Riset Dari travelhorizons ™ Mengungkapkan Niat untuk Perjalanan Musim Liburan di AS

this formate

KANSAS CITY, AS, bisniswisata.co.id: – Pandemi telah mengganggu perjalanan liburan dan bisnis tahun ini, tetapi survei travelhorizons ™ terbaru, yang dilakukan oleh MMGY Travel Intelligence, menemukan bahwa industri travel di Amerika Serikat kemungkinan akan mendapatkan dorongan yang signifikan selama liburan.  

Survei tersebut, yang menanyakan orang-orang yang berencana bepergian dalam enam bulan ke depan, menemukan bahwa separuh responden berniat melakukan perjalanan antara bulan November ini dan awal Januari 2021. Untuk di Amerika Serikat terungkap  25% bepergian untuk Thanksgiving, 31% bepergian untuk liburan Desember, dan 15% untuk perayaan Tahun Baru.  

Musim liburan disambut dengan optimisme, karena 67% dari mereka yang akan bepergian menunjukkan bahwa mereka antusias dengan perjalanan yang akan datang.  Sebagian besar yang semangat itu berasal dari para pelancong Milenial – generasi yang melampaui rekan-rekannya yang lebih tua.  

Tiga puluh lima persen Generasi Milenial akan melakukan travel untuk Thanksgiving, dibandingkan dengan hanya 23% Gen X, 18% Generasi Muda, dan 8% Generasi Tua.  Untuk liburan bulan Desember, Generasi Milenial juga memimpin generasi lain dengan 43% berencana untuk bepergian, sementara hanya 26% Generasi X, 19% Generasi Muda, dan 8% Generasi Tua yang akan bepergian.

Liburan terutama merupakan saat keluarga berkumpul, sehingga tidak mengherankan jika 45% wisatawan liburan berencana untuk berkunjung bersama keluarga dan teman.  Untuk akomodasi, 42% wisatawan mengharapkan untuk tinggal bersama keluarga dan teman yang mereka kunjungi.  

Meskipun demikian, ada kabar baik untuk industri penginapan karena 36% wisatawan berniat menginap di hotel, 20% di resor, dan 17% di bed and breakfast atau dalam sewa jangka pendek.

Sejumlah besar pelancong berniat melakukan travel selain kunjungan ke rumah teman dan keluarga.  Jenis perjalanan terencana lainnya termasuk liburan dengan pasangan (23%), liburan sendiri (20%), liburan liburan keluarga (25%) dan perjalanan multigenerasi (15%). 

Meskipun jenis perjalanan ini bervariasi, sebagian besar adalah perjalanan domestik AS (88%) sementara hanya 20% yang mengatakan bahwa mereka akan mengunjungi tujuan internasional.  

Mengenai perjalanan domestik, 52% menjawab bahwa mereka akan melakukan travel antara 100 dan 499 mil dari rumah, dan 27% akan melakukan perjalanan antara 500 dan 999 mil untuk liburan mereka.

Kendaraan pribadi tetap menjadi moda transportasi yang disukai (45% kendaraan pribadi, 16% kendaraan sewa dan 11% RV / kemping).  Namun, ada kepercayaan yang tumbuh pada keselamatan transportasi umum, dengan 38% memilih untuk memesan penerbangan, 14% memilih kereta api dan 13% menaiki bus untuk perjalanan liburan mereka.

Meskipun ada minat yang jelas untuk bepergian, 50% responden yang berharap untuk tetap tinggal selama liburan menyatakan kekhawatiran akan kesehatan mereka sendiri (38%), kesehatan keluarga dan teman yang biasanya mereka jalani untuk bepergian (33%), dan  kesehatan keluarga dan teman yang ingin mereka kunjungi (28%) sebagai alasan utama mereka untuk tidak bepergian. 

Dampak sosial ekonomi dari pandemi tidak terlalu memprihatinkan, dengan hanya 5% calon pelancong yang mengungkapkan kekhawatiran tentang keamanan kerja dan 14% mengatakan bahwa mereka khawatir tentang keuangan rumah tangga.  

Khususnya, 11% responden percaya bahwa akan ada pengalaman pengunjung yang berkurang di destinasi yang biasanya mereka kunjungi.

Dilakukan setiap 90 hari sejak Maret 2007, travelhorizons ™ menangkap kebiasaan wisatawan dan mengukur niat perjalanan di masa depan sambil melihat melalui lensa perkembangan ekonomi, sosial dan politik yang sedang berkembang. 

Gelombang survei terbaru dilakukan 12-25 Oktober 2020, di antara 1.073 responden Amerika yang berencana melakukan setidaknya satu perjalanan liburan selama enam bulan ke depan.

MMGY Travel Intelligenceadalah perusahaan jasa  penelitian dan wawasan industri MMGY Global, menawarkan data dan penelitian eksklusif termasuk DK Shifflet, Potret Wisatawan Amerika® dan travelhorizonsTM yang dirancang untuk mendukung pembuat keputusan industri perjalanan melalui wawasan konsumen, data kinerja perjalanan, dan pemodelan dan segmentasi audiens.  

 

ICAO Dorong Protap Kesehatan Secara Proaktif dan Solusi  Gelembung Perjalanan Lebih Luas

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Menghargai peningkatan baru-baru ini dalam pergerakan penumpang maupun barang domestik di kawasan ICAO Asia-Pasifik (APAC), Sekretaris Jenderal ICAO Fang Liu mendorong negara-negara Asia Pasifik untuk melanjutkan upaya proaktif dari koridor kesehatan masyarakat.

