Harga Tiket Garuda Meroket, Pesawat Low Cost Carier Diuntungkan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meroketnya harga tiket pesawat kelas premium dinilai menguntungkan pesawat low cost carier atau berbiaya rendah. Bahkan kondisi tersebut akan menciptakan persaingan harga dengan burung besi asing. Peningkatan harga tiket pesawat pada 2019 oleh pesawat seperti Garuda Indonesia akan lebih menguntungkan Lion Air hingga Air Asia.

“Sejak Kerja Sama Operasi (KSO) antara Garuda, Citilink dan Sriwijaya, harga tiket berubah lebih tinggi. Kenaikan setidaknya terjadi hampir di semua pesawat termasuk Lion Air. Hanya, harga pesawat low cost carier tersebut masih paling ekonomis dibandingkan dengan lainnya,” papar Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Asnawi Bahar, Jumat (11/1/2019).

Dilanjutkan, Garuda dengan beraninya hanya membuka dua kelas yang Q class dan B class. Sementara harga di bawah itu sudah dihapus. Promo sudah tidak ada lagi. Mereka akan menerapkan tiga sistem yaitu premium, menengah, dan low cost carier.

Selain itu, sambung dia, kenaikan harga tiket domestik bakal mengundang persaingan ketat dengan maskapai asing seperti Air Asia. Pasalnya pesawat tersebut masih memberikan penawaran harga ekonomis di lintas negara.

Hal ini turut mendorong wisatawan lebih banyak ke luar negeri menuju negara-negara dengan standar hidup mirip dengan Indonesia seperti Malaysia dan Thailand. “Kami meminta pemerintah memberi perhatian terhadap kondisi ini,” lontar Asnawi seperti dilansir Bisnis.com

Saat ini pesawat Garuda tengah mengalami banyak kekosongan penumpang. Utilitas yang tidak dimanfaatkan ini menurutnya perlu menjadi perhatian kementerian terkait diakibatkan kenaikan harga.

“Kita juga akan dihadapi dengan tahun politik yang mempengaruhi tren wisman. Kalau sedikit ada kericuhan akan berpengaruh pada wisman. Tahun ini berbahaya karena target Pak Jokowi 20 juta wisatawan dengan target devisa US$20 miliar,” terangnya.

Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat sejak awal 2019 dikhawatirkan akan mengancam destinasi wisata domestik. Bahkan kondisi ini dikhawatirkan akan memikat masyarakat memilih berlibur ke luar negeri lantaran biaya yang dikeluarkan cenderung murah.

Tahun ini, ASITA melihat kecenderungan tentang kegiatan pariwisata masyarakat akan lebih banyak ke luar negeri dari pada domestik. “Karena saya melihat kecenderungan harga tiket di dalam negeri yang hari ini semakin mahal. Sehingga tren wisata ke luar negeri akan lebih meningkat pada 2019,” ungkapnya.

Setidaknya menurut Asnawi ada dua alasan kondisi tersebut terjadi. Pertama karena gonjang ganjing politik dan kedua akibat harga tiket domestik yang tinggi. Menurutnya, saat ini maskapai plat merah seperti Garuda Indonesia misalnya menerapkan harga cukup tinggi. Sementara tiket ke luar negeri cenderung murah atau bertahan.

Saat ini berdasarkan informasi yang diterima, penerbangan pesawat tersebut mulai menyisakan banyak kursi kosong. Peningkatan harga tiket pesawat diperkirakan turut mempengaruhi kualitas wisata seseorang. Dengan kenaikan ini, pelancong akan mengurangi berbagai hal saat berlibur seperti mengurangi masa liburan, menurunkan kelas penginapan dan semakin minim berbelanja oleh-oleh, ucapnya.

“Ini akan berbahaya bagi UMKM di daerah. Wisatawan hanya akan mengutamakan makan, mengunjungi daerah wisata namun tidak membeli oleh-oleh. Kalaupun membeli oleh-oleh persentasenya jauh turun. Ini membahayakan industri UMKM,” terangnya.

Di tempat terpisah, Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Irwan Prayitno menyurati dua grup maskapai yang melayani penerbangan domestik Garuda Indonesia Grup dan Lion Air Grup, terkait dengan harga tingginya lonjakan harga tiket rute Jakarta–Padang.

“Dalam surat itu, kami ingin agar dilakukan normalisasi harga tiket, sehingga tidak memberatkan penumpang, dan tentu saja memberatkan pengembangan pariwisata daerah. Sudah banyak sekali keluhan yang masuk ke kami. Pengusaha tour juga mengeluh karena dampaknya juga besar terhadap sektor pariwisata,” ujar Irwan.

