Wisatawan muslim tak bakal kesulitan mencari restoran halal di Taiwan (foto: taiwanhalal)
TAIPEI, bisniswisata.co.id: Setelah Jepang dan Korea, kini Taiwan pun mulai tertarik untuk serius menggarap potensi wisatawan Muslim yang umumnya gemar mengeluarkan biaya cukup signifikan. Potensi itu sangat disayangkan jika tidak dioptimalkan.
“Menurut Global Muslim Travel Index, sejak lima tahun belakangan, peringkat Taiwan meningkat dalam hal tujuan wisata terbaik di antara negara-negara non-Muslim. Dari peringkat 10 pada 2015, jadi peringkat tiga pada 2019,” kata Rita Pawestri Setyaningsih, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Pernyataan itu Rita sampaikan dalam webinar LIPI bertajuk Prospek Wisata Halal Bagi Indonesia: Pengalaman Dari Taiwan.
Saat ini Taiwan memiliki sembilan lembaga sertifikasi halal yang telah menerbitkan sertifikat halal pada 1.088 perusahaan dan ratusan ribu jumlah produk yang disediakan.
Negara berpenduduk sekitar 23 juta orang ini hanya memiliki populasi Muslim sebesar 1 persen. Yang menambah banyak justru para migran, termasuk dari Indonesia yang menurut Rita jumlahnya ada sektiar 300.000 orang. Namun untuk urusan tempat makan halal, wisatawan Muslim dijamin tak akan kesulitan mendapatkannya.
Sebenarnya sudah sejak 2009, Taiwan mempromosikan pariwisata halal. “Dulu ada brosur bertuliskan Taiwan targets Muslim tourists yang diterbitkan Chinese Muslim Association (CMA). Mereka semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) kalau di sini,” ujar Rita.
Meski demikian, wisata halal di Taiwan baru berkembang pesat pada 2016 setelah ada regulasi yang mendukung program itu. Selain itu kebijakan New Southbound Policy (NSP) dengan 18 negara juga telah memesatkan perkembangan pariwisata halal di sana.
Adapun negara-negara tersebut adalah Australia, Bangladesh, Bhutan, Brunei, Kamboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.
Kebijakan ini memang lebih difokuskan untuk meningkatkan kerja sama Taiwan dengan negara lain agar tidak bergantung pada daratan China. Namun, ternyata kerja sama itu juga memengaruhi pariwisata halal.
Wisata Halal bukan wisata Islam
Melalui hasil penelitian yang dilakukan pada 2018, Rita seperti dilansir Kompas mengungkapkan bahwa Taiwan mendefinisikan pariwisata halal sebagai pariwisata umum yang dilengkapi dengan layanan ramah Muslim.
Meski sama-sama mengusung konsep halal, pariwisata halal berbeda dengan Islamic Tourism atau pariwisata Islam yang memiliki unsur keagamaan. Itu lantaran sebagian, bahkan seluruh niatan dalam pariwisata Islam adalah untuk kepentingan keagamaan.
Ketua Departemen Pariwisata Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hilda Ansariah Sabri, melongok desa-desa wisata di kota Banjarmasin sesuai program kerja pengembangan desa wisata organisasi profesi itu. Berikut laporan perjalanannya bagian pertama
BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Sungai Jingah, kota Banjarmasin menjadi tujuan pertama saat tiba di ibu kota provinsi Kalimantan Selatan untuk menemui ketuanya, Muhammad Rafi.
Posisinya juga sekaligus sebagai ketua Forum komunikasi ( Forkom) Pokdarwis di Kota Banjarmasin sehingga sedikitnya ada 20 Pokdarwis yang bergabung dalam Forkom dibawah komando Rafi, panggilan akrabnya.
Di sisi lain Pokdarwis Sungai Jingah yang terbentuk 2017 itu pada 2018 sudah menjadi pemenang Pokdarwis Berkembang se Kalimantan Selatan dan fokus mempromosikan kampungnya sebagai desa wisata.
Pilihan yang tepat rupanya mengunjungi Rafi di toko Sasirangannya di Kampung Sungai Jingah , Kota Banjarmasin Utara. Memasuki kampung di pinggir sungai Martapura ini nuansa religi terasa dari adanya Makam Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau dikenal sebagai Tuan Guru Surgi Mufti.
Setelah itu mobil melewati papan petunjuk berbentuk rumah tradisional Banjar di sisi kiri jalan bertuliskan Obyek Wisata Sungai Jingah, Heritage – Sasirangan-Kuliner, Banjarmasin.
Seperti halnya ‘pintu gerbang’ kampung, dari sela-sela deretan rumah dibagian sisi kanan jalan terlihat rumah-rumah di seberang Sungai Martapura yang dinding dan atap rumahnya semua berwarna biru.
Toko bertuliskan Rafi Wedding Service memajang baju pengantin dan gaun-gaun panjang berbahan kain Sasirangan. Ternyata Rafi menawarkan jasa make up artist, make up pengantin dan wisudawati.
Jasanya mulai dari sewa kebaya, gaun pengantin dan dekorasi, produksi kain Sasirangan, kemeja pria, kaos T-shirt kualitas Distro, busana Muslimah hingga buket dari kain Sasirangan.
” Kampung kami ini memang pusat grosir kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan sehingga ketika Pemkot pada 2017 mendorong lahirnya Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) sebagai daya tarik wisata baru maka kami fokus pada produk Sasirangan sebagai keunikan dan meningkatkan ekonomi warga,” jelas Rafi.
