Sosialisasi  Sadar Wisata Jadi Tantangan Besar Forkom Pokdarwis Kota Banjarmasin.

0
49

Ketua Departemen Pariwisata Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hilda Ansariah Sabri, melongok desa-desa wisata di kota Banjarmasin sesuai program kerja pengembangan desa wisata organisasi profesi itu. Berikut laporan perjalanannya bagian pertama

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Sungai Jingah, kota Banjarmasin menjadi tujuan pertama saat tiba di ibu kota provinsi Kalimantan Selatan untuk menemui ketuanya, Muhammad Rafi.

Posisinya juga sekaligus sebagai ketua Forum komunikasi ( Forkom) Pokdarwis di Kota Banjarmasin sehingga sedikitnya ada 20 Pokdarwis yang bergabung dalam Forkom dibawah komando Rafi, panggilan akrabnya.

Di sisi lain Pokdarwis Sungai Jingah yang terbentuk 2017 itu pada 2018 sudah menjadi pemenang Pokdarwis Berkembang se Kalimantan Selatan dan fokus mempromosikan kampungnya sebagai  desa wisata.

Pilihan yang tepat rupanya mengunjungi Rafi di toko Sasirangannya di Kampung Sungai Jingah , Kota Banjarmasin Utara. Memasuki kampung di pinggir sungai Martapura  ini nuansa religi terasa dari adanya Makam Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau dikenal sebagai Tuan Guru Surgi Mufti.

Setelah itu mobil melewati papan petunjuk berbentuk rumah tradisional Banjar di sisi kiri jalan bertuliskan Obyek Wisata Sungai Jingah, Heritage – Sasirangan-Kuliner, Banjarmasin.

Seperti halnya ‘pintu gerbang’ kampung, dari sela-sela deretan rumah dibagian sisi kanan jalan terlihat rumah-rumah di seberang Sungai Martapura yang dinding dan atap rumahnya semua berwarna biru.

Toko bertuliskan Rafi Wedding Service memajang baju pengantin dan gaun-gaun panjang berbahan kain Sasirangan. Ternyata Rafi menawarkan jasa make up artist, make up pengantin dan wisudawati.

Jasanya mulai dari sewa kebaya, gaun pengantin dan dekorasi, produksi kain Sasirangan, kemeja pria, kaos T-shirt kualitas Distro, busana Muslimah hingga buket dari kain Sasirangan.

” Kampung kami ini memang pusat grosir kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan sehingga ketika Pemkot pada 2017 mendorong lahirnya Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) sebagai daya tarik wisata baru maka kami fokus pada produk Sasirangan sebagai keunikan dan meningkatkan ekonomi warga,” jelas Rafi.

Muhammad Rafi, Ketua Pokdarwis Sungai Jingah sekaligus Ketua Forum Komunikasi Pokdarwis Kota Banjarmasin.

Ada sedikitnya 23 perajin UMKM Sasirangan di Sungai Jingah. Saat ini selain harga dan kualitas yang terjangkau, Rafi mengklaim harga yang dijual juga paling ramah di kantong alias jauh lebih murah dari sentra Sasirangan  lainnya.

Tahun 2017 lahir sedikitnya 20 Pokdarwis, namun seiring waktu tinggal 10 Pokdarwis yang aktif dan sebagai Ketua Pokdarwis Sungai Jingah maupun sebagai Ketua Forkom Pokdarwis Kota Banjarmasin, dia berupaya agar setiap Pokdarwis memiliki keunikan dan produk yang saling menunjang.

” Kami tawarkan heritage berupa rumah tua Banjar, suasana  kampung Sasirangan dan kue-kue khas Banjarmasin bahkan yang sudah langka,” kata Rafi

Sementara Pokdarwis lainnya, Karindangan misalnya juga menawarkan kuliner namun khusus masakan Timur Tengah karena di sana memang dikenal sebagai Kampung Arab dengan banyaknya keturunan Arab penyebar agama Islam di Pulau Kalimantan, jelasnya.

Produk Heritage belum bisa jadi unggulan karena rumah-rumah tua khas Banjar dari kayu ulin yang ada belum tersentuh revitalisasi dari Pemkot sebagai daya tarik wisata. Rumah-rumah masih milik pribadi keturunan dari orang-orang kaya dari kampung itu yang kondisinya sudah banyak yang rusak.

“Jika bisa direvitalisasi seperti di Singapura, alih fungsi untuk kebutuhan wisatawan mancanegara pastinya akan menjadi daya tarik wisata kebanggaan,” tutur Muhammad Bezqoni, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) Kota Banjarmasin yang mendampingi kunjungan ini.

Menurut Bezqoni yang akrab dipanggil Bebez, revitalisasi rumah tua akan menjadikan Kelurahan Sungai Jingah mampu menawarkan walking tour dan memperpanjang lama tinggal wisatawan domestik maupun mancanegara di kota Banjarmasin. Disamping juga menyelamatkan bangunan kuno dan melestarikan arsitektur tradisional yang sangat berharga.

Selain fokus pada keberadaan kampung wisata sebagai sentra Sasirangan, Rafi mengatakan sebelum adanya pandemi global pihaknya populerkan kuliner khas Banjar berada di kawasan Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka). Tepatnya di bawah jembatan Banua Anyar.

