Pelamar yang berhasil akan menerima sertifikat digital (e-Certs) melalui platform MYeHALAL, yang dapat mereka cetak sendiri jika diperlukan ( Foto: NST)
PUTRAJAYA, bisniswisata.co.id: Direktur jenderal JAKIM, Datuk Dr. Sirajuddin Suhaimee, mengumumkan bahwa, efektif mulai 5 Mei, semua aplikasi untuk Sertifikasi Halal Malaysia (SPHM) kini diproses secara elektronik.
Perubahan ini menanggapi permintaan produk halal yang terus meningkat, seiring dengan meluasnya pasar global dengan populasi Muslim sebanyak 1,8 miliar dan meningkatnya minat dari non-Muslim yang mencari barang-barang yang etis dan berkualitas tinggi.
Sistem baru ini menggunakan platform MYeHALAL, portal daring yang menangani setiap langkah proses sertifikasi, mulai dari aplikasi hingga persetujuan.
Platform MYeHALAL adalah pusat digital terpadu. Bisnis—baik kafe kecil maupun produsen besar—masuk untuk mengirimkan detail tentang produk mereka, seperti daftar bahan, informasi pemasok, dan metode persiapan.
Peninjau JAKIM menilai pengajuan ini secara daring, memastikan kepatuhan terhadap standar halal Malaysia yang ketat, yang diakui di lebih dari 80 negara.
Pendekatan digital ini menghilangkan kebutuhan akan formulir kertas, dokumen yang dikirim melalui pos, dan proses bolak-balik yang panjang, sehingga menyederhanakan proses yang dulunya menghambat bisnis dan menunda masuknya pasar Sertifikat Digital.
Masa Depan Kepercayaan Halal
Setelah disetujui, bisnis akan menerima sertifikat digital, atau e-Sertifikat, melalui platform MYeHALAL. e-Sertifikat ini adalah dokumen yang aman dan dapat diunduh yang mengonfirmasi bahwa suatu produk atau layanan memenuhi standar halal JAKIM.
Bisnis dapat menyimpannya secara digital, membagikannya dengan mitra, atau mencetaknya jika mereka memerlukan salinan fisik untuk dipajang.
Fleksibilitas ini memudahkan perusahaan untuk memamerkan kredensial halal mereka, baik mereka menjual makanan beku di Malaysia atau mengekspor kosmetik ke Timur Tengah.
Sistem e-Sertifikat meningkatkan kepercayaan pada industri halal. Dengan sertifikasi halal Malaysia yang dinilai secara global—mendukung ekspor senilai US$10 miliar pada tahun 2020—bisnis dapat menggunakan e-Sertifikat untuk membuktikan keaslian mereka kepada pembeli internasional.
Format digital juga mengurangi risiko sertifikat hilang atau rusak, memastikan catatan selalu dapat diakses. Bagi konsumen, ini berarti keyakinan bahwa logo halal pada suatu produk didukung oleh proses berteknologi tinggi yang terverifikasi.
Sertifikat Fisik: Opsi dengan Biaya
Meskipun e-Sertifikat digital merupakan standar baru, beberapa bisnis mungkin lebih suka sertifikat fisik untuk dipajang di toko mereka atau dibagikan dengan mitra tradisional.
JAKIM mengakomodasi hal ini dengan mengizinkan perusahaan untuk meminta sertifikat cetak, tetapi disertai dengan proses formal dan biaya.
Seperti yang dicatat oleh Datuk Dr. Sirajuddin Suhaimee, sertifikat cetak dianggap sebagai “cetak ulang” dari e-Sertifikat dan dikenakan biaya sesuai dengan Klausul 13 dari Manual Prosedur Sertifikasi Halal Malaysia (Domestik) 2020.
Opsi berbasis biaya ini memastikan keadilan, mendorong bisnis untuk merangkul sistem digital yang hemat biaya sekaligus mendukung mereka yang membutuhkan salinan fisik untuk pasar tertentu atau preferensi pelanggan.
Misalnya, restoran pedesaan Malaysia mungkin memajang sertifikat cetak untuk meyakinkan pelanggan lokal, sementara eksportir multinasional mengandalkan e-Sertifikat untuk perdagangan global.
Dengan menawarkan keduanya, JAKIM menyeimbangkan tradisi dengan inovasi, menjadikan sistem inklusif untuk semua bisnis.
Peralihan ke sertifikasi halal digital merupakan bagian penting dari upaya digitalisasi sektor publik Malaysia yang lebih luas, yang bertujuan untuk memangkas penundaan birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan.
Datuk Dr. Sirajuddin Suhaimee menekankan bahwa langkah ini “menyederhanakan pemberian layanan,” mengurangi waktu tunggu bisnis untuk sertifikasi dari rata-rata 51 hari menjadi hanya 30 hari.
Persetujuan yang lebih cepat berarti perusahaan dapat memasarkan produk halal lebih cepat, memanfaatkan ekonomi halal yang tumbuh senilai US$3 triliun.
Efisiensi ini penting dalam pasar global yang kompetitif. Sertifikasi halal Malaysia merupakan standar emas, yang dipercaya oleh negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan UEA. Dengan mempercepat prosesnya.
MYeHALAL membantu bisnis—terutama usaha kecil dan menengah (UKM)—bersaing dengan pemain yang lebih besar.
Misalnya, UKM Malaysia yang memproduksi saus halal kini dapat memperoleh sertifikasi dengan biaya terjangkau (biaya mulai dari RM100, atau (US$22) dan menjangkau pembeli internasional dengan lebih cepat, sehingga meningkatkan perekonomian Malaysia.