ICAO adalah Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization, sebuah lembaga di bawah Perserikan Bangsa Bangsa.  Fang Liu juga mendorong perjalanan jangka pendek lainnya seperti travel bubble  atau koridor perjalanan antar negara di tengah pandemi yang kerap disebut solusi gelembung perjalanan

Travel bubble kian diminati oleh beberapa negara untuk memulai kembali perjalanan lintas negara di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Selain Australia dan Selandia Baru, ada juga Estonia, Latvia, dan Lithuania yang berencana melakukan travel bubble. Indonesia pun berencana membuka travel bubble dengan empat negara yaitu China, Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Berbicara pada pertemuan Ahli Kesehatan Masyarakat Penerbangan, yang diselenggarakan di bawah naungan Kantor Regional Asia Pasifik ICAO, pekan lalu, pihaknya mempertemukan para ahli  penerbangan dan kesehatan masyarakat dari kawasan.

“Kami mengingatkan para ahli kebijakan tentang informasi ekstensif dan sumber daya yang telah dikeluarkan ICAO tentang cara menetapkannya dengan hati-hati ” kata Fang Liu.

Dilansir dari Travel Daily News, Fang Liu mengatakan kepada para ahli kebijakan kesehatan Asia Pasifik dan ahli penerbangan sipil bahwa keberhasilan respons kesehatan masyarakat mereka, dan upaya terkait untuk membangun koridor kesehatan masyarakat dan gelembung perjalanan, membantu menghubungkan kembali kawasan dan memulihkan kepercayaan publik dalam perjalanan udara.

 Dr. Liu juga menyoroti bagaimana pemantauan data ICAO mengungkapkan bahwa wilayah dengan tingkat lalu lintas intra-regional yang lebih tinggi mengalami pemulihan yang lebih cepat dalam layanan udara.

“Daerah Anda adalah salah satunya dan yang penting bagi pemerintah dan pembuat keputusan industri untuk terus mengembangkan kesehatan masyarakat dan hasil transportasi udara di kawasan Asia-Pasifik ini.”

Selain respons pandemi dan keberhasilan transportasi udara yang disoroti, Sekretaris Jenderal ICAO ini juga mengakui dampak sosial ekonomi yang parah dari pandemi yang masih dirasakan oleh banyak negara APAC, dan pendapatan operator APAC 2020 yang hilang sebesar US$ 100 miliar yang diperkirakan ICAO.  .

“Dampak penerbangan ini telah membahayakan bisnis besar dan kecil, dan mata pencaharian ratusan juta orang di seluruh dunia,” katanya.  

Dari sudut pandang global, penurunan tersebut secara signifikan lebih parah daripada penurunan sebelumnya dalam pergerakan orang dan barang internasional, dan efeknya yang sangat mengerikan terhadap kelayakan finansial bandara dan maskapai penerbangan.

Hal ini  dapat berarti bahwa kita muncul kembali dengan pos dunia yang jauh lebih terhubung dengan pandemi. “Kita juga harus menyadari bahwa dampak sosial ekonomi yang negatif ini dirasakan sangat parah oleh 14 Negara Berkembang Pulau Kecil Pasifik (PSIDS) di kawasan ini,” tegasnya.

Liu memberi informasi tentang revisi saat ini yang sedang dilakukan terhadap panduan tanggapan COVID-19 yang dikeluarkan oleh ICAO Council Aviation Recovery Taskforce (CART).

Pihaknya  mencatat bahwa otoritas kesehatan masyarakat harus memperhatikan secara khusus pedoman yang diperbarui, setelah disetujui oleh  Dewan ICAO, terkait dengan kebersihan umum, masker dan penutup wajah, pemeriksaan dan pernyataan kesehatan, penumpang udara dengan mobilitas terbatas, serta kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja dan penumpang penerbangan. “

 “Perhatian khusus juga ditujukan untuk membantu negara-negara menilai opsi pengujian sebagai cara untuk mengurangi tindakan karantina – jika sesuai dengan situasi mereka -, dan, jika faktor medis memungkinkan, meningkatkan pergerakan orang dan barang internasional,” dia menekankan.

Sekretaris Jenderal Fang Liu menyatakan keyakinannya bahwa “dengan lebih meningkatkan kerja sama, industri penerbangan dapat membangun kembali lebih baik di era pasca-pandemi dan mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan untuk konektivitas udara internasional.”

Pada pertemuan daring itu, dia mengumpulkan para ahli kesehatan dan penerbangan. Mereka  bertukar gagasan, berbagi pemahaman, dan membangun konsensus untuk membantu membuka jalan bagi dimulainya kembali dengan aman perjalanan udara internasional.

Pejabat Senior dari sektor Kesehatan Masyarakat dan Penerbangan dari Australia, China, India, Jepang, Malaysia, Republik Korea, Singapura, Sri Lanka dan Thailand berpartisipasi dalam diskusi tersebut.

 

KBRI Stockholm Dorong Peningkatan Ekspor Sepeda Indonesia ke Swedia

this formate

STOCKHOLM, bisniswisata.co.id: Maraknya wisata bersepeda dan banyaknya event tahunan sepeda di Indonesia seperti Tour de Singkarak yang mendunia membuat RI-Swedia yang kuat dengan budaya olahraga untuk membahas peluang guna meningkatkan perdagangan kedua negara terutama sepeda.

Dubes RI di Stockholm, Kamapradipta Isnomo, buka acara virtual Business Forum on “Sporting Goods Opportunity in Sweden”, sebagai salah satu kegiatan perdana Trade Expo Indonesia 2020, Selasa.

Kegiatan hasil kolaborasi antara Kemdag, KBRI Stockholm, dan Open Trade Gate ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai peluang pasar peralatan olah raga, terutama sepeda, di Swedia.

