Selamat  Tinggal  2020 dan Sambut Global Tourism Travel Trends  2021

0
16

Oleh Wuryastuti Sunario

Global Travel Trends 2021

Bagian ke dua tulisan ini menyoroti Global Travel Trends 2021.Ditengah suasana yang cukup suram di akhir tahun 2020 dan memasuki tahun 2021, maka tersedianya vaksin telah membawa titik terang akan kembalinya kegiatan pariwisata dunia. Vaksin ini diharapkan mampu dengan cepat menormalkan kembali kehidupan ke suasana sebelum pandemi.

Untunglah, dibalik demikian banyak masalah, ternyata wisatawan dunia juga masih tetap
optimis dan tetap ingin berwisata sesegera mungkin. Hanya saja, setelah wisatawan mengalami lockdown COVID -19 selama 10 bulan dan masih belum hilang juga bahaya penularannya, maka perilaku wisatawan terbukti telah juga mengalami perubahan.

Jikalau sebelumnya, wisatawan mencari destinasi yang ramai dan mengunjungi kota-kota besar dimana mereka bisa berfoto ria dan asyik shopping, maka sekarang terjadi sebaliknya. Wisatawan zaman Now justru sudah beralih mencari suasana yang tenang, yang jauh dari kerumunan dan hiruk pikuk kebisingan kota.

Di alam terbuka mereka ingin menghirup udara segar, menikmati alam mempesona sambil melihat keindahan alam yang memukau. Akan tetapi, bagaimanapun indahnya suatu destinasi, tetapi apabila destinasi tersebut kurang memperhatikan kesehatan wisatawan, maka destinasi ini akan diabaikan.

Karena wisatawan zaman Now menginginkan destinasi yang tetap mengutamakan CHSE, yaitu, Cleanliness, Health, Safety dan Environemtal Sustainability. Dan CHSE inilah yang menjadi patokan pilihan kemana wisatawan akan berlibur.

Dibawah ini terkumpul beberapa harapan dan keinginan wisatawan dunia serta destinasi yang ingin dikunjungi pada liburan tahun 2021, sbb:

Eropa

Dari benua Eropa, Euronews melaporkan terdapat 6 top travel trends yang diinginkan wisatawan Eropa pada waktu berwisata di tahun 2021 sebagaimana pesanan mereka.

Perlu diketahui bahwa saat ini Eropa berada di garis depan pergumulan dunia menghadapi  Climate Change (Perubahan Iklim) yang dikatakan sudah mencapai titip kritis. Maka Uni Eropa (EU) melakukan berbagai kampanye untuk mendesak masyarakat dunia agar lebih giat lagi mengurangi segala macam polusi, sambil mendorong agar manusia hidup lebih dekat dengan alam.

Jadi tidaklah mengherankan kalau kebanyakan wisatawan Eropa juga memilih destinasi yang dekat dengan alam, destinasi mana tidak saja memberi kesempatan untuk menikmati udara bebas dan bersih, tetapi dimana masyarakat dan pemerintahnya juga aktif mendorong penduduk dan industri untuk mengurangi polusi udara, di darat dan laut.

Ke-6 Travel Trends Eropa 2021, adalah:

Wilderness Tourism – Celestial Escape: biarpun kebanyakan orang sudah bosan terkurung di rumah sepanjang 10 bulan lockdown dan tidak sabar lagi untuk berwisata, tetapi dibalik keinginan tersebut masih ada kekhawatiran: bagaimana kalau saya terjangkit COVID -19 waktu di
pesawat atau di ruang tertutup sedang berada ditengah kerumunan.

Maka wisatawanpun beralih ke destinasi yang menjanjikan alam luas, menakjubkan dan jarang terjadi kerumunan. Hidup di alam bebas sambil camping dan menikmati langit malam, menyaksikan jutaan bintang berkilauan, itulah keajaiban yang dicari.

Mereka akan berlibur ke taman nasional, dimana bisa dinikmati dan dipelajari kehidupan binatang liar yang hidup bebas di habitatnya di tengah hutan belantara ataupun di savanna terbuka.

Di Indonesia mempunyai banyak destinasi yang bisa memenuhi harapan segmen ini. seperti Komodo, Baluran, Tanjung Puting dan banyak lagi. Dan untuk melengkapi pengalaman dan pengetahuan wisatawan seyogyanya Tour Operators dan Resorts juga bisa memberi acara yang informatif dan mendidik seperti mendalami pengetahuan tentang astronomi, atau mengenai binatang langka dan yang hampir punah.

Ecotourism atau Cultivacation: banyak wisatawan Eropa juga ingin keluar dari kepadatan kota . Maka mereka mencari kawasan pedesaan yang indah dan tenang dimana mereka bisa menemui masyarakat pedesaaan yang hidup sederhana tetapi penuh kehangatan budaya dan tradisi yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Bahkan wisatawan Eropa mengharapkan dapat ikut mengalami bahkan mencoba sendiri cara hidup demikian.

