Komunitas Traveling Usung Modern Outdoor buat Mendaki & Camping

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bosan dengan gaya wisata mendaki gunung yang itu-itu saja? Main Outdoor, salah komunitas traveling yang mengusung konsep modern outdoor pertama di Indonesia menawarkan gaya wisata mendaki gunung yang berbeda. Dengan konsep tersebut, tiap orang bisa merasakan kemping mewah dan mendapat pengalaman naik gunung yang seru, karena semua dilayani dengan fasilitas standar internasional.

Nur Wahyu Widiyatno, Founder dan CEO Main Outdoor mengatakan, meski Indonesia punya banyak destinasi wisata yang cocok untuk tempat kemping serta wisata mendaki gunung, sayangnya pengelolaan, fasilitas, dan aktivitasnya masih jauh jika dibandingkan dengan yang ada di luar negeri. Ini yang kemudian menjadi latar belakang hadirnya Main Outdoor yang berdiri sejak 2015.

“Malaysia contohnya, mereka mampu mengelola Gunung Kinabalu dengan pelayanan service standar internasional. Sedangkan Indonesia menurut saya fasilitasnya masih sangat minim, itu yang akan kita kembangkan,” ungkap Nur Wahyu.

Padahal, lanjut dia, Potensi keindahan alam Indonesia yang memang tidak perlu diragukan lagi seharusnya bisa memicu banyak orang untuk melakukan pembaharuan dan inovasi di dunia traveling outdoor di Indonesia. “Hal-hal pembaharuan itulah yang menjadi kunci dan semangat kami membangun komunitas Main Outdoor. Agar dunia lebih tahu, Indonesia sangat indah dan memesona,” kata Nur Wahyu seperti dilansir laman Liputan6, Rabu (18/07/2018).

Royal camping atau kemping mewah menurut Nur Wahyu sendiri adalah cara memberikan pengalaman yang berbeda, yang belum pernah ada pada jasa open trip gunung di Indonesia. Pengalaman Nur Wahyu mendaki gunung di dalam dan luar negeri memberikan petunjuk, banyak pendaki yang sebenarnya ingin diberikan layanan berstandar internasional dengan fasilitas mewah dan suasana pendakian yang menyenangkan.

Ini yang kemudian menjadi titik fokus Main Outdoor. “Prau Memukau” adalah bentuk royal camping pertama yang digarap komunitas Main Outdoor. Selain makanan mewah seperti burger, pizza, sushi, dan shabu-shabu, para pendaki yang tergabung dalam royal camping Main Outdoor juga akan merasakan camp pendakian yang mirip bar dan kafe.

“Pendaki di sini juga akan merasakan suasana basecamp yang fancy, instagramable, yang didekorasi sedemikian rupa hingga mirip seperti suasana di Everest Basecamp,” kata Nur Wahyu.

Untuk merasakan pengalaman mendaki yang seru ini tiap orang perlu merogoh kocek yang tidak murah. Paket Prau Memukau misalnya, Main Outdoor membanderol ongkos Rp 1 juta per orang. Beragam fasilitas telah disediakan, mulai dari arena bermain yang fancy, listrik, wifi, tenda kapasitas 2-6 orang, guide bersertifikat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), porter, hingga beragam acara menarik, mulai dari talkshow bahkan workshop fotografi.

“Kami juga menyediakan alat games dan outbound untuk menghadirkan suasana pendakian yang cair di basecamp, ada dart, hulahup, layang-layang, sampai games outdoor zaman dulu. Aktivitas ini tentu jadi seru kalau dilakukan di gunung,” ungkap Nur Wahyu.

Ke depan Main Outdoor akan terus melebarkan sayapnya ke gunung-gunung yang punya landmark tempat kemping terbaik di Indonesia, seperti di Ranu Kumbolo Gunung Semeru atau Danau Segara Anak di Rinjani.

Yang terpenting bagi Nur Wahyu adalah, semuanya akan bermuara pada bagaimana tiap orang bisa menghargai keindahan alam Indonesia dengan tidak merusak dan membuang sampah sembarang. Jika mencintai gunung, tiap orang akan menjaga dan melestarikan keindahan gunung dengan rasa memiliki dan mengharga apa-apa yang ada di dalamnya.

“Ini yang jadi alasan, mengapa tiap sudut basecamp kami selalu berikan tempat sampah, harapan kami para pendaki sadar untuk menjaga gunung dengan membuang sampah pada tempatnya,” kata Nur Wahyu. (NDY)

Kuba Destinasi Favorit Solo Traveler Wanita

this formate

HAVANA, bisniswisata.co.id: Bertualang seorang diri atau solo traveling adalah mimpi bagi para traveler. Namun tidak semua tempat ramah untuk dikunjungi seorang diri, terlebih bagi para kaum hawa. Belum lama ini sebuah platform pemesanan hotel, Hostelworld, merilis fakta yang cukup mengejutkan. Kuba didapuk sebagai destinasi wisata yang paling favorit untuk kaum hawa.

Mengutip Lonely Planet, Rabu (18/07/2018) dari tahun 2015 hingga 2017 pemesanan tiket yang dilakukan oleh solo traveler ke Kuba meningkat 42 persen. Peningkatan solo traveler perempuan sekitar lima persen jauh lebih besar ketimbang solo traveler pria, yang hanya 40 persen.

Sementara itu untuk di ibu kota, Havana, pertumbuhan solo traveler perempuan sangatlah pesat. Tercatat dari tahun 2016 hingga 2017, meningkat sebanyak 371 persen.

