Taman Kelinci, Spot Instagramable Penyangga DSP Borobudur

0
19

BOROBUDUR,Magelang, bisniswisata.co.id: Dimana ada obyek wisata di Indonesia yang di masa pandemi global COVID-19 jumlah pengunjungnya meningkat hingga lebih dari 10 kali lipat ?

Pertanyaan atau lebih tepatnya ungkapan heran itu dilontarkan Indra Uno, pendiri program wirausaha Ok-Oce ini saat Ngobrol Santai Bareng Hani Sutrisno, pendiri Taman Kelinci Desa Bahasa Borobudur dalam Instagram Live belum lama ini.

Taman kelinci di Parakan Rt/Rw 02 Area, Sawah & Kebun, Ngargogondo, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553 ini dengan protokol Kesehatan yang ketat tiap hari dikunjungi ribuan pengunjung. 

Selain harga terjangkau, suasana outdoor dan semi outdoor serta  30 an spot instagram intuk pengungjung selfie yang dimilikinya membuat warga sskitar Borobudur, Magelang, Temanggung, Purworejo hingga Yogyakarta mengalir datang ke desa penyangga Destinas Super Prioritas ( DSP)  Candi Borobudur.

Indra, Uno, pendiri Ok-Oce dan tamunya. Hani Sutrisno, pengusaha Taman Kelinci.

Pengunjung bisa bermain dengan kelinci, trampolin, mandi bola. rumah Hobbit, Kuda-kudaan, area tematik China, Jepang dan berbagai jenis eduitanement lainnya.Pengunjung juga bisa menikmati kearifan lokal seperti angklung dan masih banyak lagi.

” Sebagus apapun konsep yang kita rancang kalau tidak ada ridha Allah belum tentu bisa sukses menjaring kunjungan wisatawan,” kata Hani Sutrisno santai namun dengan nada bersungguh-sungguh.

Hani yang mendirikan kampung ( desa) Inggris itu kerap guyonan bersama lawan bicaranya, Indra Uno yang mewawancarainya. Sejak duduk di bangku SMP, mantan pedagang asongan di Destinasi Super Prioritas ( DSP)  Candi Borobudur ini sudah belajar bahasa Inggris dengan menghafal isi brosur dari Dinas Pariwisata setempat.

Dia aktif berjualan post card sambil ngoceh pakai bahasa Inggris ngawur tapi yang penting turis-turis asing yang datang paham dengan apa yang ingin disampaikannya.

Lahir dari keluarga sederhana dengan  ibu tunggal yang harus membesarkan anak-anaknya seorang diri karena sang imam keluarga telah kembali pada sang Khalik, Hani tumbuh menjadi anak bontot yang aktif memotivasi teman-temannya untuk mewujudkan cita-cita.

“SMP karena saya sekaligus jadi guide suka diselipkan US$20-30 dari turis asing. Jadi saya bisa belikan sepeda  ontel buat kakak dan teman yang sudah dagang. Investasi beli 6 kanbing dan bagi teman-teman yang mau belajar bahasa Inggris saya traktir nonton bioskop,” katanya terkekeh ingat masa remajanya.

Keinginan terus belajar tinggi hingga bisa ke bangku kuliah dan kini menjadi bapak tiga anak yang berwirausaha dan aktif dengan kegiatan Personal Social Responsibility ( PSR) dan ide-idenya selalu mengalir.

Hani  membangun desa bahasa dan Taman Kelinci dan kini memiliki pula homestay syariah dengan 18 kamar full AC bertarif, Rp 400.000-Rp 800.000 per hari.

“Sekarang bahasa Inggris saya sudah tidak dengan kalimat buy me sir, buy me sir lagi pakde ( Indra, maksudnya), saya sudah bikin buku bahasa Inggris dengan 140 metode orang kampung yang dijual di toko buku bergengsi Gramedia,” ungkapnya.

Sejak SMP aktif mengajarkan pemuda kampung belajar Inggris dengan gratis dari semua umur, kini desa bahasanya sudah mengajarkan bahasa internasional itu pada warga 7 kampung di sekitarnya.

