Sepuluh Negara Bebas COVID-19, tapi Terkena Dampak Ekonomi. Apa yang Mereka Lakukan?

0
15

Hotel Palau kehilangan tamu akibat  COVID-19.          ( Foto: BBC News) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Virus corona sudah menyebar di hampir seluruh negara di dunia, kecuali 10 negara ini. Jadi, apa yang kini dilakukan oleh negara-negara yang tidak terjangkit virus tersebut?

Negara pertama yang tidak mengalami virus corona ini adalah Palau. Pada tahun 1982 negara tersebut membuka sebuah hotel yang dinamakan hotel Palau dan merupakan tempat penginapan satu-satunya di sana.

Sejak itu, pariwisata di negara kecil yang dikelilingi oleh samudra Pasifik itu mengalami lonjakan. Pada tahun 2019, sebanyak 90.000 pelancong datang ke Palau, lima kali lipat dari total populasi.

Sebetulnya perbatasan Palau sudah ditutup sejak akhir Maret. Negara ini adalah satu dari 10 negara di dunia tanpa kasus yang dikonfirmasi (di luar Korea Utara dan Turkmenistan).

Dilansir dari BBC News, kendati tidak menulari satu orang pun, virus corona telah memorak morandakan negara tersebut yang devisanya bergantung dari sektor pariwisata, kunjungan wisman hilang seiring datangnya pandemi global ke muka bumi.

Akibatnya hotel Palau pun ditutup sejak Maret, dan bukan hanya hotel itu saja. Restoran-restoran terlihat kosong, toko-toko suvenir tutup, dan satu-satunya tamu hotel adalah warga setempat yang melakukan karantina.

Pada tahun 2017, angka-angka dari lembaga keuangan dunia IMF menunjukkan, sektor pariwisata menyumbang 40% dari Produk Domestik Bruto negara. Namun, itu sebelum dunia dilanda pandemi virus corona.

Sebetulnya perbatasan Palau sudah ditutup sejak akhir Maret. Negara ini adalah satu dari 10 negara di dunia tanpa kasus yang dikonfirmasi (di luar Korea Utara dan Turkmenistan).

Negara-negara yang tercatat tanpa kasus Covid-19 adalah Palau, Micronesia, Marshall Islands, Nauru, Kiribati, Solomon Islands, Tuvalu, Samoa, Vanuatu dan Tonga

“Laut di sini jauh lebih indah dibanding tempat lain di dunia,” ujar Brian Lee, manajer dan salah satu pemilik hotel Palau.Lautan yang dikelilingi langit biru inilah yang membuat Brian sibuk. 

Sebelum virus corona merebak, tingkat hunian di hotel yang memiliki 54 kamar itu sebanyak 70% hingga 80%. Namun, ketika perbatasan negara itu ditutup, tidak ada yang bisa dijadikan sandaran.

“Ini negara kecil, jadi warga setempat tidak akan tinggal di Palau,” kata Brian. Dia memiliki sekitar 20 staf, dan mempertahankan mereka semua, meskipun dengan jam kerja yang berkurang. Saya mencoba memberi pekerjaan untuk mereka – mulai dari pemeliharaan, renovasi, dan sebagainya,” katanya.

Namun, hotel yang tidak dihuni tidak bisa dipertahankan dan direnovasi selamanya.”Saya hanya bisa bertahan setengah tahun lagi,” kata Brian. Lantas, saya mungkin harus menutupnya.”

Brian tidak menyalahkan pemerintah, yang sudah menawarkan bantuan tunai kepada para warga, dan bagaimanapun juga, telah mencegah penyebaran virus. “Saya pikir mereka melakukan tugasnya dengan baik,” katanya. Namun, jika hotel Palau ingin tetap bertahan, sesuatu harus mereka ubah.

Presiden baru-baru ini mengumumkan, negara tersebut akan membuka kembali penerbangan mulai 1 September untuk perjalanan “penting”. Sementara itu, kabar tentang dibukanya “koridor penerbangan” dengan Taiwan untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan hanyalah desas-desus

Bagi Brian, hal itu tidak semudah yang dibayangkan.”Saya pikir mereka harus mulai membuka kembali – mungkin membuka kerjasama wisata dengan Selandia Baru dan negara-negara lain. Kalau tidak ada yang datang maka  tidak ada yang bisa bertahan di sini.”

Sementara itu, Kepulauan Marshall sekitar 4.000 km ke arah timur, melintasi Samudra Pasifik yang luas juga dinyatakan bebas COVID-19. Namun, seperti Palau, bukan berarti pandemi virus corona ini tidak berdampak bagi mereka. Hotel Robert Reimers yang terletak di ibukota Majuro, dikelilingi laguna.

Sebelum COVID-19, ada 37 kamar di hotel itu memiliki tingkat hunian sebanyak 75% -88%. Sebagian besar tamu mereka berasal dari Asia, Pasifik, atau “Daratan” (Amerika Serikat).

Sejak perbatasan ditutup pada awal Maret, tingkat hunian di hotel turun menjadi 3% -5%. “Ada beberapa tamu dari luar pulau yang tertular namun tidak banyak dan teratasi,” kata Sophia Fowler, yang bekerja hotel itu. 

Secara nasional, negara ini diperkirakan akan kehilangan lebih dari 700 pekerjaan akibat COVID-19, ini merupakan penurunan terbesar sejak 1997. Dari jumlah tersebut, 258 pekerjaan berasal dari sektor hotel dan restoran.

Namun isolasi diri memengaruhi lebih dari sekadar pariwisata – dan Kepulauan Marshall tidak menggantungkan diri pada sektor pariwisata seperti Palau. Masalah yang lebih besar adalah industri perikanan.

Untuk menjaga agar negara bebas dari COVID-19, kapal-kapal yang berasal dari negara yang terjangkit, dilarang memasuki pelabuhan kota itu. Kapal lain, termasuk kapal tanker bahan bakar dan kapal kontainer, harus menghabiskan 14 hari di laut sebelum masuk pelabuhan.

Dampaknya sangat jelas. Kepulauan Marshall mengkhususkan diri pada ikan akuarium – yang paling populer adalah ikan malaikat api – tetapi ekspor turun hingga 50%, menurut sebuah laporan di AS.

Pengiriman tuna sashimi di pantai turun dalam jumlah yang sama. Industri perikanan lainnya mengalami penurunan 30% sepanjang tahun.

Singkatnya, Anda dapat mencegah masuknya virus, tetapi Anda tidak bisa mengalahkannya. Sophia “berharap” segala sesuatunya kembali normal di negaranya, dan begitu pula Hotel Robert Reimers tempatnya bekerja tahun depan. Tetapi jika tidak? “Maka itu tidak mungkin bagi kami,” tegasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.