Di Bawah Matahari Addis Ababa, Menikmati Manisnya Sebuah Kenangan

this formate

Berpose di depan Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam 

Oleh Sri Darmastuti Sahlin

ADDIS ABABA, bisniswisata.co.id: Kaki ini bergetar halus saat kembali menginjak halaman Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam. Di sebelah saya, berdiri suami, belahan jiwa sekaligus teman perjalanan hidup saya, Bengt Sahlin yang mendampingi kehadiran saya di pusat kota Addis Ababa, ibukota Ethiopia.

Enam puluh tahun lalu, Allah SWT menuntun saya ke halaman sekolah ini sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti arah hidupnya. Hari ini,  saya kembali, waktu seakan berputar pelan, membawa saya pada lorong-lorong kenangan yang tak pernah benar-benar hilang—hanya tersimpan rapi di sudut hati.

Sampai tahun 1973, saya masih di ibukota Ethiopia ini mengikuti tugas ayah kami berdinas di benua Afrika dan tak terasa setelah lima puluh tiga tahun berlalu dan kini saya kembali bukan hanya untuk bernostalgia. Saya kembali untuk berdialog dengan-Mu. Mengapa Engkau mengizinkan kembali ke tempat ini?.

Mengapa kenangan ini begitu kuat mengetuk jiwa? Mungkin karena Engkau ingin mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan yang utuh. Masa kecil bukan sekadar masa lalu; ia adalah fondasi iman dan karakter. Selintas berkelebat wajah bapak dan ibu yang ikut tersenyum mengikuti kunjungan ini.

Di sinilah saya pertama kali belajar percaya diri. Di sinilah saya belajar mandiri dan mungkin, di sinilah Engkau pertama kali mengajarkanku tentang rasa syukur — meski saya belum mampu menyebut nama-Mu dengan kedewasaan seperti hari ini.

Sebagaimana Allah membimbing saya,
hidup telah membawa saya jauh dari Addis Ababa. Saya dan Bengt kini tinggal di Stockholm Swedia sejak 2001. Sesekali kami tinggal di desa Ukna dan kini saya datang berdua dan mendapat kesempatan merajut kenangan masa kecil dan entah mengapa seakan Engkau berkata, “Lihatlah perjalananmu. Tidak ada yang kebetulan.”

Bangunan Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam telah diperbarui, dicat ulang, ditata ulang. Namun aroma pagi yang sejuk di Addis Ababa, cahaya matahari yang jatuh di halaman sekolah, dan gema langkah kaki anak-anak yang berlarian—semuanya terasa sama.

Di sinilah dulu saya belajar mengeja dunia. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, huruf-huruf pertama membentuk mimpi. Di papan tulis yang berdebu kapur, saya mengenal arti disiplin, rasa ingin tahu, dan persahabatan lintas budaya.Ya karena sekolah ini sekolah internasional dimana murid-muridnya berasal dari mancanegara yang umumnya anak ekspatriat.

Saya berdiri sejenak di bawah pepohonan tua yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan generasi demi generasi. Dahulu, di tempat inilah tawa kami pecah tanpa beban. Kami tak mengenal sekat bangsa atau warna kulit—kami hanya anak-anak dengan rasa ingin tahu yang sama.

Bahasa Prancis terdengar asing di awal, tetapi perlahan menjadi jendela yang membuka cakrawala dunia. Sedikitnya enam puluh tahun telah berlalu. Dunia berubah. Saya berubah. Namun ada bagian dari diri saya yang tetap tinggal di sini—di bangku kayu itu, di halaman tempat kami bermain, di ruang kelas tempat guru-guru penuh dedikasi menanamkan nilai keberanian dan kejujuran.

Suasana kota Adis Ababa, Ethiopia

Kembali ke sekolah ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah perjalanan pulang kepada masa ketika keluarga kami masih berpindah-pindah tugas, orangtua dengan satu anak putri tunggal. Alhamdulilah setelah bertugas di beberapa negara lain akhirnya adikku lelaki lahir…

Saya menutup mata sejenak dan berbisik dalam hati:Terima kasih, masa kecilku. Terima kasih, sekolahku. Karena di sinilah mimpi itu pertama kali berani tumbuh. Takdir sering kali kita pahami setelah puluhan tahun berlalu. Ada tempat yang mendidik pikiran. Namun hanya sedikit tempat yang menjadi ruang perjumpaan antara kenangan dan kesadaran spiritual.

Dan hari ini saya tahu di bawah matahari Afrika itu, Engkau sudah lebih dulu menunggu, menuliskan takdir.  Saya dulu tidak mengerti mengapa harus berada di Ethiopia, di sekolah Prancis, dalam lingkungan lintas budaya. Engkau persiapkan jiwa untuk memahami dunia yang luas, untuk belajar toleransi, untuk mengerti bahwa perbedaan adalah rahmat, apalagi bersuamikan warga asing.

Sekolah lama Lycée Franco-Éthiopien Guébré-Mariam di Addis Ababa, Ethiopia — sebuah lembaga pendidikan bersejarah yang
didirikan tahun 1947, atas permintaan Kaisar Haile Selassie I kepada organisasi pendidikan Mission laïque française (MLF) untuk membuka sekolah Prancis–Ethiopia di Addis Ababa.

Pembukaan resmi sekolah ini 15 Maret 1948, dimulai dengan sekitar 70–150 siswa di bangunan awal yang kini dikenal sebagai Black Lion School dan dinamai untuk mengenang Guebre Mariam Gari, seorang patriot Ethiopia yang gugur pada 1937 saat melawan invasi Italia.

Lokasinya di Churchill Road, Arada kebele, pusat Addis Ababa dan merupakan sekolah internasional berbahasa Prancis, berpadu dengan nilai budaya lokal Ethiopia dan pendidikan internasional. Sekolah ini
affiliasi dari jaringan Mission laïque française (MLF) dan terkonvensi dengan Agence pour l’Enseignement Français à l’Étranger (AEFE).

Menyediakan pendidikan dari pra-TK sampai Terminale atau kelas akhir SMA dengan penekanan pada tiga bahasa yaitu Prancis, Amharik atau bahasa Ethiopia, dan Inggris dimana siswa mengikuti kurikulum Prancis yang lengkap, dengan persiapan Diplôme National du Brevet dan Baccalauréat—gelar ujian akhir sekolah di sistem pendidikan Prancis.

