MITI: Ekspor Produk Halal Malaysia Lampaui RM61 miliar pada tahun 2024

this formate

Miti mengatakan pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh ekosistem halal yang kuat, termasuk di sektor makanan dan minuman. (Foto Bernama)

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia  (Miti) mengatakan pertumbuhan ekspor meningkatan 15% dari RM53,72 miliar yang tercatat pada tahun sebelumnya.

Dilansir dari halalfocus.com, ekspor produk halal Malaysia naik menjadi RM61,79 miliar pada tahun 2024, peningkatan 15% dari ekspor yang tercatat pada tahun sebelumnya, menurut kementerian investasi, perdagangan, dan industri (Miti).

Wakil sekretaris jenderal Miti (industri) Hanafi Sakri mengumumkan angka-angka tersebut pada peluncuran terbatas Malaysia International Halal Showcase 2025 (Mihas) di sini.

“Malaysia terus mempertahankan posisi teratasnya dalam peringkat Indikator Ekonomi Islam Global selama 10 tahun berturut-turut. Kekuatan Malaysia terletak pada keuangan Islam, makanan halal, serta media dan rekreasi.

Dilansir dari www.freemalaysiatoday.com, pada tahun 2024, ekspor produk halal Malaysia mencapai RM61,79 miliar, meningkat 15% dari RM53,72 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun 2023,” kata Hanalfi Sakri

Hanafi mencatat bahwa industri halal merupakan bagian penting dari produk domestik bruto Malaysia, dengan proyeksi yang memperkirakan kontribusinya akan meningkat menjadi 10,8%, atau RM231 miliar, pada tahun 2030.

“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh ekosistem halal kami yang kuat di sektor-sektor seperti makanan dan minuman, keuangan, dan perjalanan.”

Ketua Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade) Reezal Merican Naina Merican menggambarkan target ekspor negara sebesar RM1,58 triliun tahun ini sebagai “target yang sederhana” meskipun ia meramalkan tantangan ke depannya.

Meskipun demikian, Reezal mengatakan Matrade menerapkan beberapa strategi, termasuk diversifikasi pasar, khususnya terhadap pasar negara berkembang.

“Kami berfokus pada mitra dagang yang saat ini berkontribusi terhadap surplus perdagangan kami. Pada saat yang sama, kami juga meninjau mitra yang memiliki defisit perdagangan dengan kami, dan menjajaki cara untuk menghilangkan atau mengurangi kesenjangan tersebut,” katanya.

Pada bulan Maret, dilaporkan bahwa Matrade telah ditugaskan untuk meningkatkan nilai ekspor negara tersebut sebesar 5% menjadi RM1,58 triliun pada tahun 2025.

Pada akhir tahun 2024, Matrade telah mencatat ekspor sebesar RM1,51 triliun, melampaui target sebenarnya sekitar RM10 miliar

Festival Halal Internasional di Padang: Diplomasi, Budaya, dan Gaya Hidup Halal Bertemu di Ranah Minang

this formate

Prof Dr H. Musliar Kasim MS dan Prof Dr Sapta Nirwandar SE, DESS ( tengah) bersama panitia penyelenggara International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) di Rumah Gadang Universitas Baiturrahman, Padang.          ( Foto: IHLC)

PADANG, bisniswisata.co.id: International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 resmi dibuka. Festival yang digelar selama dua hari ini bukan sekadar ajang perayaan budaya dan kuliner, tetapi juga menjadi panggung diplomasi halal yang mempertemukan para duta besar dari negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) dan tokoh nasional lintas sektor.

“Festival ini bukan hanya tentang halal sebagai label, tetapi halal sebagai nilai yang menyatukan. Indonesia, khususnya Sumatera Barat, punya kekuatan besar untuk menjadi motor penggerak halal lifestyle dunia.” kata Prof. Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center. ( IHLC).

Kegiatan berlangsung di Rumah Gadang Universitas Baiturrahman, Padang, Sumbar pada 3-4 Mei 2025 dimana IHLC bekerjasama dengan Universitas Baiturrahman Padang dan Pemprov Sumatra Barat menyelenggarakan Festival Halal Internasional ini.

Sebuah event yang mempertemukan para tokoh halal di dalam dan luar negri dengan total pembicara sebanyak 9 orang dengan moderator M Gunawan Yasni, Dosen Senior di Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

“Event ini mengundang para pembicara internasional yaitu Assoc. Prof. Dr. Winai Dahlan, pendiri Halal Science Center Chulalongkorn University, Thailand, Prof. Irwandi Jaswir, M.Sc., Ph.D.International Institute For Halal Research and Training,IIUM, Malaysia, Fateh Ali, Founder & CEO SmartDeen – Singapura, Kim So Il, dari Busan Indonesia Center,” kata Sapta Nirwandar, Ketua IHLC.

Nara sumber lainnya Nadia Mira Kusumaningtyas, S.Si., M.Sc, Researcher, dari Universitas Gontor Darussalam, Dr. Edi Suandi, SE, MM, dosen Universitas Baiturrahmah Padang, Dr. Ir. Yan Heryandi, MP, Ketua Halal Center Universitas Andalas dan Halal Auditor LPPOM MUI serta Riyanto Sofyan B.S.E.E. MBA, President Commissioner, PT Sofyan Hotel Corp dan moderator Gunawan Yasni.

 

Mereka membahas topik-topik krusial, mulai dari transformasi digital industri halal, masa depan ekspor halal, hingga inovasi pangan berbasis riset halal.

Selain itu Sorotan utama datang dari kehadiran 10 Duta Besar negara OKI, termasuk:
– H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri (Uni Emirat Arab)
– H.E. Sudqi Atallah Abd Alkader Al Omoush (Yordania)
– H.E. Yasser Hasan Farag Elshemy (Mesir)
– H.E. Mohamed Trabelsi (Tunisia)
– H.E. Ramil Rzayev (Azerbaijan)
– H.E. Armin Limo (Bosnia & Herzegovina)
– H.E. Macocha Tembele (Tanzania)
– H.E. Sheikh Mohamed Ahmad Salim Al Shanfari (Oman)
– H.E. Fauziya Edrees Al-Sulaiti (Qatar)
– H.E. Mawlawi Sadullah Baloch (Afghanistan)

Para duta besar ini tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan, namun aktif dalam dialog diplomasi halal, menggarisbawahi pentingnya kerja sama ekonomi dan budaya antarnegara Islam.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Baiturrahmah, Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S. menambahkan, “Kampus ini menjadi tempat bersatunya riset, budaya Minang, dan gaya hidup halal. Kami bangga menjadi tuan rumah forum internasional yang memperkuat posisi Indonesia di dunia Islam.”

Tidak kalah menarik, malam harinya digelar Gala Dinner & Modest Fashion Show yang menampilkan harmoni antara keanggunan busana muslimah, cita rasa kuliner Minang, dan lantunan musik Talempong.

Acara ini dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon dan didukung oleh brand nasional seperti Wardah dan Kahf yang memperkuat narasi gaya hidup halal Indonesia di mata dunia. Turut hadir dalam malam tersebut, Walikota Padang, Bapak Fadly Amran, yang memberikan dukungan dan apresiasi terhadap inisiatif promosi budaya dan gaya hidup halal melalui kegiatan ini.

Menurut laporan Indonesia Halal Market Report 2024, konsumsi halal nasional mencapai lebih dari USD 184 miliar pada 2022, sementara laporan SGIE 2024 mencatat konsumsi halal global mencapai USD 2,5 triliun dan akan tumbuh hingga USD 5,96 triliun pada 2026. Angka-angka ini menunjukkan bahwa potensi industri halal bukan sekadar tren, tetapi masa depan ekonomi global.

