Fateh Ali ( kiri),pendiri dan CEO SmartDeen.com dan Twillion.ai dan Nurhafihz Noor membahas bagaimana AI membentuk kembali penemuan, perencanaan, dan personalisasi perjalanan bagi wisatawan Muslim.
SINGAPURA, bisniswisata.co.id: AI berpotensi mengubah cara wisatawan Muslim menemukan, merencanakan, dan menikmati perjalanan, tetapi kepercayaan akan sangat penting untuk keberhasilannya, menurut para pembicara di Halal in Travel Global Summit 2026 yang diselenggarakan oleh CrescentRating dan HalalTrip.
Selama sesi Predictive Travel: Leveraging AI and Intelligence for Precision Marketing to Muslim Travellers, para panelis mengatakan rekomendasi yang tidak akurat, ulasan palsu, dan ketergantungan berlebihan pada otomatisasi dapat merusak kepercayaan wisatawan, bahkan ketika AI memungkinkan pengalaman perjalanan yang lebih personal.
Fateh Ali, pendiri dan CEO SmartDeen.com dan Twillion.ai, mengatakan wisatawan Muslim semakin mengharapkan platform berbasis AI untuk memberikan bantuan secara real-time dan kontekstual, bukan sekadar mengarahkan mereka ke restoran halal, fasilitas ibadah, dan layanan berbasis agama lainnya.
Namun, dia ingatkan bahwa kepercayaan tetap penting. “Wisatawan Muslim menghargai keaslian. Bahkan halusinasi AI terkecil pun dapat merusak kepercayaan,” katanya seperti dilansir dari ttgasia.com
Fateh menambahkan bahwa AI dapat membantu bisnis perjalanan memberikan rekomendasi yang lebih relevan dengan mengenali bahwa wisatawan Muslim memiliki kebutuhan, perilaku, dan harapan yang berbeda.
Meskipun AI menghadirkan peluang signifikan untuk personalisasi, ia mengatakan teknologi tersebut harus didukung oleh data berkualitas, pemahaman budaya, dan pengawasan manusia.
Nurhafihz Noor, dosen senior pemasaran di Universitas James Cook Singapura, menyatakan bahwa bisnis perjalanan harus fokus pada membangun kepercayaan daripada sekadar berinvestasi dalam teknologi baru.
Ia memperingatkan bahwa sistem AI yang dirancang buruk dapat mengarahkan wisatawan ke pilihan yang tidak sesuai atau non-halal, sementara ulasan yang dihasilkan AI dapat mempersulit konsumen untuk bedakan rekomendasi asli dari konten palsu.
Terlepas dari kemajuan dalam otomatisasi, Nurhafihz menekankan bahwa interaksi manusia tetap menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan, terutama ketika wisatawan membutuhkan bantuan, jaminan, atau pemulihan layanan.