Wikipedia juga mencatat selama dekade 1950–1960, sekolah ini menjadi pusat pembentukan generasi muda Ethiopia yang fasih berbahasa Prancis dan membuka akses ke pendidikan tinggi di Prancis dan internasional.

Saat ini sekolah masih aktif dan menjadi salah satu lembaga pendidikan terkenal di Addis Ababa dengan ribuan siswa dari berbagai latar belakang. Sekolah merayakan 75 tahun eksistensinya pada 2024 dengan acara besar melibatkan mantan siswa, guru, pejabat, dan masyarakat pendidikan.

Bersama Rahel ( baju hitam), mengunjungi Kedubes RI Addis Ababa dan lukisan Kaisar Haile Selassie I

Saya dan Bengt lalu menyusuri Jalan Churchill, jalan tempat Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam berada. Tempat masa kecil hingga sebagian masa remajaku bersekolah di sana. Napak tilas berlanjut melewati Markas Besar Uni Afrika (dahulu OAU), dekat rumah kami dulu di Roosvelt Street .

Kompleks Kantor dan Pusat Konferensi Uni Afrika ( AUCC ) adalah sebuah bangunan di Addis Ababa. Bangunan ini merupakan markas besar Uni Afrika dan menjadi tuan rumah KTT Uni Afrika dua tahunan, pusat konvensi dan perkantoran.

Sekarang menjadi kompleks besar dengan bangunan-bangunan baru yang modern. Ini adalah jalan tempat saya dulu tinggal yang
telah menjadi kompleks apartemen modern.

Saya berteriak girang ketika melihat Hotel Guenet masih ada… luar biasa eksistensinya selama bertahun-tahun, lebih dari 60 tahun. “Kami dulu sering bermain bowling di sini karena dekat dengan rumah,” kata saya pada Bengt yang hanya senyum-senyum melihat istrinya bahagia.

Addis Ababa kini selain modern dan perencanaan tata kotanya rapih dan teratur. Di setiap jalan ada trottoar untuk pejalan kaki dan di sampingnya untuk pengemudi sepeda.
Padahal Ethiopia yang tahun 1980 an adalah negara miskin bahkan rakyat sempat kelaparan, bisa bangkit dan jadi negara yang berkembang maju.

Saya sempat berkunjung ke toko roti langganan dan langsung makan di tempat. Kagum dengan keberadaan Toko Enrico yang didirikan pada tahun 1960, dan masih ada hingga sekarang.

Soal kulineran, selain makan pagi dihotel yang juga banyak menyajikan menu tradisionalnya saat makan pagi seperti Injera yang menjadi favorit saya, juga ada Doro wot dan nama-nama hidangan sepert tibes firfir, tibs dan chechebsa juga akrab di lidah dan enak.

Selain mengunjungi museum Ethiopia,
Kami diundang oleh Rahel, teman kami di Stockholm, ke rumahnya di Addis Ababa.
Nah Rahel memperkenalkan ritual minum kopi ala Ethiopia. Unik karena wadah minumnya bukan gelas atau mug tapi mirip mangkok kecil untuk upacara minum teh di Jepang.

Mengingat kembali kenangan masa kecilku sampai aku beranjak remaja di Addis Ababa bukan hanya mereguk kenangan manis. Namun yang pasti Addis Ababa seperti kehidupan manusia pada umumnya adalah ibukota yang dinamis dan terus berkembang, penuh proyek pembangunan dan reformasi ekonomi sekaligus simbol perubahan cepat di Ethiopia.

Puas berkeliling dan bernostalgia termasuk mengunjungi destinasi wisata alamnta yang indah tiba juga mengucapkan Good bye, Addis Ababa,di jalan-jalanmu, saya pernah menjadi kecil, lalu bertumbuh bersama waktu. Ya Allah, Engkau yang mempertemukan, Engkau pula yang mengajarkan arti melepaskan.

Penulis : tinggal di Stockholm, Swedia

Bali Gapura Marina Membuka Jalan bagi Pariwisata Superyacht di Indonesia

this formate

TUBAN, bisniswisata.co.id: Bali Gapura Marina menandai marina berstandar internasional pertama di Indonesia, memposisikan Bali sebagai pusat yang sedang berkembang untuk superyacht global dan pariwisata maritim mewah…

Dilansir dari whatsnewindonesia.com, Indonesia selangkah lebih dekat ke peta pelayaran internasional dengan peresmian Bali Gapura Marina, pelabuhan marina berstandar internasional pertama di negara ini.

Nama “Gapura,” yang berarti “gerbang” dalam bahasa Bali, mencerminkan perannya sebagai titik masuk baru yang memadukan kekayaan budaya lokal dengan layanan kelas dunia.

Bali Gapura Marina menandai marina berstandar internasional pertama di Indonesia, memposisikan Bali sebagai pusat yang sedang berkembang untuk superyacht global dan pariwisata maritim mewah.

Saat ini sedang dalam pengembangan di Benoa, Bali, marina ini dijadwalkan akan memiliki 180 tempat berlabuh pada kuartal ketiga tahun 2026, termasuk fasilitas untuk 50 superyacht berukuran hingga 90 meter. Pengembangan ini juga akan mencakup Premium Yacht Club, Crew Club, fasilitas MICE, gerai F&B, ruang kantor, dan area ritel.

Fondasi Menuju Destinasi Superyacht pada Tahun 2028

Proyek ini merupakan kolaborasi antara PT Marina Development Indonesia (MDI) dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, melalui anak perusahaannya PT Pelindo Solusi Logistik, sebuah perusahaan milik negara.

Upacara peletakan batu pertama berlangsung pada 22 Mei 2025, dengan konstruksi saat ini difokuskan pada Dermaga B, yang terkecil dari lima dermaga yang direncanakan.

Konstruksi Dermaga B dimulai pada September 2025, ditandai dengan pemasangan 11 modul ponton sepanjang 192 meter. Dirancang untuk menopang beban minimum 500 kg per meter persegi, dermaga ini akan menampung hingga 48 yacht.

Setelah peluncuran Dermaga B, peluncuran uji coba Dermaga C dan D direncanakan pada awal kuartal kedua tahun 2026, dengan marina layanan penuh ditargetkan selesai pada tahun 2028.

