Kota kecilCinquefrondi di Italia dengan tawaran uniknya. ( Foto: iStock)
ITALIA, bisniswisata.co.id: Sebagian besar turis Indonesia, yang datang ke Italia, mengunjungi Milan dan ibu kota Italia, Roma, karena dinilai menyimpan berjuta sejarah tentang Italia. Mungkinkah ada yang pernah berkunjung ke kota kecil Cinquefrondi di negara itu ?.
Kota kecil di wilayah selatan Calabria itu punya kebijakan yang unik memanfaatkan momentum pasca dicabutnya lockdown akibat pandemi global COVID-19 di Italia dengan menjaring penduduk, bukan wisatawan. Sang Walikota Michele Conia punya tawaran unik agar orang mau menjadi penduduk di kota kecilnya.
Kasus COVID-19 di Italia jumlahnya menelan lebih dari 33.600 korban jiwa dan hampir 234.000 kasus infeksi. Italia memang salah satu negara yang paling parah terdampak wabah virus Corona di dunia.
Kini ketika negara-negara membuka kembali perbatasan dan pembatasan perjalanan dilonggarkan untuk melakukan perjalanan, Michele Conia muncul dengan gagasan gilanya dengan menawarkan rumah hanya dengan harga satu dolar (1$ ).
Wilayah yang mengklaim bebas COVID ini menawarkan kesepakatan untuk menarik lebih banyak pengunjung sebagai penduduk. Kota Cinquefrondi, sedang berusaha menjual rumah-rumah karena sebelum terjadi pandemipun banyak rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Sesuai laporan, orang-orang muda pindah ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan, inilah alasan sang Walikota Cinquefrondi sekarang ingin menyambut penduduk baru untuk meningkatkan populasinya.
Dikutip dari timesofindia.com, gagasan menawarkan rumah seharga $ 1 adalah cara keren untuk menemukan pemilik baru dari banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya agar memulihkan bagian kota yang rusak dan hilang.
Walikota menambahkan bahwa dia dibesarkan di Jerman, tempat orang tuanya bermigrasi. Namun dia kembali untuk menyelamatkan tanahnya. Conia menekankan terlalu banyak orang meninggalkan kotanya selama beberapa dekade, sehingga rumah-rumah mereka jadi kosong.
“Kita tidak bisa menyerah pada kondisi ini. Oleh karena itu untuk pemilik rumah baru persyaratan membeli adalah dengan meminta mereka merenovasi rumah dalam jangka waktu tiga tahun,” kata Michele Conia.
Berbeda dengan kota-kota Italia lainnya yang telah menawarkan rumah dengan euro, maka di sini seseorang tidak akan diharuskan membayar uang muka yang besar di Cinquefrondi.
Namun, jika mereka gagal merenovasi rumah dalam jangka waktu tiga tahun tersebut pembeli harus menyerah. Selain itu, kota ini juga memerlukan biaya asuransi polis € 250 per tahun sampai pekerjaan renovasi rumah mereka selesai.
Jika pembeli gagal merenovasi rumah mereka dalam tenggat waktu, mereka harus bayar denda € 20.000. Namun rumah-rumah, yang dulunya milik gembala, petani, dan pengrajin luasnya cukup kecil, sehingga batas waktu 3 tahun sangat masuk akal.
Upaya menambah populasi penduduk dengan tawaran menarik ini bisa jadi strategi jitu untuk menjaring wisman. Jika tidak bisa membeli setidaknya suatu hari nanti orang jadi ingun berkunjung ke kota kecil Cinquefrondi dan melihat langsung apakah tawaran ini berhasil ?
Kedai Teh Gunung Hua, paling berbahaya (foto: Insider)
XI’AN, bisniswisata.co.id: Bagi sebagian orang, minum teh merupakan ritual yang penuh tata krama. Masyarakat Inggris termasuk yang ketat mengaturnya. Biasanya, mereka minum teh pada sore hari atau dikenal sebagai high tea.
Tradisi minum teh ala orang Inggris yang sejarahnya sudah panjang, yakni sejak 1800-an serta populer di kalangan bangsawan, banyak ragam pakemnya.
Tradisi itu antara lain, duduk harus tegak saat minum teh di meja, tatakan tidak boleh diangkat bersama cangkirnya, sementara kalo standing party maka cangkir dan tatakan tidak boleh berjauhan.
Jika orang Inggris mengemas kegiatan minum teh sebagai gaya hidup dan ajang sosialisasi, maka di Cina tradisi ini lebih dalam menyentuh kehidupan masyarakatnya. Ada pepatah dalam ajaran Taoisme, filsafat kuno Cina, yang mengatakan: “minum teh itu ibarat mencicipi kehidupan.”
Menurut legenda, teh memang ditemukan di Cina pada masa Pemerintahan Shen Nong, sekitar 3.000 SM silam. Jadi, tradisinya sudah panjang sekali.
Ada satu spot unik untuk minum teh yang menawarkan sensasi tiada tara. Lokasinya di puncak Gunung Hua, berketinggian 2.000 meter. Di sana berdiri sebuah kuil Taois yang usianya sudah lebih dari 1.000 tahun.
Untuk menjangkaunya pun, tidak mudah. Setelah naik kereta gantung selama 20 menit, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri tepian tebing curam selebar 3 meter dengan kemiringan 90 derajat.