Festival ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya kolaborasi konkret antara daerah, dunia usaha, kampus, dan negara-negara sahabat, menjadikan Sumatera Barat sebagai simpul penting dalam peta halal dunia.

Acara ini terselenggara berkat sinergi erat antara Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Universitas Baiturrahmah, dan Yayasan Baiturrahmah sebagai penyelenggara utama yang telah memberikan dukungan penuh, baik dari sisi fasilitas, infrastruktur, hingga partisipasi aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.

Pemerintah Ingin Jadikan RI  Pemimpin Industri Halal Dunia

this formate

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat peluncuran pameran Halal Indo 2025 di Jakarta, Senin (28 April 2025). ANTARA/Muzdaffar Fauzan

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi produsen produk halal terkemuka di dunia. Hal ini dibuktikan dengan potensi industri yang sangat besar, terbukti dari transaksi ekspor yang mencapai US$64,11 miliar pada 2024.

“Kita harus benar-benar memperkuat dan meningkatkan seluruh ekosistem industri halal. Ini bukan sekadar tujuan, tetapi kebutuhan strategis,” kata Wamenperin Faisol Riza saat peluncuran pameran Halal Indo 2025 di Jakarta, Senin, seperti dilansir dari Antara.

Menurut Riza, posisi Indonesia dalam ekonomi Islam global terus membaik di berbagai sektor.Kemajuan ini tercermin dalam State of the Global Islamic Economy Report 2023/2024 yang menunjukkan Indonesia naik satu peringkat ke posisi ketiga, di bawah Malaysia dan Arab Saudi.

Namun, Indonesia masih perlu lebih gencar menggenjot sektor farmasi dan kosmetik berbasis halal dibanding negara-negara yang bukan mayoritas penduduk Muslim.

Tantangan lain dalam pengembangan industri halal adalah global branding produk halal yang belum optimal.

Riza mencontohkan, negara-negara lain sudah memiliki posisi kuat di pasar halal global, seperti Australia yang dengan cepat menjadi pemasok daging sapi halal terbesar, dan China yang menjadi pemasok utama busana muslim.

“Negara-negara tersebut telah menerapkan strategi branding untuk mengamankan posisinya di pasar halal global,” ujarnya.

Untuk mendongkrak branding industri halal dalam negeri agar menjadi produsen terkemuka di dunia, Kementerian Perindustrian akan menyelenggarakan Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo) 2025 yang dijadwalkan pada 25-28 September 2025 di Tangerang, Banten.

Ajang Halal Indo tahun lalu menarik lebih dari 12 ribu pengunjung, dengan nilai transaksi Rp1,3 miliar (sekitar US$77.419), dan total komitmen Rp6 miliar (sekitar US$357.320).

 

Indonesia Siap Jaring Wisman Melalui “Arabian Travel Market Dubai 2025”

this formate

DUBAI, bisniswisata.co.id:  Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) siap menjaring lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke tanah air melalui bursa pariwisata internasional terbesar di kawasan Timur Tengah “Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2025” yang berlangsung di Dubai World Trade Centre, mulai 28 April hingga 1 Mei 2025.

Deputi Bidang Pemasaran, Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (27/4/2025) menjelaskan melalui ATM Dubai 2025, Indonesia berupaya mempromosikan destinasi pariwisata dengan meningkatkan _brand recognition_ Wonderful Indonesia seiring tren saat ini.

“Tidak hanya promosi secara general, bursa pariwisata seperti ATM Dubai sangat membantu baik industri pariwisata maupun pemerintah dalam memperkenalkan destinasi unggulan di setiap wilayah,” kata Made.

Bursa pariwisata internasional terbesar di kawasan Timur Tengah ini telah berlangsung selama 30 tahun. ATM Dubai 2025 diperkirakan akan dikunjungi oleh lebih dari 47.000 pengunjung dan menampilkan kurang lebih 2.700 exhibitors dari 161 negara.

Made menekankan, kehadiran Indonesia dalam ATM Dubai 2025 merupakan salah satu upaya penting untuk menjaga eksistensi Indonesia sebagai destinasi unggulan di dunia internasional khususnya kawasan Timur Tengah.

Tahun lalu, jumlah wisatawan asal Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia mencapai 224 ribu kunjungan atau naik sebesar 24 persen dari tahun sebelumnya, sehingga pertumbuhan yang positif ini merupakan potensi yang perlu terus digarap di masa mendatang.

“Target kunjungan wisman pada 2025 sebesar 14 juta sampai 16 juta wisman, dengan 249 ribu di antaranya adalah target wisatawan dari kawasan Timur Tengah. Angka ini meningkat 6,4 persen dari tahun sebelumnya sehingga diperlukan langkah akselerasi dan aktivitas promosi yang lebih intensif agar dapat menunjang pencapaian target tersebut, tentu salah satu upayanya melalui partisipasi Kemenpar dan industri pariwisata Indonesia di ATM Dubai tahun ini,” ujar Made.

Dengan tema besar “Experiential Tourism” dan fokus produk mencakup Gastronomy, Marine, dan Wellness, Paviliun Wonderful Indonesia akan memfasilitasi 20 industri pariwisata sebagai co-exhibitors yang terdiri dari TA/TO, DMC/DMO, Hotel/Resort, dan Atraksi Wisata berlokasi di Hall 7 No. AS 8558 – AS 8558A, DWTC.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA) juga turut berkolaborasi pada bursa bergengsi ini dengan membuka lahan untuk memfasilitasi 15 delegasi industri pariwisata Jakarta dan 26 delegasi industri pariwisata anggota IINTOA.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno, menambahkan bahwa kolaborasi bersama mitra _stakeholder_ dalam kepesertaan pada bursa pariwisata internasional ini diharapkan dapat memaksimalkan aktivitas promosi yang menunjukkan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dalam skala global.

“Melalui pertemuan bisnis antara _sellers_ dan _buyers_ yang diatur pada _pre-scheduled appointment system_, diharapkan target kepesertaan pada pameran ini sebesar 44 ribu potensial pax dapat tercapai,” kata Wisnu.

Wisnu berharap, bursa pariwisata Arabian Travel Mart Dubai ini mampu memberikan dampak positif pada peningkatan jumlah wisman khususnya untuk pasar Timur Tengah.

“Sehingga secara keseluruh dapat mendukung pencapaian target sekaligus mendorong pemulihan ekonomi Indonesia pasca-pandemi,” kata Wisnu.

Selain itu, sebagai upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Timur Tengah, Kementerian Pariwisata juga akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Qatar Airways.

Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Qatar Airways ini akan ditandatangani pada 28 April 2025, pada hari pertama penyelenggaraan Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2025.

Table Top East Java Adventure Trip di Jember

Table Top East Java Adventure Trip di Jember

this formate

JEMBER, bisniswisata.co.id: Wijaya Kusuma Ballroom Java Lotus Hotel Jember, menjadi tempat penyelenggaraan Table Top East Java Adventure Trip ke-4 (JAT4) Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Jawa Timur. Ajang berskala nasional —buyers meet seller JAT4 – 2025, mempertemukan 100 buyer dan 50 seller dari dalam dan luar negeri untuk mempererat jejaring bisnis sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Java Lotus Hotel Jember berkomitmen menjadi bagian aktif dalam mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif Jawa Timur melalui hospitality berkelas dunia dengan kearifan lokal, budaya Pandhalungan. Kami percaya bahwa setiap pertemuan di Java Lotus Hotel bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang membangun masa depan pariwisata yang lebih kuat, berketahanan dan berkelanjutan,” ujar Jeffrey Wibisono V, General Manager Java Lotus Hotel Jember.