Menurutnya, permintaan serupa sudah beberapa kali dilayangkan saat harga tiket pesawat ke daerah itu melonjak tinggi, yaitu saat momen Ramadan dan Lebaran. Meski belum memasuki Lebaran harga tiket sudah melambung tinggi, dan menyulitkan masyarakat pengguna jasa penerbangan. “(surat) sudah beberapa kali dikirimkan pada maskapai, tetapi tidak ada tanggapan. Kewenangan Pemprov Sumbar tidak bisa mengurus langsung persoalan tiket,” katanya.

Irwan mengakui harga tiket yang diterapkan manajemen Garuda Indonesia dan maskapai lainnya masih berada dalam harga batas atas sesuai aturan. “Garuda Indonesia Rp1,9 juta one way, memang masih dalam range batas atas. Tapi harga itu menjadi acuan bagi maskapai lainnya untuk menetapkan tariff, sehingga semuanya jadi mahal,” ujar Irwan.

Selain harga tiket yang tinggi, Irwan juga mengkritisi kebijakan maskapai yang menerapkan bagasi berbayar, yang akan berdampak terhadap lesunya sektor pariwisata setempat. “Kebijakan bagasi berbayar itu akan mendorong wisatawan enggan berbelanja oleh-oleh karena harus membayar lebih untuk bagasi. Dampaknya, transaksi UMKM di sekitar objek wisata diyakini bakal berkurang,” ungkapnya.

Padahal, pengaruh langsung sektor pariwisata bagi kesejahteraan masyarakat adalah dengan adanya transaksi jual beli yang dilakukan wisatawan terhadap produk lokal di sekitar objek wisata.

Harga tiket pesawat rute Jakarta–Padang saat ini yang dijual melalui situs penjualan online untuk Senin (14/1/2019), misalnya tiket Garuda Indonesia dijual pada kisaran Rp2 juta. Lion Air dijual Rp1,15 juta, Batik Air Rp1,27 juta, Citilink Indonesia Rp1,31 juta dan maskapai Sriwijaya Air Rp1,31 juta. Padahal normanya harga tiket untuk rute tersebut hanya dijual berkisar Rp550.000 hingga Rp1,2 juta. (EP)

Suhu Udara di Bali Tinggi, Wisatawan Kepanasan

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Suhu Udara di sekitar Denpasar Bali Beda beberapa hari ini, terasa sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Suhu udara terasa panas menyengat yang dirasakan masyarakat maupun wisatawan yang menikmati liburan di Pulau Dewata. Fenomena suhu panas di Bali dipastikan tidak terkait dengan aktivitas Gunung Agung.

“Berdasarkan pantauan kami di beberapa lokasi stasiun pengamatan cuaca di Bali dalam beberapa hari terakhir, memang ada sedikit peningkatan suhu udara khususnya suhu udara maksimum dan minimum harian,” jelas Kepala Sub Bagian Hubungan Pers dan Media Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Akhmad Taufan Maulana.

Kenaikan suhu ini, sambung dia, tidak terpengaruh aktivitas Gunung Agung, melainkan karena faktor lain yaitu saat posisi matahari berada di selatan garis ekuator pada bulan Januari. Akibatnya, daerah-daerah yang berada di sebelah selatan equator termasuk Bali akan terasa lebih panas.

Selain itu, posisi matahari menyebabkan cuaca akhir-akhir ini yang cenderung cerah berawan pada siang hari di beberapa wilayah Bali. Hal tersebut juga membuat wilayah tersebut mendapat panas yang lebih banyak akibat sedikitnya awan yang menghalangi panas yang dipancarkan matahari.

“Pada malam hari cuaca cenderung berawan sehingga panas yang harusnya dilepaskan oleh permukaan daerah setempat tertahan oleh awan yang menyebabkan suhu semakin hangat pada malam hari jika dibandingkan pada saat tidak ada awan,” ucapnya seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (11/01/2019).

Menurut catatan BMKG suhu udara maksimal hari ini di Bandara Ngurah Rai sekitar 32 derajat Celcius, lebih panas dari suhu normalnya 30,9 deraja Celcius. Sedangkan suhu di daerah Snaglah dan Negara berkisar antara 34-35 derajat sementara suhu normalnya berada di kisaran 30,9-32 derajat.

Untuk itu, BMKG menghimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Selalu pantau informasi resmi yang bersumber dari BMKG baik melalui kanal resmi, aplikasi maupun sosial medianya yakni Instagram, Twitter (@infoBMKG), dan website (www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id). (EP)

Alcor MICE Akan Selenggarakan IIME di Mal Kasablanka

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kegiatan  Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) diyakini bisa berkontribusi sedikitnya 2 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia dari target 20 juta wisman yang ditetapkan pemerintah tahun ini.

