RUA-Masyarakat Fotografi Indonesia 2020 Pilih Ketua Baru

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI), melaksanakan Rapat Umum Anggota (RUA) secara daring yang diikuti 64 insan fotografi yang menjadi anggota dari seluruh Indonesia dan sejumlah undangan, kata Anton Bayu Samudra, pengurus MFI, hari ini.

” RUA dilaksanakan untuk meregenerasi pengurus, silaturahmi, dan menyatukan ide  serta  pemikiran untuk terus mengembangkan dunia fotografi Indonesia,” ujarnya. 

Acara dibuka oleh Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi Kementrian Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Syaifullah SE, M.Ec, Ph.D.  

RUA – MFI 2020 dihadiri praktisi fotografi baik individu maupun komunitas, akademisi di bidang fotografi, pelaku bisnis industri fotografi, dan pemerintah. 

Rapat umum secara daring berlangsung mulai pukul 9.00 WIB hingga 14.30 WIB dengan puncak acara berupa pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MFI masa bakti 2020 – 2023.

Melalui mekanisme voting dalam RUA-MFI 2020, telah terpilih Andi Kusnadi (Semarang) sebagai Ketua dan Irwandi (Yogyakarta) sebagai Wakil Ketua MFI periode 2020-2023 yang mendapatkan 32 suara dari 63 pemilih. Sementara Pasangan Calon lainnya Andrew Linggar dan Dibya Pradana (Jakarta) mendapatkan 31 suara.

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah perkumpulan nirlaba, didirikan sebagai hasil mufakat Kongres Fotografi Indonesia, yang dibidani dan diresmikan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. 

Sejak berdiri tahun 2014 dan resmi berbadan hukum pada tahun 2015, MFI dirancang untuk  menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam dunia fotografi, yaitu; praktisi fotografi, akademisi, bisnis dan pemerintah. 

Masyarakat Fotografi Indonesia merupakan wadah yang berperan memayungi, mendorong kerjasama,  dan koordinasi antar para pemangku kepentingan – baik perseorangan maupun segala bentuk perkumpulan, komunitas, asosiasi profesi fotografi.

Tujuannya untuk mengembangkan sektor fotografi di Indonesia dan menjadikan dunia fotografi di Indonesia dapat menjadi salah satu pendorong kekuatan baru di Industri Kreatif Indonesia, yang mampu bersaing secara kompetitif di dunia internasional dengan standar dan kualitas yang tinggi.

Untuk tujuan tersebut, selain membentuk Badan Pengurus dan jaringan Mitra yang tersebar di sejumlah propinsi di Indonesia. MFI juga memiliki Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas yang terdiri dari sejumlah tokoh pada Industri Kreatif dan Fotografi Indonesia. 

“Pada jajaran Dewan Kehormatan terdapat sejumlah tokoh, seperti;  Mari Elka Pangestu, Soedja’i Kartasasmita, Profesor Soeprapto Soedjono, dan Watie Moerany. Salah satu Anggota Dewan Kehormatan berencana akan mengundang Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS tergabung dalam Dewan Kehormatan MFI,”  jelas Anton Bayu Samudra.

Sementara pada jajaran Dewan Pengawas MFI, terdapat sejumlah tokoh dunia fotografi Indonesia, seperti;  Sigit Pramono, Oscar Motuloh, Firman Ichsan, Agus Leonardus, Arbain Rambey, Darwis Triadi, Don Hasman, Edmon Makarim, Edwin Djuanda, Fendi Siregar, Guntur Santoso, Imam Hartoyo, Irwan Kamdani, Johnny Hendarta, Ray Bachtiar, Riza Marlon, Risman Marah, Solihin Margo, Yudhi Soerjoatmodjo dan Rio Helmi.

Dalam RUA – MFI 2020, Dewan Pengawas menentukan Sigit Pramono sebagai Ketua Dewan Pengawas, Wakil Ketua I Edwin Djuanda dan Wakil Ketua II Risman Marah. Terdapat penambahan Dewan Pengawas yaitu Hermanus Prihatna dan Agatha Bunanta.

Regenerasi kepengurusan MFI melalui RUA – MFI 2020, diharapkan dapat melanjutkan dan mengembangkan program – program MFI, dan memperkuat jaringan Mitra di berbagai kota, demi perkembangan dunia fotografi Indonesia. 

 

Presiden Jokowi Sambut Baik Kerja Sama ASEAN Travel Corridor Agreement

this formate

BOGOR, bisniswisata.co.id: Presiden Joko Widodo menyambut baik akan dikeluarkannya ASEAN Declaration on an ASEAN Travel Corridor Arrangement (TCA) Framework pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-37 ASEAN yang digelar secara virtual melalui konferensi video.

Berbicara saat menyampaikan pidato pada KTT Pleno ke-37 ASEAN dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada hari ini,  Kamis, 12 November 2020, Presiden menyampaikan Pengaturan ASEAN Travel Corridor tersebut sebelumnya telah diusulkan Presiden Jokowi pada KTT ke-36 ASEAN pada 26 Juni 2020 lalu.

