Garut Internasional Kite Festival 2026 Dapat Sambutan Positif Tokoh Layangan

this formate

Layang-layang besar dilangit Nusa Dua, Bali hari ini ( foto: dok Museum Layang-layang Indonesia)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tokoh pelestari budaya dan pendiri Museum Layang-Layang Indonesia, Endang Ernawati Drajat menyambut baik kegiatan Garut International Kite Festival (GIKF) 2026 di Agrowisata Tepas Papandayan, Garut pada 29 Juli- 02 Agustus 2026.

“Saya pernah diajak rapat oleh rekan dari Johor, Malaysia yang ingin berkolaborasi dengan Pemkab Garut. Alhamdulilah tahun ini diwujudkan semoga bisa mendongkrak pariwisata Garut terutama untuk kunjungan wisatawan asing,” kata Endang.

Menurut dia kunjungan ke Garut sudah populer bagi pasar domestik apalagi PT KAI menyediakan layanan Kereta Panoramic dengan rute Gambir (Jakarta) – Garut (PP) melalui layanan KA Papandayan.

“ Banyak komunitas, influencer dan rombongan keluarga memilih berwisata ke Garut sehingga Festival layang-layang bertema “Where Nature & Culture Meet The Sky” ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari penuh dan diharapkan menjadi salah satu event pariwisata unggulan di Jawa Barat tahun depan.

Festival ini menampilkan pertunjukan internasional yang memukau, di mana peserta dari berbagai negara akan memamerkan keahlian mereka menerbangkan layang-layang raksasa dengan desain unik.

Selama lima hari, selain atraksi utama layang-layang, pengunjung juga akan disuguhkan berbagai pertunjukan budaya, aktivitas interaktif, workshop pembuatan layang-layang, serta hiburan musik dan kuliner khas Garut.

Berlokasi di Kecamatan Cisurupan Garut, dengan menempuh perjalan kurang lebih 30 sampai 45 Menit dari pusat kota Garut, pengunjung bisa langsung menikmati indahnya pemandangan langit Garut dengan beragam layang-layang.

Pemilihan tanggal bukan tanpa alasan, festival internasional ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Agustus karena iklim cuaca Indonesia sendiri sudah memasuki musim panas dan sangat mendukung pelaksanaan festival layang-layang.

Menurut penyelenggara, GIKF 2026 bertujuan tidak hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga untuk mempromosikan potensi wisata alam dan kekayaan budaya Garut ke tingkat internasional.

Tiket sudah mulai dijual secara eksklusif melalui platform Loket.com. Tersedia dua kategori tiket: Daily Pass (Tiket Harian) untuk dewasa:Rp20.000/hari, Anak-anak (tinggi di atas 110 cm): Rp10.000/hari.

Tiket Full Event Pass (Tiket 5 Hari) untuk dewasa: Rp75.000/ orang, anak-anak: Rp35.000. Harga tiket yang sangat terjangkau ini diharapkan dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk keluarga yang ingin menikmati pengalaman liburan edukatif dan menyenangkan.

 

Atraksi khusus seperti layang-layang berukuran raksasa berbentuk paus, naga, dan berbagai karakter internasional diharapkan menjadi daya tarik utama.

Panitia juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung, termasuk area camping, food court, panggung hiburan, dan zona anak-anak. Keamanan dan kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama.

Garut International Kite Festival 2026 diproyeksikan akan menjadi magnet baru pariwisata Jawa Barat dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar

Endang berharap Pemda lain juga memilih event eksibisi atau festival layang-layang untuk menjaring terutama wisatawan mancanegara sehingga dikenal para kiters mancanegara.

Johor, sebagai negara bagian di Malaysia yang terletak di selatan Semenanjung Malaya. berbatasan dengan Pahang, Melaka, dan Negeri Sembilan sudah 28 kali menyelenggarakan festival internasional,” kata Endang.

Dia mengapresiasi kerja penyelenggara yang melibatkan kalangan UMKM karena jangkauan mereka menjadi luas dengan kehadiran wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara ke lokasi yang dikelilingi perkebunan.

“ Saya optimistis selain pariwisata, produk unggulan Garut mulai dari dodol, produk fashion dari kulit hingga kuliner akan terangkat melalui event ini,” kata pendiri Museum Wayang yang memiliki aktivitas global ini.

Endang tidak hanya sekadar mengoleksi, tetapi juga aktif mewakili Indonesia dalam berbagai festival dan eksibisi layang – layang di Asia, Afrika, hingga Eropa.

“ Hari ini 7 Juni 2026 ada eksibisi dan 4 orang staf museum menerbangkan koleksi layang-layang kami di Nusa Dua, Bali, bertema biota laut yang diselenggarakan pecinta layang-layang dari Bali, Kadek Arnika yang berkolaborasi dengan WWF “ jelasnya.

Pada 21 Juli mendatang, Bali sebagai pintu gerbang pariwisata utama juga menyelenggarakan festival layang-layang internasional sehingga pesertanya dari luar negri bisa diundang sekaligus ke Garut.

“ Kita harapkan daerah lain juga banyak menyelenggarakan kegiatan festival layang-layang sebagai calender of event. Tentu saja harus terkordinasi dengan baik untuk tanggal penyelenggaraan supaya tidak tumpang tindih dengan lokasi yang banyak angin tentunya,” tutup Endang Ernawati Drajat yang rajin menyelenggarakan workshop tentang layangan ini menutup obrolannya.

Pencarian Perjalanan Solo Meningkat 230% dalam Satu Dekade

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Perjalanan solo telah mencapai popularitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan peningkatan pencarian sebesar 230% selama dekade terakhir, menurut Laporan Perjalanan Solo Mewah oleh Go2Africa.

Dilansir dari.traveldailymedia.com, laporan tersebut menyoroti peningkatan minat yang signifikan, dengan 1,6 juta pencarian untuk “perjalanan solo” tercatat pada Januari 2026.