“Pemerintah menetapkan target sebanyak 2 juta wisatawan MICE yang akan berkunjung ke Indonesia pada tahun ini dan devisa US2,5 miliar” kata Jim Tehusijarana, Direktur Alcor Prime saat jumpa pers rencana penyelenggaraan Indonesia International MICE Expo (IIME) di Jakarta, hari ini.

Alcor Prime sebagai pemilik venue The Kasablanka bersama akan menyelenggarakan IIME lewat anak perusahaannya, Alcor MICE, yang akan dilaksanakan di The Kasablanka Hall mall Kota Kasablanka Jakarta, 2-3 Mei 2019 bekerjasama dengan RajaMICE yang berpengalaman menyelenggarakan event MICE pariwisata.

Menurut Jim, destinasi MICE lebih bersifat bisnis yang mempunyai karakteristik sangat berbeda dibandingkan dengan leisure, sehingga untuk pengembangan destinasi MICE fokus pemerintah saat ini adalah di tujuh kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Lombok.

Kegiaran MICE akan mendongkrak kunjungan maupun devisa dan bertujuan untuk mendukung upaya Kementerian Pariwisata dalam rangka peningkatan potensi MICE Indonesia agar menjadi salah satu andalan Pariwisata Indonesia.

Jim menargetkan, 100 orang buyer Internasional (Hosted Buyers) serta 1000 orang domestik trade visitor dari latar belakang MICE maupun Korporasi yang akan berpartisipasi dengan harapan dapat membuka peluang kerjasama dengan sekitar 100 seller dari kalangan MICE hotel, pemilik atau pengelola convention hall atau ruang pertemuan Iainnya.

Ketua Panitia Pelaksana Panca Sarungu dari Radja MICE mengatakan, IIME yang didukung oleh Kemenpar, Persatuan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), Indonesia Hotel General Manager Assosiation (IHGMA), Asosiasi Perusahaan Pemeran Indonesia (ASPERAPI) dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI).

Pihaknya  mengajak seluruh elemen lndustri Pariwisata Indonesia untuk mendukung dan berpartisipasi dalam ini untuk bersama-sama mewujudkan target 20 juta kunjungan wisman.

Panca menilai, IIME adalah sebuah event bussines to bussines (B2B) khusus bagi pelaku industri MICE di Indonesia sebagai seller yang akan dipertemukan dengan buyer korporasi, travel operator, Event & Wedding organizer, Profesional Conference & Exhibition Organizer dari dalam dan luar negeri. Adapun transaksi yang menjadi target selama event adalah sebanyak Rp 50 milyar.

Izinkan Istri Masuk Kokpit, Pilot Diskorsing

this formate

SHENZHEN, bisniswisata.co.id: Seorang pilot dari maskapai penerbangan China dijatuhi sanksi skors dan denda setelah kedapatan mengizinkan istrinya masuk ke dalam kokpit pesawat. Maskapai penerbangan China, Donghai Airlines, mengumumkan pada Rabu (9/1/2019), bahwa mereka telah menjatuhkan sanksi skors ditambah dengan denda kepada seorang pilotnya.

Pilot yang diumumkan perusahaan dengan nama Chen itu, disebut telah mengizinkan istrinya memasuki ruang kokpit pesawat dalam dua kali penerbangan pada 28 Juli 2018.

Penerbangan pertama dari Nantong, Provinsi Jiangsu, menuju Lanzhou, Provinsi Gansu dengan transit di Zhengzhou, Provinsi Henan. Sedangkan penerbangan kedua berangkat dari Lanzhou menuju Beijing.

Melansir dari SCMP, Kamis (10/01/2019) pilot itu membelikan tiket penerbangan untuk istrinya dari Nantong menuju Zhengzhou. Namun dia membawa istrinya hingga penerbangan ke Beijing.

Pihak maskapai tidak menyebutkan berapa lama dan dengan alasan apa pilot itu membiarkan istrinya berada di kokpit pesawat. “Pilot itu melanggar prosedur operasi dan peraturan keselamatan udara,” tulis pernyataan maskapai yang diunggah di akun media sosial Weibo.

“Chen menyalahgunakan haknya sebagai pilot, mengabaikan aturan dan bertindak melawan saran orang lain,” lanjut pernyataan itu.

Pilot tersebut telah dihukum skors selama enam bulan dan kualifikasinya sebagai instruktur penerbang di perusahaan telah dicabut.

Selain itu, pihak maskapai juga menjatuhkan sanksi denda sebesar 12.000 yuan atau sekitar Rp 24 juta, ditambah biaya tiket untuk perjalanan istrinya dari Zhengzhou ke Lanzhou dan dari Lanzhou ke Beijing.

