Etihad Airways Luncurkan Penerbangan Langsung Pertamanya dari Abu Dhabi ke Kamboja.

this formate

PHNOM PENH, bisniswisata.co.id: Etihad Airways meluncurkan penerbangan langsung dari Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, ke Bandara Internasional Techo di Kamboja mulai 3 Oktober 2025. Rute baru ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah penumpang dan wisatawan internasional yang berkunjung ke Kamboja secara signifikan.

Pengumuman ini disampaikan oleh Charles Tan, Direktur Pelaksana Regional untuk Asia & Australia di Etihad Airways, dalam kunjungan kehormatan kepada Huot Hak, Menteri Pariwisata Kamboja, di Phnom Penh.

Dalam pertemuan tersebut, Tan memberikan pengarahan kepada Menteri mengenai kegiatan bisnis maskapai saat ini dan mengupayakan kerja sama, dukungan, dan arahan strategis untuk operasional mendatang di Kamboja.

Menteri Huot Hak menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Etihad Airways atas pengakuannya terhadap potensi pariwisata Kamboja yang terus berkembang.

Dia juga berterima kasih kepada perusahaan atas kepercayaannya terhadap kepemimpinan dan visi jangka panjang Pemerintah Kerajaan, sebagaimana tercermin dalam keputusan untuk mengoperasikan penerbangan langsung ke Kamboja.

Menteri menggambarkan pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang penting dan bermanfaat dan menekankan bahwa jalur udara baru ini akan memainkan peran penting dalam menghubungkan Kamboja dengan destinasi-destinasi global dan semakin mempromosikan sektor pariwisata negara tersebut.

Maskapai penerbangan kelas dunia Etihad Airways secara resmi meluncurkan penerbangan langsung pertamanya dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, ke Kamboja, dengan pendaratan perdana di Bandara Internasional Techo pada 4 Oktober.

Dilansir dari khmertimes.com, penerbangan langsung bersejarah ini menandai dimulainya era baru dalam penerbangan bagi Kamboja—menghubungkan Kerajaan dengan dunia dan dunia dengan Kamboja.

Tonggak sejarah ini ditegaskan oleh Huot Hak, Menteri Pariwisata (MoT), yang memimpin delegasi dari Kementerian, bersama dengan para pemimpin penerbangan sipil dan perwakilan sektor swasta, menyambut pendaratan pertama maskapai tersebut dengan hangat.

“Ini adalah kebanggaan bangsa Khmer. Kamboja merayakan penerbangan langsung pertama dalam sejarah oleh maskapai kelas dunia Etihad Airways dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab,” ujar Hak.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri menekankan bahwa koneksi ini tidak hanya memenuhi permintaan wisatawan internasional yang terus meningkat, tetapi juga mencerminkan kemajuan pesat sektor penerbangan Kamboja dalam beberapa tahun terakhir.

“Pencapaian ini menunjukkan upaya tak kenal lelah dari Pemerintah Kerajaan Kamboja (RGC), Legislatif ke-7 Majelis Nasional, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Hun Manet yang realistis,” tegas Hak.

Menurut Etihad Airways (Kamboja), mulai 3 Oktober 2025, maskapai ini telah meluncurkan penerbangan langsung pertamanya dari Abu Dhabi ke Phnom Penh.

Penerbangan perdana ini mengangkut 154 penumpang, dengan 90 penumpang berangkat dari Kamboja dan kembali ke Abu Dhabi. Penerbangan ini memakan waktu lebih dari 7 jam, tanpa henti, dan akan beroperasi empat kali seminggu

Sapta Nirwandar: Multiplier Effect Sport Tourism Dasyat

this formate

Pembalap motor dunia di ajang MotoGP Mandalika. ( Foto: Astraoto)

JAKARTA, bisniswisata co.id: Olahraga dan pariwisata atau disebut sport tourism merupakan kegiatan penting dalam menjaring kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi, promosi budaya, kesehatan, dan keberlanjutan.

“ Sport Tourism bukan sekedar olahraga melainkan sebuah pengalaman wisata yang menghidupkan daerah dan masyarakat. Oleh karena itu saat menjadi Dirjen Pemasaran di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, kami sudah berinisiatif menyelenggarakan Tour de Singkarak pertama pada 29 April- 3 Mei 2009,” jelas Sapta.

Bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Union Cycliste Internationale (UCI), badan dunia balap sepeda.Tujuan awalnya mempromosikan Danau Singkarak sebagai ikon pariwisata Sumatera Barat. Sekaligus memperkenalkan konsep baru di Indonesia: sport tourism berbasis alam dan budaya.

“Induknya sport tourism sebenarnya dari kegiatan MICE atau Meeting Incentive, Confrence & Exhibition dimana untuk kegiatan incentive di buat beragam kegiatan termasuk wisata olahraga. Hampir semua cabang olahraga dapat dipadukan dengan wisata namun yang menjadi ukuran adalah jenis olahraga yang akan menyedot ribuan peserta seperti Chicago Maraton 12 Oktober lalu, “ tambahnya.

Menurut dia, Sport tourism menjadi semakin penting di dunia pariwisata modern karena menggabungkan dua sektor besar yang sama-sama punya dampak ekonomi, sosial, dan budaya tinggi yaitu pariwisata dan olahraga.

Mengapa sport tourism penting ? karena meningkatkan perekonomian daerah dan event olahraga seperti marathon, triathlon, atau turnamen tenis, sepak bola internasional menarik ribuan penonton wisatawan domestik dan mancanegara.

Sementara jika membuat event cabang selam dunia maka pesertanya terbatas, tambahnya.
Untuk Chicago marathon yang baru usai misalnya, baik peserta, penonton dan keluarga yang dibawanya mengeluarkan uang untuk akomodasi, transportasi, kuliner, dan cinderamata, yang berarti perputaran ekonomi lokal meningkat signifikan.