Kegiatan disambut antusias oleh para produsen dan pelaku bisnis dari kedua negara yang sempat mencapai 146 pengunjung virtual.

“Budaya olah raga Swedia perlu dimanfaatkan oleh produsen dan eksportir Indonesia untuk menjadi salah satu pasar tujuan. Ekspor kita saat ini masih kecil dibandingkan potensi yang dimiliki. Kita harus bisa tingkatkan” ujar Dubes Kama.

Acara turut dibuka oleh Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemdag RI, Kasan, yang memberikan penekanan pentingnya untuk mengisi pasar komoditas peralatan olah raga terutama sepeda  di tengah pandemi Covid-19.

“Situasi pandemi telah mendorong masyarakat global untuk lebih aktif berolah raga untuk menjaga kesehatan. Di Swedia terdapat empat musim di mana ini menjadi kesempatan baik bagi produsen Indonesia untuk mengisi pasar Swedia”, ujar Dirjen Kasan.

Dalam paparannya, pembicara dari KBRI Stockholm dan Open Trade Gate Swedia, yang diwakili Anamaria Deliu, memberikan gambaran strategis mengenai peluang dan tantangan ekspor Indonesia ke Swedia serta penjelasan teknis yang komprehensif mengenai regulasi yang berlaku.

Salah satu tantangan yang perlu dihadapi adalah kapasitas produksi dalam negeri untuk memenuhi demand, serta standarisasi untuk memenuhi pasar Swedia dan Uni Eropa.

Maraknya wisata bersepeda buka peluang RI- Swedia tingkatkan perdagangan. ( Foto- foto: Fajar/ KBRI Stockholm)

Peluang terbesar bagi produsen Indonesia adalah pasar e-bikes yang menjadi salah satu jenis sepeda yang semakin diminati masyarakat Swedia. Pasar e-bikes juga masih terbuka lebar dan belum terlalu banyak pesaing.

Mengakhiri sambutannya, Dubes Kama tekankan bahwa sebagai negara dengan tingkat inovasi yang tinggi, terdapat peluang kerja sama Swedia dan Indonesia di bidang R&D.

“Inovasi dan teknologi yang dimiliki Swedia digabung dengan kapasitas teknis Indonesia berpotensi untuk produksi peralatan olah raga dan sepeda dengan label designed in Sweden and made in Indonesia.” tandasnya.

 

Whisnutama: Industri Hotel dan Restoran Agar Pahami Mekanisme Dana Hibah Pariwisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak para pelaku industri hotel dan restoran untuk memahami kriteria dan mekanisme dalam memperoleh dana hibah pariwisata 2020.

Menparekraf/ Baparekraf Wishnutama Kusubandio, Senin (9/11/2020), menjelaskan, dana hibah pariwisata melalui Kementerian Keuangan merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digagas oleh pemerintah.

Program ini bertujuan untuk membantu pemerintah daerah serta industri hotel dan restoran yang saat ini sedang mengalami gangguan finansial dan recovery penurunan pendapatan asli daerah (PAD) akibat pandemi.

“Untuk memanfaatkan program ini, para pelaku industri hotel dan restoran perlu memahami kriteria dan mekanisme dalam memperoleh dana hibah pariwisata ini,” kata Wishnutama.

Berdasarkan Keputusan Menparekraf Nomor KM/704/PL/07.02/M-K/2020 mengenai petunjuk teknis hibah pariwisata dalam rangka PEN 2020, kriteria daerah penerima hibah pariwisata antara lain, beroperasi di wilayah yang tercakup dalam 10 Destinasi Super Prioritas (DSP)

Masuk  5 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), Ibu Kota Provinsi, Destinasi Branding,  Daerah dengan Realisasi Pajak Hotel dan Restoran minimal 15 persen dari total PAD Tahun anggaran 2019, dan Daerah yang termasuk 100 Calender of Event (COE).

“Adapun pembagian dana hibah pariwisata dengan total dana Rp3,3 triliun, yang akan diberikan kepada pemerintah daerah sebesar 70 persen untuk dialokasikan sebagai bantuan langsung kepada industri hotel dan restoran, jelas Wishnutama.

Sedangkan, 30 persen digunakan pemerintah daerah untuk penanganan dampak dari pandemi COVID-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, ungkapnya.

Mereka yang berhak menerima dana hibah pariwisata ini adalah hotel dan restoran yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan, antara lain hotel dan restoran sesuai database wajib pajak hotel dan restoran tahun 2019 di daerah.

Penerima hibah, hotel dan restoran yang masih berdiri dan masih beroperasi hingga pelaksanan dana hibah pariwisata pada Agustus tahun 2020.

Persyaratan lainnya, memiliki perizinan berusaha yaitu Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) yang masih berlaku, serta hotel dan restoran yang membayarkan dan memiliki bukti pembayaran PHPR pada 2019.

Dana hibah yang disalurkan ke tiap daerah, akan menjadi wewenang dari pemerintah daerah itu sendiri, mulai dari mekanisme pendaftaran hingga pengumuman, dengan tetap memperhatikan petunjuk teknis yang telah dibuat.

Untuk itu, para pelaku industri hotel dan restoran diharapkan dapat menghubungi langsung pemerintah daerah masing-masing terkait informasi lebih lanjut.

“Saya harap pemerintah daerah dapat membantu dalam memberikan informasi kepada pelaku industri hotel dan restoran terkait mekanisme dana hibah pariwisata 2020,” ujar Wishnutama.