Lolos dari tepian tebing curam, pengunjung masih harus menapaki tangga terjal menuju puncak gunung dimana kuil Taois berada. Meski berat, kuil ini tetap ramai dikunjungi. Sekitar 1 juta orang datang ke kuil tersebut setiap tahunnya.
Tentu saja di sana mereka tidak hanya ‘ngeteh’, tetapi juga memanjatkan doa yang dibimbing para biarawan. Mereka juga akan menyalakan dupa, memohon kehidupan yang baik serta minta dibacakan peruntungan hidup.
Menurut seorang pemandu wisata, Zhihong Yang, 44, disanalah orang akan merasakan kenikmatan terbaik menyeruput teh. Dengan pemandangan yang spektakular di puncak gunung, minum teh membuat penikmatnya merasa bahagia dan santai.
“Ada rasa khas saat minum teh di sini, keharuman dan rasa getir teh berkhasiat mencegah stroke dan obat terbaik pelepas dahaga, terutama setelah berjuang menuju puncak gunung,” kata Zhihong.
Menara Kembar Petronas, ikon Malaysia. ( Foto: unsplash.com/Izuddin Helmi Adnan)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Malaysia saat ini fokus memulihkan pariwisata domestik sebelum kembali menerima wisatawan mancanegara. Warga kini dapat berwisata ke negara bagian di dakam negri, kata Zulkifly Md Said, timbalan Ketua Pengarah Tourism Malaysia, kemarin.
Berbicara pada halal bi halal virtual Tourism Malaysia Jakarta, seperti dikutip ANTARA, Jumat 12 Juni, Zulkifly mengatakan Malaysia berhasil menekan penyebaran virus corona. Negeri itu melaporkan telah memasuki masa transisi untuk menerapkan fase normal baru, termasuk dalam bidang pariwisata.
Wisatawan mancanegara belum diperbolehkan memasuki Malaysia, tak terkecuali wisatawan yang sedang berobat. Saat ini Malaysia Healthcare Travel Council sedang membuat prosedur operasi standar (SOP) dalam menerima pasien dari luar Malaysia, memastikan tak ada risiko penyebaran virus corona. Sembari menantikan situasi kembali normal, protokol kesehatan sedang digodok untuk menyambut lagi turis-turis berwisata ke Malaysia.
“Kami harus menerima fakta bahwa sekarang traveling takkan seperti dulu, new normal, akan ada banyak requirement,” kata Zulkifly.
Menurut dia, Malaysia siap menerima turis Indonesia ketika kedua belah pihak betul-betul pulih dan siap kembali menggerakkan industri pariwisata. Bila waktunya sudah tiba, akan ada promosi besar-besaran untuk menarik wisatawan Indonesia.
Zulkifly mengatakan, tren penambahan kasus positif Covid-19 secara harian sudah menurun. Per 11 Juni 2020, tercatat ada 8.369 kasus positif di Malaysia, 7.065 sudah dinyatakan sembuh dan masih ada 1.186 kasus masih dalam perawatan.
“Kami berharap pandemi Covid-19 dapat segera semakin membaik lagi, baik itu di Malaysia, Indonesia dan juga di negara-negara ASEAN lainnya agar industri pariwisata regional dapat segera bergerak lagi.”
Secara terpisah, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin mengklaim otoritas Malaysia sudah berhasil mengendalikan kasus wabah virus corona dan mulai membuka aktivitas masyarakat secara bertahap mulai Kamis, 10 Juni 2020 lalu.
Malaysia akan memulai fase pemulihan baru untuk menghadapi pandemi Covid-19 hingga 31 Agustus 2020 mendatang dengan melonggarkan pembatasan kegiatan sosial, pendidikan dan keagamaan secara bertahap dengan pedoman kesehatan.
Sementara kegiatan ekonomi dan bisnis akan diizinkan untuk kembali ke jam operasional normal. Dia mendorong dibukanya liburan domestik karena perjalanan antar negara bagian akan diizinkan, tetapi pembatasan perjalanan internasional akan tetap ditutup.
Pusat hiburan seperti taman hiburan dan klub malam, olahraga yang melibatkan kontak dekat dan acara yang melibatkan banyak orang juga tidak akan diizinkan.
Malaysia secara bertahap membuka kembali bisnis selama sebulan terakhir ini dengan protokol jarak sosial, setelah menutup semua sektor kegiatan masyarakat pada 18 Maret.
Berdasarkan data BPS, tahun 2019 lalu kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia mencaoai 2,98 juta kunjungan. Selain Bali dan Yogya untuk wisata alam, budaya serta wisata belanja, kesamaan akar rumput dan budaya antara Malaysia dan Indonesia juga menjadi motivasi untuk berlibur ke Indonesia
Penyerahan bantuan masker untuk pekerja transportasi. ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membagikan 50.070 masker kain kepada para pekerja di sektor trasnportasi dan perhotelan di DKI Jakarta yang terpaksa harus bekerja di luar rumah di tengah pandemi COVID-19.
Bantuan masker kain secara simbolis oleh Direktur Corporate Secretary MNC Group Syahril Nasution kepada Vice President Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia Anne Purba dan GM Corporate Communications PT Bluebird Aninda Perdana.
Hadir Plt. Direktur Industri Kreatif Fesyen, Desain dan Kuliner Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Imam Wuryanto menyaksikan penyerahkan bantuan masker kain secara simbolis. Donasi itu merupakan kerja sama antara Kemenparekraf dengan MNC Peduli yang diharapkan membantu menekan laju penyebaran COVID-19.