“Contoh lain Jakarta Marathon atau Tour de Singkarak terbukti meningkatkan pendapatan sektor pariwisata dan UMKM di daerah penyelenggara,” ungkap Sapta Nirwandar pemegang paten acara Jakarta Marathon ini.

Selan itu sport tourism bisa sekaligus mempromosikan Destinasi Wisata karena membuat daerah lebih dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Media massa dan era digital biasanya menyorot destinasi, budaya lokal, dan keindahan alam sekitar acara olahraga. Oleh karena itu kegiatan Ironman Bali atau Borobudur Marathon bukan hanya tentang lomba, tapi juga tentang memperkenalkan Bali dan Magelang ke dunia.

Sapta yang juga ketua Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia. (Fokbi ) dan founder Jakarta Marathon ini mengatakan sport tourism mendorong gaya hidup sehat dan aktif serta menumbuhkan budaya “travel for wellness”, yaitu berwisata sambil tetap menjaga kesehatan dan kebugaran.

Banyak peserta datang bukan hanya untuk lomba, tetapi juga untuk healing, relaksasi, dan memperkuat hubungan sosial.Manfaat lainnya adalah tingkatkan solidaritas dan kebanggaan komunitas seperti loyalitas supporter bola Indonesia yang mendukung tim sepak bolanya kemanapun berlaga seperti di Arab Saudi yang lalu.

Masyarakat lokal sering terlibat sebagai panitia, relawan, penyedia jasa, atau penonton. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan, solidaritas, dan bangga terhadap daerahnya. Selain itu, bisa memperluas jejaring antar komunitas olahraga dan antar bangsa.

Sapta juga menjelaskan bahwa event olahraga besar biasanya memicu pembangunan fasilitas baru seperti stadion, jalan, hotel, dan area publik yang lebih tertata. Setelah acara, fasilitas ini dapat dimanfaatkan kembali untuk masyarakat umum dan wisatawan.

Jika dikelola dengan baik, sport tourism mendorong pelestarian lingkungan (karena kegiatan outdoor menuntut alam yang bersih dan sehat). Hal ini mendorong pariwisata jangka panjang karena wisatawan cenderung datang kembali untuk event tahunan berikutnya.

“ Portugal dikenal setelah menjadi tuan rumah World Cup, Qatar juga menurut UN Tourism angka kunjungan wisatawan mancanegaranya meningkat tertinggi di dunia karena pernah menjadi tuan rumah sepakbola dunia dengan hospitality Islami dan tidak ada alkohol yang beredar,” kata Sapta mengingatkan.

Di era digital ini event-event berkelas juga karena panitia, pemain, para pendukung, ( komunitas), keluarga, para sponsor harus pro-aktif berpromosi di media sosial. Efek berganda dari marathon, turnamen tenis, sepak bola dan event yang keberlangsungan kegiatannya bisa terus dan berkelanjutan bisa diprediksi penghasilan atau keuntungan, dari tiket, hak siaran dan lain-lainnya, jelasnya.

Pemain sepakbola dunia yang berlaga di lapangan dua tim jadi jumlah pemainnya per tim  terdiri dari sebelas orang ditambah para pemain cadangan dengan salah satu di antara mereka menempati posisi kiper.

“Di arena lapangan yang berlaga dua tim jadi 22 org plus wasit, pemain cadangan, petugas – petugas misalnya total hanya 50 orang. Di stadion yang menonton langsung bisa 80 ribu orang, namun penonton online lewat TV dan media lain bisa jutaan orang,”

Bagi televisi yang ingin menyiarkan langsung bayar ke panitia jadi bagi pemerintah pusat maupun daerah dimanapun sudah bisa memprediksi keuntungannya. Oleh karena itu mengapa ragu membuat event sport tourism ?” tegas Sapta.

Jadi, tambahnya, kalau Indonesia mau menjaring kunjungan wisman yang banyak, ciptakanlah event-event sport tourism yang konsisten dalam penyelenggaraan dan masuk agenda dunia.

“Kementrian yang punya Calender of Event adalah Kementrian Pariwisata jadi berkolaborasilah dengan Kementerian Ekraf, Kementrian Pemuda dan Olahraga agar hasilnya event international yang dasyat,”

Indonesia juga rajanya lautan, adakah event sailing yang mendunia yang sudah diciptakan dan mampu men jaring para yachter untuk berkompetisi di wilayah perairan laut kita ?, ungkapnya mengundang kreativitas sport tourism yang baru di negara kepulauan ini.

TdS, Sport Tourism Legendaris yang Tinggal Kenangan.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Salah satu tonggak penting dalam sejarah sport tourism Indonesia adalah penyelenggaraan balap sepeda Tour de Singkarak ( TdS) yang mulai diluncurkan tahun 2009 dan dilihat dari berbagai ukuran kesuksesan seharusnya bisa berumur panjang.

Namun yang terjadi sebaliknya rendahnya tingkat sadar wisata dikalangan pejabat di Sumatera Barat membuat event yang telah dibangun selama 10 tahun menjadi vakum hingga sekarang seolah tak mampu bangkit lagi setelah COVID-19.

Tour de Singkarak (TdS) sempat menjadi ikon sport tourism Indonesia, tetapi pelaksanaannya kurang konsisten dari sisi tahunan dan dukungan lintas pihak terutama pemerintah daerah setelah pandemi.

