Yuk Ajak Milenial ke Komodo dan Nusa Penida dengan Harga Terjangkau

this formate

Keindahan Pink Beach, di kawassn eisata Komodo ( foto: Komodo dragon/Google)

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial  bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal dengan menggalakkan kunjungan wisata ke berbagai daerah, kata Mohammad Bezqoni, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) Kota Banjarmasin, hari ini.

“Kalangan milenial kan punya lifestyle berwisata dan membagi foto-foto berwisata ke media sosial sehingga netizen di seluruh dunia bisa melihat foto-foto unggahannya yang berwisata di Indonesia,” katanya.

Berinisiatif untuk menggerakkan wisatawan nusantara ke berbagai daerah pihaknya menawarkan paket-paket wisata petualangan ke Pulau Komodo dan Nusa Penida selama 5 hari 4 malam berangkat dari Banjarmasin.

” Menggandeng Ikuttour .com, kami mengajak warga Banjarmasin terutama kalangan milenial untuk berwisata   mengunjungi Pulau Padar, Pulau Kelor, Pink Beach, Pulau Rinca dan Pulau Kalong, di Komodo” jelasnya.

Salah satu tujuan wisata yang bisa kita pilih di kawasan Wisata Komodo adalah Pink Beach. Sesuai namanya, pantai disini memiliki warna merah muda. Pink Beach Komodo Island masuk kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Selain itu, pantai ini juga termasuk salah satu dari 7 pantai di dunia yang memiliki pasir berwarna merah muda.

Pantai-pantai lainnya adalah di Bahama, Bermuda, Filipina, Italia, Kepulauan Karibia dan Yunani. ” Pink Beach jadi unggulan dan tentunya kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menyaksikan keindahan pantai berpasir merah muda karena ada Pink Beach Komodo Island di Indonesia. 

Tampilannya persis sama seperti pantai-pantai merah muda di negara-negara lain tersebut. Taman Nasional Komodo yang menjadi lokasi Pink Beach Komodo Island sekaligus digunakan sebagai tempat perlindungan hewan melata terbesar di dunia tersebut yang ada di Indonesia saja. 

” Jadi kita bisa lihat binatang langka, Komodo dan belajar mengapa Taman Nasional Komodo telah dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru,”

Sementara untuk kunjungan ke Nusa Penida, Bali peserta dapat menikmati Kelingking Beach, Angel Billabong dan Broken Beach. Untuk Angel Billabong Nusa Penida adalah muara akhir dari sebuah sungai sebelum air sungai tersebut sampai ke lautan lepas. 

Fenomena alam yang mempesona di Angel Billabong yang  membuat wisatawan mancanegara srlalu darang kembali ke tempat ini setiap kali ke Bali karena menampilkan cerukan-cerukan kolam alami yang sangat indah dan memukau.

Bahkan keindahan dan kecantikan Angel Billabong Nusa Penida tidak akanjumpai di tempat manapun karena berciri khas sangat artistik dengan batuan karang berwarna hijau kekuningan. Kian nampak indah dengan kejernihan air yang mengalir di sini.

Kapal untuk menjelajah Pink Beach, Labuan Bajo dan obyek wisata lainnya di Nusa Penida

“Jadi dalam satu trip kunjungannya kedua tujuan wisata termashur itu, Pink Beach dan Angel Billabong, tambahnya.

Flight dari Banjarmasin, termasuk bagasi 15 kg, hotel bintang 4 twin share untuk keberangkatan 18 April 2020 seharga Rp 12.200.000/ orang sebelum Ramadhan dan keberangkatan 11Juni 2020 seharga Rp 13.800.000/ orang, ujar pria yang akrab disapa Bebez ini.

Untuk tiap keberangkatan maksimal 15 orang saja supaya dalam perjalanan peserta bisa saling mengenal peserta lainnya dengan baik dan menikmati perjalanan dengan menyewa kapal.

” Saatnya kita kembali menggalakkan kunjungan ke obyek-obyek wisata di dalam negri dengan Jelajahi Negrimu, Cintai Negrimu karena dijaman digital ini kalangan mileniallah yang bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal,” kata Bebez.

 

Ketika Cinta Bertasbih, Akhiri FFA ke-13

this formate

JEDDAH, bisniswisata.co.id: “Ketika Cinta Bertasbih” atau KCB menutup rangkaian Festival Film Asia ke-13 (the 13th Asian Film Festival/AFF-13) yang digelar Asosiasi Konsul Jenderal Asia (Asian Consuls General Club/ACGC) di Jeddah. Penutupan AFF-13 dihadiri para Kepala Perwakilan ACGC, perwakilan negara sahabat, mitra KJRI Jeddah dari kalangan pengusaha dan instansi pemerintah setempat, warga  Saudi dan asing yang tergabung dalam peserta Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), serta awak media.

Sebanyak enam film dari negara anggota telah diseleksi oleh ACGC untuk ditayangkan dalam gelaran AFF-13 yang berlangsung selama sebulan, yaitu film India, Filipina, Indonesia, Korea, Malaysia, dan Pakistan.

Ditonton sekitar tiga ratus tamu undangan, film yang diangkat dari salah satu  novel terlaris  karya  Habiburrahman El-Shirazy dan  mengambil setting di Cairo Mesir dan Indonesia ini, berhasil menyihir tamu yang memadati Balai Nusantara (Balnus) Kompleks Wisma Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah.

Mengawali rangkaian acara, malam penutupan AFF-13 menyuguhkan Tari Gamyong,  tarian klasik yang berasal dari Jawa Tengah, dan Tari Merak yang dibawakan kelompok tari dari Sekolah Indonesia Jeddah.

Menurut Konjen RI Jeddah, Eko Hartono, festival ini merupakan media untuk mengenalkan kekayaan budaya dari Negara-negara Asia yang beraneka ragam.

“Banyak cara untuk mengenalkan keanekaragaman kita, salah satunya adalah film yang berbicara bahasa universal. Yang lebih penting, film membuat kehidupan di sekitar kita relevan dengan masa lampau, kini dan masa depan,” ucap Konjen Eko.