Terpilihnya Java Lotus Hotel Jember sebagai titik simpul pertemuan bisnis pelaku pariwisata, selain posisi yang strategis. Hotel menyediakan fasilitas ruang dan kebutuhan logistik pendukung pertemuan klas internasional berkapasitas kecil sampai besar. Tersedia fasilitas Rooftop dan SkyLounge Restaurant, Infinity Swimming Pool, makanKOE Restaurant yang menyajikan comfort Indonesian food rasa “Jemberan” hingga Ballroom yang representative.

East Java Adventure Trips (JAT) ke-4, bertema East Java Cross Border Adventures, merupakan program kolaboratif ASPPI DPD Jawa Timur untuk meningkatkan daya saing pariwisata Jawa Timur. Perjalanan eksplorasi dimulai pada 28 April s,d 2 Mei dari Surabaya, Bromo, Batu, hingga berakhir di Banyuwangi. Dan Java Lotus Hotel Jember menjadi titik penting untuk aktivitas networking profesional antar pelaku industri.

Networking berupa table top diselenggarakan di Java Lotus Hotel Jember pada 30 April menjadi salah satu highlight kegiatan mempertemukan buyer dan seller dalam suasana eksklusif, profesional, nyaman, mensinergikan pengelola destinasi wisata, akomodasi, kuliner, atraksi wisata, serta travel agents.

Mengukuhkan Jember di Peta Pariwisata JaTim

Dengan dipilihnya Java Lotus Hotel Jember sebagai tuan rumah Table Top JAT4 2025, semakin memperkuat posisi Jember sebagai salah satu destinasi wisata, bisnis, dan event di Jawa Timur. Acara ini tidak hanya memperkenalkan keindahan wisata alam seperti Air Terjun Tumpak Sewu dan Gunung Argopuro, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya, kuliner, dan kreativitas lokal.

Java Lotus Hotel di Table Top JAT 4

Ajang JAT ke 4 ASPPI menghubungkan potensi budaya dan alam Jawa Timur ke dalam bisnis kepariwisataan. Ruang yang membuka peningkatan pemahaman industri akan potensi alam dan budaya kawasan JaTim untuk dikemas menjadi paket kreatif layak pasar.

Pada kesempatan tersebut Java Lotus Hotel Jember menjadi “rumah besar Nusantara” dengan hospitality yang mengedepankan kehangatan, keramahan bagi seluruh tamu. Juga mengupayakan keterhubungan potensi lokal ke pasar dunia, dengan sajian gastronomi Pandhalungan —nasi Langgi dan sayur Gudhuk bercitarasa daun Kolpoh–.

“Hotel yang baik bukan hanya tempat menginap, tempat menyelenggarakan acara, pertemuan saja. Juga menjadi tempat di mana gagasan besar, kolaborasi nyata, dan cerita indah dimulai,” lanjut GM Java Lotus Hotel di sela penyelenggaraan Table Top JAT- ke 4 ASPPI Jatim.

Pala Papua Dulu Diabaikan, Kini Diburu Industri Parfum Dunia Berkat Perempuan Adat

this formate

PAPUA, bisniswisata.co.id: Di balik hutan lebat Papua Barat, sekelompok perempuan adat tengah berusaha membalik nasib dengan mengubah buah pala—warisan leluhur mereka—menjadi komoditas bernilai tinggi yang kini dilirik oleh industri parfum dunia.

Dipimpin oleh Mama Siti, 52 tahun, para petani perempuan ini mempertahankan tradisi, memperjuangkan kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka melalui inovasi berkelanjutan.

“Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang,” kata Mama Siti menjelaskan.

Untuk pengolahannya, sejauh ini sudah ada 118 wanita yang membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari, tambahnya.

Mama Siti adalah petani pala sekaligus dewan pengawas anggota koperasi yang dipimpin oleh perempuan adat di Papua Barat. Ia menjadi teladan dalam menerapkan keterampilan dan ketelatenan serta memimpin perempuan dalam mengolah pala menjadi produk siap jual.

Bagi masyarakat adat Papua Barat, pohon pala melambangkan kehidupan itu sendiri. Dianggap sebagai “penjelmaan perempuan”, pohon pala memainkan peran penting dalam menopang masyarakat, dan tabu yang ketat melarang penebangan pohon-pohon ini.

Rasa hormat yang mendalam terhadap pohon pala telah menyebabkan tradisi unik seputar panennya, menunjukkan hubungan masyarakat yang berkelanjutan dengan alam.

Dua bulan sebelum musim panen, masyarakat adat akan duduk bersama dan berdiskusi – “wewowo” dalam bahasa lokal. Selama waktu ini, mereka melakukan upacara di mana mereka secara simbolis “mengenakan” pohon pala dengan kebaya, pakaian tradisional yang biasanya dikenakan oleh perempuan.

Ini adalah tanda bahwa tidak ada yang bisa memanen pala muda dan mereka menyebutnya “kera-kera”. Pohon-pohon itu “dilepas pakaiannya” tepat sebelum panen, memungkinkan masyarakat untuk mulai memanen pala. Setelah panen, mereka meninggalkan lahan untuk pulih secara alami.

Sayangnya, harga jual pala yang rendah dan siklus panen yang hanya dua kali setahun membuat banyak petani kesulitan secara ekonomi. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki pekerjaan musiman dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Harga pala seringkali fluktuatif dan tidak menentu tergantung musim. Ketika harga turun, pendapatan dari pala hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen berakhir, banyak dari kami terpaksa harus beralih profesi untuk menunjang kebutuhan keluarga masing-masing.” tambah Mama Siti.

“Pohon pala Tomandin bukan sekadar pohon bagi kami. Ini adalah warisan dari nenek moyang kami yang hidup dari generasi ke generasi untuk memberi kami kehidupan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pala Tomandin adalah keajaiban bagi kami,” ujarnya

1.Inisiatif Wewowo Lestari

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah inisiatif bernama Wewowo Lestari yang digagas oleh Kaleka. Program ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah pala Papua, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, perempuan petani diajarkan teknik pengolahan pala yang lebih baik. “Kami berupaya memberdayakan para petani dengan memberikan edukasi dan pelatihan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas panen secara efisien,” kata Venticia Hukom, Asisten Badan Eksekutif Kaleka.

Hal ini dilakukan dengan menerapkan SOP yang baik dalam setiap tahap produksi, mulai dari pengumpulan buah hingga pengeringan pala menggunakan solar dryer, yang pada akhirnya berhasil meningkatkan 13-40% pendapatan penjualan pala.

Peran Kaleka tidak hanya berhenti pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga berupaya membuka pasar yang lebih luas. Pihaknya secara aktif bekerja sama dengan laboratorium Association Francaise des Dieteticiens Nutritionnistes (AFDN) asal Prancis untuk melakukan riset lanjutan terhadap hasil olah pala.

Terutama dalam mengembangkan prototipe produk parfum yang akan diajukan kepada perusahaan-perusahaan ternama di dunia parfum, seperti Hermes dan Chanel.

“Orang biasanya menghiraukan pala Papua karena oil extraction rate yang sangat rendah, namun penelitian secara berkala berhasil membuahkan hasil dalam meningkatkan oil extraction rate pala Papua yang tadinya 1% menjadi 3,5% sehingga bisa dikembangkan menjadi produk turunan lain seperti parfum dan kosmetik.” jelas Venticia Hukom.