Padahal ukuran keberhasilan dari aspek pariwisata menjadi jembatan promosi destinasi karena pada TdS 2013, tahun penyelenggaraan yang dinilai terbaik diikuti oleh 20 tim dari 14 negara, melintasi 16 kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Acara ini menampilkan keindahan alam seperti Danau Maninjau, Lembah Harau, Bukittinggi, dan Pantai Carocok — semuanya disiarkan secara internasional lewat media dan televisi.
Hasilnya Sumatera Barat semakin dikenal sebagai destinasi sport tourism dunia, bukan hanya wisata budaya dan kuliner dengan madakan rendang yang makin mendunia, dampak kunjungan wisatawan juga meningkat.

Data Dinas Pariwisata Sumbar menunjukkan peningkatan wisatawan domestik dan mancanegara sekitar 10–15% pada tahun itu.
Banyak wisatawan datang tidak hanya sebagai penonton lomba, tapi juga memperpanjang masa tinggal untuk berwisata yang menjadi indikator keberhasilan pariwisata berkelanjutan.

Sementara itu dari sisi ukuran ekonomi maka peningkatan pendapatan dari event Tour de Singkarak memutar ekonomi di sektor hotel, restoran, transportasi lokal, dan UMKM sekitar Rp 70–80 miliar selama event berlangsung.
Pemerintah daerah menilai TdS 2013 jauh lebih efisien dibanding promosi pariwisata konvensional karena efek publikasinya luas. Sementara dari branding ekonomi kreatif banyak produk lokal — seperti tenun, songket, makanan khas Minang — tampil dalam side events dan bazaar di setiap etape, memperkuat citra ekonomi kreatif daerah.

Untuk ukuran olahraga atau sporting success nya terutama kualitas kompetisi internasional maka TdS 2013 masuk dalam kalender resmi Union Cycliste Internationale (UCI), kategori 2.2, artinya diakui sebagai ajang balap profesional internasional.

Rute sepanjang 1.181 km menantang dan indah, kombinasi ideal antara sport dan tourism. Pembalap dari Jepang, Iran, Australia, dan Indonesia bersaing ketat menandakan kompetisi berkualitas tinggi.

Pembalap Indonesia berhasil masuk dalam peringkat baik di beberapa etape, menunjukkan perkembangan kemampuan atlet lokal. untuk ukuran publikasi event ini diliput oleh lebih dari 200 media nasional dan internasional, termasuk ESPN Asia, Trans7, dan media ASEAN.

Keberhasilan penyelenggaraannya menjadi pemberitaan positif tentang keamanan, keindahan alam, dan keramahan masyarakat Sumatera Barat sehingga memperkuat nation branding Indonesia.

Dari ukuran sosial dan budaya TdS telah menyemangati warga lokal terutama di sepanjang rute aktif menyambut peserta baik berupa atraksi budaya, tari-tarian, dan festival kuliner yang memperkuat rasa bangga. Partisipasi sosial seperti ini menjadi salah satu kunci keberhasilan sport tourism.

Apalagi bagi masyarakat, sebelum penyeleng-garaan maka ruas-ruas jalan dan fasilitas umum diperbaiki di banyak kabupaten, terutama yang menjadi titik start dan finish. Infrastruktur tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat setelah event selesai.

Walaupun sukses besar, beberapa tantangan masih ada hingga sekarang terutama Koordinasi antar daerah kadang belum optimal (karena melibatkan banyak kabupaten/kota). Promosi digital masih terbatas pada saat itu (belum maksimal di media sosial global) dan sustainability plan belum cukup kuat untuk menjaga momentum pariwisata pasca-event.

Ibarat pepatah sekali berlayar , dua – tiga pulau terlampaui maka dari satu event ini promosi pariwisata, dampak ekonomi, kualitas event, publisitas media, partisipasi masyarakat dan event keberlanjutan sudah langsung dirasakan hasilnya oleh Pemda dan masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa penghasil milyaran rupiah ini tidak diperjuangkan kelanjutannya ?.

Padahal kalau mengulik sejarah singkat TdS sejak awal tujuan awalnya adalah mempromosikan Danau Singkarak sebagai ikon pariwisata Sumatera Barat. Sekaligus memperkenalkan konsep baru di Indonesia: sport tourism berbasis alam dan budaya.

Faktor penting TdS pertama pada 29 April-3Mei itu antara lain event ni masul kategori UCI: 2.2 (masuk kalender resmi UCI Asia Tour), Peserta: 15 tim dari 10 negara. Rute: sekitar 459 km, melintasi kota dan kabupaten utama di Sumatera Barat, seperti Padang, Bukittinggi, Sawahlunto, dan Solok.

Pemenang pertama: Ghader Mizbani (Iran) dan pemenang meraih total hadiah: sekitar US$60.000 dimana saat itu termasuk besar untuk event Asia Tenggara

Dampak langsung setelah event pertama adalah TdS menjadi branding pariwisata Sumbar yang sangat kuat; setelah itu, event berkembang lebih besar tiap tahun.

Tahun 2010–2019, cakupan rutenya semakin luas, Namun sejak 2020 (karena pandemi COVID-19), pelaksanaannya terhenti beberapa kali, lalu tidak konsisten dalam kalender nasional hingga sekarang.

Dari 2009 sampai 2019, TdS relatif aktif tiap tahun. Tidak ada tahun dengan info resmi bahwa acara dibatalkan selain setelah 2019.Keberlanjutan yang kuat selama satu dekade penuh menunjukkan dukungan pemerintah, komunitas, dan fasilitas yang memadai (infrastruktur, rute, sponsor).

Diakui pandemi COVID-19 menjadi titik di mana konsistensi terganggu: 2020 vakum, dan 2021 direncanakan tetapi belum jelas sampai mana persiapan kelanjutannya, begitu juga 2023 akan dilaksanakan namun hingga 2025 masih tinggal dalam ingatan alias belum ada kelanjutan.