Tren ini didorong oleh para pelancong yang mencari kebebasan, pengalaman baru, dan fleksibilitas yang tidak dapat ditawarkan oleh perjalanan kelompok.

Terungkap pula bahwa para pelancong solo lebih teliti dalam perencanaan mereka, seringkali meneliti destinasi secara menyeluruh sebelum memesan.

Faktanya, 81,18% pelancong solo memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan mereka sebelum memesan, meningkat dari 72,83% pada tahun 2024.

Demografi ini juga paling banyak melakukan riset, dengan 17,20% melakukan riset sebelum perjalanan, peningkatan signifikan dari 7,16% pada tahun 2024.

Data internal Go2Africa menunjukkan bahwa pelancong solo adalah segmen yang paling cepat berkembang di pasar safari mewah, meningkat dari 13,07% dari permintaan pada tahun 2024 menjadi 15,42% pada tahun 2025.

Amerika Serikat tetap menjadi pasar sumber yang dominan, menyumbang lebih dari 50% pelancong solo dan mengalami peningkatan 26,26% dari tahun 2024 hingga 2025.

Menariknya, pelancong solo menghabiskan 42,8% lebih banyak per orang daripada pasangan, menyoroti kesediaan mereka untuk berinvestasi dalam pengalaman premium.

Mereka juga cenderung melakukan perjalanan yang lebih singkat, dengan 30,1% lebih memilih perjalanan sekitar 10 hari. Laporan ini menggarisbawahi semakin pentingnya peran pelancong solo sebagai segmen bernilai tinggi di pasar perjalanan mewah.

Traveloka dan Resort World Sentosa Berkolaborasi Jaring Peningkatan Turus RI

this formate

Didukung oleh kecerdasan data dan skala platform Traveloka, kemitraan ini memberi RWS akses langsung ke jutaan wisatawan Indonesia dan Asia Tenggara yang memiliki niat tinggi

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Traveloka, platform perjalanan teknologi all-in-one terkemuka di Asia Tenggara,menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Resorts World Sentosa (RWS), destinasi resor terpadu utama Singapura.

Kolaborasi ini merupakan respons langsung terhadap data Traveloka yang menunjukkan peningkatan permintaan Indonesia untuk pengalaman di Singapura.

Hal ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat konektivitas pariwisata regional dengan meningkatkan cara wisatawan menemukan, merencanakan, dan mengakses penginapan mewah RWS, tempat makan ikonik, dan atraksi kelas dunia melalui pengalaman pemesanan yang lancar di Traveloka.

Didukung oleh kecerdasan data dan skala platform Traveloka, kemitraan ini memberi RWS akses langsung ke jutaan wisatawan Indonesia dan Asia Tenggara yang memiliki niat tinggi

Singapura termasuk dalam tiga destinasi tujuan wisata keluar negeri teratas bagi wisatawan Indonesia di Traveloka. Hingga saat ini di tahun 2026, Universal Studios Singapore dan Singapore Oceanarium di Resorts World Sentosa adalah dua atraksi yang paling banyak dicari di platform tersebut

di Singapura. Volume pencarian untuk atraksi RWS pada Februari 2026 telah meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan permintaan yang kuat untuk perjalanan jarak pendek yang berfokus pada pengalaman yang menggabungkan rekreasi, hiburan, dan aktivitas ramah keluarga dalam satu destinasi.

“Traveloka tidak hanya menggerakkan wisatawan. Kami menggunakan data untuk mengantisipasi ke mana mereka ingin pergi sebelum mereka memutuskan,” kata Baidi Li, Wakil Presiden Komersial Traveloka.

“Volume pencarian untuk RWS meningkat dua kali lipat dari tahun ke tahun pada Februari 2026. Sinyal permintaan tersebut mendorong kemitraan ini. Dengan menggabungkan mesin rekomendasi berbasis AI kami dengan produk kelas dunia RWS.

“Kami mengubah niat menjadi pemesanan dalam skala besar, dan memberikan pengalaman yang benar-benar lancar bagi keluarga Indonesia yang merencanakan perjalanan mereka berikutnya.”

Indonesia adalah salah satu dari tiga pasar sumber prioritas utama RWS. Meskipun Universal Studios Singapore tetap menjadi atraksi paling populer bagi wisatawan Indonesia.

Data menunjukkan preferensi yang meningkat untuk pengalaman rekreasi terintegrasi yang mencakup makan, belanja, dan hiburan dalam satu destinasi. Dengan liburan sekolah bulan Juni ini menghadirkan peluang ideal bagi wisatawan Indonesia untuk menjelajahi kampanye Summer of Treasures RWS.

RWS memiliki posisi unik untuk memenuhi permintaan yang berkembang ini, menawarkan akomodasi premium seperti The Laurus, Equarius Hotel, dan Hotel Michael, bersama dengan tempat makan pemenang penghargaan dan hiburan kelas dunia.

Integrasi yang mulus antara atraksi, perhotelan, dan fasilitas gaya hidup ini menciptakan pengalaman perjalanan ujung-ke-ujung yang nyaman dan sesuai dengan keluarga dan wisatawan Indonesia.

Jenny Wang, Pejabat Senior Wakil Presiden, Penjualan & Pemasaran Resor, RWS, mengatakan, “Resorts World Sentosa ( RWS) terus memperkuat posisinya sebagai destinasi resor gaya hidup Asia.

Indonesia selalu menjadi pasar penting bagi RWS, dan kemitraan dengan Traveloka ini memungkinkan kami untuk lebih memperluas jangkauan kami di Indonesia dan lebih jauh lagi di Asia Tenggara.