Angka itu langsung menjadikan Kuba sebagai peringkat pertama dalam negara favorit bagi para solo traveler perempuan. “Sangat menggembirakan melihat perkembangan para perempuan melakukan solo traveling,” ujar produk manajer hostelworld, Breffni Horgan, seperti yang dikutip dari Lonely Planet

“Solo traveler tidak hanya sebatas berani melakukan perjalanan seorang diri, tapi poinnya lebih dari itu. Mereka harus membebaskan diri dari belenggu yang mengekang keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar.”

Menurutnya solo traveling harus membuka celah untuk kebudayan dan berbagai aspek kehidupan, sehingga bisa memperluas wawasan bagi para solo traveler. Solo Traveling, ia melanjutkan, berkembang seiring dengan melesatnya teknologi.

Hal itu bisa diamati dari banyak aplikasi yang memudahkan mereka untuk melakukan pemesanan ke destinasi selanjutnya secara daring, sehingga para traveler tidak usah menunggu waktu yang tepat untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru dengan rekan perjalanannya.

Belum lagi banyaknya bidang pekerjaan dengan waktu fleksibel, sehingga membuat mereka bisa menggabungkan antara pekerjaan dan bervakansi. (NDY)

22 Juli 2018, Bandung West Java Marathon 2018

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Bandung kembali menggelar sport tourism bertajuk Bandung West Java Marathon 2018. Marathon yang setiap tahun digelar ini mampu menarik minat 8.000 pelari, mulai dari warga Jawa Barat, luar Jawa Barat, hingga peserta dari luar negeri, beradu lari cepat yang digelar, Minggu 22 Juli 2018.

Sebanyak 8.000 peserta, yang dihimpun dari dua hari waktu pendaftaran saja, terdiri atas 1.200 peserta full marathon, 2.500 peserta half marathon, 2.550 peserta 10 K, dan 1.750 peserta 5 K.

Tahun ini sekitar 14 negara juga ikut, kebanyakan dari Jepang dan Malaysia. Jadi 40% warga Jawa Barat, 60% luar Jabar, tapi secara keseluruhan 90% warga Indonesia, 10% mancanegara. Event ini akan menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Jawa Barat sekaligus salah satu pemicu meningkatkan denyut perekonomian Jabar.

Dengan konsep sport tourism, rute Bandung West Java Marathon 2018 akan melewati berbagai lokasi bersejarah di Bandung. Dengan lokasi start dan finish di Gedung Sate Bandung, pelari akan dibawa berkeliling kota dan melewati Layang Pasupati, Jembatan Pelangi, Gedung Merdeka, alun-alun kota Bandung, dan jalan Braga.

Perlu diketahui, tahun lalu Bandung West Java Marathon dinobatkan sebagai “The Best Half Marathon Race & The Best Medal of The Year”. Dan tahun ini mengusung konsep The Pride of West Java Sports Tourism.

Selain menawarkan suasana alam khas Kota Bandung, Bandung West Java Marathon 2018 juga menawarkan total hadiah yang fantastis, yaitu sebesar Rp 500 juta. Acara ini juga diperbolehkan untuk semua kalangan tidak terbatas oleh umur dan gender dengan 4 kategori yang dipertandingkan, yaitu 5K, 10K, Half Marathon dan Full Marathon. (redaksibisniswisata@gmail.com)

OTA Mulai Gerus Pasar Bisnis Travel Konvensional

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sepuluh tahun lalu, kegelisahan melanda pengusaha agen perjalanan wisata nasional. Pasalnya, mereka meramalkan akan datang era digital yang bakal mendisrupsi model bisnis mereka. Kegelisahan itu akhirnya terbukti. Hari ini ancaman itu kian nyata, dengan bermunculannya online travel agent (OTA) nasional maupun global, seperti Traveloka, Tiket.com, AirBnB dan lainnya, yang menggerus pangsa pasar bisnis travel konvensional.

Kekhawatiran ini lumrah mengingat besarnya pangsa pasar pariwisata di Indonesia. Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2017 ada sekitar 14 juta wisatawan mancanegara (wisman) dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp17 juta (kurs Rp14.155 per dolar AS), keseluruhannya setara Rp238 triliun.

Juga, ada 255 juta wisnus dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp700.000 yang keseluruhannya setara Rp178 triliun. Artinya, nilai pasar industri pariwisata Indonesia secara total mencapai Rp416 triliun.

Jika ditelaah lagi, pangsa pasar ini juga turut diperebutkan oleh OTA. Salah satunya adalah Traveloka yang menawarkan berbagai tiket untuk keperluan liburan mulai dari pesawat, hotel, kereta, hingga atraksi dan berbagai aktivitas lain.

Sejak meluncur pada 2012 lalu, perusahaan kini memiliki lebih dari 40 juta pengguna layanan dan lebih dari 14 ribu mitra hotel. Belum lagi pemian OTA lain, seperti Tiket. com dan TripAdvisory. Secara umum, 81% wisatawan nusantara sudah menggunakan saluran digital (search engine, situs destinasi wisata dan OTA) dalam merencanakan perjalanan mereka.

Apa yang membuat OTA berkembang? Tak bisa dipungkiri, perubahan perilaku wisatawan terutama generasi milenial yang selalu menginginkan kecepatan layanan, kemudahan layanan, dan harga yang murah telah memicu pertumbuhan OTA.

Saking massive-nya, pangsa pasar OTA di Asia pada tahun 2017, termasuk Indonesia, diperkirakan telah mencapai US$146 miliar atau setara 37% dari total pangsa pasar industri pariwisata di Asia sebesar US$392 miliar (menurut riset Phocuswright dan CreditSwiss).

