Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie, Sukses Jaga Harmonisasi Budaya

0
10

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Walikota Singkawang Kalimantan Barat, Tjhai Chui Mie menjadi salah satu penerima Anugerah Kebudayaan PWI saat puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2021 di Candi Bentar Hall, Ancol, Jakarta Utara.

Walikota perempuan Tionghoa pertama di Indonesia ini menjadi magnet dengan busana cheongsam warna merah cerah. Dia bersama sembilan bupati/walikota lain hadir di Puncak Hari Pers Nadional, Selasa, 9 Febuari 2021, saat penyerahan anugerah disaksikan Presiden Joko Widodo secara virtual dari Istana Negara, Jakarta.

Usai acara, Tjhai Chui Mie menyampaikan ucapan selamat Hari Pers Nasional sekaligus harapannya.Tjhai mengatakan, selama ini komunikasi dirinya dengan pers selalu berjalan dengan baik.

“Semoga pers makin maju dan berbudaya, memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia menjadi cerdas dan kita membuktikan Indonesia maju, Indonesia hebat,” kata Tjhai.

Menurut dia, peran pers sangat penting agar program-program pemerintah tersampaikan ke masyarakat, juga dalam proses pembangunan suatu daerah. Terlebih lagi di masa pandemi seperti sekarang.

“Kemajuan suatu daerah dan promosinya tentu melalui pers, apalagi pers yang sudah dikenal, legal itu akan menjadi suatu kepercayaan masyarakat kita,” ucapnya.

Oleh karena itu jelang Imlek mendatang, dia mengingatkan adanya sebelum pandemi ada atraksi yang diberi nama pawai tatung , mengikuti tradisi Tionghoa yang berbaur dengan budaya Dayak dan hanya bisa disaksikan di Singkawang. 

“Perayaan tatung di daerah lain mungkin tidak ada seperti itu, yang paling ramai ya perayaan tatung dilakukan 15 hari setelah Imlek ini yang menjadi satu prestasi mungkin yang dinilai PWI,” tutur Tjhai Chu Mie.

Berkaitan anugerah PWI 2021 ini, menurut dia kebudayaan sejatinya tetap dijaga baik karena merupakan salah satu pemersatu bangsa.  Dia memimpin  komunitas masyarakat dengan 17 kelompok etnis yang berkomitmen membangun kota dengan tetap menjaga keharmonisan dan kelestarian budayanya dengan tetap rukun, santun dalam sikap dan kata.

” Etnis Tionghoa  dikenal taat dan erat dengan tradisi sosial dan religinya, suku Dayak di pengaruhi oleh sistem pengetahuan terhadap alam dan lingkungan sedangkan etnis Melayu banyak pengaruh dari sistem religi Keislaman,” ungkapnya.

Tak heran jika Singkawang juga mendapatkan predikat kota paling toleran pada tahun 2018 dengan 17 payuguban tersebut dari Setara Institut/UKP-PIP. Prestasi yang sama pernah diraih puka tahun 2015 dan 2017.

Tentunya dengan penghargaan Anugerah Kebudayaan ini akan sangat memacu semangat dirinya memajukan kota Singkawang melalui kebudayaan, bersama jajaran di kota setempat.

“Kebudayaan yang sudah ada kita kemas dengan baik sehingga menjadi satu daya tarik yang bisa dijadikan akses atau untuk mempromosikan wisata. Jadi dengan kebudayaan-kebudayaan ini menjadi destinasi wisata bagi pemerintahan kami di kota Singkawang,” pungkasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.