CAN THO, bisniswisata.co.id: Sekilas, Can Tho tampak seperti kota yang ramai dengan arus perdagangan yang terus mengalir di Sungai Hau. Namun, turis yang datang dengan menginap di kamar di tepi sungai akan mendapatkan pengalaman kehidupan sungai yang lebih terasa.
Pagi itu, guide sudah mengingatkan harus cepat ke dermaga jangan makan pagi dulu. Oleh karena itu masih dengan muka ‘bantal’ alias masih mengantuk, saya sudah bergabung dalam bis karena makan pagi setelah mengunjungi pasar terapung Cai Rang.
Saat semua sudah duduk di boat baru ingat handphone masih di dalam bis, jadilah si andung ( nenek) ini berlari mengambil dulu. Kurang tidur dan berangkat dengan gaya sat-set serba cepat begitu setelah menyusuri air sungai malah mata langsung terbelalak dan mulut komat-kamit mengucapkan Asmaul Husna, 99 nama-nama Allah SWT.
Masya Allah berada ribuan kilometer dari Banjarmasin tapi saya merasakan atmosfir yang sama dengan pasar terapung Kuin, Martapura. Wajah-wajah yang serupa tapi tak sama, budaya jual- beli yang sama dan beragamnya mata dagangan yang ada.
Tumpukan buah-buahan yang matang di dalam sampan, ikan sungai segar, mrlihat orang lokal dan turis berlayar dengan sampan di kanal-kanal membuat saya terkesima. Masya Allah, bagaimana wajah-wajah para pedagang itu bisa begitu familiar karena banyak kemiripan.
Kalau dibandingkan saat kedatangan semalam, sepintas melihat kota besar Can Tho itu hanyalah setengah dari cerita kehidupan pagi ini di sungai. Setengah lainnya kemana? . Mengalami pengalaman melihat matahari terbit diudara yang berkabut di atas air sambil mencicipi kuliner lokal dari atas jukung seperti di Banjarmasin padahal tengah berada di Delta Mekong.
Berlangsung sejak subuh, aktivitas di pasar terapung ini sangat autentik dan visualnya kuat dimana perahu berseliweran, buah tropis menggunung dalam perahu, mrlihat interaksi warga lokal maupun dengan para turis yang datang bergelombang.
Rombongan saya saja ada 6 bis. Terpesona rasanya melihat suasana di obyek wisata unggulan Can Tho ini. Bisa dibilang “living culture”, bukan atraksi atau pertunjukan buatan tapi denyut kehidupan nyata. Apalagi dari hotel akses mudah tapi tetap disuguhi pemandangan yang alami.
Di tepi sungai banyak rumah-rumah kayu warga, rindangnya pepohonan. Kebayang nggak sih ketika malam tiba maka denyut kehidupan malam di atas sungai pastinya tidak kalah seru dimana warga lokal melepas lelah dengan santai berayun di tempat tidur gantung, dan malam yang hangat diiringi oleh paduan suara serangga.
Kombinasi sungai, desa, dan budaya
dari Can Tho, membuat turis bisa menjelajah:
kanal-kanal kecil dengan perahu tradisional. mengunjungi kebun buah tropis, desa lokal yang masih alami.
Pengalaman ini memberi paket lengkap: nature + culture + human connection, membuat wisatawan diajak untuk menikmati pengalaman “slow tourism” setelah di Ho Chi Minh City dua hari sebelumnya harus melewati kemacetan lalu lintas darat yang luar biasa.
Di era pariwisata modern, banyak wisatawan mencari ketenangan, keaslian, koneksi spiritual dengan alam. Maka Can Tho dengan pasar terapung dan sungainya menawarkan itu semua dengan ritme hidupnya pelan, selaras dengan sungai.
Nah, kalau dibandingkan dengan pasar terapung di Banjarmasin perbedaannya cukup menarik—bukan hanya soal lokasi, tapi juga “jiwa” pasarnya. Kalau di Cai Rang skala & karakter aktivitasnya skala besar, ada ratusan perahu dan lebih ke perdagangan grosir (buah, sayur dalam jumlah besar)
Aktivitas ekonomi utama masyarakat Banjar- masin skala lebih kecil dan intim karena lebih ke eceran dan tradisional. Banyak unsur budaya & interaksi sosial. Sederhananya begini, Cai Rang cendrung ke pasar sungai skala ekonomi besar sedangkan Banjarmasin pasar sungai berbasis budaya lokal.