“Saya menyambut baik di KTT ini kita akan mengeluarkan ASEAN Declaration on an ASEAN Travel Corridor Arrangement Framework. Untuk itu, rencana implementasi ASEAN TCA harus segera diwujudkan,” kata Presiden Jokowi dilansir dari presidenri.go.id.

Untuk mewujudkan implementasi TCA tersebut, Presiden Jokowi mendorong agar Dewan Koordinasi ASEAN dan Badan Sektoral ASEAN segera bergerak cepat dan efisien.

Menurutnya, ASEAN perlu segera merealisasikan pembentukan jalur cepat sementara (temporary fast lane) dan protokol kesehatan saat keberangkatan dan kedatangan, pemanfaatan platform digital yang terintegrasi di kawasan, penentuan port of entry serta ketentuan protokol kesehatan yang ketat.

“Saya harap ASEAN TCA ini dapat segera dioperasionalisasikan pada kuartal pertama tahun depan. Pengaturan tersebut akan memunculkan optimisme bahwa kegiatan ekonomi kita secara bertahap dapat diaktifkan kembali,”

“Itu sebabnya disiplin menerapkan protokol kesehatan. Rakyat kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, mereka ingin melihat kawasan kita segera bangkit,” jelasnya.

Di samping itu, Presiden Jokowi memandang optimisme lainnya yaitu penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

RCEP berhasil ditandatangani setelah negara-negara ASEAN bernegosiasi selama kurang lebih 8 tahun.”Kita harus buktikan bahwa integrasi ekonomi yang sangat besar ini akan membawa manfaat bagi rakyat kita,” tambahnya.

Terakhir, Presiden Jokowi menyampaikan pentingnya peran ASEAN dalam rangka menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Menurutnya, sangat normal di tengah rivalitas dua kekuatan besar dunia, masing-masing ingin menarik ASEAN untuk berpihak.

Menyikapi situasi tersebut, Presiden Jokowi berujar bahwa ASEAN harus solid, menjaga keseimbangan, terus menyampaikan pesan untuk memperkokoh kerja sama yang saling menguntungkan.

Dia terus menyampaikan pesan pentingnya para mitra untuk menghormati Treaty of Amity and Cooperation, dan terus menyampaikan pesan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional termasuk diantaranya UNCLOS 1982.

Dengan soliditas dan komitmen kuat untuk memajukan kerja sama inklusif maka ASEAN tidak akan terjebak di antara rivalitas tersebut dan ASEAN akan dapat memainkan peran sentralnya dalam pengembangan kerja sama kawasan.

“Tentunya hal ini bukan merupakan hal mudah. Tapi saya yakin, dengan soliditas dan komitmen kuat kita akan dapat menjalankannya,” tandas Presiden Jokowi.

 

Kemenparekraf Gelar Simulasi Protokol 3K Destinasi Pariwisata Nasional

this formate

LABUAN BAJO, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif didukung 23 kementerian/lembaga menggelar simulasi protokol kesehatan, keamanan dan keselamatan    ( 3K) .

Kegiatan di destinasi pariwisata nasional ini diharapkan mampu mendorong terciptanya kepercayaan wisatawan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

Kegiatan berlangsung pada 12 November 2020 di Hotel Inaya Bay Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyimulasikan tiga skenario penanganan ketanggapdaruratan.

Pertama, skenario yang fokus pada penanganan early warning system pada peristiwa gempa bumi yang berpotensi tsunami. Kedua, skenario yang berfokus pada penanganan ketanggapdaruratan pada peristiwa kecelakaan wisatawan yang mengalami serangan jantung.

Serta ketiga, skenario yang berfokus pada ketanggapdaruratan pada peristiwa pada kecelakaan kapal tenggelam. Keseluruhan skenario penanganan ketanggapdaruratan disimulasikan dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari BMKG, BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BTNK, Kementerian Kesehatan, Tour Guide, Tim Terpadu, masyarakat, dan lainnya.

Menparekraf/ Kepala Baparekraf Wishnutama Kusubandio mengatakan, pandemi COVID-19 membuat pariwisata tidak akan lagi sama. Keindahan alam, budaya, seni yang didukung dengan infrastruktur dan konektivitas tidak lagi cukup.

“Ke depan, pariwisata harus bisa lebih menjamin wisatawan dalam hal kesehatan, keamanan, dan keselamatan. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kita sebaiknya melakukan re-strategy terhadap kepariwisataan, agar setelah pandemi pariwisata kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Ke depan, strategi pariwisata harus lebih komprehensif dan terintegrasi,” kata Menparekraf Wishnutama Kusubandio.

Turut hadir dalam kegiatan ini Presiden Joko Widodo yang menyampaikan sambutan secara virtual, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo serta  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan.

Hadir pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G. Plate, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Kepala Badan Nasional dan Pertolongan Bagus Puruhito, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Doni Monardo, Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati, Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira, dan Dirut BOPLBF Shana Fatina.