Sanksi denda juga dijatuhkan kepada dua kopilot bernama Wang dan Zhao masing-masing sebesar 6.000 yuan (sekitar Rp 12 juta) dan skorsing selama 15 hari. Sementara seorang petugas keselamatan penerbangan bernama Sun, turut didenda sebesar 500 yuan (sekitar Rp 1 juta). (EP)

AHM: Semoga Harga Tiket Pesawat Turun

this formate

MATARAM, bisniswisata.co.id: Berkembangnya pariwisata di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat banyak wisatawan ingin berkunjung, tidak terkecuali wisatawan nusantara (Wisnus). Hanya saja yang menjadi persoalan adalah harga tiket pesawat yang dinilai terlalu mahal. Sehingga calon wisnus merasa enggan dan lebih memilih destinasi yang dianggap memiliki harga transportasi atau tiket yang lebih murah.

Karena itu, pelaku industri wisata di Lombok, berharap semoga harga tiket pesawat turun. Juga berharap ada bantuan pemerintah dalam menekan harga tiket pesawat ke Lombok. Sehingga pariwisata lebih berkembang lagi dan semakin maju dengan kehadiran wisnus maupun wancanegara (wisman) ke Lombok.

“Memang tingginya harga tiket pesawat turut menjadi alasan rendahnya kunjungan wisatawan. Tiket ke Lombok lebih mahal daripada ke luar negeri. Semoga ada campur tangan pemerintah masalah tiket pesawat, pemda juga mungkin bisa subsidi jadi sangat membantu daripada untuk promosi lebih baik subsidi untuk pesawat,” papar Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Ernanda Agung di Mataram, NTB, Kamis (10/1).

Diakui, akses yang mudah dan murah menjadi salah satu pertimbangan wisatawan ingin berkunjung. Tiket penerbangan yang mahal ini pula yang membuat paket wisata ke Lombok menjadi semakin mahal. Sehingga tidak heran jika calon wisatawan berpikir kembali sebelum berkunjung.

Sehingga sangat berpengaruh pada wisatawan yang hendak berkunjung kembali. Sejatinya banyak wisatawan yang ingin mengatur perjalanan kembali ke Lombok. Namun karena harga tiket penerbangan yang cukup mahal membuat banyak wisatawan mengurungkan niatnya untuk kembali lagi. “Kami minta tolong ini bagaimana caranya agar kita bisa mengatur ini. Jadi wisatawan senang berkunjung,” ujarnya

Karena itu pihaknya juga berharap pemerintah pusat mengarahkan kementerian/lembaga untuk menggelar kegiatan di Lombok. Ia mengatakan, kegiatan yang mengundang banyak orang seperti pertemuan di hotel akan mendongkrak tingkat wisatawan di Lombok.

“Kalau dari saya untuk pemerintah, kita mohon pemerintah terutama pusat untuk arahkan program ke Lombok itu salah satu langkah yang sangat bagus untuk pemulihan,” ujarnya seperti dilansir Republika.co.id.sambil menambahkan kegiatan tersebut akan membangkitkan kembali sektor pariwisata NTB yang sempat melesu karena bencana gempa. (EP)

Musim Dingin, Korsel Gelar Festival Memancing di Atas Es

this formate

SEOUL, bisniswisata.co.id: Ada beragam aktivitas musim dingin yang bisa dinikmati wisatawan. Ketika melakukan skiing atau skateboarding telah menjadi hal yang biasa, bagaimana dengan mencoba memancing ikan di atas es? Tawaran itu dilontarkan pariwisata Korea Selatan (Korsel) untuk menarik wisatawan datang,

Berjarak 120 kilometer dari Timur Laut Seoul, Korea Selatan, Anda akan tiba di daerah pegunungan terpencil di wilayah Hwacheon. Meski terpencil, lokasi ini belakangan ramai dipadati pengunjung. Festival memancing di atas es yang berada di lokasi ini nampak menjadi magnet yang membuat banyak wisatawan penasaran dan ingin mencoba.

Meski suhu udara mencapai -10°C, para wisatawan nampak antusias menjajal keberuntungan mereka berburu ikan di es. Banyak dari wisatawan yang ambisius untuk mendapatkan Sancheoneo, spesies trout yang dikenal hanya mendiami perairan segar yang sangat bersih.

Tak mudah, pengunjung yang ingin menangkap trout harus memiliki lengan yang kuat dan sanggup meraih 21 ribu lubang yang digali di jalur 2,1 kilometer di arus air yang membeku.

Namun tak perlu khawatir, ada berbagai aktivitas lain yang bisa dinikmati para pengunjung dengan lebih santai. Menangkap ikan dengan tangan kosong, lomba kereta luncur, dan berkunjung ke lokasi pertemuan Sinterklas dapat menjadi aktivitas santai yang bisa dipilih. Ada pula patung es di dekat tempat festival yang bisa dikunjungi untuk sekadar berfoto.

