EVENT HILDA'S NOTE

Sudah Waktunyakah RI Promosi Wisata Di ATM Dubai 2021 ? 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pagi hari beberapa WA chat masuk dari para pelaku pariwisata RI dari Yogya dan Bali. Isinya pertanyakan keikutsertaan Kememparekraf di Arabian Travel Mart ( ATM) Dubai yang tengah berlangsung 16-19 Mei di Dubai World Trade Center. 

“Apa sudah tepat waktunya kita berpromosi.? Dimasa seperti saat ini dipaksakan anggaran ratusan juta bahkan mungkin capai miliaran buat mengikuti ATM Dubai ?,”

Mending duitnya buat vaksinasi dulu untuk para pelaku pariwisata. Kami di Yogya belum kebagian nih. Bisa juga Menparekraf membagikan GeNose, alat test COVID -19 supaya industri pariwisata bangkit karena akurasinya alat itu capai 93% ” 

“Katanya bangga buatan Indonesia, GeNose itu karya anak bangsa. Kalau dibagikan gratis kita sebagai pemilik/ pengelola obyek wisata bisa memulai operasional kembali dengan aman ” bunyi chat lainnya.

“Di Bali kondisi sudah lebih parah dari tahun lalu bunda. Hotel-hotel pada sedih, rakyat juga makin susah. Gaji di potong, staf di kurangi, tamu sedikit akibat larangan mudik, takut terbang, takut COVID. Pokoknya lengkap sudah penderitaan. Rasanya sudah di titik darah penghabisan,” tulis rekan sesama pengusaha.

Tak heran ketika Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf- Baparekraf, Nia Niscaya dalam keterangannya, Sabtu (15/5/2021) mengatakan RI berpartisipasi pada ATM Dubai maka beragam komentar di atas muncul. Sudah waktunyakah ? tepatkah ?.

Meski Nia Niscaya mengatakan pameran ini bertujuan untuk memulihkan serta membuka kesempatan baru industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun nyatanya malah menyulut beragam komentar.

Dia menambahkan lewat kegiatan ini, pihaknya ingin menemui buyers potensial untuk meyakinkan bahwa destinasi Indonesia, khususnya Bali yang akan dibuka terlebih dahulu telah siap dengan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE  (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability).

” Kami juga akan menjelaskan langsung bahwa pelaku parekraf serta masyarakat di sekitar wilayah yang akan dibuka telah divaksin. Ini semua untuk membangun rasa percaya dan mendapatkan keyakinan dari negara asal konsumen yang potensial membantu kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.” tambah Nia Niscaya.

Dalam pameran di Dubai, delegasi Indonesia diwakili oleh 20 perwakilan perusahaan penyedia jasa pariwisata dan hotel. Promosi pada tahun ini akan difokuskan kepada lima destinasi super prioritas yaitu Mandalika, Lombok, Danau Toba, Likupang, Labuan Bajo, dan Borobudur. 

Tak hanya itu, paviliun “Wonderful Indonesia” dengan rumah adat Lombok juga mempromosikan pariwisata di wilayah-wilayah lain di Indonesia yang sudah menerapkan protokol kesehatan ketat dan disiplin. 

Selain ke-20 perwakilan yang mengikuti pameran di Dubai, lanjut Nia, ada pula 80 perusahaan penyedia jasa pariwisata dan perhotelan yang mengikuti pameran daring di Bali pada 24-26 Mei 2021 mendatang.

Malaysia rasanya lebih pantas ngotot berpatisipasi ke ATM Dubai karena dikenal sebagai negara yang mampu menjaring wisatawan Timur Tengah,  jadi negara tujuan populer pula untuk halal tourism. Selain itu sektor Halal Industrinya juga jauh lebih maju ketimbang RI.

Negri jiran ini kembali lockdown dan wilayah federal Kuala Lumpur, Malaysia, ditempatkan di bawah perintah kontrol pergerakan (MCO). berlaku dari 7 hingga 20 Mei 2021.

Singapura lockdown parsial lagi mulai Minggu (16/5/2021) hingga 13 Juni mendatang, akibat memburuknya penyebaran Covid-19 terutama angka kasus komunal sejak 27 April.

Dengan munculnya kasus-kasus baru di wilayah tetangga, keputusan Kemenparekraf/ Baparekaf untuk mendahukukan promosi pariwisata apa efektif ? 

Rekan industri dari Yogya yang kecewa berat dengan kurang sensitifnya sikap pemerintah mengaku sempat menaruh harapan bahwa cara Kemenparekraf untuk membangkitkan pariwisata dari keterpurukan akibat pandemi global ini adalah lewat bantuan pengadaan GeNose.

Saat launching GeNose C19 ‘Inovasi Indonesia untuk Kepariwisataan Indonesia’ di Hotel Raffles Ciputra World Jakarta, Jumat (19/2) Menparekraf dari Kabupaten Dairi Toba menyapa para industri pariwisata melalui zoom dan akan menyiapkan GeNose di Destinasi Super Prioritas ( DSP) itu.

Penemuan GeNose, alat skrining dengan sampel nafas yang diciptakan oleh para peneliti di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta menjadi titik terang kebangkitan pariwisata Indonesia karena prosesnya mudah, nyaman dan  waktunya kurang dari satu menit dengan tingkat akurasi 93-95%.

Saya sendiri hadir di Raffles Hotel dan  menyaksikan langsung bagaimana semua asosiasi pariwisata dan kalangan industri berhasil disatukan oleh Indonesia Tourism Forum ( ITF) yang didirikan oleh Wamen Parekraf era Presiden SBY, Sapta Nirwandar  dan Satria dari Accor Grup yang langsung memesan 200 alat skrining itu untuk  jaringan hotelnya di Indonesia.

