Kopi Spesialiti Indonesia Siap Gebrak Eropa & Jadi Promosi Wisata Dunia

0
9

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kopi Arabika asal Indonesia memiliki cita rasa yang kuat dan khas, menurut Andre Nilsson dari Swedia. Hal ini berbeda dengan kopi Arabika dari negara penghasil kopi lainnya.

“Apabila dikembangkan sedikit lebih baik lagi, Indonesia bisa menjadi salah satu negara pengekspor kopi terbagus di dunia,” kata Andre yang menyukai Kopi Toraja ini. 

Komentar senada diberikan 2 (dua) orang barista dan coffee roaster Finlandia yaitu Jani Huusko dan Hannah. Mereka sepakat dengan Andre bahwa cita rasa kopi Arabika Indonesia demikian khas, namun begitu dicari, terkadang persediaan di pasar tidak banyak.

Menurut mereka Indonesia harus memanfaatkan negara-negara Nordik, mengingat penduduk negara itu merupakan peminum kopi terberat di dunia. 

”Bayangkan rata-rata 1 orang meminum 12-13 kg per-tahun”, kata Jani Husska yang sudah 9 tahun menggeluti kopi spesial. Ahli dan praktisi kopi dari Denmark, Norwegia dan Jerman juga memberikan komentar pada saat diskusi Webinar yang berlangsung 12 Oktober 2020 sore sampai malam.

Diselenggarakan oleh Kemlu, acara ”Indonesia’s Specialty Coffe-Europe” dibuka oleh Prayono Atiyanto, Dubes/Diplomat Ahli Utama Kemlu.

”Kami sengaja mengambil tema specialty coffee ini karena tujuannya adalah mencari titik temu dan mencatat cara inovatif untuk meningkatkan ekspor kopi ke Eropa”, kata Prayono.

Prayono Atiyanto, Dubes/ Diplomat Ahli Utama Kemlu

Menurut dia , para ”ahli kopi” Indonesia secara periodik perlu memberikan update tentang proses pembuatan kopi sesuai dengan sifat transparansi dari bisnis kopi itu sendiri. 

”Melalui pertemuan virtual ini, kalangan Eropa dapat mendengarkan dan berkomunikasi langsung dengan para pemangku kepentingan di Indonesia”, jelas Prayono 

Sejalan dengan maksud tersebut Prayono mengumpulkan praktisi, analis dan pebisnis baik dari Swedia, Finlandia, Norwegia, Denmark,  Jerman maupun Indonesia.

Dari pihak Indonesia hadir ”Morning Glory Coffee”, perusahaan Anomali Coffee, analis kopi dari Jawa Barat dan PTPN 12 Jember. Dalam diskusi yang dipandu Dubes Bagas Hapsoro tersebut menampilkan beberapa panelis dan pembicara. 

Berbicara sebagai panelis pertama, Natanael Charis, CEO/pendiri ”Morning Glory Coffee”  menjelaskan proses produksi kopi. Satu hal yang perlu ditekankan dalam proses produksi kopi saat ini pengusaha mengontrol secara ketat setiap langkah dari proses kopi sesuai dengan kaedah internasional. 

“Ini berlaku untuk semua orang yang terlibat dalam rantai pemrosesan kopi kami”, kata Natanael. Tanaman kopinya dibudidayakan secara organik dan ditanam di dalam hutan lindung di provinsi Jabar yang memiliki iklim mikro yang sempurna untuk menanam kopi.

Rocky Martakusumah, seorang Q Arabica Grader dan barista, asal Bandung menambahkan bahwa Jawa Barat siap untuk menyediakan kopi bagus kelas dunia. Hal ini mengingat riset dan pengembangan kopi yang semakin mumpuni. 

”Kami seperti halnya dengan Morning Glory Coffee menggunakan internet of things untuk pengembangan kopi”, ujar Rocky. Kata kunci menurut Rocky adalah kualitas kopi akan dihasilkan dari inovasi, teknologi dan traceability.

“Kami bisa membuktikan asal kopi Indonesia untuk specialty coffee”, kata Rocky yang pernah melalang buana di Swedia dan Riga tahun 2017.

Dubes Bagas Hapsoro ( kiri atas), memandu acara bersama Dubes Prayono Atiyanto dan para pelaku bisnis kopi spesialiti.

Perlu gencar pemasaran 

Pengusaha asal Norwegia, Alf Kramer menjelaskan bahwa walaupun Indonesia dikenal dengan kopi robustanya, namun ternyata jenis kopi Arabica dari Indonesia lebih banyak menarik para penggemar kopi asal Eropa.

Alf Kramer juga menyarankan perlunya diperbanyak kegiatan pemasaran. Tidak saja mengenai produk tetapi juga informasi. ”Orang-orang Eropa sangat kritis terhadap informasi”, kata Alf Kramer. Juga dijelaskan bahwa bukti ilmiah yang mempunyai kredibilitas tinggi akan mengangkat kopi Indonesia. 

Pengimpor green beans (biji kopi) Regnar Kragh asal Denmark juga memberikan masukan dalam diskusi, yakni terkait kontinuitas dari persediaan.  Disayangkan oleh Regnar bahwa produksi kopi Arabica di Indonesia masih tergolong kurang banyak.

“Sekitar 80 persen produksi kopi Indonesia masih dikuasai oleh jenis Robusta,” Regnar Kragh hingga kini masih berbisnis langsung dengan pengusaha Indonesia. 

Cerita sukses My Bali Coffee

Diskusi juga mendengarkan cerita sukses perusahaan kopi Indonesia yang memasarkan label My Bali Coffee. Perusahaan di Jerman ini mampu mengembangkan varian kopi Indonesia dan telah dipasarkan ke lebih 300 unit toko dan supermarket di Jerman.

Perolehan kopi  My Bali Coffee, menurut pemiliknya Sascha Bayu Handoyo  ini dilakukan melalui ”direct trade”  langsung dengan petani kopi  Indonesia secara berkelanjutan di beberapa sentra kopi Indonesia. 

Kegiatan Webinar Kemlu Specialty Coffee ini menurut Dubes Prayono akan diteruskan secara berseri. Melalui program Webinar ini Kemlu menggalakkan program yang memberikan informasi langsung bagi para pegiat kopi tentang pentingnya kopi.

Tidak saja mempunyai nilai bisnis, tetapi juga sosial dan perhatian kepada lingkungan. ”Tujuan akhirnya adalah meningkatnya ekspor kopi di luar negeri. Semoga cerita sukses My Bali Coffee bisa dicontoh di negara lain”, kata Dubes Prayono menutup diskusi. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.