Wishnutama mengatakan, apa yang dilakukan hari ini adalah demi menjamin keseriusan terhadap penanganan kesehatan, keamanan, dan keselamatan di destinasi wisata.

Protokol ini juga menjadi hal penting untuk mempercepat pemulihan pariwisata dan mewujudkan quality tourism sebagai langkah awal dalam mempercepat pemulihan pariwisata agar lebih berkualitas, aman, dan nyaman.

“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk seluruh tim gabungan yang telah bersinergi menyusun hingga melaksanakan rangkaian simulasi protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan ini,” kata Wishnutama.

Simulasi Protokol 3K Destinasi Pariwisata Nasional disiarkan secara live streaming di Youtube Kemenparekraf langsung dari Hotel Inaya Bay Komodo, Labuan Bajo. Dalam simulasi penanganan ketanggapdaruratan juga melibatkan berbagai peralatan dan sarana prasarana.

Ada simulasi peristiwa kecelakaan kapal tenggelam di depan Hotel Inaya Bay Komodo dimana  kapal yang membawa 10 penumpang dan tiga kru itu terbakar di tengah perjalanan.

Kapten kapal kemudian memberikan sinyal kedaruratan ke command center mengenai kejadian yang dialami, titik koordinat, keterangan jenis kapal, dan jumlah penumpang.

Dari informasi yang diterima command center, Basarnas memimpin upaya penanganan langsung melakukan evakuasi melalui jalur udara. Didukung dua unit helikopter yang berisikan anggota penyelamat berkeahlian khusus, melakukan free jump ke laut untuk menyelamatkan para penumpang dan mengevakuasi ke helikopter guna mendapatkan pertolongan pertama.

Sementara dari jalur laut melibatkan enam kapal sea rider (kapal taktis) yang juga bergerak menuju titik kecelakaan dan melakukan evakuasi korban guna mendapat pertolongan.

Di dermaga, telah bersiap ambulans dari Kementerian Kesehatan yang akan membawa para korban ke rumah sakit. Simulasi Protokol ini adalah yang pertama dilakukan di Indonesia dan akan dilakukan di Destinasi Pariwisata Nasional lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengapresiasi kegiatan simulasi yang mengkolaborasikan 23 kementerian/lembaga ( K/L). Simulasi ini merupakan satu uji coba sebuah sistem terpadu yang menjadi cikal bakal SOP (Standard Operational Procedure) bidang kesehatan, keamanan, dan keselamatan destinasi pariwisata Indonesia.

“Presiden sudah memberikan arahan supaya semua kegiatan terintegrasi dan perbaikannya pun secara terintegrasi. Tidak ada boleh orang yang atau instansi juga K/L yang punya langkah sendiri-sendiri,” kata dia.

Kegiatan yang dilakukan dengan teamwork  yang baik ini juga akan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bersiap dengan lebih baik untuk menjaga keselamatan dan keamanan wisatawan.

Sementara Presiden Joko Widodo dalam sambutannya secara virtual mengatakan, untuk pertama kalinya Indonesia mempunyai sistem kesehatan, keselamatan, dan keamanan yang terintegrasi. Dimulai dari Labuan Bajo yang nantinya akan diterapkan di 10 destinasi prioritas pariwisata lainnya.

“Simulasi ini sudah dipersiapkan berbulan-bulan dengan sangat matang dan didukung oleh lintas kementerian dan lembaga. Simulasi ini dipersiapkan untuk bisa menjamin kesehatan, keselamatan, dan keamanan wisatawan untuk hadir kembali ke Labuan Bajo dan destinasi pariwisata lainnya,” kata Presiden Joko Widodo.

 

Tekuni Tiga Hobi Baru Selama Pandemi Global & Jeda Kuliah

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jakarta dan sekitarnya masih dalam suasana New Normal atau PSBB transisi, perpanjangan PSBB transisi ini dimulai pada Oktober hingga 22 November 2020 mendatang.

Salah satu bentuk aturan selama PSBB transisi ini adalah belum diadakannya tatap muka di bidang pendidikan seperti Perguruan Tinggi.Diperkirakan kegiatan tatap muka baru akan diberlakukan kembali pada tahun ajaran 2021/2020.

Saat ini kegiatan mengajar dilakukan secara daring untuk semua zona atas dasar keselamatan dan protokol kesehatan selama masa pandemi yang terjadi.

Salah satu mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lisa Fania (22) mengatakkan bahwa selama masa pandemi ini jelas mempengaruhi kegiatan yang biasanya dilakukan sebelum pandemi.

“pada awalnya saya merasa biasa saja karena memang sering berada dirumah, tapi lama kelamaan saya merasa bosan dan cukup stress karena terlalu lama berada dirumah, jauh dari teman-teman, dan tidak bisa melakukan kegiatan diluar rumah karena takut terpapar Covid-19”.