Gerbang Baru untuk Pariwisata Bahari Indonesia

Dengan luas 33.000 meter persegi, Bali Gapura Marina diharapkan menjadi katalis bagi sektor pariwisata bahari Indonesia, yang masih kurang dimanfaatkan meskipun negara ini memiliki kepulauan yang luas dengan lebih dari 17.000 pulau.

Lokasinya yang strategis, sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai, menjadikannya gerbang yang menarik bagi wisatawan, pemilik kapal pesiar, dan penggemar pelayaran.

Sebagai gerbang resmi pertama Indonesia ke jaringan pelayaran internasional, Bali Gapura Marina akan beroperasi sesuai dengan standar marina internasional dan Kode Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan Internasional (ISPS).

Menuju Pusat Superyacht Asia Tenggara

Bali Gapura Marina dipantau secara ketat sebagai proyek percontohan yang mendukung ambisi Indonesia untuk memasuki pasar pariwisata maritim mewah dan superyacht global yang sedang berkembang.

Meskipun Indonesia memiliki lanskap maritim yang luar biasa, negara ini belum mengembangkan marina yang mampu memberikan standar layanan dan keselamatan global.

Melalui proyek ini, Pelindo menunjukkan komitmennya untuk membangun ekosistem pelabuhan pariwisata yang terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan, yang selanjutnya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata maritim global. Pengembangan ini diharapkan dapat menarik pengunjung internasional berkualitas tinggi ke Bali.

Ketupat Cap Go Meh Bobon Santoso Jadi Primadona di Imlek Festival 2577

this formate

Bobon Santoso kreator konten kuliner tengah bagikan masakannya. 

JAKARTA, bisniswisatakreator konten kuliner.co.id:  Kemeriahan acara puncak Imlek Festival 2577 yang digelar di Lapangan Banteng, Jakarta, begitu terlihat dari padatnya pengunjung di area kuliner.

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah sajian Ketupat Cap Go Meh raksasa dari kreator konten kuliner, Bobon Santoso.

Meski harus mengantre panjang, antusiasme para pengunjung tidak surut untuk mencicipi masakan khas perayaan Imlek tersebut. Terlebih dengan gaya unik Bobon yang masak di kuali besar.

Roby, salah seorang pengunjung asal Jakarta Barat, mengaku sengaja datang ke festival ini bersama seluruh keluarganya. Sebagai penggemar berat Bobon Santoso, dia rela mengantre bersama sang anak demi mencicipi lontong buatan Bobon.

“Kebetulan sekali saya nge-fans dengan Bobon. Rasanya uenak, kuahnya sangat terasa, dan ayam gorengnya pas. Good deh!” ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (28/2).

Selain soal rasa, Roby juga mengapresiasi nilai toleransi yang terpancar karena Imlek Festival ini bertepatan dengan suasana bulan suci
Ramadan.

“Sangat luar biasa, kita dari beragam agama dan suku berkumpul di sini. Semog hal  ini menambah solid kita sebagai warga negara Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan Roby, Intan Permata Sari yang datang jauh-jauh dari Cilegon, Banten, merasa terkesima dengan aksi memasak Bobon Santoso yang ikonik.

“Seru banget, ramai banget. Terus tadi aku ikut acara ini, ambil lontong cap go meh dari Kokoh Bobon. Ini enak banget rasanya,” ungkap Intan.

Walau dimasak dalam jumlah yang sangat banyak, menurut Intan, rasa lontong cap go meh buatan Bobon tetap terjaga kelezatannya.
Intan juga sempat menikmati suasana sekitar dengan berkunjung ke Masjid Istiqlal
untuk beribadah sebelum kembali ke area festival.

“Harapan saya sebagai pengunjung ya, semoga ada event-event ini lagi di tahun-tahun selanjutnya, agar bisa lebih meriah lagi,” harapnya.

Imlek Festival di Lapangan Banteng tahun ini tidak hanya sekadar perayaan budaya, namun menjadi panggung bagi persatuan masyarakat.

Kehadiran tokoh seperti Bobon Santoso dengan sajian Lontong Cap Go Meh-nya berhasil menyatukan lidah masyarakat dari berbagai latar belakang.

Harapan besar pun digantungkan oleh para pengunjung agar Indonesia semakin maju dan tingkat toleransi antar warga semakin tinggi, seiring dengan kesuksesan gelaran festival yang memadukan tradisi, kuliner, dan kebersamaan ini.

 

IHG Hotels & Resorts Perkenalkan Brand Koleksi Premium Baru, Noted Collection™

this formate

Foto: Noted Collection

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Suka memiliki pengalaman staycation di hotel-hotel mewah?. Kabar baiknya telah lahir Noted Collection yang akan memberi tamu lebih banyak pilihan dan pengalaman baru di seluruh dunia dengan jaminan True Hospitality yang selalu menjadi bagian dari setiap pengalaman menginap di hotel IHG.

InterContinental Hotels Group PLC (IHG)i telah mengumumkan peluncuran brand koleksi premium terbarunya, Noted Collection, dimana pembicaraan awal telah berlangsung bersama sejumlah pemilik hotel, termasuk beberapa pemilik portofolio hotel berskala kecil, yang berpotensi untuk bergabung ke dalam jaringan IHG.

Sebagai brand ke-21 dan brand baru ke-11 milik IHG selama beberapa tahun terakhir, Noted Collection akan menempati posisi tersendiri dalam portofolio premium IHG bersama Crowne Plaza, voco, dan Ruby Hotels, sekaligus melengkapi brand Luxury & Lifestyle khas IHG seperti Hotel Indigo dan Vignette Collection.

Brand ini akan diluncurkan bertahap secara global secara bertahap, dimulai dari kawasan Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Afrika (EMEAA).

Sebagai koleksi premium hotel yang benar-benar unik, setiap properti Noted Collection dikurasi secara cermat berdasarkan perspektif yang berbeda, pengalaman yang dihadirkan, serta karakter khasnya yang menarik perhatian.