Selain kecepatan, sistem digital mendorong inovasi dan memberdayakan sumber daya manusia, seperti yang disoroti oleh Sirajuddin.
Platform MYeHALAL menggunakan teknologi canggih, yang mengharuskan staf JAKIM menguasai perangkat digital baru, mulai dari audit daring hingga manajemen data yang aman.
Peningkatan keterampilan ini menciptakan tenaga kerja yang paham teknologi, siap menghadapi tuntutan industri halal modern. Ini seperti beralih dari pensil ke komputer, membekali orang dengan keterampilan untuk masa depan.
Sejalan dengan MADANI Malaysia dan Modernisasi
Sertifikasi halal digital mencerminkan prinsip-prinsip MADANI Malaysia, kerangka kerja pemerintah yang menekankan keberlanjutan, akuntabilitas, dan kemajuan.
Sirajuddin mencatat bahwa inisiatif ini mendukung “agenda pemerintah yang lebih luas untuk memodernisasi layanan publik,” sejalan dengan visi Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim untuk ekonomi yang digerakkan oleh teknologi.
Dengan merangkul digitalisasi, JAKIM membuat layanan publik lebih transparan dan mudah diakses, yang menguntungkan bisnis dan konsumen.
Modernisasi ini memiliki implikasi global. Dengan pasar halal yang diproyeksikan mencapai US$30,6 triliun pada tahun 2030, sistem Malaysia yang efisien memposisikannya untuk meraih pangsa yang lebih besar.
Platform MYeHALAL dapat menginspirasi negara-negara lain untuk mendigitalkan proses halal mereka, yang menetapkan tolok ukur untuk kepercayaan dan skalabilitas dalam industri ini.
Transisi ke sistem yang sepenuhnya digital menghadirkan tantangan. Bisnis kecil, khususnya di daerah pedesaan, mungkin kesulitan dengan teknologi, karena tidak memiliki keterampilan atau peralatan untuk menggunakan MYeHALAL.
JAKIM mengatasi hal ini dengan menawarkan tutorial daring gratis, saluran bantuan, dan lokakarya tatap muka, yang menargetkan 10.000 bisnis untuk pelatihan pada tahun 2026.
Keamanan menjadi perhatian lain, karena platform digital dapat menarik serangan siber. JAKIM menggunakan enkripsi yang kuat dan mengeksplorasi integrasi blockchain untuk melindungi e-Cert dari pemalsuan.
Biaya untuk sertifikat cetak juga dapat menghalangi beberapa bisnis, khususnya usaha mikro. JAKIM mengatasi hal ini dengan menjaga sertifikasi digital tetap terjangkau dan mempromosikan manfaat e-Cert, seperti biaya yang lebih rendah dan akses instan.
Langkah-langkah proaktif ini memastikan sistem tersebut inklusif dan aman, serta menjaga reputasi Malaysia untuk keandalan.
Apa Artinya bagi Industri Halal
Sertifikasi halal digital memperkuat kepemimpinan Malaysia di pasar halal global. Dengan mempercepat dan mempermudah akses sertifikasi, JAKIM memungkinkan bisnis memenuhi permintaan yang meningkat, mulai dari restoran lokal hingga eksportir yang memasok barang halal untuk acara seperti Olimpiade Tokyo 2020.
Sistem ini juga meningkatkan kepercayaan konsumen, karena e-Certs memberikan bukti kepatuhan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko penipuan atau kesalahan pelabelan—masalah masa lalu di beberapa pasar.
Bagi bisnis, manfaatnya jelas: masuk pasar lebih cepat, biaya lebih rendah, dan kredibilitas global. Bagi konsumen, ini berarti kepercayaan yang lebih besar pada produk halal, baik mereka membeli makanan ringan di Malaysia atau kosmetik di luar negeri.
Kepercayaan ini mendorong permintaan, mendorong industri ekspor halal Malaysia senilai $10 miliar dan mendukung lapangan kerja dan inovasi.
Bagaimana Bisnis Dapat Memulai
Untuk memanfaatkan sertifikasi halal digital Malaysia, bisnis harus:
Daftar di MYeHALAL: Kunjungi platform untuk membuat akun dan mengirimkan aplikasi, memastikan semua detail produk akurat.
Gunakan e-Certs: Unduh dan bagikan sertifikat digital untuk membangun kepercayaan dengan pelanggan dan mitra.
Minta Cetakan dengan Bijak: Minta sertifikat fisik hanya jika perlu, karena e-Sertifikat menghemat waktu dan uang.
Cari Dukungan: Akses sumber daya pelatihan JAKIM atau hubungi saluran bantuan mereka untuk panduan tentang penggunaan MYeHALAL.
Era Baru Sertifikasi Halal
Sertifikasi halal digital sepenuhnya Malaysia, diluncurkan pada 5 Mei 2025, merupakan pencapaian penting, memadukan teknologi dengan kepercayaan untuk merevolusi industri halal.
Dengan beralih ke platform MYeHALAL, menawarkan e-Sertifikat yang aman, dan menyelaraskan dengan prinsip-prinsip MADANI Malaysia, JAKIM membuat sertifikasi lebih cepat, lebih adil, dan siap untuk masa depan.
Bagi bisnis, sistem ini membuka pintu ke pasar halal senilai US$3 triliun. Bagi konsumen, sistem ini menjamin kepercayaan pada setiap produk halal. Saat Malaysia memimpin, dunia pun mengamati. Apa yang akan terjadi selanjutnya dalam revolusi halal digital ini? Masa depannya cerah, dan hanya dengan sekali klik.
.









