Sharm el Sheikh: Kota Wisata Utama yang Pernah Diteror..

0
119

Pantai Sharm El Sheikh dengan laut biru.. di kejauhan terlihat Masjid Sahabat.( foto-foto: Nur Hidayat)

Pada 7-19 Febuari 2019, Wartawan Senior  Nur Hidayat melakukan perjalanan wisata bersama keluarga besarnya mengikuti  tour wisata religi ke Mesir, Palestina, Israel, Jordan, Oman. Berikut tulisan kelimanya

SHARM EL SHEIKH, Mesir, bisniswisata.co.id: Bagaimana rasanya dan menyikapinya, bila turis asing yang ingin menikmati keindahan kota Sharm el Sheikh tiba-tiba tewas mengenaskan.? Sedikitnya 8 turis asing dan 75  warga Mesir tewas, 100 orang luka2, dalam tiga serangan bom mobil di kota indah tersebut pada Juli 2005.

Pihak al-Qaeda mengaku bertanggungjawab atas serangan mematikan itu. Tak hanya itu. Pesawat Metro Jet Rusia jatuh di pegunungan Sinai, Oktober 2015, akibat ledakan bom yang diselundupkan ke dalam pesawat naas itu. Seluruh 224 turis Rusia dan awak pesawat tewas.

Dua peristiwa tersebut telah “memukul telak” industri wisata Mesir. Itu diperparah dengan kerusuhan yang meluas  selama selama musim semi Arab. Meski pernah di teror justru pada perjalanan hari ke lima inilah rombongan kami berkunjung ke kota wisara  Sharm el-Sheikh.

Ini  adalah sebuah kota di penghujung selatan Semenanjung Sinai di Mesir, di sepanjang pesisir antara Laut Merah dan Gunung Sinai. Sharm el-Sheikh dikenal sebagai kota wisata, terutamanya untuk kegiatan air, misalnya snorkelling atau menyelam

Sebelumnya, 15 juta turis datang ke Mesir tiap tahun. Pada 2014, jumlahnya turun drastis, hanya 9 juta. Kawasan wisata seperti Sharm el Sheikh dan Nuweibaa terasa lengang. “Sinai jadi seperti kota hantu,” kata Hisham Zaazou, Menteri Pariwisata Mesir, seperti dikutip SMH.

Naik unta di kegelapan malam yang dingin sekali, sepi, menuju puncak Gunung Tursina. (Foto koleksi Nelwin Aldriansyah)

 

Masjid Sahabat yang bergaya Ottoman, Turki, berlokasi di ketinggian kota Sharm el Sheikh..

Di tengah perjalanan, sekitar 165 km dari Kairo, kami singgah di lokasi sisa2 dari 12 sumur Nabi Musa. Lokasi ini disebut dengan Uyun Musa, tidak terlalu jauh dengan lokasi bekas patung emas anak sapi Samiri.

Dari 12 sumur, 5 sumur bertahan dan hanya tersisa 1 sumur yang masih mengeluarkan air yakni bi’r as-syekh sedalam 13 m. Lokasi ini tidak akan dilewatkan oleh pelancong, sebagai salah satu bukti kekuasaan Allah Ta’ala.

Sesudah selamat dari kejaran tentara Firaun, dalam perjalanan itu kaum Nabi Musa menderita kehausan. Allah SWT memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya pada bebatuan. Lalu memancarlah 12 mata air, masing2 untuk tiap suku.

Firman Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya 12  mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing2). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS al-Baqarah: 60).

Ke resor wisata Sharm el Sheikh di tepi Laut Merah itulah kami peserta Ziarah Akhir Zaman berkunjung. Kota di Teluk Aqaba itu jauhnya sekitar 500 km dari Kairo. Bus kami melewati terowongan di bawah Terusan Suez dan highway mulus menembus Gurun Sinai.

Sepanjang kiri kanannya hampir 90% merupakan gurun dan bukit batu gersang kecoklatan. Lanskap yang jauh berbeda dengan yang di tanah air itu sungguh sayang untuk dilewatkan. Bus stop berulang kali melewati  check points untuk diperiksa.