Muhammad Rafi, Ketua Pokdarwis Sungai Jingah sekaligus Ketua Forum Komunikasi Pokdarwis Kota Banjarmasin.
Ada sedikitnya 23 perajin UMKM Sasirangan di Sungai Jingah. Saat ini selain harga dan kualitas yang terjangkau, Rafi mengklaim harga yang dijual juga paling ramah di kantong alias jauh lebih murah dari sentra Sasirangan lainnya.
Tahun 2017 lahir sedikitnya 20 Pokdarwis, namun seiring waktu tinggal 10 Pokdarwis yang aktif dan sebagai Ketua Pokdarwis Sungai Jingah maupun sebagai Ketua Forkom Pokdarwis Kota Banjarmasin, dia berupaya agar setiap Pokdarwis memiliki keunikan dan produk yang saling menunjang.
” Kami tawarkan heritage berupa rumah tua Banjar, suasana kampung Sasirangan dan kue-kue khas Banjarmasin bahkan yang sudah langka,” kata Rafi
Sementara Pokdarwis lainnya, Karindangan misalnya juga menawarkan kuliner namun khusus masakan Timur Tengah karena di sana memang dikenal sebagai Kampung Arab dengan banyaknya keturunan Arab penyebar agama Islam di Pulau Kalimantan, jelasnya.
Produk Heritage belum bisa jadi unggulan karena rumah-rumah tua khas Banjar dari kayu ulin yang ada belum tersentuh revitalisasi dari Pemkot sebagai daya tarik wisata. Rumah-rumah masih milik pribadi keturunan dari orang-orang kaya dari kampung itu yang kondisinya sudah banyak yang rusak.
“Jika bisa direvitalisasi seperti di Singapura, alih fungsi untuk kebutuhan wisatawan mancanegara pastinya akan menjadi daya tarik wisata kebanggaan,” tutur Muhammad Bezqoni, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) Kota Banjarmasin yang mendampingi kunjungan ini.
Menurut Bezqoni yang akrab dipanggil Bebez, revitalisasi rumah tua akan menjadikan Kelurahan Sungai Jingah mampu menawarkan walking tour dan memperpanjang lama tinggal wisatawan domestik maupun mancanegara di kota Banjarmasin. Disamping juga menyelamatkan bangunan kuno dan melestarikan arsitektur tradisional yang sangat berharga.
Selain fokus pada keberadaan kampung wisata sebagai sentra Sasirangan, Rafi mengatakan sebelum adanya pandemi global pihaknya populerkan kuliner khas Banjar berada di kawasan Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka). Tepatnya di bawah jembatan Banua Anyar.
Karena lokasinya yang berdekatan dengan museum tersebut, destinasi ini dinamakan Kuliner Wasaka Dan Mawarung Baimbai yang diresmikan oleh Walikota Banjarmasin H. Ibnu Sina.
Awalnya Rafi berbagi rencana tersebut dengan Camat Banjarmasin Utara, Apiluddin. Akhirnya berdasarkan dua kali pertemuan seluruh lurah se Kecamatan Banjarmasin Utara sepakat untuk mengangkat kuliner Banjar.
Rafi yang berpengalaman selama 6 tahun sebagai ketua RT/ RW mulai membuka sejenis warung kecil yang mana tempat di sediakan salah satu warga RT 17 Sungai Jingah dengan jumlah pedagang empat orang pada tanggal 13 Januari 2018.
Mulanya buka setiap seminggu sekali saja yaitu setiap Sabtu dari pukul 16.00 Wita sampai 22.00 Wita yang diberi nama Mawarung Baimbai. Artinya ke warung bersama-sama sambil ngobrol dan menikmati kuliner.
Kampung wisata Sungai Jingah andalkan keunikan kuliner dan potensi sentra produksi kain Sasirangan
Sampai sekarang berkembang dan banyak dikunjungi masyarakat Kalsel. Bahkan salah satu artis ibu kota pernah berkunjung dan nikmati kuliner khas Banjar di Mawarung Baimbai yaitu Laudya Cyntia Bella dan chef nasional Rudy Choirudin.
” Untuk program Mawarung Baimbai ini 17 anggota Pokdarwis yang melayani kunjungan tamu, sementara kue-kue dan penganan lainnya disiapkan oleh warga. Setiap sebuah kue misalnya, Pokdarwis mendapat bagian Rp 500/ buah. Program ini sukses dan kita akan lanjutkan setelah ada izin dan pandemi global berakhir,” kata Rafi.
Beragam kuliner khas Kota Banjarmasin disuguhkan di area Mawarung Baimbai, mulai dari kue tetal, kue laksa, lupis, hingga apam surabi tersedia dengan harga yang terjangkau dan rata-rata pengunjung di kawasan tersebut mengaku puas dengan sugguhan rasa kuliner tersebut.
Pemasukan lainnya adalah dari bagi hasil dengan 23 perajin Sasirangan yang ada. Caranya misalnya dengan memberikan harga miring bagi Pokdarwis yang memasarkan produk-produk Sasirangan di satu event maupun dalam melakukan promosi bersama melalui website dan medsos lainnya.
Sasirangan adalah kain tradisional yang berasal dari Bahasa Banjar, yaitu sirang yang berarti menjelujur. Motifnya dibuat dengan jahitan dengan teknik jelujur. Awalnya, kain sasirangan diyakini dapat mengobati penyakit dan mengusir roh jahat sehingga pembuatannya dibatasi.
