Blue Marlin Roga Maha Rupa, Sampah Siapa?

0
30
blue-marlin-dari-sampah-plastik-kemasan-bekas-pakai-ikon-desa-les

BALI UTARA, bisniswisata.co.id: Berdiri anggun struktur setinggi 2,1 meter lebar 2 meter, berbahan baku kemasan plastik bekas pakai, berbentuk seekor Blue Marlin yang sedang mengendarai ombak. Bernama Roga Maha Rupa — sampah besar (volume) yang memiliki berbagai wujud –, berayun, mengalun mengikuti arus, diterpa angin laut, dikawal empat tong sampah berbahan plastik kemasan bekas juga, dengan tutup tong berbentuk penyu.

Ikon istagramable ini ide dari Gede Adi Wistara, SH sebagai Kepala Desa, mengingat Les dikenali masyarakat sebagai destinasi wisata laut, air terjun Yeh Mempeh, dan pengolahan sampah.

Ikon dari plastik residu merupakan contoh desa dalam menunjukan kreativitas pengolahan sampah plastik.  Menjadi batu loncatan, mendukung upaya desa untuk memilah dan mengolah sampah plastik.

“Berharap produsen harus sadar dengan produknya, setelah memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Menyisakan residu berbahaya bagi lingkungan,” jelas Kades Les lebih lanjut.

Didukung penuh Universitas Carroll, Wisconsin, Amerika dan Sea Communities, patung kemasan plastik bekas pakai berbentuk ikan Blue Marlin Roga Maha Rupa berdiri megah di pesisir pantai desa Les, Tejakula, Buleleng, Bali Utara.

Ide Kepala Desa diwujudkan oleh para penggiat kreatif, artisan ogoh-ogoh yang dipimpin Komang Trisna Ananda. Komang dan kawan-kawan juga dibantu mahasiswa Universitas Carroll, peserta program immerse dan pertukaran budaya. Program tersebut dilaksanakan dua kali dalam setahun dan sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Namun selama pandemi COVID-19, program lapangan dilakukan secara virtual. Mahasiswa peserta program dapat berkomunikasi langsung dengan teman- temannya di Desa Les. Pada program menjadikan sampah kemasan bekas, ikon Blue Marlin dan perlengkapannya, pendampingan dilakukan secara virtual.

Tanggungjawab Bersama

ragam-sampah-plastik-kemasan-bekas-pakaiMenurut Edgar Bernal, Koordinator Sea Communities projek ini merupakan hasil yang signifikan dari pengalaman baru dalam melaksanakan program pariwisata antar negara, pada kondisi “terbatas” akibat pandemi COVID-19. Wujud dukungan dan membantu Kepala Desa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sampah plastik. Sekaligus membuka ruang kreativitas seniman muda desa yang memiliki keahlian membuat ogoh- ogoh, memanfaatkan sampah plastik. Dan menjadi sebuah pengalaman edukasi bagi mahasiswa luar negeri.

Kerry Wiedemann, dosen dari kampus Carroll, Wisconsin, Amerika melihat antusiasme mahasiswanya berkomunikasi dan mengikuti setiap perkembangan proyeknya di Les, Buleleng, Bali dari ke jauhan. Mahasiswa, sebagai masyarakat dunia, sangat penting untuk mengambil tanggung jawab terhadap masalah lingkungan.

Hal mengelola sampah hasil aktivitas manusia menurut Betsy Borgwardt, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, masyarakat setempat dimana sampah menumpuk. Tetapi tangungjawab semua pihak, terlebih untuk Bali sebagai destinasi wisata. Sewajarnya kalangan wisatawan juga menunjukkan tanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkan.

Menurut Camat Tejakula I Gede Suyasa, SP “Siapapun yang melihat Blue Marlin Roga Maha Rupa, akan diingatkan pada ragam biota laut yang harus diselamatkan. Semoga hal ini dapat membuat kita ingat untuk menjaga kebersihan laut kita.”

Hal sampah, jangan “tanya” sampah siapa, tetapi apa yang kita lakukan terhadap sampah kita? Dan ingat, jangan kotori desa tetangga, apalagi halaman tetangga. Perayaan Kuningan 2021, menjadi tonggak sejarah Blue Marlin Roga Maha Rupa, bravo Desa Les.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.