Tiga ciri utama berikut memastikan pengalaman tamu di seluruh properti Collection yang benar-benar berbeda:

Noteworthy Stays (Pengalaman Menginap Berkesan):
Setiap hotel dipilih berdasarkan kisah unik, desain yang kuat, serta karakter individualnya, membentuk portofolio global yang penuh daya tarik. Mulai dari ikon bersejarah hingga properti modern yang unik, setiap hotel memiliki narasinya tersendiri yang memperkaya keseluruhan Collection.
The Edit:
Pengalaman tamu dikurasi melalui pendekatan editorial. Momen-momen khas seperti koktail, hidangan, ritual, atau lanskap suara, menghadirkan sesuatu yang tak terduga, menarik, dan terhubung dengan konteks lokal. Food & Beverages menjadi medium budaya yang dirancang secara intentional, berbasis narasi, dan mendorong eksplorasi.

Conversation Starters (Pembuka Narasi):
Keramahan yang membangun koneksi alami. Layanan diberikan dengan empati, hangat, dan tidak dibuat-buat, memadukan True Hospitality khas IHG dengan gaya interaksi yang alami dan personal. Perhatian pada detail, mulai dari catatan tulisan tangan hingga objek yang dipilih dengan cermat serta program budaya, menciptakan momen yang terus dikenang tamu, jauh setelah masa mereka menginap.

Dengan fokus utama pada konversi hotel di segmen menengah atas (upscale) ke kelas atas (upper upscale), Noted Collection dirancang untuk meningkatkan kinerja hotel-hotel berkualitas tinggi yang memiliki karakter khas sekaligus menghadirkan lebih banyak pilihan destinasi unggulan bagi tamu di seluruh dunia.

Sebagian besar dari 2,3 juta kamar hotel independen secara global di segmen ini berpotensi memperoleh manfaat dengan bergabung dalam ekosistem IHG yang kuat, termasuk kapabilitas pengelolaan pendapatan, distribusi, dan teknologi kelas dunia, serta lebih dari 160 juta anggota IHG One Rewards.

IHG menargetkan untuk mencapai lebih dari 150 hotel Noted Collection di seluruh dunia dalam satu dekade mendatang. “Kami sangat antusias menghadirkan Noted Collection ke pasar. Brand ini melengkapi portofolio premium kami sekaligus melanjutkan kesuksesan Vignette Collection di segmen Luxury & Lifestyle, serta konversi brand kami yang berkembang pesat seperti voco dan Garner,” kata Elie Maalouf, Chief Executive Officer IHG Hotels & Resorts.

Saat ini terdapat minat yang kuat dari para pemilik hotel berkualitas tinggi dan berkarakter unik untuk bergabung dengan platform dan kepakarannya dan Noted Collection menawarkan brand yang khas dan menarik, sekaligus membuka peluang peningkatan kinerja yang lebih optimal.

Tahun lalu, IHG mengakuisisi brand urban lifestyle Ruby Hotels yang berfokus pada destinasi city break (yang tidak berada di kota besar) yang wajib dikunjungi. Kehadiran Noted Collection menegaskan komitmen berkelanjutan kami untuk memperkuat portofolio premium yang mampu menjawab kebutuhan tamu dan pemilik hotel yang terus berkembang.

Bagi pemilik hotel, Noted Collection menawarkan kesempatan pada hotel berkualitas tinggi untuk bergabung dalam keluarga properti unik dan terkurasi di destinasi kota maupun resor unggulan, tanpa kehilangan karakter dan identitas masing-masing. Pada saat yang sama, mereka dapat segera terhubung dengan ekosistem IHG yang kuat, termasuk program loyalitas serta jaringan globalnya.

Tentang IHG Hotels & Resorts

IHG Hotels & Resorts (LON:IHG; NYSE:IHG) adalah perusahaan perhotelan global dengan misi menghadirkan True Hospitality for Good. Dengan 20 brand hotel dan program loyalitas IHG One Rewards yang memiliki lebih dari 160 juta anggota, IHG mengoperasikan lebih dari 6.800 hotel di lebih dari 100 negara, serta memiliki lebih dari 2.300 properti dalam tahap pengembangan.

Portofolio IHG mencakup:
Luxury & Lifestyle: Six Senses Hotels Resorts Spas, Regent Hotels & Resorts, InterContinental Hotels & Resorts, Vignette Collection, Kimpton Hotels & Restaurants, Hotel Indigo
Premium: voco Hotels, HUALUXE Hotels & Resorts, Crowne Plaza Hotels & Resorts, EVEN Hotels, Noted Collection
Essentials: Holiday Inn Hotels & Resorts, Holiday Inn Express, avid hotels
Suites: Atwell Suites, Staybridge Suites, Holiday Inn Club Vacations, Candlewood Suites

InterContinental Hotels Group PLC adalah perusahaan induk yang terdaftar di Inggris dan Wales, dengan sekitar 400.000 karyawan di seluruh jaringan hotel dan kantor korporatnya di dunia.

Halal = Integritas moral

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pagi itu, training sertifikasi Penyelia Halal sudah dimulai. Ustad Al Haris Muchtar dari Halal Center ESQ, sebuah Lembaga Pelatihan Jaminan Produk Halal (JPH) hanya menghadapi segelintir ‘murid’ yang menyimak penjelasannya tentang profesi yang tergolong baru ini.

Di Indonesia, kewajiban sertifikasi halal diatur melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Tenggat waktu sertifikasi halal bagi produk dan jasa yang beredar di Indonesia sebelumnya dijadwalkan 17 Oktober 2024. Sebaliknya produk non Halal atau haram bagi Muslim juga harus di umumkan dengan jelas oleh produsen di labelnya. Tenggat waktu yang sebelumnya tidak terpenuhi itu kini jatuh pada 17 Oktober 2026.

Secara hukum, halal adalah kewajiban administratif. Namun secara etik dan moral, halal jauh lebih luas dari sekadar label.
Oleh karena itu dalam penjelasan awalnya, ustad Haris mengatakan masih minimnya murid atau peserta yang mengikuti pelatihan Penyelia Halal bukan dilihat dari ukuran jumlah orangnya tapi bagaimana kinerja profesi ini bisa memberikan dampak berganda pada ratusan, ribuan bahkan jutaan orang lain.

JPH adalah inisiatif yang menjembatani kesenjangan antara industri dan nilai-nilai kehalalan dalam masyarakat dengan cara mencetak sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi halal reguler.

