Air Terjun Binangalom, Pengarisbawah Eksotisme Danau Toba

0
6
Air Terjun Binangalom ( Foto: Hasudungan Sirait)

Oleh: P. Hasudungan Sirait

PARAPAT, bisniswisata.co.id: Air menampar wajah kami yang sedari tadi berdiri di geladak. Kontan aku berbalik setelah cairan dari udara itu telah menjadi semburan serupa hujan sepoi-sepoi basah, begitu moncong kapal mencium dinding batu tempat air dari ketinggian jatuh.

Nikon berlensa zoom kulindungi dengan memasukkannya begitu saja ke balik oblong yang kukenakan. Jeritan kecil pertanda kekagetan sekaligus kenikmatan yang sedang dicerap terdengar, terutama dari para orang dewasa.

Berada begitu dekat dengan tempat air terjun menghantam danau, rasanya begitu eksotik. Bebatuan yang masih saja bergeming kendati telah ratusan tahun—kalau bukan sekitar 70 ribu tahun, yakni telah ‘super vulcano’ bersebutan Gunung Toba meletus hingga nyaris membinasakan sebagian besar bumi—dihantam air dari ketinggian,  nyata konturnya. Air keputihan yang berbusa  menambah nikmat suasana.

Akan lebih sedap lagi kalau kita menyemplung ke danau dari belakang kapal yang bertambat tak jauh dari sana.  Dengan atau tanpa pelampung, sama saja serunya. Arus cukup deras dan permukaan danau  senantiasa bergelombang sebagai efek dari hunjaman air terjun. Dinginnya air bisa mengeramkan bagian tertentu dari tubuh, terlebih betis. Apalagi kalau sebelumnya kita tanpa pemanasan. Itu sempat kualami.

Begitupun, tetap saja orang ramai mengapung di belakang kapal. Para remaja, terutama. Mereka yang tak bisa berenang akan memanfaatkan betul pelampung yang diulurkan awak kapal yang senantiasa berjaga, selain yang dipakaikan di badan. Kalau tidak di pelampung yang ditarik-ulur, di talinya yang menjulur mereka berpegang.

Awalnya, aku sendiri berenang dengan gaya bebas atau dada, tanpa pelampung.   Tapi, tak sampai 15 menit diri ini sudah keletihan terutama oleh arus yang menghalau badan dari tepian. Alhasil, seperti yang lain,  berpelampung juga aku kemudian.

Sebenarnya, tertarik juga diri ini mengikuti beberapa remaja yang mendekati masa pusaran. Namun, hasrat kupendam sebab harus mengawasi Edwin dan Tiarma (keponakan yang masih anak SD) serta Paulus. Yang terakhir ini, ia keponakan juga, sama sekali tak bisa berenang meski sudah duduk di bangku SMA.

KREATIF

Situmurun, itulah nama lokasi wisata yang sedang naik daun ini. Letaknya di Jonggi Nihuta (Kecaman Lumban Julu). Kedahsyatannya—jika menggunakan ukuran ketinggian air jatuh—masih kalah jauh  dibanding Sipiso-piso yang di Tongging (Tanah Karo) atau Sigura-gura di Pintu Pohan (Kabupaten Toba Samosir); keduanya pernah kujambangi. 

Namun, kelebihan air terjun yang sebelumnya lebih dikekal dengan sebutan Binangalom ini ada yakni ia jatuh langsung menghantam permukaan Danau Toba. Lagi pula bukit-tebing yang menghampar di sepanjang lintasan,  serba elok. Belum lagi Pulau Samosir yang membentang jauh di hadapannya.

Nama Binangalom sesungguhnya sudah lama kudengar. Persisnya saat diriku masih menjadi bocah yang menjaga pangkalan BBM di pelabuhan Tigaraja. Soalnya, salah satu pembeli setia kami adalah warga kitaran Binangalom. 

Setiap transaksi di masa itu harus kami catat di buku khusus. Besar atau kecil penjualannya mesti dituliskan sebab sorenya nanti semua akan direkap. Dalam kitab itu, dalam seminggu akan tertera minimal 2 kali nama ‘Par Binangalom’ [orang Binangalom]. Kalau tak salah, pelanggan setia kami itu pemilik gilingan padi. Ah, entah dimana kini mereka berada….