Dalam kesempatan tersebut, Konjen mengapresiasi Kerajaan Arab Saudi yang telah membuka gerbang untuk mengekplorasi kekayaan budaya Asia dan memberikan ruang bagi warganya dan warga asing yang tinggal di negaranya untuk mengenal nilai-nilai budaya Asia.

Senada dengan Konjen Eko, Konjen Filipina yang sekaligus Koordinator AFF-13, Ed Badajos, menegaskan bahwah film merupakan sarana untuk memahami budaya-budaya bangsa lain.

“Melalui film yang telah saya tonton beberapa hari terakhir, terus terang saya merasa senang karena saya berkesempatan banyak mengenal budaya dari bangsa-bangsa Asia,” ucapnya saat menyampaikan sambutan penutupan AFF-13.

Oleh sebab itu, Konjen Ed Badajos mengapresiasi KJRI Jeddah yang bersedia menjadi tuan rumah penutupan AFF-13.

Asian Film Festival merupakan salah satu program tahunan yang diselenggarakan oleh ACGC yang beranggotakan 13 negara. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pemahaman Warga Saudi dan asing yang menetap di Arab Saudi terhadap budaya Bangsa-bangsa Asia yang beraneka ragam.

Anggota ACGC terdiri dari Bangladesh, Brunei, Cina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Sri Lanka, and Thailand. *

ZEN1: GALERI SENI DARI SANG ZENI

this formate
Arif Bagus Prasetyo

BALI, bisniswisata.co.id: SUDAH lebih dari satu dekade saya mengenal Nicolaus F Kuswanto. Pada sekitar tahun 2008, pria yang akrab dipanggil Nico ini meminta saya untuk menjadi kurator dalam pameran seni rupa yang dipersiapkannya. Sejak itu hubungan baik kami berlanjut. Saya hampir selalu terlibat, sebagai kurator atau penulis, dalam puluhan pameran seni rupa yang terlahir dari tangan dingin Nico, di Bali mau pun Jakarta.

Dunia seni rupa di Bali tentu tidak asing lagi dengan sosok Nico. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mengawali kiprahnya di medan seni rupa dengan menjadi pengelola galeri. Sekurang-kurangnya ada dua galeri yang saya ingat pernah mempekerjakan Nico pada dasawarsa pertama abad ke-21: Hanna Art Space dan Tangkas Gallery. Keduanya di Ubud, Bali.

Nico aktif membikin program pameran, menjalin kemitraan dengan seniman hingga memasarkan karya di galeri yang dikelolanya. Galeri yang pernah dipegang Nico tergolong kecil, tapi mampu mencuri perhatian masyarakat seni rupa di Bali berkat tawaran aktivitasnya yang bermutu dan berkesinambungan.

Sewaktu bekerja di Hanna Art Space Ubud, contohnya, Nico hampir setiap bulan mengadakan pameran seni rupa. Yang ditampilkan tidak saja karya perupa muda, tetapi juga perupa senior ternama. Tidak saja perupa dari Bali, tetapi juga perupa dari luar pulau. Tidak saja perupa Indonesia, tetapi juga perupa mancanegara. Lokasi galeri yang kurang strategis, berada di kompleks pom bensin, tidak menyurutkan semangat Nico untuk sering-sering mengundang seniman berpameran dan menjamu pecinta seni.

Nico juga berusaha meluaskan jangkauan galeri. Beberapa pameran tidak diselenggarakannya di galeri, melainkan di tempat lain. Misalnya, di hotel atau pusat kesenian. Tidak hanya di Bali, tetapi juga di Jakarta.

Sejak masih menjadi manajer galeri milik orang lain — bertahun-tahun silam, Nico telah menunjukkan passion yang kuat terhadap seni rupa. Ia menjalankan galeri, tapi yang dilakukannya sebenarnya lebih dari itu. Ia juga berperan menjadi partner, kadang-kadang bahkan patron atau manajer, bagi perupa. Ia pun tak segan menjadi agen atau konsultan bagi kolektor.

Ditenagai oleh api kecintaan terhadap seni rupa dan kecakapan membangun relasi dengan perupa dan kolektor, Nico terus berkontribusi di dunia seni rupa, bahkan setelah tidak lagi bekerja sebagai manajer galeri. Beberapa tahun yang lalu, ia mendirikan Zen Nagrisco Utama, perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman barang (Zen Express) dan pembingkaian lukisan (Zen Agung Frame). Melalui dua divisi bisnis Zen ini, Nico melanjutkan kiprahnya di dunia seni rupa.

Jembatan Karya dan Kolektor

Zen Nagrisco Utama ternyata tidak menyokong seni rupa dengan jasa pengiriman karya seni dan penyediaan bingkai lukisan saja. Di bawah bendera Zen, Nico aktif mengorganisasi pameran di berbagai tempat di Bali dan Jakarta. Ia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di galeri, hotel, sekolah dan ruang-ruang lain.     

Seraya memfasilitasi hubungan antara berbagai pihak dan kepentingan di medan sosial seni rupa, Nico berusaha membuka ruang kemungkinan baru untuk mempromosikan karya seni rupa. Inilah yang dilakukannya sejak dulu. Ia senantiasa mencari jalan untuk lebih mendekatkan karya seni ke pecinta seni. Disadari atau tidak, Nico selalu membikin jembatan yang menghubungkan karya dengan kolektor, kolektor dengan seniman, seniman dengan masyarakat. Sebuah jembatan yang memungkinkan roda kreatif terus berputar di dunia seni rupa.

Setelah lebih dari satu dasawarsa bergerak di dunia seni rupa, Nico mempersembahkan ruangnya sendiri untuk seni rupa: Galeri Zen1. Kita tentu bisa menduga kenapa dinamakan Zen1.

Kata “Zen1” bisa dibaca “Seni”. Unsur “Zen” tentu mengacu pada payung bisnis Zen Nagrisco Utama. Angka 1 melambangkan cita-cita untuk menjadi galeri nomor 1. “Menjadi yang terbaik, luhur, dengan harapan kami tampil dengan kemaksimalan. To be best of the best,” kata Nico.