Ketua Umum Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Asnawi Bahar, menyatakan keberadaan OTA secara harga lebih bersaing dan efisien mengancam perusahaan biro perjalanan konvensional. Contoh, keputusan Kementerian Keuangan yang menggandeng Traveloka untuk perjalanan dinas pegawai negeri sipil.

Tekanan dari OTA makin terasa tatkala biro perjalanan wisata konvensional harus bersaing di level harga hotel dan pesawat. AirBnB, Agoda, dan Traveloka biasanyanya melakukan sistem blocking room night, yakni mem-booking 1.000 hotel untuk satu tahun dan dibayar dimuka sehingga secara otomatis akan mendapat special rate. Perusahaan konvensional sulit bersaing karena kurang kuatnya modal.

Alhasil, pangsa pasar ASITA (yang saat ini beranggotakan 7.000 perusahaan) di subsektor hotel hanya tinggal 10%. Kondisi serupa juga terjadi di subsektor airlines. Dengan margin yang makin menipis, kira-kira hanya 2—3%, praktis membuat kebanyakan anggota ASITA tidak menjual tiket pesawat lagi.

Secara umum, anggota ASITA saat ini fokus ke paket tur wisata saja. Anggota ASITA kini memiliki pangsa pasar inbound sekitar 60% dan domestik sekitar 20%. Mereka tidak memaksakan bermain di komponen (tiket pesawat, tiket kapal, tiket kereta, tiket bis, tiket hotel, dan sebagainya) karena ini akan meningkatkan overhead cost.

Komponen-komponen tersebut sangat besar cost-nya, sementara perusahaan konvensional belum memiliki efisiensi operasi yang tinggi. Memang secara rata-rata kenaikan margin (CAGR) tidak terlalu besar, kecuali grup-grup besar yang memilik paket khusus seperti surfing.

“Kami juga tidak bisa berbuat banyak, kalau kami meminta nego harga ke mitra (airlines dan hotel), tapi karena secara kuantitas kami belum besar, mereka pasti memilih ke OTA,” papar Asnawi Bahar.

Menurut Asnawi, setidaknya ada 2 isu krusial yang dihadapi ASITA. Pertama, belum ada level playing field yang sama antara biro domestik dan asing. Dengan adanya pemain digital ditambah biro asing, seperti dari Singapura dan Thailand yang masuk secara bebas ke dalam negeri membawa tamu sendiri— menimbulkan ketidakadilan (unfairness).

“Sementara, biro perjalanan wisata nasional ketika membawa tamu ke luar negeri diharuskan bermitra dengan perusahaan lokal sana. Untuk itu, perlu ada kontrol dari pemerintah dan peningkatan regulasi agar minimal ada prinsip reciprocallity,” jelasnya.

Kedua, perlu ada aturan tata niaga (tarif) yang pro pengusaha lokal. Meski di satu sisi pemerintah punya kepentingan menarik investasi dan meningkatkan wisatawan mancanegara (wisman) demi meningkatkan devisa, bukan berarti perusahaan lokal dikesampingkan.

Apalagi mereka kebanyakan menyasar segmen wisatawan nusantara (wisnus) yang notabene menggerakan perekonomian per daerah dan menciptakan lapangan kerja. Misalnya, saat ini saja ada 8.000 agen perjalanan wisata yang akan segera menjadi anggota ASITA.

Dilanjutkan, jika melihat kontribusi perhotelan dan restoran yang baru sekitar 5% dari PDB Indonesia, sementara negara-negara lain sudah di atas 10%, artinya masih banyak potensi yang harus “dilindungi” dari dominasi asing.

“Ini perlu diatur dengan regulasi yang ketat, agar tidak lebih banyak dimanfaatkan asing. Kami sekarang punya saingan dari Thailand dengan destinasi pantai Puket dan Pattaya. Tak ketinggalan juga China yang membuat destinasi Hainan layaknya Maldives. Hal ini tentu bisa mengurangi wisatawan ke Bali,” tutur Asnawi.

Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa, mengaku pemerintah dalam posisi membantu perusahaan konvensional, mulai fasilitasi pelatihan tour guide, pendampingan sertifikasi profesi, hingga akreditasi usaha pariwisata. Namun, ini saja memang tidak cukup.

Jika ingin tetap bertahan, industri harus mau beradaptasi dan mengikuti perubahan pola perilaku konsumen dan berorientasi pasar. Ada baiknya perusahaan konvensional mempertimbangkan pembuatan divisi digital, digital platform, atau produk dan paket baru yang bisa bersaing. Salah satu caranya dengan berkolaborasi (sharing economy) dan memanfaatkan kapasitas-kapasitas yang tidak terpakai .Yang paling penting adalah inisiatif dan kreativitas.

Padahal. lanjut dia seperti dilansir laman Wartaekonomi, Rabu (18/07/2018), Fungsi asosiasi penting untuk menjadi lead karena mereka paling memahami isu di industri yang mereka jalani. Jangan pasif menunggu pemerintah.

“Kami pun mengapresiasi langkah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) membuat Bookingina.com. Terbayangkah kalau asosiasi (ASITA) sepakat untuk tidak masuk ke salah satu perusahaan digital (OTA) yang sudah ada, namun mereka justru membuat platform digital sendiri?” kata Rizki serius.

Juga disarankan, agar biro konvensional tidak takut membuka destinasi baru. Seperti halnya investor asing yang berani berinvestasi di Wakatobi dan Raja Ampat, meski saat itu akses dan infrastruktur penunjang masih sangat terbatas. Hal itu mereka lakukan karena memiliki passion dan memahami bahwa tindakan seperti itu penting dilakukan mengingat industri ini bersifat jangka panjang.