Dengan memanfaatkan skala Traveloka, basis pengguna yang kuat, dan wawasan konsumen yang mendalam, kami dapat meningkatkan cara penawaran kami ditemukan dan dinikmati melalui opsi yang lebih lancar dan personal, sekaligus membuatnya lebih nyaman bagi wisatawan untuk merencanakan dan menikmati kunjungan mereka ke seluruh rangkaian penawaran RWS di bidang akomodasi, makan, dan hiburan.”

Sebagai bagian dari kolaborasi ini, Traveloka dan RWS akan memperkenalkan beberapa inisiatif bersama untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan dan memperluas akses ke pengalaman perjalanan terintegrasi.

Manfaat eksklusif dan penawaran khusus untuk pengguna Traveloka.

Akses mudah ke paket perjalanan gabungan yang menggabungkan penerbangan, akomodasi, atraksi, makan, dan acara serta hiburan kelas dunia dalam satu platform.

Rekomendasi perjalanan yang lebih disesuaikan berdasarkan preferensi dan wawasan pengguna.

Untuk mewujudkan inisiatif ini, kampanye RWS “Summer of Treasures”, mulai 29 Mei hingga 30 Agustus 2026, akan tersedia untuk pemesanan di Traveloka. Menampilkan kolaborasi merek global di Singapore Oceanarium, Universal Studios Singapore, Adventure Cove Waterpark, dan atraksi lainnya di dalam resor.

Wisatawan Indonesia dapat menantikan pengalaman budaya pop, penampilan legenda sepak bola, festival keberlanjutan, menu kuliner bertema musim panas, dan pengalaman menginap di resor yang mewah. Ini adalah produk yang tepat di saat yang tepat untuk keluarga Indonesia yang merencanakan liburan sekolah bulan Juni. (PRNewswire)

Agoda Soroti Kebangkitan Pelancong dan Perilaku Perjalanan Lainnya yang Ciptakan Peluang Baru bagi Hotel

this formate

Industri perhotelan dapat memanfaatkan peningkatan frekuensi perjalanan, pertumbuhan kota sekunder, dan lokalisasi yang mendalam pada tahun 2026 ini.

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Platform perjalanan digital Agoda menyoroti bahwa kombinasi kelas menengah yang meningkat dan perubahan kebiasaan perjalanan di seluruh Asia menciptakan peluang pendapatan baru bagi industri perjalanan dan perhotelan, di antara tren lainnya.

Berdasarkan indikator industri dan tren pencarian terkini, Agoda melihat “Pelancong Asia” berkembang dari segmen tamu menjadi pendorong tren bagi industri perjalanan.

Menurut laporan Tren Pemesanan Hotel 2026 dari SiteMinder, perjalanan keluar dari Tiongkok dan India melampaui tingkat pra-pandemi untuk pertama kalinya, menyoroti peran Asia sebagai sumber permintaan hotel.

Perkembangan ini menunjukkan pengaruh kawasan ini terhadap pertumbuhan industri perhotelan global, dengan pasar-pasar utama Asia secara langsung memengaruhi pola pencarian internasional dan tren perjalanan.

“Melalui survei kami melihat para pelancong melakukan perjalanan lebih sering, terus menjelajahi destinasi yang lebih baru dan unik, serta merespons dengan baik pengalaman yang terasa lebih relevan secara budaya,” ungkap laporan itu.

Pada tahun 2026, merek-merek perhotelan yang menonjol adalah merek-merek yang melampaui layanan standar dan merangkul kefasihan budaya yang sesungguhnya,” kata Andrew Smith, Wakil Presiden Senior, Supply di Agoda.

Kebangkitan “Pelancong Abadi”

Salah satu kontributor utama pertumbuhan ini adalah pergeseran cara orang bepergian di seluruh kawasan. Data survei Agoda telah mengungkapkan pergeseran dari liburan tradisional sekali setahun menuju perjalanan yang lebih singkat dan lebih sering sepanjang tahun.

Tren ini terutama terlihat di Indonesia, di mana 32% wisatawan berencana melakukan 11 perjalanan atau lebih pada tahun 2026. Dalam studi Agoda lainnya, 73% responden Gen Z Asia mengatakan mereka berencana melakukan antara satu hingga enam perjalanan setahun.

Sementara 86% memperkirakan masa inap hanya satu hingga tujuh hari. Di Thailand, Agoda menemukan bahwa rata-rata wisatawan merencanakan perjalanan yang berlangsung antara satu hingga tiga hari.

Laporan SiteMinder juga menemukan bahwa di 65% pasar, bulan tersibuk di setiap pasar menjadi kurang dominan pada tahun 2025, menunjukkan bahwa permintaan hotel sekarang lebih merata sepanjang tahun.

Secara bersamaan, pola-pola ini menunjukkan bahwa perjalanan menjadi lebih sering, lebih singkat durasinya, dan lebih terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari bagi banyak wisatawan.

Kota-kota Sekunder Terus Mendapatkan Perhatian

Agoda juga terus melihat minat yang menyebar di luar kota-kota gerbang utama yang sudah mapan, dengan minat terhadap destinasi sekunder di seluruh Asia tumbuh 15% lebih cepat daripada pusat pariwisata tradisional selama dua tahun terakhir.

Di Jepang, misalnya, destinasi seperti Takamatsu (+63%), Matsuyama (+44%), dan Sendai (+32%) mengalami pertumbuhan tahunan yang lebih cepat dibandingkan dengan kota-kota utama yang sudah mapan.

Jauh dari tren jangka pendek, pergeseran ini mencerminkan perubahan prioritas wisatawan dan menghadirkan keunggulan sebagai pelopor bagi mitra regional yang dapat menangkap permintaan berkelanjutan ini sebelum pasar-pasar ini menjadi lebih ramai.

Manfaat Lokalisasi

Manfaat komersial dari lokalisasi yang tepat semakin jelas. Riset Agoda menunjukkan bahwa hotel-hotel pada tahap lokalisasi yang lebih lanjut melaporkan dampak RevPAR 59% lebih kuat, sementara 95% hotel yang disurvei melaporkan peningkatan pemesanan berulang dan 91% mengatakan tamu bersedia membayar lebih per kamar.