Saya ingin menambahkan tafsir lain pada nama Zen1. Kata “Zen1” juga bisa dibaca “Zeni”. Dalam ketentaraan, pasukan zeni adalah kesatuan pendukung yang menyelenggarakan rekayasa taktis dan teknis di medan tempur. Kata “zeni” berasal dari kata Belanda “genie” yang artinya banyak akal. Salah satu tugas korps zeni adalah membangun jembatan. Bagi saya, kata “Zen1” juga menunjuk ke Nico sebagai sang zeni yang inovatif dan selalu membikin jembatan antara pencipta dan pecinta seni.           

Terus terang, saya salut kepada Nico. Butuh tekad, keberanian dan komitmen besar untuk mendirikan galeri seni rupa pada hari-hari ini. Kenapa?

Bukan rahasia lagi, iklim pasar seni rupa di Indonesia beberapa tahun belakangan ini dilanda kemarau berkepanjangan. Sering terdengar keluhan tentang sulitnya menjual karya seni rupa. Kelesuan pasar seni rupa di Indonesia jelas akan menjadi tantangan yang tidak ringan bagi galeri baru. Eksistensi sebuah galeri seni rupa tentu tidak bisa bertumpu pada idealisme semata. Galeri harus memiliki fungsi komersial, selain mengemban fungsi kultural.

Seretnya perputaran roda bisnis seni rupa di Indonesia tentu menyulitkan galeri untuk menjalankan fungsi komersialnya. Itulah sebabnya, saya kira, banyak galeri memilih gulung tikar, atau setidaknya sangat mengurangi kegiatannya. Di Bali, misalnya, galeri yang rajin menggelar pameran terkurasi saat ini dapat dihitung dengan jari. Galeri-galeri itu pun umumnya berada di hotel berbintang, dengan target pasar utama turis asing yang menginap di hotel tersebut.

Berkurangnya fungsi komersial galeri saat ini tidak saja disebabkan oleh situasi pasar seni rupa yang sedang paceklik. Ada faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya: media sosial.

Dulu, galeri sangat diuntungkan secara komersial oleh perannya sebagai hampir satu-satunya perantara antara produsen dan konsumen benda seni. Bahkan ada anekdot, galeri zaman dahulu sampai merahasiakan kliennya agar tidak diketahui oleh seniman. Tujuannya tentu supaya seniman tetap bergantung pada galeri dalam urusan jual-beli karya.

Kini situasi sudah jauh berubah. Media sosial memampukan seniman untuk menjangkau calon pembeli secara langsung, tanpa perantaraan galeri. Seniman bisa “memasarkan” karya dengan mengunggahnya di facebook atau instagram, misalnya. Kolektor yang ingin membeli karya seniman tertentu juga bisa dengan mudah mencari kontak si seniman di media sosial, menghubunginya, lalu datang ke studionya.

Mudahnya akses antara seniman dan pembutuh benda seni pada era medsos ini sering dikeluhkan pemilik galeri. Ada galeri yang merasa percuma saja membikin program pameran. Galeri sudah repot-repot dan mahal-mahal menyelenggarakan pameran seni rupa, tapi begitu tiba di urusan jual-beli karya, kolektor mencari si seniman dan bertransaksi dengannya secara personal (umumnya sesudah pameran berakhir).    

Bagaimana dengan peran galeri di luar sisi komersial? Saat ini fungsi kultural galeri sebagai lembaga yang berkontribusi memajukan perkembangan seni rupa juga telah diadopsi oleh banyak lembaga lain. Belakangan, semakin tampak kecenderungan seniman untuk berpameran di ruang-ruang yang bukan galeri konvensional.

Untuk sekadar ilustrasi, data unggahan di akun Instagram senidibali menunjukkan, dari puluhan pameran seni rupa di Bali pada Januari-Februari tahun ini, hanya dua atau tiga pameran yang diselenggarakan di galeri biasa. Selebihnya berlangsung di restoran, hotel, art shop, museum, pusat kebudayaan, kantor, sekolah, markas komunitas, creative hub, co-working space atau ruang alternatif lain yang tidak atau kurang memperhatikan aspek komersial seni rupa. Mungkin perkembangan ini dipicu oleh semakin sedikitnya galeri seni rupa yang bersedia menggelar pameran di Bali.

Saya yakin Nico menyadari semua tantangan itu. Ia pasti punya strategi untuk menghadapinya. Atau mungkin ia malah melihat peluang. Semakin sedikit galeri, berarti semakin sedikit pesaing. Mungkin kelesuan pasar seni rupa hanya berlaku di lapisan tertentu. Mungkin ada celah pasar atau lapisan kolektor baru yang menunggu digarap.

Yang jelas, perupa profesional harus menjual karya. Dan mereka pasti butuh sosok pebisnis dan komunikator ulung seperti Nico.

Selamat datang, Zen1. Cheers!

Nyanyian Puisi dari Halaman Antida Sound Garden

this formate

Lihat nyala api, Dan kepulan asap, Pejamkan mata, Hentakkan kaki, Taab, taab, tab, Jadilah rumah !, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit, Harum dupa dan lingkaran arak, Biarkan Tu Ti Kong mabuk, Soja Kui, Soja Kui, soja Kui, Salam takzim anak-cucu, Tangan kasih menembus,  langit dan waktu, Yang dulu tangis kini tawa, Fajar menyingsing, Jilatan api dan ombak, Di kaki-kaki karang, Bila usai, Bukalah mata, Takjub akan kasih hormat, tetesan darah, Soja Kui, Soja Kui, Soja Kui, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit. * Cu Kong Tik

DENPASAR, bisniswisata.co.id: LIRIK puisi Cu Kong Tik yang ditembangkan Tan Lioe Ie, mengundang penikmat music dan sastra makin mendekat memenuhi halaman rumah musik Antida Sound Garden petang itu. Menggelar perpaduan musik dan puisi ditengah kepanikan masyarakat hal virus Corona COVID-19 dan virus babi, bukan tanpa makna.