Di sisi lain, pemerintah membantu mempromosikan ke inbound lewat program Visit Indonesia Wonderful Indonesia (VIWI). Kemudian, pemerintah juga menginventarisasikan regulasi apa atau deregulasi apa yang dibutuhkan agar eksistensi bisnis konvensional dapat terjaga. Kemenpar bersama Kemenkominfo dan Kemenkeu secara intensif terus mengkaji skema pengenaan pajak atau insentif kepada OTA agar industri ini bisa sustainable bagi semua pihak.

Meski kehadiran OTA menggerogoti pendapatan biro perjalanan wisata konvensional, bukan berarti pangsa pasar paket wisata meredup. Buktinya, PT Panorama Sentrawisata Tbk yang berhasil mempertahankan pertumbuhan rata-rata gross margin (sales) sebesar 14% dalam 5 tahun belakangan, di tengah massive-nya kehadiran OTA. Tahun 2017 saja, perusahaan membukukan kenaikan penjualan sebesar 9,4% dari Rp4,7 triliun pada 2016 menjadi Rp5,2 triliun pada 2017.

VP Brand & Communication Panorama Group, AB Sadewa, menilai bahwa kuncinya ada pada fokus ke core business. Pada tahun 2015, perusahaan menyadari bahwa margin mulai tergerus perusahaan OTA. Namun, perusahaan memutuskan untuk fokus ke program paket tur yang bermargin tinggi dan memang pasarnya ada.

“Kami harus membenarkan posisi duduk. Kami bukanlah OTA sehingga sampai kapan pun tidak akan dapat mengejar mereka. Beberapa ceruk mungkin diambil, tetapi kalau bicara segmen corporate, kami masih kuat,” ujarnya.

Produk paket tur bermargin tinggi itu berupa pengalaman baru. Misalnya, Panorama pernah membawa customer-nya ke Jogjakarta dengan menyajikan pengalaman gala dinner di situs Candi Prambanan. Kemudian, perusahaan juga membawa 2.000 wisatawan dalam perjalanan insentif ke Paris dan menghadirkan pengalaman gala dinner dengan salah satu artis pengisi soundtrack film The Greatest Showman. Atau, membawa wisatawan ke negara lain dengan pengalaman berbeda, bahkan hingga menikmati gala dinner di atas dek kapal perang USS Missouri.

Program-program ini dikembangkan oleh divisi khusus incentive house yang khusus menyasar segmen program reward kepada karyawan dalam bentuk perjalanan wisata. “Ini memerlukan relasi dengan airlines, hotel, industri entertainment, dan pengetahuan destinasi yang bagus,” kata AB Sadewa.

Panorama sengaja memperbesar porsi customer korporasi mengingat pertumbuhan business trip ke depan tidak terelakkan. Retail pun pada satu masa ketika seseorang menempati posisi top manajemen, umumnya menyerahkan proses pemesanan tiket lewat sekretaris pribadi yang ujungujungnya bisa di-grab dengan brand acknowledgement yang kuat. Lalu, pensiunan yang umumnya senang melakukan wisata untuk mencari teman baru.

Sejak awal Panorama telah melakukan diversifikasi usaha , antara lain mencakup inbound (50% didominasi wisman Eropa), lalu travel & leisure (domestik), Media & MICE (business trip dengan spending yang lebih tinggi), hospitality, serta transportasi yang kini didukung dengan digitalisasi.

“Dengan adanya berbagai pilar ini, kami jadi lebih kuat. Ketika dolar menguat, dari sisi leisure mungkin menurun, tapi inbound naik. Atau misalnya disruptive Gojek terhadap taksi milik kami, ini bisa terkompensasi dari sektor busnya sehingga menciptakan semacam ekosistem yang menyatu,” kata Sadewa.

Corporate Secretary P T Panorama Sentrawisata Tbk, Karsono Probosetio, menyatakan bahwa untuk menyikapi perubahan perilaku konsumen, khususnya generasi milenial, perusahaan meluncurkan TurEZ. Pada dasarnya perusahaan menawarkan paket tur dengan harga lebih terjangkau dan kostumisasi jadwal kegiatan, misalnya di hari kedua customer diberi pilihan free program.

Namun, harus diakui bahwa ada tantangan tersendiri untuk memperbesar pengeluaran wisnus. Mengingat gross margin perusahaan mayoritas (70% lebih) ditopang dari bisnis travel & leisure (domestik), perusahaan selalu mengembangkan produk atau experience baru agar customer semakin loyal. Misalnya, ketimbang menawarkan paket wisata Jogja atau Bali, dipilihlah paket wisata Raja Ampat, Derawa, Labuan Bajo, dan sebagainya.

“Jadi, jawabannya adalah membuka destinasi dan experience baru. Namun, ada dua tantangan yang kami hadapi, yakni meningkatkan distribution channel dan meningkatkan keterampilan SDM,” kata Karsono. (WEO)

CEO Skytrax: Luar Biasa, Garuda Sabet Lagi The Worlds Best Cabin Crew

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  Awak kabin maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia untuk kelima kalinya kembali dinobatkan sebagai The World’s Best Cabin Crew oleh Skytrax, sebuah lembaga independen pemeringkat penerbangan yang berkedudukan di London, Inggris.

CEO Skytrax, Edward Plaisted, mengatakan, penghargaan “World’s Best Cabin Crew” ini merupakan salah satu predikat yang paling bergengsi dalam dunia penerbangan.

“Keberhasilan Garuda Indonesia dalam mempertahankan predikat ini selama lima tahun berturut-turut merupakan suatu hal yang luar biasa. Garuda Indonesia telah membuktikan wujud konsistensi dalam memberikan kesempurnaan dalam pelayanan kepada seluruh penumpang” tambah Edward.

