Jepang dorong warganya untuk keluar jalan-jalan (foto: CBS)
TOKYO, bisniswisata.co.id: Jepang mencabut segala bentuk pembatasan perjalanan dalam negeri. Perdana Menteri Shinzo Abe bahkan menyerukan warganya untuk keluar jalan-jalan, menghadiri konser, atau acara lain demi membantu membangkitkan ekonomi yang tepuruk akibat pandemi Covid-19.
Sejak Mei, negeri matahari terbit ini telah mencabut kebijakan lockdown usai kasus virus Corona di sana menurun. Pelonggaran pembatasan perjalanan domestik yang diambil Kamis (18/6) merupakan kebijakan terbaru untuk mengakhiri keadaan darurat. Orang-orang kembali diizinkan bekerja. Bar dan restoran boleh buka tetapi dengan tetap menerapkan menerapkan physical distancing.
“Saya ingin orang-orang keluar melakukan perjalanan wisata, sambil tetap menerapkan jaga jarak sosial. Kami mau anda sebisanya terlibat dalam kegiatan sosial dan ekonomi,” kata Abe dalam pidato yang ditujukan kepada warga Jepang Kamis (18/6) malam, seperti dilansir Reuters.
Keputusan pemerintah untuk mengakhiri pembatasan orang bepergian diharapkan mampu membantu hotel, resort, dan daerah-daerah lain yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Meski demikian, pemulihan nampaknya akan berjalan lambat. Masih banyak orang takut untuk bepergian. Mereka juga sebisanya menghindari kerumunan. Apalagi sebagian besar negara juga belum mencabut aturan pembatasan perjalanan ke luar negeri, termasuk ke Jepang.
Menurut data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, di Bulan Mei hanya ada 1.700 orang asing yang datang ke Jepang. Jumlah terendah sejak 1964. Hingga Kamis (18/6) Jepang mencatat 17.789 kasus Corona baru dengan 948 meninggal, demikian seperti disiarkan televisi NHK.
Dua maskapai besar Jepang, ANA Holdings dan Japan Airlines Co., mengatakan mereka telah membuka kembali beberapa penerbangan domestik seiring dengan permintaan yang meningkat. Meski demikian keduanya mengaku jumlah penerbangan untuk Juli masih belum maksimal, atau sekitar setengah dari yang mereka rencanakan sebelum pandemi Covid-19.
Selain mengakhiri pembatasan perjalanan domestik, Jepang juga mengizinkan orang berkumpul di acara indoor dan outdoor. Tapi jumlah orang yang boleh berkumpul tetap dibatasi maksimal 1.000. Tim baseball profesional Jepang juga akan kembali berlaga pada Jumat (19/6) meski tanpa penonton.
“Kita buat konsepnya beda dari versi aslinya, karena lirik lagunya menurut saya masih bisa mewakili dua keadaan perasaan yang berbeda. Jadi, kita ubah nuansa lagunya lebih fresh karena lagu itu sudah pernah hits,” ungkap vokalis NOAH, Ariel, dalam siaran persnya hari ini.
“Biasanya, lagu yang pernah hits itu akan susah mengulang kesuksesan kalau dalam format yang sama,” sambungnya.
Jika didengarkan, lagu Kala Cinta Menggoda versi Noahterasa lebih mellow dan sendu ketimbang aslinya. Meski begitu, roh dari mendiang Chrisye masih tetap terasa dan dipertahankan.
Saat ini, Kala Cinta Menggoda versi Noah sudah bisa dinikmati di Spotify, JOOX, dan Apple Music. Video klipnya akan segera tersedia di channel Youtube Musica Studio’s. Lagu tersebut akan menjadi bagian dari album kompilasi Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra yang dirilis oleh PT Musica Studio’s.
Keindahan alam Indonesia yang diminati wisatawan mancanegara ( Foto: Kemenparekraf)
MADRID, bisniswisata.co.id: Sekretaris Jenderal Badan Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO), Zurab Pololikashvili mengatakan negara anggota dapat memulai kembali pariwisata dengan cara yang bertanggung jawab yaitu keberlanjutan, inovasi, kolaborasi, dan solidaritas
Sudah lebih dari tiga bulan sejak Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mendeklarasikan pandemi global COVID-19 hingga krisis datang terus mengancam pekerjaan dan mata pencaharian di bidang pariwisata dan lainnya.
“Komite Krisis Pariwisata Global yang dipimpin UNWTO mendukung pedoman kami untuk memulai kembali pariwisata, dan kami sekarang mengubah tekad ini menjadi tindakan nyata untuk pemulihan,” Zurab Pololikashvili dalam pernyataannya dikutip dari situs unwto.org ini.