Sinergi yang mendukung kesepahaman, kesetaraan, kebersamaan, saling menghargai posisi masing- masing yang hanya bisa tumbuh dalam kesadaran mengendalikan egoisme.

 “Sinergi mengandaikan “persenyawaan” antara kedua genre seni untuk lebih berdaya “gedor” untuk mencapai tujuan di atas. Dalam sinergi puisi maupun musik bukan sub-ordinat satu atas yang lain. Tapi ibarat proses kimia menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling menguatkan,” ungkap Tan Lioe Ie, pentolan Bali Puisi Musik.

Group band yang menamakan diri Bali Puisi Musik ini memang piawai melakukan sinergi puisi dengan musik. Berharap puisi yang hanya dinikmati kalangan terbatas dan tertentu (sastrawan, pecinta sastra, pengamat sastra) dapat menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas. Lebih merakyat dan kekinian dan mampu mengasah “kepekaan” batin semua kalangan.

Dari segi tema puisi yang dibawakan Bali Puisi Musik, beragam : Ada renungan tentang perjalanan hidup manusia, ada tentang “kerinduan” pada “kekasih” yang dapat ditafsirkan bersifat horisontal dan vertical. Sebagaimana sifat puisi yang ambigu, ada kritik sosial, ada kepedulian terhadap lingkungan, ada persaudaraan dalam perbedaan dalam satu kemanusiaan, ada tentang pentingnya kasih sayang. Hal ini bisa disimak pada puisi Malam di Pantai Candidasa, Siapakah Kau, Exorcism, Malam Cahaya Lampion, Alam Kanak-Kanak, Co Kong Tik. Semua puisi yang disebutkan ini adalah karya Tan Lioe Ie, penyair yang sekaligus vokalis Bali Puisi Musik. Aaransemen musiknya karya Yande Subawa (giataris) dan dibawakan bersama Made “Dek Ong” Swandayana (keyboardist), Putu Indrawan (Bassist) Nyoman “Kabe” Gariyasa (drummer).

Tampil memukau di halaman Antida Sound Garden dengan membawakan lima buah lagu — sebelumnya diisi enam lagu oleh Tan Lioe Ie dan beberapa puisi dengan menggunakan teknik akustik.

“Bali Puisi Musik membawakan dua komposisi baru yaitu ‘Blues Untuk Boni’ karya WS. Rendra, dan juga ‘Tuhan Butuh Malaikat Baru’ Karya saya sendiri. Puisi ini saya tuliskan mengingat manusia di bumi ini mulai kehilangan ruh kebajikannya. Ego berdasarkan premodialisme semakin mencuat, potensi konflik meninggi. Dan itu tidak elok, sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi manusia yang lebih berhati malaikat,” papar Tan Lioe Ie.

Tampilan Bali Puisi Musik di panggung Antida Sound Garden, juga menghadirkan Ayu Winastri — seorang penulis cerpen dan Mira MM. Astra, seorang penyair yang telah merilis sebuah buku antologi puisi tunggalnya, berjudul Pinara Pitu.

Gelar musik puisi ini memang tak seriuh gelar music yang biasa mengisi panggung Antida Sound Garden. Senyap yang khusyuk  penikmat musik menata hati yang panik berhadapan dengan situasi negeri dibalut apik MC pecinta sastra  Moch Satrio Welang. MC yang sempat menggagas buku Antologi Puisi bersama yang berjudul “Keranda Emas”.

Penumpang Viking Sun, Turis Asal Inggris dan Australia Akan Berwisata di Surabaya

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: Saat sebagian besar negara di dunia menghindari kedatangan orang asing, ada kabar sebaliknya yang berasal dari Jawa Timur, bahwa pada 6 Maret 2020 mendatang, Kota Surabaya  akan kedatangan sekitar 1300 warga negara asing yang singgah melalui pelabuhan Tanjung Perak. 

Para turis asing ini datang dengan Kapal Pesiar yang bernama Viking Sun. Kapal pesiar ini mengangkut turis asing yang kebanyakan berkewarganegaraan Inggris dan Australia.

Mengingat Indonesia termasuk negara yang sudah memiliki kasus terjangkit Convid 19 maka kedatangan kapal pesiar pun diantisipasi Pemerintah Kota Surabaya dengan melakukan koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Kesehatan yang akan melakukan pemeriksaan saat penumpang turun di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Semua fasilitas kesehatan dan peralatannya telah disiapkan secara baik. Peralatan kesehatan ini juga telah disiagakan di pelabukan untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Pemerintah Kota Surabaya pun telah membentuk Satgas Kesehatan dan telah menyiapkan fasilitas yang memadai di seluruh Rumah Sakit, baik milik swasta maupun milik Pemerintah Kota.  

Kedatangan kapal pesiar ini menjadi hal yang membuat orang jadi ketar ketir karena kapal pesiar Diamond Pricess dan World Dream sebelumnya telah mengumumkan banyak awak maupun penumpang kedua kapal itu telah positif terjangkit Convid 19 yang hingga kini belum ada obatnya.

Mengenai kedatangan Kapal Pesiar Viking Sun ini, Humas Pelindo III menyatakan tidak ada pembatalan. Semua masih berjalan sesuai dengan rencana. Sebelum ke Surabaya, Kapal Pesiar ini terlebih dahulu ke Pulau Komodo dan Kota Semarang. 

Muhammad Budi Hidayat Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya menegaskan, akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap 1.300 penumpang dan kru Kapal Viking Sun yang akan sandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat, 6 Maret mendatang.

“Kami lakukan screening suhu, kapalnya, dan barang barangnya. Pada saat kedatangan kami menggunakan speed boot ke Karang Jamuang lalu naik dengan tangga,” katanya dilansir dari suarasurabaya.net

Budi mengatakan, pihaknya akan menerjunkan personel lebih banyak untuk mengecek suhu tubuh penumpang menggunakan Thermal Meter Gun. Meskipun, di Labuan Bajo dan Semarang, kapal ini sudah diperiksa.