Temuan ini memperkuat pergeseran yang lebih luas dalam industri perhotelan dari layanan standar ke pengalaman yang lebih fasih secara budaya yang disesuaikan dengan cara wisatawan Asia mencari, memesan, dan menginap.

“Lokalisasi bukan lagi pilihan; ini adalah jangkar operasional bagi siapa pun yang ingin berkembang di koridor-koridor paling populer di Asia,” tambah Smith.

Menurut dia, membuka nilai komersial yang bermakna berarti melampaui pendekatan satu ukuran untuk semua dan membangun pengalaman yang benar-benar selaras dengan identitas unik para pelancong Asia saat ini.”

Tersedia dalam 39 bahasa dan didukung oleh opsi pembayaran lokal dengan dukungan pelanggan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, Agoda membantu mitra untuk lebih baik, mencocokkan peningkatan permintaan perjalanan Asia dengan merchandising yang terlokalisasi,.

Pengalaman pemesanan yang lebih lancar, dan visibilitas yang lebih kuat di destinasi yang sedang berkembang. Pada tahun 2026, kesuksesan tidak hanya bergantung pada kehadiran di Asia, tetapi juga pada pemahaman bagaimana Asia melakukan perjalanan. (PRNewswire)

Industri Perhotelan Beralih ke Pengalaman Lokal Seiring Tuntutan Generasi Z akan Keaslian

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id; Apa yang dicari para pelancong muda dari penyedia layanan perhotelan sangat berbeda dari apa yang diinginkan orang tua dan kakek-nenek mereka dalam perjalanan mereka sendiri

Hal menarik dari industri perhotelan global adalah selalu siaga, mengantisipasi kebutuhan yang berkembang pesat dari berbagai pasar sekaligus.

Hal ini terutama berlaku untuk wisatawan Milenial dan Gen Z, serta wisatawan Gen Alpha yang semakin dewasa dan yang tertua mulai mencari kesenangan bepergian sendiri tanpa pengawasan orang tua.

Dilansir dari traveldailymedia.com, apa yang dicari wisatawan muda ini dari penyedia layanan perhotelan sangat berbeda dari apa yang dibutuhkan oleh Baby Boomer dan bahkan Gen X yang lebih tua dari hotel dan sewa jangka pendek.

Ini adalah generasi yang mencari pengalaman mendalam dan otentik di mana pun mereka berada di dunia; dan tantangan bagi perusahaan manajemen hotel sekarang terletak pada bagaimana dan apa yang harus diberikan kepada mereka.

Apa yang diinginkan wisatawan muda dari penginapan?

Pada Agustus tahun lalu, Direktur Senior Operasi Korporat Lombardi Family Concepts, Atanas Palanov, menulis sebuah artikel yang menyoroti empat perilaku utama di antara wisatawan Gen Z:

Mereka sangat terencana dalam merencanakan perjalanan, berfokus pada pengalaman budaya, kesehatan, dan memberikan dampak positif pada dunia di sekitar mereka, pada dasarnya menghindari kemewahan tradisional/mewah;

Koneksi digital penting karena wisatawan muda menginginkan pengalaman berbasis seluler saat melakukan pemesanan, dan mereka mengharapkan layanan pramutamu digital untuk proses check-in yang efisien, serta teknologi pintar di kamar mereka;

Properti yang berfokus pada keberlanjutan dan/atau pariwisata regeneratif, sehingga mereka ingin menginap di tempat yang telah memperoleh sertifikasi untuk operasi berkelanjutan dan juga memiliki ketentuan untuk mendukung komunitas lokal; dan

Validasi sosial melalui momen-momen yang sangat estetis dan siap untuk media sosial, tetapi selalu dengan memperhatikan keaslian.

Panduan bagi pengelola hotel untuk melayani tamu yang lebih muda.
Dengan mengingat empat perilaku Palanov, para pengelola hotel kontemporer perlu mempertimbangkan langkah-langkah berikut untuk menarik wisatawan muda dan memastikan mereka memiliki pengalaman menginap yang bermakna:

Beralih ke digital

Hotel dan bentuk akomodasi lainnya perlu menawarkan fitur layanan mandiri, termasuk check-in online terutama melalui ponsel, kunci kamar digital, dan bot concierge otomatis untuk meminimalkan hambatan.

Mereka juga perlu mempertimbangkan jejaring media sosial sebagai platform pemesanan yang sebenarnya, bukan sekadar alat pemasaran; terutama mengingat banyaknya wisatawan muda yang memesan destinasi berdasarkan apa yang mereka lihat di medua sosial.

Misalnya di Instagram dan TikTok (Asia Barat/Asia Raya) atau di Red Book atau Douyin bagi mereka yang berada di Tiongkok Daratan dan wilayah otonom khususnya.

Selain itu, ingatlah bahwa ini adalah generasi yang membawa hiburan mereka ke mana pun mereka pergi, jadi memiliki opsi pemutaran video di setiap kamar memberi tamu cara untuk menikmati konten favorit mereka atau meninjau rekaman yang diambil selama perjalanan.

Dapatkan Pengalaman yang Luar Biasa

Membuat seluruh masa inap menjadi pengalaman yang istimewa membutuhkan kolaborasi, khususnya dengan pengrajin lokal, koki ahli, dan pemandu yang menawarkan rencana perjalanan yang terkurasi, mengubah perjalanan menjadi kelas master dalam minat wisatawan.

Pada saat yang sama, sebagai cara untuk mengurangi pariwisata berlebihan di ibu kota atau destinasi resor terkenal, petugas concierge hotel juga dapat menawarkan tur sehari ke destinasi yang kurang dikenal, terutama yang menawarkan banyak hal dalam hal pengalaman budaya atau ekologis.