Namun sekarang sudah menjadi suvenir khas Kalimantan Selatan dan secara umum, pembuatannya masih menggunakan cara tradisional. Mulanya ada 8 motif utama namun kini berkembang bahkan menjadi beragam motif.
” Alhamdulilah setelah adanya Pokdarwis, pesanan para perajin meningkat meski tingkat sadar wisatanya masih menjadi tantangan besar buat kami,” kata Rafi.
Sadar wisata yang menyeluruh di semua lapisan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan pariwisata di kota Banjarmasin maupun di tingkat nasional.
Para perajin sudah merasakan manfaat ekonomi, namun dalam hal desain kerap tidak mau lebih kreatif. Mereka juga belum mau terlibat langsung jadi anggota Pokdarwis dan menciptakan keunikan motif, misalnya.
” Maksud saya, para perajin bisa terus mengeksplor desain/motif. Instansi pemerintah sering membuat pelatihan untuk meningkatkan produksi maupun kemasan namun para perajin tidak mau ikut dan asyik dengan maunya sendiri. Sedangkan sebagai produsen kita harus menyesuaikan diri dengan permintaan pasar,” ungkapnya.
Sebagai kampung wisata Sadar Wisata untuk menerapkan Sapta Pesona juga sangat penting yaitu menerapkan unsur Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah-tamah dan Kenangan. ” Warga masih saja buang sampah ke sungai, ini juga menjadi keprihatinan bersama,” kata Rafi.
Beruntung kini di lingkungannya di RT 17 juga sudah ada Forum Warga dan memiliki Whatsapp ( WA) grup sehingga bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi tingkat sadar wisata masyarakat.
Kelompok warga yang sadar dengan kepariwisataan adalah wujud partisipasi masyarakat membangun perekonomian yang merata karena dampak berganda aktivitas pariwisata yang langsung dirasakan warga.
Di kota Banjarmasin ini ada Kampung Arab dengan Pokdarwis Karindangan, Hijau Sungai Billu, Kampung Polisi Sungai Andai, Ditamba Sungai Andai, Kampung Asmaul Husna Sungai Andai, Pulau Bromo Mantuil dan Habib Hamid bin Abbas Bahasim Basirih.
Sebagai ketua Forkom Pokdarwis, dia menaruh harapan besar Pokdarwis lainnya terus aktif menggali keunikan dan keunggulan masing-masing dan jumlahnya terus meningkat bukan malah menyusut. Nah bagaimana, berani menerima tantangan Rafi ?
BABEL, bisniswisata.co.id: Kemenparekraf /Baparekraf mendorong agar para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Bangka Belitung (Babel) memanfaatkan Bantuan Pemerintah Infrastruktur Ekonomi Kreatif (Banper Infrastruktur Ekraf) agar bisa mengembangkan usahanya.
Banper merupakan dana bantuan yang diberikan kepada mereka yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial dan diharapkan bisa menjadi stimulan dari pemerintah kepada kelompok masyarakat atau lembaga pemerintah maupun nonpemerintah.
Direktur Infrastruktur Ekonomi Kreatif, Selliane Halia Ishak, dalam acara ‘Sosialisasi Banper Infrastruktur Ekraf 2021’ di Bangka, Kamis (08/10/2020), menjelaskan tujuan banper adalah untuk memfasilitasi penyediaan kelayakan ruang kreatif dalam bentuk revitalisasi dan penyediaan sarana.
“Dengan adanya bantuan diharapkan masyarakat akan mampu meningkatkan produktivitas dan kreativitas komunitas ekonomi kreatif serta keberlangsungan komunitas ekonomi kreatif dan mendorong perluasan dan terbangunnya jejaring ekosistem ekonomi kreatif,” ujar Selliane.
Selliane menyebut masyarakat yang ingin mengajukan banper ini harus memenuhi kriteria di antaranya berasal dari komunitas sektor ekonomi kreatif dan telah memiliki badan hukum.
Komunitas ekonomi kreatif tersebut bisa mengajukan banper dengan jenis bantuan revitalisasi infrastruktur, sarana ruang kreatif, dan paket parekraf.
“Komunitas ekraf yang mengajukan harus memiliki badan hukum, karena secara anggaran ini uang negara yang bersumber dari pajak. Jadi memang harus ada yang pertanggungjawaban. Bentuk tanggungjawabnya yakni adanya legalitas usaha,” ujar Selliane.
Sementara itu Tim Banper Infrastruktur Ekraf, Cecep Yoesmadi Riewan, menjelaskan jika pelaku ekonomi kreatif ingin mengajukan banper berupa revitalisasi infrastruktur fisik ruang kreatif salah satu syarat wajibnya adalah memilki tanah atau bangunan sendiri atau bukan berstatus sewaan.
“Jadi nilai yang akan didapatkan itu minimal Rp500 juta, maksimal Rp3 miliar. Di kisaran itu sudah termasuk biaya kirim, jasa kontraktor, PPN. Nantinya saat mengajukan misalnya untuk studio rekaman nilainya antara Rp500 juta sampai Rp3 miliar. Jadi nilai itu akan optimal,” jelasnya.