Kami tetap periksa satu persatu. Kapal ini dari Labuan Bajo, Semarang, sehingga sistem pengawasannya sama. Kami tetap memeriksa lagi,” katanya.

Budi mengimbau masyarakat tidak perlu panik, karena pemerintah telah bekerja sesuai SOP Internasional. “Enggak usah panik, enggak usah resah, tapi tetap waspada. Kami berikan edukasi jaga kesehatan,” katanya.

Budi mengatakan, alasan Pemerintah Indonesia tidak melarang masuknya wisatawan kapal cruse ini karena memang secara aturan tidak boleh melarang warga negara lain masuk Indonesia, meskipun di tengah situasi merebaknya virus Corona.

“Sesuai Undang-Undang kita (Indonesia) tidak boleh mencegah masuknya warga negara lain tanpa alasan yang jelas. Makanya kami cek dulu baru bisa sandar. Kita awasi kita lihat tanda-tandanya. Kami tempatkan lebih banyak personel,” katanya.

Sekadar diketahui, Kapal Viking Sun berbendera Norwegia itu mengangkut 1.300 orang, baik penumpang maupun awak kapal. Rata-rata penumpang dari Australia dan London.

 

Aktifkan Crisis Center Untuk Akselarasi Kinerja Pariwisata Hadapi Wabah Corona

this formate

Crisis Center dibutuhkan untuk meyakinkan wisman tetap berkunjung ke Indonesia. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah memberikan insentif untuk akselerasi kinerja pariwisata di tengah wabah Corona agar kunjungan wisman ke Indonesia terus mengalir di samping mendorong pergerakan wisatawan nusantara ke berbagai daerah.

Menanggapi kebijakan itu, pengamat pariwisata Soelaiman Wiriaatmadja mengatakan kebijakan ini tentu akan mendapatkan sambutan yang baik dari industri, tapi dari sisi pelaku perjalanan tentu ini tidak mudah karena menurunnya propensity to travel atau kecendrungan untuk berwisata dari warga dunia.

“Saat ini bukan karena turunnya daya beli tetapi lebih pada “takut”untuk bepergian. Ingat pada waktu kejadian SARS ada pernyataan “if you fly you die,”  ujarnya.

Oleh karena  itu yang dibutuhkan adalah segera menghidupkan crisis center untuk meyakinkan para wisatawan bahwa mereka aman melakukan perjalanan. Semoga kebijakan ini berhasil, desak Soelaiman.

Crisis Center akan terus memperbaharui informasi mengenai kondisi terkini pariwisata di tanah air kepada para pelaku ( industri) wisata maupun masyarakat dunia sehingga mereka merasa aman dan nyaman untuk tetap berwisata ke Indonesia.

Menurut Soelaiman, prioritas insentif yang diberikan pemerintah justru pada menghidupkan crisis center karena penggunaan influencer dampaknya tidak instant dan butuh waktu dan kerja keras. Sementara Kementrian Pariwisata sudah berpengalaman mengaktifkan  crisis center sejak ada kasus Bom Bali I dan II, SARS dan berbagai bencana lainnya.

Tak dipungkiri jika saat ini imbas wabah virus corona telah membuat lesu pariwisata di dunia. Bukan hanya di Asia, pariwisata di Eropa juga turut lesu akibat wisatawan yang menunda bepergian. 

Di Indonesia, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah mengumunkan  untuk memberikan insentif untuk wisatawan mancanegara. Pemerintah memberikan alokasi tambahan sebesar Rp298,5 miliar. Terdiri dari Insentif Airlines dan Travel Agent, Insentif dalam skema Joint Promotion, kegiatan promosi pariwisata  serta familiarization trip (famtrip) dan influencer

Sementara untuk wisatawan domestik, pemerintah memberikan diskon 30 persen penerbangan ke 10 tujuan wisata. 30 persen itu untuk kuota 25 persen seats di setiap penerbangan ke 10 tujuan wisata. 

“Dan ini berlaku selama tiga bulan yaitu Maret, April, dan Mei 2020. Program ini apabila dirasakan manfaatnya dapat dilanjutkan,” kata Airlangga Hartanto. 

Menparekraf Wishnutama mengatakan, insentif yang diberikan untuk pasar mancanegara akan diarahkan ke pasar-pasar wisatawan mancanegara yang memiliki average spending per arrival (ASPA) tinggi. 

“Insentif akan memberikan dampak untuk mengakselerasi atau menarik wisatawan sebesar 736 ribu orang dari negara-negara fokus pasar dengan ASPA tinggi. Dari jumlah kunjungan tersebut diperkirakan bisa menghasilkan devisa sebesar Rp 13 triliun,” kata Wishnutama. 

Menurut Febiola, Travel Consultant Antavaya, tiket perjalanan dan paket tur ke semua tujuan di Eropa banyak yang dibatalkan. Di pihaknya,  pembatalan perjalanan yang lebih dominan ada pada destinasi wisata Asia.

Bukan hanya penyedia jasa tour dan travel yang merugi akibat turun drastisnya turis, Endang Suherman GM Glamping Lake Side di Bandung mengungkapkan penurunan pengunjung di objek wisata Glamping Lake Side. 

Biasanya, rata-rata setiap bulan sekitar 6.000 wisatawan asal Tiongkok mengunjungi objek wisata yang terkenal dengan restoran kapal pinisi tersebut. Saat ini kunjungan wisatawan dari negeri tirai bambu berkurang 50 persen.

Demikian pula yang terjadi di lokasi wisata Pantai Timang, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus Jogjakarta. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara rata-rata per hari biasanya mencapai 600 hingga 700 orang, namun sejak ramai kasus virus Corona, jumlah kunjungan terjun bebas hingga 50 persen.

 

Komunitas Mampu Gerakkan Aktivitas Wisata ke Berbagai Daerah

this formate

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Siapakah yang mampu menggerakkan perekonomian rakyat di tengah ketakutan masyarakat dunia atas merebaknya virus Corona, Covid – 19 ?. Komunitas alumni adalah salah satunya yang tetap berwisata ke obyek wisata di tanah air, ungkap Tjipta Purwita, hari ini.

