ke Liwa cuma beli kopi robusta saja, namun belum ada tempat untuk menikmati makanan khas Lampung dan kopi robusta tersebut,” ungkapnya sambil mengirim file PDF ke HP saya.
Masya Allah banyak sekali kontennya begitu dibuka file yang dikirimnya tertulislah keterangan nama menu Pahakh atau Pahar asalnya dari nama wadah yang mirip dengan piring atau nampan terbuat dari bahan kuningan, perunggu, tembaga, besi. Pahar memiliki kaki atau tapakan berbentuk bundar silinder.
Pahakh yang dijunjung oleh para bebai (ibu-ibu) masyarakat Lampung biasanya berisi makanan berupa nasi, sayuran, lauk tradisional, aneka ragam kue-kue dan yang biasanya dibawa dan disajikan untuk acara adat.
Misalnya seperti; acara Nayuh (pesta perkawinan), Nge- jalang Kubokh (ziarah kubur), Ngantak Pelambakh (berdoa di masjid), dan acara adat lainnya. Pahar diletakkan di tengah-tengah ruangan acara, tetapi isi pahakh tersebut tidak diturunkan, sehingga tokoh adat dan masyarakat dapat menikmati sajian tetap di tempat.

Isna Subari dan suami
Paket Pahar terdiri dari 2 menu utama dan menu pelengkat yaitu nasi panas, pandap, halipu sambol, gulai kambing/khetak belulang,lalapan, tempoyak, sambal, kerupuk upak. Harga perhidangan dari paket Pahar ini mulai dari Rp 60.000 hingga Rp 85.000 jadi jelaslah memang Isna menyajikan paket premium.
Paket menu andalan lainnya adalah Seruit merupakan kata yang berasal dari kata”nyeruit” yang bermakna melakukan kegiatan bersama-sama. Masyarakat Lampung biasa berkumpul dalam acara adat, keagamaan, maupun acara pesta pernikahan.
Hidangan yang dimakan pada kegiatan seperti itulah yang disebut Seruit dan telah masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak tahun 2015.
Seruit biasa dihidangkan dengan ikan bakar (bisa juga dengan olahan ikan lainnya), dicampur dengan sambal terasi, tempoyak, terong bakar/terong rebus,yang kemudian diaduk menjadi satu kesatuan dan disantap dengan nasi panas dan berbagai lalapan.
Sedikitnya ada 23 menu Seruit ini dengan masing-mading seharga Rp 56.000 hingga Rp 69.000 per porsi. Menunya ada
Seruit Nila Bakar, Seruit Pindang Patin,
Seruit Pindang Baung, Seruit Pepes Patin
Seruit Taboh Iwa Tapa, Seruit Pekhos Pati Nila Bakar, Seruit Pekhos Pati Nila Goreng,
Seruit Pepes Ayam, Seruit Pepes Nila, Seruit Layang Bakar dan lainnya.
Menu Lampung lainnya banyak lagi juga ada menu Nusantara, camilan untuk temaln minum kopi serta minuman ke kekinian dengan harga murah meriah dan mengenyangkapn di bawah harga Rp 20.000 sehingga terjangkau untuk kalangan mahasiswa sekalipun.
Soal nama resto dan coffee Isna memang membuka tempat agar orang-orang bisa makan makanan khas Lampung dan minum kopi robusta. Dia juga menata sedemikian rupa ruangan-ruangannya agar pengunjung menjadi betah karena menampilkan budaya Lampung hingga bisa membeli oleh-oleh beragam suvenir.
Fasilitas yang berada di Cikwo Resto ini pun terbilang sangat lengkap, terdapat free wifi, toilet, mushalla, gubuk lesehan. Selain itu ada area bermain anak, ada juga wisata untuk pengunjung yang mau melihat kebun kopi, dan wastafel di tiap sudut. Pengunjung juga diperbolehkan untuk duduk dan menggelar karpet di bawah pohon kopi yang beralaskan rumput sintetis.
Isna mengaku orangtuanya berasal dari Krui, Kab Pesisir Barat yang sejak tahun 1960 an sudah dikenal turis asing sebagai destinasi wisata surfing. Ada juga beberapa foto yang menggambarkan ciri khas daerah asalnya, ada alat musik gamelan serta pojok baca yang isi bukunya rata-rata tentang adat istiadat dan sejarah Lampung.
Sebelum lahirnya Kabupaten Pesisir Barat tahun 2012, Kabupaten Pesisir Barat masih termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Lampung Barat yang ibukota kabupatennya di Liwa.

Cikwo Resto and Coffee pertama kali berdiri di Bandar Lampung pada tahun 2015, dan saat ini Cikwo Resto and Coffee sudah memiliki 2 cabang lainnya yakni di Liwa Lampung Barat dan satu lagi di Foodcourt yang berada di Fisip Universitas Lampung.
Maksud Isna memberikan nama resto dan coffee ini dengan nama Cikwo dikarenakan Cikwo merupakan nama panggilannya di keluarga. Sebagai anak perempuan maka Cikwo merupakan panggilan kakak perempuan dalam adat Lampung Sai Batin. Isna merupakan anak perempuan paling tua, dan adik-adik serta sepupunya memanggil Isna dengan panggilan Cikwo.
Pemberian nama Cikwo untuk usahakuliner ini juga dimaksudkan agar orang-orang lebih gampang mengingat dan nama itu memang sudah melekat di dirinya, tambahnya.
Isna mengatakan bahwa untuk menu makanan yang paling banyak dibeli ialah gulai taboh iwa tapa, dan sop iwa tuhu. “Untuk makanan yang best seller itu ada di makanan khas Lampung yaitu gulai taboh iwa tapa dan sop iwa tuhu,” kata Isna.
Sementara untuk minuman, Cikwo Resto dan Coffee juga menyediakan beberapa menu yang menarik seperti es kopi susu cikwo, kahud yahud, mango dance.
Selain itu ada juga menu minuman kopi-kopian, teh, jus, es coklat dan menu lainnya yang tentunya tidak kalah menarik. “Untuk best sellernya itu biasanya orang sering pesan yang es kopi susu cikwo dan kahud yahud, tambah Isna.
Orang rela datang hanya untuk mencoba makanan otentik. Kuliner menggambarkan: sejarah suatu bangsa, karakter masyarakat, cara hidup dan nilai-nilai budaya melalui makanan. Tak heran berkunjung ke Resto Cikwo wisatawan bisa mengenal budaya tanpa harus membaca buku tebal.
Kuliner juga cepat diambil gambar, mudah di share ke sosial media, memiliki daya tarik visual yang bisa menimbulkan rasa penasaran. Makanan unik jadi alasan orang datang bahkan dari luar daerah maupun luar negri.
Isna Subari telah membuktikannya dan memicu saya ikut melakukan perjalanan wisata ini untuk melakukan food destination trip atau food hunting trip. Sukses ya Bunda Isna