“ Dalam hal ini baik Penyelia Halal dan pemilik usaha ( PU) yang memilih sertifikasi halal adalah mereka yang memiliki integritas moral,”kata ustad Al Haris Muchtar optimistis

Memahami tujuan pemerintah dengan sertifikasi halal maka PU berkomitmen menjaga amanah bahwa kaum Muslimin Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia terjamin mendapatkan produk yang benar-benar mengikuti proses halal dalam pembuatannya.

“ Selain jaga amanah, PU memiliki karakter yang bagus karena ada keyakinan dan nilai dalam diri yang kuat,” ujar Ustad Haris.

Halal kini bukan soal agama saja tetapi telah menjadi ‘brand’ internasional dimana konsumennya bukan hanya Muslim tapi juga non Islam atau kerap disebut nonis. Halal bahkan merupakan manifestasi integritas moral dalam tata kelola industri modern.

Halal bukan hanya relevan secara regulatif, tetapi juga fundamental secara moral, apakah halal sekadar kewajiban hukum, ataukah ia merupakan manifestasi integritas moral ?

Halal dalam perspektif regulasi Indonesia maka kewajiban sertifikasi halal telah ditegaskan melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Regulasi ini meletakkan halal sebagai instrumen perlindungan konsumen dan kepastian hukum.

Secara administratif, halal adalah standar kepatuhan, sistem audit, mekanisme sertifikasi dan bentuk akuntabilitas legal. Namun pertanyaan adalah apakah kepatuhan hukum identik dengan integritas? Jawabannya belum tentu karena integritas moral lebih dari sekadar compliance atau kepatuhan tadi.

Dalam teori tata kelola modern, terdapat dua pendekatan utama yaitu Rule-based compliance maksudnya adalah kepatuhan karena aturan. Pendekatan ke dua integrity-based governance atau kepatuhan karena kesadaran nilai. Compliance menjawab pertanyaan “Apa yang diwajibkan” sedangkan integritas menjawab pertanyaan “Apa yang benar?”

Di sinilah halal menemukan kedalaman maknanya. Jika halal dijalankan hanya karena takut sanksi, maka ia berhenti pada level administratif. Namun jika halal dijalankan karena kesadaran amanah, maka ia menjadi ekspresi integritas moral.

Halal sebagai sistem etika terstruktur menunjukkan konsep halal dalam Islam tidak hanya menyentuh substansi bahan, tetapi juga proses produksi, transparansi rantai pasok, keadilan distribusi serta tanggung jawab terhadap konsumen.

Keadilan distribusi meskipun terdengar aneh namun menjelaskan bahwa sebuah usaha jasa ekspedisi daging misalnya, tidak bisa mengirimkan daging babi bersamaan dengan daging ayam dalam satu kontainer karena produk haram dan halal jadi terkontaminasi.

Dengan demikian, halal mencerminkan tiga lapisan etika material apa yang dikonsumsi, etika prosedural adalah bagaimana ia diproduksi dan etika intensional maksudnya untuk apa dan dengan kesadaran apa ia dijalankan. Lapisan ketiga inilah yang menjadikan halal sebagai moral character industri.

Sayangnya pemahaman sederhana ini masih ditanggapi para pemilik usaha dengan ucapan singkat : Ah ! RIBET jika ditanya apakah sudah sertifikasi halal jika produknya adalah halal.

Tak heran ketika menelusuri website http://bpjph.halal.go.id untuk cek produk halal yang didaftarkan lewat Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal ( lokal) atau dari luar negri maka UMKM sudah mendaftarkan sertifikasi dari tahun 2021, sementara produk dari pabrik-pabrik besar yang beredar dipasaran baru di daftarkan tahun 2025.

Ekosistem industri halal dunia yang menjadi penyelamat perekonomian banyak negara telah berkembang menjadi Trust Economy. Di era ekonomi global saat ini, daya saing tidak hanya ditentukan oleh harga dan kualitas, tetapi oleh trust karena industri yang menerapkan halal berbasis integritas akan menunjukkan konsistensi standar, transparansi proses, ketahanan reputasi dan keberlanjutan jangka panjang yang dijaganya

Sebaliknya, halal yang direduksi menjadi sekadar simbol pemasaran akan menghadapi krisis legitimasi ketika terjadi pelanggaran. Karena itu, halal bukan hanya economic instrument, melainkan moral infrastructure yang berimplikasi bagi Industri dan tata kelola bahkan untuk usaha mikro sekalipun.

Oleh karena itu bagi pelaku industri, halal seharusnya dipahami sebagai investasi reputasi, strategi keberlanjutan dan komitmen etis terhadap masyarakat.
Bagi regulator dan akademisi, halal harus terus dikembangkan sebagai model governance berbasis nilai yaitu sistem yang tidak hanya mengawasi, tetapi membangun karakter.

Indonesia membutuhkan industri yang tidak hanya “halal certified”, tetapi “halal with integrity” yang pada akhirnya membuktikan bahwa halal adalah cermin dari kualitas moral sebuah bangsa dalam mengelola ekonominya. Jika halal dijalankan sebagai amanah, maka ia membangun kepercayaan.

Jika halal dijalankan sebagai karakter, maka ia membangun peradaban. Semoga kita tidak berhenti pada sertifikasi, tetapi bergerak menuju integritas. Aamiin…..

Di Forum Amcham, BPJPH Dorong Dunia Usaha Implementasi Wajib Halal Oktober 2026

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mendorong kesiapan dunia usaha menyambut implementasi kewajiban sertifikasi halal atau Wajib Halal Oktober 2026.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan saat menghadiri American Chambers (Amcham) Indonesia Breakfasting Forum yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Forum bertema “Meningkatkan Kesiapan Bisnis untuk Implementasi Sertifikasi Halal yang Efektif” ini diikuti sekitar 30 peserta dari sektor industri makanan dan minuman, kosmetik, serta suplemen kesehatan.

Kepala BPJPH juga menegaskan bahwa pemberlakuan wajib halal dilaksanakan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 33 tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2024, yang mencakup sejumlah kategori produk.

Di antaranya produk makanan, minuman, bahan baku, bahan tambahan pangan, bahan penolong produk makanan/minuman, jasa penyembelihan dan hasil sembelihan, obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, kosmetik, produk kimiawi, produk rekayasa genetik, hingga barang gunaan.