Menurut dia, upaya UNWTO dihargai di tingkat tertinggi mulai dari kepala negara hingga dukungan penting dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres yang mengidentifikasi sektor ini sebagai pilar pertumbuhan ekonomi.
Sekjen PBB, tambahnya, mengakui kepemimpinan UNWTO ketika ia mengatakan kepada warga dunia bahwa “pariwisata dapat menjadi platform untuk mengatasi pandemi”.
Sekarang, karena masing-masing Komisi Regional UNWTO akan berkumpul bersama secara virtual selama minggu-minggu ke depan, maka pihaknya dengan keahlian dan pengaruh yang dimiliki akan mengumpulkan keahlian agar semua memulai kembali pariwisata dengan tekad mewujudkan dekade aksi menuju tujuan pembangunan berkelanjutan agar kembali ke jalurnya.
Komite Dunia tentang Etika Pariwisata, sebuah badan independen yang dibentuk oleh UNWTO, telah menekankan pentingnya menjaga Kode Etik Global untuk Pariwisata ketika pembatasan perjalanan dikurangi.
Pemerintah dan industri pariwisata agar memulai kembali sektor travel & tourism ini dengan tepat waktu dan bertanggung jawab, menghindari semua biaya yang datang kemudian dengan mengorbankan perlakuan yang adil dan setara dari wisatawan.
Restart ini menawarkan kesempatan untuk menata kembali tidak hanya bagaimana kita melakukan perjalanan, tetapi bagaimana pariwisata dapat membantu membangun masa depan yang lebih baik bagi manusia dan planet, tambah Zurab Pololikashvili.
Komitmen Indonesia
I Gede Ardika, aggota dari UNTWO (United Nations World Tourism Organization) yang juga mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2001-2004 sudah sejak tahun 1990 an Indonesia mengembangkan pariwisata berkelanjutan ( sustainable tourism).
Oleh karena itu keputusan UNWTO agar pengembangan pariwisata berkelanjutan setelah pandemi global ini agar kembali ke jalurnya akan lebih mudah menerapkannya dengan berbagai kebijakan dan program yang sudah dimiliki RI
Sebagai Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council, I Gede Ardika mengatakan bahwa konsep sustainability seperti yang diusung oleh organisasi pariwisata dunia UNWTO adalah harus mampu merubah pola pikir dan pola tindak untuk menghadapi tantangan ke depan.
Sekjen UNWTO, Zurab Pololikashvili dan I Gede Ardika, Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council
“Perubahan ini terkait bidang ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, melalui kebijakan-kebijakan yang ditetapkan. Dari sini prinsip sustainable untuk pariwisata harus meliputi tiga faktor yaitu memberi manfaat ekonomi, melestarikan lingkungan alam, dan melestarikan budaya,” tambahnya
Dalam berbagai kesempatan I Gede Ardika mengingatkan bahwa pariwisata yang sustain harus menjadi alat pemerataan kesenjangan, dan mengikutsertakan partisipasi masyarakat lokal. Sehingga pariwisata yang ditawarkan tidak hanya bicara objek wisatanya tapi juga suasana dan masyarakatnya.
Bila sebelumnya, kata I Gede, paradigma seseorang dalam memandang wisatawan hanya sebatas sumber uang atau seperti mesin ATM. Padahal wisatawan itu berkaitan dengan human being, mencakup spirit, mind, dan body, sehingga pastinya berkaitan dengan pengalaman dan human right.
“Jadi fungsi pariwisata di Indonesia bukan sekedar untuk menghasilkan uang tapi lebih penting harus mampu mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, dan harus memunculkan happiness,” jelasnya.
Oleh karena itu menurut I Gede, konsep sustainable dari PBB tersebut tidak cukup bagi Indonesia. Tidak hanya bicara seputar ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, tapi lebih dari itu bagaimana sustainable ini memunculkan perasaan bahagia dan menciptakan pengalaman, mampu menciptakan hubungan antar manusia, menghasilkan mutualunderstanding.
“Dengan mengupayakan mutual understanding ini lah, pariwisata dapat berkontribusi untuk membangun persahabatan dan kedamaian dalam satu negara. Ini yang dimaksud dengan membanugn Indonesia beradab,” tambahnya.
Pengembangan pariwisata berkelanjutan memiliki 3 program utama yaitu Sustainable Tourism Destination, Observatory, dan Certification. Pedoman tersebut sudah diturunkan menjadi panduan teknis yang menjadi pedoman untuk sertifikasi.
” Dengan kesiapan dokumen ini, sejak tahun 2017 Indonesia dapat menyelenggarakan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) perdana pada tahun 2017 dan sudah tiga kali diselenggarakan hingga 2019 agar masyarakat terlibat aktif dalam pengembangan wisata berkelanjutan di Tanah Air,” kata I Gede Ardika.