Tapi bangunan dan tanah harus milik sendiri dan ada bukti kepemilikan. Jadi betul-betul aman kita revitalisasi sesuai yang diinginkan, dan bisa digunakan ke depan,” tambah Cecep.
Tim Banper Infrastruktur Ekraf, Erlan Basri, menyebut bahwa banper yang diajukan adalah untuk memenuhi kebutuhan komunitas dalam upaya meningkatkan produktivitas yang nantinya turut meningkatkan nilai ekonomi.
“Yang diajukan kepada kami betul-betul kebutuhan yang saat ini dibutuhkan masyarakat di komunitasnya untuk meningkatkan produktivitas komunitas. Kebutuhan bukan keinginan. Jadi jangan harap ingin kamera yang Rp300 juta, lalu melihat program ini langsung mengajukan, tidak akan bisa,” ujar Erlan.
Wisata Domestik China telah pulih kembali dan diperkirakan mencapai 600 juta orang. ( Foto: Travelbiznews)
BEIJING, bisniswisata.co.id: Turis China diperkirakan melakukan 600 juta perjalanan domestik selama liburan Hari Nasional dan Festival Pertengahan Musim Gugur mulai 1 hingga 8 Oktober 2020 ini , ungkap sebuah laporan yang dirilis oleh agen perjalanan online utama negara itu, Trip.com Group.
Dilansir dari Travelbiznews, menjelang liburan, lebih dari 1.500 tempat wisata telah mengumumkan diskon atau kebijakan bebas tiket, dan pihak berwenang di lebih dari 20 wilayah tingkat provinsi telah memperkenalkan kupon untuk menghidupkan kembali pariwisata, menurut laporan itu.
Data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tiongkok menunjukkan trend positif dalam pemulihan dan pengembangan industri pariwisata negara, dengan langkah-langkah pengendalian epidemi yang diberlakukan.
Pada kuartal ketiga, jumlah wisatawan di tempat wisata A-level secara nasional mencapai sekitar 70 persen dari periode yang sama tahun lalu, dan angka di beberapa lokasi wisata lokal mendekati periode yang sama dengan tahun sebelumnya, lapor Xinhua.
Selama libur Hari Nasional selama sepekan di tahun 2019, Tiongkok melihat total 782 juta perjalanan turis domestik, naik 7,81 persen dari tahun ke tahun.
Perjalanan udara mungkin melebihi tingkat tahun sebelumnya
Industri penerbangan China, yang terpukul parah oleh virus korona, hidup kembali dengan periode liburan delapan hari yang akan memacu putaran baru ‘demam’ berwisata , lapor Tu Lei di GlobalTimes.
Perkiraan dari bandara di seluruh negara menunjukkan bahwa mereka mengharapkan untuk melihat puncak perjalanan penumpang selama liburan Hari Nasional dan Festival Pertengahan Musim Gugur, sebuah tanda bahwa sektor ini mulai pulih.
Dua bandara di Beijing diharapkan melayani sekitar 2 juta orang dari 28 September hingga 11 Oktober. Penerbangan dari Bandara Internasional Ibukota Beijing dapat membawa 2,189 juta penumpang dan Bandara Internasional Beijing Daxing 750.000 lainnya, data dari bandara mengatakan.
Bandara lain seperti bandara Taiyuan di Taiyuan, Provinsi Shanxi di China Utara dan bandara di Hotan County, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur China Barat Laut, akan melihat kedatangan penumpang yang kembali.
Demam perjalanan juga meningkatkan jumlah penerbangan domestik. China Southern Airlines berencana untuk mengoperasikan sekitar 2.000 penerbangan di hub Daxing selama masa liburan, dengan maksimum 220 penerbangan per hari. Diperkirakan lebih dari 160.000 penumpang akan menggunakan penerbangan China Southern Airlines dari bandara Daxing ke lebih dari 40 kota besar di seluruh negeri.
China Eastern Airlines mengatakan mengoperasikan 24.202 penerbangan dengan 4,033 juta kursi selama liburan, dan kapasitas terbang pada dasarnya akan kembali ke periode yang sama tahun lalu.
Data dari penyedia informasi VariFlight menunjukkan bahwa jumlah total penerbangan selama liburan ini telah kembali ke level 2019, menunjukkan pemulihan industri yang sedang berlangsung.
Penampilan maskapai mencetak rekor bulanan di bulan Agustus. Data dari Administrasi Penerbangan Sipil China menunjukkan pemulihan lebih dari 80 persen, melebihi angka Januari sebelum lockdown yang disebabkan virus Corona yang awalnya merebak dari Wuhan, China.
Outbound juga mengalami peningkatan baru-baru ini. Air China akan melanjutkan penerbangan harian dari Wuhan, Provinsi Hubei ke Makau, rute internasional reguler kedua yang dipulihkan setelah rute Wuhan-Seoul.
NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Sebuah yayasan non-profit berbasis di Jenewa, Swiss, The Commons Project Foundation dan World Economic Forum sepakat melakukan uji coba penggunaan tiket digital yang mengesahkan status test COVID-19 pelancong yang masuk.
Dilansir dari Business Travel News, uji coba tersebut akan dilakukan oleh maskapai Cathay Pacific dan United Airlines yang disebut CommonPass.
Tiket digital tersebut akan memungkinkan pelancong menggunakan ponsel mereka untuk menunjukkan status uji COVID-19 kepada otoritas lintas batas dan staf maskapai dengan cara yang sesuai dengan peraturan privasi, termasuk Peraturan Perlindungan Data Umum Uni Eropa.