Ia juga menegaskan bahwa kewajiban sertifikasi halal diberlakukan secara adil dan setara bagi seluruh produk yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia, baik produksi dalam negeri maupun produk impor.

“Di semua negara berlaku sama. Barang-barang (produk) yang masuk dan beredar di Indonesia seperti makanan, minuman, obat, kosmetik, dan barang gunaan lainnya, pada Oktober 2026 wajib bersertifikat halal bila itu (terkategori wajib bersertifikat) halal. Dan wajib diberi keterangan tidak halal bila itu (produknya) nonhalal,” kata Babe Haikal, sapaan akrab Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan, di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Ia juga menekankan bahwa implementasi kebijakan ini merupakan wujud komitmen negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat. “Negara menjamin perlindungan bagi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Itu yang menjadi pegangan kami dalam menjalankan amanah ini,” tegasnya.

Lebih lanjut, Babe Haikal juga mengatakan bahwa sertifikasi halal tidak hanya diposisikan sebagai persoalan agama atau kewajiban regulasi saja, tetapi juga sebagai komitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan konsumen.

Forum AmCham yang menjadi wadah dialog strategis antara regulator dan pelaku usaha tersebut juga diisi sesi diskusi yang membahas berbagai isu. Mulai dari kesiapan rantai pasok, pengakuan sertifikat halal luar negeri, hingga strategi komunikasi label halal kepada konsumen.

 

WTM Africa 2026 Soroti Keberlanjutan Pariwisata yang Berfokus pada Masa Depan

this formate

CAPE TOWN, Afsel, bisniswisata.co.id: World Travel Market (WTM) Africa 2026 memposisikan pariwisata bertanggung jawab sebagai tolok ukur industri dan pilar utama pameran, yang berlangsung di Cape Town International Convention Centre (CTICC) mulai 13–15 April.

“Tahun ini, tidak ada kompromi, seiring meningkatnya tuntutan keberlanjutan global, pariwisata bertanggung jawab telah bergeser dari sekadar hal yang diinginkan menjadi keharusan komersial dan reputasional”, ,” kata Megan De Jager, Direktur Portofolio di RX Africa dalam rilisnya.

“Ini adalah hal yang tidak dapat dinegosiasikan untuk masa depan industri kita dan telah secara fundamental mengubah cara kita merancang acara ini,” tambahnya.

Olivia Gradidge, Manajer Pemasaran, RX Africa, menggambarkan WTM Africa 2026 sebagai ‘gerbang keberlanjutan’, di mana setiap titik kontak memperkuat komitmen terhadap praktik etis dan menciptakan strategi nyata bagi pelaku perdagangan untuk diadopsi.

Menurut dia, hasil dari perencanaan yang cermat selama berbulan-bulan telah menghasilkan program yang berfokus pada masa depan, dengan investasi sosial perusahaan (CSI) yang mendorong kemitraan strategis kami, acara jejaring, lokakarya konten, dan aktivasi langsung di lokasi.

“Kami sangat senang menyambut World Travel Market Africa kembali ke kota kami dan saya sangat gembira dengan fokus tahun ini pada pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab, “ kata Olivia Gradidge.

Pariwisata sangat penting bagi masa depan Cape Town, dan dengan bekerja sama untuk menanamkan keberlanjutan di jantung industri.

“Kita dapat mengamankan peluang dan kemakmuran jangka panjang bagi warga Cape Town untuk generasi mendatang,” kata Geordin Hill-Lewis, Walikota Eksekutif Cape Town.

Pariwisata bertanggung jawab dalam praktik

Agenda pariwisata bertanggung jawab WTM Africa 2026 yang dipimpin oleh Harold Goodwin mencakup dua konferensi setengah hari khusus pada tanggal 13 dan 14 April 2026 yang membahas topik seputar ekonomi pariwisata satwa liar, strategi anti-greenwashing, dan model implementasi praktis.

Sesi-sesi utama meliputi “Pariwisata dalam Ekonomi Satwa Liar,” yang mengeksplorasi model pariwisata konsumtif dan non – konsumtif serta peran mereka dalam keberhasilan konservasi, bersamaan dengan diskusi tentang klaim ramah lingkungan dan sertifikasi yang membahas kekhawatiran pasar sumber yang semakin meningkat seputar greenwashing dan greenhushing.

Sesi tambahan menampilkan para pemenang penghargaan yang berbagi studi kasus dunia nyata, termasuk bagaimana Piggs Peak Hotel di Eswatini telah meningkatkan nilai ekonomi komunitas sekaligus meningkatkan profitabilitas.

Konferensi diakhiri dengan Penghargaan Pariwisata Bertanggung Jawab WTM Afrika tahunan yang memperkuat komitmen keberlanjutan acara tersebut, mengakui bisnis yang telah memberikan dampak terukur sambil mendorong inovasi dan keberlanjutan di seluruh benua.

Pemenang penghargaan emas berhak masuk ke Global Responsible Tourism Awards, yang diakui di London akhir tahun ini. Pendaftaran tetap terbuka hingga batas waktu pengajuan pada 20 Maret 2026.

Efek Wetu: sertifikasi yang disederhanakan

Sesi fokus utama, yang disajikan dalam kemitraan dengan Wetu, akan membahas tantangan akses pasar B2B yang mendesak yang dihadapi oleh operator tur dan penginapan di Afrika.

Panel ini akan mengeksplorasi bagaimana peraturan baru menciptakan tekanan di seluruh rantai pasokan, dari agen internasional hingga pemasok lokal, dan bagaimana sistem sertifikasi inovatif dapat mengubah tantangan ini menjadi keunggulan kompetitif.

Sesi ini akan menampilkan perspektif dari DMC, agen Eropa internasional, dan operator bersertifikat yang telah menavigasi perjalanan sertifikasi, bersama dengan wawasan tentang platform audit sumber terbuka baru yang membuat pelaporan keberlanjutan dapat diakses oleh semua bisnis.

Waddle for a Cause, Meningkatkan kesadaran akan konservasi satwa liar Penguin Afrika yang terancam punah menjadi pusat perhatian di WTM Africa 2026 dengan kampanye Waddle for a Cause yang sedang berlangsung, yang dikembangkan dalam kemitraan dengan SANCCOB dan Uthando (Love) Africa.