Pariwisata Indonesia selain harus sustainable juga harus mampu melekatkan identitas nasional, mampu membangun moral bangsa. Indonesia begitu kaya akan sumber daya alam dan perbedaan budaya. Tahun 2030 Indonesia akan berjaya karena potensi pariwisatanya,” ungkapnya.
JEALLO, bisniswisata.co.id: Bagi orang Korea, Kimchi – makanan tradisional yang wajib ada di setiap jamuan makan – bukan sekadar kudapan. Makanan fermentasi yang dibuat dari sawi putih dan lobak ini merupakan simbol kebanggaan nasional. Kimchi sudah ada sejak 4.000 tahun silam. Seseorang akan merasa bangga jika sukses membuat kimchi yang enak.
Seorang teman dari Seoul yang kini bermukim di New York, Amerika Serikat, pernah mengatakan, dirinya harus pandai memasak kimchi jika ingin memukau calon mertua. Barangkali itu juga alasan mengapa Ji-sun Park, begitu ia biasa disapa, hingga kini melajang. Dulu dia pernah mengeluh tak pandai memasak.
Sementara bagi Kim Myung-Sung, salah seorang pembuat kimchi terbaik di Korea Selatan, justru sebaliknya. Kimchi memiliki makna yang dalam. “Untuk saya sendiri, kimchi mewakili cinta dan masa depan,” katanya seperti dituturkan kepada greatbigtstory.
Pria yang tinggal di Provinsi Jeallo bagian selatan ini terkenal sebagai pembuat berbagai jenis makanan Korea yang difermentasi, termasuk kimchi. Karirnya justru dimulai saat dia terobsesi ingin membuatkan kimchi yang sempurna bagi sang istri. Sayangnya, kala itu dia gagal menemukan resep kimchi yang pas.
Ia lalu mulai bereksperimen menciptakan resep sendiri sehingga mampu menghasilkan rasa kimchi yang sempurna dan menjadi kebanggaan setiap orang, termasuk istri terncinta. Kini, dia merasa telah menemukannya. Resep itu kelak akan diturunkan pada anak-anaknya.
Menurut Myung-Sung, kimchi yang enak itu adalah yang segar, renyah, dan sedikit menggelitik saat di mulut. Untuk menghasilkan kimchi enak dibutuhkan nappa cabbage (kubis napa yang asin) atau lobak putih yang diasinkan. Jangan lupa tambahkan bumbu lain pengkaya rasa, seperti bawang, bawang putih, bawang hijau atau mentimun, jahe dan ikan asin.
“Terakhir, saya akan simpan kimchi-kimchi saya dalam pot dari tembikar yang secara sempurna dapat menghalangi masuknya oksigen. Lalu, biarkan kimchi ini di sana dengan suhu rendah setidaknya selama 6 bulan untuk berferementasi,” kata Myung-Sung.
Myung-Sung mengaku untuk mendapatkan pengetahuan yang sempurnant tentang Kimchi, dia banyak bertemu para pakar. “Dengan mendengarkan pengalaman hidup mereka serta falsafah hidup yang bijaksana, saya dapat pengetahuan untuk membuat kimchi yang sempurna.”
Kimchi memiliki sejarah panjang dalam budaya Korea. Sebagai negara yang terletak di Asia Timur Laut, musim dingin bisa menjadi sangat brutal. Pengawetan makanan menjadi krusial. Kimchi merupakan salah satu temuan kebanggan orang Korea.
“Kita harus meneruskan kimchi sebagai warisan dan budaya kuliner yang membanggakan kepada generasi muda. Saya yakin, jika kita mau berinovasi maka kita dapat menghubungkan masa lalu dan masa kini,” kata Myung-Sung.
Gubernur Bali I Wayan Koster ( baju merah) mendampingi kunjungan kerja Kemenparekraf bersama Wagub Cok Ace dan Kapolda Bali Irjen Pol Dr Petrus Reinhard Golose. ( Foto: Kemenparekraf).
UBUD, Bali, bisniswisata.co.id:Pemprov Bali telah siap mengimplementasikan protokol kesehatan di wilayahnya. Gubernur Bali I Wayan Koster menjelaskan, pihaknya telah mempersiapkan tiga tahapan untuk implementasi protokol kesehatan menyambut kenormalan baru dan tahap pertama akan dilakukan pada 9 Juli 2020.