Tjipta Purwita, mantan Dirut PT Inhutani II ini mengatakan, pemerintah dan industri pariwisata Indonesia jangan hanya terfokus pada menjaring kunjungan wisatawan mancanegara tapi juga wisatawan nusantara atau wisnus.

” Orang yang berwisata itu butuh transportasi, akomodasi, kuliner, oleh-oleh dan jasa-jasa lainnya sehingga saat virus Corona mendunia maka sektor pariwisata yang menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat karena memiliki multiplier effect yang luas, ujarnya.

Bersama teman-teman alumni Fakultas Kehutanan IPB angkatan 17, ujarnya, Tjipta bersama rombongan berwisata ke sejumlah obyek wisata di kota Semarang. Kehadiran komunitas alumninya di ibukota provinsi Jawa Tengah ini berdampak ekonomi yang positif.

“Kesan saya,  Kota Semarang semakin bersih dan rapi. Saya salut dengan Bapak Walikota beserta jajarannya yang kreatif membangun kota Semarang,  sehingga terasa asri dan enak dinikmati. 

Di masa yang sulit seperti sekarang ini karena orang takut jalan jauh akibat “ancaman” Covid-19,  memang lebih baik nikmati berwisata di rumah sendiri alias di tanah air sendiri, menjadi wisnus atau kerap di sebut wisatawan domestik yang lebih hemat tetapi tetap menyenangkan. Salah-satunya berwisata di Kota Semarang ini.  

Tjipta Purwita mengaku sangat menikmati keindahan Kota Tua Semarang yang tak kalah dari kota tua Jakarta,  Bandung bahkan Surabaya. Saat berwisata, dia dan komunitasnya tidak lagi hanya berkutat dengan persoalan banjir,  tetapi banyak sudut-sudut asri dari sebuah kota yang enak untuk dinikmati dengan energi yang tak boros. 

“Ayo kita jalan-jalan berwisata di negeri sendiri.  Kalau perputaran ekonomi domestik tetap jalan, tak usah takut dengan ancaman resesi ekonomi karena fundamen ekonomi domestik kita kuat,” ungkapnya.

Masalahnya,  mampukah kita menolong diri kita sendiri dengan memperkuat ekonomi domestik melalui aktivitas wisata, menikmati wisata kuliner,  mengkonsumsi produk sendiri, dan masih banyak aktivitas lain yang menggunakan produk buatan anak bangsa sendiri ?

” Jawabannya pasti mampu, Insya Allah. Jadi beragam komunitas alumni, komunitas profesi, komunitas asosiasi rencanakan perjalanan wisata dalam waktu dekat untuk menyelamatkan perekonomian bangsa ini,” kata Tjipta Purwita.

Semarang sendiri memiliki berbagai jenis objek wisata yang wajib di explore jika sedang berlibur atau sedang berada di Semarang. Wisata itu antara lain berupa air terjun atau curug, danau atau waduk, situs peninggalan sejarah atau museum, spot- spot tempat hunting foto kekinian yang sangat instagramable, hingga wisata kuliner yang sangat memanjakan lidah.

Berwisata ke Semarang bukan lagi hanya menikmati kota lama, Lawang Sewu, Klenteng Sam Po Kong, Mesjid Agung Semarang saja.  Untuk obyek wisata semua umur terutama warga senior bisa ke Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah.

Tempat ini berawal dari Pekan Raya Semarang (PRS) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Semarang pada tahun 1970. Lokasinya di Tegal Wareng di mana sekarang menyajikan hiburan  masyarakat melihat taman mini Jawa Tengah, sekaligus menjadi ajang pameran produk-produk pembangunan daerah maupun swasta.

Di PPRP beragam komunitas di ibukota provinsi itu maupun kota-kota lain disekitarnya bisa menyelenggarakan event dan acara temu kangen lainnya karena tersedia beragam fasikitas gedung, spot-spot menarik seperti Grand Maerakaca yang dikelilingi oleh perairan danau buatan “Miniatur Laut Jawa” yang ditanami tanaman mangrove dan tersusun rapi dan indah bisa jadi spot foto favorit.

Bisa juga hadir Malam Minggon Maerakaca (M2M) merupakan sarana baru untuk warga Semarang menghabiskan waktu malam minggunya. Keindahannya terutama menjelang pergantian malam sudah tersohor dan banyak di posting di berbagai media sosial sehingga Tjipta mengajak seluruh masyarakat galakkan kegiatan wisata.

 

Di Bali Belum Ada yang Positip COVID-19

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: SAMPAI saat ini (3 Maret 2020), belum ada yang positif terjangkit COVID-19,  dari 25 orang dalam pengawasan semuanya terbukti negative. Ada 2 WN Jepang (salah satunya sudah menunjukkan gejala kesembuhan),  masih harus menunggu hasil lab. Demikian dipaparkan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), saat memimpin rapat koordinasi kesiap-siagaan menghadapi virus Corona di ruang rapat Praja Sabha Kantor Gubernur Bali, Selasa (3/3).

Pemrov Bali, juga menyiapkan skenario untuk mem-blok satu rumah sakit bilamana terjadi kejadian luar biasa kasus COVID_19.  RS Universitas Udayana di Jimbaran, siap dengan kapasitas 100 pasien, lalu ada RS Bali Mandara berkapasitas 200 pasien. Rumah sakit  di masing-masing kabupaten pun sudah memiliki  fasilitas untuk isolasi pasien, lanjutnya.

Tempat tidur diruang isolasi yang disiapkan sampai saat ini, di RS Sanglah ada 18  tempat tidur (dengan 4 tempat tidur isolasi dilengkapi ruang bertekanan negatif standar WHO), di RS Sanjiwani Gianyar ada 3 ruang isolasi plus  9 tempat tidur dan RSUD Tabanan ada 7 tempat tidur (2 ruang isolasi).

