27 – 29 September 2018, Festival Gunung Slamet

0
906
Tari Jaran Kepang (Foto: .needpix.com)

PURBALINGGA, bisniswisata.co.id: Sebanyak 15 ribu wisatawan ditargetkan mengunjungi Festival Gunung Slamet (FGS) 2018. FGS digelar di Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada 27 hingga 29 September 2018.

Festival budaya dan pariwisata yang memasuki tahun ketiga, diawali dengan prosesi pengambilan air di sumber mata air Sikopyah, Dusun Kaliurip, Desa Serang. Prosesi ini sebagai gambaran jika kehidupan warga tidak terlepas dari air kehidupan yang berasal dari mata air di bawah kaki Gunung Slamet.

Festival ini mampu mengangkat citra pariwisata Purbalingga, khususnya di wisata di Desa Wisata Serang. Setelah FGS I digelar pada 2015, kunjungan wisatawan ke Desa Serang naik hingga 400 persen. Begitu pula saat FGS ke-II 2016, kunjungan wisata ke Purbalingga khususnya Desa Wisata Serang semakin meningkat.

Sehingga memberikan dampak ekonomi bagi warga masyarakat dan tentunya mengangkat citra Purbalingga sebagai Kabupaten Wisata. Hari pertama, 27 September 2018, ada Pawai Taaruf, Festival Rebana, Lomba MTQ dan Serang bersholawat.

Hari kedua, Prosesi pengambilan air Si Kopyah akan diikuti ratusan warga desa setempat yang mengenakan pakaian traisional. Mereka yang terdiri dari para ibu-ibu, remaja putri, dan para pemuda, akan membawa air itu dengan menggunakan lodhong (tempat air dari bambu).

Setelah air diambil, mereka akan turun menuju mesjid selanjutnya menuju balai desa Serang. Air dalam lodhong itu disemayamkan hingga untuk dibawa ke kawasan wisata Lembah Asri yang juga berada di desa tersebut. Jarak dari titik pemberangkatan menuju balai desa mencapai tiga kilometer. Selain itu, ada acara Ruwat bumi dilanjutkan dengan gelaran wayang kuli.

Hari Ketiga, Ada pawai Budaya, Mangan Takir Bareng Bupati. Juga ada perang buah tomat di rest area Lembah Asri Serang, dan berbagai pertunjukkan kesenian. Pada siang hari akan diisi pentas seni kuda lumping, dan malam harinya digelar pertunjukkan musik akustik yang menghadirkan artis ibu kota.

Khusus perang buah tomat, kami harapkan bisa menjadi tontonan unik wisatawan dalam rangkaian Festival Gunung Slamet (FGS) III. Tontonan ini mirip yang digelar di sebuah kota kecil di Bunoi, Spanyol. Ada tiga kuintal tomat yang disiapkan untuk perang tomat tersebut.

Sementara puluhan homestay yang ada di Desa Serang habis dipesan oleh wisatawan. Wisatawan yang hendak bermalam di Desa Serang selama pergelaran FGS 2018 namun belum memperoleh tempat menginap tidak perlu khawatir karena sejumlah rumah warga yang belum dijadikan sebagai homestay siap disewakan. Untuk sewa kamar di rumah-rumah warga sebesar Rp 50 ribu per kamar dan penyewanya mendapat makan satu kali. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here