Di Indonesia Ecotourism bukan hal baru, tetapi untuk menarik segmen pasar ini perlu dicari lingkungan liburan yang tepat, misalnya ke danau Toba atau Desa Wisata dimana mereka diberi pendalaman mengenai budaya dan cara hidup masyarakat setempat, yang tetap dilestarikan, dan yang mungkin saja ingin ditiru dan dialami sendiri.

Nomadic Tourism – Glampervan Journeys. Keinginan untuk menjelajahi dunia dari satu negara ke negara lain dengan membawa mobil bersama keluarga kecil, juga menjadi idaman. Wisatawan segmen ini tetap ingin mendapat pengalaman baru tetapi dengan kenyamanan membawa kendaraan sendiri yang lengkap dengan fasilitas penginapan.

Wellness – terutama Longevity Retreats. Kaum senior dan lansia Eropa juga tidak mau ketinggalan. Mereka mencari kawasan tropis yang panas dengan udara segar, bersih, indah dengan sinar matahari yang menyehatkan. Dan akan Lebih bagus lagi kalau di destinasi terdapat fasilitas trekking dan olah raga. Di destinasi demikian mereka siap berlibur berminggu-minggu lamanya.

Authentic Tourism – Community Immersion. Bagi wisatawan Now, menjadi daya tarik sendiri untuk tinggal dan menginap ditengah masyarakat adat sambil menikmati dan turut belajar dan mengalami adat istiadat dan local wisdom setempat. Disana mereka senang diterima bak anggota keluarga. Karenanya dicari Homestay atau rumah-rumah masyarakat untuk menginap.

Mindful Tourism – Co-working camps. Wisata ini lebih dikenal sebagai nomadic tourism atau staycations, dimana wisatawan mencari destinasi, yang biasanya berupa resort di pantai atau pegunungan, lengkap dengan hubungan Internet, agar mereka bisa bekerja sambil berwisata. Wisatawan segmen ini pada umumnya juga tinggal selama beberapa minggu, bahkan beberapa bulan di satu destinasi.

Amerika

Sementara itu diAmerika. majalah Forbes juga mengadakan penilitian dan menemukan 6 trend perjalanan yang diinginkan wisatawan waktu liburan tahun depan sbb :

Quiet Winter Getaways. Karena Amerika mengalami empat musim, dan sekarang sedang winter. maka banyak wisatawan mengharapkan bisa bermain ski di pegunungan yang berlapis es. Itupun dicari destinasi yang kurang ramai.

International Escapes Topping Bucket List.  Sedangkan diantara destinasi internasional yang paling populer dan ingin dikunjungi, adalah adalah antara lain Santorini di Yunani, Naples di Italia dan pulau Bali , Indonesia, yang juga termasuk (+294%) destinasi idaman.

Rise of Rural: Semakin banyak wisatawan memilih destinasi pedesaan (Rural) atau meninjau ke kota nelayan melihat mereka menangkap ikan dimana wisatawan bisa menikmati makanan ikan segar.

Solo Travel Takes a Pause: Berbeda dengan tahun lalu dimana orang cenderung lebih memilih berwisata sendiri, justru di tahun 2021, orang memilih berwisata bersama keluarga atau teman dekat.

More Last Minute Trips: Sekarang ini perjalanan Wisata tidak lagi direncanakan jauh-jauh hari tetapi baru dipastikan semakin dekat ke waktu pemberangkatan.

Karena COVID -19 masih tetap menular dimana-mana, maka sebagaimana sudah sering dialami, ternyata peraturan protokol kesehatan termasuk testing dan karantina, sering berubah mendadak.

Akibatnya sekarang calon wisatawan memilihat melihat-lihat dulu sikon, baru memesan penerbangan dan hotel semakin dekat ke waktu keberangkatan.

An Eye on Cleanliness: Kebersihan dan Kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Sama seperti wisatawan di New Normal lainnya, semua wisatawan saat ini pasti mementingkan Kesehatan (CHSE) – Cleanliness, Health, Safety dan Environmental Sustainability di destinasi maupun fasilitas hotel dan restoran yang akan dikunjungi, yang menjadi prasyarat utama waktu berkunjung ke destinasi bersangkutan.

Travel Trend Asia

Di Asia ternyata orang lebih berpikir praktis dan realistis saja. Adalah TTG yang mengadakan studi Travel Trend 2021 dan mendapatkan hal sbb:

Domestic Tourism – Karena negara-negara Asia umumnya sangat patuh pada peraturan protokol COVID -19, maka waktu berlaku lockdown kebanyakan negara di Asia juga langsung menutup perbatasannya, termasuk China, Korea Selatan, India, Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya.

Maka, tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali menggiatkan pariwisata domestik masing-
masing negara, untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan wisatawan internasional.

Travel Bubbles – Agar  dunia penerbangan tetap beroperasi maka berbagai negara melakukan perjanjian penerbangan untuk membuka penerbangan langsung antar dua negara dimana penyebaran COVID -19 sudah ditekan seminimum mungkin.

Bagaimanapun, pada tahap pertama biasanya kesempatan dibuka bagi perjalanan Bisnis dan kunjungan antar- pemerintahan, dan belum bagi wisatawan..