Aktivasi khusus di lokasi acara akan berpusat pada penyebaran kesadaran melalui karya seni yang dibuat oleh siswa dari Sekolah Dasar Portland, dengan beberapa karya terpilih dilelang untuk mengumpulkan dana tambahan untuk konservasi penguin Afrika pada acara pasca-pameran khusus.

“Kami memelopori inisiatif ini untuk memberi manfaat bagi pembelajaran komunitas sekaligus memperkuat upaya perlindungan untuk spesies yang berada di bawah ancaman serius,” kata Gradidge.

Penguin Afrika merupakan bagian integral dari Western Cape dan ekowisata Afrika, dan kami berkomitmen untuk memberikan dampak berkelanjutan sepanjang tahun untuk tujuan ini, jauh melampaui tanggal pertunjukan, ungkapnya.

Memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan, WTM Africa melanjutkan kemitraannya dengan Painted Wolf Wines. Kolaborasi ini memperkenalkan aktivasi interaktif di lokasi yang mengundang para pengunjung untuk berkontribusi pada instalasi seni kolektif anjing liar Afrika, mendukung upaya konservasi untuk spesies yang terancam punah ini.

Crafters Nexus

Crafters Nexus yang bergaya pasar kembali sebagai platform yang mendukung bisnis kecil dan lokal Afrika yang mencontohkan praktik berkelanjutan dan dampak bagi masyarakat. Komitmen WTM Africa untuk mengangkat kerajinan lokal semakin tercermin dalam program penghargaan acara tersebut.

Piala Penghargaan Pariwisata Bertanggung Jawab akan dibuat dari kain shweshwe berbentuk bunga protea, persembahan dari African Gypsy Travel, yang mendistribusikan souvenir perjalanan buatan tangan oleh para perajin wanita dari seluruh Afrika Selatan.

Piala Penghargaan Stan Pameran juga akan dihiasi manik-manik tradisional buatan tangan oleh Maggs & Beads, sebuah bisnis milik wanita kulit hitam Afrika Selatan.

“Kesempatan untuk memamerkan kerajinan saya di WTM Africa datang pada saat yang tepat,” kata Margaret Mahlangu, Pendiri, Maggs & Beads.

Selain membuat piala, kami ditawari stan bersama para pengrajin lain di pameran bergengsi ini. Ini lebih dari sekadar kesepakatan bisnis; ini adalah pintu gerbang menuju dunia dan melangkah ke ruang di mana jaringan global dibangun, dan di mana para pengrajin seperti saya dapat berbagi kisah mereka dengan dunia, tambah Margaret Mahlangu.

Gradidge menyoroti bagaimana kolaborasi dengan merek-merek kecil dan inisiatif yang dipimpin komunitas telah menjadi bagian integral dari WTM Africa.

“Keberlanjutan sejati itu luas dan inklusif. Kami telah sengaja menanamkan praktik ini di seluruh pameran untuk mencontohkan bagaimana elemen lokal dapat dengan bijaksana diintegrasikan ke dalam pengalaman pengunjung.” tambahnya.

Pengurangan & pengelolaan limbah

Inovasi dan keberlanjutan tetap menjadi fokus utama dengan diperkenalkannya pin peserta pameran dan VIP berbentuk Afrika yang menggunakan bola padel daur ulang dari Amazeballs, sebuah inisiatif yang bekerja sama dengan para kreator lokal untuk mengubah bola padel dan tenis yang rusak menjadi produk ramah lingkungan.

James Fernie, Pendiri Uthando (Love) Africa, mengatakan proyek ini menciptakan peluang yang berarti bagi kaum muda sekaligus menunjukkan nilai material berkelanjutan. “Ketika para peserta pameran mengenakan pin ini, mereka mengenakan simbol kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan keterlibatan komunitas yang tulus,” tambahnya.

Dengan WTM Africa 2026 yang berlangsung di Kota Tuan Rumah Cape Town, yang juga berkomitmen untuk mendorong keberlanjutan yang dapat ditindaklanjuti, De Jager menekankan posisi pameran ini sebagai cetak biru praktis untuk pariwisata bertanggung jawab di Afrika.

“Seiring dengan meningkatnya permintaan audiens global akan pengalaman yang lebih bertanggung jawab, WTM Africa terus mendefinisikan kembali seperti apa acara pariwisata berkelanjutan dapat – dan seharusnya – terlihat.

Dengan berkolaborasi dengan komunitas dan membuat pilihan yang sadar di seluruh operasi kami, kami bertujuan untuk memimpin dengan memberi contoh dan menunjukkan bagaimana tindakan kecil dapat memberikan dampak jangka panjang yang bermakna,” pungkasnya.

Amadeus Mengakuisisi SkyLink untuk Percepat Inovasi Perjalanan Berbasis AI

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: Pemimpin teknologi perjalanan global, Amadeus IT Group, telah mengumumkan akuisisi perusahaan berbasis AI yang berfokus pada SkyLink di New York, menandai langkah strategis untuk mempercepat transformasi AI di seluruh ekosistem perjalanan global.

Dilansir dari miceshowcase.com , kesepakatan ini memperkuat kemampuan Amadeus dalam AI percakapan dan otomatisasi cerdas, meningkatkan pengalaman pemesanan dan manajemen perjalanan di AS, Inggris, dan sekitarnya.

Akuisisi ini secara signifikan memperkuat portofolio perjalanan korporat Amadeus. AI percakapan dan mesin orkestrasi canggih SkyLink menyederhanakan pemesanan, mengotomatiskan alur kerja, dan mengurangi proses manual.

Karyawan dapat menyelesaikan pengaturan perjalanan lebih cepat, sementara organisasi mendapat manfaat dari peningkatan efisiensi, pengurangan biaya, dan sistem manajemen perjalanan yang lebih cerdas.

Bagi konsumen, integrasi ini menjanjikan pengalaman perjalanan yang lebih personal dan proaktif. Asisten bertenaga AI akan memungkinkan pelancong untuk memesan penerbangan, mengelola akomodasi, menerima pembaruan waktu nyata.

Bisa mengakses rekomendasi yang disesuaikan—semuanya melalui antarmuka percakapan yang intuitif. Sistem otomatis akan mengantisipasi kebutuhan pelancong, memberikan informasi dengan lancar dan meningkatkan kepuasan secara keseluruhan.