Sadar wisata ternyata sebatas dipahami oleh para pengelola desa wisata atau tetap milik rakyat bukan dalam tekad pejabat maupun para saudagar Minang yang berjaya di dalam dan mancanegara. Mereka belum mampu memperjuangkan event tahunan yang mampu mensejerahterakan rakyatnya sendiri seperti janji-janji kampanye yang menempatkannya sebagai Kepala Daerah.

Bangsa Indonesia yang dimata dunia kini menjadi bangsa yang punya mental dan tekad  kuat karena kesetiaannya mengawal kemanusiaan bangsa Palestina srmoga menjadi inspirasi bagi pejabat dan rakyat Sumbar untuk menjadikan TdS kembali mendunia. Ayo tunjukkan nyali dan nurani bangkitkan lagi sport tourism kebanggaan. Semoga!
.

Rencana Pariwisata Hijau Thailand 2030 Majukan Masa Depan Berkelanjutan

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Peta jalan nasional menempatkan merek “Thailand Good Travel” sebagai tolok ukur global untuk pariwisata berkelanjutan dan mendukung ambisi Thailand masuk dalam 100 destinasi berkelanjutan teratas dunia.

Departemen Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Olahraga, telah meluncurkan “Rencana Pariwisata Hijau Thailand 2030”, yang menandai tonggak sejarah dalam perjalanan bangsa menuju pariwisata berkelanjutan.

Inti dari inisiatif ini adalah “Thailand Good Travel”, sebuah standar tepercaya yang diciptakan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Thailand dan memperkuat ambisi negara tersebut untuk diakui sebagai salah satu dari 100 destinasi berkelanjutan terbaik dunia.

Natreeya Taweewong, Sekretaris Tetap Kementerian Pariwisata dan Olahraga, mengatakan, “Pariwisata Thailand berada di titik balik. Kita harus mengatasi tantangan perubahan iklim dan aturan global baru tentang perlindungan lingkungan sekaligus memenuhi harapan wisatawan masa kini.

Rencana pariwisata hijau Thailand 2030
Menggarisbawahi tekad kami untuk diakui sebagai destinasi berkelanjutan kelas dunia. Dengan menyelaraskan destinasi dan operator berstandar internasional, kami akan menciptakan industri pariwisata yang tumbuh secara bertanggung jawab sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya dan sosial untuk generasi mendatang.

Dipandu oleh tema ‘Memicu Jalan Menuju Kesuksesan Hijau Global’, Rencana Pariwisata Hijau Thailand 2030 menyatukan empat mitra utama: Departemen Pariwisata, Mahidol University International College sebagai Pusat Akselerasi Pariwisata Berkelanjutan (STAC Thailand), Green Destinations Foundation, dan Travelife untuk Operator Tour.

Mereka bergabung dengan 49 mitra dari berbagai lembaga pemerintahan, akademisi, dan sektor swasta, yang bekerja sama untuk mempercepat praktik berkelanjutan dan menghasilkan dampak kolektif yang lebih besar.

Merek Thailand Good Travel berfungsi sebagai simbol nasional keberlanjutan yang diukur berdasarkan standar internasional. Sertifikasi ini berlaku untuk destinasi, perusahaan pariwisata komunitas, akomodasi skala kecil hingga 50 kamar, dan operator tour, yang mengakui praktik yang seimbang di seluruh dimensi lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi.

Dikembangkan dengan mengacu pada kriteria Global Sustainable Tourism Council (GSTC) dan diperkuat oleh keahlian dari Green Destinations Foundation dan Travelife for Tour Operators, merek ini meyakinkan wisatawan dan mitra bisnis di seluruh dunia bahwa mengunjungi Thailand adalah pilihan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Didefinisikan sebagai Merek Kepercayaan: Perjalanan Terverifikasi, Nilai Abadi, logo Thailand Good Travel menggabungkan gambar gajah dengan gadingnya sebagai tanda centang, yang mencerminkan identitas Thailand dan janjinya terhadap kualitas internasional. Palet hijau neon dan oranye melambangkan inovasi digital dan fenomena alam yang dahsyat yang mengingatkan umat manusia akan perubahan iklim.

Berfungsi sebagai jembatan antara standar keberlanjutan Thailand dan global, sertifikasi ini membangun kepercayaan internasional terhadap Thailand sebagai destinasi berkualitas yang memadukan perjalanan yang bertanggung jawab dan kesuksesan bisnis jangka panjang.

Sertifikasi ini juga menyediakan mekanisme untuk mengintegrasikan bisnis, komunitas, dan destinasi pariwisata Thailand ke dalam rantai nilai global, yang memungkinkan mereka bersaing secara internasional sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang seimbang di tingkat nasional.

Untuk memastikan Rencana Pariwisata Hijau Thailand 2030 memberikan hasil nyata, Departemen Pariwisata memperkuat kapasitas industri melalui inisiatif seperti program Pelatih Hijau Thailand.

Para mentor ini membimbing bisnis pariwisata dalam menerapkan dan memenuhi standar keberlanjutan internasional. Sepanjang Oktober 2025, lokakarya diadakan di Chachoengsao, Chiang Rai, Nakhon Si Thammarat, dan Nakhon Ratchasima, yang memberikan kesempatan praktis bagi operator untuk belajar, menilai sendiri, dan melaporkan kemajuan keberlanjutan mereka melalui platform nasional.

Jaturon Phakdeewanich, Direktur Jenderal Departemen Pariwisata, mengatakan, Mempersiapkan destinasi dan bisnis kami untuk memenuhi standar keberlanjutan internasional merupakan langkah penting dalam membangun kepercayaan global terhadap pariwisata Thailand.

Melalui program Thailand Green Coach dan lokakarya regional, kami membekali para operator dengan pengetahuan dan perangkat yang mereka butuhkan untuk memenuhi syarat mendapatkan sertifikasi Thailand Good Travel dan bersaing di panggung dunia.