Hal ini agar pelaku industri hotel dan pariwisata bisa segera memanfaatkan dana hibah ini untuk membangkitan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tegasnya

 

Pandemi COVID-19 Akselerasi Praktek Pariwisata Regeneratif di Asia

this formate

Perjalanan wisata diperkirakan menjadi lebih ramah lingkungan (foto: Yanna Ventures)

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Model pariwisata yang menyeimbangkan alam dan manusia dapat kita temukan di hotel Six Senses Ninh Van Bay di Vietnam. Di sana, sebagian biaya menginap disisihkan untuk mendukung keberlangsungan hidup monyet lutung ekor hitam yang nyaris punah.

Kebetulan habitat mereka dekat dengan lokasi hotel. Sayangnya, sejak pandemi COVID-19 turis seolah telah menjadi spesies langka.

Selama ini indusri perjalanan dan pariwisata menyumbang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi global.Pada 2019, ia menyumbang 10,3% terhadap produk domestik bruto global dan mempekerjakan 330 juta orang, demikian menurut laporan terkini Economic Impact & Global Trends yang dirilis World Travel and Tourism Council (WTTC). 

Pandemi COVID-19 telah merontokkan sektor ini. Saking minimnya, jumlah turis barangkali sekarang sudah kalah jauh dengan jumlah staf yang bekerja di berbagai organisasi maupun perusahaan pariwisata.

Sejauh ini para pelaku di industri perjalanan dan pariwisata terus menerka-nerka kapan para turis akan kembali bepergian dan bagaimana kelak mereka berperilaku. Banyak hal amat bergantung pada pengembangan vaksin yang efektif dan tersedia luas. 

Tapi yang jelas, menurut para pakar, akan ada perubahan besar cara orang bepergian. “Itulah yang menuntut perubahan paradigma,” kata Masaru Takayama, ketua pendiri Asian Ecotourism Network, seperti dilansir Nikkei Asia.

Organisasi yang berfokus di Asia ini memprediksi tranformasi terbesar akan terjadi di sini. Selama ini Asia terkenal sebagai tujuan wisata yang marak dikunjungi grup tur, para pemburu barang murah yang rakus, dan penyalahgunaan label ekowisata.

“Kini, orang-orang terpelajar di manapun berada mulai merenungkan kembali cara yang lebih baik untuk bepergian,” kata Randy Durband, CEO Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global yang berbasis di Seoul, Korea Selatan.

“Gelombang baru pelancong China akan menjadi kekuatan [pendorong] utama karena mereka tumbuh lebih canggih. Mereka menginginkan keaslian,” imbuhnya.

Tapi yang lebih penting menurut Durband adanya keinginan politik untuk menerapkan kebijakan yang lebih ramah lingkungan di hampir semua pemerintah di Asia.

“Pandemi menunjukkan kepada mereka betapa pentingnya [sektor] pariwisata bagi ekonomi. Jeda selama COVID-19 sekaligus memberi peluang untuk membangun kapasitas dan pelatihan demi menegakkan niat baik.

Mereka menyaksikan sendiri betapa rapuhnya aset saat pandemi menyeruak. Tatapi pada saat yang bersamaan mereka juga melakukan banyak hal termasuk bergandeng tangan dengan pelaku wisata berbasis komunitas. Di Kamboja saja ada 350. “kata Randy Durband.

Takayami percaya aturan karantina yang diberlakukan selama pendemi COVID-19 mempercepat seruan untuk menutup dan membersihkan Boracay, sebuah pulau wisata di Filipina yang ditutup untuk rehabilitasi pada April 2018 lalu. Rencananya, akan dibuka kembali bulan ini.

Keputusan Filipina kemudian diikuti Maya Bay, sebuah obyek wisata di Pulau Phi Phi Leh, Thailand, yang tutup untuk dibersihkan pada 2018 dan belum ada rencana kapan akan dibuka kembali. 

Selain kedua pulau tersebut, ada banyak destinasi wisata lain di Asia yang yang juga tutup sementara untuk dibersihkan dan dibenahi karena mengalami kerusakan lingkungan parah.

Beberapa desa di antaranya, seperti disebut dalam daftar 100 Teratas Destinasi Berkelanjutan Global 2019 adalah Pemuteran, desa nelayan di Bali yang berhasil menghidupkan kembali terumbu karang yang sekarat.

Desa Nglanggeran di Yogyakarta dengan ekowisatanya di kawasan vulkanik kuno; Tmatboey, komunitas yang melawan perusakan lingkungan dan menjadikan lokasi itu tempat pengamatan burung terkemuka di Kamboja.

Juga ada Kawasan Wisata Alam Nasonal Pesisir Yilan di Taiwan yang dikelola secara ekologis dan berhasil mengurangi jejak karbon. Kesuksesan ini dapat menjadi pembimbing jalan menuju pergeseran model pariwisata di Asia pasca pandemi. 

Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan pengelola camping ground Yaana Ventures’ Cardamom di Kamboja. Mereka menyisihkan sebagian pendapatan untuk menyokong kegiatan 12 penjaga hutan memerangi pemburu dan pembalak liar. 

Atau Anurak Community Lodge yang menawarkan aktivitas berdampak rendah terhadap kerusakan lingkungan, seperti kayak di lingkungan Taman Nasional Khao Sok di Thailand Selatan.  

Di tengah ketidakpastian, pendiri Yaana, Willem Niemeijer mengatakan dia memiliki 15 lagi pondok terpencil yang siap digunakan dan yakin masih ada “ruang komersial untuk ratusan lain di kawasan Asia Tenggara.”

Tentu saja, Niemeijer mengakui, “orang-orang memiliki ingatan jangka pendek. Mungkin saja mereka akan kembali ke kebiasaan lama dalam beberapa tahun ke depan.