Kesadaran dan kesehatan juga menjadi kata kunci utama di kalangan wisatawan muda, terutama karena banyak wisatawan Gen Z dan Gen Alpha memilih kesederhanaan dibandingkan dengan kemewahan berlebihan generasi yang lebih tua.

Dengan mengingat hal ini, program kesehatan internal yang mencakup menu dengan pilihan makan yang penuh kesadaran dan minuman tanpa alkohol akan diterima dengan baik dan memastikan pengalaman yang benar-benar menyenangkan bagi wisatawan muda di mana pun di dunia

ITLA dan Mayapada Hospital Tingkatkan Kompetensi Tour Leader Lewat Pelatihan Medical Emergency & First Aid

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Indonesia Tour Leader Association (ITLA) bekerja sama dengan Mayapada Hospital sukses menyelenggarakan kegiatan “Upskilling for Tour Leader 2026: Medical Emergency & First Aid Training” pada Jumat (5/6) di Ang Boen Ing Auditorium, Lebak Bulus, Jakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapsiagaan Tour Leader Indonesia dalam menghadapi situasi medis darurat selama perjalanan wisata.

Pelatihan yang diikuti oleh para Tour Leader dari berbagai wilayah ini mengusung semangat kolaborasi antara sektor pariwisata dan kesehatan untuk menciptakan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan profesional bagi wisatawan.

Acara dibuka oleh dr. Melvin Lokito, dilanjutkan sambutan dari Nathanael selaku General Manager Mayapada Hospital serta Bob Moningka, Ketua Umum DPP ITLA yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kompetensi Tour Leader saat ini tidak hanya mencakup kemampuan operasional perjalanan, tetapi juga kesiapan dalam menangani kondisi darurat yang dapat terjadi kapan saja selama perjalanan wisata.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pemaparan mengenai program Patient Agent dan sistem rujukan pasien yang disampaikan oleh Aloy. .

Materi ini memperkenalkan mekanisme pendampingan pasien, alur rujukan, serta berbagai manfaat yang dapat diperoleh masyarakat melalui layanan kesehatan terintegrasi yang disediakan Mayapada Hospital.

Selanjutnya, Ferdinand memaparkan berbagai layanan unggulan, fasilitas kesehatan modern, serta kemampuan penanganan medis yang dimiliki Mayapada Hospital sebagai salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Indonesia.

Pada sesi Health Talk, dr. Melvin dan dr. Steven membahas tema “Premium Healthcare, Smarter Choices”, termasuk fenomena masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri dan berbagai perubahan yang kini menjadikan layanan kesehatan nasional semakin kompetitif.

Peserta juga mendapatkan informasi mengenai fasilitas Nuclear Medicine & Theranostic Center, dokter-dokter berstandar internasional, serta kolaborasi Mayapada Hospital dengan institusi kesehatan global seperti Apollo Hospital India dan National University Hospital Singapore.

Puncak kegiatan adalah Pelatihan Basic Life Support (BLS) yang memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada peserta dalam melakukan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan medis.

Materi ini dinilai sangat relevan dengan tugas dan tanggung jawab seorang Tour Leader yang sering menjadi garda terdepan saat terjadi insiden kesehatan di lapangan.

Ketua Umum DPP ITLA, Bob Moningka, menyampaikan apresiasi kepada Mayapada Hospital atas kolaborasi yang terjalin serta dukungannya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata Indonesia.

> “Seorang Tour Leader profesional tidak hanya mampu memimpin perjalanan, tetapi juga harus siap merespons situasi darurat dengan cepat dan tepat. Melalui program upskilling ini, kami ingin memastikan bahwa anggota ITLA memiliki kompetensi yang semakin lengkap untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan.”

Kegiatan ini merupakan langkah awal dari program pengembangan kompetensi berkelanjutan yang akan terus dikembangkan oleh ITLA bersama mitra strategis di berbagai daerah.

Sebagai tindak lanjut atas antusiasme peserta dan kebutuhan peningkatan kompetensi Tour Leader di Indonesia, ITLA dan Mayapada Hospital berencana melanjutkan program pelatihan serupa di Bandung dan Surabaya dalam waktu mendatang.

Dengan demilian semakin banyak Tour Leader yang memiliki kemampuan dasar penanganan medis darurat dan siap mendukung terciptanya perjalanan wisata yang aman, profesional, dan berstandar tinggi, kata Bob Moningka

 

ITLA dan Kemenpar Perkuat Kompetensi Tour Leader Menuju Standar Global

this formate

Ilustrasi dari instagram ITLA

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia Tour Leader Association (ITLA) melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Ibu Martini Mohamad Paham, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Pertemuan tersebut membahas penguatan kompetensi profesi Tour Leader serta arah pengembangan sumber daya manusia pariwisata Indonesia dalam mendukung daya saing pariwisata nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum ITLA, Robert A. Moningka, memaparkan Rencana Strategis ITLA 2025–2029, perkembangan organisasi di berbagai daerah, filosofi logo ITLA, serta berbagai program penguatan profesi Tour Leader yang sedang dan akan dijalankan.

Salah satu agenda utama yang mendapat perhatian adalah program “Upskilling for Tour Leader 2026” yang diselenggarakan ITLA bekerja sama dengan Mayapada Healthcare.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi Tour Leader dalam penanganan kondisi darurat medis selama perjalanan wisata sekaligus mendukung kebutuhan kompetensi Medical Tourism yang semakin berkembang di Indonesia.

Audiensi juga membahas pentingnya sosialisasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kepada seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

ITLA menegaskan bahwa profesi Tour Leader memiliki jalur pengembangan karier yang jelas melalui berbagai standar okupasi nasional, mulai dari level asisten hingga level manajerial.