Keberhasilan dari penemuan penelitian lanjut tersebut membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, pala Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk bersaing di pasar internasional.

Meningkatkan Perekonomian Lokal dan Melestarikan Lingkungan

Inisiatif Wewowo Lestari juga berdampak pada peningkatan pendapatan petani, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

Melalui Koperasi Mery Tora Qpohi, badan usaha yang didirikan dari dan untuk petani pala, petani mendapatkan tambahan pendapatan sebesar 11-40% sesuai dengan jenis dan kualitas pala dijualbelikan.

Jumlah ini lebih tinggi dibanding pendapatan yang didapatkan petani jika menjual pala ke pengepul atau tengkulak lokal.

Kabupaten Fakfak di Papua Barat adalah rumah bagi 908.850 hektar hutan di mana sekitar 26.927 masyarakat adat bergantung pada 56 pohon pala per hektar hutan untuk mata pencaharian mereka.

Kaleka telah bekerja untuk keberlanjutan pala selama sekitar delapan tahun. Pala bukan sekadar komoditas; bagi masyarakat adat, pala adalah kehidupan.

“Dengan menerapkan kearifan lokal dalam pengolahan pala secara berkelanjutan, kami dapat mempertahankan mata pencaharian yang stabil tanpa harus mengorbankan lingkungan serta memberikan insentif bagi kami untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan, sehingga tidak bergantung pada industri ekstraktif yang merusak hutan.” kata Mama Siti menjelaskan.

Pemanfaatan seluruh bagian pala, termasuk kulit dan biji, juga menghasilkan produk turunan F&B yang baru seperti sirup, manisan untuk supermarket dan cafe di Fakfak sampai produk kosmetik seperti minyak atsiri. Hal ini semakin meningkatkan nilai ekonomis komoditas ini.

Dibantu oleh Kaleka, pihaknya terus berupaya memanfaatkan semua bagian dari pala untuk meminimalisir sampah dari penggunaannya yang biasa menumpuk saat difungsikan menjadi bahan masak.

“Saat ini, kami sudah menjual kurang lebih 500 botol sari buah yang berbahan dasar daging buah pala yang selama ini hanya ditinggalkan di bawah pohon pala sampai membusuk,” tutur Siti.

Keberhasilan inisiatif Wewowo Lestari memberikan harapan baru bagi petani pala di Papua. Melalui pendekatan ekonomi restoratif, Wewowo Lestari mendorong pembelajaran bersama berlandaskan bukti yang diharapkan.

Hal ini dapat mendorong advocacy perubahan kebijakan pengelolaan lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis komunitas, program ini menjaga tradisi dan kekayaan alam Papua sebagai pondasi ekonomi lokal.

“Dalam lima tahun, kami membayangkan sebuah usaha sosial fungsional yang dipimpin oleh masyarakat adat yang dapat menjual pala mereka dengan nilai tinggi, seperti halnya komoditas berkelanjutan lainnya yang diproduksi di Papua Barat seperti rumput laut, kepiting, dan nilam, yang dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat adat,”
ujar Venticia Hukom.

Dalam sepuluh tahun, Kaleka menargetkan hutan adat untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional, dan beberapa kebijakan dalam perlindungan hutan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia.

“Dalam lima belas tahun, kita akan melihat industri cluster parfum, minyak atsiri, dan produk perikanan di Fakfak, Papua Barat,” tambah Venticia Hukom.

Inisiatif ini menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam dan peningkatan ekonomi dapat berjalan berdampingan, dipimpin oleh kearifan lokal Papua.

Tentang Kaleka

Kaleka (sebelumnya Yayasan Inobu) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang bergerak dalam memperjuangkan pengelolaan bentang alam dan bentang laut untuk Indonesia yang berkelanjutan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat lokal maupun masyarakat adat.

Didirikan pada tahun 2014, dengan berjumlah kurang lebih dari 72 staf hingga saat ini, staf Kaleka mewakili keragaman masyarakat dari berbagai kepulauan di Indonesia yang berkomitmen untuk menegakkan hak asasi manusia serta memberikan perlindungan terhadap lingkungan.

Kekuatan tematik Kaleka meliputi bidang sumber berkelanjutan, konservasi dan restorasi, sistem pertanian pangan, pengembangan masyarakat serta tata kelola lingkungan dan sosial.

Inti dari pendekatan Kaleka adalah konsep Collaborative, Action Research. Dalam membuat gerakan, Kaleka bekerjasama dengan para mitra, termasuk pemerintahan di tingkat nasional dan sub-nasional, organisasi masyarakat sipil, produsen, perusahaan manufaktur dan konsumen, universitas, petani, serta masyarakat lokal untuk mengidentifikasi prioritas mereka.

Melalui penelitian praktik terbaik dalam sains, sambil menggabungkan pengetahuan masyarakat lokal dan penduduk asli, Kaleka menguji, menerapkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan inovasi.

Pendekatan ini memastikan penerimaan dan relevansi intervensi terhadap mitra lokal, serta memungkinkan Kaleka untuk menskalakannya secara nasional.

Survei Scuba Deals 2025 Agoda: Indonesia Jadi Destinasi Selam Paling Diinginkan

this formate

Keindahan taman laut Wakatobi ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Platform perjalanan digital Agoda merilis hasil Survei Scuba Deals 2025, yang mengungkap preferensi dan motivasi para penggemar selam di Asia.

Dari destinasi impian hingga anggaran perjalanan, survei ini menyoroti tren yang membentuk dunia wisata bawah laut.
Survei yang dilakukan di 11 negara di Asia ini menunjukkan bahwa kawasan ini, terutama Asia Tenggara, tetap menjadi surga bagi para penyelam.

Dikenal dengan lokasi selamnya yang beragam dan kaya akan kehidupan laut, Asia Tenggara terus menarik wisatawan dengan keindahan bawah laut yang menakjubkan.

Hasil survei Scuba Deals Agoda mengungkap perubahan preferensi dan motivasi para penyelam, memberikan wawasan mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi petualangan selam mereka;

1.Indonesia adalah destinasi selam impian

Indonesia menempati peringkat teratas sebagai destinasi selam paling diinginkan oleh wisatawan Asia. Dengan keanekaragaman hayati laut yang memukau dan terumbu karang yang indah, Indonesia mengungguli destinasi populer lainnya seperti Filipina, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Destinasi-destinasi ini secara keseluruhan menjadi daya tarik utama bagi para penyelam dari seluruh dunia.

2. Relaksasi bawah laut jadi alasan utama menyelam

Bagi banyak penyelam, lautan menjadi tempat untuk menghilangkan stres. Hampir sepertiga (30%) responden menyebut relaksasi sebagai alasan utama mereka menyelam, terutama bagi penyelam dari Filipina, Malaysia, dan Thailand. Sementara itu, eksplorasi kehidupan laut juga menjadi faktor pendorong penting, dengan 24% responden tertarik pada keindahan makhluk-makhluk laut.

3. Harga tetap penting, tapi anggaran lebih besar

Meskipun keterjangkauan menjadi faktor utama dalam memilih akomodasi, penyelam bersedia mengeluarkan dana lebih untuk pengalaman bawah laut mereka. Sebanyak 40% responden mengaku menghabiskan 15-30% lebih banyak untuk perjalanan selam dibandingkan dengan liburan biasa.

