ENTREPRENEUR HOSPITALITY NASIONAL

Tren Wisata Berkelanjutan Buka Peluang Bisnis Properti Bali Tetap Prospektif

CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id: Tren wisata berkelanjutan membuat bisnis properti di Bali tetap prospektif apalagi dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi, kata satu pengusaha properti di sini.

Pengusaha itu, Bambang S Hadiwidjojo, CEO BMW Group mengatakan di saat pengusaha menganggap bisnis properti mandeg di Bali, bahkan pengusaha lokal mengobral harga properti miliknya untuk memenuhi kewajiban bayar bunga bank, tetap selalu ada peluang menguntungkan di bisnis ini.

” Saya menganut selalu ada peluang di tengah krisis apapun. Pengusaha memang dituntut untuk bisa membaca peluang bisnisnya dalam kondisi apa saja dan dimana saja ,” jelas bapak tiga anak yang bergerak dibidang Developper Property & Real Estate.

Oleh karena itu sebelum ada gerakan Work from Bali, Bambang sudah rutin kerja dua minggu di Bali dan dua minggu di Jakarta sejak April 2021 karena selain Bali selalu ada dalam daftar keinginannya untuk berlibur, dia merasa prihatin dengan nasib pengusaha properti lokal yang mau buru-buru melepas asetnya untuk bayar hutang bank dan biaya hidup keluarga maupun usaha.

“tren pariwisata ke depan sudah bisa terbaca seperti pak Menparekraf Sandiaga Uno katakan yaitu akan lebih localize, customize, dan smaller in size.  Ini juga merupakan bagian daripada adaptasi dan inovasi menuju ekowisata atau wisata berbasis alam,” ungkapnya.

Oleh karena itu pihaknya mengerjakan dua proyek di Bali yang back to nature, kembali ke alam karena banyak orang merasa nyaman berada di alam terbuka.

 ” Di udara yang terbuka itu lebih aman daripada udara tertutup dengan berwisata bersama keluarga saat pandemi global saat ini yang belum bisa diketahui kapan berakhirnya  ,” jelasnya

Proyek Pertamanya adalah Triyana Resort di Desa Carangsari bermitra dengan Ida Bagus Putu Widi Adnyana, pengusaha lokal diatas tanah seluas satu hektar.

“Semua usaha kami di Bali selalu berpartner dengan putra daerah. Model bisnis yang saya usung mengedepankan kolaborasi & bersinergi dengan berbagai kalangan sehingga bisa membangkitkan sektor pariwisata & properti khususnya di Bali dan 5 destinasi Super Prioritas , sesuai program pemerintah,” kata Bambang S Hadiwidjojo.

Triyana Resort ini mengusung tema Glamping         ( glamour camping) dimana sudah ada tujuh glamping berdiameter 8 meter layaknya kamar hotel bintang lima yang menjadi bangunan permanen dan 16 Teater Tent alias tenda yang bisa buka-tutup atau bisa dipindah-pindah dengan cepat.

Teater Tent ini areanya luas dan berjenjang karena sekaligus bisa menjadi tempat untuk pernikahan yang bisa menampung banyak orang, juga bisa menjadi area panggung kesenian.

Mengadopsi tren wisata berkelanjutan maka konsep resepsi pernikahan di alam terbuka ini dibutuhkan dan tidak memerlukan investasi besar dalam menyediakan fasilitas ( amenities ).

Lagi pula, tambahnya, jika musim pernikahan usai, Teater Tent bisa dipasang kembali dengan cepat karena disukai oleh generasi muda terutama Gen Z yang suka berpetualangan dengan alam.

” Kami juga memperhatikan kebutuhan misalnya jika bulan Juli ini border di buka maka akan ada pergerakan wisatawan terutama wisatawan nusantara ( domestik) maka Teater Tent cocok, tinggal pasang” kata Bambang.

Kalau Juli dan Agustus yang dibelahan bumi lainnya merupakan Summer Time ( liburan musim panas) sudah kelihatan banyak pengunjung,  Bambang mengaku antisipasinya adalah menambah fasilitas villa menghadap hamparan sawah yang disukai wisman untuk Desember mendatang.

“Kalau di bangun mulai Agustus, maka bulan Desember saat orang melakukan liburan akhir tahun, fasilitas villa sudah siap dipasarkan. Itulah sebabnya jika dilakukan dengan perencanaan dan kehati-hatian dalam berinvestasi maka bisnis properti  akan aman-aman saja,” ungkapnya.

Dampak berganda

Mengawali usaha sebagai kontraktor 25 tahun yang lalu, BMW Group yang dipimpinnya sudah memiliki 10 perusahaan anak usaha dan terakhir dia mendirikan PT Bangun Pariwisata Indonesia untuk menyiapkan fasilitas penunjang di lima destinasi Super Prioritas ( DSP ) yang sudah dicanangkan pemerintah.

Bambang memilih fokus di bidang pariwisata karena selain dia suka berwisata juga karena dampak berganda dari bisnis ini juga luas. 