Selain itu ia juga mengatakan banyak perubahan mendasar yang dia alami antara lain ialah menjadi terbiasa untuk senantiasa membawa serta mengenakan masker kemana pun dan sedekat apapun saat keluar rumah.

Lisa juga otomatis selalu mencuci tangan saat berpergian, namun disisi lain juga terdapat kekhawatiran untuk tertular Covid-19. Hal ini tidak hanya terjadi pada diri sendiri tetapi juga kepada anggota keluarganya merasakan hal yang sama.

Banyaknya kegiatan yang dilakukan dirumah juga berdampak pada peningkatan spiritualitas, ia mengaku selama masa pandemi ini ia banyak memiliki waktu luang, salah satunya untuk meningkatkan keimanan, ia berharap agar kondisi semakin membaik.

Dampak lain dari pandemi ini juga membuat idia dapat mencoba untuk melakukan hal-hal baru yang belum pernah ia coba sebelumnya. Lisa bersyukur karena tidak ada perubahan dalam masalah finansial selama masa pandemi ini dan juga mengatakan dilingkungannya tidak terjadi peningkatan kriminalitas.

Lisa berharap kedepannya bahwa situasi ini cepat berakhir, dan keadaan bisa kembali seperti semula secara perlahan, ia juga berpesan kepada masyarakat lainnya untuk lebih sadar diri akan kebersihan dan protokol kesehatan ketika berada diluar rumah.

“Karena hal tersebut bisa menjadi kunci untuk memutus rantai penularan Covid-19. Dengan tidak patuh terhadap protokol kesehatan, bisa saja karna kelalaian kita menularkan orang lain yang bisa jadi anggota keluarga kita sendiri,” kata Lisa.

Lisa mengatakan bahwa hobi baru yang ia coba adalah menulis sebuah blog, dan dokumentasi yang ia kembangkan menjadi cerpen.Selain itu ia juga mencoba untuk mulai menggambar.

“Belajar menggambar atau melukis ternyata membuat kita belajar fokus, bekerja dalam kondisi tenang. Begitu juga saat menulis untuk blog sendiri, membuat refreshing serta killing time,” kata Lisa bersemangat dengan aktivitas menyenangkan dalam mengisi waktu luang.

 

Riset yang Perlu Diketahui Saat Melakukan Family Trip, Kantor dan Pertemuan Tatap Muka

this formate

NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Menurut survei terbaru terhadap lebih dari 500 travel agent untuk seri penelitian yang perlu diketahui, terungkap bahwa agen terpecah ketika harus melanjutkan rutinitas profesional pra-pandemi mereka.

Dilansir dari Travel Age West, hampir 77% dari travel agent yang disurvei terus bekerja dari rumah, dengan 27% pindah ke kantor berbasis rumah sebagai akibat dari pandemi COVID-19.

Namun, sepertiga responden mengatakan mereka mengincar kembali ke kantor pada paruh pertama 2021, sementara 23% yakin  mereka akan kembali pada akhir 2020.

Delapan belas persen mengantisipasi kegiatan kembali  pada paruh kedua 2021, dan 2% memprediksi mereka tidak akan kembali ke lokasi fisik hingga tahun 2022 atau lebih. Khususnya, sekitar seperempat penasihat perjalanan itu tidak mengantisipasi kembali ke kantor sama sekali.

Angka-angka ini mencerminkan sentimen travel agent tentang pertemuan tatap muka dengan klien atau pemasok. Meskipun sekitar 18% saat ini bertemu langsung dengan mitra bisnis mereka, sekitar 38% percaya bahwa mereka akan mulai bertemu pada paruh pertama tahun 2021; 21% sebelum akhir tahun ini; 19% di paruh kedua 2021; dan 4% berharap menunggu hingga 2022 atau lebih.

Mungkin yang paling mengejutkan adalah, dari para penasihat perjalanan ini justru mayoritas mereka masih berhati-hati dalam hal penerbangan. Meskipun 22% telah melakukan penerbangan dalam 90 hari terakhir, hampir 80% menghindari pesawat.

Dan ketika ditanya kapan mereka bersedia menghadiri trip keluarga yang mencakup penerbangan, para penasihat dibagi rata dengan jawaban mereka: Sekitar seperempat akan menghadiri satu keluarga di paruh kedua tahun 2021.

Seperempat lainnya akan hadir pada paruh pertama tahun 2021; dan seperempat lagi  akan hadir jika ditawari kesempatan sekarang. Hanya 8,5% yang percaya bahwa mereka akan menunggu hingga tahun 2022 atau lebih.

Heather Christopher, pemilik Heather Christopher Travel Consulting, baru-baru ini kembali dari perjalanan keluarga ke Sugar Beach, Resor Raja Muda di St. Lucia.

Dia mengatakan dia terkejut bahwa begitu sedikit penasihat yang terbang dengan pesawat, karena “pengalaman langsung benar-benar berperan” saat menutup penjualan.

“Saya tidak bisa mengatakan betapa bahagianya saya bisa keluar dan melihat bagaimana suatu tempat, dan untuk melihat bagaimana [persyaratan COVID-19-nya] bekerja,” katanya.