Imam Wuryant mengatakan Kemenparekraf telah melakukan berbagai upaya untuk menangani dan menghambat penyebaran COVID-19 agar tidak menimbulkan kasus-kasus baru di berbagai daerah, yakni dengan cara mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan alat pelindung diri
“Kami dalam hal ini sebagai fasilitator bagi para stakeholder pariwisata dan ekonomi kreatif yang ingin menyalurkan bantuan kepada para pekerja harian terutama mereka yang bergerak di sektor parekraf yang terdampak COVID-19,” ujarnya dalam rilisnya hari ini.
Kemenparekraf/Baparekraf menggandeng sejumlah pihak untuk menggelar kampanye yang merupakan bagian dari #GerakanMaskerKain sebagai upaya untuk menekan penyebaran COVID-19, sekaligus membantu menggerakkan industri kreatif fesyen tanah air utamanya UMKM yang ikut terdampak.
“Para pemangku kepentingan sektor parekraf yang ingin menyampaikan donasi, kami akan bantu agar lebih tepat sasaran. Hal ini diharapkan akan menggerakkan subsektor fesyen yang selaras dengan gerakan masker kain. Apalagi masker saat ini jadi atribut yang akan digunakan sampai vaksin bisa ditemukan, ” katanya
Anjuran dari WHO adalah, masker kain ini bisa dipakai selama 4 jam setelah itu diganti, kalau kita bekerja selama 8 jam minimal kita harus punya lebih dari satu dalam sehari.
GM Corporate Communications PT Bluebird Aninda Perdana mengapresiasi bantuan masker kain yang diberikan apalagi masker saat ini jadi atribut penting bagi para rekan-rekan kerjanya dalam beraktivitas setiap hari melayani penumpang dan pengunjung.
“Namun, rata-rata para pekerja kami hanya punya satu masker. Hal itu yang membuat kami sangat mengapresiasi bantuan ini. Sehingga dapat bermanfaat untuk semuanya, dan ke depan ketika kita beraktivitas kembali di era normal baru,” katanya.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar yang akrab disapa Gus Menteri. (Foto: Matin/Humas Kemendes PDTT)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program Live-in di desa atau hidup bersama warga di desa dan mengikuti kegitan dan aktivitas masyarakat pedesan, saat ini menjadi trend bahkan menjadi program bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, turis asing hingga menjadi kegiatan incentive bagi karyawan perusahaan.
Bagi komunitas warga senior, desa wisata juga menjadi tujuan wisata karena berkumpul bersama komunitas, mempelajari aktivitas budidaya tanaman dan menikmati alam pedesaan membuat tingkat kebahagiannya meningkat termasuk imun tubuhnya.
Program Live-in di desa seperti tanam padi, menjemur padi, memandikan kerbau, bajak sawah, berkebun, menyiangi rumput bagi orang kota menjadi kenikmatan tersendiri. Sedangkan kegiatan perkebunan seperti tanam pohon kopi, tanam palawija juga menjadi daya tarik apalagi disertai dengan mempelajari proses pembuatan dari biji menjadi bubuk kopi siap saji.
Hilda Ansariah Sabri
Aktivitas lainnya seperti kegiatan seni budaya dengan belajar menari, membatik, membuat anyaman, belajar gamelan, membuat kerajinan yang biasa dilakukan warga desa sehari-hari juga dipelajari pengunjung.
Desa menjadi tempat belajar memasak misalnya, belajar membuat makanan, belajar membuat makanan tradisional. kegiatan peternakannya seperti budidaya ikan, beternak kambing tidak luput dari perhatian para tamu yang datang dan menginap di desa.
Malah kini berbagai perusahaan juga mengirim karyawannya ke desa untuk memperkuat kerja tim lewat berbagai kegiatan seperti fun game lomba tangkap ikan, sepak bola lumpur, tangkap bebek, fun game outbound,tracking pedesaan dan aktivitas lainnya.
Membangun kepercayaan dan kerja tim menjadi kunci dalam mengembangkan perusahaan sehingga jika 70.000 an desa di Indonesia bisa menjadi tempat belajar orang kota dampak ekonomi bergandanya akan luar biasa.
Apalagi di tengah pandemi global COVID-19, meski desa wisata kini sepi pengunjung LiveIn dan seolah mati suri, namun banyak individu, komunitas bahkan perusahaan yang tetap mengagendakan untuk datang ke desa wisata.
Ary Suhandi, Direktur Indonesia Ecotourism Network ( Indecon) mengatakan desa wisata adalah salah satu bentuk pengembangan pariwisata yang berkelanjutan ( sustainable tourism) sehingga meski sekarang turis tidak datang, warga desa maupun pengelolanya tidak kelaparan karena meski selama ini banyak turis datang mereka tidak pernah meninggalkan pekerjaan di desanya.
Bagi anak milenial sekarang makin unik, makin langka kegiatan yang bisa dilakukan di desa wisata maupun daerah konservasi maka makin dicari aktivitasnya dan menjadi kemewahan tersendiri.
” Itu sebabnya kawasan konservasi seperti Raja Ampat, misalnya, menghasilkan finansial yang kuat. Oleh karena itu manajemen pengelolaan kawasannya juga harus kuat. Bahkan jangan jangan dilihat dari sisi ekonomi tapi juga ekologi,” kata Ary Suhandi dalam webinar bersama para stakesholder Raja Ampat, Rabu lalu.