Penganugerahan penghargaan tersebut dilakukan langsung CEO Skytrax Edward Plaisted kepada Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury, pada acara Skytrax World Airline Awards 2018 yang dilaksanakan di Langham Hotel, London hari ini.

Acara bersamaan dengan ajang pameran kedirgantaraan Farnborough International Airshow 2018 di Inggris, Selasa (17/6). Turut juga menyaksikan pemberian penghargaan tersebut Direktur Layanan Garuda Indonesia, Nicodemus P. Lampe.

“Penghargaan sebagai World’s Best Cabin Crew ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Garuda Indonesia karena menjadi  satu-satunya maskapai penerbangan dunia yang berhasil mempertahankan predikat “The World’s Best Cabin Crew” selama lima tahun berturut-turut sejak tahun 2014 lalu,” ungkap Pahala N. Mansury, Dirut Garuda Indonesia.

Menurut Pahala, apresiasi tersebut sangat berarti ditengah beragam tantangan kinerja operasional yang dihadapi perusahaan. Garuda Indonesia berhasil membuktikan komitmennya dengan terus meningkatkan standar kualitas layanan awak kabin terbaik yang diakui dunia.

Penghargaan ini juga merupakan bukti nyata dari komitmen karyawan khususnya para awak kabin yang telah mempresentasikan layanan terbaik Garuda Indonesia Experience kepada seluruh pengguna jasa.

Apresiasi ini sekaligus juga menjadi tantangan karena mempertahankan predikat ini tentunya akan lebih sulit,  tambah Pahala.

Penetapan Garuda Indonesia sebagai “The World’s Best Cabin Crew 2018” tersebut didasarkan pada penilaian melalui “Customer Satisfaction Survey” yang dilaksanakan oleh Skytrax secara global yang melibatkan lebih dari 18 juta penumpang.

Survei dilaksanakan terhadap lebih dari 245 perusahaan penerbangan internasional, dan diselenggarakan setiap tahunnya dengan mengukur 41 aspek utama terkait produk dan layanan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia Rizal Sukma mengatakan bahwa penghargaan ini adalah sebuah prestasi yang benar-benar istimewa.

“Pencapaian penghargaan yang  ke 5 kali berturut-turut, untuk bidang yang sama, menunjukkan keberhasilan Garuda Indonesia dalam menjaga  pelayanan terbaik kepada pada pelanggan”, kata Rizal Sukma.

Hal Ini juga bukti bahwa Garuda berprestasi dalam menunjukkan citra utama bangsa Indonesia, yakni keramahtamahan,” tegas Rizal.

Selain meraih “World’s Best Cabin Crew” untuk kelima kalinya, melalui ajang penghargaan Skytrax tersebut, Garuda Indonesia turut mempertahankan capaian sebagai Top 10 World’s Best Airline.

Adapun keseluruhan pencapaian pada ajang Skytrax Awards tersebut turut melengkapi pengakuan dunia terhadap Garuda Indonesia yang sebelumnya juga berhasil mempertahankan status sebagai maskapai bintang lima yang didapatkan melalui proses audit independen secara menyeluruh terhadap kinerja dan kualitas layanan Garuda Indonesia.

Masih dalam bulan yang sama, sebelumnya , pada 11 Juli lalu Garuda Indonesia beserta anak usahanya, Citilink Indonesia juga berhasil meraih penghargaan “TripAdvisor 2018 Travelers Choice Awards” yang diselenggarakan oleh TripAdvisor – situs perjalanan terkemuka di dunia.  

Untuk kedua kalinya Garuda Indonesia kembali dinobatkan sebagai maskapai penerbangan terbaik di Indonesia, sementara Citilink Indonesia, anak perusahaan Garuda Indonesia yang bergerak di lini layanan Low Cost Carrier mendapatkan penghargaan sebagai “Best Low Cost Airlines – Asia” untuk pertama kalinya.



Hotel Transylvania 3 Rajai Box Office

this formate

LOS ANGELES, bisniswisata.co.id: Film Hotel Transylvania 3: Summer Vacation, merajai box office Amerika Utara sepanjang akhir pekan kedua Juli 2018. Film produksi Sony Pictures Animation, mampu menghasilkan US$ 44,1 juta atau sekitar (Rp 634,1 miliar), dari penayangan di 4.267 layar bioskop.

Pendapatan itu sesuai diharapkan rumah produksi sebelumnya. Film dengan bujet US$ 80 juta ini, berhasil menuai sukses seperti kedua pendahulunya. Diketahui, debut perdana Hotel Transylvania (2012) di Amerika Utara, menghasilkan US$ 42,5 juta, atau sekitar (Rp 611,1 miliar), dengan total pendapatan global sekitar US$ 358,4 juta, atau sekitar (Rp 5,1 triliun).

Tiga tahun kemudian, Hotel Transylvania 2 membukukan pendapatan sekitar US$ 48,5 juta, atau sekitar (Rp 697,4 juta) pada penayangan perdananya. Sementara penghasilan global film tersebut mencapai US$ 473,2 juta, atau (Rp 6,8 triliun).

Setelah itu, hadirlah kembali Hotel Transylvania 3: Summer Vacation yang mulai tayang pada 13 Juli 2018 dengan pendapatan global senilai US$ 100,1 juta, atau sekitar (Rp 1,4 tiliun). Tentu, pendapatan ini pun merupakan sebuah pencapaian yang cukup memuaskan untuk Sony.

“Kami sangat senang. Kami berhasil mengambil slot No. 1 akhir pekan ini dengan jumlah kompetisi yang luar biasa,” ungkap Presiden Distribusi Global Sony, Josh Greenstein, seperti dikutip dari Variety, Rabu (17/07/2018).

