DESTINASI ENTREPRENEUR EVENT INTERNATIONAL

DinarStandard: Terbuka Peluang Indonesia untuk Manfaatkan Ekonomi Halal

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kepemimpinan Indonesia yang berkembang dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di tengah krisis geopolitik yang sedang berlangsung, khususnya konflik di Gaza dan ketegangan Timur Tengah yang meluas melahirkan peluang Indonesia untuk memanfaatkan ekonomi halal,

Berbicara pada seminar Islamic Economic Outlook 2026 : Scenario & Strategic Options from Iran- US- Israel, Rafi-uddin Shikoh, CEO DinarStandard mengatakan bahwa seminar ini merumuskan pertanyaan strategis inti bagi pemerintah dan perusahaan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OIC).

‘Tentu juga peluang Indonesia untuk memanfaatkan ekonomi halal, memperkuat perdagangan intra-OKI, dan mempercepat diversifikasi ekonomi, terutama di bidang pangan, pertanian, dan keuangan Islam,” ujatnya.

Tantangan utama yang dibahas meliputi kerawanan pangan, kesenjangan digital, dan pengangguran kaum muda di seluruh negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Selain juga membahas dampak keragaman politik dalam OKI terhadap kerja sama ekonomi, penurunan peringkat keuangan Islam Indonesia, dan strategi untuk meningkatkan posisinya.

Pariwisata halal dan kebangkitan merek lokal di tengah boikot global dicatat sebagai area pertumbuhan. Kuncinya penguatan ekosistem halal di setiapnegara, seruan untuk aliansi pragmatis dan perencanaan strategis berbasis skenario guna memastikan ketahanan dan memanfaatkan peluang yang muncul.

Seperti diketahui, SGIE merupakan singkatan dari State of the Global Islamic Economy ( SGIE ) merupakan sebuah laporan tahunan tentang kondisi ekonomi syariah global yang dikeluarkan oleh DinarStandard, sebuah lembaga internasional yang berfokus pada kajian ekonomis syariah global.

Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirate Arab. Meski berada di peringkat yang sama seperti tahun lalu, Indonesia mengalami kenaikan signifikan di sektor makanan halal, membuat Indonesia menduduki posisi ke 2 di dunia, setelah sebelumnya berada di posisi 4.

“Terkait ranking ini dan menghadapi skenario perang yang berkepanjangan maka tim perencanaan ekonomi Indonesia agar mengeksplorasi strategi untuk meningkatkan ekosistem keuangan Islam negara dan meningkatkan peringkat SGIE-nya di tahun mendatang,” kata Rafi-uddin Shikoh.

Menurut dia, kementerian terkait akan mengejar pengembangan koridor perdagangan OKI, khususnya berfokus pada Jakarta yang telah fitetapkan sebagai pusat perdagangan ASEAN-OKI dan keuangan Islam.

Otoritas pariwisata akan mengembangkan inisiatif untuk menarik lebih banyak pengunjung OKI dan negara-negara Teluk ke Indonesia, dengan memanfaatkan pergeseran pola perjalanan saat ini.

“Polanya bisa seperti Umroh Plus, jadi negara-negara OKI ditawarkan umroh plus wisata halal ( halal tourism) ke Indonesia,” kata Rafi-uddin Shikoh.

Halal tourism yang lebih dikenal dengan nama Muslim Friendly Tourism adalah bagian dari halal yang terintegrasi di berbagai sektor: pangan, pertanian, keuangan, kesehatan, pariwisata, ritel, logistik, teknologi, dan konstruksi.

Itu sebabnya, kesepakatan strategis untuk meningkatkan sektor keuangan Islam dan pariwisata Indonesia perlu ditingkatkan dengan negara anggota OKI seperti kesepakatan strategis baru-baru ini, seperti koridor kereta api Turki-Arab Saudi, menunjukkan potensi kerja sama regional yang berdampak.

Menurut Rafi-uddin Shikoh dinamika Politik dan kerja sama antar-OKI 1sntara realitas dan peluang menjadi tantangan sendiri. Keragaman politik dan ideologis di dalam OKI mempersulit aksi ekonomi terpadu, tetapi aliansi pragmatis dan studi kelayakan bisnis mendorong pertumbuhan perdagangan antar-OKI yang stabil.

Lebih dari 25% perdagangan OKI kini bersifat intra-regional, dengan negara-negara ekonomi besar seperti Indonesia, Arab Saudi, dan Turki sebagai pemimpinnya
Itulah sebabnya menyoroti pentingnya otonomi strategis OIC dan percepatan infrastruktur ekonomi baru sangatlah penting.

Kemitraan bilateral dan multilateral dipandang lebih layak daripada integrasi organisasi penuh, mengingat prioritas nasional dari setiap negara anggota, tegasnya

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)