Menurut dia sentimen keseluruhan adalah bahwa  pihaknya mencapai titik di mana dia memang harus keluar dan melakukannya untuk mendorong orang-orang untuk bepergian juga sambil menunjukkan kepada mereka apa yang akan mereka lakukan, kata Heather Christopher.

PATA Tawarkan Pelatihan Online Gratis Bagi Para Profesional Travel & Tourism  

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id:  – Pacific Asia Travel Association (PATA) uncurkan PATA eLearning Platform untuk agen perjalanan, profesional pariwisata, dan pemasar destinasi yang ingin menyegarkan pengetahuan, mempelajari keterampilan baru yang tetap relevan.

Platform tujuan dikembangkan dan dipromosikan dalam platform pelatihan agen OTT, yang diakses oleh lebih dari 150.000 profesional perjalanan di seluruh dunia.

Kursus online gratis ini  memberikan kesempatan kepada peserta untuk menonton video, menyelesaikan tugas, dan mendapatkan sertifikat sambil belajar dari para profesional dan pakar perjalanan yang ingin membagikan pengetahuan mereka.

Kursus saat ini tersedia untuk Palau, Kenya, The Marianas, Tahiti, Bangladesh, Guam, Kiribati dan Macao dan China.

“Pandemi saat ini telah memungkinkan banyak profesional pariwisata mengambil kesempatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pendidikan mereka, sehingga meningkatkan karir dan produk mereka ”  kata Dr. Mario Hardy CEO PATA.

Selain itu, destinasi berjuang selama masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini untuk menemukan jalan yang berarti untuk terlibat dengan berbagai pemangku kepentingan.

Berpartisipasi dalam PATA eLearning Platform adalah peluang sempurna bagi para profesional perjalanan untuk lebih mengembangkan wawasan ke berbagai tujuan dan secara efektif terlibat dengan para profesional perjalanan dengan cara yang berarti.

Sebagai bagian dari peluncuran, anggota pemerintah PATA memiliki kesempatan untuk berpartisipasi di Platform eLearning dengan mengunggah kursus pelatihan gratis ke platform hingga Maret 2021.

Kursus dapat berisi hingga 10 halaman wawasan informatif dan menarik bagi agen perjalanan dan profesional pariwisata. Di akhir kursus, peserta akan diminta untuk menyelesaikan kuis singkat untuk menguji pengetahuan mereka dan menerima sertifikat kelulusan.

Anggota pemerintah PATA yang ingin melanjutkan kursus mereka di situs pelatihan setelah Maret 2021 dapat melanjutkan dengan membayar biaya tahunan sebesar £ 1.750 GBP.

 

Pusat Judi Dunia Macau Menggeliat Lagi

this formate

Pusat judi dunia akhirnya buka lagi (foto: BBC)

MACAU, bisniswisata.co.id: Kunjungan wisatawan ke Macau, pusat perjudian di Asia bahkan terbesar di dunia, pada September naik hingga 197,9%, dibandingkan bulan sebelumnya. Data terkini yang dirilis Pusat Statistik dan Sensus Macau (DSEC) menunjukkan ada 131.000 turis yang datang ke Macau selama bulan lalu. 

Tren peningkatan ini tak lepas dari kebijakan Pemerintah China yang mulai melonggarkan aturan pembatasan dan mengizinkan warganya untuk melakukan perjalanan ke Macau.

Meski demikian, angka ini masih jauh dari capaian pada bulan yang sama tahun lalu. Jika dibandingkan dengan September 2019, jumlah turis yang datang ke Macau turun sebesar 82,6%. Pemulihan dipastikan akan berlangsung bertahap selama beberapa bulan ke depan.  

Sementara itu pendapatan pun terus meningkat. Pada Oktober, angkanya naik 228,8% dibandingkan bulan sebelumnya. Meski jika dibandingkan dengan tahun lalu, angkanya turun 72,5%. 

Sedangkan pendapatan selama 6 bulan tahun ini melorot lebih dari 90% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, demikian menurut data dari Biro Inspeksi dan Koordinasi Gaming Macau.   

Salah satu faktor penggerak naiknya kunjungan wisatawan ke Macau adalah dimulainya kembali skema kunjungan individu pada 23 September lalu, yang sempat ditangguhkan pada akhir Januari karena pandemi COVID-19.

Keputusan dikeluarkannya kembali visa turis bertujuan untuk meningkatkan lagi kehidupan perjudian di Macau yang telah terpuruk.

Selama lockdown para pemilik kasino di Macau mencatat kerugian hingga US$ 15 juta setara Rp 222 miliar (kurs Rp 14.700) setiap harinya.

Sejauh ini Hainan dan Macau menjadi satu dari sedikit destinasi tujuan wisata di Asia yang menunjukkan geliat positif di era pandemi, selain Jeju di Korea Selatan. Tetapi para analis menilai aktivitas perjalanan internasional pelancong China ‘masih koma.’