“Ada tantangan ketika pindah dari bulan September ke musim panas. Tetapi konsep film kami monster berlibur merupakan cara multi-generasi yang benar-benar berfungsi untuk musim ini.” sambungnya.

Sementara itu, Sony tampaknya berambisi mengantarkan Hotel Transylvania 3: Summer Vacation mengejar kesuksesan Incredibles 2 yang dirilis Disney-Pixar pada 15 Juni silam. Film animasi-superhero itu memang mencatatkan prestasi memukau di Amerika Utara dengan pendapatan mencapai US$ 535 juta, atau sekitar (Rp 7,9 triliun).

Di lain pihak, seperti yang diprediksi dari jauh hari, film Skyscraper yang dibintangi Dwayne ‘The Rock’ Johnson akan gagal memimpin box office pada minggu pertama penayangan. Diketahui, film ini hanya mampu mengumpulkan US$ 25,4 juta atau sekitar, (Rp 365,2 miliar) dari 3.782 layar bioskop. Angka itu sebenarnya di bawah proyeksi semula yang digadang-gadang mencapai US$ 33-40 juta.

The Hollywood Reporter menganalisis bahwa, hal tersebut dikarenakan frekuensi The Rock tampil di layar lebar pada tahun ini membuat pasar jenuh padanya. Inilah alasan proyeksi pendapatan Skyscraper tak terlalu agresif.

Sekadar informasi, The Rock merilis Jumanji: Welcome to the Jungle pada Desember 2017, dengan total pendapatan mencapai USD 961,8 juta di seluruh dunia. Kemudian, Rampage film laga-petualangan yang diperankannya kembali dilepas ke pasaran pada 13 April 2018.

Dengan demikian, Skyscraper berada di urutan ketiga box office. Sementara posisi kedua diisi oleh Ant-Man and the Wasp yang diproyeksikan mengalami penurunan pendapatan sebesar 62 persen, menjadi US$ 28,8 juta, atau sekitar (Rp 414,1 juta). Sejak debut pada 6 Juli 2018, Ant-Man and the Wasp telah membukukan pendapatan global sebesar US$ 283,7 juta, atau sekitar (Rp 4 triliun).

Sedangkan di posisi ke empat dan ke lima, diisi oleh Incredibles 2 dan Jurassic World: Fallen Kingdom. Masing-masing ke duanya mendapatkan penghasilan sebesar US$ 16,2 juta, atau setara dengan (Rp 232,9 miliar) dan US$ 15,5 juta, atau sama dengan (Rp 222,8 miliar).

10 film box office:

1. Hotel Transylvania 2 – US$ 44,1 juta
2. Ant-Man and the Wasp – US$ 28,8 juta
3. Skycraper – US$ 25,4 juta
4. Incredibles 2 – US$ 16,2 juta
5. Jurassic World: Fallen Kingdom – US$ 16,2 juta

6. The First Purge – US$ 9,1 juta
7. Sorry to Bother You – US$ 4,2 juta
8. Sicario: Day of the Soldado – US$ 3,8 juta
9. Uncle Drew – US$ 3,2 juta
10. Ocean’s 8 – US$ 2,9 juta

Kakek Penumpang Batik Air Ngaku Bawa Bom

this formate

KUPANG, bisniswisata.co.id: Seorang kakek berinisial ES (62), penumpang Batik Air ID6541 rute Kupang-Jakarta mengaku mambawa bom di dalam kabin pesawat jenis Boeing 737-800NG. Pengakuan ini mendapat reaksi cepat dari petugas Bandar Udara Internasional Eltari Kupang. Saat itu juga sang kakek diamanankan, pesawat diperiksa sehingga mengalami delay pemberangkatan.

“Saat itu pesawat membawa tujuh kru serta 148 penumpang. Setelah menjalani pemeriksaan intensif dan Kaek ES (62) yang sesuai boarding pass duduk di kursi 6A, langsung diturunkan dari pesawat,” papar Corporate Communication Batik Air, Danang Mandala Prihantoro, dalam keterangan tertulis, Selasa (17/7/2018).

Pesawat itu sedianya berangkat dari Kupang, NTT pada pukul 08.01 WITa tadi pagi. Namun pesawat beru diberangkatkan pukul 09.44 WITa dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 11.15 WIB.

Dijelaskan, Batik Air terapksa melakukan pemeriksaan ulang terhadap seluruh penumpang dan barang bawaannya sesuai dengan prosedur keamanan penerbangan. Namun tak ditemukan adanya benda mencurigakan dari proses pengecekan ulang tersebut. Dan, ES berikut bagasi dan barang bawaannya diserahkan kepada avsec dan pihak berwenang untuk dilakukan proses lebih lanjut.

Dijelaskan, langkah penurunan penumpang ngaku bawa bom serta melakukan delay hanya untuk menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan. Bahkan, kru pesawat yang bertugas menjalankan prosedur tindakan menurut standar penanganan ancaman bom (standard security bomb threat procedures).

Juga, untuk lebih memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan, seluruh penumpang, barang bawaan dan bagasi dilakukan pengecekan ulang (screening). “Jadi Batik Air meminimalisir dampak yang timbul dari keterlambatan penerbangan ID6541, agar operasional Batik Air lainnya tidak terganggu,” jelasnya.