Tahun ini, 30 destinasi dan bisnis akan dinominasikan untuk daftar 100 Destinasi Hijau Teratas dan kompetisi Good Travel Stories. Peserta yang berhasil akan dianugerahi sertifikasi Thailand Good Travel sebagai bukti komitmen mereka, yang dengan demikian memperkuat kepercayaan di antara wisatawan dan mitra sekaligus meletakkan fondasi bagi pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang.

Nights Of Fright’ 2025: Kunjungi Festival Halloween Terlama di Malaysia

this formate

               Nights of Fright 2025 Foto:@sunwaylagoonmalaysia/Instagram

Nikmati ‘Nights of Fright’ edisi ke-11 di Kuala Lumpur, yang menampilkan rumah hantu, wahana seru, dan kengerian Halloween yang imersif

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Tahun 2025 akan menjadi tuan rumah edisi ke-11 ‘Nights of Fright’ (NOF 11), festival horor terbesar di ASEAN dan terakbar di Malaysia. Berlangsung dari 26 September hingga 2 November pukul 19.30 hingga 23.30.

Dilansir dari travelandleisureasia.com
Pertunjukan spektakuler ini  menghadirkan delapan rumah hantu, satu teater hantu, tiga zona menakutkan, 11 wahana menegangkan, dan dua panggung pertunjukan. Nights of Fright berlangsung di Sunway Lagoon di Sunway City, Kuala Lumpur, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Simak juga tempat-tempat paling berhantu untuk dikunjungi di Malaysia saat Halloween ini (jika Anda berani).

Musim Halloween ini, ‘Puppetmaker’ telah mengambil alih festival Nights of Fright 2025 dan ia mengatur mimpi buruk yang menyeramkan dan menegangkan serta ketakutan yang digerakkan oleh cerita, satu pengalaman NOF 11 pada satu waktu.

Sebagai bagian dari Nights of Fright, atraksi baru yang menonjol tahun ini adalah The Blind Box, yang terinspirasi oleh Blind Box Craze global. Sebagai bagian dari pengalaman ini, para tamu harus menemukan jalan keluar dari labirin berhantu yang menakutkan, bergaya seperti kotak mainan koleksi.

Set dan Lokasi Film Horor Internasional Terbaik yang Dapat Anda Kunjungi:

Amerika Utara

Kota Kecil di Minnesota Ini Disebut ‘Ibu Kota Halloween Dunia’ Lalu ada Fortunes & Freaks, karnaval seram yang dipenuhi kartu tarot terkutuk dan kengerian pertunjukan aneh, menurut laporan The Sun.

Menggabungkan semua atraksi menyeramkan dalam Nights of Fright adalah The Puppet Maker, karakter yang terinspirasi dari Venesia dengan kendali dan tali yang menggantung.

Atraksi lain dalam Nights of Fright antara lain Karak: The Kampong Killers (yang dibangun berdasarkan legenda urban Malaysia yang sangat populer), Tiki Terror (yang mengubah jalur luar ruangan tempat tersebut menjadi semacam hutan terkutuk), dan The Scary Tales Theatre (di mana aktris Malaysia Nadia Brian berperan sebagai Pontianaxe yang bersenjatakan kapak), dan masih banyak lagi.

Alih-alih berfokus sepenuhnya pada penggemar horor sejati, Nights of Fright 2025 akan memasukkan unsur hiburan dan tawa, menciptakan pengalaman yang cocok untuk pengunjung dengan toleransi yang berbeda-beda terhadap horor.

DOT Janji Rencanakan Transformasi Berkelanjutan untuk Pariwisata Filipina

this formate

Banaue Rice Terraces di Filipina yang tidak hanya indah, melainkan menyimpan cerita budaya dan sejarah (Dok. Guide To Philippines)

MANILA, bisniswisata.co.id: Sawah Terasering di Banaue, Provinsi Ifugao, merupakan objek wisata utama di Luzon Utara. Pemerintah Filipina pada hari Pariwisata Dunia lalu bergabung dengan negara-negara di dunia untuk memperjuangkan sektor pariwisata yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan planet ini.

Pemerintah  berjanji untuk memperjuangkan sektor pariwisata yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan planet ini.
Negara-negara merayakan Hari Pariwisata Dunia 2025 pada 27 September, dengan tema “Pariwisata dan Transformasi Berkelanjutan”, yang menyoroti potensi sektor ini untuk menjadi agen perubahan positif.

“Badai yang kita hadapi mengingatkan kita mengapa transformasi harus berkelanjutan, transformasi yang membangun komunitas yang lebih kuat, menjaga warisan alam dan budaya kita, serta menciptakan peluang yang berkelanjutan,” kata Departemnt of Tourism Filupina dalam sebuah pernyataan.

Melalui pembangunan yang bertanggung jawab, praktik ramah lingkungan, dan pertumbuhan inklusif, Filipina sedang memetakan jalur di mana pariwisata menjadi pendorong kemakmuran sekaligus penjaga masa depan.

Dalam pesan video khusus, badan tersebut juga memberikan penghormatan dan pengakuan atas kontribusi seluruh garda terdepan dan pemangku kepentingan pariwisata Filipina dalam memperkuat posisi Filipina sebagai destinasi pilihan utama.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan pariwisata sebagai pendorong transformasi yang kuat yang tidak hanya berkontribusi pada pembangunan tetapi juga menjembatani budaya dan melestarikan tradisi.

“Namun, pariwisata juga dapat merusak tempat dan komunitas yang dirayakannya. Di tengah dunia yang menghadapi kerusakan iklim dan meningkatnya ketimpangan, kita membutuhkan tindakan yang berani, mendesak, dan berkelanjutan yang mengutamakan manusia dan planet,” ujarnya.