Hasil test COVID-19 untuk perjalanan lintas batas saat ini biasanya dibagikan pada kertas cetak, atau foto kertas, seringkali dari laboratorium yang tidak dikenal dan tanpa format atau sertifikasi standar.
Untuk menggunakan CommonPass, wisatawan akan mengikuti test COVID- 19 di lab bersertifikat, mengunggah hasilnya ke ponsel mereka, dan mengisi kuesioner pemeriksaan kesehatan yang diwajibkan oleh negara tujuan mereka.
Setelah selesai, CommonPass mengonfirmasi kepatuhan pelancong dengan persyaratan masuk negara tujuan dan menghasilkan kode QR, yang dapat dipindai oleh staf maskapai penerbangan dan pejabat perbatasan. Wisatawan tanpa perangkat seluler memiliki opsi untuk mencetak kode QR.
CommonPass juga akan memungkinkan pemerintah untuk memiliki kepercayaan pada keakuratan status COVID-19 terverifikasi setiap pelancong yang masuk, menurut organisasi, serta fleksibilitas untuk menyesuaikan persyaratan masuk saat pandemi berkembang, termasuk jenis test laboratorium atau vaksinasi tertentu untuk membutuhkan, jika ada.
The Commons Project Foundation dan World Economic Forum bekerja sama dengan koalisi yang luas dari mitra publik dan swasta, termasuk perwakilan pemerintah dari 37 negara.
Cathay Pacific dan United akan menjadi maskapai pertama yang mencoba layanan ini. Cathay Pacific akan melakukannya dengan sukarelawan dalam penerbangan antara Bandara Internasional Hong Kong dan Bandara Internasional Changi Singapura.
Pengangkut akan menggunakan teknologi pengujian yang disediakan oleh perusahaan pengujian swasta Prenetics. Sedangkan United akan menguji layanan ini dengan relawan pada penerbangan antara Bandara Heathrow London dan Bandara Internasional Newark Liberty.
Di London Heathrow, Prenetics akan menyediakan teknologi pengujian, yang akan dikelola oleh perusahaan layanan perjalanan dan medis Collinson.
“Pengujian adalah komponen kunci dari pendekatan berlapis-lapis untuk membuka kembali perjalanan dengan aman,” kata Steve Morrissey, VP regulasi dan kebijakan United dalam siaran persnya.
“Uji coba dengan solusi seperti CommonPass sangat penting untuk menunjukkan potensi pengujian sebagai alternatif dari tindakan karantina menyeluruh atau pembatasan perjalanan, sementara kami terus fokus pada keselamatan dan kesehatan pelanggan dan karyawan kami.” kata Steve Morrissey
Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit akan mengamati uji coba tersebut. Setelah uji coba, peluncuran CommonPass dapat meluas ke maskapai dan rute tambahan di Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Timur Tengah.
“Saya terdorong oleh seberapa cepat industri perjalanan global telah bersatu di sekitar Kerangka Kerja CommonPass,” kata Greg O’Hara, Pendiri dan Ketua Eksekutif American Express Global Business Travel.
Menurut dia, CommonPass dapat memberikan kejelasan dan kepercayaan diri yang dibutuhkan wisatawan untuk mulai bergerak lagi untuk melakukan perjalanan antar benua.
PARIS, bisniswisata.co.id: Maskapai penerbangan Air France masih merugi 10 juta euro per hari akibat lambatnya pemulihan terkait dengan kebangkitan kembali travel & tourism akibat pandemi COVID-19.
Hal ini akan memaksanya untuk menggunakan opsi long-term partial activity (APLD) jika langkah-langkah pengurangan tenaga kerja yang sudah diumumkan tidak sepenuhnya diterapkan seperti dilansir dari tourism-review
CEO Air France Anne Rigail mengumumkan hasil untuk bulan Agustus 2020 jauh di bawah ekspektasi. Kerugian besar perusahaan terbukti.
“Pada bulan Agustus, kami terbang dengan 70% kapasitas setahun sebelumnya untuk rute domestik, dan 55% pada rute jarak menengah terutama Italia, Yunani, Spanyol, dan Portugal. Namun karena berbagai pembatasan di negara tersebut, segmen antarbenua tidak melebihi 30%. Semua ini dengan faktor muatan yang lebih rendah (20 hingga 30% lebih sedikit) dan pendapatan yang lebih rendah 70%, “kata sang CEO.
Rigail mengharapkan pemulihan bertahap sebelum musim panas, mencapai hingga 70% bisnis di bulan Desember, tapi kini dia sekarang hanya bisa mengharapkan 50%.
“Pada bulan September, kami melihat bahwa pemesanan turis turun dengan cepat, dan kami tidak melihat adanya pemulihan lalu lintas bisnis karena alasan yang jelas apakah soal kesehatan, bisnis atau ekonomi,” tambahnya.
Meski Air France merugi sekitar 10 juta euro per hari tetapi maskapai itu berupaya membatasi kerugian dengan mengadopsi semua tindakan yang mungkin dilakukan.
“Tujuannya untuk menjadi sepenuhnya kompetitif setelah krisis kesehatan selesai. Ini akan melibatkan restrukturisasi yang diumumkan, terutama dalam pengelolaan kelebihan pegawai dengan penghapusan 7580 posisi pada akhir tahun 2022,” jelasnya.