“Kami mengapresiasi kesiapan Pemerintah Provinsi Bali dalam menarik kepercayaan publik di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Protokol kesehatan memang harus dipersiapkan jauh hari agar dapat membangun kepercayaan publik untuk kembali berwisata di Pulau Dewata,” kata Menparekraf Wishnutama Kusubandio saat bertemu dengan Gubernur Bali I Wayan Koster di Restoran Bebek Tepi Sawah, Ubud, Rabu (17/6/2020).
Dia gembira mendengar penjelasan Gubernur karena secara overall penyebaran COVID-19 di Bali ini relatif lebih rendah dibanding di tempat lain. “Tapi sekali lagi yang perlu kita bangun di Bali adalah kepercayaan publik, kepercayaan dari wisatawan domestik maupun internasional. Itu yang perlu kita bangun karena bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan,” kata Whisnutama.
Menurut dia, sektor pariwisata merupakan bisnis yang mengedepankan kepercayaan sehingga hanya ketika wisatawan percaya saja mereka akan datang, berkunjung dengan aman dan nyaman ke Bali. Menparekraf juga mendorong Pemprov Bali melakukan tiga tahapan pembukaan beberapa sektor di Bali.
Setelah pada tahap pertama pembukaan dianggap berhasil dengan implementasi protokol kesehatan yang ketat. Ia berharap tahapan selanjutnya bisa dilalui dengan cepat.
“Oleh karena itu saya mohon kepada para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar dapat melaksanakan hal itu dengan baik. Sehingga semua proses tahapan bisa kita review dan kita bisa memasuki tahap-tahap selanjutnya dengan lebih cepat,” ujarnya.
I Wayan Koster mengatakan untuk tahap kedua akan dilakukan pada Agustus 2020 dengan catatan apabila pergerakan tahap pertama kondusif dan berhasil. Maka akan dilanjutkan ke tahap kedua untuk wisatawan nusantara. Setelah tahap kedua berhasil berlanjut ke tahap ketiga dengan mulai membuka destinasi bagi wisatawan mancanegara pada September 2020.
“Tapi ini hanya persiapan dan ancang-ancang, bukan jadwal pelaksanaan. Jadi atau tidak tergantung dari perkembangan situasi dan dinamika COVID-19 khususnya perkembangan transmisi lokal di Bali,” ujarnya.
I Wayan Koster juga menjelaskan, hal tersebut sudah sesuai arahan Presiden dan Menparekraf terkait bahwa reopening Bali harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa.
“Jangan sampai terjadi pandemi gelombang kedua di Bali, bila kita terburu-buru. Karena itu akan berisiko dan sangat berat bagi kami,” katanya.
Saat kunjungan kerja ke Bali, Menparekraf didampingi Gubernur Bali I Wayan Koster, Wakil Gubernur (Wagub) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Kapolda Bali Irjen Pol Dr Petrus Reinhard Golose, Dirut ITDC Abdulbar M. Mansoer, Managing Director The Nusa Dua I Gusti Ngurah Ardita, berserta jajaran pimpinan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
JAKARTA, bisniswisata.co.id; Ketua Asita NTT, Abed Frans menghimbau anggotanya maupun masyarakat untuk kedepankan private tour, tidak mengikuti kegiatan open trip jika ingin menikmati kawasan wisata di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo.
” Open trip harga memang jauh lebih murah karena rombongan besar sementara di era NewNormal dan masih ada pandemi global kita semua harus hati-hati dengan mengikuti protokol kesehatan sehingga grup private lebih aman dan nyaman,” katanya.
Pada para anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata ( Asita) Nusa Tenggara Timur yang dipimpinnya, momentum dibukanya obyek wisata unggulan per 15 Juni 2020 lalu agar dimanfaatkan untuk menjaring wisatawan domestik terutama grup kecil keluarga maksimal 10 orang.
” Memang kalau tour private biaya jadi lebih mahal namun sebagai destinasi super prioritas kita harus menjaga agar standar operasional prosedur (SOP) protokol kesehatan di seluruh simpul destinasi benar-benar diterapkan dengan baik,” ungkapnya.
Pimpinan PT Flobamor Jaya Travel di Kupang ini mengatakan semua pelayanan memang menyesuaikan sehingga untuk kapal wisata misalnya, jumlah penumpang termasuk crew juga akan berkurang.
” Pembukaan kembali ini untuk wisatawan domestik dan menjadi semacam ‘pemanasan’ jika Bali sudah terbuka untuk wisatawan mancanegara karena turis asing yang datang ke Labuan Bajo, misalnya, pintu masuknya dari Bali,” jelas Abed Frans sambil menambahkan hingga hari ini Bali masih tertutup untuk wisman.