” COVID-19 adalah pengingat yang luar biasa untuk umat manusia. Standar protokol di era New Normal bukan hal yang baru karena sebenarnya sudah jadi alat ukur sejak jaman dulu. Kata kuncinya adalah kebersihan,” kata Ary Suhandi.
Kalau sehat maka seseorang menjadi produktif dan dalam hal mengelola desa wisata dan melakukan pendampingan, pihaknya selalu mengingatkan untuk memperhatikan daya dukung.
“Turis yang datang ke Raja Ampat, misalnya dalam 5-6 tahun ini bablas, tidak ada kisi-kisi dan pembatasannya padahal hutannya dilindungi, kawasan lautnya daerah konservasi. Harusnya ada kuota berapa jumlah turis yang diizinkan datang sehingga tidak over turis yang malah merusak daya dukung alamnya,” tambahnya.
Pengalaman mendampingi masyarakat desa, kata, Ary, jika diberikan pencerahan dan edukasi maka masyarakat terutama di desa wisata akan paham bagaimana upaya mengatasi COVID-19, Climate Change dan pentingnya mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
Kesadaran masyarakat desa untuk menjaga lingkungannya juga diacungi jempol oleh Mark Erdmann, Vice President Asia-Pacific Field Division Conservation International, karena ilegal fishing di kawasan konservasi justru diatasi oleh masyarakat desa di Raja Ampat.
” Jadi situasi laut akibat COVID-19 justru membaik, ikan juga berlimpah tapi malah ada para penyusup dari luar dengan ilegal fishing. Masyarakat desa akhirnya yang mengatasi para pelanggar itu,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan bahwa tak ada lagi hiruk pikuk wisatawan di Raja Ampat sejak pembatasan perjalanan karena Corona. Hasilnya terumbu karang dan mega fauna di Raja Ampat justru diberikan istirahat pada saat ada masa COVID-19.
Di beberapa dive site yang dulu menjadi sangat crowded justru terumbu karang tumbuh dengan baik tanpa adanya divers atau snorkelers. “Saya pikir ini satu hal yang sangat postif, justru kita melihat bahwa konservasi laut daerah di Raja Ampat berfungsi dengan sangat baik untuk ketahanan pangan masyarakat lokal,” papar Mark.
Masyarakat desa terutama desa wisata sudah mengenal 7 unsur Sapta Pesona jauh sebelum COVID-19 hadir dimuka bumi. 7 unsur itu adalah bagaimana menerapkan 7 Sapta Pesona di desanya yaitu aman, tertip, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dsn kenangan.
Oleh karena itu di era New Normal ini kara Ary Suhandi, para pengelola desa wisata yang disebut Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan asosiasi homestay mulai mendata turis yang datang ke desanya serta riwayat kunjungan.
” Data sangat penting sehingga riwayat kunjungan juga bisa untuk tracing serta lebih mudah melacak tamu sebelum ke desa sudah melakukan aktivitas wisata kemana saja di samping desa menerapkan protokol kesehatan global,” kata Ary.
Terkait dengan desa, kabar baik juga datang dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar yang akrab disapa Gus Menteri juga punya perhatian besar pada desa wisata terutama di daerah Terdepan, Terpencil, dan Terluar (3T).
Gus Menteri menyiapkan beberapa formula untuk menyongsong reborn ekonomi desa pasca COVID-19 seperti dikutip dari dikutip situs kemendesa.go.id. Caranya dengan memaksimalkan desa wisata, produk-produk pertanian, pemasaran online dan permodalan BUMDes.
Dia berbicara saat menjadi keynotespeaker pada Webinar Nasional Pedesaan bertemakan “Mendayagunakan Modal Desa; Untuk Menggerakkan Ekonomi Nasional” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kamis.
“Akan terjadi ledakan warga desa atau daerah-daerah desa wisata akan mendapatkan kunjungan yang cukup maksimal. Ini akan kita antisipasi dengan menggerakkan padat karya tunai desa (PKTD) untuk melakukan pemeliharaan, perawatan, dan penyempurnaan tempat-tempat wisata milik desa,” ujar Gus Menteri.
Menurut Gus Menteri, kalau hal itu sudah terjadi betul nanti, reborn-nya pasti nilai ekonomi juga perputaran ekonomi desa akan meningkat. “Ketika perputaran ekonomi di desa meningkat maka pendapatan akan naik, karena hampir 100 persen wisata desa itu di bawah naungan badan usaha milik desa (BUMDes),” sambungnya
Di samping BUMDes miliki peluang untuk mendapatkan penambahan aset berupa dana segar dari reborn wisata, lanjut Gus Menteri, BUMDes juga akan mendapatkan penambahan dari reborn produk-produk pertanian yang selama ini agak mengalami penurunan. Di sisi lain dana desa juga bisa digunakan untuk menambah modal BUMDes.
Gus Menteri mengatakan, ekonomi desa berpeluang lebih cepat untuk melakuakan reborn, karena potensi di desa sangat luar biasa sehingga peluang reborn ekonomi desa juga akan luar biasa.
“Coba simak saja, misalnya hari ini yang harus terus kita optimalisasi ada kelompok pertokoan di 6.809 desa, ada pasar dengan pembangunan permanen di 6.236 desa dan pasar dengan bangunan semipermanen di 8.781 desa, “
Selain itu pasar tanpa bangunan di 4.317 desa, ada hotel di 1.709 desa, penginapan di 3.429 desa, BUMDes di 50.199 desa dan yang aktif bertransaksi 37.125 BUMDes, ungkap Gus Menteri.
