Gempa Lombok, Okupansi Hotel Tingkat Nasional Anjlok

0
242
Aplikasi pesan hotel

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengakui terjadinya gempa selama 3 pekan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) berdampak pada penurunan tingkat hunian kamar secara nasional pada tahun 2018 sekitar 5%.

“Lombok menjadi destinasi incaran kedua wisatawan mancanegara setelah Bali. Terjadinya gempa saat peak season tentu berdampak besar pada okupansi hotel di Lombok juga berpengaruh tingkat hunian secara nasional.” papar Ketua Umum PHRI Pusat, Hariyadi Sukamdani di Jakarta, Kamis (23/08/2018).

Dampaknya, sambung Hariyadi, sangat terasa meski tidak begitu besar. “Secara nasional mengurangi okupansi sekitar dari 5% dari perkiraan sebelumnya (okupansi tahun ini) 60%,” ungkapnya.

PHRI mencatat mulai Januari hingga Juni 2018, okupansi hotel secara nasional rerata sebesar 54,75% sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2017 hanya 53,36%. “Memang gempa di Lombok hanya berpengaruh tingkat hunian di Lombok Timur dan Lombok Utara, sedangkan tingkat hunian di Mataram terbilang normal,” ucapnya.

Kendati demikian, Lombok Timur dan Lombok Utara merupakan wilayah yang sering dikunjungi wisatawan. “Jadi Mataram masih normal (okupansinya). Karena wisatawan banyak ke Lombok Utara dengan 3 gili terkenalnya. Gempa ini enggak pengaruh ke Bali, wisatawan dari NTB banyak pindah ke Bali,” kata Hariyadi.

Ketua PHRI Nusa Tenggara Barat Lalu Abdul Hadi Faesal menuturkan okupansi hotel berbintang di Lombok merosot sebesar 70% dari sebelumnya mencapai 87% akibat gempa yang terjadi selama 3 minggu.

Sebelum gempa Lombok terjadi, tingkat okupansi mencapai 87% dari Januari hingga pertengahan Juli ini. “Okupansi hotel di Lombok saat ini rerata 20% merosot 70%. Sebelum gempa, kami berbangga okupansi paling tinggi se Indonesia 87%. Untuk okupansi di sisi selatan sekarang 30%,” ucapnya seperti dikutip laman Bisnis.com

Dengan kondisi ini, pihaknya memperkirakan okupansi hotel hingga akhir tahun tak begitu besar yakni sekitar 80% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 85%. “Pemulihan pariwisata Lombok saat ini membutuhkan waktu terutama untuk 3 gili yang menjadi primadona wisatawan yakni Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno,” tandasnya

Saat ini, pembenahan ketiga gili tersebut tengah dilakukan sehingga pada pertengahan September, wisatawan dapat kembali berwisata di tiga gili itu. “Ini sudah mulai banyak wisatawan yang datang kembali ke Lombok. Kemarin sempet mereka ikut eksodus ke Banyuwangi, Jakarta karena ada isu yang ga enak tentang Lombok. Tapi ini mereka (wisatawan) mulai sudah wisata ke Lombok lagi,” tuturnya.

Di saat low season, ketiga gili tersebut ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dengan rerata tingkat keterisian kamar sekitar kurang lebih 80% hingga 90%. Untuk menarik minat berwisata ke Pulau Lombok, pihaknya bekerja sama dengan maskapai yang memiliki penerbangan langsung ke Lombok dengan pemberian promo kamar hotel.

“Dengan promo yang kami berikan bisa membuat okupansi hotel di Lombok kembali pulih. Kami optimis Lombok bisa recovery lebih cepat karena saat Gunung Agung dan Gunung Kelud pariwisata kami juga terdampak,” kata Hadi. (NDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.