Deputi Bidang SDM dan Kelembagaan menyambut baik berbagai inisiatif yang dilakukan ITLA dalam meningkatkan profesionalisme Tour Leader Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, beberapa poin strategis menjadi perhatian bersama, antara lain:

• Penguatan kompetensi SDM pariwisata berbasis standar nasional.
• Peningkatan pemahaman SKKNI kepada seluruh pelaku industri pariwisata.
• Penguatan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada aktivitas wisata berisiko tinggi.
• Peningkatan literasi keselamatan bagi pengemudi bus wisata.
• Perluasan pelatihan Basic Life Support (BLS) kepada berbagai profesi pariwisata untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Robert A. Moningka menyampaikan bahwa Tour Leader tidak hanya berperan sebagai pendamping perjalanan, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam memastikan keselamatan, kenyamanan, dan kualitas pengalaman wisatawan.

“Pariwisata yang berkualitas harus didukung oleh SDM yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi berbagai situasi di lapangan. ITLA berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas Tour Leader Indonesia agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri bangsa,” ujar Robert.

Audiensi ini sekaligus memperkuat komitmen kolaborasi antara pemerintah, asosiasi profesi, industri kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pariwisata Indonesia yang aman, profesional, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari transformasi organisasi, ITLA juga memperkenalkan platform digital tourleaderindonesia.org yang akan menjadi pusat informasi, edukasi, dan pengembangan profesi Tour Leader Indonesia.

Tentang ITLA

Indonesia Tour Leader Association (ITLA) adalah organisasi profesi Tour Leader Indonesia yang berkomitmen kembangkan kompetensi, profesionalisme, sertifikasi, serta kesejahteraan Tour Leader Indonesia melalui kolaborasi, inovasi, dan penguatan standar profesi nasional maupun internasional.
Tagline ITLA adalah “Serve with Integrity. Lead with Innovation.”

SGIE Report 2025/26: Ekonomi Islam Tumbuh Kuat

this formate

ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Ekonomi Islam bukan lagi sebuah gagasan yang sedang berkembang. Ini adalah sebuah sistem yang sedang berkembang dan tidak hanya bertumbuh kuat dari sisi pasar, tetapi juga semakin bergerak menuju penguatan sistem, standar, rantai pasok, pembiayaan, dan inovasi, kata Rafi-uddin Shikoh,CEO dan Managing Partner DinarStandard.

Gelombang pertumbuhan ekonomi Islam akan dipimpin oleh mereka yang mampu mengkonversi permintaan pasar ke dalam sistem, standar, infrastruktur kepercayaan, dan institusi yang mengurangi ketergantungan sekaligus memperluas peluang,” ujarnya.

Resmi diluncurkan 2 Juni 2026, di Ibn Haldun University, Istanbul, Türkiye. Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) sebagai Partner Indonesia dari DinarStandard mendapatkan kesempatan pertama dan eksklusif untuk menerima serta menyampaikan insight terbaru dari SGIE Report 2025/26 kepada publik Indonesia.

SGIE Report 2025/2026 mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Islam ke depan, antara lain Al-
mengaktifkan sertifikasi halal, ketertelusuran berbasis blockchain, keuangan Islam digital,
pilgrimage digitization, halal pharmaceuticals, clean-label cosmetics, digital-native modest fashion, serta media dan hiburan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 merupakan publikasi yang disusun oleh DinarStandard bekerja sama dengan Salaam Gateway.com. Laporan ini didukung oleh Islamic Development Bank Institute (IsDBI) sebagai thought leadership partner, Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA) sebagai global strategic partner.

Pengeluaran konsumen pada ekonomi Islam global mencapai US$ 2,60 triliun pada tahun 2024, dengan sektor halal food and beverages sebagai kontributor terbesar sebesar US$ 1,53 triliun. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$ 2,06 triliun pada tahun 2029.

Aset keuangan syariah global mencapai US$ 5,99 triliun pada tahun 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$ 9,72 triliun pada tahun 2029, mencerminkan prospek pertumbuhan yang kuat pada sektor keuangan syariah global.

Analisis sentimen konsumen yang dilakukan oleh DinarStandard terhadap lebih dari 86 juta interaksi media sosial menunjukkan bahwa values-driven consumer activism telah berkembang dari respons jangka pendek berupa boikot menjadi preferensi konsumsi yang lebih berkelanjutan terhadap merek yang etis, lokal, dan alternatif.

Laporan ini mengidentifikasi sejumlah area peluang strategis yang berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Islam ke depan, antara lain sovereign rantai nilai halal, sertifikasi halal berbasis AI.

Digitalisasi yang sesuai dengan syariah keuangan, digitalisasi ibadah haji, produksi halal lokal, halal obat-obatan, kosmetik berlabel bersih, serta media bertema Islami dan hiburan.

Ekonomi Islam global terus berkembang pesat. Pada tahun 2024, lebih dari dua miliar Muslim di dunia membelanjakan sekitar US$2,6 triliun pada enam sektor utama ekonomi Islam, yaitu halal food, pharmaceuticals, cosmetics, modest fashion, Muslim-friendly travel, serta media & recreation.

Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$3,56 triliun pada 2029, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 6,5 persen.

Secara global, laporan tersebut juga mencatat bahwa aset Islamic finance mencapai US$5,99 triliun pada 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$9,72 triliun pada 2029.

Laporan ini menyoroti bahwa fase pertumbuhan berikutnya ekonomi Islam akan ditandai oleh penguatan kedaulatan ekonomi melalui pengembangan halal value chain, standar sertifikasi, kapasitas produksi lokal dan regional, infrastruktur Islamic finance,platform digital, serta peningkatan kepercayaan konsumen.

Dalam pemeringkatan GIEI 2025/2026, Malaysia menempati posisi pertama, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Indonesia, dan Bahrain.

Hasil tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan ekosistem nasional yang mengintegrasikan regulasi, pembiayaan, perdagangan, inovasi, dan pengembangan sektor halal.