Selain itu, juga ada lahan intensifikasi di kawasan transmigrasi 1,8 juta Ha yang sudah siap pakai 509 ribu Ha. Lalu ada desa pertanian pangan 65.325 desa dan pertanian non pangan 4.748 desa.
Dengan potensi desa yang ada, Gus Menteri berkeyakinan bahwa apapun perkembangan desa, kesejahteraan desa, kemaslahatan desa, pertumbuhan ekonomi desa adalah kesejahteraan bangsa Indonesia, pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia.
“Kalau kita fokus membangun desa pada hakikatnya kita membangun Indonesia. Karena desa adalah Indonesia dan Indonesia adalah desa,” tutup Gus Menteri yang juga kakak dari Muhaimin Iskandar, mantan Menakertrans dan politisi PKB.
Komitmen yang diberikan Abdul Halim Iskandar ini pastinya akan menjadi penyemangat bagi warga dan pengelola desa. Apalagi sosok yang dinilai low profile, humble, santun, pekerja keras, dan tegas ini bisa merasakan benar keadaan desa dan apa saja yang diperlukan desa.
Halim menikmati masa kecil di desa Denanyar Jombang, Jawa Timur dan melewati masa pendidikan di Pondok Pesantren yang didirikan oleh kakeknya KH. M Bishri Sansuri yang berjarak 2 Km arah Barat kota Jombang, Jawa Timur.
Mantan ketua DPRD Jatim ini menempuh pendidikan formal di MI, MTs dan MAN Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang dan baru melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Yogyakarta dan pasca sarjana di Malang.
Praktis dari kecil pengaruh kehidupan di lingkungan pesantren di desa menjadikan Gus Menteri fokus pada pembangunan desa dan pertumbuhan ekonomi desa. Semoga kontribusi besar desa pada perekonomian bangsa Indonesia yang didukung penuh Gus Menteri ini disadari semua pihak.
PEMATANGSIANTAR, bisniswisata.co.id: Tak lengkap rasanya jika ke Pematangsiantar, kita tak melongok toko roti Ganda yang legendaris. Hiruk-pikuk orang berbelanja di sana seolah tiada henti. Toko roti ini memang merupakan salah satu legenda kota Siantar. Yang luar biasa dari toko ini adalah: saban hari semarak.
Di hari biasa saja sudah ramai; apalagi menjelang hari raya Idul Fitri dan Natal-Tahun Baru. Berlipat ganda pengunjungnya di masa tersebut sehingga aksi saling serobot antrian selalu terjadi sana. Suasana menjadi serba chaotic. Pengunjung yang jor-joran serta saling bersitegang merupakan potret suasana yang biasa di sana, di masa itu.
Sebenarnya dari segi rasa roti Ganda tak istimewa banget, setidaknya buat saya. Lantas mengapa tak pernah sepi? Kelebihannya memang ada. Rotinya selalu fresh from oven. Di sana kita mudah saja mendapatkan roti yang masih hangat betul karena baru meninggalkan tempat pembakaran.
Empuk, penganan ini tetap nikmat disantap dengan atau tanpa mentega atau selai. Selain roti kelapa, yang menjadi favorit pembeli di toko ini adalah roti tawar berbalurkan selai ekstra tebal. Mentega putih dan coklat meses antara lain kandungan selai itu.
Sudah serba besar, murah meriah pula semua produknya. Jadi, kalangan bawah pun mampu menjangkaunya. Itulah, menurutku, resep kejayaan Ganda selama ini. Sekarang pun, setelah toko roti—termasuk yang menjual bakeri—membanyak di Siantar, Ganda masih saja berada di puncak singgasana.
Oh ya….suatu ketika pernah toko roti Ganda ramai dibicarakan di media sosial. Seseorang mem-posting status di halaman medsos. Isinya? Kekecewaan dirinya terhadap pelayan toko yang dinilainya tak ramah dan bahkan cenderung sombong.
Prinsip ‘pembeli adalah raja atau ratu’, laksana tak berlaku di Ganda. Unek-unek tersebut kontan ditanggapi para pegiat medsos. Efek bola salju tercipta karena pengalaman pahit serupa ternyata merupakan memori kolektif banyak orang yang pernah berbelanja di sana.
Pemilik Ganda ternyata responsif. Saat cerita tak sedap dari konsumen bergaung di medsos, rupanya mereka langsung bertindak. Berita kemudian muncul di Facebook bahwa dua pelayan yang berkelakuan tak pantas itu sudah dikeluarkan dari sana. Kembali terbukti betapa dahsyat pengaruh media sosial di belahan bumi mana pun; Siantar tak terkecuali. Pemilik Ganda rupanya menyadarinya. Untunglah.
Aku termasuk penggemar yang beberapa kali kecewa berbelanja di Ganda. Tapi belakangan aku tak perlu merasa mengelus dada lagi karena sudah memiliki siasat gerilya untuk dijalankan di sana. Itulah hasil ‘berjuang’ di lokasi selama beberapa peak season.
Siasat itu begini strateginya. Di masa ramai kita janganlah—meminjam istilah suami saya—‘sok imut’ menunggu giliran dilayani petugas Ganda. Di dalam toko—berupa ruko sepetak—yang ramainya ‘minta ampun’ itu kita harus siap sikut-sikutan dengan pelanggan lain untuk mendapatkan perhatian pelayan yang jumlahnya jelas jauh lebih sedikit dari pengunjung.
