Target Devisa Pariwisata 2019 Direvisi

0
421
Turis hengkang dari Lombok saat gempa Lombok (Foto: Antara)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merevisi target perolehan devisa pariwisata dari sebelumnya US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar. Devisa ini diraup dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta orang selama tahun 2019.

“Memang target tak boleh diubah sebenarnya, tapi orang membuat proyeksikan berdasarkan realisasi perolehan devisa dari tahun ke tahun. Tahun ini diproyeksikan 17 juta wisman dengan devisa US$ 17,6 miliar. Tahun lalu, targetnya US$ 17 miliar teralisasi US$ 16,1 miliar dan 15,6 juta kunjungan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya usai rapat koordinasi dengan Menko Maritim dan Gubernur BI di Gedung BI, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Data Kementerian Pariwisata, perolehan devisa pada tahun 2018 mencapai US$16,1 miliar dari target dicanangkan US$17 miliar. Tahun 2017, realisasi perolehan devisa US$15,2 miliar. Pemerintah sempat menargetkan perolehan devisa mUS$18 miliar, namun target itu dipangkas menjadi US$14 miliar. 2016, realisasi perolehan devisa mencapai US$13,48 miliar dari target US$13 miliar.

Sepanjang 2015, pemerintah memperoleh devisa pariwisata sekitar US$12,23 miliar dari yang ditargetkan senilai US$12 miliar. Pada 2014, perolehan devisa pariwisata mencapai US$10,69 miliar, tak capai target yang senilai US$12 miliar.

“Ketidakcapaian target ini karena bencana yang terjadi di Indonesia. Mau kritik apa saja susah karena bencana sehingga setelah dihitung ulang, proyeksinya jadi US$17,6 miliar untuk devisa di tahun ini,” lontar Menpar.

Kendati target perolehan devisa turun, Menpar optimistis bisa mencapai devisa pariwisata US$18 miliar. Selain mencapai devisa, juga optimistis untuk mencapai target 20 juta kunjungan wisman. “Agar dapat mencapai kedua target itu, kami memperkuat posisi Singapura yang sangat strategis untuk pariwisata Indonesia untuk dijadikan tourism hub,” ungkapnya.

Sesuai data, sebanyak 62 juta penumpang melewati Singapura dan 7.200 penerbangan per minggu, sehingga sangat potensial dimanfaatkan dan dapat menjaring 11 juta wisman yang datang ke Indonesia dari tourism hub. Guna mencapai target itu diterapkan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) atau terminal maskapai bertarif rendah.

LCCT pertama yang dimiliki Indonesia tersebut berlokasi di terminal 2F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan ke Indonesia karena biaya yang dikeluarkan akan menjadi lebih rendah. “Biayanya kan lebih murah daripada yang normal [terminal full service],” katanya.

Menko Maritim Luhut Pandjaitan mengaku optimistis target tersebut dapat tercapai. Pasalnya, berbagai indikator kondisi Indonesia menunjukkan hasil positif.

“Saya kira itu saja, kita sepakat dan lihat progres dari tahun lalu, kita percaya ada di track yang benar. Digitalisasi akan kita tingkatkan, target 20 juta bukan mustahil, angka yang sangat konservatif, target devisa US$ 17,6 miliar saya kira optimis. Ekonomi bagus, pariwisata bagus, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan.” lontarnya.

Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan devisa dari hasil pariwisata merupakan hal yang penting untuk ekonomi nasional. Bahkan pariwisata bisa menjadi sektor penyumbang devisa terbesar, setelah kelapa sawit. Sebelumnya batu-bara menduduki urutan kedua perolehan devisa. Dan kini, pariwisata berperan penting dalam perekonomian Indonesia.

“Jelas devisa dari pariwisata sangat penting bagi ekonomi kita. Dengan penerimaan devisa US$ 16,1 miliar, tahun ini Insyallah US$ 17,6 miliar bisa menjadi penyumbang devisa kedua setelah kelapa sawit. Sekarang menyalip batu bara, memang tergantung harga tapi yang jelas penyumbang devisa terbesar,” jelas Gubernur BI.

Bagi BI itu, lanjut dia, langkah penting mengurangi current account deficit (CAD) atau neraca perdagangan, menambah supply valas, dan menstabilkan nilai Rupiah. Selain itu, pariwisata dipercaya mampu menggerakkan roda perekonomian. Pasalnya, cakupan sektor pariwisata cukup luas, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Karena itu, BI dan pemerintah akan fokus mengembangkan sektor pariwisata, termasuk pengembangan ke ranah digital. “Devisa pariwisata itu sektornya melebar, di dalam klasifikasi bisnis yang akan dipublikasi kelihatan sektor pariwisata, penerbangan, resort dan hotel, restoran, UMKM.

Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kita. Maka itu, pengembangan digital ekonomi akan semakin memberi nilai tambah, tidak hanya pada devisa, tapi juga ekonomi rakyat kita.” tandasnya. (ENDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.