Dari sisi investasi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi Islam berhasil menarik investasi senilai US$13,1 miliar melalui 346 transaksi sepanjang 2024/2025.

Sektor Islamic finance menjadi penerima investasi terbesar, diikuti oleh  makanan  halal, media & rekreasi, wisata ramah Muslim, dan obat-obatan halal. Negara- negara dengan nilai transaksi investasi tertinggi adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Indonesia, Azerbaijan, dan Türkiye.

Sektor halal food tetap menjadi sektor terbesar dalam ekonomi Islam global dengan nilai belanja konsumen Muslim mencapai US$1,53 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$2,06 triliun pada 2029.

Sementara itu, sektor Muslim-friendly travel menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, dari US$249 miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 2029. SGIE Report juga mencatat bahwa impor negara-negara OIC pada sektor-sektor terkait halal mencapai US$421,5 miliar pada 2024.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Türkiye, Indonesia, dan Malaysia menjadi lima importir terbesar. Adapun Brasil, Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Türkiye merupakan lima eksportir terbesar ke pasar OIC yang secara bersama-sama menyumbang 32 persen dari total ekspor ke negara-negara anggota OIC.

Selain itu, SGIE Report 2025/2026 mengungkap perubahan perilaku konsumen Muslim global. Analisis media sosial DinarStandard terhadap lebih dari 86 juta engagement menunjukkan bahwa tren konsumsi berbasis nilai (values-driven consumption) terus berlanjut, melampaui gelombang boikot yang sempat terjadi sebelumnya.

Konsumen Muslim kini semakin mendukung produk dan merek yang dianggap etis, lokal, dan menawarkan alternatif yang selaras dengan nilai-nilai mereka.

DinarStandard™ merupakan perusahaan riset dan konsultasi strategi pertumbuhan yang berfokus pada pengembangan ekonomi Islam global.

Sejak 2008, DinarStandard telah mendukung berbagai pemerintah, lembaga investasi, pelaku industri, dan organisasi multilateral di berbagai negara melalui riset berbasis data dan strategi yang berorientasi pada dampak.

Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan ekosistem halal dan ekonomi syariah melalui riset, advokasi, edukasi, promosi, serta kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas.

IHLC aktif mendorong penguatan posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia dan menjadi mitra berbagai organisasi internasional dalam pengembangan ekonomi Islam.

Indonesia Peringkat Ke-4 Ekonomi Islam Global, Pimpin Sektor Modest Fashion Dunia

this formate

ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dalam Laporan Kondisi Ekonomi Islam Global 2025/26: Global Islamic Economy Indicator (GIEI), serta berada dalam kelompok 10 besar pada seluruh sektor ekonomi Islam yang diukur.

Pada sektor modest fashion, Indonesia berhasil menduduki peringkat pertama dunia. Indonesia menempati peringkat ke-3 dunia pada sektor halal food serta media and recreation, dan terus memperkuat konektivitas halal global melalui 92 Mutual Recognition Agreements (MRA) yang telah terjalin dengan 24 negara.

Di Indonesia, publikasi dan diseminasi SGIE Report secara konsisten didukung oleh Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) sebagai mitra strategis DinarStandard

Posisi Indonesia dalam GIEI mencerminkan semakin kuatnya ekosistem halal nasional yang didorong oleh kebijakan pemerintah. Salah satu perkembangan penting adalah penguatan kelembagaan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)

“Keberadaan BPJPH yang kini berada langsung di bawah Presiden, serta masuknya ekonomi syariah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 adalah kunci semakin kuatnya ekosistem halal nasional” kata Sapta Nirwandar Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre.

Capaian ini memperkuat pengakuan internasional terhadap sistem jaminan produk halal Indonesia sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk halal nasional.

Dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025, Indonesia menempati peringkat #4 dunia dengan skor 96,0, berada di bawah Malaysia, UAE, dan Arab Saudi. Posisi ini menjadi catatan penting karena Indonesia turun dari peringkat #3 ke peringkat #4.

Namun, hal ini sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kembali daya saing ekosistem ekonomi Islam nasional. Saatnya Indonesia mempercepat kolaborasi lintas sektor agar potensi besar halal lifestyle Indonesia dapat semakin berdaya saing di tingkat global.

Jika dilihat per sektor, Indonesia tetap menunjukkan kekuatan yang sangat strategis:

🇮🇩 #1 Modest Fashion
🇮🇩 #3 Halal Food
🇮🇩 #3 Media & Recreation
🇮🇩 #4 Halal Pharmaceuticals
🇮🇩 #4 Halal Cosmetics

Sementara itu, pada sektor Islamic Finance dan Muslim-Friendly Travel, Indonesia belum masuk Top 5 GIEI 2025. Ini menjadi ruang penting untuk penguatan kebijakan, investasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Bagi Indonesia, hasil ini bukan hanya soal peringkat, tetapi juga momentum untuk mempercepat transformasi ekosistem halal nasional agar semakin kompetitif di tingkat global.

Dalam perdagangan internasional, Indonesia tercatat sebagai eksportir terbesar ke-9 ke pasar negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI/OIC) dengan pertumbuhan ekspor sebesar 4,61 persen secara tahunan.

Indonesia juga menjadi penerima FDI terbesar ketiga di antara negara-negara ekonomi Islam dengan nilai mencapai US$24,2 miliar.

Sektor Islamic finance Indonesia turut mendukung agenda pembangunan nasional melalui berbagai penerbitan green sukuk negara.

Sementara itu, posisi Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam modest fashion diperkuat melalui berbagai inisiatif seperti MUFFEST+, IN2MOTIONFEST, dan program ASIK Creative Export Acceleration.

