Tana Toraja Menolak Wisata Halal

0
124
Sejumlah wisatawan menyaksikan makam batu masyarakat Tana Toraja yang berada di dinding tebing di desa Lemo, Makale Utara, Tana Toraja, Sulsel, Di kawasan Tana Toraja terdapat puluhan lokasi makam tua di dinding tebing atau di gua yang menjadi daya tarik utama wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara . ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ed/nz/14

TANA TORAJA, bisniswisata.co.id: Setelah Bali yang menolak wisata halal, kini giliran Tana Toraja yang melakukan aksi penolakan wisata halal. Penolakan ini karena bertentangan dengan adat dan budaya Tana Toraja.

Aksi penolakan itu dilakukan dengan melakukan aksi unjuk rasa oleh Gerakan Mahasiswa Toraja yang dilakukan selama dua hari berturut-turut. Aksi ini terhenti setelah Bupati Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae turun menemui pendoma dan menyatakan menolak wacana wisata halal di Tana Toraja.

“Tidak ada pertimbangan lain dari saya, selain bersama-sama dengan DPRD Tana Toraja. Jika DPRD menolak maka saya juga katakan menolak,” tegas Bupati Nico usai menemui aksi demo mahasiswa di depan DPRD Tana Toraja, Kecamatan Makale, Rabu (13/3/2019).

Selain menyatakan melalui kata-kata, Bupati Nico juga membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan yang disediakan para demonstran. “Tidak ada unsur politis dalam penolakan ini, namun semua pihak harus memahami bahwa wisata halal tidak sesuai diterapkan di Tana Toraja karena kuatnya ada dan budaya yang harus dihargai bersama,” lontar Bupati Nico.

Ditambahkan dengan pernyataan sikap ini, Bupati Nico berharap tidak ada lagi keresahan masyarakat soal wacana wisata halal diterapkan di Tana Toraja. “Kami akan menemui Gubernur Sulawesi Selatan untuk menyelesaikan masalah wisata halal yang ditolak masyarakat Tana Toraja,” sambungnya seperti dilansir kabarmakassar.com, Kamis (14/03/2019).

Hal senada juga dilontarkan Ketua DPRD Tana Toraja, Welem Sambolangi, secara tegas menolak wacana wisata halal di Tana Toraja. “Biarkan pariwisata Tana Toraja berjalan sesuai adat dan budaya. Jangan diberi titipan dengan lebel halal yang memang tak sesuai dengan kondisi disini,” jelasnya.

Wacana wisata halal di Tana Toraja ini disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman, saat berkunjung ke Tana Toraja. Andi bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Tana Toraja untuk memberi penjelasan terkait rencana penerapan konsep wisata halal. Andi berpendapat penerapan konsep wisata halal bertujuan untuk meningkatkan potensi kunjungan wisatawan ke Tana Toraja.

“Jangan dipolitisasi itu (wisata halal), fokus infrastruktur daerah dengan baik, segala hubungan yang menyangkut wisata halal biarlah pemerintah daerah dan tokoh masyarakat memutuskan sendiri mana lebih baik,” kata Andi Sudirman dalam keterangan.

Ternyata wacana ini, membuat masyarakat Tana Toraja merespons dengan memprotes keras. Mereka menolak penerapan konsep wisata halal di Tana Toraja.

Tana Toraja memiliki beberapa tujuan wisata yang ada dan budaya serta alam yang indah. Obyek wisata itu antara lain Negeri di Atas Awan Kampung Lolai Toraja Utara dimana pengunjung bisa menikmati pemandangan wilayah Toraja dari dataran tinggi. Pada objek wisata tersebut, dilengkapi dengan Tongkonan atau rumah adat Toraja dan tenda yang bisa disewa oleh para pengunjung.

Selain itu, terdapat juga wilayah Batutumonga yang terletak di lereng Gunung Sesean, Kecamatan Sesean Suloara. Salah satu objek wisata yang dapat dikunjungi adalah Loko Mata yang merupakan batu besar setinggi lebih dari 15 meter yang dipahat dan dipergunakan sebagai kubur batu.

Objek wisata lainnya adalah Komplek Megalit Kalimbuang Bori yang terletak di Kecematan Sesean, Kabupaten Toraja Utara. Objek tersebut merupakan tempat upacara pemakaman adat dilengkapi dengan menhir yang berusia hingga ratusan tahun dan didirikan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal.

Keunikan Toraja sebagai pilihan daerah wisata baik untuk wisatawan asing dan dalam negeri tersebut, saat ini masih belum didukung dengan infrastruktur yang memadai seperti bandara. Bandara terdekat adalah Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang berjarak kurang lebih 320 kilometer sehingga pelancong membutuhkan waktu kurang lebih 8-9 jam perjalanan darat.

Selain itu akses jalan yang terbilang sempit dan rusak di beberapa titik dalam perjalanan dari Makassar ke Tana Toraja dan Toraja Utara yang membuat perjalanan ke lokasi-lokasi wisata tersebut kurang nyaman dan membutuhkan waktu yang cukup lama. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.