Selebrasi Digitalisasi agar Aksara Jawa Tak Tergerus Jaman

0
43
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X hilangkan kekhawatiran aksara Jawa punah dengan melakukan digitalisasi untuk melestarikannya. ( Foto: Disbud DIY) .

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  – Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menyelenggarakan kegiatan Selebrasi atau Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa di Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kegiatan yang berlangsung Sabtu Malam (5/13/2020) dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Taste OfJogja Disbud DIY ini dihadiri oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X; Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika; Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI); dan tamu undangan lainnya

“Di era digital ini jika suatu aksara tidak hadir dalam bentuk digital maka dianggap tidak ada. Kalau pun ada dianggap aksara yang tidak hidup karena tidak ada lagi pendukungnya,” kata Sri Sultan dilanjutkan meluncurkan secara resmi program digitalisasi aksara Jawa.

Acara bertambah istimewa karena ditampilkan secara perdana Beksan Aji Saka Yasan Dalem Enggal Sri Sultan Hamengku Bowono X. Beksan tersebut diciptakan khusus oleh Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai wujud kepedulian beliau terhadap aksara Jawa dan juga dalam menyambut kebangkitan aksara Jawa yang pada saat ini sudah masuk ke ranah digital.

Tarian Aji Saka Yasan Dalem Enggal Sri Sultan Hamengku Bowono X meriahkan selebrasi Aksara Jawa. ( Foto: Disbud DIY )

Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa merupakan dukungan untuk proses digitalisasi aksara Jawa di ranah digital, setelah aksara Jawa terdaftar resmi di Unicode Konsorsium, maka aksara Jawa sedang dalam proses enskripsi di internet.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Kongres Aksara Jawa I Yogyakarta, yang semestinya digelar pada Juli 2020, namun harus ditunda pelaksanaannya pada Maret 2021.

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, dalam berbagai kesempatan mengatakan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebenarnya sudah lama mengusulkan agar Aksara Jawa dilakukan digitalisasi. Dia tak ingin Bahasa Jawa tergerus zaman dan hilang atau tak lagi digunakan di tanah Jawa.

Sri Sultan berharap Bahasa Jawa tetap menjadi bahasa Ibu, termasuk juga penggunaan aksara Jawa. Sejumlah langkah dan upaya pun telah dilakukan untuk menjaga warisan budaya berupa bahasa dan aksara Jawa tersebut. Salah satu yang digagas yakni usulan untuk digitalisasi aksara Jawa.

“Jadi jangan sampai bahasa ibu ini kalah dengan bahasa Indonesia. Sehingga tidak ada lagi masyarakat lokal yang memakai lagi,” ujar Sri Sultan HB X,

Pada  2013 telah diluncurkan aplikasi aksara Jawa versi 1.0 yang setahun kemudian disempurnakan dengan versi 2.0. Hingga November 2013 aplikasi tersebut telah diunduh sekitar 10.000 kali.

Sri Sultan melanjutkan, kekhawatiran lenyapnya bahasa dan aksara Jawa seringkali dibahas dalam berbagai studi, seminar, diskusi, dan dialog. Khususnya dalam serial kongres bahasa Jawa. Penutur bahasa lokal berangsur hilang dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Hal ini menyebabkan kekhawatiran hilangnya berbagai bentuk pusaka budaya, tradisi, dan ekspresi berbicara penuturnya. Mulai dari sajak dan cerita hingga peribahasa dan lelucon. Kita seharusnya mendorong penggunaan bahasa daerah agar tetap hidup dimulai dari keluarga guna mendukung program UNESCO tentang mother language,” paparnya.

Beberapa agenda acara yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) terkait dengan pemeliharaan dan pengembangan aksara Jawa di antaranya Sarasehan Majalah Sempulur dengan Topik Aksara Jawa, Focus Group Discussion (FGD) I – IV Kongres Aksara Jawa.

Berikutnya, Sosialisasi Pelaksanaan Kongres Aksara Jawa I dilaksanakan di Provinsi Bali dan Jawa Tengah, Workshop Dluwang, Workshop Digitalisasi dan Pameran Manuskrip, Pra Kongres Aksara Jawa, Finalisasi Tim Perumus Kongres Aksara Jawa I Yogyakarta, Nyerat Dluwang Masal.

Pemerintah DIY memberikan dukungan penuh ke Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dalam hal pengajuan enskripsi Aksara Jawa ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.