Galuh Paskamagma sebagai pengelola LeGareca
JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id; Menu-menu yang tersedia di LeGareca Cafe, awalnya berangkat dari Warung Bu Ageng milik Rullyani Isfihana istri Butet Kartaredjasa yang sudah beberapa tahun ini memproduksi sendiri Sei Sapi, Sei Ayam dan Sei Kambing. Berangkat dari produk itulah yang kemudian dikembangkan menjadi menu yang meski ada di luar, tetapi diolah supaya berbeda.
“Bedanya, orang tidak menyangka, bahwa Soto ini ternyata topingnya Sei. Nah, kami
menyajikan sensasi yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Atau gorengan Tahu Isi Sei Ayam, yang orang jarang menemukan di tempat lain,” tutur Ucis.
Ada menu Ndaramen, yang mungkin orang menyebutnya Dry Ramen – Ramen tanpa kuah. Tetapi Ndaramen diolah sedemikian rupa dengan tambahan dan rasa yang spesial.
Menu-menu LeGareca, disiapkan oleh Galuh yang senang memasak dengan resepnya sendiri. “Kami diskusi, Galuh punya menu apa untuk disajikan. Ada Monica Raulla FG sebagai manajer yang harus mendampingi Galuh,” jelas Ucis.
Misalnya, kita butuh menu sayur nih. Kita butuh menu yang tanpa nasi, kita harus menyediakan juga menu untuk orang yang tidak makan daging. Misalnya, Tempe Lor Gula, yaitu tidak memakai protein hewani. Jadi tamu yang vegetarian masih bisa
makan, tambahnya.
Dia mengusahakan bahan dasar makanan yang mudah dicari, tetapi mengolahnya dengan pengolahan yang tidak biasa.
Untuk minuman, LeGareca Cafe berusaha mengikuti apa yang sedang hits di kalangan
anak-anak muda yang senang ngopi. Saat ini yang sedang hits, adalah dirty-dirtyan
“Versi kita, versi yang tidak memakan waktu dan menekan biaya yang terlalu tinggi. Untuk Dirty Lega, kami menyiapkan susu khusus yang dicampur dan di atasnya ada Espresso,” jelas Ucis. Ada pula Dirty Latte, yaitu susu yang dibuat manis dengan cara di destilasi.
Susu masuk ke dalam freezer sampai beku, lalu semalaman dibuka supaya menetes. Mungkin dari satu liter susu, hanya jadi setengahnya. Karena itu persediaannya pun terbatas, dalam satu hari hanya bisa menyediakan 10 porsi.
“Yang jelas, kami ingin menghadirkan, ada yang senang ngopi masih bisa ngopi, bisa
nongkrong. Yang tidak suka kopi, masih ada pilihan lain dan tidak hanya itu-itu saja. Masih ada yang rempah-rempahan, ada teh-tehan. Tidak hanya untuk mereka yang senang ngopi saja.”

Untuk anak-anak pun, tersedia menu makanan untuk anak-anak. Bahkan ada menu Babyccino yang sebenarnya terbuat hanya dari susu saja.
Untuk menyiapkan menu-menu yang disajikan LeGareca, Ucis bersama Galuh mengaku butuh waktu setidaknya dua sampai tiga bulan yang dilakukan lewat survei di tempat-tempat mereka biasa makan.
Berangkat dari pengalaman kadang ketika kulineran di satu tempat makan tapi ternyata tidak ada sayurnya. Karena itu di sini kami sediakan menu-menu yang bersayur.
Begitu juga dengan makanan kecil, mereka berangkat pengalaman seringnya ngemil yang manis-manis di luaran, tambahnya.
“ Kami merasa, oh ini kok rasanya kurang enak. Bagaimana kalau kita coba sendiri dengan resep yang menurut kita enak dan cocok. Itulah yang terkurasi untuk disajikan di cafe. Menu yang kita buat sudah dengan deskripsi menu ini isinya apa saja,”tutur Ucis.
LeGareca Cafe yang buka sejak pagi pukul 7.00 hingga pukul 23.00 ini, digawangi oleh tak kurang dari 25 anak-anak muda yang energik dan profesional, yang usianya di bawah 30 tahun.
Mereka terdiri dari 17 orang untuk cafe yang dibagi dalam dua shift, pertama dari pukul 6.30 – 15.00, dan dari pukul 14.30 – 23.00.
Lalu ada 5 orang bertugas di Pet Hotel dan Pet Care, terdiri dari 1 dokter hewan, 1 paramedis, 2 groomer dan 1 bagian admin.
“Karena cafe buka sejak pagi, kami membidik market orang-orang yang habis olahraga, atau mereka yang sehabis mengantar anak sekolah. Sedangkan sore hingga malam hari, menjadi saat-saat ramai pengunjung yang kebanyakan anak-anak muda. Banyak juga yang membawa
anjing atau kucing kesayangan mereka.”
Menurut Butet Kartaredjasa, makanan juga bagian dari kebudayaan. “Kreasi berupa makanan, itu bagian dari kebudayaan. Ya sudah, anak-anak berkesempatan
mengekspresikan cita rasa pangan, saya nggak cawe-cawe,” ujar Butet.