Tetapi itu sama saja gila jika hendak mengulangi kesalahan yang sama: hotel yang lebih besar, bandara yang lebih luas, dan turis yang berdesak-desakan di hub.

Kemewahan atas nama kemewahan adalah sesuatu yang membosankan. Saatnya melihat kemewahan sebagai sesuatu yang semakin remote.

Untuk itu para ahli telah beralih ke kata kunci baru dengan seruan perjalanan yang regeneratif. Sebelumnya mereka mensyaratkan agar destinasi wisata mengusung konsep berkelanjutan.

Ternyata itu tidak cukup. Setelah melewati masa sulit selama pandemi, istilah dan seruan baru ini terdengar menyembuhkan dan optimis. 

“‘Berkelanjutan/sustainable‘ sekarang tampak seperti mempertahankan status quo, sesuatu yang disyaratkan untuk listing di bursa saham, mengelola aset dengan baik seperti yang dilakukan perusahaan mana pun, baik yang terkait pengelolaan alam atau tidak,” kata Jeff Smith, wakil presiden untuk urusan sustainability di  perusahan jaringan resor Six Senses. 

“Sedangkan ‘Regeneratif’ berarti mengembalikan lebih besar dari yang Anda ambil. Menyumbang kepada lingkungan atau komunitas dan mengubah hidup.” tambah Jeff Smith.

Impian itu tentu tak dapat diwujudkan dalam semalam terutama seperti kata Durband,”banyak usaha yang kini tengah berjuang untuk sekadar bertahan hidup, fokus pada penerapan protokol kesehatan dan disinfektan, serta perampingan karyawan.”

“Tetapi hampir semua ahli dan juru bicara pelaku usaha maupun organisasi terkait setuju dengan paradigma baru dunia pariwisata, sebuah perjalanan baru yang berani.”

Smith mengatakan dia tetap yakin bahwa krisis COVID-19 dapat menjadi ‘titik balik’ bagi umat manusia. 

“Setelah dipaksa duduk diam [selama beberapa bulan] dan memikirkan kembali apa yang kami inginkan dalam hidup, akhirnya kita akan dapat keluar dengan lebih banyak tujuan yang baik.” imbuhnya.

 

Lufthansa Mulai Uji Cepat Antigen COVID-19

this formate

BERLIN, bisniswisata.co.id: Mulai 12 November 2020, Lufthansa akan memulai uji coba pertama untuk uji cepat antigen COVID-19 yang komprehensif di rute tertentu antara Munich dan Hamburg.

Dilansir dari travelwirenews.com, maskapai penerbangan ini bekerja sama erat dengan Bandara Munich dan Hamburg serta dengan perusahaan bioteknologi Centogene.

Kerjasama juga libatkan pusat perawatan medis Grup Medicover, MVZ Martinsried, menawarkan pelanggannya untuk diuji Covid-19 secara gratis  dua hari sebelum keberangkatan penerbangan.

Penumpang yang tidak ingin diuji akan dialihkan ke penerbangan alternatif tanpa biaya tambahan.
Penerbangan uji pertama dengan 100 persen penumpang yang diuji negatif adalah LH2058, yang meninggalkan Munich menuju Hamburg pada pukul 09.10.

Penerbangan harian kedua yang menguji semua penumpang adalah LH2059 dari Hamburg ke Munich. Setelah tes selesai, pelanggan menerima hasil tes mereka dalam waktu 30 hingga 60 menit. Hanya jika hasilnya negatif, boarding pass akan diaktifkan dan akses ke gerbang diberikan.

Sebagai alternatif, penumpang dapat menunjukkan tes PCR negatif tidak lebih dari 48 jam saat keberangkatan. Lufthansa menangani prosedur tes cepat lengkap.

Tidak ada biaya tambahan untuk penumpang. Tapi yang harus mereka lakukan adalah mendaftar terlebih dahulu dan memberikan sedikit lebih banyak waktu sebelum keberangkatan.

Dengan strategi pengujian, maskapai ini  mengejar tujuan menggunakan data yang diperoleh untuk mendapatkan wawasan penting tentang penggunaan tes cepat.

“Uji coba seluruh penerbangan yang berhasil dapat menjadi kunci untuk merevitalisasi lalu lintas udara internasional, ”kata Christina Foerster, Anggota Dewan Eksekutif untuk Pelanggan, TI & Tanggung Jawab Perusahaan Lufthansa Group.

Direktur PRPP: Trend Kunjungan Wisatawan Domestik Terus Naik & Patuhi Protap Kesehatan

this formate

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Wisatawan domestik bukan hanya menjadi motor penggerak ekonomi daerah dengan trend kunjungan yang terus meningkat ke Grand Maerakaca, tapi juga kepatuhan penerapan protokol kesehatan juga tinggi.

Hal itu diungkapkan  Titah Listyorini, Direktur Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah mengamati perkembangan kunjungan wisatawan domestik ke obyek wisatanya, hari ini.

Menurut dia, pengunjung selama bulan Oktober  mengalami peningkatan dibanding pengunjung bulan September dari 32.000 orang menjadi 36.000 orang/ bulan.

Kenaikan terutama karena ada libur memperingati Maulid Nabi  Muhammad SAW 28-30 Oktober dilanjutkan 31 Oktober-1 November karena akhir pekan sehingga ada libur panjang lima hari.

“Selama libur panjang 5 hari itu tercatat pengunjung Grand Maerakaca sebanyak 13.600 orang. Paling banyak pengunjung di tanggal 29 Oktober tepat pada libur Maulud Nabi Muhammad SAW dengan total pengunjung sebanyak 4.300 orang,” ungkap Titah.