4. Durasi perjalanan selam biasanya 4-7 hari

Perjalanan singkat mendominasi tren wisata selam, dengan hampir setengah (48%) penyelam memilih perjalanan berdurasi 4-7 hari. Perjalanan akhir pekan juga cukup populer, dipilih oleh 41% responden.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman selam yang singkat dan padat semakin diminati karena lebih mudah disesuaikan dengan jadwal yang sibuk.

5. Terumbu karang jadi lokasi selam favorit

Sebagian besar penyelam (75%) lebih memilih lokasi selam di terumbu karang. Keanekaragaman hayati dan formasi terumbu yang berwarna-warni di perairan Asia terus menarik perhatian penyelam, menjadikannya lokasi yang wajib dikunjungi oleh pecinta dunia bawah laut.

Gede Gunawan, Senior Country Director Indonesia di Agoda, menyatakan Asia adalah rumah bagi beberapa destinasi selam paling populer di dunia dan tetap menjadi favorit di kalangan penyelam.

“Di Agoda, kami berkomitmen untuk membantu wisatawan mengakses pengalaman luar biasa ini. Dengan menawarkan penawaran terbaik untuk akomodasi, penerbangan, dan aktivitas, kami ingin menjadikan eksplorasi dunia bawah laut lebih mudah dan terjangkau bagi semua orang.” ujarnya.

Mulai 1 April, program Scuba Deals Agoda menawarkan diskon tambahan 10% untuk hotel-hotel yang berpartisipasi di destinasi selam di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. (PRNewswire).

Trip.com Luncurkan Peringkat Global Trip.Best 2025: Destinasi, Tema & Tren Baru

this formate

Bali mempertahankan reputasinya sebagai tempat menginap mewah seperti
Amankila Bali. ( Foto: Amankila)

*Sorotan Indonesia: Indonesia mempertahankan daya tariknya sebagai destinasi kelas dunia dengan 35 entri di berbagai destinasi, penginapan, restoran, dan objek wisata
*Peringkat regional baru: Trip.Best 2025 memperkenalkan peringkat Eropa 100 dan Amerika 100 untuk pertama kalinya, bersamaan dengan peringkat Global 100 dan Asia 100 yang sudah ada.
*Tema dan fitur perjalanan baru: Tema objek wisata baru seperti “Kesenangan Air” dan “Pemandangan Musim Gugur”, plus, fitur “Destinasi Bulan Ini” kini menawarkan pilihan perjalanan baru dari bulan ke bulan.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Trip.com, salah satu penyedia layanan perjalanan daring terkemuka di dunia, telah merilis Trip.Best Global Rankings 2025, edisi kedua dari daftar rekomendasi tahunan perusahaan yang menampilkan 100 destinasi, penginapan, atraksi, restoran, dan hiburan malam teratas di Asia dan di seluruh dunia.

Sebagai daftar rekomendasi perjalanan bertenaga AI di Trip.com, Trip.Best Global Rankings membantu wisatawan global memilih pengalaman terbaik yang ditawarkan destinasi.
Disusun menggunakan perpaduan analisis data berbasis AI, ulasan pengguna, dan keahlian manusia, peringkat tersebut menampilkan perusahaan terkait perjalanan yang mencontohkan kualitas layanan.

Memberikan standar layanan yang konsisten, popularitas – menunjukkan permintaan pencarian dan volume pemesanan yang positif, reputasi – mengumpulkan ulasan pengguna yang positif dan fitur-fitur khusus – dengan diferensiasi unik dan kualitas menonjol dalam daftar.

Peringkat Global Trip.Best 2025 menempatkan Bali dan Jakarta di antara 100 destinasi teratas di dunia – masing-masing di peringkat #10 dan #41 – serta 35 hotel, restoran, dan objek wisata paling diminati di Indonesia dalam daftar tersebut.

Krishna Arya, General Manager Indonesia, Trip.com, mengatakan, “Kami senang bahwa Indonesia sebagai destinasi, serta tempat menginap dan objek wisatanya, terus diminati oleh para pelancong.

Masuknya mereka ke dalam Peringkat Global Trip.Best 2025 merupakan indikator yang jelas tentang daya tarik Indonesia yang berkelanjutan sebagai destinasi pilihan di Asia dan di seluruh dunia.

Arya menjelaskan lebih lanjut tentang daftar Trip.Best, “Peringkat Global Trip.Best 2025 terus menetapkan standar untuk keunggulan perjalanan.

Peringkat ini memanfaatkan ratusan juta poin data dari platform Trip.com, menggunakan ulasan pelanggan asli, popularitas penjualan sepanjang tahun, jaminan kualitas yang konsisten, dan fitur di seluruh hotel, objek wisata, kehidupan malam, restoran, dan destinasi di seluruh dunia.

“Data yang digunakan divalidasi oleh beragam audiens global dan peringkat yang dihasilkan akan membantu wisatawan menyusun pengalaman terbaik untuk perjalanan mereka.” ungkap Arya

Apa yang Baru dalam Peringkat Global Trip.Best 2025

Edisi tahun ini juga meluncurkan beberapa tambahan yang menarik. Untuk pertama kalinya, Trip.com telah memperkenalkan daftar Eropa 100 dan Amerika 100 ke Peringkat Global Trip.Best tahun ini, memperluas peringkat regional di luar daftar Global dan Asia 100 yang sudah ada untuk merayakan lebih banyak destinasi terbaik di dunia.

Selain itu, wisatawan dapat menjelajahi rekomendasi perjalanan musiman baru dalam dua kategori Daya Tarik baru, termasuk Kesenangan Air – menyoroti taman air, pantai, dan pulau yang paling digemari, dan Pemandangan Musim Gugur , memamerkan tempat-tempat terbaik untuk menikmati pemandangan dedaunan musim gugur.
Hotel Mewah dan Resor Ramah Keluarga Mendominasi Peringkat Global.

Dalam kategori Penginapan, Peringkat Global Trip.Best 2025 menyoroti pilihan akomodasi terbaik di seluruh dunia, mulai dari hotel kota yang sangat mewah hingga resor keluarga yang indah.

Paris mempertahankan reputasinya untuk perhotelan mewah dalam peringkat 100 Hotel Mewah Global. Hotel legendaris Prancis, Hotel de Crillon, A Rosewood Hotel di Paris, berhasil menduduki posisi No. 1 secara global, dengan ikon Paris lainnya seperti Le Bristol Paris dan La Réserve Paris muncul di lima besar.

New York juga menorehkan prestasi, dengan Four Seasons Hotel New York Downtown dan The St. Regis New York di 10 besar. Di Tokyo, Aman Tokyo, dan di Singapura, Raffles Singapore menjadi nama-nama yang patut disebutkan, melanjutkan tren merek hotel Asia yang kuat mendominasi eselon atas peringkat mewah.

Bali mempertahankan reputasinya sebagai tempat menginap mewah, dengan mengamankan beberapa tempat dalam peringkat 100 Hotel Mewah Global, termasuk properti terkenal seperti Amankila (#11), Mandapa – a Ritz Carlton Reserve (#13), Bvlgari Resort (#14) dan Raffles di Bali (#39).

Selain kemewahan, penginapan berorientasi keluarga dan hotel kaya budaya semakin populer. Peringkat Global Trip.Best 2025 menyoroti Asia sebagai pemimpin dalam resor ramah anak, dengan Tiongkok, Jepang, dan Uni Emirat Arab yang menonjol.

Misalnya, Tiongkok membanggakan Atlantis Sanya, resor luas yang menawarkan taman air dan pantai yang menyenangkan bagi keluarga.
Jepang memiliki Tokyo Disneyland Hotel, yang terkenal dengan pengalaman Disney yang mendalam yang menyenangkan pengunjung dari segala usia.