Dalam hal jenis perahu & penampilan visualnya maka Cai Rang perahunya lebih besar. Ada tiang tinggi untuk menggantung contoh dagangan supaya terlihat dari jauh sehingga lebih fungsional.

Sementara kalau di Banjarmasin perahunya jukung jadi lebih kecil. Pedagang yang biasanya ibu-ibu atau dipanggil acil memakai caping jadi secara visualnya lebih ikonik dan fotogenik dan kental dengan romantisme.
Soal perdagangan di atas air, Cai Rang pelakunya lebih sibuk, ritme cepat dan mereka adalah pedagang profesional yang interaksi cepat dan fokus pada transaksi untuk segera dapat uang ( cuan).
Sedangkan sungai di Delta Mekong ini kuat di keunikan global & skala besar dan cocok untuk wisatawan internasional mewakili kehidupan sungai Asia Tenggara.
Tapi kalau di Banjarmasin banyak interaksi ibu-ibu penjual dengan turis yang lebih manusiawi, hangat dan ngobrol santai. Mereka dagang dari subuh hingga sekitar jam 8 pagi dan ibu-ibu pedagang ini punya nuansa spiritual setelah waktu ibadah pagi ( sholat subuh).
Tak heran pasar terapung kita kuat di keaslian budaya & kearifan lokal karena menjual kehangatan & kedalaman budaya terutama kuliner karena bisa mencicipi makanan khas Banjar sambil berkeliling di atas perahu kayu.
Kalau mau jujur dari sisi “pengalaman” sebenarnya pasar terapung di Banjarmasin seperti di sungai Martapura, Sungai Kuin/Barito maupun Lok Baintan lebih menyentuh hati dari Delta Mekong karena interaksi yang baik.
Sayangnya para pemimpin daerah Kalsel ini belum mau serius mendatangkan wisatawan Asean dan mancanegara. Padahal peluang meningkatkan ekonomi masyarakatnya besar. Di Medsos, mau pesan paket perahu di Cai Rang harganya di atas Rp 2,5 juta.
Mau lihat kebun buah ramai-ramai dengan turis umum perborang sudah Rp 650 ribu per orang. Nah kalau pimpinan dan industri wisata Kalsel mau konsentrasi jualan pasar terapung kan warganya sejahtera.
Kota Banjarmasin sebagai wilayah Kota yang dijuluki ‘Seribu Sungai’ entah mengapa belum punya keseriusan menggarap pasar terapung yang dimiliki. Padahal sudah banyak study di lakukan ke negara-negara Asean seperti Thailand, Vietnam yang memiliki produk serupa tapi tak sama ini.
Bahkan di saat pasca Covid-19 muncul produk Halal Tourism di seluruh dunia bahkan dari negeri- negeri Non Muslim, Pemimpin daerah Kalsel baru sekedar lisan belum menunjukkan aksi nyata menjadikan Pasa terapung Kalsel jadi tujuan wisata halal.
Padahal julukan kota ‘Seribu Sungai’ itu memiliki pesan sebagai sikap kegotong – royongan, dan kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama. Maka seharusnya untuk pasar tertentu tinggal dikemas dengan narasi yang tepat mempromosikan sunrise, doa, interaksi tulus, sarapan pagi bersama di atas sungai.
Tinggal meneruskan dan kreatif ternyata sulit bagi pimpinan dan warga lokal karena
pasar terapung ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar di abad 17.
Di bawah langit biru cerah Delta Mekong, Can Tho, saya bersyukur bertambah ilmu dan melihat langsung masyarakat Vietnam yang lebih memilih Atheis dan agama Kepercayaan mampu menjaring wisatawan mancanegara hingga 21,2 juta orang.
Vietnam menutup tahun 2025 dengan pencapaian bersejarah berupa 21,2 juta kedatangan wisatawan internasional, menandai peningkatan luar biasa sebesar 20,4% dari tahun sebelumnya.
Ini merupakan jumlah pengunjung asing tertinggi yang pernah diterima negara tersebut, menurut Kantor Statistik Umum.20 Jan 2026. Nah bagaimana ? Berani menerima tantangan ?.










