Balado Tempe, di Peluncuran e-Book Indonesia-Cambodia

0
14

PHNOM PENH, bisniswisata.co.id: Olahan kacang kedele bergizi tinggi khas Indonesia, juga digemari masyarakat Kamboja (Cambodia). Masyarakat Kamboja mengenal tempe dengan baik, hanya mereka kurang paham mengolahnya. Tempe dapat disajakan dengan digoreng setelah direndam bumbu garam, ketumbar dan bawang putih yang dihaluskan. Jika cukup waktu dan tersedia bumbu- bumbu Nusantara, tempe dapat diolah menjadi makanan lezat, tempe bacem, tempe mendoan, botok tempe bahkan balado tempe.

Tatacara mengolah tempe menjadi balado tempe, merupakan salah satu strategi KBRI Phnom Penh memperkenalkan Indonesia. Salah satunya memperkenalkan bahasa Indonesia dengan strategi mengolah masakan Nusantara. Sempat mengolah nasi menjadi ragam nasi goreng dalam sesi belajar bahasa Indonesia bagi masyarakat Kamboja, sekaligus belajar bahasa Khmer bagi masyarakat Indonesia.

Pada kegiatan daring “Sapa Alumni dan Sahabat Khmer” serangkaian peluncuran e-book  Cuplikan Kisah I-CAN, dipadukan dengan demo mengolah tempe menjadi balado tempe. Serta  mengenalkan kehadiran start- up, Gibbor Tempe dan Warung Sumatra, sebagai salah satu warung Indonesia di Phnom Penh dengan menu khas Nusantara yang lezat.

Daring “Sapa Alumni dan Sahabat Khmer” diikuti alumni Indonesia di Kamboja yang tergabung dalam Indonesia-Cambodia Alumni Network (I-CAN), peserta Pusat Budaya Indonesia di Kamboja (Pusbudi Nusantara), para pemelajar bahasa Indonesia dari Sekolah Nurul Iman, Cambodia Islamic Center (CIC), Tentara Pasukan Khusus Kamboja 911 serta mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh program double degree di Kamboja

@KBRI Phnom Phen

Menurut Dubes RI untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng, daring dalam masa pandemic dilaksanakan untuk mengenal lebih dekat para alumni Indonesia di Kamboja, memupuk rasa persaudaraan dan mempererat Indonesian connection sebagai sebuah keluarga besar Indonesia.

KBRI juga menginisiasi penyusunan sebuah buku elektronik (e-book) cuplikan kenangan para alumni semasa di Indonesia. Terdapat 77 alumni mengisi e-book edisi pertama ini. Mereka adalah para alumni yang menempuh studi dari tahun 1990an hingga yang baru saja lulus pada tahun 2019.

“Saya mengharapkan akan ada edisi selanjutnya seiring dengan bertambahnya para alumni Indonesia di Kamboja.”, jelas Duta Besar RI, Sudirman Haseng.

Dalam catatan KBRI, sejumlah alumni Indonesia di Kamboja berhasil dan sukses meniti karir di berbagai bidang, bahkan ada juga yang bekerja pada berbagai kementerian strategis di Kamboja, seperti Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Pertanian, Perdagangan, Pariwisata, Agama, dan lain-lain.  Para alumni diharapkan dapat terkoneksi dalam suatu wadah I-CAN.

“Mari kita saling mendukung, berbagi informasi/pengalaman tidak hanya antar sesama alumni, tetapi juga kepada keluarga, teman/masyarakat Kamboja lainnya tentang pendidikan dan kehidupan sosial budaya di Indonesia. Masing-masing pasti memiliki cerita, apalagi para Alumni tersebar di berbagai daerah, dari bagian barat, tengah hingga timur Indonesia.’, lanjut Dubes Sudirman.

Dubes RI juga menyampaikan bahwa KBRI Phnom Penh, menyambut baik berbagai inisiatif program dari para alumni untuk mendekatkan hubungan dan kerja sama bilateral kedua negara serta dengan masing-masing keahliannya dapat turut andil menjawab tantangan pembangunan bersama, baik di kawasan mau pun global.

Selain data terkini dan kesan-kesan 77 alumni dari berbagai latar pendidikan, buku elektronik ini juga terdiri dari sambutan Dubes RI, sambutan dari Neng Vannak sebagai Wakil I-CAN, serta beberapa artikel seperti ‘Sebelas Bulan di Indonesia’ oleh Chann Piseth, Juara Pertama Penulisan Artikel tentang Indonesia pada HUT ke-74 RI tahun lalu.

Artikel “Menjaring Alumni Indonesia di Kamboja” oleh Made Santi Ratnasari, Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud, serta Tips Mengurus Izin Belajar Di Indonesia oleh Hermawan Janu Wibowo/Sekretaris Pertama Fungsi Konsuler-Pensosbud KBRI Phnom Penh. Dalam Buku tersebut, terdapat pula persembahan puisi untuk alumni berjudul “Semangat dan Sahabat” oleh Saridin Tua Sinaga, Staf Lokal Fungsi Pensosbud.

Acara peluncuran buku dilanjutkan dengan presentasi tentang khasiat tempe oleh pengusaha Indonesia di Kamboja, Roland Uly Uju dari Gibbor Tempe. Kegiatan semakin semarak dengan adanya presentasi dari Chef Markus Dwinanta ditemani sang putra Markhel Timotius D. dari Warung Sumatra (Warsum) yang menjelaskan berbagai macam masakan nusantara diteruskan dengan demo masak tempe dan terong balado.

Acara interaktif ini, dipandu oleh Fakhri Fauzi, salah satu pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan Met Chandara, alumni Indonesia dari Universitas Jember. Selain via zoom, acara disiarkan langsung melalui KBRI Phnom Penh TV (Youtube) dan FB Live yang dalam kurun waktu 2.5 jam menjangkau 2.225 orang dengan 721 interaksi. Viewer tersebut terpantau berasal dari berbagai daerah di Kamboja seperti Phnom Penh, Kandal, Battambang, Sihanoukville dan Siem Reap. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.