Home DESA WISATA Desa Wisata Penglipuran, Bali, Terapkan Protokol Kesehatan Dengan Baik

Desa Wisata Penglipuran, Bali, Terapkan Protokol Kesehatan Dengan Baik

0
42
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyapa warga Desa Wisata Penglipuran, Bali yang tengah melakukan ritual adat sehari-hari. ( Foto: Kemenparekraf).

BANGLI, Bali, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi penerapan protokol kesehatan yang baik Desa Wisata Penglipuran. Salah satu desa adat yang terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia.

“Desa Wisata Penglipuran sudah menerapkan protokol kesehatan yang sangat baik. Terlihat dari fasilitas yang disediakan, seperti wastafel untuk mencuci tangan, hand sanitizer serta signage untuk menjaga jarak aman,” kata Sandiaga, Jumat, 26/2/2021 yang menjadi hari keduanya berkantor di Bali hingga Sabtu besok.

Desa ini merupakan desa berpredikat terbersih ke-tiga  di dunia, setelah desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Sejarah desa ini dimulai sebagai desa pelestarian budaya dan pada 1993 ditetapkan sebagai desa wisata. Pada tahun 2019, PAD Pariwisata di desa ini mencapai Rp4,8 miliar.

“Hari ini kita meninjau kesiapan Desa Wisata Penglipuran, bagaimana pelaksanaan penerapan protokol kesehatannya dan saya sangat mengapresiasi kepatuhan dari protokol kesehatan di desa wisata ini yang diterapkan dengan baik. Dan jika kita bicara tentang world class maka kita bicara tentang kehebatan masyarakat Indonesia dalam menciptakan suatu destinasi wisata,” ujar Menparekraf.

Turut hadir mendampingi Menparekraf Sandiaga Uno, Deputi Bidang Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf Hari Sungkari, Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Gunawan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli I Wayan Adnyana, Ketua Pengelola Desa Wisata I Nengah Moneng, Kelian Adat I Wayan Budiarte, dan Kepala Lingkungan Penglipuran Wayan Agustina.

Menparekraf juga menjelaskan selain dari lima destinasi super prioritas yang terus digaungkan, salah satu masukan Kemenparekraf yang disetujui oleh Presiden Jokowi adalah pengembangan desa wisata. Jadi, selama pandemi COVID-19 masih berlangsung, maka desa wisata dipersiapkan sebagai penopang pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, berbudaya, dan berkearifan lokal.

Desa seluas 112 hektare ini sangat sesuai dengan tren pariwisata ke depan yaitu sustainable tourism. Karena desa ini mengusung konsep pelestarian budaya dan tradisi, serta mengedepankan konservasi lingkungan yang sangat dikenal masyarakat. Tidak hanya terkenal oleh masyarakat Indonesia, namun juga dikenal hingga ke mancanegara.

Sebelum pandemi, pada 2019 Desa Wisata Penglipuran dikunjungi sebanyak 261 ribu wisatawan. Namun, semenjak pandemi jumlah kunjungan wisatawan mengalami penurunan.

“Namun saya melihat pengunjung sudah mulai banyak yang berdatangan. Saya berpesan bahwa protokol kesehatannya tetap harus dijaga karena hanya dengan kepatuhan kita, dengan peningkatan testing , tracing, dan treatment, serta vaksinasi, kita akan membangkitkan pariwisata di Bali dan memulihkan ekonomi kreatif,” kata Menparekraf.

Selain itu, Menparekraf menuturkan pihaknya merencanakan program padat karya untuk Desa Penglipuran. “Di Desa Panglipuran tercatat ada 244 kartu keluarga. Jadi kalau misalkan kita bisa sentuh 5 – 10 persen saja, sudah sangat baik buat kita untuk memastikan geliat ekonomi ini sanggup membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi,” ujar Menparekraf.

Sebelumnya, Menparekraf pernah mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Bali sedang merencanakan program padat karya senilai Rp186 miliar yang akan direalisasikan di 177 desa wisata di Bali. Diharapkan 15.000 pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif dapat terakomodir dalam program ini setiap harinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.