Di malam hari, pengunjung masih bisa menikmati aktivitas memancing di es. Malam akan kian indah dengan kilauan 27 ribu lampion di wilayah pedesaan Seondeung Street. (EP)

Sakit Cenderung Datang Jelang Liburan, Kenapa Ya?

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Liburan seharusnya menjadi waktu istirahat yang dapat melepaskan penat. Ketika masa libur datang, Anda bisa sejenak terbebas dari tanggung jawab dan bisa bersantai sepanjang hari. Namun, bagaimana jika ternyata di waktu menjelang liburan harus terganggu dengan penyakit yang datang seperti batuk, pilek, dan flu yang disebabkan virus?

Penyakit itu tidak hanya datang pada musim dingin. Tetapi juga sering dialami jelang masa mau liburan tiba. Diduga persiapan liburan mungkin menjadi penyebab tubuh jatuh sakit.

Anda mungkin akan bahagia ketika sedang berlibur, tetapi kemungkinan hari-hari menjelang liburan akan menjadi tidak menyenangkan. Hal itu karena biasanya seorang pekerja akan membereskan semua pekerjaannya sebelum masa liburan tiba. Selain itu, juga melakukan persiapan lain untuk liburan seperti mencuci pakaian, sepatu, dan sebagainya.

Menurut seorang dokter K Health dan direktur klinis di Heartbeat Health, sebuah pusat kardiovaskular di New York, Edo Paz, perilaku ini dapat membuat tubuh dan sistem kekebalan tubuh Anda rusak. “Anda mungkin lebih stres, lelah, dan lainnya saat hari-hari menjelang liburan sambil membuat semua pengaturan yang perlu Anda lakukan sebelum pergi berlibur,” katanya, seperti yang dikutip Huff Post, Kamis (10/01/2019).

Paz juga mengatakan pentingnya menjaga rutinitas yang seimbang, bahkan jika Anda memiliki daftar tugas yang harus dilakukan sebelum berlibur. “Lakukan yang terbaik untuk menjaga sistem kekebalan Anda sekuat mungkin selama waktu yang rentan ini,” katanya.

Selain itu, Paz menyarankan makan makanan yang sehat, berolahraga, banyak istirahat, jaga berat badan, jangan merokok, dan minum alkohol berlebihan. Bukan hanya pilek dan flu, banyak orang yang juga mengalami nyeri kronis atau penyakit lain ketika mereka santai. Ini dikenal sebagai efek let-down dan biasanya terjadi setelah periode stres yang intens.

Penelitian telah mengaitkan penurunan stres yang dirasakan dengan peningkatan rasa sakit dan penyakit lainnya. Satu studi menemukan orang lebih sering panik pada akhir pekan. Studi lainnya pada 2015 dari Taiwan menemukan liburan dan Ahad terdapat lebih banyak penderita tukak lambung dirawat inap daripada hari kerja.

Cara terbaik untuk mencegahnya adalah dengan mengendalikan pikiran Anda agar tidak stres. Hal ini bisa dicegah dengan berolahraga, bergaul dengan teman-teman, berkonsultasi dengan terapis atau perawatan mandiri lainnya.

Jika Anda melakukan kontak dengan banyak orang, maka akan banyak kuman yang dijumpai. Bepergian melalui bandara atau dengan kereta api, bisa membuat Anda lebih rentan sakit. “Banyak dari infeksi ini menyebarkan tetesan air liur orang-orang yang menderita penyakit ini ketika bersin, misalnya, yang tersebar melalui udara atau di permukaan umum,” kata Paz.

Paz mengatakan masalah tersebut sangat sering terjadi di pesawat terbang di mana ada banyak orang bepergian di ruang kecil yang kurang adanya sirkulasi udara dan seringnya pergantian wisatawan. Untuk melindungi diri Anda, pastikan sering mencuci tangan dan berusaha menjaga kebiasaan sehat saat Anda dalam perjalanan. Kursi yang Anda pilih di pesawat juga dapat mempengaruhi kesehatan Anda.

Paz menekankan pentingnya pencegahan penyakit. Pertama-tama, dapatkan suntikan vaksin flu. CDC menyatakan semua orang berusia lebih dari enam bulan terkena flu setiap tahun. “Selain itu, praktikkan kebersihan yang baik,” kata Paz.

Dia menyarankan untuk sering mencuci tangan dan membersihkan serta mendisinfeksi permukaan yang biasa disentuh. Jika Anda sudah sakit, nilai perasaan Anda sebelum bepergian. Berangkat dalam perjalanan saat sakit dapat memperburuk kesehatan Anda dan melukai orang lain di sekitar Anda.