Tema tahun ini – Pariwisata dan Transformasi Berkelanjutan – mengajak kita untuk bertindak. Artinya, berinvestasi dalam pendidikan dan keterampilan, terutama bagi perempuan, pemuda, dan komunitas terpinggirkan.

Selain itu mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah; serta memajukan aksi iklim dengan mengurangi emisi di seluruh sektor pariwisata, melestarikan keanekaragaman hayati, dan melindungi ekosistem yang rapuh. (PNA)

Penerbangan langsung Philipinne Airlines (PAL) Cebu-Guam mulai 16 Desember 2025

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Maskapai penerbangan Philippine Airlines (PAL) akan membuka penerbangan langsung Cebu-Guam mulai 16 Desember.

Penerbangan dari Cebu ke Guam akan beroperasi setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 21.40, tiba pukul 03.25 waktu setempat.
Penerbangan Guam ke Cebu akan beroperasi setiap Rabu, Jumat, dan Minggu pukul 05.15, tiba pukul 06.50.Penerbangan ini akan menggunakan pesawat Airbus A321ceo.

“Layanan baru ini meningkatkan peran Cebu sebagai pintu gerbang strategis ke pasar internasional, sekaligus menyediakan akses langsung ke wilayah Visayas dan Mindanao bagi komunitas Filipina yang besar di Guam dan wisatawan dari wilayah Pasifik AS,” ujar Presiden PAL, Richard Nuttall, dalam sebuah pernyataannya.

Menurut PAL, komunitas Filipina di Guam mencakup hampir 30 persen dari 179.000 penduduknya.Penerbangan nonstop baru ini, ujar Nuttall, mencerminkan komitmen PAL untuk mengembangkan jaringannya dan mendukung arus ekonomi dan pariwisata antara Filipina dan Guam,” ujar Athanasios Titonis, CEO Aboitiz Infracapital Cebu Airport Corporation, dalam siaran pers.

Rute langsung ini juga memperkuat peran Cebu sebagai gerbang internasional bagi pelancong bisnis dan rekreasi.”Kami sangat senang dapat menghadirkan kembali penerbangan langsung ke Amerika Serikat dengan peluncuran rute Cebu-Guam.

Rute ini tidak hanya mempercepat dan mengefisienkan perjalanan antar pulau, tetapi juga menciptakan gerbang yang lebih kuat bagi pengunjung dari wilayah Pasifik AS dan Asia, sehingga mendorong pariwisata dan pertukaran ekonomi bagi kedua destinasi,” (PNA)

Perinma Menggelar “This is Indonesia” Padukan Eksibisi dengan Interaktif Workshop

this formate

VUGHT, Belanda, bisniswisata.co.id: Acara Perinma kali ini memang tidak biasa. Ruangan berkapaditas 500 orang penuh dengan bule-bule yang sebagian mengenakan kebaya dan keseriusan mengikuti  beberapa workshop.

Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju (Perinma) pekan lalu menggelar acara dengan tema This is Indonesia di Vught, Belanda, Sabtu (4/10/2025). Acara diaspora Indonesia ini menghadirkan konsep unik, memadukan eksibisi dengan interaktif workshop.

Acara tersebut dihadiri ratusan pengunjung yang mayoritas merupakan orang asing warga Belanda yang tinggal di sekitar lokasi kegiatan. Bahkan tidak sedikit warga asing dari Jerman juga ikut menghadiri kegiatan This is Indonesia.

Kapasitas gedung yang hanya mampu menampung 500 peserta terlihat padat namun tetap nyaman. Jika sebelumnya konsep acara kegiatan Indonesia umumnya berfokus pada tontonan pasif seperti pertunjukan tarian dan nyanyian semata, This is Indonesia menghadirkan pengalaman baru.

Mereka mengajak peserta untuk benar-benar merasakan budaya Indonesia secara langsung. Di Heidiland Perinma mengundang peserta untuk belajar membatik , memasak bersama, belajar tarian tradisional, memainkan angklung, hingga berbagai aktivitas interaktif lainnya.

Pengunjung tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut terlibat dan merasakan kekayaan budaya Indonesia. Lebih dari itu, acara ini juga menampilkan ratusan produk UMKM Indonesia yang libatkan para pengrajin dari Yogyakarta dan sekitarnya.

Hal yang menarik dari Perinma adalah, sebagai perhimpunan nirlaba mampu menanggung seluruh biaya produksi maupun pengiriman produk ke Eropa. Ini sebagai bukti nyata dalam mendukung UMKM di Indonesia untuk memasarkan produk di Eropa tanpa risiko kerugian.

Banyak upaya promosi UMKM produk Indonesia di Eropa yang justru hanya berupa iming-iming masuk pasar Eropa, sementara pelaku UMKM yang menanggung risiko kerugian seperti barang tidak laku dan omset pameran tidak sesuai janji komersil yang mereka terima.

”Kami melalui Perinma hanya ingin memberi, bukan bisnis dan bukan tempat kami mencari sumber penghasilan, sehingga kami memastikan, pelaku UMKM tidak memiliki kerugian apapun,” kata Ketua Pelaksana Program This is Indonesia Tri Ambar Indriasti-Hafner.

Ketua Departmen Budaya dan Pariwisata Perinma ini menerangkan, kegiatan ini pengalaman mereka pertama kali menyelenggarakan kegiatan eksibisi interaktif sehingga tidak berani membuat yang terlalu besar.

Selain itu juga mereka ingin meyakinkan semua peserta dapat merasakan pengalaman langsung berinteraksi dengan budaya Indonesia. ”Syukur Alhamdulilah, ternyata minat yang hadir melebihi ekspektasi kami. Untungnya kami siap dengan peralatan extra seperti canting dan kain untuk membatik,” tambahnya.