Menurut mereka, pemulihan akan sangat bergantung pada kebijakan pembatasan yang hingga kini masih diberlakukan di sejumlah negara di kawasan Asia.

Selama tujuan wisata regional masih ditutup maka sulit membayangkan aktivitas perjalanan wisatawan China ke luar negeri akan pulih. 

“Belajar dari Macau, pemulihan tidak dapat terjadi secara instan tetapi akan berlangsung selama beberapa bulan.” 

Penerbangan jarak pendek masih populer

Ada catatan menarik terkait perilaku wisatawan China yang bepergian dengan pesawat. Kebanyakan mereka ternyata belum berhasrat untuk melakukan perjalanan jauh.

Artinya, destinasi wisata di Asia yang membutuhkan perjalanan lebih singkat menjadi tujuan utama para pelancong China yang hendak ke luar negeri.

Destinasi wisata di Asia akan menjadi tujuan utama warga Tiongkok untuk dikunjungai. Meski demikian para pakar mengingatkan bahwa pariwisata China dan permintaan perjalanan masih akan tertekan.

Mobilitas turis China ke luar negeri juga bergantung pada pelonggaran kebijakan negara tujuan. “Ini membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dan kemajuan besar tidak akan terjadi secara merata.”

 

Jepang Kembangkan Aplikasi untuk Atasi Masalah Sampah Pangan, Bagaimana dengan Indonesia?

this formate

Jepang segera rilis aplikasi untuk bantu kurangi sampah makanan (Foto: greenbiz)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Jepang tengah mengembangkan aplikasi yang diharapkan dapat membantu mengurangi kebiasaan orang membuang makanan. Mereka menilai kemubaziran itu perlu dikendalikan. 

Sampah makanan juga terjadi di restoran maupun  hotel serta gedung pertemuan akibat tamu tidak menghabiskan makanan dari acara-acara pesta dan konferensi yang tidak banyak mendatangkan tamu atau peserta sehingga banyak makanan mubazir.

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang mencatat ada 6,43 juta ton sampah makanan per tahun. Artinya setiap orang  rata-rata membuang makanan 51 kilogram setiap tahun. Itu setara dengan semangkuk nasi per hari. 

Dilansir dari Yomiuri Shimbun, aplikasi yang versi uji cobanya akan dirilis pada akhir tahun fiskal 2021 diharapkan dapat memengaruhi pola hidup konsumen sehingga mereka tidak perlu membeli makanan yang tidak diperlukan.

Lewat aplikasi ini, penggunanya dapat menghitung berapa kerugian jika mereka membuang-buang makanan. Inilah salah satu cara untuk meminimalisir limbah makanan.

Cara kerja aplikasi ini pun cukup sederhana. Pengguna hanya diminta untuk memasukkan nama item makanan yang hendak dibuang. Aplikasi akan menghitung berapa banyak uang yang Anda mubazirkan untuk membeli makanan sisa tersebut.

Selain itu, aplikasi ini juga dapat mengalisis jumlah makanan yang tersisa di kulkas dan memberi informasi kapan waktunya untuk membeli kembali barang-barang tertentu. Dengan demikian, konsumen dapat dengan bijak membeli makanan sesuai kebutuhan saja. 

Pengguna juga dapat memperloleh ide membuat makanan dari bahan-bahan yang ada di rumah; Aplikasi ini juga dapat menginfokan jenis makanan apa yang terlalu banyak dibeli.

Badan Urusan Konsumen telah mengalokasikan dana sebesar 80 juta Yen atau setara Rp 10,7 miliar untuk mengembangkan aplikasi tersebut. 

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?  Isu ini juga sudah lama menjadi perbincangan. Jumlah makanan sisa yang terbuang bahkan jauh lebih banyak. 

Menurut laporan Food Sustainable Index 2018 terbitan the Economist Intellegent Unit bersama Barilla Center for Food and Nutrition Foundation, rata-rata setiap penduduk Indonesia membuang sekitar 300 kilogram makanan per tahun. 

Fakta tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang dengan perilaku konsumtif pangan yang tinggi bahkan melebihi negara adidaya sekelas Amerika Serikat.

Ironisnya lagi, di tengah begitu banyak makanan terbuang, masih banyak penduduk Indonesia yang kelaparan, belum lagi fakta banyak balita yang mengalami kurang gizi bahkan menderita gizi buruk.

Fakta lain menyebut 34,74 % rumah tangga di Indonesia masih memanfaatkan bantuan beras miskin dari pemerintah, demikian dilaporkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. 

Betul, bahwa masalah sampah pangan bukan sepenuhnya tanggungjawab pemerintah. Namun demikian, setiap individu diminta untuk ikut memikul tanggungjawab dengan melakoni pola hidup hemat dan bijak dengan tidak memubazirkan makanan.