Jika Anda memutuskan melakukan perjalanan, pastikan untuk menutup mulut ketika bersin dan batuk dengan tisu atau lengan atas Anda, dan buang semua tisu bekasnya. Jika tidak, Anda dapat jatuh sakit dan harus pergi ke klinik atau ke apotek saat berlibur. (EP)

YLKI: Sriwijaya Air Langgar UU Perlindungan Konsumen

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunding Sriwijaya Air melanggar Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen lewat program Sriwijaya (SJ) Travel Pass. Program ini merupakan penawaran keanggotaan bagi masyarakat untuk terbang menggunakan Sriwijaya Air selama satu tahun penuh dengan hanya membayar Rp12 juta.

Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, tawaran tersebut tentunya cukup menarik. Sayangnya tawaran itu melanggar Undang-undang. Bahkan banyaknya keluhan protes dari calon penumpang dengan program SJ Travel Pass yang mengaku susah mendapatkan tawaran manis itu
cuma berlaku 6 bulan pertama. Pelanggan selalu kehabisan tiket.

“Setidaknya ada dua poin yang dilanggar oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan Sriwijaya Air,” papar Kepala Bidang Pengaduan dan Hukum YLKI Sularsi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/01/2019).

Dilanjutkan, manajemen memberikan aturan baru di tengah perjanjian. Dalam beleid itu disebutkan bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku (aturan atau ketentuan) pada setiap perjanjian yang menyatakan tunduknya konsumen kepada aturan baru yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya.

Terkait pelanggaran tersebut, Sriwijaya Air mulanya memberi hak kepada setiap anggota SJ Travel Pass untuk terbang di seluruh rute domestik Sriwijaya Air dan NAM Air setiap saat dan tidak terbatas (rute dan jadwal terbang). Mereka juga disebut memiliki hak setara dengan nonmember (bukan anggota) SJ Travel Pass atau penumpang umum.

Namun, Sriwijaya Air mulai membatasi jatah anggota SJ Travel Pass pada 22 Oktober 2018. Alasannya, kondisi bisnis penerbangan yang kurang berpihak kepada semua perusahaan penerbangan. Usai limitasi kuota itu, pengguna SJ Travel Pass mengeluh sering kehabisan tiket.

“Tidak boleh membuat aturan baru setelah ada suatu perjanjian yang terjadi di awal, sehingga Sriwijaya Air telah melanggar UU Perlindungan Konsumen Pasal 18,” tegas Sularsi seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Sularsi juga menyebut Sriwijaya Air tidak memberikan informasi utuh terkait program SJ Travel Pass pada perjanjian awal. Padahal, dalam Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 4 ayat C disebutkan bahwa konsumen memiliki hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan suatu barang atau jasa.

SJ Travel Pass disebut tidak memberikan informasi utuh lantaran tidak menyertakan Term and Condition kepada konsumen SJ Travel Pass. Term and Condition yang dimaksud salah satunya terkait pembagian prosentase kursi pesawat bagi anggota dan non anggota SJ Travel Pass, sehingga konsumen bisa menimbang peluang alokasi kursi terutama saat puncak arus penerbangan.

Bahkan jatah kursi bagi anggota SJ Travel Pass baru disampaikan di tengah perjanjian, tepatnya pada 22 Oktober 2018. Dalam hal ini, Sriwijaya Air merincikan penerbangan dengan pesawat Boeing 737-800 atau Boeing 737-900 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 75 kursi.

Untuk pesawat jenis Boeing 737-300 atau Boeing 737-500 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 35 kursi. Sedangkan, penerbangan dengan tipe pesawat ATR 72-600 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 15 kursi.

“Seharusnya informasi itu disampaikan secara utuh beserta rute penerbangan. Sehingga angggota SJ Travel Pass bisa mengetahui tipe pesawat, alokasi tempat duduk untuk rute penerbangannya. Juga tidak merincikan batasan waktu reservasi tiket bagi anggota SJ Travel Pass. Akibatnya, terjadi persaingan antara anggota dan non anggota dalam pembelian tiket saat masa puncak penerbangan,” ungkapnya.

Padahal, dengan informasi yang utuh terkait layanan SJ Travel Pass, maka konsumen bisa memutuskan untuk ikut bergabung dalam program tersebut atau tidak. “Ada pelanggaran hak konsumen oleh Sriwijaya Air karena tidak memberikan informasi secara utuh kepada konsumen sejak awal perjanjian, sehingga terjadi suatu dispute (gangguan),” imbuh dia.

Melihat kondisi itu, sikap Sriwijaya Air tersebut sangat merugikan konsumen. Pun demikian, hingga kini YLKI belum menerima aduan dari anggota SJ Travel Pass. “Ini sangat merugikan konsumen dengan informasi yang tidak benar tadi, orang sudah membayar Rp12 juta tapi tidak bisa menggunakan haknya” tandasnya.