Rinciannya 6560 posisi di Air France dan 1020 di anak perusahaan regional HOP atau pengurangan 45.000 atau lebih karyawan
Namun, perlambatan dalam pemulihan transportasi udara dapat membuat redundansi ini tidak mencukupi, terutama jika rencana keberangkatan sukarela atau kesepakatan perundingan bersama tidak sesuai dengan harapan untuk sukses.
Negosiasi dengan serikat pekerja sudah dimulai, khususnya tentang penggunaan skema kegiatan APLD mulai bulan depan, yang dapat berlangsung maksimal dua tahun dan menyita waktu kerja 50%.
Air France akan menerapkannya pada semua profesi, dari pilot hingga awak kabin dan staf darat. Dalam kerangka kerja ini, karyawan akan menerima 84% dari gaji bersih mereka untuk jam-jam tidak bekerja, yaitu lebih dari apa yang ditawarkan oleh kerja singkat (72% di bulan November) – dengan tunjangan yang sama untuk perusahaan.
“Negara akan membayar 85% dari jumlah ini, dibandingkan dengan 60% di bawah sistem kerja singkat dalam waktu dekat. Di atas kertas, kami mendukungnya karena ini memungkinkan kami untuk mendapatkan kompensasi yang lebih baik daripada skema kerja singkat klasik” kata Christophe Dewatine, Sekretaris Jenderal CFDT di Air France.
Namun, ujarnya, serikat pekerja telah memberikan syarat kepada APLD: untuk menjamin tidak adanya pemecatan selama seluruh periode ditambah enam bulan. Kemungkinan pengurangan pendapatan belum secara resmi dibahas, tetapi topiknya telah mengemuka.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia atau Association of Indonesian Tour & Travel Agencies ( ASITA) DR. N. Rusmiati, M.Si menegaskan bahwa didalam organisasi ASITA tidak ada dualisme AKTA Pendirian Secara terpisah.
Dalam rilisnya, Rusmiati menjelaskan bahwa tudingan Majelis Penyelamat Asita (MPA) bahwa pihaknya membuat AKTA Pendirian secara terpisah tidaklah berdasar. Oleh karena itu dia menghimbau agar seluruh anggota ASITA tidak perlu risau terhadap gugatan Perdata yang beredar.
Didampingi Kuasa Hukum DPP ASITA Erwin B Haris dari Heron Miller & Assosiates, Waketum 1 Budijanto Ardiansjah, Wasekjen Bahariansyah dan beberapa Pengurus DPP ASITA, pihaknya telah melakukan jumpa pers secara Hybrid di Kantor Patihindo Jakarta (05/10/20).
Rusmiati yang juga pendiri Patihindo Tour & travel menjelaskan bahwa kepengurusan ASITA pada periode sebelumnya melegalisasikan Akta 170 tahun 1975 yang belum memiliki pendaftaran dalam Sisminbakum Kemenkumham dengan mengikuti proses dan format kenotariatan yang dilakukan dan diarahkan oleh Notaris dengan produk hukum berupa Akta 30 tahun 2016.
Akta tersebut merupakan akta pengukuhan, penegasan dari akta-akta sebelumnya termasuk Akta 170. Dan ditegaskan kembali bahwa Akta 170 tahun 1975 dan Akta 30 tahun 2016 saling melengkapi dan tidak ada dua akta pendirian organisasi yang terpisah.
” Kami menduga penggugat ( MPA) mempunyai maksud dan tujuan lain yaitu ingin menguasai ASITA dengan cara mengabaikan aturan aturan dan etika organisasi menghambat kepengurusan yang sah dan tidak menghargai bahkan mempermainkan hukum,” ujar Rusmiati.
DPP ASITA yang dipimpinnya adalah kepengurusan yang sah berdasarkan MUNASLUB 26-28 Februari 2019 dan telah dikukuhkan oleh Menteri Pariwisata RI.
Rusmiati mengatakan pihaknya tetap berjuang keras agar ASITA terjaga mawahnya dan akan menindak dengan tegas terhadap pihak-pihak yang mengganggu jalannya kepengurusan yang sah yang mengabaikan aturan organisasi dengan dalih melakukan penyelamatan.
Dia juga mengucapkan terimakasih kepada mayoritas anggota DPD ASITA se Infonesia yang tetap loyal mendukung perjuangan atasi permasalahan diatas dan menghimbau kepada seluruh anggota ASITA, mitra-mitra pemerintah dan swasta untuk tetap tenang dan memberikan dukungan penuh terhadap kepengurusan ASITA yang sah.
Diketahui, dua DPD Asita yang mengatasnamakan Majelis Penyelamat Asita (MPA) adalah ASITA Jakarta dan ASITA Bali. Selanjutnya DPP ASITA juga akan melakulan tindakan hukum lanjutan untuk memberikan efek jera terhadap pihak-pihak yang mencoba mengobrak-abrik kedaulatan ASITA, tegasnya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menparekraf Wishnutama Kusubandio menghadiri pertemuan Luar Biasa Menteri Pariwisata Negara G20 yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (7/10/2020) dan mengatakan, Indonesia selalu melihat pentingnya kebijakan strategis terhadap upaya peningkatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kebijakan strategis sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam upaya memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akibat pandemi COVID-19,” ungkapnya.