Amadeus beroperasi di lebih dari 190 pasar dan memproses miliaran pencarian perjalanan setiap tahunnya, menyediakan fondasi yang kuat untuk mengembangkan teknologi AI milik SkyLink secara global.

Kemampuan gabungan ini akan mendukung maskapai penerbangan, bandara, penyedia layanan perhotelan, dan klien korporat dengan wawasan berbasis data secara real-time dan solusi manajemen perjalanan yang cerdas.

Selain inovasi, Amadeus menekankan pengembangan AI yang bertanggung jawab. Perusahaan ini menerapkan kerangka kerja etika yang kuat, antarmuka yang aman, dan infrastruktur AI yang dapat diskalakan untuk memastikan transparansi, keandalan, dan kepercayaan di seluruh ekosistem teknologinya.

Dengan akuisisi ini, Amadeus memperkuat posisinya di garis depan solusi perjalanan berbasis AI. Dengan menggabungkan infrastruktur globalnya dengan kecerdasan percakapan SkyLink, perusahaan ini membentuk kembali cara bisnis dan pelancong berinteraksi dengan teknologi perjalanan—mengantarkan era yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih personal bagi industri perjalanan global.

Pemerintah Tasmania akan Investasikan $10 Juta untuk Pusat Konvensi di Launceston

this formate

Foto rancangan pusat konvensi baru di Launceston

HOBART, bisniswisata.co.id: Pusat konvensi seluas 4.000 m2 akan dibangun bersebelahan dengan Hotel Peppers Silo, dengan pengembang yang mengusulkan proyek tersebut, JMC Group, yang juga merupakan pemilik hotel tersebut.

Kota Launceston telah menjanjikan $5 juta untuk proyek senilai $35 juta, namun, kontribusi dewan kota bergantung pada kontribusi pemerintah negara bagian sebesar $10 juta, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Jeremy Rockliff seperti dilansir dari mice.net.au

“Kami bangga dapat bermitra dengan JMC dan Kota Launceston untuk menghadirkan pusat konvensi baru bagi Tasmania Utara,” kata Rockliff.

Pembangunan yang menciptakan lapangan kerja dan mendorong perekonomian ini akan membuka era baru peluang bagi Tasmania Utara dengan memposisikan wilayah ini sebagai destinasi wajib kunjungan untuk acara bisnis.

“Ini akan menghasilkan puluhan ribu malam menginap tambahan bagi pengunjung, memberikan manfaat signifikan bagi hotel, perhotelan, ritel, dan operator pariwisata.

“Akan ada juga peluang di berbagai sektor pertumbuhan tinggi termasuk kesehatan, pertahanan, manufaktur canggih, energi hijau, pertanian, dan sains.

“Pemerintah Tasmania telah menegosiasikan akses ke ruang konvensi untuk dekade pertama operasi, untuk memungkinkan lebih banyak acara diadakan di wilayah tersebut dan meningkatkan pengembalian investasi.”

Acara bisnis bernilai hampir $200 juta bagi perekonomian Tasmania setiap tahunnya, dan sebuah studi terbaru yang ditugaskan oleh Visit Northern Tasmania menemukan bahwa pusat konvensi akan membuat Launceston menjadi tuan rumah dua kali lipat jumlah acara bisnis yang diselenggarakan saat ini.

Pemerintah negara bagian juga percaya bahwa pusat konvensi akan memicu investasi lebih lanjut di hotel-hotel di Launceston.

JMC Group telah berkomitmen untuk membangun hotel dengan 120 kamar di samping pusat konvensi, yang mampu menampung kelompok hingga 1.000 orang.

JMC menginvestasikan $20 juta ke dalam proyek pusat konvensi dan akan merehabilitasi area King’s Wharf yang terletak di tepi sungai Muara Tamar. Pusat konvensi dan hotel baru akan dibangun tepat di seberang kawasan tepi sungai tersebut.

Perusahaan Penyelenggara Acara Langsung Asal Australia Luncurkan Unit Teknologi Baru.

this formate

Teknologi acara yang dikembangkan dan diuji secara lokal oleh perusahaan yang berbasis di Australia.( Foto:AdobeStock /ipopba).

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Perusahaan penyelenggara acara langsung asal Australia meluncurkan unit teknologi baru. Unit Connected Apps akan menyediakan aplikasi, layar, alur kerja otomatis, dan banyak lagi.

Connected Event Group telah meluncurkan Connected Apps, unit bisnis baru yang berfokus pada pengembangan aplikasi acara khusus, alat digital, situs web cepat, dan otomatisasi berbasis AI untuk lingkungan acara langsung.

Menurut perusahaan, Connected Apps diciptakan untuk mengatasi kesenjangan antara teknologi acara yang dipoles secara visual dan solusi yang berfungsi andal di lokasi selama produksi langsung seperti dilansir dari meetings-conventions-asia.com

Dengan memanfaatkan pengalaman Connected Event Group selama lebih dari 20 tahun dalam menyelenggarakan acara langsung, unit baru ini akan menyediakan berbagai solusi digital khusus.

Ini termasuk aplikasi acara untuk konferensi, pameran, festival, dan aktivasi merek; pengalaman layar sentuh interaktif dan multi-layar; aplikasi bisnis khusus dan otomatisasi alur kerja; situs web acara dan kampanye yang mengutamakan perangkat seluler; dan alat-alat berbasis AI yang bertujuan untuk mengurangi proses manual.

Semua solusi dirancang dan dikembangkan secara lokal oleh tim yang bekerja langsung di dalam industri acara, dengan tujuan menjaga kesinambungan dari konsep hingga implementasi di lokasi.

Bersamaan dengan peluncuran ini, Connected Event Group juga merilis Event App Playbook, sumber daya industri gratis yang menampilkan 18 konsep aplikasi acara interaktif yang telah diuji dalam pengaturan acara langsung.

Ini termasuk jajak pendapat audiens langsung yang terintegrasi dengan efek panggung, kompetisi ponsel sebagai gamepad, mosaik digital interaktif, pengalaman yang diaktifkan RFID, dan tantangan berbasis langkah yang membuka konten, hadiah, atau lokasi. Setiap konsep disertai dengan catatan tentang kelayakan, jadwal, dan dampak audiens.