Partisipasi aktif individu menjadi kunci mengurangi sampah pangan. Mulailah dengan hal sederhana dalam mengkonsumsi makanan. Ambil makanan sesuai porsi dan kebutuhan gizi serta hindarilah menyisakan makanan yang tengah dikonsumsi.

 

Apakah Keyakinan Wisatawan Kembali?  Berikut 4 Wawasan Utama Dari Para Ahli dan Konsumen

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Skift Global Forum telah menyurvei para pembuat keputusan industri perjalanan untuk menentukan apa yang menurut industri mereka ketahui tentang konsumen berdasarkan lanskap saat ini, asumsi apa yang dibuat, dan di mana mungkin ada keterputusan.

Dilansir dari Skift, pertanyaan apakah kepercayaan wisatawan kembali?  Untuk menjawabnya kembali pada Maret 2020 ketika  melihat perjalanan berhenti tiba-tiba, tetapi tidak ada yang tahu berapa lama itu akan tetap dijeda.

Meskipun perkiraan dan prediksi terus menerus dilakukan oleh para ahli industri, masih ada cukup banyak area abu-abu di sekitar kapan kembalinya bisnis perjalanan ?.   Kapan mayoritas konsumen merasa cukup aman untuk mulai bepergian lagi?  Apa yang harus diterapkan oleh industri dalam kaitannya dengan protokol keselamatan baru?

AIG Travel baru-baru ini menyurvei lebih dari 3.000 konsumen perjalanan yang berbasis di AS, mengamati pola pikir konsumen perjalanan, jika perjalanan sedang dipesan, dan jika tidak, apa yang perlu diubah untuk membuat orang merasa cukup nyaman untuk bepergian.

Skift  juga telah mensurvei audiens Forum Global Skift  yang terdiri dari lebih dari 1.000 eksekutif industri perjalanan di semua sektor industri dengan tujuan untuk membandingkan hasil.  Dalam membandingkan data yang dipimpin konsumen dengan jajak pendapat industri, Skift berharap dapat memberikan panduan kepada para pemimpin perjalanan selama waktu yang tidak pasti ini, dan menawarkan sekilas tentang sentimen konsumen perjalanan saat ini.

Kapan  Orang Siap Bepergian Lagi 

Tidak mengherankan, sebagian besar konsumen berencana untuk tetap wisata lokal selama sisa tahun ini.  Dari mereka yang disurvei, 87% tidak berniat melakukan perjalanan internasional selama sisa tahun 2020. 

Namun, 42 % berencana untuk bepergian ke luar negara bagian mereka tahun ini. Pertanyaannya pada industri lalu.

Apakah pariwisata berada di tengah perubahan paradigma atau hanya gangguan sementara?  

Hampir setengah atau  49% mengatakan itu adalah gangguan sementara – dalam 18 hingga 24 bulan, pariwisata akan kembali ke keadaan sebelum krisis.  

Faktanya, 57% dari pemimpin perjalanan yang disurvei mengatakan perusahaan mereka berencana untuk menawarkan konsumen mulai bepergian pada tahun 2021. 

Lebih dari setengah optimis tentang pemulihan perjalanan, tetapi berpikir rebound apa pun akan berlanjut hingga 2022.

Percaya Diri Traveler, Bagaimana Mereka Berfikir Tentang Travel Sekarang ? 

Bagian sebelumnya menunjukkan bahwa pakar industri optimis untuk pemulihan perjalanan.  Tetapi kecepatan pemulihan akan bergantung pada beberapa faktor eksternal, seperti mencegah – atau paling tidak, mengekang – penyebaran virus.

Industri ini berharap permintaan yang terpendam akan segera membuat orang bepergian lagi.  Apa yang dipikirkan konsumen?

Apakah Protap Kesehatan dan Keselamatan yang Diterapkan Sebenarnya Berfungsi ?

Kami telah menetapkan bahwa kekhawatiran terkait Covid-19 adalah hal yang menghentikan konsumen untuk bepergian.  Sebagai tanggapan, kami telah melihat perusahaan perjalanan menerapkan langkah-langkah seperti peningkatan protokol kebersihan, pengurangan kapasitas penerbangan, aturan jarak sosial, dan prosedur perjalanan tanpa kontak dengan kecepatan tinggi.  Tetapi apakah kebijakan ini menghibur konsumen?  Bagaimana pola perjalanan berubah?

Menariknya, ketika ditanya apa fokus perusahaan mereka, hanya 17 % eksekutif industri yang disurvei mengatakan perusahaan mereka memandang pengujian sebagai prioritas utama untuk kenyamanan konsumen meskipun ada pengakuan bahwa lebih banyak pengujian dan hasil yang lebih cepat akan mempercepat pengembalian perjalanan.

Upaya bisnis lain yang dapat membantu mempercepat pemulihan perjalanan adalah teknologi nirsentuh.  Sebagian besar setuju bahwa perjalanan tanpa kontak akan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Sebanyak 83%  eksekutif industri mengatakan pandemi telah membuat teknologi tanpa kontak lebih diminati.

