Lirik Piala Oscar, Livi Zheng Promosi Bali Lewat Film

0
280
Livi Zheng (Foto: mediaindonesia.com)

BEVERLY HILLS, bisniswisata.co.id: Eksotisme Bali diangkat sutradara asal Indonesia, Livi Zheng ke layar lebar. Judulnya, Bali: Beats of Paradise. Yang bikin bangga, film itu sudah diterima panitia Piala Oscar. Dengan kata lain, Bali: Beats of Paradise akan bersaing di Academy Award 2019.

Bali: Beats of Paradise, menggunakan gamelan Bali sebagai tema. Film ini sudah diputar di Academy of Motion Picture Arts and Sciences, Samuel Goldwyn Theater, Beverly Hills, Rabu (7/11/2018). Academy of Motion Picture Arts and Sciences juga familiar sebagai Headquarter Oscar.

Lebih spesial lagi, film Bali: Beats of Paradise ini masuk dalam Academy Award. Karya Livi ini masuk dalam kategori Best Documentary Feature. Kepastian status Nominasi Oscar 2019 akan diberikan pada 22 Januari 2019. Masuk dalam 76 film terbaik, Bali: Beats of Paradise ini harus bersaing dengan sekitar 12 film dikategori sama.

Selain Bali: Beats of Paradise, slot kategori Best Documentary Feature dihuni Hal, The Bleeding Edge, Scotty and the Secret History of Hollywood, dan Tea With the Dames. Ada juga The King, Crime + Punishment, Fahrenheit 11/9, dan lainnya.

“Film bertema Bali ini sangat unik dengan background gamelan. Saat ini kami sedang bersaing di Academy Award. Semoga bisa masuk menjadi nominator Oscar di tahun depan. Kami percaya bisa lolos. Sebab, film ini sangat unik dengan gamelan di dalamnya. Kami tentu gembira karena film ini diputar di Amerika,” ungkap Livi yang kini berkarier di industri perfilman Amerika, Selasa (13/11/2018).

Opening ceremony rilis film Bali: Beats of Paradise juga sangat unik. Nuansa Pulau Dewata ini ditegaskan melalui alunan gamelan Bali dan double neck gitar. Double neck gitar dimainkan musisi Bali Balawan. Turut ditampilkan juga Tari Barong dan Tari Kecak. Film Bali: Beats of Paradise ini akan diputar serentak di bioskop-bioskop Amerika Serikat mulai Jumat (16/11/2018) waktu setempat.

“Banyak orang mungkin mendengarnya, tapi banyak yang belum tahu detail gamelan ini. Alur cerita tentang gamelan ini unik. Sebab, ini bagian dari ritual dan budaya. Kesemuanya ini lalu melebur dalam kontekstual yang berhubungan dengan Bali,” lontar gadis kelahiran Jawa Timur, pada 3 April 1989.

Gala premiere film Bali: Beats of Paradise ini mampu memukau pengunjung. Mereka memiliki latar belakang tokoh penting industri perfilman Amerika, edukator, dan para diplomat dari berbagai negara. Hadir juga Director Disney Animation Paul Briggs, hingga Rektor University of California-Los Angeles Gene Block. Para diplomat yang hadir ini berasal dari Bolivia, Kenya, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Bergabung juga Konjen RI di Los Angeles Simon Soekarno.

Memang, lanjut Livi, nuansa Indonesia selalu dimasukan dalam film garapannya. Budaya gamelan juga sangat familiar di Negeri Paman Sam. Beberapa film besar seperti Avatar karya James Cameron, TV seri Star Trek dan animasi Akira memakai musik gamelan.

“Gamelan ini fantastis. Gamelan telah digunakan oleh banyak sineas internasional. Musik gamelan ini digunakan di Hollywood melalui film Avatar dan acara TV Star Trek. Jadi, gamelan ini bukan hal baru di Amerika. Namun, tidak banyak yang tahu kalau gamelan ini dari Indonesia. Saya selalu tertarik untuk memasukan nuansa Indonesia,” terang jebolan Akademi Barat Beijing, Universitas Washington, dan kandidat Master di Sekolah Seni Sinematik di Universitas California Selatan.

Sebelumnya nuansa Indonesia juga sangat kuat dimunculkan dalam Film Brush with Danger. Film ini menggunakan puluhan lukisan karya seniman Indonesia. Berkat kegigihannya mengangkat budaya asli nusantara, penghargaan pun diberikan melalui Unforgetable Gala pada Sabtu (8/12) nanti. Unforgetable Gala ini adalah award tertua di Amerika yang diberikan kepada tokoh penting Asia.

“Pembuatan gamelan ini sangat menarik. Saya terus bermimpi untuk syuting film di Indonesia. Yang jelas, jalan panjang sudah dilalui. Skenarioku bahkan sempat ditolak 32 kali. Itu justru melecut semangat untuk bangkit. Hanya perlu berkata yes untuk sukses. Selain itu, semua juga harus dibangun dengan keimanan,” ujarnya yang terjun di dunia film tahun 2013 lewat film The Empires Throne sebagai aktris sekaligus Produser.

Sebagai Duta Kebudayaan melalui film Bali: Beats of Paradise, Livi disandingkan dengan nama besar lainnya. Sebut saja Sutradara Jon M Chu (Crazy Rich Asians), Aktor John Cho (Searching), juga aktris Sandra Oh (Greys Anatomy).

Melihat potensi dan dedikasi luar biasa kepada Indonesia, apresiasi pun diberikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. “Inspirasi Livi Zheng melalui film Bali: Beats of Paradise luar biasa. Publik Amerika dan dunia diajak untuk mengenal lebih dekat budaya Bali dan Indonesia melalui gamelan. Kami tentu akan memberikan support. Sebab, film Bali: Beats of Paradise ini bagus untuk branding pariwisata Indonesia,” tegasnya.

Mendekatkan nuansa Indonesia, film Bali: Beats of Paradise berkisah perjalanan hidup Nyoman Wenten yang notabene seorang seniman gamelan. Tinggal di Los Angeles, Wenten pun dikenal sebagai pengajar etnomusikologi di UCLA dan Herb Alpert School of Music. Lekat dengan gamelan sejak kecil, Wenten akhirnya bekerjasama dengan Judith Hill. Judith adalah kontestan The Voice dan pemenang Grammy Award.

Livi di usia empat tahun, bersama keluarganya pindah ke Jakarta. Zheng memiliki satu adik, Ken yang juga terlibat dalam film dan seni bela diri. Ia dan saudaranya berpindah ke Beijing ketika ia berusia lima belas tahun, dan ke Amerika Serikat ketika ia berusia delapan belas tahun.

Livi mewakili tim Karate negara bagian Washington pada tahun-tahun ia berada di kampus dan memenangkan lebih dari 25 medali dan trofi untuk kompetisi wilayah dan nasional di Amerika Serikat. Dan memenangkan kompetisi dari 2009 US Open, Orlando, Kejuaraan Karate Terbuka Shorinryu Tahunan ke-36, sampai Turnamen Invitasional Federasi Karate Negara Bagian Washington 2010 dan Kualifikasi Federasi Karate Nasional AS.

Livi memulai karier di film sebagai pemeran pengganti pada usia lima belas tahun di Indonesia. Ia berperan pada serial televisi tiga puluh episode yang populer yang berjudul Laksamana Cheng Ho, kemudian berpindah ke Beijing, China pada usia enam belas tahun untuk melanjutkan riset dan kerja pada serial itu. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.