Momen pembukaan kembali ini agar tour operator menjual paket yang bersifat private karena lebih aman berwisata dengan keluarga sendiri, selain menjaga ekologi dan ekklusivitas karena Labuan Bajo bukan tujuan mass tourism.
” Kami harapkan wisatawan domestik tidak ragu untuk datang ke Komodo karena untuk masuk Labuan Bajo tidak memerlukan Swab/PCR seperti masuk ke Bali,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memang sudah membuka kembali destinasi wisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat pada 15 Juni 2020.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Wayan Darmawa dalam webinar ASITA pekan lalu mengatakan seluruh destinasi di kawasan srategis nasional itu akan dibuka serentak, namun dengan syarat khusus.
Misalnya, pengelola destinasi setempat, baik swasta maupun pemerintah desa, harus memastikan terlaksananya gerakan jaga jarak fisik atau physical distancing.
Adapun beberapa destinasi unggulan tersebut seperti Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Wae Rebo di Kabupaten Manggarai. Kemudian sejumlah destinasi wisata di Pulau Sumba, Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua.
Pemprov NTT berharap, pemerintah kabupaten/kota yang memiliki destinasi unggulan melakukan antisipasi terhadap peningkatan arus kunjungan wisatawan setelah pembukaan.
Sebelum terjadi pandemi global, Wayan menargetkan, hingga akhir tahun nanti, jumlah turis yang datang ke kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mencapai 1,6 juta orang.
Sebanyak 1 juta orang merupakan wisatawan domestik, sedangkan sisanya adalah wisman. “Saat ini, untuk turis asing kunjungannya di angka 200 ribu. Kalau di Pulau Komodo pada posisi Maret hampir 20 ribu,” tuturnya.
BALI, bisniswisata.co.id: Menparekraf Wishnutama meninjau kawasan ITDC Nusa Dua Bali dan mengikuti semua prosedur kunjungan sekaligus memastikan kesiapan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali dalam implementasi protokol kesehatan kenormalan baru yang fokus pada aspek kebersihan, kesehatan, dan keamanan.
Sejak kedatangan di bandara Ngurah Rai, Bali, mengikuti proses pemeriksaan surat pelengkap perjalanan, masuk ke dalam fasilitas ITDC dan meninjau obyek wisata, Whisnutama yang lebih akrab disapa Mas Menteri ini menikmati prosesnya dengan selalu memakai masker.
Dalam kunjungan kerjanya ini, Selasa (16/6/2020) untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna memastikan kesiapan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali dalam mengimplementasi protokol kesehatan . Hal ini mengingat ada beberapa poin penting yang harus diawasi ketat oleh seluruh stakeholder pariwisata, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
“Semua tetap harus memperhatikan betul kondisi R0 dan Rt, atau laju penyebaran COVID-19 di daerah, kesiapan daerah, dan kedisiplinan dalam pelaksanaan termasuk di Bali nantinya sangat menentukan kapan sektor pariwisata ini dapat menyambut wisatawan kembali,” kata Menparekraf Wishnutama.
Rt adalah metode penghitungan yang dianggap valid mengenai potensi penularan virus Corona secara real time. Sedangkan R0 digunakan untuk memperkirakan atau memproyeksikan reproduksi virus pada awal masa penularan
Menurut dia, hal tersebut menjadi sangat penting. Lantaran ia tidak ingin, bila tergesa-gesa justru akan memicu terjadinya peningkatan jumlah pasien COVID-19. “Kami khawatir jika terburu-buru, nanti menjadi penyebab peningkatan COVID-19, yang memicu gelombang kedua. Saya betul-betul ingin nantinya sektor pariwisata bangkit kembali produktif dan aman dari covid19,” ujarnya.
Menparekraf menanti pemeriksaan petugas di bandara Ngurah Rai
Dalam kunjungannya ke Bali, Menparekraf melakukan site visit untuk melihat kesiapan di kawasan ITDC Nusa Dua, mulai dari pengecekan suhu tubuh wisatawan saat pintu masuk kawasan, kemudian menuju Bali Art Collection sebagai kawasan ekonomi kreatif, hingga melihat kesiapan penanganan wisatawan di RS BIMC.
Menparekraf Wishnutama mengatakan, pedoman protokol kesehatan harus dipatuhi dengan ketat agar masa normal baru ini membawa kebaikan bagi semua. Untuk itu, Ia juga menekankan agar pemerintah daerah yang ingin membuka aktivitas sektor parekraf harus mempersiapkan secara detail dan tidak terburu-bur.
” Pastikan protokol kesehatan sudah siap diimplementasikan karena pariwisata adalah sektor yang sangat bergantung dengan kepercayaan wisatawan terhadap rasa aman dan nyaman,” katanya.
