Wisata Hati di Ponpes Irena Center Mengasah Diri Jadi Muslim Sejati

2
315

Pondok Pesantren Muallafah Irena Center di kawasan wisata Sentul, Bogor

SENTUL, bisnisisata.co.id: Hari jumat siang usai menyelesaikan beberapa tugas rutin, saya menuju stasiun Cileubut, satu stasiun sebelum kota Bogor untuk bergabung dengan Sisca dari Sukabumi dan Lili Kitey dari kawasan Tanah Abang, Jakarta. Tujuan kami hari itu adalah menuju Pondok Pesantren Irena Center.

Letaknya di kawasan Sentul tepatnya Jl. Ponpes, KampungTapos, Bojong Koneng, Babakan Madang,  Bogor, Jawa Barat 16810. Sentul memang punya sedikitnya 16 tempat wisata popular yang menjadi tujuan wisata masyarakat Jakarta, Bogor dan kota lainnya di kawasan Jawa Barat.

Tapi kali ini tujuan wisata kami bukan untuk kesenangan duniawi di akhir pekan,  tapi justru wisata hati di pondok pesantren yang dibangun oleh seorang mualaf, Irena Handono yang ber “metamorfosa” menjadi seorang ustajah dan istiqomah terhadap ajaran Islam.

Untunglah sebelum melanjutkan perjalanan ada seorang ibu cantik yang ternyata seorang dokter kecantikan pula yaitu dokter Ayu dengan mobil Alphardnya sengaja menjemput untuk mengikuti sesi pencerahan di tempat yang sama.

Kami tiba menjelang shalat Ashar, dimana para peserta tengah mengikuti sesi pertama untuk memahami Tiga Pilar Islam yang dibawakan oleh ustajah Iffah Ainur Rachmah.

Acara sudah dibuka setengah jam sebelumnya oleh drh Alian dan Elis Anisah dilanjutkan pengantar oleh Dewi Nurbaeti dan pembukaan langsung dari nyonya rumah, Umi Irena Handono.

Ustajah  Iffah Ainur Rachmah menjelaskan 3 pilar Islam yaitu ketakwaan individu, Masyarakat yang peduli dan pilar ke tiga adalah Negara yang menetapkan syariat. “Utamanya adalah setiap individu muslim harus menerapkan aturan atau hukum yang telah ditetapkan oleh agamanya. Kalau taqwa maka tidak melanggar aturan Allah SWT sebagai pencipta manusia dan alam beserta segala isinya,” ungkapnya.

Individu yang takwa, kata Iffah, akan menghiasi diri mereka dan senantiasa menyibukkan diri dalam taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah. Caranya dengan melaksanakan kewajiban, melaksanakan amalan-amalan sunnah nafilah maupun bentuk-bentuk ketaatan lainnya.

Tapi ketaqwaan tidak hanya terbatas pada aktivitas ibadah, namun mencakup pula seluruh aktivitas kehidupan kita sehari-hari  mulai dari hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat yang sudah ada panduannya dalam Islam karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri.

Ketaatan individu bukan hanya dalam akhlak atau perbuatan mulia tapi juga berkaitan dengan pakaian, makanan bahkan uqubat yaitu berani melaksanaan sanksi hukum di dunia oleh negara sesuai ketentuan Islam/ Khilafah.

Ustajah Irena Handono ( tengah duduk) melayani foto bersama sebagian peserta.
Para ustajah pemberi materi

Pilar kedua adalah masyarakat yang peduli. Sudahkah dalam kehidupan sehari-sehari kita peduli dengan lingkungan di tempat tinggal kita sendiri ?. Kalau kita peduli maka perang terhadap narkoba yang dicanangkan pemerintah tidak akan terjadi, begitu pula dengan kegiatan sex sesama jenis yang merebak di tengah masyarakat.