Seiring dengan hadirnya homestay syariah dan homestay milik warga, kunjungan wisatawan asing juga terus berdatangan. Turis Suriname, Margareth Maudy tinggal selama dua bulan. Matsumi dan Maesuki dari Jepang overstay satu bulan hingga kena denda visa ratusan dollar karena pilih lebih lama tinggal di desa bahasa.

Homestay Syariah dan Taman Kelinci dengan berbagai spot selfie.          ( Foto. dok Taman Kelinci)

“Tahun 2019 kami bisa berbagi tamu dengan 45 kamar homestay milik warga yang nilainya capai Rp 150 juta. Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo dan Menteri BUMN Dahlan Iskan pada masanya juga datang ke desa kami. Belakangan Gubernur Jateng dan tinggal Menparekraf Sandiaga Uno nih yang belum berkunjung,” katanya terkekeh lagi.

Kembali ke soal kenaikan 1000 persen dari pengunjung ke desa Bahasa. Hani menjelaskan betapa sebagai umat manusia kita tidak boleh pesimistis apalagi berburuk sangka pada Allah SWT.

” Waktu pandemi sudah mewabah di seluruh dunia, bisnis pariwisata yang paling terpukul. COVID-19 jadi biang keladi dan kambing hitam pastinya. Tapi saya berfikir orang yang bekerja, belajar bahkan beribadah dari rumah pada akhirnya bosan butuh penyegaran,”

Itulah sebabnya menghadapi sepinya pengunjung dan aktivitas wisata, bersama warga kampungnya menyiapkan 32 spot instagram dan model bisnisnya diubah dengan menyesuaikan era New Normal, kembali ke alam dan jadi tempat hiburan.

” Akhir Juni area kampung bahasa berubah wajah jadi Taman Kelinci. Saya urus ijin akhir Juni 2020 dan akhirnya keluar izin dari pemerintah daerah sehingga kami bisa mengundang orang dengan harga yang sangat terjangkau di bawah Rp 20.000/ orang,” jelasnya.

Begitu buka hari pertama datang 200 orang/ per hari sampai akhirnya kini 1500 orang/hari. Uang tunai masuk ke dalam kas, perekonomian warga desa bangkit sehingga Hani optimistis, niat luhurnya agar kunjungan wisatawan bukan hanya ke Candi Borobudur tapi juga tinggal ( Live in) di desa-desa wisata di sekitar bisa terwujud.

” Minta tolong pakde Indra Uno sampaikan ke Menparekraf Sandi Uno ada transportasi umum nyambangi desa-desa wisata di seputar Candi Borobudur jadi wisatawan bisa tinggal 6-10 hari di desa wisata sesuai anjuran Presiden Jokowi,” kata Hani.

Maklum, pariwisata Magelang di Jawa Tengah selalu identik dengan Candi Borobudur. Padahal, di sekitarnya masih banyak daya tarik wisata yang menarik untuk dijajal, ternasuk  Desa bahasa Borobudur.

Pada dasarnya, Desa Bahasa Borobudur merupakan lembaga pendidikan yang menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan beragam metode pembelajaran.

Namun, seiring berjalannya waktu, Desa Bahasa Borobudur kini menjadi salah satu objek wisata yang cukup digandrungi wisatawan lokal dan letaknya hanya 3 km dari Candi Borobudur dan bisa menjadi daerah penyangga dengan berbagai atraksi, kearifan lokal, kuliner dan fasilitas yang dimilikinya.

Sukses mengubah model bisnis, Hani berpesan jangan suka buruk sangka bahkan terhadap sang pencipta Allah SWT. Contoh konkrit adalah Taman kelinci yang dimilikinya justru mampu meraih keuntungan.

“Jangan berfikir hanya kaya raya harta, tapi juga kaya ilmu, amal dan kaya saudara atau banyak saudara seperti saya dihubungi pakde Indra ini,” katanya terkekeh mengakhiri ngobras satu jam bersama Indra Uno itu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.