Di Uni Emirat Arab, Atlantis, The Palm di Dubai, menawarkan fasilitas kelas dunia dan petualangan keluarga yang tak terlupakan. Resor-resor ini memenuhi permintaan yang terus meningkat untuk liburan ramah keluarga, memastikan kesenangan dan kenyamanan bagi wisatawan dari segala usia.

Hotel-hotel yang berbudaya dan indah juga menjadi sorotan utama – wisatawan mencari tempat menginap yang menawarkan nuansa tempat, baik itu tempat peristirahatan bergaya ryokan di Pegunungan Alpen Jepang atau pondok safari di Afrika yang memadukan kemewahan dengan cita rasa lokal.

Khususnya, kategori “Hotel yang Instagramable” – akomodasi yang dihargai karena daya tariknya yang fotogenik – didominasi oleh hotel-hotel desain bergaya di Asia dan Eropa, yang terinspirasi oleh inspirasi perjalanan yang didorong oleh media sosial.

Misalnya, hotel-hotel fiktif “White Lotus”, yang ditampilkan dalam serial HBO yang populer, adalah resor mewah di dunia nyata, tempat para wisatawan berbondong-bondong ke Four Seasons Resort Koh Samui, Four Seasons Resort Maui di Wailea, dan San Domenico Palace di Italia.

Properti yang sempurna untuk berfoto seperti The Langham dan The Orient Jakarta, Royal Hideaway Hotel juga telah menjadi destinasi untuk era Instagram.

Di berbagai benua, baik itu vila di Bali atau chalet ski di Swiss, peringkat hotel Trip.Best tahun 2025 menangkap tren yang luas: wisatawan semakin mencari pengalaman yang berkesan dan tema yang unik (mewah, keluarga, pemandangan, dll.) di akomodasi mereka, bukan hanya tempat untuk tidur.

Taman Bertema Tetap Populer, Sementara Pengalaman Musiman Baru Muncul
Objek wisata global pada tahun 2025 mengungkapkan satu favorit yang jelas: taman hiburan.

Peringkat “Hal Terbaik untuk Dilakukan” Global Trip.Best sebagian besar didominasi oleh taman hiburan yang terkenal di dunia, terutama di Asia dan Amerika Utara.

Faktanya, enam dari sepuluh objek wisata teratas global dipimpin oleh objek wisata yang menarik banyak orang seperti Walt Disney World Resort di AS, Universal Studios Jepang, Shanghai Disney Resort, dan banyak lagi.

Taman-taman besar ini terus menarik keluarga dan pencari sensasi, menunjukkan bagaimana wisata taman hiburan menjadi tren global.

Selain taman hiburan, objek wisata budaya seperti The Louvre di Paris, The Palace Museum di Beijing, dan Vatican Museums di Vatican City tetap menjadi pesaing utama, yang menunjukkan permintaan berkelanjutan untuk pengalaman seni dan warisan.

Sementara itu, ada juga lebih banyak penekanan pada aktivitas musiman dan pengalaman. Baik itu hutan berapi New England atau kuil emas Jepang, mengintip dedaunan (pariwisata yang berpusat pada pemandangan dedaunan) telah menjadi hobi musiman utama.

Restoran Mewah dan Tempat Kuliner Lokal Membentuk Wisata Kuliner Global

Tidak ada pengalaman wisata yang lengkap tanpa makanan lezat, dan Peringkat Global Trip.Best 2025 menegaskan pentingnya wisata kuliner.

Daftar tahun ini – yang mencakup Restoran Mewah, Restoran Lokal, dan Restoran untuk Pemandangan & Pengalaman – merayakan semuanya mulai dari kuliner kelas atas hingga makanan lokal yang disukai.

Dalam kategori 100 Restoran Mewah Global, Eropa memimpin dengan restoran seperti Arpège di Paris dan Sketch (Ruang Kuliah & Perpustakaan) di London yang berada di peringkat teratas.

Restoran lain yang menonjol termasuk Per Se di New York dan Le Bernardin, serta DiverXO di Madrid. Sushi Saito di Tokyo dan Sorn di Bangkok menunjukkan bahwa dunia kuliner Asia sedang berkembang pesat di panggung kuliner global.

Kategori “Restoran untuk Pemandangan & Pengalaman” juga menampilkan restoran-restoran di cakrawala Korea dan Dubai, yang menawarkan makan malam dengan pemandangan sebagai bagian dari pengalaman perjalanan wisatawan.

Dari puncak Burj Khalifa hingga Bicena di Seoul, tempat-tempat ini menyajikan pengalaman tak terlupakan yang memadukan suasana dan seni kuliner.

Di antara kuliner lokal, Singapura dan Thailand menonjol sebagai destinasi kuliner dengan beberapa tempat teratas seperti Palm Beach Seafood dan Jeh O Chula di Bangkok.

Pemandangan kuliner yang beragam di kota-kota ini terus menarik pengunjung dari seluruh dunia, mengukuhkan tempat mereka sebagai pusat gastronomi yang sedang naik daun. (PRNewswire)

Bagaimana Vietnam Dapat Menaklukkan Pasar Halal Senilai US$3 Triliun

this formate

Oleh Hafiz M. Ahmed

HO CHI MINH, bisniswisata.co.id: Di pasar-
pasar yang panas di Kota Ho Chi Minh, tempat para pedagang menjajakan udang berkilau dan nasi harum, Vietnam sedang bersemangat dengan ambisi.

Dilansir dari halaltimes.com, hadiah senilai US$3 triliun—pasar Halal global—sudah dalam jangkauan, namun raksasa pertanian ini baru saja menjejakkan kakinya di sektor konsumen yang tumbuh paling cepat di dunia.

Dengan 2 miliar Muslim yang mendorong permintaan dan non-Muslim berbondong – bondong ke janji Halal tentang kualitas dan etika, pasar ini bukan lagi ceruk—melainkan raksasa.

Vietnam, dengan kacang mete, kopi, dan makanan lautnya yang sudah menghiasi meja-meja dari Dubai hingga Jakarta, siap untuk meraup untung. Namun, inilah masalahnya: tanpa strategi jangka panjang yang tajam, Vietnam berisiko melihat Malaysia dan Brasil berpesta pora di jamuan makan yang seharusnya bisa disajikan. Saatnya bertindak adalah sekarang.

Pasar yang Terlalu Besar untuk Diabaikan

Ekonomi Halal, yang dipatok pada US$3 triliun pada tahun 2025, adalah tambang emas. Hal ini didorong oleh 25% populasi global—2 miliar Muslim—dan gelombang non-Muslim yang semakin meningkat yang menyamakan Halal dengan kebersihan dan kepercayaan.

Kekuatan Vietnam selaras sempurna: ekspor kacang mete senilai US$3,8 miliar, udang kelas dunia, dan produksi beras yang kuat merupakan faktor alami untuk sertifikasi Halal.

Namun, ekspor Halal negara tersebut, sebesar US$34 miliar, hanyalah setetes air di lautan jika dibandingkan dengan PDB senilai $8,5 triliun dari 57 negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Kisah sukses seperti Minh Phu Seafood, yang penjualannya melonjak di Timur Tengah pasca sertifikasi Halal, dan Vinamilk, yang sekarang menjadi perusahaan susu terkemuka di Asia Tenggara, membuktikan apa yang mungkin.

Namun dengan hanya 60% provinsi di Vietnam yang memproduksi barang bersertifikat, kesenjangan antara potensi dan kenyataan sangat mencolok.