Karena terbang adalah salah satu lingkungan di mana para pelancong menganggap mereka mungkin memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi, survei konsumen mengamati lebih dekat sentimen seputar perjalanan udara secara khusus.  

data menunjukkan langkah-langkah apa yang dapat diambil perusahaan travel agar konsumen merasa cukup aman untuk melakukan perjalanan kembali.

Jika Leisure Travel Dimulai lagi pada 2021, Apa yang Menjadi Motivasi Konsumen ?.

Tentu saja, melihat terbang mungkin sedikit melompat ke depan.  Menurut Skift Research, 41% orang Amerika mengatakan perjalanan pertama mereka adalah dengan mobil dalam jarak 100 mil.  

Perjalanan darat dan perjalanan yang berpusat di sekitar alam bebas dijadwalkan untuk menjadi yang pertama kembali.  Selain moda transportasi, kami telah menyurvei industri tentang apa yang menurut mereka akan memotivasi konsumen saat memesan perjalanan berikutnya.

    

Pekerja Sektor Transportasi Udara Desak Bantuan Pemerintah Cegah Bencana Kehilangan Pekerjaan

this formate

JENEWA. bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dan Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan intervensi pemerintah yang mendesak untuk mencegah bencana ketenagakerjaan di industri penerbangan.

Dalam rilis IATA  perkiraan dari Air Transport Action Group menunjukkan sekitar 4,8 juta pekerjaan pekerja penerbangan berisiko akibat penurunan permintaan perjalanan udara lebih dari 75% (Agustus 2020 dibandingkan Agustus 2019).

Dampak dari pembatasan perbatasan dan tindakan karantina terkait COVID-19 telah secara efektif menutup industri penerbangan, melarang penerbangan pesawat, dan membuat infrastruktur dan kapasitas produksi pesawat menganggur.

Permintaan IATA dan ITF kepada pemerintah mencakup:

Memberikan dukungan keuangan yang berkelanjutan untuk industri penerbangan
Membuka kembali perbatasan dengan aman tanpa karantina dengan menerapkan sistem pengujian COVID-19 pra-keberangkatan yang diselaraskan secara global.

“Penerbangan menghadapi bencana ketenagakerjaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maskapai telah memotong biaya sampai ke ‘tulang’, tetapi hanya memiliki 8,5 bulan uang tunai yang tersisa dalam kondisi saat ini. Puluhan ribu pekerjaan telah hilang, dan jika pemerintah memberikan lebih banyak bantuan keuangan, jumlahnya kemungkinan hanya akan menjadi ratusan ribu saja bukan jutaan.

Penerbangan memainkan peran penting yang menghubungkan negara-negara dan membawa kargo penting, dan merupakan kepentingan pemerintah sendiri untuk menawarkan bantuan keuangan lebih lanjut untuk menjaga kelangsungan industri.

Namun yang lebih penting, pemerintah perlu bekerja sama untuk membuka kembali perbatasan dengan aman. Itu berarti menerapkan skema global untuk menguji penumpang hadapi COVID-19. Dengan adanya karantina dapat dihapus maka  penumpang dapat terbang kembali, ”kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Industri penerbangan global berada dalam kondisi krisis yang berkepanjangan. Pada akhir tahun, hampir 80% skema penggantian upah akan habis, tanpa intervensi segera dari pemerintah.

“Kita akan menyaksikan krisis pekerjaan terbesar yang pernah terjadi di industri ini. Tetapi krisis pekerjaan yang sangat parah dapat dihindari dengan strategi terkoordinasi yang jelas yang dibangun di atas bantuan, pemulihan, dan reformasi,” kata Alexandre de Juniac

Pekerja penerbangan dunia meminta pemerintah untuk bertindak sekarang, memberikan dukungan keuangan yang akan melindungi pekerjaan mereka dan berkomitmen untuk bekerja dengan serikat pekerja dan pemberi kerja untuk mendukung pemulihan industri dalam jangka panjang.

Tenaga kerja penerbangan adalah tenaga kerja terampil yang telah, dan akan terus menjadi, penting bagi respons dan pemulihan COVID negara.

Jika pemerintah gagal bertindak dan mendukung penerbangan, mereka tidak hanya akan merugikan industri, namun dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat secara luas, ”kata Stephen Cotton, Sekretaris Jenderal ITF.

Selain membuka kembali batas dengan pengujian dan dukungan keuangan, organisasi juga meminta pemerintah untuk mengembangkan peta jalan untuk pemulihan industri jangka panjang termasuk investasi dalam pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan dalam teknologi hijau, terutama bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan.

“Kemampuan dan kecepatan pemulihan negara-negara dari COVID-19, terkait erat dengan pemulihan konektivitas udara global,” kata pernyataan bersama tersebut.

Oleh karena itu, intervensi dan investasi pemerintah tidak hanya memberikan dukungan untuk industri transportasi udara sekarang tetapi juga kepada memastikan bahwa itu sesuai untuk tujuan dan mampu mendukung dunia kembali normal dari pandemi.