Sesudah perjalanan sekitar tiga jam, kami berhenti di rest area. Begitu turun dari bus, lagu-lagu Batak dan Maluku yang populer terdengar dari kios2 penjual souvenir. Penjualnya bisa berbahasa Indonesia sedikit, “Ayo.. murah-murah, hanya 7 dollar, 10 dollar.” Sebagian orang terpengaruh: membeli T-Shirt, tas kecil rajutan, gelang, dompet.

Dibandingkan dengan rest area di ruas toll Jakarta-Bandung, misalnya, tempat istirahat di Gurun Sinai itu jauh lebih sederhana. Kios maupun rumah makannya sedikit. Tidak ada masjid yang bagus. Mobil yang melintas di jalur itu juga tak banyak sehingga bisa melaju kencang. Tidak terhalang macet seperti jalur Jakarta-Cikampek.

Rest area yang sederhana di Gurun Sinai di pinggir highway Kairo-Sharm el Sheikh dan bisa beli oleh-oleh juga

Perbukitan batu dan gurun gersang mendominasi lanskap sepanjang rute Kairo-Sharm el Sheikh.
Lumayan menyenangkan di highway yang mulus dan lancar, tanpa macet, “ditemani” deretan pegunungan batu kecoklatan. Juga ada rest area yang sederhana di Gurun Sinai di pinggir highway Kairo-Sharm el Sheikh..

Selama 15 tahun sejak 1967, Sharm el Sheikh diduduki Israel. Mulai 1982, pemerintah Mesir secara agresif membangunnya untuk menjadi kota tujuan utama wisatawan di kawasan itu. Kondisi geografisnya memang mendukung.

Garis pantai yang panjang, laut yang jernih, dengan 250 terumbu karang dan 1000 lebih spesies ikan hias. Dulu turis Rusia mendominasi wisman yang datang, sehingga petunjuk jalan atau informasi  macam2 ditulis dalam huruf dan bahasa Rusia.

Turis dari berbagai negara menghibur diri dengan snorkeling, scuba diving, mengamati terumbu karang dan ikan hias. Juga main golf, bersepeda di jalur khusus atau naik unta. Malam, mereka memenuhi bar atau cafe seperti Hard Rock Cafe, Pacha dan Budha Bar.

Sejak pinggiran kota, Sharm el Sheikh terlihat hijau, bersih, kiri kanan jalan ditanami pohon, trotoarnya rapi dan lebar. Lalu lintasnya tertib. Beda dengan Kairo yang kotor, sampah di mana2, debu, lalu lintasnya “kacau”.

Boulevard Sharm lebar, hijau di kiri kanan. Sepanjang jalan itu kita melihat pertokoan, kasino, theme park Hollywood, restoran, kantor travel biro dan bank berciri destinasi wisata banget.

Menjelang maghrib kami memasuki pusat kota. Langsung ke Masjid Sahabat yang cantik, berada di ketinggian sehingga tampak menonjol dan mudah dilihat dari jauh maupun dari laut. Masjid bergaya Ottoman, Turki, dengan dua menara menjulang dan sejumlah kubah besar kecil itu dirancang oleh arsitek Mesir, Foad Tawfeek Hafez.

Masuknya gratis dan tempat ibadah ini mulai dibangun pada 2011, menjadi salah satu lokasi favorit para pelancongluntuk berfoto ria, jeprat jepret sepuasnya.  Masjid mampu menampung 3.000 jamaah, dilengkapi dengan perpustakaan dan 36 kamar mandi.

Kami wudhu di ruang yang bersih lalu shalat maghrib dan isya, jamak qosor. Setelah itu, anggota rombongan mulai berfoto ria. Acara selanjutnya wisata belanja atau sekedar window shopping.

Tak jauh dari mesjid memang berjejer pertokoan. Kesempatan belanja nampaknya dimanfaatkan semua anggota rombongan untuk membawa buah tangan. Sekitar jam 20.00 bus mengantar kami ke Hotel Sheraton untuk makan malam dan tidur apalagi besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan lagi….

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.