Saat itu optimisme merebak dan terbayang Kemenparekraf akan memborong alat seharga Rp 62 juta/ unit itu untuk ditempatkan di obyek-obyek wisata,  Venue MICE dan tempat vital lainnya.

Kementrian lain juga borong untuk seluruh bandara, stasiun kereta, terminal bis agar ekonomi langsung bergeliat karena aktivitas di tengah pandemi juga berjalan aman.

Bahkan masuk gedung perkantoran sebaiknya juga sudah memakai GeNose yang langsung menjadi proyek nasional sehingga tidak marak lagi laporan COVID-19 kluster keluarga, kluster perkantoran.

Percayalah kawan, tidak ada kepedihan yang demikian mendalam ketika kluster keluarga dan kluster perkantoran telah merengut nyawa orang-orang yang kita cintai dan saya dalam dua tahun terakhir ini mengalaminya karena orang-orang disekitar saya tidak bisa ikut berlebaran lagi.

Akhirnya cuma bisa mengirim Alfatihah dan mendoakan sisa keluarga yang selamat dari COVID-19 dapat ditingkatkan ke takwaan dan keimanan karena kehilangan sejumlah anggota keluarga dalam waktu bersamaan dan berdekatan. 

Efektifnya GeNose

Hari pertama puasa ketika saya tiba-tiba rindu ke Yogya menengok makam almarhum suami tercinta saya sudah antri untuk test GeNose yang sudah digunakan di Stasiun Gambir Jakarta. Cukup bayar Rp 40.000/ orang sampai seminggu kemudian untuk kembali ke Jakarta alhamdulilah tetap sehat hingga saat ini.

Selama 7 jam perjalanan darat Jakarta-Yogya dengan segelintir penumpang dalam satu gerbong saya merasa aman dan nyaman memulai perjalanan di tengah pandemi. Jangan lupa begitu keluar rumah, supir taxi dapat order, tiba di stasiun belanja oleh-oleh juga saya lakukan termasuk persiapan buka puasa meski kereta di jadwalkan masuk Yogya pukul tigaan sore.

Jadi membaca chat pagi itu memang miris, kampanye Bangga Buatan Indonesia bahkan endorse mister presiden Jokowi atas GeNose menjadi tidak niscaya, alias tidak pasti dalam menggerakkan ekonomi bangsa.

Setiap hari Badan Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO) atau organisasi pariwisata lainnya mewakili industri pariwisata yaitu World Travel & Tourism Council ( WTTC) maupun IATA ( International Air Transport Association) sudah memberikan panduan-panduan agar negara-negara di dunia memulai kembali kegiatan pariwisatanya dengan aman.

GeNose adalah salah satu solusi jika pemerintah seluruh negara di dunia memanfaatkan karya anak bangsa ini maka restart pariwisata berjalan dengan aman, murah dan mudah.

Bayangkan kalau alat GeNose itu bisa menjadi bantuan pemerintah Indonesia gratis agar para pelaku ekonomi bisa menggerakkan roda-roda perekonomian maka masyarakat yang mau terbang di skrining dengan biaya cukup Rp 20.000. Bandingkan dengan antigen yang Rp 250.000 arau PCR yang mencapai Rp 900.000/ per orang.

Kebijakan larangan mudik ditengah masyarakat yang sudah memendam keinginan untuk traveling dan rindu keluarga di kampung mungkin tidak akan terjadi kalau pemerintah langsung membuka layanan GeNose di Puskesmas-puskesmas sehingga masyarakat yang mau mudik cukup bayar  sekitar Rp 20.000  an untuk test skrining COVID-19.

Masih saya simpan ‘jeritan hati’ teman-teman di lini masa yang tahun lalu tidak pulang kampung dan sebelum pandemipun tidak pulang karena biaya belum cukup. 

“Orangtuaku sudah tua bunda, kalau tahun ini tidak pulang rasanya gelisah. Bersyukur jika beliau masih ada umur atau saya sendiri masih ada umur tapi tahun depan ? masihkah kita ada umur dan bertemu orangtua ? karena kematian adalah hak Allah,” tulisnya.

Saat jelang puasa, saya punya ide staycation di villa pinggir pantai Ancol. Ada kewajiban tamu harus swab antigent per orang Rp 250.000. Jadi belum apa-apa kami sudah harus mengeluarkan uang sekitar Rp 6 juta. Nah kalau dengan GeNose cukup Rp 480.000 dengan jumlah rombongan yang sama.

Siapa sih yang mau terpapar virus ? meski staycation dengan keluarga besar,  protokol kesehatan tetap jalan sehingga akhirnya kami pindah ke Sentul dan mendapat banyak villa dengan halaman dan tempat-tempat terbuka yang luas. Hargapun jauh lebih murah nah rajin-rajinlah browsing.

Kembali ke Arabian Travel Mart 2021 yang tengah berlangsung dan delegasi Indonesia berada di sana, maka pertanyaan sudah waktunyakah, sudah tepatkah RI melakukan promosi pariwisata bisa menjadi acuan untuk tidak terlalu bernafsu.

Buat apa mengundang kontroversial di era pandemi ini ? niat baik saja ternyata tidak cukup. Kepekaan sosial, pemanfaatan dana seminim mungkin dengan hasil optimal dan kondisi negara-negara jiran yang muncul kluster COVID-19 baru juga harus diperhitungkan. 

Mengakhiri tulisan ini saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan terdapat 3 arti kata ‘niscaya’ yaitu Tentu, Pasti dan Tidak boleh tidak.Contoh: jika tuan yang menyuruh, niscaya ia berangkat. Pastinya hanya Kemenparekraf yang bisa menjawab pertanyaan sudah waktunyakah ?, tepatkah berpromosi ?

 

 

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)