Sekadar informasi, Sriwijaya Air menjual keanggotan program SJ Travel Pass seharga Rp12 juta. Program ini menawarkan terbang sepuasnya selama satu tahun penuh. Awal mula program ini berjalan lancar. Lambat laun, kursi terbang program ini makin dibatasi. Sehingga, banyak anggota kesulitan memesan kursi.

Ali Akmal (34 tahun), anggota SJ Travel Pass misalnya, mengaku selalu kehabisan tiket sejak 5 Desember 2018. Padahal, saat mendaftar pertama kali pada Mei 2018, ia masih bisa menikmati layanan terbang sepuasnya dari maskapai asuhan Chandra Lie tersebut.

“Kalau pesan lewat aplikasi Sriwijaya Air sebagai anggota SJ Travel Pass, tiket selalu sudah habis terjual. Tapi, kalau coba pesan bukan sebagai anggota, banyak seat (kursi) kosong dengan pilihan rute dan jadwal yang beragam. Hampir semua destinasi sudah sold out untuk member (anggota),” jelasnya.

Pengalaman serupa dialami Yulia Argentin (40), yang bergabung dengan SJ Travel Pass pada 8 Juni 2018. Ketika ia dan anggota lain akan melakukan perjalanan, hanya lima orang yang terangkut menjadi penumpang, sedang sisanya tak mendapatkan tiket. “Ketika orang keenam pesan tiket, sudah tak bisa karena sold out. Saya sendiri ikut grup anggota SJ Travel Pass di Whats App dan Telegram, ternyata banyak kejadian seperti yang saya alami,” paparnya.

Novita Angelina (29 tahun), anggota SJ Travel Pass lainnya juga mengaku kerap kesulitan mendapatkan tempat duduk dalam setiap penerbangan Sriwijaya Air. “Tapi, kalau saya cek rute yang sama dengan aplikasi lain, seperti Traveloka atau Tiket.com masih ada kursi,” jelasnya.

Sementara, apabila saat ia terbang menggunakan program terbang sepuasnya, tak jarang ia mendapati kursi kosong. “Saat masuk ke pesawat, banyak kursi yang tidak terisi. Padahal, banyak anggota yang membutuhkan kursi tersebut,” katanya.

Tak cuma itu, manajemen Sriwijaya Air juga disebut kerap melakukan penjadwalan ulang jam terbang bagi anggota SJ Travel Pass. Bahkan, untuk beberapa kasus, ada jadwal yang dibatalkan.

“Hal nyata yang terjadi, saat di bandar udara, saya melihat ada pemindahan jadwal terbang anggota, sedangkan nonmember tetap dapat pergi pada jam yang tertera di tiket,” tutur Novita.

Tiga anggota SJ Travel Pass tersebut di atas mengaku telah mengadukan permasalahan tersebut ke layanan pelanggan Sriwijaya Air. Namun, hingga saat ini, belum ada langkah konkret dari manajemen untuk menindaklanjuti keluhan para anggota. “Jawaban layanan pelanggan template, ‘kami akan teruskan ke manajemen dan akan kami jadikan bahan evaluasi.’ Selalu seperti itu,” tandasnya. (EP)

Gaya Liburan Milenial dan Baby Boomer Jauh Berbeda

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wisatawan milennial ternyata memiliki gaya liburan yang berbeda sangat jauh dibandingkan dengan generasi baby boomer. Ternyata, wisatawan milenial menghabiskan jauh lebih sedikit untuk akomodasi dibandingkan generasi baby boomer. Namun, ini pengecualian dalam perjalanan mewah, ketika mereka hanya mau membayar sedikit lebih banyak.

Demikian hasil studi global yang dilakukan Tripadvisor seputar liburan wisatawan milenial menemukan perbedaan tersebut. Hal tersebut merupakan temuan dari studi global yang dilakukan oleh TripAdvisor yang baru-baru ini dirilis. TripBarometer tahunan mensurvei lebih dari 23 ribu responden dari 33 pasar di seluruh dunia.

Ada perbedaan yang signigikan dalam kebiasaan bepergian kaum muda dan yang tidak terlalu muda. Ketika mengeluarkan uang untuk akomodasi, generasi baby boomer menghabiskan rata-rata 1.540 dolar AS (sekitar Rp 21,6 juta) atau dua kali lipat generasi milennial yang pengeluarannya lebih hemat, yakni 675 dolar AS (sekitar Rp 9,5 juta), seperti dilansir dari Channel News Asia, Kamis (10/1/2019).

Namun, ketika harus menghabiskan uang, kedua generasi usia ini siap melonggarkan dompet. Sedikit lebih setengah dari mereka yang disurvei dari kedua kelompok mengatakan mereka siap untuk membayar sedikit lebih banyak untuk perjalanan mewah.

