Tumbilotohe, Tradisi Sejuta Pelita di Akhir Puasa

0
157
Pedagang menata lampu minyak di sebuah lapak di kompleks pasar Sentral, Kota Gorontalo, Selasa (21/6). Lampu minyak yang menggunakan botol bekas minuman tersebut dijual seharga Rp1.000/buah untuk menjadi penerangan saat menyambut tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu tiga hari sebelum Idul Fitri di Gorontalo. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

GORONTALO, bisniswisata.co.id: Setiap daerah memiliki tradisi sendiri-sendiri di akhir bulan suci Puasa atau menjelang Idulfitri segera tiba. Salah satunya warga Gorontalo dengan menggelar tradisi tumbilotohe atau tradisi menyalakan berjuta lampu minyak pada akhir Ramadhan. Tradisi turun temurun ini, diselenggarakan pada Jumat malam, 31 Mei 2019 hingga Minggu, 9 Juni 2019 dini hari.

Ribuan warga tumpah ruah ke sejumlah tempat untuk menyaksikan indahnya hiasan lampu temaram. Lampu-lampu minyak dipasang menghiasi Kota Gorontalo, seperti di jalan-jalan, halaman rumah, masjid, bahkan sungai-sungai.

Tahun ini, tempat paling favorit yang dikunjungi ribuan warga, yakni di sekitar Jembatan Talumolo. Sedikitnya 15.000 buah lampu minyak dari Dinas Pariwisata Kota Gorontalo menghiasi muara Sungai Bone. Pelita sebanyak itu diperkirakan menghabiskan 4.000 liter minyak tanah. Akibat padatnya warga di tempat ini, jalanan pun macet hingga tengah malam.

Kemerihan tumbilatohe, juga terjadi Jalan Tribrata di Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Warga tumpah ruah memadati jalan itu. Warga bersuka cita membawa lampu tradisional berupa botol bekas minuman berenergi yang beri minyak tanah dan sumbu.

Dilansir wartawisata.id, Sabtu (01/06/2019) tradisi yang diperkirakan berlangsung sejak abad ke-15. Kala itu penerangan masih berupa wango-wango, yaitu alat penerangan terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohe tutu atau damar yaitu semacam getah padat yang menyala cukup lama ketika dibakar.

Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala. Seiring dengan perkembangan zaman, bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini.

Seiring perkembangan zaman, penggunaan lampu hias listrik juga dipasang untuk menambah semarak tumbilatohe. Kerlap-kerlip kota Gorontalo semakin meraih dan semarak. Ada yang berbentuk tanda Love, masjid, Rangkaian kata ucapan selamat Idul Fitri dan lainnya.

Apalagi jutaan lampu hias listrik dipasang membentang pada tiang-tiang bambu dan tali yang didekorasi sedemikian rupa, sehingga memberi kesan jalan Tribrta beratapkan lampu hias. Sedangkan di samping kanan dan kiri sepanjang ruas jalan itu dihiasi dengan lampu botol tradisional.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya sekaligus menjadikan Kelurahan Ipilo sebagai destinasi wisata religi di Kota Gorontalo,” jelas Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Wahab Rahim.

Disisi lain, daya tarik tumbilotohe, berdampak positif bagi para nelayan karena ketiban rezeki. Perahu-perahu mereka disewa oleh para wisatawan yang ingin ke tengah sungai untuk menyaksikan tumbilotohe dari jauh. Hasilnya memang sangat menakjubkan.

Tarif yang dikenakan untuk setiap kapal sangat bervariasi antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per orang, tergantung jarak yang ditempuh. Para nelayan ini mengaku memperoleh pendapatan sedikitnya Rp250 ribu per malam pada perayaan tumbilotohe tahun-tahun sebelumnya.

Anak menyalakan lampu minyak demi memeriahkan
Tumbilotohe

Menurut Bupati Bone Bolango Hamim Pou, tradisi ini akan terus dikembangkan pada tahun-tahun yang akan datang. “Karena selain untuk melestarikan budaya turun-temurun, tradisi ini juga membawa rezeki bagi warganya. Sejumlah wisatawan pun mengaku kagum dengan tradisi tumbilotohe ini,” lontarnya.

Dijelaskan Tumbilotohe dari bahasa Gorontalo, yaitu tumbilo dan tohe. Tumbilo artinya memasang, dan tohe artinya lampu. Tumbilotohe perayaan berupa memasang lampu di halaman rumah-rumah penduduk dan di jalan-jalan terutama jalan menuju masjid yang menandakan berakhirnya Ramadhan di Gorontalo. u listrik.

Tumbilo tohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii….. Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat. Malam tumbilo tohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di Gorontalo.

Saat tradisi tumbilo tohe di gelar, wilayah Gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap. Gemerlap lentera tradisi tumbilo tohe yang digantung pada kerangka – kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota Gorontalo.

Di atas kerangka digantung sejumlah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan hati menyambut hari raya idul fitri. Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama.

Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah. Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona.

Tradisi tumbili tohe juga menarik ketika warga Gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug. Tumbilo tohe merupakan salah satu kekayaan budaya yang unik di Gorontalo. Walaupun di daerah sekitar Gorontalo ada festival serupa, seperti di Bolaang Mongondow Utara ada “Maninjulo Lambu” dan di Bolaang Mongondow Selatan ada “Sumpilo Soga”, tapi tidak sesemarak di Gorontalo. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.