Totok  Wijayanto, Karier Lengkap Seorang Sarjana Geografi Pecinta Fotografi

0
25
Pemenang  Anugerah Adinegoro 2020  kategori  Foto: Totok Wijayanto dari Kompas

Panitia Tetap Anugerah Adinegoro PWI Pusat yang diketuai Rita Sri Hastuti menyelenggarakan  Webinar  “Berbagi Pengalaman Bersama Pemenang & Dewan juri 6 Kategori Anugerah Adinegoro 2021”. Acara berlangsung pada hari ini,  6 Febuari 2020 sebagai rangkaian acara menyambut Hari Pers Nasional 9 Febuari 2021. Berikut profil pemenang  Anugerah Adinegoro kategori  Foto: Totok Wijayanto dari Kompas

Sinopsis foto :

Petugas pemakaman membawa jenazah dengan prosedur khusus penanganan jenazah pasien Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (27/7/2020). 

Berdasarkan data dari situs COVID-19.go.id, total warga yang tewas sudah tembus 100.000 jiwa, tepatnya 100.303 atau bertambah 1.525 orang per hari.

Foto yang dramatis, hanya andalkan lampu kendaraan membuktikan keahlian memotret dengan alami. Pengambilan gambar berisiko ditengah ganasnya pandemi dan butuh ketenangan.

JAKARTA, bisniswisata.co.idKabar gembira datang tiba-tiba pada Rabu  malam di bulan Januari lalu. Di salah satu grup percakapan daring tersiar kabar bahwa wartawan foto harian Kompas, Totok Wijayanto, mendapat penghargaan di ajang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2020. 

Lewat foto karyanya yang bercerita tentang pemakaman korban COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Totok menyabet gelar juara di ajang bergengsi kompetisi jurnalistik yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Pusat kategori foto.

” Tetap surprise mendapat kabar kemenangan ini meski hampir setiap tahun saya selalu mengirim karya untuk mengikuti ajang ini. Jadi ketika tahun ini saya dapat meraihnya, tentu saja saya sangat bangga ” kata Totok Wijayanto melalui chat WA.

Akhirnya Totok  dapat membuktikan bahwa dia mampu meraihnya. Kenapa bangga, karena Anugerah Adinegoro merupakan kompetisi tertinggi bagi jurnalis di Indonesia, katanya lagi sambil menyebarkan rasa gembiranya.

Selain kredibilitas penyelenggaranya dan juri-juri yang ditunjuk, menurut Totok,  sosok Adinegoro  sebagai wartawan pergerakan juga jadi teladan dan kebanggaan insan pers serta memiliki pandangan jauh ke depan terkait tugas-tugas wartawan profesional. 

” Orang-orang terdekat juga sangat senang dengan anugerah ini terutama istri tercinta. Keluarga besar dan temen kantor juga segera memberi selamat membuat saya merasa bahagia,” ungkap Totok 

Bukan hanya karena jadi pemenang kompetisi, tetapi Adinegoro adalah tokoh yang menginspirasi sehingga secara pribadi Totok menjadi puas karena keluarga, kerabat, teman dekat dan pimpinan ikut merasakan kemenangan dan kebanggaan yang sama.

Siapa sangka Totok Wijayanto yang mulai suka fotografi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas ( SMA) di Yogyakarta bisa menggiringnya berprofesi sebagai fotografer dan tahun ini di usia 45 tahun meraih penghargaan Adinegoro yang juga dinilai setara penghargaan Pulitzer Prize di tingkat dunia.

Alam Papua

Kenangan kembali pada saat mengikuti ekstrakurikuler fotografi yg ditawarkan oleh sekolah. Kemudian berlanjut hingga kuliah. ” Nah saat kuliah mengikuti kegiatan klub pecinta alam di Fakultas, banyak kegiatan di lapangan yang membuat saya sekalian menyalurkan hobi foto,” katanya.

Totok Wijayanto kelahiran Yogyakarta melewatkan pendidikan sekolah dasarnya di Sentani, Jayapura, Papua  hingga tamat SMP sebelum akhirnya kembali ke kota asal mengikuti masa dinas orangtuanya.

Masa kecil di tengah keindahan alam Papua dimana lingkungan alamnya masih alami dan indah, kelak membuat dunia fotografi memikat hatinya, terekam dalam alam pikiran maupun dalam dokumentasi pribadi.

Alumni Strata satu Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada ( UGM) ini mengaku sangat menikmati aktivitasnya di komunitas pecinta alam sehingga bisa menyalurkan hobi memotretnya dengan lebih terarah dan akhirnya setelah tamat kuliah tahun 2003, dia mulai bergabung dengan Harian Kompas di tahun 2004.

Tidak hanya tenggelam dalam rutinitas pekerjaan, Totok juga rajin menuai prestasi Juara 1 Lomba Foto National Geographic Indonesia tahun 2007. Masih di tahun yang sama juga menenangkan Juara 1 Anugerah Adiwarta bidang foto berita politik.