Sejarah mencatat, dalam situasi krisis seperti sekarang akibat pandemi COVID-19, pelaku UMKM justru hadir menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi, tambahnya
Ia pun mendorong agar penguatan pelaku UMKM menjadi strategi bersama negara-negara G20 dalam meningkatkan kembali sektor pariwisata.
“Saya yakin bahwa strategi itu akan memperkuat pendekatan kita terhadap penciptaan solusi yang inklusif di negara-negara berkembang maupun negara yang bergantung pada perjalanan wisata,” kata Wishnutama.
Indonesia menyerukan untuk terus membangun kepercayaan strategis dan kepercayaan bersama di antara negara-negara G20 melalui dialog yang berkelanjutan, kerja sama yang saling menguntungkan, dan langkah-langkah membangun kepercayaan di kalangan masyarakat terhadap sektor pariwisata.
“Pertemuan para menteri hari ini hanyalah salah satu bukti kuat dari tekad kami untuk terus bekerja sama dalam menangani pandemi COVID-19 ini ” ujarnya.
Dia memastikan bahwa sektor pariwisata tidak hanya akan pulih dengan cepat, tetapi lebih penting lagi, juga akan pulih menuju industri yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” kata Wishnutama.
Indonesia juga telah menginisiasi resolusi tahun internasional ekonomi kreatif 2021 yang kemudian diadopsi secara luas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tajuk “International Year on Creative Economy for Sustainable Development 2021”.
Resolusi ini menekankan peran penting ekonomi kreatif dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
“Dalam semangat merayakan resolusi tersebut, saya mengundang seluruh negara G20 untuk menghadiri World Conference on Creative Economy (WCCE) di Indonesia yang akan diselenggarakan di Bali pada Mei 2021,” kata Wishnutama.
Terakhir, ia menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai Ketua Forum G20 Tahun 2020. “Kita memiliki tantangan dan peluang yang besar di saat yang sama. Keharusan bagi kita semua anggota G20 untuk memperkuat kerja sama dan kolaborasi ” tegasnya.
Whisnutama mengajak semua Menteri Pariwisata untuk bekerja sama bergandengan tangan menjadikan sektor pariwisata yang lebih baik, kuat, dan berkelanjutan di masa depan tambahnya.
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Hari jadi kota Yogyakarta, Ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan secara virtual dan berbeda dengan tahun sebelumnya, sebagai pencegahan penyebaran COVID-19 di Kota Yogyakarta.
Hari ini, Rabu 7 Oktober 2020 Kota Yogyakarta menginjak usia 264 tahun. Dalam kesempatan bersejarah ini, Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengajak seluruh warganya untuk semangat menyambut era adaptasi baru.
“Tentunya kondisi pandemi ini menuntut kita untuk tetap melaksanakan Protokol Kesehatan tanpa mengurangi sedikitpun kemeriahan dan suasana menyambutnya bertambahnya usia Kota kita tercinta,” ucap Haryadi saat virtual di Grha Pandawa.
Seperti peringatan tahun lalu, peringatan HUT Kota Yogyakarta mengangkat tema Festival Jogja Kota, hanya saja untuk tahun 2020 ini ada sesanti atau tagline yang diangkat yaitu ‘Tan Mingkuh Tumapak ing Jaman Anyar’, yang memiliki makna Pantang Mundur, Penuh Semangat memasuki Era Adaptasi Kebiasaan Baru.
“Tema dan sesanti ini sangat tepat melihat situasi yang terjadi saat ini, sebagai warga masyarakat Kota Yogyakarta, baiklah kita semua harus tetap semangat, pantang mundur, dalam menghadapi segala tantangan yang ada,” ucap Haryadi.
Selain itu, tetap mengupayakan segala sesuatu yang kita bisa semaksimal mungkin dalam menciptakan, berkreasi, mengekpersikan cipta dan karsa seni budaya, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan mencegah potensi penyebaran virus Corona, agar tidak menjadi semakin membesar atau meluas dan agar tetap terkendali.
“Pandemi COVID-19 membuat hampir segala sendi kehidupan manusia harus berubah menyesuaikan dengan masa Adaptasi Kebiasaan Baru,” imbuhnya.
Namun demikian, banyak hal yang dapat dipetik dari pelaksanaan di masa Pandemi, kreativitas-kreativitas yang baru untuk memadukan antara kreasi seni budaya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang live streaming di jagat maya.
“Marilah kita tingkatkan terus rasa kebersamaan dan gotong-royong mewujudkan Kota Yogyakarta menjadi kota yang aman, nyaman, tenteram dan berbudaya, serta mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh warganya, terutama dalam masa Pandemi COVID-19,” paparnya.
Dalam kesempatan teroisah, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik sekaligus mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menyejahterakan dan memajukan warga Kota Yogyakarta dengan tetap melaksanakan pencegahan COVID-19.
“Pemerintah Kota Yogyakarta menegakkan empat pilar utama yakni disiplin, gotong royong, peduli, dan mandiri, konsep ini telah menjadi gerakan masyarakat,” jelasnya.
Di samping itu, lanjutnya, Pemerintah Kota Yogyakarta juga membuat program pasangannya untuk membumikan budaya dalam tata laku masyarakat dengan nama GandhesLuwes.
“Secara konsep sederhana tersebut adalah untuk membangun kesadaran masyarakat agar nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta dapat dirasakan oleh setiap pendatang yang ke Yogyakarta,” ucapnya.
Gubernur berharap di usianya yang ke 264 tahun, Kota Yogyakarta mampu memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi seluruh warga.