Hukum first-come first-served yang lazim berlaku di tempat lain tak laku di sini. Saat kita mengantri di depan etalase, pembeli yang lain sudah bergerilya di dapur. Jadi, agar urusan lekas beres, langsung saja menyusup ke belakang dan kalau perlu main kleim isi oven. Setelah menanyakan ke petugas apa isinya katakanlah sambil menunjuk: “Yang itu untuk aku ya,” Tidak elok tentunya dan tak etis pula sepak terjang seperti ini. Masalahnya adalah kita berada ‘di sarang’ Siantarmen.
Belakangan ini, kalau lagi ingat suasana chaotic di sana terkadang aku tak habis pikir mengapa pemilik Ganda tidak memberlakukan nomor antrian seperti di loket PLN, PAM, atau bank itu. Bukankah dengan demikian aksi saling serobot sesama konsumen tak akan terjadi lagi?
Saat tak menemukan jawaban, skenario konspirasi pun bisa muncul di benakku. Kata ‘jangan-jangan’ berkelebat. Jangan-jangan pemilik toko roti tersebut menikmati kegaduhan musiman tersebut…. Jangan-jangan itu pembiaran dengan tujuan memperlihatkan kepada publik betapa fanatiknya konsumen mereka…..
Kalau tidak, mengapa sampai menjelang lebaran barusan pun mereka tidak mengambil langkah nyata untuk menertibkan suasana? Jangan-jangan radar emphati mereka memang sejak semula tak berfungsi…Jangan-jangan chaos itu bagian dari ritus….. Jangan-jangan…… Entahlah! Lewat tulisan ini aku ingin mendengar langsung jawaban dari pemilik toko roti Ganda sendiri.
Aku ingin atmosfir di toko roti Ganda bersahabat. Seperti di Kedai Sedap, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sana. Kalau saja mungkin, seperti yang sesekali kami sekeluarga lakukan di toko roti Michelle di Bogor kotaku.
Sambil menikmati minuman ringan di bilik mengaso aku juga ingin menjajal rupa-rupa roti yang bisa kuambil langsung dari rak. Andai saja itu bisa menjadi kenyataan, sungguh ganda sedapnya…….Bukankah begitu duhai teman-teman Siantarmen yang keren-keren?
Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi , Kemenparekraf/Bekraf saat diskusi dengan PR Newswire (Foto: Kemanparekraf).
AKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 dipastikan akan membawa perubahan besar terhadap minat wisatawan dalam berwisata yang nantinya akan lebih mengedepankan aspek keamanan dan kesehatan, kata Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi , Kemenparekraf/Bekraf, hari ini.
Berbicara dalam diskusi “New Normal di Industri Travel/Tourism” yang digelar PR Newswire, dia mengatakan, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya harus mampu beradaptasi, menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing sebagai respons terhadap perubahan.
“Akan terjadi perubahan perilaku yang mendasar dari wisatawan. Nantinya wisatawan akan lebih mengedepankan faktor kebersihan, kesehatan dan keselamatan serta keamanan sehingga industri harus dapat beradaptasi untuk dapat meyakinkan konsumennya bahwa fasilitas mereka dapat memenuhi factor dimaksud,” kata Agustini Rahayu.
UNWTO bahkan menyatakan kini saatnya untuk melakukan peninjauan ulang terhadap standarisasi pariwisata untuk menghadapi tuntutan kebutuhan itu melalui pedoman global pembukaan kembali fasilitas pariwisata yang mereka sebut Global Guidelines to restart tourism. Organisasi itupun telah merilis pedoman yang dijadikan acuan industri pariwisata terkait perubahan perilaku wisatawan secara umum.
Dari sisi akomodasi misalnya, preferensi wisatawan akan berubah dari yang semula mencari akomodasi yang menawarkan harga promo/budget hotel ke hotel-hotel yang mengutamakan aspek higienitas. Kemudian dalam transportasi, penerbangan langsung atau maksimum 1 kali transit akan menjadi preferensi utama wisatawan.
Aktivitas wisatawan juga akan lebih kepada aktivitas outdoor dengan pilihan udara sejuk, self-driving, dan private tour. Serta yang tidak kalah penting adalah penguatan sumber daya manusia yang berdasar kepada protokol keamanan dan higienitas.
“Industri mungkin diawal akan melakukan penyesuaian harga karena harus memenuhi standar yang dibutuhkan dan wisatawan akan membayar. Meski nantinya seiring berjalan waktu juga akan ada penyesuaian dari sisi bisnis,” kata Agustini Rahayu.
Mengantisipasi hal tersebut, Kemenparekraf/Baparekraf dikatakan Agustini Rahayu, telah menyiapkan program Cleanliness, Health and Safety (CHS) yang akan jadi pedoman bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Namun protokol tersebut nantinya akan dikeluarkan melalui Peraturan/Keputusan Menteri Kesehatan dalam waktu dekat. Protokol kesehatan ditegaskannya memang harus diharmonisasikan dengan Kementerian/Lembaga lain agar tersinergi baik.
Setelah itu pihaknya baru akan melakukan pendampingan kepada industri termasuk training pekerja pariwisata di setiap destinasi dan diaplikasikan. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat final agar kita bisa segera disosialisasikan,” kata Agustini Rahayu.
Director of Marketing Communications The Westin Resort Nusa Dua Bali, Dewi Anggraini mengatakan, pihaknya telah bersiap untuk memasuki tatanan kenormalan baru pariwisata.