Sertifikasi: Kunci yang Membuka Pintu

Sertifikasi halal bukanlah formalitas—ini adalah paspor ke pasar global. Hal ini menuntut kepatuhan terhadap hukum diet Islam, dari peternakan hingga meja makan, yang meliputi sumber, penyembelihan, dan pengemasan.

Masalahnya? Standar sangat bervariasi. Malaysia mengakui 84 ​​lembaga sertifikasi di 46 negara; Arab Saudi menuntut audit pihak ketiga.

Bagi perusahaan Vietnam, tambal sulam ini adalah mimpi buruk. Tran Trong Kim, kepala perdagangan Vietnam di Arab Saudi, mendesak pedoman yang dipimpin pemerintah dan kesepakatan pengakuan bersama untuk menyederhanakan akses.

Tanpa lembaga sertifikasi lokal, bisnis bergantung pada badan asing yang mahal, yang menguras uang dan waktu. Kerangka kerja nasional dapat memangkas hambatan ini, sehingga memungkinkan usaha kecil dan menengah (UKM)—tulang punggung pertanian Vietnam—bersaing secara global.
Infrastruktur: Membangun Tulang Punggung Halal

Mimpi Halal Vietnam bergantung pada infrastruktur. Kawasan Halal Malaysia, dengan rumah pemotongan hewan khusus dan jalur produksi bebas kontaminasi, menjadi tolok ukurnya.

Sebaliknya, Vietnam sedang mengejar ketertinggalan. Ramlan Bin Osman dari Pusat Sertifikasi Halal Nasional (HALCERT) menyebut bahan baku Vietnam—kopi, beras, makanan laut—sebagai “tambang emas Halal.”

Namun, tanpa investasi dalam fasilitas yang patuh, kekayaan ini akan tetap terkunci. Osman memperkirakan Vietnam dapat menghasilkan US$34 miliar dalam bentuk barang Halal untuk pasar OKI dengan pengaturan yang tepat.

Investor Timur Tengah, yang tertarik dengan biaya tenaga kerja Vietnam yang rendah, dapat mendanai fasilitas ini, dengan mendatangkan keahlian dan modal. Pemerintah harus membuka jalan, dengan menawarkan insentif untuk mewujudkan visi tersebut.

Lokasi adalah kartu truf Vietnam. Terletak di samping 270 juta Muslim Indonesia dan pusat Halal Malaysia, Vietnam merupakan pintu gerbang ke pasar Muslim Asia Tenggara yang beranggotakan 860 juta orang.

Ke-17 perjanjian perdagangan bebasnya, terutama Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Vietnam-UEA (CEPA), memangkas tarif dan membuka pintu ke Timur Tengah dan Afrika.

Pasar makanan Halal Qatar senilai $35,97 miliar, tumbuh sebesar 5,28% per tahun, sangat membutuhkan makanan laut dan susu Vietnam.

Namun kedekatan saja tidak cukup. Ekspor daging Halal Brasil senilai $16 miliar dan kecakapan logistik Singapura menetapkan standar yang tinggi. Tour Timur Tengah Perdana Menteri Pham Minh Chinh tahun 2024, yang menawarkan transfer teknologi dan kemitraan keamanan pangan, menandakan niat tersebut. Sekarang, tindakan domestik harus menyusul.

Bagi banyak bisnis Vietnam, Halal adalah teka-teki, yang terkait erat dengan aturan agama. Ramlan Osman, seorang pendatang Malaysia yang mendorong standar Halal di Vietnam, menghadapi para peragu yang mengejek, “Untuk apa repot-repot? Vietnam tidak memiliki Muslim.”

Dengan hanya 90.000 Muslim di antara 100 juta orang, pasar domestik sangatlah kecil. Namun Osman membalik keadaan: mayoritas non-Muslim di Vietnam membebaskannya untuk fokus pada ekspor.

Pusat Halal Vietnam miliknya telah menggalang 2.000 perusahaan, yang mengkampanyekan daya tarik universal Halal—kebersihan, keamanan, kualitas.

Non-Muslim setuju: pengeluaran makanan Halal di Tiongkok sebesar $1,4 triliun pada tahun 2022, meskipun populasi Muslimnya kecil, membuktikannya.

Ledakan pariwisata Vietnam, yang menarik wisatawan Muslim ke Da Nang, menuntut kuliner Halal, yang menciptakan sinergi ekspor. Mencitrakan Halal sebagai sesuatu yang premium dan etis dapat memenangkan hati dunia.

Taruhan Ekonomi dan Pesaing Global

Pertumbuhan PDB tahunan Vietnam sebesar 6-7% dan kontribusi pertanian sebesar 11% menjadikannya bintang Asia Tenggara. Namun, tarif AS pada tahun 2025 menekan pasar tradisional, sehingga memaksa diversifikasi.

Pasar Halal, yang ditetapkan mencapai US$10 triliun pada tahun 2028, merupakan penyelamat. Dengan jumlah Muslim yang diproyeksikan mencapai 2,8 miliar pada tahun 2050, permintaan akan barang bersertifikat—terutama makanan kemasan—akan meroket.

Namun, UKM menghadapi biaya sertifikasi yang tinggi, dan ekspor Halal Vietnam tertinggal dari dominasi daging Brasil. Tran Van Hiep dari Asosiasi Kacang Mete Vietnam mencatat bahwa sertifikasi Halal mendorong ekspor kacang mete sebanyak 700.000 ton pada tahun 2024.

Untuk meningkatkan keberhasilan ini, diperlukan pelatihan dan peningkatan logistik, seperti yang dikemukakan Vu Ba Phu dari Badan Promosi Perdagangan Vietnam.

Pendidikan tidak dapat dinegosiasikan. Banyak perusahaan Vietnam tidak memiliki pengetahuan tentang Halal, mulai dari penyembelihan hingga integritas rantai pasokan.

Halal Development Corporation Malaysia menawarkan keahlian, melihat Vietnam sebagai basis lepas pantai. Konferensi Halal Internasional 2024 di Vietnam memicu dialog penting. Kebijakan harus mengikuti perkembangan.

Draf peraturan Halal 2024 Kementerian Sains dan Teknologi, yang mencakup sertifikasi dan kendali mutu, adalah sebuah awal.

Pelabelan yang jelas, pengakuan bersama, dan penegakan hukum dapat menarik investor, kata Truong Xuan Trung dari kantor perdagangan UEA. CEPA Vietnam-UEA adalah batu loncatan, tetapi kerangka hukum yang kuat adalah landasan untuk kepercayaan dan pertumbuhan.

Halal bukan hanya makanan—tetapi juga farmasi, kosmetik, keuangan, dan pariwisata. Industri kecantikan Vietnam, dengan bahan-bahan alaminya, dapat memanfaatkan gelombang kosmetik Halal.

Begitu juga dengan Keuangan Islam, senilai US$3,6 triliun pada tahun 2021, dapat mendanai infrastruktur. Pariwisata, yang menjadi daya tarik global sejak 2018, membuat pengunjung Muslim menuntut pilihan Halal di Hanoi dan sekitarnya.

Mengintegrasikan Halal ke dalam perhotelan dapat meningkatkan ekspor sekaligus menciptakan lapangan kerja. Tantangan Vietnam adalah berpikir besar, menenun Halal ke dalam struktur ekonominya.

Vietnam berada di persimpangan jalan. Strategi Halal nasional—yang memadukan reformasi sertifikasi, investasi infrastruktur, dan kemitraan publik-swasta—dapat menghasilkan miliaran dolar.