Menurut Kadis Kesehatan  dr I Ketut Suarjaya pasien dalam pengawasan (menunjukkan gejala, namun masih menunggu hasil lab,— red) di RS Sanglah ada 2 orang, di RS Tabanan 1 orang, di RS Mangusada ada 1, di RS Sanjiwani Gianyar ada 3 orang. Orang dalam pemantauan,  jumlahnya 13 orang dominan karena  sempat bepergian ke luar negeri namun tidak menunjukkan gejala seperti dimaksud.  Jumlah kasus keseluruhan s/d tanggal 3 Maret 2020, pasien dalam pengawasan : 29 orang, 22 orang hasil lab nya negative, 7 orang menunggu hasil laboratorium.

Jumlah kasus dalam pengawasan hari ini (3 Maret 2020) di  RSUP Sanglah  3 orang ( bayi 11 bulan warga jepang, seorang perempuan Indonesia seorang laki- laki  dewasa  warga Jepang. Di RSUD Sanjiwani Gianyar tercatat seorang perempuan warga rusia usia 34 tahun, seorang perempuan dan laki- laki  warga Denmark. Di RSUD Wangaya tercatat seorang pasien laki- laki warga negara Indonesia.

“Kita tetap atensi resiko-resiko, terutama jika ada notifikasi dari negara-negara sahabat terkait warganya yang berkunjung ke Bali”, jelas dr I Ketut Suarjaya .

Demikian pula dengan kebersihan dan mekanisme alur penumbang di Bandara untuk mengantisipasi orang yang masuk ke Bali, juga sudah dilakukan dengan SOP benar dan maksimal, jadi tidak perlu kekhawatiran berlebih.  Persiapan di Bandara Ngurah Rai : terpasang 3 thermo scanner, di Pelabuhan Benoa 1 thermo scanner, imbuhnya.

There is Light at the End of the Tunnel

this formate

DALAM ke simpang siuran informasi wabah COVID-19, — jika diikuti “beritanya”,– dunia semakin tidak masuk akal. Kemudian kita diarahkan oleh segala macam media elektronik  ke beragam cara dan tempat untuk menghindarinya. Dalam hitungan detik!

Permasalahannya,  ini adalah jerat hoax yang tersebar, tanpa henti dan begitu intens. Kemudian masuk merasuk mencekik ke dalam kesadaran kita yang walhasil merengkuh rasa ketakutan dan kehilangan.

Ketidak-pastian ini memenjarakan kita dalam kecemasan. Tetapi,  kita bisa membebaskan diri dari segala ke-putus-asa- an yang disebabkan oleh sumber yang tidak jelas itu. Dengan menjaga stamina kesehatan diri sendiri, afirmasi positif, percaya diri, juga menebar kasih terhadap sesama dan makhluk hidup lainnya.

Wabah COVID-19 ini bukanlah akhir segalanya.

Saya sendiri percaya ini adalah awal dari semua harapan baru. Mari kita lalui saja. Sepertinya jalannya berliku-liku banyak tikungan, melalui tanjakan dan turunan.

Tulisan saya kali ini akan sedikit lebih panjang, karena dipembukaan,  saya sudah sedikit filosofis. Kemudian saya akan masuk ke ide menjalankan bisnis selama wabah COVID-19 ini masih berlangsung dan sampai tuntasnya. Kita semua belum tahu batas waktunya.

Saya masuk pada bahasan tentang shifting dan transforming, pergeseran dan perubahan dalam perilaku bisnis yang berhubungan dengan customer service.

Sistem pembayaran elektronik dalam tiga tahun terakhir ini telah memberi kita cara baru untuk membayar. Belum sampai pada tahap keharusan menggantikan pembayaran tunai. Seiring waktu, dalam menghadapi wabah covid-19 kali ini, transaksi menggunakan sistem pembayaran elektronik virtual yang sudah masuk keseharian kita menggunakan Ovo, Gopay, Sakuku, Linkaja bisa menjadi kebiasaan yang mengurangi kepercayaan publik terhadap penggunaan uang fisik yang dicetak menggunakan kertas dan logam.

Mengapa?

Karena salah satu antisipasi tertular virus adalah tidak memegang permukaan-permukaan yang dicurigai sebagai media tempat bersemayamnya sang virus.

Satu acungan jempol terhadap pemerintah Cina PRC untuk aksi mereka yang cepat dan akurat dalam menghadapi wabah ini. Salah satunya adalah sikap terhadap peredaran uang tradisional. Bank Sentral China mengumumkan akan menghancurkan uang kertas yang terinfeksi virus Corona sebagai tindakan pencegahan meluasnya wabah COVID-19.

Kemudian apa yang dilakukan pemerintah Indonesia?

Tanpa sosialisi yang masif, Bank Indonesia telah meluncurkan sistem pembayaran menggunakan QRIS bersamaan dengan ulang-tahunnya yang ke 74 pada bulan Agustus 2019. Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS ini adalah standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code yang kalian lakukan lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya.

Jadi sekali lagi ini sistem pembayaran dengan cara elektronik menggunakan handphone pribadi. Menjadi salah satu solusi bagi pemerintah Indonesia untuk membatasi peredaran uang fisik di area yang terinfeksi wabah COVID-19 atau pun virus-virus lainnya.

Kaitannya dengan industri hospitality?

Industri ini merujuk pada hubungan manusia dengan manusia, satu paket utuh, termasuk ke perilaku dan emosinya. Pada aktivitas/kegiatan layanannya banyak menggunakan media kertas untuk mencatat, mau pun cetakan sebagai bahan informasi dengan target akurasi dalam hal pelayanan dan kenyamanan.

Apakah barang-barang cetakan dengan sampul yang mewah dan mahal seperti compendium (Daftar Informasi)  yang diletakkan di dalam kamar hotel dan Buku Menu di Restoran, Spa, dan semacamnya harus dihilangkan?