Selama ini pihaknya benar-benar mempersiapkan dan menjadikan situasi yang lesu akibat COVID-19 ini sebagai tantangan. The Westin Resort Nusa Dua Bali telah menyiapkan protokol yang akan diterapkan di setiap aspek. Mulai dari lobby, kamar, restoran, hingga tempat pertemuan (MICE).
“Kami sudah melakukan set up untuk new normal dan beberapa hal yang harus diperhatikan. Semua itu secara intens kami komunikasikan ke publik sehingga kami harapkan bisa menjaga kepercayaan di mata masyarakat,” kata Dewi.
Untuk itu pihaknya berharap implementasi normal baru dapat segera berjalan dan industri kembali bergeliat.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio memastikan, destinasi wisata yang akan rebound atau melesat lebih cepat adalah yang telah dipercaya publik siap menjalankan protokol kesehatan.
Pihaknya juga telah menyiapkan turunan dari protokol tersebut. Disiapkan baik dalam bentuk video ataupun buku panduan, sehingga akan mudah bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk melaksanakan kegiatannya,” kata Wishnutama.
Protokol ini nantinya dapat diterapkan di semua lini pariwisata dan ekonomi kreatif. Pihaknya tengah menyiapkan protokol dan saat ini sedang dilakukan harmonisasi dari semua kementerian yang tangani bidang-bidang tertentu untuk nantinya diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jelas Wishnutama
Berbicara dalam web seminar (webinar) bertajuk Kebangkitan Parekraf di Era Normal Baru, yang diselenggarakan oleh DPP Prajaniti Hindu Indonesia, Kemarin, hadir pula Ketua Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha dan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad.
Menparekraf menjelaskan pembuatan protokol di industri pariwisata dilakukan tidak terburu-buru dan tergesa-gesa. Hal ini sesuai dengan arahan presiden yang meminta pembuatan protokol memperhatikan semua aspek.
“Jadi nanti pada saatnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dibuka bisa produktif dan tetap aman dari Covid-19. Itu hal yang mendasar dalam arahan presiden,” kata Wishnutama.
Protokol kenormalan baru ini terfokus pada aspek kebersihan, kesehatan, dan keamanan yang nantinya sebagai panduan bagi seluruh pemangku kepentingan industri pariwisata dalam melakukan remodelling atau penyesuaian.
Sementara itu, Anak Agung Suryawan Wiranatha, mengatakan saat ini sudah saatnya untuk kembali ke tatanan hidup normal, namun ditambah dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang baik.
“Dan yang penting adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) termasuk pengawasan yang baik di lapangan dalam implementasinya,” katanya.
Ia pun mengatakan, banyak industri, terutama di Bali menantikan pengesahan protokol di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif oleh Kemenkes karena pariwisata menjadi penunjang utama dalam perekonomian Bali, jelasnya.
” Jadi setelah disahkan bisa segera dilakukan sosialisasi, simulasi, diterapkan hingga nanti dilakukan penilaian dan evaluasi, apakah benar teman-teman teman pengusaha di Bali bisa melaksanakan dengan benar,” kata Anak Agung Suryawan Wiranatha,
Pulau imut padat yang penuh kedaiamain (foto: Escape)
KOLOMBIA, bisniswisata.co.id: Ada sebuah pulau imut di tengah perairan Karibia dihuni hanya sekitar 1.200 orang. Luas pulau yang berada sekitar dua jam dari negara Kolombia ini persisnya hanya 0,012 kilometer persegi, atau sekitar dua kali lapangan sepakbola.
Pulau Santa Cruz del Islote menjadi pulau terpadat di dunia, dan populer di kalangan para turis. Keterbatasan lahan memaksa penduduknya untuk betul-betul memanfaatkan ruang yang ada. Meski padat, hampir tidak ada laporan kejahatan di pulau ini. Tidak ada konflik dengan tentara. Penduduk di sini tidak pernah cemas terkait tindak kriminal.
Pulau di teluk Morrosquillo ini baru ditemukan 150 tahun lalu. Legenda menyebut, penduduk pertama yang tinggal di sini adalah para nelayan yang kemalaman setelah berlayar menangkap ikan. Awalnya mereka hanya singgah dan bermalam. Namun kemudian mereka menyadari bahwa pulau tersebut tidak ada nyamuk. Akhirnya mereka putuskan untuk tinggal permanen di pulau tersebut.
Kini, penduduknya bangga menyebut pulau tersebut sebagai rumah mereka.
Di pulau ini memang tidak ditemukan nyamuk. Warga setempat percaya lingkungan yang bebas nyamuk itu karena di pulau itu tidak ada hutan bakau dan pantai.
Meski populer di kalangan para turis, pulau ini bukanlah tempat yang pas untuk tinggal berlama-lama menghindari hiruk pikuk kota. Hampir tidak ada ruang bagi wisatawan untuk menetap.
Kebanyakan turis akan bermalam di Hotel Punta Faro di Pulau Mucura, yang berdekatan dengan Pulau Santa Cruz del Islote. Mereka biasanya datang ke Santa Cruz dengan menyewa speed boat dan menjelajah pulau ini beberaja jam saja.
Santa Cruz del Islote dihuni oleh 18 keluarga dengan 97 bangunan yang terdiri dari sekolah, restoran, dan pelabuhan. Sebagian besar penduduk di pulau yang 65% penduduknya adalah para anak muda itu bekerja sebagai nelayan, membuka restoran dan sebagian lagi menjadi tour guide untuk wisatawan.