Wishnutama juga optimistis bahwa keunikan destinasi di Bali masih menjadi daya tarik utama pariwisata tanah air yang akan terus dibanjiri wisatawan nusantara maupun mancanegara.
“Dengan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan di lapangan yang ketat maka kita semua akan bisa berwisata dengan aman, dan pelaku-pelaku pariwisata dan ekraf bisa kembali produktif,” katanya.
Fasilitas di Grand Maerakaca sangat indah dikunjungi di malam hari ( Foto: dok. pribadi Titah)
SEMARANG,bisniswisata.co.id: Grand Maerakaca Taman Mini Jawa Tengah, punya spot baru di Era New Normal, disamping akan melakukan pembatasan pengunjung dan pembatasan jam buka operasional jika sudah bisa dibuka kembali, kata Titah Listyorini, Dirut PT PRPP atau Pusat Rekeasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, pengelola kawasan seluas 23 hektar itu, hari ini.
” Sejak tutup untuk pengunjung sejak 18 Maret 2020 sampai sekarang, kami bebenah, melakukan perbaikan, menambah fasilitas baru. Untuk dibukanya masih menyesuaikan keputusan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) pemerintah kota Semarang,” ujarnya.
Lumina Grand Maerakaca
Keputusan Pemkot Semarang sampai dengan 21 Juni 2020. Diharapkan setelah PKM dilonggarkan maka Grand Maerakaca siap menerima pengunjung. Pihaknya tengah menyekessikan spot baru di sebelah utara area yang diberi nama Lumina Grand Maerakaca.
” Ini merupakan kawasan baru yang instagramable, spot baru dengan tampilan depan (facade) kampung internasional. Dimulai dengan kampung Jepang dengan 6 facade rumah – rumah khas Jepang lalu ada kampung santorini terdiri dari lima rumah,” kata Titah.
Eksplorasi pengunjung dapat dilanjutkan ke kampung Mexico dengan 6 rumah, kampung turki ( 6 rumah) dan kampung Arab juga 6 rumah. Tentu saja kampung-kampung itu akan dilengkapi dengan ornamen dekorasi penguat konsep negara tersebut.
Lokasi Lumina Grand Maerakaca terletak di sebelah utara miniatur laut jawa yang sebelumnya ada lorong jalan tanggul tambak. Di sebelah kirinya hutan bakau dan sebelah kanannya tanggul tambak.
Titah Listyorini, Dirut PT PRPP
“Sekarang sedang dikerjakan dan baru on progres 60%. Harapannya setelah Grand Maerakaca dibuka kembali Lumina Grand Maerakaca juga selesai sehingga bisa dinikmati pengunjunguuntuk foto-foto.Akann kita sediakan pakaian adat negara-negara tersebut,” jelas Titah.
Di era New Normal setelah pencabutan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) maka jam buka Grsnd Maerakaca jam 08.00 sampai jam 16.00. Ssbelumnya buka mulai dari jam 07.00 sampai jam 18.00 WIB.
“Pembatasan pengunjung juga akan kami lakukan. Sementara untukSementarauntukkuotanya maksimal 3 dibu pengunjung. Nanti gantian bila ada yang sudah keluar kami persilahkan untuk masuk kembali,”
Dalam menyambut Fase New Normal pihaknya juga sydah siapkan sarana prasarana dengan protokol kesehatan. Diantaranya peraturan afar pengunjung wajib menggunakan masker dan setiap pengunjung sebelum masuk lokasi sebelumnya diperiksa suhu badan menggunakan thermogun.
Bila suhu badan diatas 37,5 derajat maka dipersilahkan pulang atau malah disarankan untuk menuju rumah sakit daerah terdekat. Untuk transaksi senua sudah menggunakan cashless.
“Di area Grand Maerakaca sudah disediakan hand sanitizer dan tempat-tempat cuci tangan diarena terbuka beserta sabunnya. Secara berkala kami bersihkan sarana dan prasarana dengan disinfektan secara rutin,”
Sejumlah papan petunjuk maupun saran ditempelkan ditempat yang mudah dijangkau mata agar pengunjjbg tetap menjaga jarak dan ada petugas yang keliling agar pengunjung tidak berkerumun di suatu tempat saja. ” Semua protab kami akan terapkan dan sudah kami simulasikan,” kata Titah Listyorini
Pusat Rekeasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, pada tahun ini akan direvitalisasi besar-besaran dengan dana revitalisasi sebesar Rp700 miliar dan pembangunannya dimulai pada November 2020.
Fasilitas baru ditargetkan selesai dan bisa digunakan pada 2022 mendatang, setelah era New Normal berlalu dan pandemi global tidak lagi menghantam pariwisata, harsp Titah.