Menurut dia yang menggembirakan adalah selain trend kunjungan yang terus meningkat, kepatuhan mengikuti prosedur kesehatan juga tinggi. Kesadaran untuk berwisata dengan aman di era New Normal sangat menggembirakan terutama disiplin penggunaan masker.

Pengunjung selain banyak dari Jakarta, Surabaya juga warga Jawa Tengah dari Solo, Jepara, Kudus, Pekalongan , Blora terlihat dari kendaraan yang parkir di kawasan Grand Maerakaca.

Destinasi wisata dekat bandara Jendral A. Yani Internasional ini sudah tidak asing dengan nama “Puri Maerokoco”. Taman wisata ini merupakan “Taman Mini” versi Jawa Tengah yang menyajikan replika dan miniatur bangunan khas dari berbagai daerah di Jawa Tengah. 

Saat ini, Puri Maerakaca sudah berganti nama menjadi Grand Maerakaca. Dengan wahana yang lebih bervariasi, taman rekreasi seluas 20 hektar  ini menjadi salah satu destinasi wisata di Semarang yang cocok untuk rekreasi keluarga. 

Salah satu daya tarik terbarunya adalah Lumina, bukan rumah adat lokal, tapi mancanegara. Nah, inilah yang menjadikannya istimewa karena ada dari lima negara, yakni Jepang, Turki, Meksiko, Santorini (Yunani), dan Arab yang cocok dengan pengunjung yang suka swa foto kekinian sesuai era digital.

Titah menjelaskan pengunjung harus menerapkan  protokol kesehatan dengan ketat, tidsk boleh lengah apalagi sampai melepas masker “Prokes masih tetap, kami wajibkan semua pengunjung gunakan masker, pengecekan suhu tubuh di awal masuk, menyarankan sering kali cuci tangan di wastafel yang kami sediakan, menggunakan hand sanitizer dan jaga jarak,” 

Pihaknya bahkan pro-aktif dengan menurunkan petugas khusus yang berkeliling dan mengawasi penerapan protap kesehatan itu mengingat ketika obyek wisata ini dibuka kembali akhir Juni lalu ketika foto bersama atau setelah kulineran di area Grand Maerakaca kerap banyak yang lupa mengenakan kembali masker.

“Kini para pengunjung sudah memiliki kesadaran tinggi untuk terus mengenakan masker. Selain itu petugas kami ingatkan terus dengan voice over dari sound kami maupun  petugas yang keliling menggunakan pengeras suara portable,”

Pengunjung patuh dalam pemakaian maskernya karena jaga jarak dan masker berlaku untuk semua orang dewasa maupun anak-anak. ” Kita  masih hidup di tengah pandemi COVID-19 dan jangan sampai libur panjang malah bermunculan kluster baru,” tegasnya.

Dia optimistis, trend berwisata ini akan terus meningkat apalagi adanya Jalan Tol Trans-Jawa  yang menghubungkan kota-kota di pulau Jawa, Indonesia. 

Jalan Tol Trans-Jawa membentang antara Pelabuhan Merak, Cilegon, di Provinsi Banten hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, di Provinsi Jawa Timur.

“Jaringan jalan tol ini menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya. Sekarang warga Surabaya punya pilihan pulang hari tanpa perlu menginap untuk berwisara ke kota Semarang karena jarak tempuh jadi pendek lewat tol,” kata Titah.

Dia berharap pergerakan wisatawan domestik yang kini lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi untuk berwisata akan membangkitkan industri pariwisata yang paling terpukul akibat pandemi global saat ini.

Survei Menunjukkan Masyarakat Masih Enggan Bepergian Ke Luar Negeri

this formate

Wisatawan masih enggan traveling ke luar ngeri (foto: skift)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri perjalanan dan pariwisata belum beranjak membaik karena tingkat keengganan orang untuk bepergian masih tinggi. Setidaknya itulah kesimpulan studi terkini yang dilakukan Skift

Sejak Maret 2020 saat pandemi COVID-19 mulai menyeruak, seluruh perjalanan tiba-tiba terhenti. Penyebabnya karena negara hampir di seluruh dunia menutup perbatasan demi mencegah penyebaran virus corona. Hingga saat ini pun tak ada yang tahu pasti kapan orang akan merasa nyaman dan yakin untuk kembali bepergian, terutama ke luar ngeri. 

Skift mensurvei lebih dari 1.000 eksekutif di industri perjalanan yang berpartisipasi dalam Forum Global Skift. Sebagian besar responden atau 87% mengatakan belum akan bepergian ke luar negeri, setidaknya hingga akhir tahun. Meski demikian, ada 42% partisipan yang menyatakan akan keluar traveling meski hanya di dalam negeri.

Para eksekutif ini juga memercayai bahwa keadaan sulit ini hanya sementara. Hampir setengah atau 49% responden yakin bahwa dalam 18 hingga 24 bulan industri pariwisata akan kembali ke keadaan sebelum krisis. 

Faktanya, 57%  peserta survei yang merupakan para pemimpin di perusahaan travel mengatakan mereka tengah merencanakan perjalanan untuk konsumen yang akan bepergian pada 2021. 

Sementara itu lebih dari setengah menyatakan optimis pemulihan perjalanan akan terjadi dan keadaan akan berangsur membaik hingga 2022.

Meski mereka optimis bahwa pemulihan akan terjadi, pertanyaannya kemudian seberapa cepat proses itu berlangsung. Mereka mengatakan semua tergantung pada bagaimana tingkat penyebaran virus Corona di dunia. Pada akhirnya itu akan memengaruhi keputusan orang untuk kembali bepergian.