“Bencana alam di Lombok, Palu, Sigi dan Donggala bukan hanya akibat satu individu yang melanggar aturan-aturan agama namun karena masyarakat sekitarnya tidak peduli maka semua umat menanggung akibatnya,” kata Iffah Ainyr Rachmah

Oleh karena itu ada kewajban untuk mengingatkan warga apabila akhlak atau perbuatannya melanggar ajaran agama apapun di dunia ini, tegasnya. Kepedulian masyarakat merupakan pilar untuk menegakkan agama yang Rahmatan lil alamin.

Artinya agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia . Dalam kehidupan bermasyararakat maka dikenal ungkapan Amar Ma’ruf Nahi Munkar  maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.

Peran Negara

Pilar ketiga adalah peran negara dalam menyejahterakan warganya. Meskipun bukan negara Islam namun negara harus mengatur sanksi ( uqubat) , sistem ekonomi, sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem politik dan jihad.

“ Di Indonesia, enam hukum syariah di atas yang harus diterapkan oleh negara tapi belum diterapkan padahal memang negara yang harus menerapkan. Soal ibadah yang menerapkan individu, soal mualamah atau kepentingan masyarakat maka yang seharusnya menerapkan masyarakat tapi penerapannya belum sepenuhnya dilakukan,”

Syariah adalah kata Arab yang secara harfiah berarti jalan yang harus diikuti. Istilah ini luas, baik meliputi pribadi manusia dan hukum agama. Syariah berasal dari dua sumber; Al-Quran, kumpulan firman langsung dari Tuhan, dan Sunah, rangkuman norma yang dilakukan Nabi Muhammad.

“Target mulia penerapan syariah adalah berlaku bagi semua umat yang diciptakan Allah agar mereka menjaga akal karena itu dilarang minum minuman keras (khmar), dilarang menggunakan narkoba. Target lainnya adalah menjaga keturunan karena itu ada sanksi ( uqubat) bagi pezina, melarang LGBT, mendorong pernikahan syah,” ungkap Iffah

Penerapan syariah juga punya tujuan mulia agar warganya menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga agama dengan memberikan hukuman mati bagi yang murtad dan merusak agama, menjaga keamanan dengan memberikan hukuman keras bagi pengacau keamanan dan target mulia lainnya adalah menjaga kesatuan negara berupa perintah memerangi pemberontak.

“Dalam membuat tata negara di negara Muslim terbesar seharusnya mengacu pada syariah karena tujuannya mulia dan berlaku pada semua umat. Apa ada orang yang hati nuraninya menolak kebaikan ?,”

Uraian tiga pilar Islam dilanjutkan dengan materi soal Taat Syariat sebagai konsekuensi keimanan oleh ustajah Wiwing. Mengutip Al quran surat Ali Imron ayat 31, dikatakan bahwa “ Jika kamu ( benar-benar) mencintai Alkah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ustajah Wiwing menyampaikan bahwa jika seorang Muslim cinta pada sang penciptanya ( Allah SWT) maka bukti cintanya itu adalah dengan mengikuti syariah ( hukum) yang dibawa Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Alkah dengan tidak merasa terbeban, merasa sempit atau berat.

“Taat itu tidak pilih-pilih kalau sanggup baru mau mengerjakan. Taat itu mengikuti semua perintah secara total. Bukan seperti makan prasmanan, hidangan yang enak diambil, yang nggak enak ditinggalkan,” kata Wiwing.

Santi Mia Sipan ( kedua kiri) pengusaha wanita yang rajin menularkan virus entrepreneurship sesuai ajaran Islam di Ponpes Irena Center, Sentul.

Syariat Islam

Syariat Islam Kaffah mengatur hubungan manusia dengan Allah dengan ibadah sholat, puasa dan berzakat. Juga diatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui akhlak perbuatan, cara makan, minum dan berpakaian.