Dihimbau seluruh pelanggan maupun masyarakat agar tidak menyampaikan informasi palsu, bergurau, bercanda, atau mengaku bawa bom di bandar udara dan di pesawat. Karena ucapan itu mengacu pada Pasal 437 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan), “semua yang terkait informasi bom baik sungguhan atau bohong”, merupakan tindakan melanggar hukum, akan diproses dan ada sanksi tegas oleh pihak berwajib. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Tarian Kolosal Asian Games Libatkan 6.000 Talent

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dalam hitungan bulan, ajang Asian Games ke-18 akan segera diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Asian Games ke-18 akan dibuka dengan sebuah pertunjukan kolosal sebagai bukti kepada dunia bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar dan mampu menyelenggarakan sebuah event berskala internasional.

Pada pelaksanaannya nanti, acara tersebut akan melibatkan sekitar 6.000 orang yang terdiri dari artis, musisi, penari, tim kreatif, teknisi, dan produksi. Menariknya, usia dari pengisi acara pada pembukaan ini sangat beragam, yakni dari yang termuda sembilan tahun hingga yang tertua 77 tahun.

Pertunjukan megah ini memiliki konsep yang akan memperlihatkan ragam budaya Indonesia namun tetap mengusung persatuan. “Pembukaan Asian Games 2018 merupakan sebuah momen bersejarah bangsa ini dan sebuah pengalaman yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup,” tutur Erick Thohir, Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 dalam keterangan tertulis, Selasa (17/07/2018).

Pembukaan Asian Games 2018, lanjut dia, diperkirakan disaksikan miliaran penonton di penjuru dunia, dengan menampilkan artis Indonesia kelas atas, seperti Anggun, Raisa, Tulus, Edo Kondologit, Putri Ayu, Fatin, GAC, Kamasean, dan Via Vallen sehingga menambah kemeriahan pembukaan Asian Games 2018 di hadapan lebih dari 42 ribu penonton secara langsung.

Para artis pengisi acara akan tampil di atas sebuah panggung yang spektakuler, yang merupakan salah satu yang terbesar dan tertinggi dibandingkan acara sejenis. Panggung dengan ukuran panjang 120 meter, lebar 30 meter, serta tinggi 26 meter tersebut akan bernuansa pemandangan gunung yang besar dan dilengkapi dengan berbagai tumbuhan flora ciri khas Indonesia yang cantik.

Panggung tersebut diisi dengan lebih dari 12.775 tanaman dan bunga, serta area tanaman tambahan yang mencakup lebih dari 1.350 meter persegi. Panggung yang dibuat secara manual oleh pengrajin yang berada di Bandung dan Jakarta ini akan dipenuhi oleh total 4.000 penari arahan koreografer handal, Denny Malik dan Eko Supriyanto.

Kedua koreografer papan atas tersebut berkomitmen untuk mengutamakan sendratari lokal dari semua daerah di Indonesia yang dipadukan dengan gerakan moderen. Ribuan penari itu berasal dari masyarakat di Jakarta usia 18 hingga 45 tahun. Penari diambil dari para pendaftar dan melibatkan ragam usia untuk ikut serta dalam ajang multi cabang olahraga se-Asia.

“Dalam Opening Ceremony, sangat penting bagi kami untuk menampilkan keindahan alam dan keragaman budaya Indonesia. Kami berkolaborasi dengan musisi, tim kreatif, dan tim produksi terbaik di Indonesia. Ini penting untuk memperkuat rasa bangga dan cinta kita terhadap bangsa, sehingga kita mampu untuk menunjukkanya kepada dunia,” ujar Creative Director Opening Ceremony Asian Games 2018 Wishnutama, seperti dilansir laman Marketeers.

Penari yang telah berlatih berbulan-bulan tersebut akan tampil diiringi oleh ratusan pemusik di bawah arahan Addie MS dan Ronald Steven, seniman musik yang sudah tak asing lagi di Indonesia. (redaksi@bisniswisata.co.id)

21 – 29 Juli 2018, Erau Adat Kutai & International Folk Arts Festival

this formate

TENGGARONG, bisniswisata.co.id: Kutai Kartanegara kembali menggelar event budaya Indonesia yang dipadukan dengan penampilan grup kesenian dari mancanegara. Event itu bertajuk “Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival” (EIFAF 2018) yang berlangsung di Tenggarong, Kutaikartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim), pada 21 hingga 29 Juli 2018.

EIFAF menjadi magnet yang kuat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kukar. Sekaligus festival ini menjadi jendela dunia untuk mengenal Indonesia. Memang selama ini, Kutai Kertanegara memiliki potensi besar untuk pariwisata dengan keindahan alamnya. Dan kehadiran Festival ini adalah perhelatan budaya, karena itu tagline nature, culture, dan adventure tepat untuk pariwisata Kukar.

Kegiatan ini sudah menjadi Kalender Event Pariwisata Nasional, diselenggarakan setiap tahun pada pekan ketiga dan keempat bulan Juli. Dipilihnya akhir Juli karena masa-masa puncak liburan wisatawan dalam dan luar negeri.

Selama 8 hari penuh, festival ini akan disorot dengan berbagai atraksi menarik termasuk Parade Budaya Internasional. Parade akan menampilkan kostum tradisional dari negara-negara peserta, sejumlah upacara tradisional Kutai Kartanegara yang menarik, pesta rakyat tradisional Beseprah, dan ritual Belimbur. Ritual Belimbur adalah para peserta saling menyiram dengan air yang diambil dari Sungai Mahakam.

Festival ini akan mencapai puncaknya pada hari terakhirnya dengan tradisi Mengulur Naga yang menggairahkan. Mengikuti tradisi ini, sepasang replika naga besar akan diarak di kapal menyusuri sungai. Naga akan dilepaskan di Kutai Lama. Sebuah legenda rakyat mengatakan tempat ini adalah sarang naga.