Capella Singapura terletak di Pulau Sentosa, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk pusat kota Singapura. ( Foto: Capella Singapura 2020)
SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Menurut prinsip feng shui Tiongkok, burung merak – dengan “seribu mata” menghiasi ekornya yang megah – tidak hanya melambangkan keindahan dan ketertarikan, tetapi juga mengangkat keberuntungan dan ketenaran.
Jadi, melihat burung-burung anggun yang berjalan-jalan di halaman Capella Singapore yang cermat ini terasa seperti nasib yang beruntung.
Saya telah memahami nasib baik saya jauh sebelum benar-benar tiba di jalan dengan jajaran flora di Capella Singapura yang mengarah ke 40 hektar hutan hujan, taman, kolam renang, akomodasi, dan ruang bersama.
Seorang karyawan Bandara Changi menyambut saya di gerbang, bukan di tempat pengambilan bagasi dan secara pribadi memandu saya selama proses kedatangan di Singapura. Tidak lama kemudian, saya meluncur ke resor mewah dengan Range Rover yang dilengkapi dengan minuman termasuk San Pellegrino dan handuk dingin.
Dilansir dari TravelAge West, perusahaan induk Capella Singapura, Capella Hotels & Resorts, memutuskan lokasi properti dengan 112 kamar, itu di luar pusat metropolitan Singapura yang berdenyut dan mendukung Pulau Sentosa yang berdekatan.
Di pulau tersebut, keanekaragaman hayati berkembang dalam ekosistem hutan hujan, dan ketenangan sangat dibutuhkan. Saat saya berbelanja di sekitar untuk sebuah akomodasi di Singapura, saya menemukan pertimbangan ini sejalan dengan tujuan refreshing bagi saya sendiri. (Penduduk lokal yang kaya, juga, sering berduyun-duyun ke hotel pada akhir pekan untuk menginap yang mewah.)
Arsitektur Singapura terkenal dengan duplikatnya: rumah dan ruko tradisional Melayu, di samping art deco yang lebih kontemporer dan bangunan bergaya Brutalis.
Capella Singapore mereferensikan dikotomi ini dengan juga mengawinkan masa lalu kolonial negara kota dengan bakat modern.
Bangunan militer yang dipulihkan dari tahun 1880-an – disebut Tanah Merah, atau “tanah merah” dalam bahasa Melayu – berisi banyak area komunal resor, termasuk beberapa restoran dan The Living Room.
Dulunya merupakan tempat untuk pesta meriah yang luar biasa oleh perwira Inggris dari Royal Artillery, The Living Room sekarang mengumpulkan tamu untuk minum teh sore gratis setiap hari, serta lokakarya yang dipimpin oleh staf Capella Culturists, yang menyenangkan para tamu dengan kisah masa lalu resor.
Memesan dua bangunan Tanah Merah merupakan perluasan modern dari resor, yang struktur lengkungnya membingkai halaman taman dan mencakup kamar dan suite.
Deretan tiga kolam renang yang indah, dedaunan hutan hujan dan vila dengan satu atau dua kamar tidur (masing-masing dengan teras luar ruangan dan kolam berendam pribadi) diposisikan secara berseni di situs resor yang seolah-olah mengalir ke pantai umum di bawah.
Saya menginap di Kamar Premier Seaview yang, pada awalnya, tampak sangat sederhana: bahan alami, palet warna yang diredam, dan sejenisnya (meskipun pasti dilengkapi dengan bahan dan perlengkapan berkualitas premium).
Namun dalam beberapa menit, saya menyadari potensi penuh kamar ini, dari iPad di samping tempat tidur yang berfungsi sebagai panel kontrol untuk fungsi kamar, termasuk pencahayaan, AC, tirai, dan tirai, hingga sistem suara surround Bose yang canggih.
Memang, kemewahan tersedia di setiap titik kontak, termasuk perlengkapan mandi Aesop dan pemandangan yang indah yaitupancuran dan bak mandi terpisah menghadap ke balkon yang luas dan pemandangan laut pulau.
Klien yang mengutamakan eksklusivitas akan menghargai The Manor Experience, paket yang baru saja diluncurkan dengan fitur menginap di salah satu Capella Manors resor yang luas.
Seperti hunian pribadi yang mewah, setiap Manor dapat menampung hingga enam orang dewasa dan satu anak, dan fasilitasnya termasuk teras luar ruangan yang besar dengan kolam renang lintasan pribadi, kegiatan anak-anak di rumah, tuan rumah vila khusus, koki pribadi, dan banyak lagi.
Tidak peduli di mana tamu memilih untuk tinggal, bagaimanapun, sebagian besar akan mampir setidaknya satu kali ke Auriga Spa. Hotel yang memperoleh status Bintang Lima oleh Forbes Travel Guide ini menawarkan perawatan khas sesuai dengan fase rembulan.
Waxing Moon, misalnya, berfokus pada penyembuhan dan nutrisi, sedangkan Waning Moon bertujuan untuk detoksifikasi. Memikirkan kembali niat saya untuk penyegaran, saya memilih perawatan bernama New Moon treatment.
Ini treatment yang berfokus pada pembaruan dan introspeksi. Dan terlepas dari apakah klien benar-benar memercayai “ritme selestial” seperti itu, itu adalah pijatan terbaik yang pernah saya alami – dan membuat saya percaya diri.