Bali Larang Tari Sakral Dipentaskan Sembarangan

0
44
Topeng Sidakarya (Foto: @tapelbali Instagram/othersta.com)

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Gubernur Bali menilai seni budaya yang ada di Bali, bukan seni biasa. Melainkan berakar dari karya yang diciptakan untuk kepentingan upacara sehingga bersifat sakral adat istiadat. Karena itu, tidak boleh digunakan apalagi dipentaskan sembarangan. Apalagi, dijadikan alat untuk mendapatkan penghargaan seperti Rekor MURI.

“Sekarang banyak seni tari sakral yang banyak bergeser dan mulai dipentaskan untuk kepentingan komersialisasi. Kondisi ini kami anggap desakralisasi, yang akan menurunkan kesakralan, akan menggeser dan merusak tatanan seni budaya yang diwariskan leluhur,” tegas Gubernur Bali Wayan Koster seusai Penandatanganan Keputusan Bersama Tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali, di Denpasar, Selasa (17/9/2019).

Karenanya, lanjut Gubernur Bali, perlu mengeluarkan aturan untuk menjaga, melestarikan dan memelihara tatanan seni tradisi yang ada di Bali. “Itulah kelebihan kita di Bali, ada gamelan serta tarian. Tariannya bersifat sakral karena dipentaskan saat ada upacara agama,” lontarnya seperti dilansir laman Bisnis.

Politisi PDIP melanjutkan masyarakat juga perlu memahami pentingnya hal ini, dan memang harus dijaga bersama kesakralannya, sebagai suatu karya kreatif yang dibuat untuk upacara keagamaan, adat, agama dan budaya dalam satu kesatuan.

Wayan Koster tak mengekang kreativitas seniman yang ada di Pulau Dewata. “Silahkan berkreasi dengan berbasis kepada seni tradisi sakral, namun tentu dibedakan dari garapan dan kemasannya. Namanya pun beda. Ini semata-mata untuk kepentingan penguatan kesakralan tari tradisi kita, agar kita punya pagar untuk mengontrol hal tersebut. Mudah-mudahan ini jadi langkah penting kita untuk memajukan kebudayaan di Bali,” ungkap mantan anggota DPR RI

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, I Wayan Kun Adnyana menambahkan saat ini makin banyak seni tari sakral banyak bergeser dan mulai dipentaskan untuk kepentingan komersialisasi. Fenomena ini, menimbulkan keresahan dan keprihatinan di masyarakat terutama bagi para seniman, budayawan, pemuka adat karena bisa melunturkan nilai-nilai kesakralan, memudarnya keutuhan seni, aura magis, muatan taksu budaya Bali.

“Jadi upaya ini sebagai upaya untuk memberikan penguatan dan perlindungan terhadap tari sakral Bali. Surat keputusan bersama ini diketahui total ada 127 jenis tarian yang dilarang, namun kedepan tidak menutup kemungkinan bisa bertambah lagi sesuai dengan usulan masyarakat,” paparnya sambil menambahkan Jenis tari yang sakral seperti Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Baris Gede, Wayang Lemah, Topeng Sidakarya dan lainnya.

Rektor institut seni indonesia (ISI) Denpasar I Gede Arya Sugiartha menyebut daftar tarian yang disakralkan sudah melalui kajian antara lain melibatkan tim dari ISI Denpasar, dinas Kebudayaan provinsi Bali serta majelis pertimbangan dan pembinaan kebudayaan (Listibya) Bali. Dan kedepan tetap diperlukan kegiatan sosialisasi terkait kesepakatan ini agar tidak terjadi salah pemahaman masyarakat.

“Sekali lagi ini bukan mengekang kreativitas, namun upaya untuk mendudukkan seni sakral ini di tempat yang semestinya. Unsur nilainya bisa berkembang lagi di masyarakat,” jelasnya sambil menambahkan pendataan tarian sakral disusun berdasarkan kepada rumusan di tahun 1971 dengan klasifikasi bertajuk ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ yang diartikan sebagai wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan).

Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah sehingga dapat dikategorikan sebagai tarian sakral. Sebaliknya tari balih-balihan ditarikan di halaman luar pura dalam acara yang bersifat hiburan lebih ditekankan kepada sisi artistiknya dan bisa dipentaskan di tempat lain, untuk pariwisata dan lainnya.

“Istilah Wali, Bebali dan Bali-Balihan’tersebut sudah dienkripsi oleh UNESCO sehingga wajib adanya untuk dilestarikan dan dijaga lebih kuat terhadap perubahan-perubahan zaman,” tambahnya.

Budayawan Prof Dr Made Bandem menyebut pendataan tarian sakral yang disusun itu berdasarkan rumusan tahun 1971, dengan klasifikasi bertajuk ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ yang diartikan sebagai wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan).

“Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah, red) jadi dapat dikategorikan sebagai tarian sakral. Sebaliknya tari balih-balihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi, red) dalam acara yang bersifat hiburan lebih ditekankan kepada sisi artistiknya dan bisa dipentaskan di tempat lain, untuk pariwisata dan lainnya,” ujar Prof Bandem.

Dalam data mutakhir yang disusun pada tahun 1992 oleh Listibya dimana terdaftar 6.512 kelompok seni di Bali yang 70 persen diantaranya mengusung tari kategori wali dan bebali. “Proteksi ini, juga memiliki acuan kepada usulan agar istilah ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ ini dienskripsi oleh UNESCO sehingga wajib adanya untuk dilestarikan dan dijaga lebih kuat terhadap perubahan-perubahan zaman,” sambungnya. (ndy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.