Liputannya memang berkembang mulai dari politik, olahraga, humaniora dan hebatnya di setiap bidang liputannya Totok menerima  penghargaan juara pertama.

Predikat  juara 3 hanya pada Anugerah Pewarta Foto Indonesia bidang daily life tahun 2018 dan dua tahun kemudian peringkatnya kembali menjadi pertama  karena menjadi Juara 1 Anugerah Adinegoro kategori foto 2020 di Hari Pers Nasional 2021 pada 9 Febuari mendatang di hadapan Presiden Joko Widodo.   

Proyek Buku

Pepatah mengatakan nama baik itu lebih berharga daripada harta, karena disaat orang wafat, nama baiknyalah yang akan dikenang orang. Berbagai penghargaan di dunia fotografi sudah diraih Totok, namun buku juga menjadi perhatiannya. 

Dia berkontribusi pada buku kolaborasi berjudul , Fifty Seven Seconds , Lima puluh tujuh detik (57 detik) terbit tahun 2006. Buku berbahasa Indonesia dan Inggris dengan hardcover berdimensi 28.5 x 21.5 cm, setebal 172 halaman ini  karya Fotografer Jurnalis dan aliansi profesional untuk mengenang gempa di Jogja dan Jawa Tengah

Tahun 2007, desk foto Kompas juga menerbitkan buku berjudul Mata Hati (Foto Album Kompas) sebanyak 300 halaman. Karya Totok juga berada di dalamnya. Lewat buku Mata Hati: 1965-2007, Kompas menerbitkan koleksi foto-foto wartawan dan fotografernya.

Kesempatan emas yang tidak dia sia-siakan dan beruntung dengan kebijakan perusahaan sekaliber Kompas Grup itu karena tempat dan peran foto dalam suratkabar itu memang unik.

Foto memberi kelengkapan berupa lengkapnya deskripsi peristiwa terutama dalam dimensi keharuan, tragedi, keceriaan atau dramatisasinya. Cukup beragam dan serba unik. 

Bukan sekedar sebuah dokumentasi tapi bermanfaat luas karena bagi pemerhati yang misalnya lupa akan konteks foto-foto itu di masa kejadiannya, kiranya tetap saja foto-foto itu mampu bicara sendiri.

Namun, tak semua foto bisa diterbitkan di koran karena beragam alasan, seperti etika, estetika, kepantasan, maupun keamanan. Sebagian foto yang tak bisa terbit tersebut akhirnya diterbitkan dalam buku Unpublished pada 2014. Buku ini berisi 560 foto karya 22 pewarta foto Kompas.

Karya-karya Totok  Wijayanto juga berada dalam buku foto berjudul Unpublished itu. Apresiasi publik fotografi, terutama kalangan jurnalis foto, sangat baik terhadap penerbitan buku tersebut. 

Kompas merespons balik dengan menggelar Festival Fotografi Kompas (FFK) pada 2017 dan pamerannya di gelar di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Surabaya memajang foto-foto di buku Unpublished tersebut

Hajatan besar Asian Games 2018 juga menjadi momentum untuk menyelenggarakan Festival Fotografi Kompas (FFK) bertajuk Sportscapes di Bentara Budaya Jakarta. 

Pameran menghadirkan 80 bingkai foto olahraga karya dari 24 fotografer lintas generasi Harian Kompas termasuk karya-karya dari Totok Wijayanto tentunya yang sekaligus dibukukan.

Buku foto setebal 236 halaman dengan total 198 foto olahraga itu berjudul KOMPAS Sportscapes  dikuratori oleh kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) Oscar Matuloh beserta fotografer senior tabloid Bola, Stefan Sihombing.

Oscar Matuloh pula yang kini menjadi juri foto Anugerah Adinegoro yang diraih Totok dan melengkapi semua proses kariernya di bidang fotografi yang diawali kecintaan pada alam Papua dan dukungan orang tua atas hobinya itu.

Anak kedua dari dua bersaudara ini memang tidak berharap banyak anak- anaknya akan mengikuti jejak sang ayah, menjadi fotografer handal. Namun Totok bersama istri banyak meluangkan waktu untuk kegiatan wisata alam.

“Dengan keluarga biasanya jalan ke tempat-tempat  luar ruang atau Outdoor. Anak-anak masih kecil-kecil sementara belum ada yang tertarik dengan dunia fotografi ” kata Totok singkat.

Dia sendiri lebih banyak menghabiskan waktu luang untuk berolahraga bersama keluarga dan browsing internet. Totok percaya anak-anak dilahirkan dengan bakatnya masing-masing dengan jalan hidupnya yang telah digariskan sang khalik.

Pendidikan formalnya di UGM agar dia menjadi sarjana sains dengan kompetensi ahli geografi dan ilmu lingkungan akhirnya menjadi fofografer profesional yang ingin terus ditekuni bersama legacy yang sudah diabadikannya. Who Knows ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.