Pasar Halal Global Bernilai US$1,8 Triliun Tapi Belum Miliki Standar Sertifikasi Universal Tunggal.

this formate

The Halal Times meneliti bagaimana fragmen-tasi ini merugikan eksportir miliaran dolar dan apa yang dilakukan para pemimpin industri untuk mengatasinya

TOKYO, bisniswisata.co.id: Bayangkan pasar senilai US$1,8 triliun yang diatur oleh ratusan regulator yang bersaing, masing-masing dengan aturan, proses audit, dan persyaratan logo yang berbeda.

Itulah realitas sertifikasi halal global saat ini — dan hal ini merugikan industri miliaran dolar dalam biaya yang tumpang tindih, gesekan perdagangan, dan peluang yang hilang.

Dilansir dari halaltimes.com, bagi bisnis halal yang beroperasi lintas batas, fragmentasi sertifikasi bukan lagi ketidaknyamanan birokrasi. Ini adalah hambatan struktural terbesar untuk pertumbuhan.

Skala Masalah

Meskipun ekonomi halal memiliki skala yang sangat besar — ​​pengeluaran makanan dan minuman halal global saja diproyeksikan mencapai $1,8 triliun pada tahun 2030, tumbuh sebesar 6,9% per tahun — masih belum ada standar sertifikasi halal global yang diterima secara universal.

Sebaliknya, lanskap yang terfragmentasi dari regulator nasional, badan sertifikasi swasta, dan otoritas keagamaan mengatur akses pasar di lebih dari 57 negara mayoritas Muslim dan puluhan pasar non-Muslim dengan populasi konsumen Muslim yang signifikan.

Produsen makanan yang mengekspor ke Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, UEA, dan Inggris biasanya harus memiliki empat hingga enam sertifikasi halal terpisah, yang masing-masing membutuhkan audit independen, dokumentasi, dan biaya perpanjangan.

Untuk bisnis menengah, biayanya dapat melebihi $100.000 per tahun. Bagi usaha kecil dan menengah, hal ini seringkali menjadi hambatan yang sangat besar untuk ekspansi internasional.

Upaya Malaysia untuk Kepemimpinan Global

Malaysia sedang melakukan upaya paling serius untuk membangun kepemimpinan sertifikasi. JAKIM, Departemen Pengembangan Islam Malaysia, secara luas dianggap sebagai standar emas dalam sertifikasi halal secara global, diakui oleh lebih dari 80 negara dan badan sertifikasi.

Analisis Mei 2026 oleh Business Monitor International mengkonfirmasi bahwa Malaysia mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam industri halal global justru karena kredibilitas dan jangkauan internasional JAKIM.

Strategi Malaysia disengaja: memposisikan sertifikasi JAKIM sebagai tolok ukur global de facto, memaksa pasar lain untuk menyesuaikan diri dengan standar Malaysia, bukan sebaliknya.

Strategi ini memiliki momentum yang cukup besar di Asia Tenggara, di mana ekosistem ekspor halal Malaysia—yang bernilai lebih dari US$12 miliar—memberikannya daya tawar yang substansial.

Tantangan Teluk

Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menghadirkan model yang bersaing. SFDA (Otoritas Makanan dan Obat Saudi) Arab Saudi dan ESMA (Otoritas Standarisasi dan Metrologi Emirates) UEA telah mengembangkan rezim sertifikasi domestik yang ketat yang memiliki bobot signifikan di seluruh dunia Arab.

Gulfood 2026 menggarisbawahi konsensus yang berkembang di antara para pemimpin industri Teluk bahwa sertifikasi halal harus diperlakukan sebagai strategi kompetitif, bukan hanya kepatuhan—pembingkaian ulang yang telah mempercepat investasi dalam infrastruktur sertifikasi berbasis di Teluk.

Ketegangan antara blok sertifikasi Asia Tenggara dan Teluk mencerminkan persaingan geopolitik yang lebih luas untuk pengaruh atas arsitektur regulasi ekonomi halal global.

Apa yang Dapat — dan Tidak Dapat — Dilakukan oleh Perjanjian Pengakuan Bersama

Solusi jangka pendek yang paling pragmatis untuk fragmentasi adalah perluasan Perjanjian Pengakuan Bersama (MRA) antar badan sertifikasi. BPJPH Indonesia telah menjalin MRA dengan 114 lembaga halal asing.

Malaysia dan negara-negara GCC memiliki kerangka pengakuan bilateral. Institut Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam (SMIIC) dari OKI telah menerbitkan standar halal yang harmonis yang telah diadopsi oleh beberapa negara anggota.

Namun, MRA hanya mengatasi gejala, bukan penyebabnya. MRA mengurangi duplikasi bagi eksportir yang sudah berada dalam jaringan yang diakui, tetapi tidak menghilangkan masalah mendasar.

Tidak ada satu otoritas pun yang memiliki legitimasi agama, politik, dan komersial untuk memberlakukan standar universal pada industri global yang berakar pada beragam tradisi yurisprudensi Islam.

Alasan Bisnis untuk Tindakan Industri

Halal Times secara konsisten berpendapat bahwa masalah fragmentasi industri halal tidak akan diselesaikan hanya oleh regulator saja.

Asosiasi industri, perusahaan makanan multinasional, dan investor keuangan memiliki kepentingan ekonomi langsung dalam mendorong harmonisasi yang lebih besar — ​​dan pengaruh untuk menuntutnya. Setiap persyaratan sertifikasi tambahan adalah pajak atas perdagangan halal.

Setiap audit ganda adalah biaya yang pada akhirnya mengurangi daya saing terhadap alternatif makanan dan barang konsumsi konvensional.

Persaingan untuk kepemimpinan sertifikasi, pada intinya, adalah persaingan untuk mendefinisikan aturan pasar senilai US$1,8 triliun.

Bisnis dan pemerintah yang memahami hal ini akan membentuk dekade ekonomi halal berikutnya. Mereka yang tidak memahaminya hanya akan menanggung biayanya.(Hafiz M. Ahmed