Wisatawan memenuhi kawasan pantai. Pulau Mallorca di Spanyol adalah tujuan favorit turis Jerman (Foto: yahoo)
PALMA DE MALLORCA, bisniswisata.co.id: Ratusan turis Jerman mendarat di Pulau Mallorca, Spanyol, Senin (15/6). Mereka merupakan rombongan pelancong pertama yang diizinkan masuk sejak otoritas setempat menutup perbatasan pada Maret lalu karena pandemi Covid-19.
Kedatangan para turis Jerman di pulau yang merupakan tujuan wisata favorit orang Jerman, Inggris, dan tentunya Spanyol ini lebih awal dari yang semula dijadwalkan. Otoritas di Pulau cantik yang beriklim khas mediterania ini sebelumnya mengatakan baru akan kembali menerima tamu, itupun dalam jumlah terbatas, pada akhir Juni.
Lebih dari 1.500 wisatawan Jerman diharapkan akan berkunjung ke Kepulauan Balears yang memiliki sejumlah pulau cantik, seperti: Pulau Mallorca, Minorca, Ibiza, dan Formentera. Kedatangan turis Jerman ini akan menjadi semacam pilot project dibukanya kembali sektor pariwisata yang sebelum pandemi Covid-19 menyumbang 12% dari total ekonomi Spanyol.
Protokol ketat diterapkan otoritas setempat. Begitu mendarat, para turis ini langsung dicek suhu tubuhnya. Pejabat setempat, Francina Armengol, juga mengnstruksikan agar mereka mematuhi aturan kesehatan dan keselamatan yang berlaku di sana.
“Virus ini masih menginfeksi, masih membunuh orang di seluruh dunia. Jadi sebelum ada vaksin, cara terbaik agar kita selamat adalah menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” katanya dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters.
Menurut seorang wisatawan, Marcel Leifholz, cuaca di sini tak mudah berubah seperti di Jerman jadi virus relatif lebih mudah mati. Apalagi pelaku industri pariwisata setempat telah siap dengan protokol kesehatan yang ketat .
Tingkat hunian hotel dibatasi hanya maksimal 50%. Pengelola hotel juga wajib melengkapi diri dengan kamera infra merah untuk mengukur suhu tubuh.
Sebagai salah satu negara tujuan wisata paling populer di dunia, Spanyol mulai bersiap diri menerima kunjungan turis dari luar Eropa per 1 Juli. Sementara itu negara-negara di Eropa mulai melonggarkan pengawasan di perbatasan sejak Senin, menyusul penurunan jumlah kasus covid-19.
Tahun lalu, sepertiga dari total turis asing yang berkunjung ke Kepulauan Balears adalah orang Jerman. Pemberlakukan kebijakan lockdown di Spanyol jelas berimbas pada industri pariwisata di Mallorca tetapi eksekutif senior TUI, Sebastian Ebel, mengatakan pulau itu punya alasan untuk berharap bisnis akan baik.
“Pulau Mallorca ini adalah tujuan favorit orang Jerman – kedekatan, keramahtamahan penduduknya, serta tingginya standar kesehatan mendorong orang, bahkan mereka yang masih ragu untuk bepergian, untuk segera berkunjung ke sini,” kata Evel saat konferensi Pers.
Pulau Mallorca di Spanyol, favorit turis Jerman (Foto: yahoo)
PHNOM PENH, bisniswisata.co.id: Olahan kacang kedele bergizi tinggi khas Indonesia, juga digemari masyarakat Kamboja (Cambodia). Masyarakat Kamboja mengenal tempe dengan baik, hanya mereka kurang paham mengolahnya. Tempe dapat disajakan dengan digoreng setelah direndam bumbu garam, ketumbar dan bawang putih yang dihaluskan. Jika cukup waktu dan tersedia bumbu- bumbu Nusantara, tempe dapat diolah menjadi makanan lezat, tempe bacem, tempe mendoan, botok tempe bahkan balado tempe.
Tatacara mengolah tempe menjadi balado tempe, merupakan salah satu strategi KBRI Phnom Penh memperkenalkan Indonesia. Salah satunya memperkenalkan bahasa Indonesia dengan strategi mengolah masakan Nusantara. Sempat mengolah nasi menjadi ragam nasi goreng dalam sesi belajar bahasa Indonesia bagi masyarakat Kamboja, sekaligus belajar bahasa Khmer bagi masyarakat Indonesia.
Pada kegiatan daring “Sapa Alumni dan Sahabat Khmer” serangkaian peluncuran e-book Cuplikan Kisah I-CAN, dipadukan dengan demo mengolah tempe menjadi balado tempe. Serta mengenalkan kehadiran start- up, Gibbor Tempe dan Warung Sumatra, sebagai salah satu warung Indonesia di Phnom Penh dengan menu khas Nusantara yang lezat.