Sepanjang acara, para tamu yang didominasi orang asing ini tampak betah dan asyik menikmati rentetan kegiatan. Kegiatan membatik misalnya, diikuti segala usia, dari muda sampai tua.

Mereka serius mengikuti instruksi dari pembatik dari awal menggambar sampai merebus kainnya. Sementara dalam kegiatan memasak bersama, peserta antusias dari awal mendengarkan penjelasan tentang bumbu dan rempah sampai akhir mencicipi hidangan hasil masak bersama.

Kegiatan menari dan bermain angklung juga tidak kalah menarik. Semua partisipan tampak bersenang-senang mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh instruktur.

Acara yang terbuka untuk umum secara gratis, sehingga siapa pun dapat menikmati rangkaian kegiatan hingga kuliner khas Indonesia tanpa biaya masuk,” ujar Wakil Ketua Umum Perinma Sakaria Wielgosz.

Penanggung jawab kegiatan This is Indonesia ini menuturkan, dalam kegiatan ini mereka juga menjual tombola dengan hadiah utama tiket pesawat Amsterdam-Yogyakarta. Di mana hasil penjualan akan disalurkan sepenuhnya untuk penyediaan air bersih di Nusa Tenggara Timur.

”Kegiatan ini bekerja sama dengan sister organization kami, Satu Indonesia Belanda. Semua sponsor untuk puluhan hadiah tombola ini di danai secara mandiri oleh pengurus kegiatan ini,” tambahnya.

Sakaria Wielgosz tak mampu memperlihatkan rasa bangganya karena “This is Indonesia” dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Bukan hanya tamu yang puas, tapi para peserta bazar yang menjual masakan, jajanan dan produk Nusantara juga ikut senang karena jualan mereka ludes terjual.

”Benar-benar bangga bahwa kita berhasil melakukan kegiatan tanpa unsur bisnis dan embel-embel keuntungan, murni hanya memberi,” tuturnya.

Kegiatan ini bentuk nyata kontribusi diaspora Indonesia di Eropa melalui Perinma. Sebuah kegiatan tanpa pamrih, bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia

Sakaria Wielgosz tak akan lupa bagaimana ekspresi peserta workhop yang terlihat antusias peserta bukan hanya mengikuti instruksi, tapi juga menyelami setiap detail dengan penuh rasa ingin tahu.

“Mereka ingin merasakan setiap guratan malam membatik, memahami kisah di balik rempah dan bumbu masakan, menangkap makna di setiap gerakan tarian, dan larut dalam harmoni bambu angklung yang berdendang,” ungkapnya bangga.

This is Indonesia bukan sekadar memamerkan keindahan budaya kita; ia adalah sebuah perjalanan hati — menyingkap warna, rasa, dan tradisi yang membuat Indonesia begitu mempesona, sekaligus menghubungkan setiap jiwa yang hadir dengan pesonanya.

Java Lotus Hotel: Sajikan Makanan Halal yang Menyembuhkan.

this formate

Nasi Gudug Arjasa ( Foto: dok Java Lotus)

JEMBER, bisniswisata.co.id: Bagi manajemen Java Lotus Hotel, sertifikasi halal yang dimilikinya bukan hanya aman, dan sajikan rasa universal tapi menjadi olahan menu yang menyembuhkan, kata Jeffrey Wibisono V, General Manager hotel itu.

Pada bulan Oktober 2025 ini, ujarnya, Java Lotus Hotel Jember menjadi hotel pertama di Kabupaten Jember yang resmi bersertifikat Halal dari BPJPH RI(ID35110029842631025) untuk dua outlet unggulan: makanKOE Resto dan kopiKOE Café.

“Langkah ini melampaui sekadar kebutuhan religius — ia menjadi simbol integritas, keamanan pangan, dan kepercayaan universal,” ungkapnya.

Menu-menu andalan seperti Mie Godog,
Penyetan Cabe Tengger, Nasi Gudug Arjasa
Sup Buntut, Iga Panggang, Tiramisu, Wedang Pletok dan Kopi Onbetkuk,Coffee bog, Blue latte bukan hanya mengangkat citra kearifan lokal tapi juga hidangan yang menyembuhkan.

“Setiap hidangan disajikan dengan hati, menjadi bentuk kecil dari “healing” yang sesungguhnya.Jika Halal berakar pada keyakinan, maka HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) berakar pada sains. Keduanya menyatu dalam satu nilai: makanan yang aman, bersih, dan menenangkan untuk semua.” kata Jeffry menjelaskan.

Menurut dia, Halal bukan hanya soal agama, tapi tentang integritas proses dan kualitas ilmiah. Pihaknya ingin semua orang — keluarga, profesional, wisatawan, maupun tamu — merasa aman dan nyaman sejak datang hingga pulang. Malah datang senang, pulang jadi lebih senang.

Di tengah dunia perhotelan yang sering menonjolkan kemewahan tanpa ketulusan, Java Lotus Hotel Jember tampil berbeda.
Hotel ini menghadirkan kenyamanan bukan dari kemegahan, melainkan dari ketulusan dan makna.

“Tagline kami “No plus-plus, just pure comfort”, bukan sekadar slogan, melainkan filosofi pelayanan yang hidup.Pure mewakili nilai: Purposeful (bermakna), Unsurprising (tanpa kejutan), Respectful (menghargai), dan Explainable (mudah dipahami).

Hal Ini menjadi empat prinsip fondasi pelayanan etis, komunikasi terbuka, dan pengalaman healing menyeluruh bagi tamu. Tak heran konsep halal, aman dan universal bagi Java Lotus Hotel adalah makanan yang menyembuhkan.

