Obyek Wisata Tambang Ombilin Masuk Nominasi UNESCO 2019

0
197
Museum tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto Sumbar (Foto: http://sawahluntotourism.com)

SAWAHLUNTO, bisniswisata.co.id: Sawahlunto Sumatera Barat (Sumbar) bercita-cita tahun 2020 menjadi kota wisata tambang yang berbudaya. Terdata tahun 2017, ada 119 cagar budaya yang ditetapkan. Di antaranya ada gedung kolonial yang sudah berubah fungsi menjadi museum, antara lain Museum Goedang Ransoem (2005), Museum Kereta Api (2005), Lubang Mbah Soero (2008), dan Tambang Batu Bara Ombilin (2014)

Tambang batu bara Ombilin memang sudah banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara, terutama dari Belanda. Agar bekas tambang ini lebih mendunia lagi, Indonesia memasukkan Tambang batubara Ombilin dalam daftar nominasi Warisan Dunia UNESCO 2019.

Penentuan pemenang nominasi warisan dunia masih dibahas pada pertemuan World Heritage Commitee (WHC) UNESCO ke-43 di Baku, Azerbaijan, pada 30 Juni-10 Juli 2019. Dilansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, Rabu (26/06/2019) setidaknya ada tiga nilai menakjubkan dari penominasian Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto sebagai Warisan Dunia.

Pertama, Dirjen Kerjasama Multilateral Kemlu Febrian Ruddyard menyebutkan, Tambang Ombilin menunjukkan perkembangan teknologi perintis abad ke-19 yang menggabungkan antara ilmu teknik pertambangan bangsa Eropa dengan kearifan lingkungan lokal, praktik tradisional, dan nilai-nilai budaya dalam kegiatan penambangan batubara yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat.

Kedua, hubungan industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia. Perpaduan antara pendekatan unik metode fusion dan hubungan sistemik ini bahkan diadopsi oleh tambang batu bara di Afrika Selatan pada pendudukan Belanda di sana.

Ketiga, nominasi Ombilin menggambarkan dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia Timur dan Barat, yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi, yang terdiri dari masyarakat multi-etnis dan multi-agama.

Dilansir dari laman whc.unesco.org, Sawahlunto merupakan kota tambang batubara tertua di Asia Tenggara. Kawasan itu dikelilingi sejumlah bukit, seperti Bukit Pola, Bukit Pari, dan Bukit Mato.

Pemerintah kolonial Belanda lah yang pertama kali menemukan dan mengeksploitasi cadangan batubara di tempat itu pada akhir abad 19. Sejak itu, kawasan pedesaan berkembang dan menjadi situs pertambangan.

Sejarah

Pemerintah Belanda sebenarnya pertama kali mengekskavasi cadangan batubara di Pengaron, Kalimantan, pada abad 18, dengan menerapkan teknologi mesin uap. Namun, kualitas batubara yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.

Pada 1858, pemerintah Belanda kemudian menemukan cadangan batubara di sawahlunton mencapai 200 juta ton. Cadangan mentah itu bisa digunakan untuk mendukung beragam aktivitas, seperti industri, kereta api dan sistem jalur kereta, hingga pengapalan.

Eksploitasi batubara dan bahan tambang lainnya itu membuat Sawahlunto terpapar ke dunia luar. Pasalnya, pemerintah pendudukan membangun sejumlah jalur kereta untuk mengangkut bahan tambang yang dihasilkan dari Sawahlunto ke pantai barat Sumatera.

Industri semakin berkembang ketika pada 1883, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikelar sebagai Teluk Bayur dan menjadi pelabuhan pengapalan batubara untuk ekspor, dilanjutkan dengan konstruksi jalur kereta api dari Pulau Air Padang ke Muaro Kalaban hingga sampai ke Sawahlunto pada 1887-1892.

Hal itu mengubah Sawahlunto dari kawasan pedesaan menjadi lahan indusri. Pemerintah kolonial mempekerjakan ahli pertambangan dari daerah jajahan untuk mengelola tambang. Sementara itu, tenaga kerja didapat dari para tahanan, Orang Rantai, dan buruh rendahan dari berbagai daerah, termasuk orang-orang Cina yang didapat dari pasar tenaga kerja Singapura.

Selama dua abad, tambang itu beroperasi dengan beragam lapisan orang, budaya, tradisi yang terlibat. Beberapa di antaranya bahkan masih eksis hingga sekarang. Mendekati 2000, Bukit Asam sebagai perusahaan yang mengelola tambang itu memutuskan menutup lokasi tersebut. Kini, pemerintah kota setempat berjuang menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya.

Sekarang tambangnya sudah habis dan tidak beroperasi sehingga menjadi Museum Tambang Batubara Ombilin. Di museum ini menyimpan beragam koleksi dari aktivitas penambangan batubara sejak masa kolonial hingga masa kini. Ada peralatan tambang batubara, arsip, kostum penambang, kendaraan pengangkut batubara, foto lama tempo dulu, audio visual, alat kerja penambang, hingga mesin pemilah batubara.

Bangunan Museum Tambang Batu Bara Ombilin sendiri merupakan salah satu gedung bersejarah karena sempat menjadi rumah peristirahatan mantan Presiden RI Soeharto. Gedungnya sendiri telah ada sejak 1891.

Di museum ini kita bisa melihat jejak aktivitas kegiatan penambangan batubara di Sawahlunto sejak 1891. Sejak 1940 hingga 1970-an produksi batubara Ombilin terus merosot dan penduduknya pun terus berkurang. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.