Acara perdagangan seperti Malaysia International Halal Showcase menawarkan panggung global, tetapi perusahaan harus hadir dengan sertifikasi dan kesiapan.

Dorongan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, yang didukung oleh Wakil Menteri Nguyen Sinh Nhat Tan, semakin menguat, tetapi urgensi adalah kuncinya.

Saat sawah bersinar di bawah matahari terbenam Vietnam, pasar Halal memanggil—kesempatan untuk memberi makan jutaan orang dan mendorong pertumbuhan. Malaysia dan Brasil tidak akan menunggu. Vietnam harus bergerak cepat, atau pesta senilai US$3 triliun itu akan menjadi milik orang lain ?.

Penulis adalah: Pemimpin Redaksi The Halal Times, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam jurnalisme. Dengan spesialisasi di bidang ekonomi Islam, analisisnya yang mendalam membentuk wacana dalam ekonomi Halal global

World Islamic Tourism & Trade Expo WITEX dan WCAF Akan Berlangsung di Malaysia dari 22-25 Agustus 2025

this formate

SELANGOR, bisniswisata.co.id: World Islamic Tourism & Trade Expo (WITEX), yang bermitra dengan World Cultural & Arts Festival (WCAF), akan berlangsung di Malaysia dari 22 hingga 25 Agustus 2025, di Sunway Resort Hotel , Bandar Sunway, Selangor.

Dilansir dari travelandtourworld.com, sebagai platform terkemuka untuk pariwisata Islam dan pertukaran lintas budaya, acara ini akan mempertemukan pejabat pemerintah, pemimpin industri, pengusaha, seniman, dan profesional dari seluruh dunia, yang mendorong konvergensi bisnis, budaya, dan kolaborasi yang khas.

Seiring dengan terus berkembangnya pariwisata Islam di seluruh dunia, WITEX menawarkan platform yang tepat waktu dan strategis untuk memamerkan peluang, produk, dan kebijakan yang mendukung perjalanan yang ramah Muslim, industri Halal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Kemitraan & Dukungan Strategis

WITEX & WCAF 2025 diselenggarakan oleh Asosiasi Badan Pariwisata Malaysia (MATA) dan diselenggarakan bekerja sama dengan Dewan Pariwisata Islam Dunia (WITC), Organisasi Pariwisata Islam Global (GITO), Federasi Umrah & Haji ASEAN (AFUH), dan Aliansi Pariwisata BRICS (BTA).

Acara ini didukung oleh Biro Konvensi & Pameran Malaysia (MyCEB) dan disponsori oleh Etiqa Takaful, perusahaan asuransi paling tepercaya di Malaysia. Batik Air, maskapai penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di ASEAN, merupakan mitra maskapai resmi untuk WITEX dan WCAF 2025

Pameran WITEX 2025: Pameran Pariwisata dan Perdagangan Islam

Pameran WITEX 2025, yang dijadwalkan pada 22 hingga 24 Agustus 2025, akan menampilkan berbagai layanan, inovasi, dan destinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan Muslim dan industri gaya hidup Islam.

Mulai dari pilihan perjalanan dan akomodasi bersertifikat Halal hingga keuangan Islam, modest fashion, dan teknologi perjalanan digital, para peserta pameran akan menyajikan solusi yang mencerminkan nilai dan aspirasi wisatawan yang sadar agama saat ini.

Pameran ini diharapkan dapat menarik para pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta, termasuk dewan pariwisata, operator Umrah dan Haji, kelompok perhotelan, lembaga perbankan Islam, dan pemasok produk Halal.

Konferensi WITEX: Kepemimpinan Pemikiran dalam Pariwisata Islam

22 – 23 Agustus 2025

Pertemuan eksklusif para Menteri, pejabat pemerintah, dan eksekutif tingkat C, KTT Menteri & CEO akan berfungsi sebagai platform strategis untuk mempromosikan investasi, pertukaran kebijakan, dan kerja sama regional. Diskusi akan berkisar pada:

*Strategi nasional untuk pertumbuhan pariwisata Islam

*Perjanjian pariwisata bilateral dan kolaborasi antarpemerintah

*Model investasi dan mekanisme pendanaan untuk pariwisata Halal

*Kemitraan lintas batas dan diplomasi pariwisata

*KTT ini bertujuan untuk menyelaraskan agenda publik-swasta dan mempercepat proyek-proyek berdampak tinggi di bidang pariwisata Islam.

Tourism Investment Asia

24 Agustus 2025

Gerbang untuk menghubungkan investor pariwisata dengan pemilik proyek, lembaga pemerintah, dan pengusaha halal. Mengungkap peluang pendanaan dan pasar pertumbuhan.

Penghargaan Keunggulan di World Islamic Tourism Awards 2025

25 Agustus 2025

World Islamic Tourism Awards 2025 (WITA 2025) akan merayakan keunggulan industri dan kontribusi individu melalui malam penghargaan yang glamor. Acara ini akan mengakui pencapaian di berbagai sektor, termasuk:

*Destinasi ramah Muslim terbaik
*Produk perjalanan Halal yang inovatif
*Inisiatif budaya yang luar biasa
*Penyedia layanan Umrah dan Haji terbaik
*Pencapaian seumur hidup dan penghargaan keunggulan pemerintah.
* Dengan hiburan, pertunjukan budaya, dan kehadiran banyak orang, WITA 2025 akan menjadi sorotan utama kalender WITEX.

Festival Seni & Budaya Dunia: Merayakan Keberagaman Global

22 – 24 Agustus 2025

Diselenggarakan bersamaan dengan WITEX, Festival Seni & Budaya Dunia (WCAF) akan memamerkan kekayaan budaya dunia melalui pertunjukan, pameran seni, lokakarya, pameran kuliner, dan kerajinan tradisional. Perayaan yang meriah ini mempromosikan apresiasi budaya dan memupuk hubungan antarmasyarakat lintas batas.

Dengan partisipasi dari kedutaan besar, lembaga budaya, seniman, dan pelaku seni, WCAF bertujuan untuk memperdalam saling pengertian dan menyoroti peran penting budaya dalam membentuk pengalaman pariwisata.

Siapa yang Harus Berpartisipasi?

WITEX adalah platform ideal bagi organisasi yang ingin memasuki pasar perjalanan dan perdagangan Muslim yang sedang berkembang pesat. Peserta pameran dapat meliputi

*Badan dan kementerian promosi pariwisata
*Agen perjalanan, operator tur, dan perusahaan haji/umrah
*Maskapai penerbangan dan penyedia layanan perhotelan
*Merek F&B bersertifikat halal
*Perusahaan keuangan Islam, Takaful, dan investasi
*Merek mode dan gaya hidup sederhana
*Penyedia teknologi dan platform perjalanan digital
*Lembaga pendidikan dan budaya

Siapa yang Harus Hadir?

WITEX dan WCAF dirancang untuk audiens yang beragam, terdiri dari para profesional dan penggemar, termasuk:

*Profesional pariwisata dan pemimpin
perhotelan
*Pejabat pemerintah dan pembuat kebijakan
*Pengusaha dan investor
*Pelaku dan pemasok industri halal
*Perwakilan industri budaya dan kreatif
*Akademisi, mahasiswa, dan peneliti
*Media, influencer, dan kreator digital

Baik Anda mencari kemitraan, inspirasi, atau akses pasar, WITEX menawarkan gerbang yang tak tertandingi ke dalam ekosistem pariwisata dan perdagangan Islam. Sampai jumpa di Malaysia.
Situs web: www.witex.my
Email: marketing@witex.my