Alasan orang untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri umumnya karena takut tertular virus yang bergerak secara eksponensial itu. Survei menunjukkan 42% responden mengaku khawatir tertular virus yang menyerang saluran pernafasan itu, sedangkan 24% lainnya khawatir akan kesulitan kembali pulang dan terjebak di negara orang. 

Sejauh ini para pelaku di industri travel & tourism (perjalanan dan pariwisata) telah mengambil sejumlah langkah untuk meyakinkan konsumen kembali bepergian. Antara lain, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, mengurangi kapasitas penerbangan, memberlakukan aturan jarak sosial, dan menerapkan teknologi minim kontak. 

Survei menunjukkan ada dua alasan utama mengapa masyarakat belum mau melakukan perjalanan di tengah pandemi, yakni takut tertular virus Corona (55%) dan tidak mau direpotkan oleh hal-hal terkait aturan karantina atau sejumlah pembatasan (43%).

Apakah segala langkah yang diambil perusahaan mampu ‘merayu’ pelanggan untuk bepergian di tengah pandemi?  

Nyatanya, hasil survei menunjukkan hanya 17% perusahaan perjalanan yang menganggap test virus Corona sebagai prioritas utama syarat perjalanan. Padahal menurut pakar, jika lebih banyak rapid test dilakukan, pemulihan perjalanan akan semakin cepat terjadi. 

Sebagian responden atau 50% menyatakan lebih mengutamakan penerapan protokol kesehatan yang ketat; 33% memilih menerapkan kebijakan jaga jarak sosial, misalnya aturan minim kontak saat check-in dan pengurangan kapasitas kursi penumpang dalam pesawat. 

Tetapi yang pasti, sebagian besar responden atau 83% sepakat bahwa transformasi digital sangat penting. COVID-19 terbukti telah mempercepat proses digitalisasi di industri perjalanan dan pariwisata.Teknologi contactless menjadi sesuatu yang kini lebih diinginkan banyak perusahaan ketimbang di era sebelum pandemi.

 

WTTC: Tahun ini Inggris Akan Kehilangan 2,4 Juta Pekerjaan Akibat COVID-19& Pembatasan Perjalanan

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Sekitar 2,4 juta pekerjaan  bisa hilang di sektor Perjalanan & Pariwisata Inggris pada tahun 2020 jika hambatan untuk perjalanan global tetap ada, ungkap World Travel & Tourism Council (WTTC).

 Angka baru tersebut berasal dari pemodelan ekonomi terbaru WTTC, yang melihat dampak dari COVID-19 dan pembatasan perjalanan di sektor Perjalanan & Pariwisata.

Dalam keadaan saat ini, 1,9 juta pekerjaan di Inggris telah terpengaruh.  Jika tidak ada segera pengurangan pembatasan perjalanan internasional, sebanyak 2,4 juta pekerjaan atau lebih dari setengah dari semua pekerjaan di sektor ini di Inggris pada tahun 2019 – akan hilang.

Jumlahnya turun 17% dari 2,9 juta, sebagaimana dirinci dalam studi sebelumnya pada Juni tahun ini, angka baru 2,4 juta pekerjaan menunjukkan keuntungan kecil, tetapi positif, sebagian didorong oleh pengenalan koridor udara bebas karantina pada bulan Juni dan kenaikan  dalam perjalanan domestik.

Namun, WTTC memperkirakan bahwa dampak dari pembatasan perjalanan yang berkepanjangan dapat menghapus £ 124 miliar dalam kontribusi sektor tersebut terhadap PDB Inggris, setara dengan penurunan 62% persen dibandingkan dengan 2019.

 Kedalaman krisis jangka panjang yang dihadapi sektor travel & tourism Inggris, jika pembatasan perjalanan berlanjut di bulan-bulan mendatang, terbukti dari angka WTTC terbaru.

 “Sementara kami mengakui dan berterima kasih kepada pemerintah Inggris atas upayanya untuk mendukung sekror ini maupun pembentukan Gugus Tugas Perjalanan Global, ” kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC .

Menurut dia, pembatasan perjalanan internasional yang diberlakukan selama bulan-bulan pada musim panas dan berlanjut hingga sekarang –  total sudah 2,4 juta pekerjaan di sektor travel & tourism di seluruh Inggris akan hilang  dengan kerugian sebesar £ 124 miliar dalam PDB. ” kata Gloria Guevara. 

Pihaknya sangat memahami bahwa melindungi kesehatan masyarakat adalah prioritas nomor satu.  Namun, pemulihan sektor ini akan tertunda lebih jauh kecuali negara-negara menerapkan langkah-langkah untuk mengaktifkan kembali perjalanan secara bertanggung jawab, seperti penerapan protokol pengujian untuk pelancong.

 “Sangat penting bahwa koridor udara dipulihkan antara pusat keuangan terkemuka dunia, seperti rute London – New York atau London – Dubai yang sangat penting,” tegasnya.

Hal ini untuk membantu memulai pemulihan ekonomi Inggris dan global, dan menghindari kehancuran yang lebih  jauh- mencapai konsekuensi sosial-ekonomi yang terbentang di depan.

Jelas bahwa hanya kerja sama internasional di tingkat tinggi, dan keterlibatan sektor publik dan swasta, yang dapat menyelamatkan sektor travel & tourism yang terkepung karena terus berjuang untuk bertahan hidup.