Sementara itu, generasi milennial juga lebih cenderung mengambil liburan singkat di kota (sebanyak 42 persen) dibandingkan dengan orang lain. Mereka cenderung mencari apa yang disukai.

Sementara itu generasi lebih tua lebih suka berwisata mengenai kebudayaan. Pelancong generasi lebih muda juga lebih tertarik pada promosi yang menguntungkan, dengan 16 persen responden usia 25 hingga 34 tahun memikirkan kembali rencana perjalanan mereka karena penghematan.

Semakin tua Anda, semakin tidak tergoda oleh promosi. Hanya sembilan persen dari mereka yang berusia di atas 65 tahun yang mengaku masih tergoda oleh diskon perjalanan. Selain itu, kedua kelompok umur ini merencanakan hal-hal yang berbeda sebelum perjalanan. Orang yang lebih muda kurang pasti pada tujuan.

Hanya 46 persen peserta berusia antara 18 dan 24 tahun yang memutuskan ke mana mereka harus pergi, sebelum perjalanan. Bagi mereka yang di atas 65 tahun, 70 persen sudah memiliki bayangan tempat mana yang akan dikunjungi kemudian mereka membaca informasinya.

Generasi milenial lebih proaktif dalam pemesanan tempat sebelum memulai. Hanya sepertiga dari generasi baby boomer yang benar-benar peduli untuk melakukannya.

Sementara itu, pola budaya juga muncul dalam penelitian ini. Wisatawan Asia lebih suka mengunjungi banyak lokasi dan pergi untuk kesenangan daripada bersantai. Mereka juga lebih menghargai merek hotel dibandingkan orang Eropa.

Secara khusus 85 persen pelancong Cina melaporkan penting menginap di hotel dengan nama merek yang dikenal dan terpercaya. Wisatawan Inggris adalah yang paling tidak tertarik dengan merek hotel, dengan hanya 22 persen yang menempatkan layanan premium di kamar tidur dan sarapan mereka.

Ketika memilih liburan mewah, kapal pesiar dipandang lebih mahal. Wisatawan perlu membayar rata-rata 5.442 dolar AS per orang (sekitar Rp 76,3 juta), dibandingkan dengan petualangan satwa liar yang menghabiskan 4.626 dolar AS (sekitar Rp 64,8 juta). (EP)

Qatar Airways Promosi Penjualan Global Teranyar

this formate

QATAR, bisniswisata.co.id: Qatar Airways mengumumkan promosi penjualan global terbaru yang dirancang untuk menginspirasi penumpang jelajahi berbagai tujuan baru dan menarik pada tahun 2019. Promosi ini berlaku untuk semua penerbangan Qatar Airways yang dipesan pada periode 7 – 16 Januari 2019 untuk perjalanan selama 7 Januari – 20 Mei 2019.

“Dengan promosi baru ini, penumpang dapat dengan mudah memilih petualangan mereka berikutnya dan benar-benar dimanja oleh berbagai pilihan lebih dari 160 destinasi menarik yang berada dalam jaringan global Qatar Airways yang terus berkembang,” ujar Chief Commercial Officer Qatar Airways Ehab Amin dalam keterangan resminya, Kamis (10/01/2019).

Penumpang yang memesan selama periode promosi dapat memanfaatkan tarif menarik mulai dari Rp 9.925.000,00 ke Istanbul, Turki; Rp 8.200.000,00 untuk Zurich, Swiss; Rp 9.595.000,00 ke Paris, Perancis. Penumpang kelas bisnis juga memiliki kesempatan untuk tarif menarik seperti Rp 28.660.000,00 ke London, Inggris; Rp 34.675.000,00 untuk Zurich, Swiss.

Selain itu, penumpang juga akan menerima bonus Qmiles dan Qpoints sebesar 50 persen di kelas ekonomi dan Qmiles serta Qpoints ganda di kelas bisnis.

“Kami juga berkomitmen untuk membawa orang-orang dari seluruh penjuru dunia ke Doha, tidak hanya untuk merasakan pengalaman terbaik di bandara bintang lima, Hamad International Airport, selama transit, tetapi juga untuk menjadikan Qatar sebagai pilihan tujuan liburan bagi penumpang kami,” tambahnya.

Sebagai salah satu maskapai penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, Qatar Airways memiliki armada modern lebih dari 200 pesawat terbang ke tujuan bisnis dan rekreasi di enam benua.

Baru-baru ini, Qatar Airways meluncurkan rute penerbangan langsung ke Gothenburg, Swedia; Mombasa, Kenya; dan Da Nang, Vietnam. Qatar Airways pun memiliki rencana untuk meluncurkan berbagai destinasi baru pada tahun 2019. Beberapa di antaranya adalah Valletta, Malta, dan Iran. (redaksibisniswisata@gmail.com)