Selama ini dari bisnis properti yang digelutinya, dampak berganda yang ditimbulkan hingga 175 item  karena membangun properti butuh semen, pasir, bata, cat yang berarti banyak menghidupi sektor lainnya.

” Sama juga halnya dengan pariwisata, multiplier effect yang dimiliki demikian luas ke seluruh rakyat Indonesia mulai dari petani, peternak, nelayan terlibat memasok untuk industri hotel dan restoran. Belum lagi dari sisi transportasi, atraksi, destinasi,” jelasnya.

Itulah sebabnya, ketergantungan perekonomian Bali yang mencapai 56% pada sektor pariwisata membuat dampaknya juga sangat luas sehingga di semester satu pertumbuhannya minus 9,3% dan di semester ke dua ini diprediksi minus 6%.

tenda
Glamping ( Glamour camping di Triyana Resort, Bali

Meski banyak pengusaha properti tidak mampu ekspansi apalagi berinvestasi di Bali, Bambang yakin badai pasti berlalu dan pariwisata selamanya akan menjadi motor penggerak ekonomi dan devisa negara.

” Makanya pemerintah ingin bikin Bali baru dengan adanya 5 destinasi super prioritas ( DSP) tapi dengan kondisi pandemi global, fokus dulu ke Bali karena selain magnet, kalau Bali bangkit, destinasi pariwisata lainnya juga bangkit,”

Bambang yang setiap Lebaran dan dalam setahun minimal dua kali liburan keluarga mengatakan berwisata sudah menjadi gaya hidup masyarakat dunia.

Oleh karena itu ketika di Eropa dan Amerika COVID – 19  melandai dimulailah perjalanan ‘balas dendam’. Lebih  dari 1,5 tahun warga dunia tertahan untuk liburan karena pembatasan dan terhentinya penerbangan internasional.

Sinergi dan kolaborasi

Kondisi industri pariwisata yang terpuruk dan ketidakmampuan pengusaha lokal untuk mempertahankan aset-asetnya membuat Bambang prihatin.

Tawaran membeli aset-aset properti banyak diajukan kepadanya, namun dia bisa merasakan berada dalam posisi itu. Empatinya muncul apalagi mengingat usaha yang sudah dirintis puluhan tahun oleh para pengusaha lokal itu dijalankan layaknya membesarkan ‘anak’ lalu harus di lego karena pandemi dan ketidakhadiran wisatawan dalam dan luar negri yang mematikan ekosistem pariwisata.

“Ada villa di pinggir Sungai Ayung, Payangan yang mau dijual padahal punya keunikan dari sisi arsitektur maupun lingkungan yang terjaga layaknya kondisi Bali dua puluh tahun silam,”

Tempat ini akhirnya menjadi proyek ke dua BMW Group di Bali karena Bambang memilih sinergi dan kolaborasi agar pemilik villa tidak kehilangan asetnya di atas tanah seluas 1,2 hektar.

“Selama ini sebelum pandemi tamunya bule Australia yang sampai pakai daftar tunggu untuk menginap di villa-villanya. Begitu pandemi terjadi dan tidak ada tamu menjadi tidak terawat, biaya pemeliharaanpun tidak ada,” 

Bambang bukan sekedar membenahi properti dan landscape yang ada, urusan membenahi manajemen hingga mempersiapkan website juga harus dilakukannya agar villa bisa beroperasi kembali.

” Bulan Juli ini akan ada tiga keluarga dari Australia mulai mengisi villa,” ujarnya sambil menambahkan lokasi yang berada di pinggir sungai Ayung untuk arung jeram ini memiliki pemandangan sawah serta Gunung Agung yang memang sangat memukau.

Berbisnis, tegasnya, tidak selalu memprioritaskan keuntungan semata, tapi mengedepankan sinergi dan kolaborasi jauh memberikan nilai-nilai hidup dan kepuasan batin. 

Memberdayakan masyarakat lokal yang sudah terbiasa menerima wisatawan merupakan solusi terbaik yang dipilihnya untuk mengatasi kelangsungan hidup orang banyak dan membangkitkan kembali pariwisata Bali.

Tak heran jika mulai bulan Juli ini  BWM Group juga mengembangkan tiga perumahan di lokasi yang berbeda, yaitu Triyana Residence Kerthalangu di Denpasar, Triyana Villa Batukaru di Tabanan dan Triyana Villa Lovina di Singaraja. 

” Kami mengusung tagline hunian mewah dengan harga terjangkau di Bali. Ini memberikan kesempatan luas penduduk Indonesia memiliki rumah huniannya yang kedua di Bali,”

Bambang yakin Tuhan tahu dengan segala niat yang dia miliki dalam dirinya sehingga mampu diberikan peluang menyebarkan semangat dan optimisme pada warga Bali terutama untuk menjadi tuan rumah di tanah leluhurnya sendiri.

” Mereka yang sudah kehilangan aset-aset akibat pandemi global ini masih bisa memiliki tempat tinggal atau untuk investasi disamping masyarakat luas lainnya,” kata Bambang penuh harapan mengakhiri obrolannya.

 

 

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)