Kendati sudah lama sekali akrab dengan namanya, seumur hidup baru pada 3 Januari kemarin aku melongoknya. Bersama keluarga besar, kami bertolak dari Ajibata dengan kapal carteran. Siang itu, Repa dulu yang kami tuju. Kampung terpencil ini merupakan tanah kelahiran abang ipar (‘lae’) kandungku, Effendi Silalahi (suami Kak Korbina Sirait).

Repa merupakan titik selepas Batu Gantung, Sibaganding, dan Panahatan kalau kita beranjak dari Parapat. Di sana kini terdapat kawasan wisata yang juga sedang mengeliat. Namanya sangat kekinian, yakni La Repa (macam La  Riviera yang di Kolumbia, ya…). Selain pantai dan alam asri, andalannya adalah gua. Hari itu anak-anak sekolah dari Parapat piknik ke sana. Di pantai, spanduk besar mereka pampangkan.

Kami tak merapat ke Repa sebab   mega mendung berarak di langit. Putar haluan, ke Binangalom kami menuju.

Seperti biasa, di sepanjang jalan aku berburu obyek foto. Kapal turis, ‘speed boat’, ‘solu-solu’ [sampan bermesin] yang berpapasan menjadi sasaran jepretan yang tak habis-habisnya, di samping dinding batu perbukitan dan kampung-kampung  terisolir di kejauhan. Sesekali wajah dan puisi penyair akbar Sitor Situmorang yang termaktub di  kitab ‘Angin Danau’ muncul di benak ini.

Binangalom atau Situmurun ternyata kuasa menembus kepenatan kami yang telah sekitar 2 jam berada di dalam kapal turis yang memang diminta melaju pelan saja agar penumpangnya leluasa mereguk nikmat karunia alam. Ibuku sendiri, Sorta Hutapea, yang tinggal 1 hari lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-85,  siang menjelang petang itu  tampak gembira menunggui para cucunya dan aku bercengkrama cukup lama di belakang kapal yang kami sewa (perhatikanlah fotonya).

Entah siapa yang memulai langkah membawa pelancong ke Situmurun. Yang pasti, dia atau mereka, menurutku sangat visioner selain kreatif karena telah meluaskan jagat pariwisata Danau Toba. Pula, menggarisbawahi eksotismenya.

Para awak kapal juga membuat diriku terkesan. Selain mengerti keinginan tetamu, mereka pun kreatif. Merapatkan moncong kapal tepat ke tempat air jatuh serta menyiapkan spot-spot menarik bagi tetamu yang ingin mengabadikan diri,  termasuk dengan ber’selfie’-ria, merupakan sebuah terobosan penting, menurutku.

Respekku bertambah karena keselamatan penumpang pun mereka utamakan. Sebuah kemajuan besar, tentunya, setelah memetik pengalaman pahit dari tragedi tenggelamnya kapal Sinar Bangun di perairan dalam Tao Silalahi.

Sekarang, tantangannya adalah bagaimana lebih menghidupkan Binangalom alias Situmurun dan titik-titik eksotik lain yang sesungguhnya banyak di Kaldera Toba. Ini tugas kita bersama, terutama kaum pecintanya. Kita semua perlu bahu-membahu. Sepakat?

Catatan Penulis: Artikel ini kubuat hari ini (Sabtu, 9 Januari 2021) di Siburakburak. Tepatnya di kediaman adikku, Mona Leonora Sirait. Jendela dan pintu yang kubuka lebar-lebar agar mata ini bebas memandangi Pulau Samosir dan kapal yang lalu lalang di kejauhan, membuat semuanya terasa mudah.

Apalagi air putih, kopi, dan nasi bungkus Marina (keluarga Mak Jose-Dekman) ia hidangkan juga sebagai sarapan untuk tamunya yang mendadak menumpang tidur tadi malam.  Dingin yang mendekap dan gerimis yang terkadang tiris menggenapi suasana.

Terimakasih berat ya, Mon..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.