Daring “Sapa Alumni dan Sahabat Khmer” diikuti alumni Indonesia di Kamboja yang tergabung dalam Indonesia-Cambodia Alumni Network (I-CAN), peserta Pusat Budaya Indonesia di Kamboja (Pusbudi Nusantara), para pemelajar bahasa Indonesia dari Sekolah Nurul Iman, Cambodia Islamic Center (CIC), Tentara Pasukan Khusus Kamboja 911 serta mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh program double degree di Kamboja
@KBRI Phnom Phen
Menurut Dubes RI untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng, daring dalam masa pandemic dilaksanakan untuk mengenal lebih dekat para alumni Indonesia di Kamboja, memupuk rasa persaudaraan dan mempererat Indonesian connection sebagai sebuah keluarga besar Indonesia.
KBRI juga menginisiasi penyusunan sebuah buku elektronik (e-book) cuplikan kenangan para alumni semasa di Indonesia. Terdapat 77 alumni mengisi e-book edisi pertama ini. Mereka adalah para alumni yang menempuh studi dari tahun 1990an hingga yang baru saja lulus pada tahun 2019.
“Saya mengharapkan akan ada edisi selanjutnya seiring dengan bertambahnya para alumni Indonesia di Kamboja.”, jelas Duta Besar RI, Sudirman Haseng.
Dalam catatan KBRI, sejumlah alumni Indonesia di Kamboja berhasil dan sukses meniti karir di berbagai bidang, bahkan ada juga yang bekerja pada berbagai kementerian strategis di Kamboja, seperti Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Pertanian, Perdagangan, Pariwisata, Agama, dan lain-lain. Para alumni diharapkan dapat terkoneksi dalam suatu wadah I-CAN.
“Mari kita saling mendukung, berbagi informasi/pengalaman tidak hanya antar sesama alumni, tetapi juga kepada keluarga, teman/masyarakat Kamboja lainnya tentang pendidikan dan kehidupan sosial budaya di Indonesia. Masing-masing pasti memiliki cerita, apalagi para Alumni tersebar di berbagai daerah, dari bagian barat, tengah hingga timur Indonesia.’, lanjut Dubes Sudirman.
Dubes RI juga menyampaikan bahwa KBRI Phnom Penh, menyambut baik berbagai inisiatif program dari para alumni untuk mendekatkan hubungan dan kerja sama bilateral kedua negara serta dengan masing-masing keahliannya dapat turut andil menjawab tantangan pembangunan bersama, baik di kawasan mau pun global.
Selain data terkini dan kesan-kesan 77 alumni dari berbagai latar pendidikan, buku elektronik ini juga terdiri dari sambutan Dubes RI, sambutan dari Neng Vannak sebagai Wakil I-CAN, serta beberapa artikel seperti ‘Sebelas Bulan di Indonesia’ oleh Chann Piseth, Juara Pertama Penulisan Artikel tentang Indonesia pada HUT ke-74 RI tahun lalu.
Artikel “Menjaring Alumni Indonesia di Kamboja” oleh Made Santi Ratnasari, Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud, serta Tips Mengurus Izin Belajar Di Indonesia oleh Hermawan Janu Wibowo/Sekretaris Pertama Fungsi Konsuler-Pensosbud KBRI Phnom Penh. Dalam Buku tersebut, terdapat pula persembahan puisi untuk alumni berjudul “Semangat dan Sahabat” oleh Saridin Tua Sinaga, Staf Lokal Fungsi Pensosbud.
Acara peluncuran buku dilanjutkan dengan presentasi tentang khasiat tempe oleh pengusaha Indonesia di Kamboja, Roland Uly Uju dari Gibbor Tempe. Kegiatan semakin semarak dengan adanya presentasi dari Chef Markus Dwinanta ditemani sang putra Markhel Timotius D. dari Warung Sumatra (Warsum) yang menjelaskan berbagai macam masakan nusantara diteruskan dengan demo masak tempe dan terong balado.
Acara interaktif ini, dipandu oleh Fakhri Fauzi, salah satu pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan Met Chandara, alumni Indonesia dari Universitas Jember. Selain via zoom, acara disiarkan langsung melalui KBRI Phnom Penh TV (Youtube) dan FB Live yang dalam kurun waktu 2.5 jam menjangkau 2.225 orang dengan 721 interaksi. Viewer tersebut terpantau berasal dari berbagai daerah di Kamboja seperti Phnom Penh, Kandal, Battambang, Sihanoukville dan Siem Reap. ***