Material cetakan ini dibuat untuk disentuh, dibuka dan dibaca oleh customer. Ada nilai marketing teknik promosi dan up-sell nya

Sudah Waktunya

Sekitar tujuh (7) tahun lalu, terakhir kali saya menghadiri bursa pariwisata tahunan – ITB Berlin di Jerman, beberapa produk digital desain khusus untuk industri hospitality , telah beredar dipasaran dan terbukti meningkatkan kepuasan tamu.  Semua produk itu tujuannya mirip walau nama dan teknologinya ber-beda-beda. Utamanya semua menuju guest loyalty dan customer service-guest engagement. Dalam ilmu digital tahapan nya sudah  funneling.

Saat ini telah beredar digital concierge berbagai merek di Indonesia. Produk anak negeri bersaing dengan produk luar negeri. Semua teknologinya masih mirip, pengembangan Artificial IntelligenceAI, mulai dari big data, machine learning, internet of thing dan seterusnya. Tinggal kalau menggunakan produk luar negeri wani piro?

Akhirnya, karakteristik traveler juga mengalami perubahan perilaku. Bisa kita analisa mulai smart phone beredar dipasaran bebas sekitar lima (5) tahun yang lalu. Industri hospitality pun dealing dengan tipe-tipe phubbing dan smartphone-zombie, mereka menyelesaikan semua pekerjaannya dan masalahnya secara digital. Kita sekarang masuk ke regenerasi. Traveler jaman now  didominasi oleh milenial, i-generation dan kemudian apha generation. Tiga kareakteristik yang pasti akan berbeda sesuai generasi dan pola asuh orangtuanya. Tetapi, sudah bisa dipastikan mereka digital-freak yang akan meng-eksplorasi pengalaman perjalanannya bahkan sebagai solo traveler. Perlengkapan dokumentasi selain handphone dan tongsisnya, sekarang sudah di dukung pula drone yang mini bahkan generasi handphone yang sudah bisa menjadi drone pun ada.

Tak Bersentuhan

Dengan adanya beberapa rekomendasi untuk terhindar dari COVID-19 dan mungkin akan muncul virus generasi lainnya, saya pikir para pelaku industrihospitality harus bergeser sampai pada level transformasi melakukan team-work antara SDM – human capital dengan robot dalam hal layanan. Mari kita gunakan digital concierge untuk hotel, restaurant dan industri pendukung pariwisata lainnya.

Setelah mempelajari beberapa produk, rupanya ada satu produk anak negeri yang mampu bersaing dengan berbagai merek luar negeri dalam hal digital concierge.

Produk luar negeri yang sedang ada di pasaran adalah Portier, Oakey, KAI dan beberapa lagi. Sedangkan produk anak negeri yang bisa dengan cepat berinteraksi dan implementasinya di Indonesia adalah DEE-Fi untuk hotel. Spesifik untuk memenuhi digitalisi restoran adalah deeats yang sudah mampu melakukan closing transaksi tanpa customer menyentuh buku menu dan minta nota.

Semua menjadi serba personal dan individual dengan transaksi yang nyaman dan aman dari handphone pribadi dan nota pembelian langsung masuk ke inbox email. Keunggulannya lagi, DEE-Fi dan deeats ini bukan aplikasi, jadi customer cukup melakukan scan QR Code. Tidak perlu menuh-menuhi memori hape.

Saya teringat dengan satu sesi debat kandidat calon presiden, Sandiaga Uno yang sempat mengatakan “wis wayahe” = sudah waktunya. Jadi saya pikir ini juga momen yang tepat shifting dari omni-era dan tranformasi kedigital-era.

Marilah kita berubah, menyesuaikan tingkat layanan di industri hospitality dan melakukan team-work dengan robot tanpa mengurangi nilai humanismenya. Tetapi robot ini mempermudah dan mempercepat layanan sesuai tuntutan kesabaran customer.

Sudah siapkah kita melampaui masa susah karena imbah wabah virus Crona COVID-19 dan berubah dalam hal ini adaptasi diri sendiri sebagai pekerja industri hospitality untuk bertransformasi menjadi pekerja yang memberdayakan digital, robot sebagai rekan kerja? *Jeffrey Wibisono V.

Ibu dan Putrinya, Kasus Corona Pertama di Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: DIDAMPINGI Menteri Kesehatan,  Sekretaris Kabinet dan Menteri Sekretaris Negara,hari ini  Presiden Joko Widodo  mengumumkan temuan kasus infeksi virus corona pertama di Indonesia. Presiden menjelaskan bahwa virus Corona baru didapati menyerang seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya yang berusia 31 tahun yang tinggal di wilayah Indonesia. Mereka tertular virus Corona dari wisatawan warga negara Jepang yang berdomosili di Malaysia.

“Tadi pagi saya mendapatkan laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif corona”, papar Presiden Jokowi.
Presiden mengingatkan bahwa sejak awal pemerintah sudah mempersiapkan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona dan mengantisipasi kemungkinan penularan virus tersebut. Berupa rumah sakit lebih dari 100 rumah sakit dengan ruang isolasi berstandar isolasi yang baik. Mempersiapkan  peralatan sesuai dengan standar internasional, pemerintah Indonesia juga memiliki persiapan untuk reagen yang cukup. Pemerintah juga menjaga ketat 135 pintu masuk ke wilayah Indonesia, baik pintu masuk yang ada di wilayah darat mau pun laut.

“Dalam praktiknya ini tidak mudah, karena ngecek dengan yang namanya apa thermal scanner itu kadang-kadang keakuratannya juga tidak bisa dijamin 100 persen,” katanya.
“Kita juga memiliki tim gabungan yang ini tidak pernah saya sampaikan, tim gabungan TNI/Polri dan sipil, dalam penanganan ini. Kita juga memiliki SOP yang standarnya sama dengan standar internasional yang ada,” lanjut Presiden.
Sementara ke dua orang penderita saat ini berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Soelianti Saroso, di ruang isolasi khusus yang tidak berhubungan dengan yang lain, jelas Menkes Terawan Agus Putranto.

Sampai berita ini diturunkan, tercatat secara global total masyarakat dunia yang terinveksi 89.074 orang, meninggal 3.048 orang, yang dinyatakan sembuh 45.110 orang.