Wapres KH Ma’ruf Amin Apresiasi DinarStandard yang Luncurkan The State of Global Islamic Economy Report 2020/ 2021.

0
9

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin mengapresiasi Dinar Standard yang telah memberikan anslisis ekonomi negara-negara Islam sehingga menjadi acuan penting dan tiap negara islam menjadi tahu dimana posisinya masing-masing dalam halal Industry.

” Terima kasih pada DinarStandard yang telah menerbitkan report edisi ke 8 bertajuk The State of Global Islamic Economy Report 2020/2021 yang  kembali diluncurkan di 11 negara,” kata Wakil Presiden ketika memberikan sambutan pada peluncuran laporan tersebut yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Wapres berbicara langsung pada  Abdulla Muhammad Al Awaar, CEO Dubai Islamic Economy Development (DIEDC) yang membiayai report tersebut dan juga Rafi Uddin Shikoh, CEO/ Managing Partner DinarStandard.

Acara yang dilakukan secara hybrid baik di Raffles Hotel, Jakarta maupun pembukaan oleh Wapres KH Maruf Amin di ruang kerjanya secara daring pada 17 November 2020 lalu menandakan keseriusan Indonesia untuk mendedikasikan pengembangan ekonomi halal.

Di Indonesia, kata Wapres, pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah difokuskan kepada 4 (empat) hal yaitu: Pengembangan Industri Produk Halal, Pengembangan Industri Keuangan Syariah, Pengembangan Dana Sosial Syariah, dan Pengembangan dan perluasan kegiatan usaha Syariah, urainya.

” Tekad Indonesia untuk menjadi negara produsen halal industry terbesar dunia 2024 semoga bisa cepat terwujud,” kata KH Maruf Amin optimistis.

Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), menyatakan, laporan ini dibuat oleh lembaga research Dinar Standard. Laporan  diluncurkan di negara tempat research ini dilakukan di UEA pada Senin, 16 November 2020.

“Indonesia menjadi negara pertama penerima peluncuran report pada Selasa, 17 November 2020. Disusul Malaysia, Rabu 18 November 2020, Maroko 19 November 2020, Spanyol, Senin 23 November 2020, Nigeria 25 November 2020, India 26 November 2020, Singapore 2 Desember 2020, London 15 November 2020, Turki 23 Desember dan Jepang 26 Januari 2021,” kata Sapta Nirwandar

Proses panjang penelitiannya ini didanai oleh Dubai Islamic Economy Development (DIEDC) yang berdiri di tahun 2013, dan merupakan Lembaga pemerintahan UEA yang telah memimpin transformasi pembangunan perekonomian Dubai,” kata Sapta Nirwandar.

Peluncuran tahun ini, ujarnya, terasa istimewa mengingat kondisi pandemi global yang telah menggeser kenormalan baru. Keistimewaan tersebut tidak hanya terkait konten laporan yang diluncurkannya, tetapi juga bagaimana prosesi peluncuran ini dilakukan.

Pada tahun sebelumnya, peluncuran laporan ini dilakukan dalam prosesi pertemuan antara Lembaga riset dan pengguna hasil riset. Namun kali ini peluncuran dilakukan secara hybrid yang memadukan pertemuan maya dan pertemuan nyata. 

Pertemuan nyata (Offline) di Jakarta dilaksanakan dengan sekitar 30 pimpinan dan lembaga penggerak ekonomi Islam Indonesia. Acara berlangsung di Hotel Raffles, Kuningan Jakarta yang mengedepankan kepatuhan protokol kesehatan dalam masa pandemi. 

Selanjutnya pelaku ekonomi halal dari sejumlah sektor halal berkembang seperti makanan dan minuman, modest fashion, farmasi, kosmetik, pariwisata, media dan rekreasi bergabung dalam acara secara daring mencapai 1.000 peserta. Selain itu juga dihadiri peserta-peserta hybrid dari 11 negara lainnya.

Keberadaan Indonesia di kancah perekonomian global seperti menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam kelompok negara G-20 tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi ranking teratas besar negara pemimpin perekonomian islam global.

Ditahun sebelumnya Indonesia berada di peringkat 5 karena posisi Indonesia lebih sebagai negara konsumen. Namun dengan keseriusan pemerintah Indonesia, menjadi kemungkinan dan menjadi semangat bersama untuk Indonesia menjadi negara produsen produk halal terbesar dunia, sehingga menjadi negara yang memimpin perekonomian islam dunia. 

Bonus demografi muslim bukan hanya berperan dalam fungsi konsumsi, tetapi juga berperan dalam fungsi produksi. Lembaga setingkat kementerian ini memiliki tanggung jawab dalam menentukan investasi pembangunan Dubai, UEA dan penentu kebijakan pembangunan perekonomian Islam dunia. 

“Setiap tahunnya IHLC berkolaborasi dengan Dinar Standard untuk meluncurkan report terpercaya dalam ekonomi islam. Mengingat laporan inilah yang menjadi rujukan dan menjadi masukan dan usulan untuk pembuatan kebijakan pengembangan ekonomi Islam di Indonesia,” katanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.