Hotel Java Lotus Jember

“Bukan sekadar santapan, melainkan terapi emosional. Chef dan tim dapur hadirkan comfort food bercita rasa lokal seperti nasi Gudug Arjasa yang membangkitkan kenangan dan menenangkan batin.Salah satu kuliner khas terbuat dari Nangka muda ( thewel ) yang dimasak dengan kuah hitam mirip rawon dan tulang iga sapi serta diberi ramuan daun Kolpoh.

Daun ini juga dikenal dengan sebutan Daun Gempol atau Daun Kolpoh, memiliki nama latin Nauclea orientalis. Pohon ini termasuk dalam keluarga Rubiaceae dan telah lama dikenal berkhasiat sebagai tanaman herbal karena itu dibutuhkan oleh pabrik obat-obatan.

Di Desa Adat Arjasa, Jember Utara, daun ini menjadi bagian penting dari identitas kuliner setempat. Ia diolah menjadi “Janganan”—istilah lokal untuk sayur berkuah—yang menjadi bahan baku cita rasa utama dalam masakan “Jangan Godog-an”. (bahasa Jawa)

Karakter rasa daun kolpoh unik—sedikit pahit namun nagih—mirip rasa daun pepaya atau pare. Pahitnya tidak menusuk, melainkan berpadu lembut ketika dimasak bersama bumbu dan rempah pilihan. Inilah yang membuat Gudug bukan sekadar hidangan, melainkan pengalaman rasa yang membekas di lidah.

Gudug adalah versi uniknya—memadukan warna kuning dari kunyit dengan sentuhan hitam khas kluwek ala rawon Jember. Namun yang membuatnya benar-benar berbeda adalah kehadiran daun kolpoh.

Bayangkan rasa gurih kaldu iga sapi yang hangat, berpadu dengan kacang panjang, tewel (nangka muda), jantung pisang dan daun singkong, lalu diberi sentuhan daun kolpoh.
Rempah gule termasuk jinten hitam membantu menyeimbangkan rasa pahit alami daun ini, menghasilkan harmoni rasa yang sulit dilupakan.

Berbasis kearifan lokal dan berkelanjutan,
Java Lotus menanamkan nilai keberlanjutan dalam setiap langkah. Hotel ini bekerja sama dengan petani lokal, pengrajin, dan pelaku UMKM untuk menghadirkan bahan segar, mengurangi plastik sekali pakai, serta menyelenggarakan acara edukatif dan budaya setiap bulan.

Setiap tamu yang menginap, ikut berkontribusi menjaga harmoni antara alam, budaya, dan manusia.Tak heran fasilitas yang ada juga mengikuti konsep ini. Di Rooftop hotel misalnya, bisa menjadi tempat healing & Workstation spiritual.

“Di puncak hotel, terdapat Rooftop Sky Lounge dan Infinity Pool dengan panorama Kota Jember dan pegunungan Argopuro.
Tempat ini sempurna untuk journaling senja, meditasi ringan, tea therapy, atau sekadar duduk diam menenangkan diri, “ kata Jeffrey berpromosi.

Untuk para pekerja remote, Paket Workation Spiritual Light menghadirkan kombinasi produktivitas dan refleksi — dilengkapi Wi-Fi cepat, coffee break sehat, area kerja tenang, panduan meditasi audio, serta Mushola yang nyaman.

Healing yang menyentuh hati ini ternyata menjadi kenangan indah bagi tamu. Liana, konsultan dari Jakarta mengungkan bahwa
datang ke Jember karena pekerjaan, tapi pulang dengan hati yang lebih damai. Makanannya menyembuhkan, suasananya menenangkan.

Yusuf, tamu dari Surabaya memberikan kesaksian bahwa makanan halal membuat hatinya tenang dan teman non-Muslim yang menyertai kunjungannya juga memuji kebersihan dan rasa.

Jeffrey Wibisono menegaskan bahwa arah baru hospitality masa kini bisa tulus, spiritual, dan berbasis sains. “Inilah hospitality as healing — tempat di mana tubuh beristirahat, dan jiwa menemukan kedamaian,”

Brunei Perkuat Hubungan Pariwisata dengan Tiongkok Melalui Strategi 2025

this formate

BANDAR SERI BEGAWAN, bisniswisata.co.id:  Brunei telah mengidentifikasi wisatawan dari Tiongkok sebagai pasar target utama untuk tahun 2025, kata seorang pejabat senior pemerintah Brunei

Dilansir dari www.traveldailynews.asia, Tiongkok adalah pasar sumber pariwisata terbesar kedua bagi Brunei, menyumbang lebih dari 15,5 persen dari total kedatangan melalui udara ke negara tersebut, kata Hajah Tutiaty Abdul Wahab, sekretaris tetap di Kementerian Sumber Daya Utama dan Pariwisata Brunei.

Berbicara saat  lokakarya tentang Bahasa Tionghoa dan Peningkatan Kapasitas untuk profesional pariwisata negara anggota ASEAN di dekat ibu kota, Bandar Seri Begawan.
Hajah Tutiaty mengatakan per Agustus 2025, Brunei telah menerima 28.714 wisatawan Tiongkok.

Mayoritas pelancong Tiongkok mengunjungi Brunei untuk liburan, menjumpai teman atau kerabat, atau untuk tujuan bisnis.

Tren positif ini, katanya, semakin diperkuat oleh penerapan pembebasan visa untuk semua warga negara Tiongkok, yang mengizinkan masa tinggal hingga 14 hari, sejak Maret 2025.

Dia mengatakan inisiatif ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas Brunei bagi para pelancong Tiongkok tetapi juga memperkuat hubungan bilateral, membuka jalan bagi pertukaran budaya dan ekonomi yang lebih besar.

Lokakarya tersebut diselenggarakan bersama oleh Pusat ASEAN-Tiongkok dan Kementerian Sumber Daya Utama dan Pariwisata Brunei.