Syariat ke tiga adalah hubungan manusia dengan manusia yang mengatur mulai dari urusan rumahtangfa, keluarga, nafkah, waris hingga yang muamalah menyangkut jual-belu, upah-mengupah, menyangkut pula dengan syariat negara dalam hal sistem ekonomi, pendidikan dan sektor lainnya.

“Islam mengatur hidup umatnya dalam 24 jam/sehari penuh. Itulah sebabnya umat Islam harus paham ada hukum yang lima yaitu Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram,” kata Wiwing.

Wajib jika dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa. Sunnah bila dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mubah bila dikerjakan tidak berpahala dan bila ditinggalkan juga tidak berdosa. Makruh bila dikerjakan tidak berdosa dan bila ditinggalkan lebih disukai dan terakhir adalah Haram yaitu bila dikerjakan berdosa dan bila ditinggalkan berpahala.

“Kunci meraih ridho Allah SWT adalah ikhlas menjalankan perintahNya dan mengerjakan amal terbaik sesuai perintah dan lapangan Allah dan rasulnya. Selain itu adalah wajib menuntut ilmu dan meluangkan waktu untuk belajar,” kata Wiwing.

Umi Irena Handono yang sejak awal saya tiba duduk menyimak penampilan ustajahnya mengatakan bahwa salah satu kunci meraih ridho Allah adalah keikhlasan dan kehadiran para wanita pengusaha muslimah yang hadir sore itu hingga Sabtu siang.

“ Untuk menjadi Muslim/Muslimah baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun sebagai penguasa ( negara) jangan seperti makan prasmanan, ayat yang disukai saja yang dibaca dan jadi acuannya. Ayat Al-quran yang memberikan sanksi tidak mau dipakai,” kata Irena.

Manusia itu, tambahnya, inginnya kebutuhan dasarnya terpenuhi seperti hidup aman, tentram, adil, makmur dan sejahtera tapi jika tidak taat syariat dan takwa pada Allah serta Rasul maka tidak mampu hidup selamat di dunia dan diakhurat.

“Nabi Muhammad SAW adalah utusannya Allah, sosok yang dijadikan Allah untuk percontohan bagi umat manusia di dunia. Jadi nikmat mana lagi yang akan kita dustakan ?,” tanya Irena Handono.

Menurut Irena, peserta yang mau meluangkan waktu untuk menimba ilmu agama di Ponpesnya saat akhir pekan Inshaa Allah adalah golongan khairu ummah yang berarti umat terbaik, sebuah penamaan yang diperuntukan bagi umat Islam.

Mengutip Ali ‘Imran [3]: 110
Adalah kamu sebaik-baik umat yang diutus untuk manusia menyuruh berbuat baik (ma’ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar dan beriman kokoh kepada Allah.

Mendengar uraiannya, tidak terasa air mata saya meleleh. Wisata hati yang saya lakukan bersama teman-teman pengusaha wanita dan muslimah intelektual lainnya semoga menjadi hidayah yang terus dilimpahkan Allah.

Rasa syukur berjumpa dengan wanita-wanita soleha dari wilayah Jabodetabek juga memberikan saudara-saudara baru yang langsung merancang aksi nyata.

Undangan bergabung menimba ilmu di Irena Center  dari Santi Mia Sipan, CEO PT Jaty Arthamas yang selalu menularkan virus entrepreneurship dan bisnis tanpa riba ini benar-benar bermanfaat dan membuat saya beruntung sudah melakukan wisara hati ini.

Seandainya setiap Muslim selalu melafalkan syahadat tauhid  Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah maka umat Islam di Indonesia tidak mudah diadu-domba dan berseberangan dengan saudara Muslimnya seperti saat ini akibat perbedaan pilihan politik.

Karena kalimat tauhid ini mengandung makna yang sangat dalam dan memberikan pengaruh yang luas bagi kehidupan manusia di dunia ini. Utamanya, kalimat tauhid harus merupakan perkataan hati dan sekaligus perkataan lidah.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.