Warga Inggris pun Tolak Kebijakan Bagasi Berbayar

0
191

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pengamat Penerbangan Alvin Lie menilai penerapan bagasi berbayar itu sudah sesuai aturan. Dia menjelaskan terkait masalah bagasi berbayar jangan hanya dilihat dari aturan di Indonesia saja, namun coba dilihat juga dari aturan internasional.

Sebab, lanjut dia, sebagai bagian dari anggota penerbangan internasional tepatnya dalam resolusi International Air Transport Association (IATA) nomor 302 tahun 2011 yang ditegaskan bahwa maskapai diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri kebijakan bagasi.

“Di aturan tersebut disebutkan mulai dari membebaskan biaya bagasi seluruhnya, sebagian ataupun mengenakan biaya pada bagasi yang dibawa oleh penumpang. Tidak hanya itu, kewenangan pengenaan biaya tersebut juga boleh dengan penentuan tarif berdasarkan biaya per kilogram, biaya berdasarkan sektor, biaya sama rata dan sebagainya,” kata Alvin dalam rilisnya, Rabu (13/2/2019).

Dilanjutkan, jika dilihat di dalam negeri sejak dulu tidak diatur, maskapai bebas menentukan sendiri. Bahkan di Peraturan Menteri (Permenhub) nomor 185 tahun 2015 ditegaskan maskapai berbiaya rendah atau “no frill” boleh menerapkan bagasi berbayar.

Sedangkan, untuk maskapai dengan kategori layanan medium (medium service) dapat memberikan bagasi gratis hingga 15 kilogram, lalu untuk ‘full service” maksimal 20 kilogram. “Jadi, terkait penerapan bagasi berbayar oleh maskapai LCC jika dilihat dari aturan yang ada, baik internasional atau Indonesia tidak menyalahi aturan yang ada,” lanjut mantan anggota DPR RI.

Diakui, memang di Indonesia pemberlakukan bagasi berbayar ini menimbulkan polemik dan sempat terjadi penolakan, hal tersebut karena konsumen penerbangan di Indonesia telah lama dimanjakan dengan pemberian bagasi cuma-cuma dan ini merupakan perubahan yang pahit.

“Tidak hanya di Indonesia, di Inggris perubahan yang terjadi juga menimbulkan resistensi. Seperti belum lama ini, maskapai LCC bernama Flybe menerapkan aturan bahwa bagasi yang dibawa ke kabin harus diukur volumenya dan besarnya. Dan yang melebihi aturan yang ada akan dikenakan biaya tambahan, maka ramailah publik di Inggris,” katanya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here