Selintas, jika dilihat dari kejauhan, orang akan sulit memastikan apa sesungguhnya Santa Cruz del Islote. Pulau ini seolah menyembul dari dasar laut dan mengapug-apung.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Rencana Induk Pariwisata Raja Ampat adalah wujudkan wisata ekologis dan di desain sebagai tujuan wisata eksklusif ” kata Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat Papua Barat, hari ini.
Untuk itu , Raja Ampat tengah bersiap memasuki era New Normal pariwisata. Pemda Raja Ampat menggelar webinar untuk mendapatkan masukan dari para stakeholder pariwisata sehingga saat wisatawan kembali datang ke Raja Ampat sudah ada kesepakatan bagaimana seharusnya mengelola kawasan.
” Masukan kami butuhkan agar pengelolaan pariwisata Raja Ampat lebih berkualitas karena hutannya merupakan hutan lindung dan lautnya adalah kawasan konservasi sehingga saatnya bersama para mitra kita pikirkan daya dukungnya,” kata Yusdi
Acara yang dipandu Riyanni Djangkaru ini juga menghadirkan Ikram M Sangaji, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasionsl Kupang, Kementrian Kelautan dan Perikanan ( KPP)
Hadir pula sebagai nara sumber Mark Endman Phd, VP Marine Asia-Pacific Field Division Conservation International serta Ary Suhandi, Direktur Indonesia Ecotourism Network ( INDECON)
Yusdi menyampaikan setidaknya 3 poin utama perubahan pariwisata di Raja Ampat yaitu akan ada pengecekan wisatawan dengan protokol kesehatan di pintu masuk utama Raja Ampat baik di pelabuhan maupun bandara Waisai.
Kedua adalah setiap wisatawan juga wajib menunjukkan surat bebas COVID-19. Lalu yang ketiga, Raja Ampat akan melakukan digitalisasi pada sistem reservasi baik di hotel, restoran, maupun kawasan daya tarik wisata.
Berbagai hal akan disiapkan guna menyambut kembali datangnya wisatawan, baik lokal maupun mancanegara di tatanan baru yang disebut New Normal tapi bukan berarti Raja Ampat segera dibuka untuk wisatawan kembali, ujarnya.
Webinar yang diikuti 215 peserta a.l mantan menteri Fadel Muhammad yang terakhir jadi anggota DPR RI periode 2014-2019, Emmy Hafild, aktivis lingkungan, komunitas, para tour operator dan HPI ini sepakat pandemi global justru memberi hikmah pada kondisi alam yang setempat yang jauh lebih baik.
Acara webinar dipandu Riyanni Djangkaru, mantan host acara TV Jejak Petualang
Ikram M Sangaji mengatakan tanpa ada COVID-19, perlakuan terhadap destinasi wisata memqng seharusnya menerapkan tatanan baru yang sekarang di sebut New Normal yang mengutamakan CHS.
” Karena obyek wisatanya, tuan rumahnya dan wisatawannya harus menerapkan higienutas dan keamanan maka tatanan baru ini harus disertai juknis ( petunjuk teknis) dan detil lainnya supaya penedapan di lapangan sesuai dengan protokol kesehatannya,”
Tak cukup sampai disitu karena dukungan politis, birokrat dan legislatif diperlukan jika mau New Normal berhasil diterapkan termasuk membangun wisata ekologis yang eksklusif dan lestari alam lingkungannya.
“Entry point ke Raja Ampat nantinya otoritas pelabuhan yang pegang peran penting apakah jaga jarak bisa diterapkan, apakah sistem satu pintu bisa diterapkan karena tim terpadunya dulu yang harus kompak,” kara Ikram.
Ary Suhandi mengungkapkan bahwa mengelola pariwisata di pulau kecil seperti Raja Ampat memang jauh lebih mahal karena akses dan terbuka dengan banyak kawasan sehingga kuncinya memang di lembaga pengelolanya.
” Rencana sistem satu pintu dan digitalisasi sudah baik tinggal bagaimana menata kalangan pebisnisnya karena dalam 20 tahun terakhir bagaimana daya dukung Raja Ampat dieksploitasi,” kata Ary.
Dia mengingatkan bagaimana manajemen pengunjung dalam 5-6 tahun terakhir ini. Pola perjalanan di kawasan ini harus ditata dsn ada rutenya yang jelas sehingga tidak ada lagi kasus-kasus kapsl menabrak terumbu karang dan lainnya.
Mark Endman juga mengingatkan pengelolaan Raja Ampat harys menghindari mass tourism dan fokus pada pengembangan pariwusara terbatas yang mengutamakan benefit pada masyarakat lokal.
” Pendatang tidak boleh merusak budaya lokal dan merusak alam yang merupakan warisan masyarakat Papua,” ungkap Mark yang tengah berada di New Zealand.
Dia mengkritisi izin liveaboard Raja Ampat, resort, homestay. Apakah tidak dibatasi banyaknya tamu di resort maupun di kapal, apa perlu diterapkan musim wisata alias menerima wisatawan hanya dalam 8 bulan saja.
” Apa sebaiknya dive spot selam yang popular ditutup sekian bulan dalam setahun untuk pemulihan terumbu karang dan keindahan spot itu ?,” kata Mark Endman dengan bahasa Indonesia yang cepat dsn sangat fasih.
Situasi laut Raja Ampat dengan adanya pandemi global justru semakin indah, masyarakat lokal kembali pada kesehariannya sebagai nelayan maupun sebagai ketahanan pangan, tambahnya mengingatkan.