Setelah diluncurkan, orang berkompetisi untuk meraih sisik naga yang diyakini membawa keberuntungan. Ada pameran seni dan kerajinan tangan, berbagai lomba, lomba perahu naga, lomba perahu Ketinting, pertunjukan seni jalanan, dan banyak lagi.

Erau Adat Kutai yang meraih penghargaaan Festival Budaya Terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016, berasal dari bahasa Kutai. Yaitu Eroh yang berarti ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai riuh tersebut dalam arti banyaknya kegiatan kelompok orang yang punya hajat dan bermakna sakral, ritual, maupun hiburan.

Acara akan diawali dengan gelaran Kirab Budaya Internasional pada hari 21 Juli 2018. Kemudian pada hari 22 Juli, akan dilakukan upacara adat Mendirikan Ayu oleh pihak Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura sebagai tanda dimulainya Erau.

Usai upacara Mendirikan Ayu, dilanjutkan kegiatan seremoni pembukaan EIFAF 2018, di Stadion Rondong Demang, Tenggarong. Sedangkan penutupan Erau atau EIFAF 2018 akan dilaksanakan pada 29 Juli 2018 yang ditandai dengan upacara adat Mengulur Naga dan Belimbur.

Nah, yang tak kalah menarik adalah International Folk Arts Festival yang melibatkan grup-grup kesenian rakyat mancanegara. EIFAF juga tercatat sebagai salah satu dari ratusan event International Folk Arts Festival di dunia dibawah bendera CIOFF dunia yang bermarkas di Paris, Perancis.

Delegasi yang akan hadir berasal dari sembilan grup yaitu, Bulgaria, Slovakia, Polandia, China Taipei, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan India, serta delegasi kesenian Negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika. Kehadirannya berkat kerjasama dengan Duta Besar Republik Seychelles untuk ASEAN.

Delegasi Kesenian Rakyat Mancanegara tersebut akan tampil satu panggung bersama kelompok-kelompok Kesenian Daerah. Seperti dari Yogyakarta, Gunung Kidul, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Sijunjung. Serta sekitar 93 grup kesenian daerah dan paguyuban Kutai.

Di luar Keraton, aktivitas lainnya untuk Upacara Erau Adat Kutai seperti Kirab Budaya Internasional, Panggung Seni, berbagai macam lomba tradisional. Erau Expo, Festival Kuliner dan Beseprah, tradisi makan bersama duduk bersila yang dilaksanakan di jalan utama sepanjang 1 km bersama masyarakat.

Tenggarong terletak sekitar 47 Km atau satu jam lebih perjalanan dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Samarinda dapat dicapai menggunakan jalur udara di Bandara Sepinggan di Kota Balikpapan. Dari Balikpapan, tersedia penerbangan harian ke Samarinda yang dilayani oleh KalStar dan Susi Air.

Ada sejumlah penginapan dan hotel sederhana di Tenggarong. Namun untuk pilihan akomodasi yang lebih luas Anda bisa menginap di hotel di Samarinda. Jangan lupa, bila sudah di Tenggarong, luangkan waktu untuk mengunjungi sejumlah objek wisata di dekatnya. Seperti Museum Mulawarman (Kesultanan Kutai), Pulau Kumala, dan Taman Nasional Kutai. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Libur Tengah Tahun, Bali Tujuan Favorit Wisatawan Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Agoda, platform pemesanan perjalanan online melakukan riset terkait data pemesanan tujuan wisata untuk periode Juni hingga Agustus 2018 di penjuru Indonesia. Hasilnya, Bali, dengan sederet festival tengah tahunnya telah muncul sebagai tujuan utama bagi wisatawan Indonesia.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Selasa (17/07/2018), sebut saja Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diadakan setiap tahun pada Juni hingga Juli. Selama sebulan penuh, tarian, musik, dan ekspresi seni Bali yang terbaik dipamerkan di Taman Budaya – Art Center, Denpasar.

Lalu Festival Layang-layang Bali (Juli-Oktober) yang akan menghiasi langit dengan ratusan kreasi layang-layang warna-warni, serunya balap kerbau dalam tradisi Makepung (Juli-November), hingga pesta terbesar bagi sastrawan di Ubud Writer Festival (Oktober), yang membuat para pelancong memiliki banyak alasan untuk terus kembali ke Bali.

Seemtara Kota Bandung muncul di posisi kedua dalam destinasi utama wisatawan Indonesia. Sebagai tempat wisata di Jawa Barat favorit warga Jakarta, lembah kota Bandung terkenal dengan pusat belanja distro dan tempat kuliner Sunda.

Sedangkan untuk destinasi wisata luar negeri, Jepang menjadi pilihan utama, dengan Tokyo (#3) dan Osaka (#9) sebagai tujuan favorit. Festival Musim Panas Tokyo Ueno (Juli hingga Agustus) menjadi salah satu acara yang menarik banyak pengunjung dengan upacara Toro Nagashi (lentera) yang memesona, pameran patung es di luar ruangan, dan pertunjukan di teater terbuka Suijo Ongakudo.

Sementara Tenjin dan Gion Matsuri adalah dua festival paling menarik yang digelar di Osaka pada bulan Juli. Kota-kota cantik di kawasan Asia Tenggara yang juga menjadi pilihan wisata warga Indonesia adalah Singapura (#4), Kuala Lumpur (#5) dan Bangkok (#7).

Inilah hasil survey Agoda terhadap 10 Destinasi Wisata Tengah Tahun yang dikunjungi turis dari Indonesia. Peringkat Destinasi:

1. Bali
2. Bandung
3. Tokyo
4. Singapura
5. Kuala Lumpur

6. Yogyakarta
7. Bangkok
8. Jakarta
9. Osaka
10. Malang
(redaksibisniswisata@gmail.com)