Karena lokasinya yang berdekatan dengan museum tersebut, destinasi ini dinamakan Kuliner Wasaka Dan Mawarung Baimbai yang diresmikan oleh Walikota Banjarmasin H. Ibnu Sina.

Awalnya Rafi berbagi rencana tersebut dengan Camat Banjarmasin Utara, Apiluddin. Akhirnya berdasarkan dua kali pertemuan seluruh lurah se Kecamatan Banjarmasin Utara sepakat untuk mengangkat kuliner Banjar.

Rafi yang berpengalaman selama 6 tahun sebagai ketua RT/ RW mulai membuka sejenis warung kecil yang mana tempat di sediakan salah satu warga RT 17 Sungai Jingah dengan jumlah pedagang empat orang pada tanggal 13 Januari 2018.

Mulanya buka setiap seminggu sekali saja yaitu setiap Sabtu dari pukul 16.00 Wita sampai 22.00 Wita yang diberi nama Mawarung Baimbai. Artinya ke warung bersama-sama sambil ngobrol dan menikmati kuliner.

Kampung wisata Sungai Jingah andalkan keunikan kuliner dan potensi sentra produksi kain Sasirangan

Sampai sekarang berkembang dan banyak dikunjungi masyarakat Kalsel. Bahkan salah satu artis ibu kota pernah berkunjung dan nikmati kuliner khas Banjar di Mawarung Baimbai yaitu Laudya Cyntia Bella dan chef nasional Rudy Choirudin.

” Untuk program Mawarung Baimbai ini 17 anggota Pokdarwis yang melayani kunjungan tamu, sementara kue-kue dan penganan lainnya disiapkan oleh warga. Setiap sebuah kue misalnya, Pokdarwis mendapat bagian Rp 500/ buah. Program ini sukses dan kita akan lanjutkan setelah ada izin dan pandemi global berakhir,” kata Rafi.

Beragam kuliner khas Kota Banjarmasin disuguhkan di area Mawarung Baimbai, mulai dari kue tetal, kue laksa, lupis, hingga apam surabi tersedia dengan harga yang terjangkau dan  rata-rata pengunjung di kawasan tersebut mengaku puas dengan sugguhan rasa kuliner tersebut.

Pemasukan lainnya adalah dari bagi hasil  dengan 23 perajin Sasirangan yang ada. Caranya misalnya dengan memberikan harga miring bagi Pokdarwis yang memasarkan produk-produk Sasirangan di satu event maupun dalam melakukan promosi bersama melalui website dan medsos lainnya.

Sasirangan adalah kain tradisional yang berasal dari Bahasa Banjar, yaitu sirang yang berarti menjelujur. Motifnya dibuat dengan jahitan dengan teknik jelujur. Awalnya, kain sasirangan diyakini dapat mengobati penyakit dan mengusir roh jahat sehingga pembuatannya dibatasi. 

Namun sekarang sudah menjadi suvenir khas Kalimantan Selatan dan secara umum, pembuatannya masih menggunakan cara tradisional. Mulanya ada 8 motif utama namun kini berkembang bahkan menjadi beragam motif.

” Alhamdulilah setelah adanya Pokdarwis, pesanan para perajin meningkat meski tingkat sadar wisatanya masih menjadi tantangan besar buat kami,” kata Rafi.

Sadar wisata yang menyeluruh di semua lapisan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan pariwisata di kota Banjarmasin maupun di tingkat nasional. 

Para perajin sudah merasakan manfaat ekonomi, namun dalam hal desain kerap tidak mau lebih kreatif. Mereka juga belum mau terlibat langsung jadi anggota Pokdarwis dan menciptakan keunikan motif, misalnya.

” Maksud saya, para perajin bisa terus mengeksplor desain/motif. Instansi pemerintah sering membuat pelatihan untuk meningkatkan produksi maupun kemasan namun para perajin tidak mau ikut dan asyik dengan maunya sendiri. Sedangkan sebagai produsen kita harus menyesuaikan diri dengan permintaan pasar,” ungkapnya.

Sebagai kampung wisata Sadar Wisata untuk menerapkan Sapta Pesona juga sangat penting yaitu menerapkan unsur Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah-tamah dan Kenangan. ” Warga masih saja buang sampah ke sungai, ini juga menjadi keprihatinan bersama,” kata Rafi.

Beruntung kini di lingkungannya di RT 17 juga sudah ada Forum Warga dan memiliki Whatsapp ( WA) grup sehingga bisa  dimanfaatkan untuk sosialisasi tingkat sadar wisata masyarakat.

Kelompok warga yang sadar dengan kepariwisataan adalah wujud partisipasi masyarakat membangun perekonomian yang merata karena dampak berganda aktivitas pariwisata yang langsung dirasakan warga.

Di kota Banjarmasin ini ada Kampung Arab dengan Pokdarwis Karindangan, Hijau Sungai Billu, Kampung Polisi Sungai Andai, Ditamba Sungai Andai, Kampung Asmaul Husna Sungai Andai, Pulau Bromo Mantuil dan Habib Hamid bin Abbas Bahasim Basirih.

Sebagai ketua Forkom Pokdarwis, dia menaruh harapan besar Pokdarwis lainnya terus aktif menggali keunikan dan keunggulan masing-masing dan  jumlahnya terus meningkat bukan malah menyusut. Nah bagaimana,  berani menerima tantangan Rafi ?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.