 “Kita perlu belajar untuk hidup berdampingan dengan virus ini dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengaktifkan kembali perjalanan masuk dan keluar secara bertanggung jawab guna menghindari kesulitan ekonomi dan sosial.  Sejumlah negara berhasil melakukannya, seperti China, yang telah menunjukkan pemulihan yang sangat kuat dari pasar domestiknya. ” kata Gloria Guevara.

 Menurut WTTC, kurangnya perjalanan internasional dapat mengancam posisi London sebagai salah satu pusat utama dunia untuk perjalanan bisnis dan rekreasi.

Pekan lalu, Bandara Heathrow melaporkan telah diambil alih oleh Paris Charles de Gaulle sebagai bandara tersibuk di Eropa.

Sementara yang terakhir – bersama dengan saingan dekat Amsterdam Schiphol dan Frankfurt – telah mengadopsi rezim pengujian untuk mengurangi ketergantungan pada tindakan karantina.

Untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan, penelitian oleh Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa bepergian ke luar negeri tidak lagi menghadirkan risiko lebih besar tertular COVID-19 daripada tinggal di Inggris.

Untuk menyediakan rute pemulihan bagi sektor travel & tourism,  WTTC baru-baru ini membentuk Komite Pengarah global yang bertujuan untuk menghidupkan kembali perjalanan internasional melalui kerja sama sektor publik dan swasta.

 Hanya tiga minggu yang lalu, Menteri Pariwisata G20 menampung lebih dari 45 CEO dan Anggota WTTC yang, mempresentasikan ‘Rencana Pemulihan 100 Juta Pekerjaan’  untuk menyelamatkan sektor Perjalanan & Pariwisata yang sudah lumpuh, dan mengancam kelangsungan100 juta pekerjaan secara global.

 Rencana yang mengubah permainan dibuat dengan masukan dari Anggota WTTC dan mencakup serangkaian inisiatif utama yang bergantung pada pengamanan koordinasi internasional yang kuat untuk membangun kembali operasional yang efektif dan memulai kembali perjalanan internasional.

 Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, seoperasionaltravel & tourism bertanggung jawab atas hampir empat juta pekerjaan di Inggris, atau 11% dari total tenaga kerja nasnasionalSrktor ini juga menghasilkan hampir £ 200 miliar PDB, atau 9% untuk ekonomi Inggris.

 Secara global, WTTC memperkirakan bahwa jika pembatasan untuk perjalanan internasional saat ini  berlanjut hingga akhir tahun 2020,  maka ancaman 174 juta pekerjaan itu dapat hilang pada tahun 2020 saja.

 

 

 

12 Mitra Co-Branding di Bali Siap Bangkitkan Pariwisata

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Kegiatan Wonderful Day with Wonderful Indonesia di Trans Resort Bali menandai kemitraan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf)  dengan 12 mitra Co-Branding di Bali.

Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf mengatakan kenitraan ini sebagai salah satu upaya meningkatkan brand pariwisata Indonesia agar semakin dikenal baik di pasar domestik maupun pasar global di tengah pandemi COVID-19.

” Kemitraan merupakan salah satu upaya yang ditempuh kemenparekraf  dalam mempromosikan pariwisata Indonesia yang tidak bisa berdiri sendiri tetapi membutuhkan beberapa mitra yang juga stakeholder pariwisata agar brand Wonderful Indonesia semakin dikenal publik yang lebih luas,”

Pihaknya berharap kenitraan membuat  komunikasi semakin efektif kepada wisatawan nusantara (wisnus) atau wisatawan mancanegara (wisman) terkait brand Wonderful Indonesia. Dan kerja sama ini sekaligus memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, ujarnya.

Saat kegiatan Wonderful Day with Wonderful Indonesia ini  dihadiri perwakilan dari 12 mitra co-branding, hadir pula Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf Martini M Paham.

Dengan menjadi mitra co-branding, Nia Niscaya berharap ke depan bisa meningkatkan citra pariwisata Indonesia melalui kolaborasi program pengembangan pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kemitraan ini tidak hanya menguntungkan bagi Wonderful Indonesia, produk co-branding juga mendapatkan beberapa keuntungan, antara lain brand equity,  perluasan target pasar, serta efisiensi biaya promosi,” ujar Nia Niscaya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Komunikasi Pemasaran Martini M Paham menjelaskan, kemitraan menjadi salah satu upaya Indonesia untuk bisa lagi bangkit di tengah pandemi COVID-19 terutama bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.

Kemenparekraf juga selalu melibatkan unsur pentahelix ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media) untuk bersama-sama bangkit termasuk dalam co-branding kali ini.

“Kemenparekraf selalu berupaya untuk mengajak para stakeholder. Dengan kondisi baru, tentunya harus ada hal baru yang kita lakukan bersama, satu brand dengan brand lain bisa bekerja sama dan lain sebagainya ” ungkapnya.

Martini M Paham juga menjelaskan, di tengah kondisi pasar wisman yang belum stabil, para mitra diharapkan bisa menggarap pasar wisnus.

Saat ini sektor pariwisata masih mengandalkan dari wisatawan nusantara. Sebab, potensi wisnus juga tidak bisa dianggap remeh karena mereka merupakan tulang punggung ekonomi.

”Wisnus ini adalah tulang punggung ekonomi, jadi tidak bisa dianggap remeh. Untuk itu saatnya kita bidik mereka dengan pola-pola baru di masa kebiasaan baru,” ujarnya

Kemenparekraf/Baparekraf menjalin Co Branding dengan 12 mitra yaitu Krisna, American Express, Artotelgroup, Bakmi Naga, Sea Safari Cruise, Herborist, Sababay Wine, Waterbom Bali, Element Bike, Crispy Duck, Secret Garden, dan Taman Nusa.