Flights to Nowhere – Singapura dengan kawasan yang cukup terbatas telah berinovasi untuk memberi berbagai atraksi yang lain dari lain bagi penduduknya . Maka dipromosikan “flights to nowhere”. Penerbangan dimulai dari Bandara Changi, keliling di udara selama satu jam lebih , lalu kembali lagi ke bandara Singapura.

Dengan demikian wisatawan bisa menikmati penerbangan kelas Business atau Kelas Satu tanpa perlu mendarat dimanapun.  Hal yang sama juga dilaksanakan dengan Cruises to nowhere, hanya saja terpaksa dihentikan, karena ternyata masih ada kejadian dimana penumpang kapal tertular COVID -19.

Fine Dining in planes – Untuk memberi pengalaman unik dan menyenangkan, maka Singapore Airlines menjual paket Fine Dining di dalam pesawat yang tetap terpakir di bandara.

Pada kesempatan ini, para wisatawan diberi sajian khas menikmati makanan paling exklusif yang dimasak sendiri oleh Chefs nomor wahid.

Future of Travel for 2021 Australia

Di AustraliaTravel Group Vacaay, baru saja menerbitkan Future of Travel Report for 2021, yang menghasilkan beberapa pengamatan sbb:

Slow Travel – kalau sebelum pandemi para wisatawan Australia selamanya seakan tergesa ingin meliputi sebanyak mungkin destinasi dan negara selama satu liburan saja, sebaliknya pasca lockdown, wisatawan beralih memilih menjelajahi satu atau beberapa destinasi saja secara lebih santai.

Wisata sambil meresap kenikmatan lingkungan dan mengenal lebih dekat penduduk dengan tradisi dan budayanya yang khas. Oleh karenanya makin banyak wisatawan Australia  juga memilih perjalanan lewat darat atau kereta api ketimbang naik pesawat.

Offline Travel – sama dengan pengalaman waktu lockdown, banyak orang merasakan cukup nikmat menjelajahi dunia secara virtual saja. Maka sebelum COVID -19 dianggap betul-betul lenyap, mereka tetap memilih mempelajari dan menikmati destinasi wisata secara virtual saja dulu.

Restorative Travel – Karena tahun 2020 telah membawa berbagai masalah dan stress sebagai dampak VOVID -19 karena lockdown, PHK, resesi dan banyak lagi, maka sebagian besar wisatawan justru menginginkan dimanja waktu liburan.

Mereka ingin beristirahat yang sehat dan berolah raga lewat wellness, yoga atau massage. Maka mereka menyerahkan penyusunan paket wisata kepada Tour Operator yang dipercaya lebih mengenal destinasi yang khas dan yang sesuai dengan keinginan dan harapannya.

Oleh Karena itu, menurut Vacaay mereka memilih paket all-inclusive dimana segalanya sudah disiapkan dan diatur untuknya. Pokoknya mereka mengingikan berlibur ke destinasi yang baru dan yang unik, jauh dari kerumunan serta memberi suasana yang menenangkan dan menyegarkan jiwa.

Splurge Travel – Selama Lockdown, sementara keluarga banyak mengirit pengeluaran sehari-hari karena tidak diperkenankan kemana-mana, Maka uang yang tersisihkan ingin digunakan untuk mendapat liburan yang luar biasa, untuk benar-benar memanjakan diri.

Jadi mereka memilih destinasi, atau resort dengan fasilitas yang serba wah, serba lux dan berkualitas, yang terkenal dan terpercaya brandingnya . Kalau biasanya harga resort tersebut jauh diluar jangkauan, akan tetapi sekali ini mereka ingin dimanjakan, karena anggaran cukup tersedia.

Restorative Travelers dan Splurge Travelers diatas kiranya baik sekali dijadikan sasaran dan focus Tour Operators Indonesia, terutama untuk menarik wisatawan segmen ini ke kawasan Super Prioritas Indonesia termasuk ke Danau Toba, Labuan Bajo-Komodo, Borobudur-Jawa Tengah-Yogyakarta, Mandalika Lombok. Likupang-Minahasa, dan juga Pantai Lagoi di Bintan Utara, Kepulauan Riau.

Kata Penutup:
Jelas dari daftar di atas bahwa Indonesia tidak kekurangan destinasi yang sangat siap untuk menarik wisatawan pasca lockdown. Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa telah terjadi perubahan pada langganan yang biasa dilayani :

  • Wisatawan Now semakin terbiasa berhubungan online dengan pembahasan lewat internet, terutama setelah mengalami 10 bulan lockdown dengan pergerakan terbatas. Maka tour operators Indonesia harus mampu melayani mereka secara personal secara online juga.
  • Sangat penting diketahui persyaratan-persyaratan yang berlaku bagi wisatawan asing waktu masuk ke Indonesia, termasuk peraturan untuk tiap destinasi dan provinsi yang akan dikunjungi : test PCR mana yang diperlukan, apa perlu dikarantina, apakah wisatawan mempunyai asuransi kesehatan, kalau tidak ada maka akan ditanggung siapa. Perhatikan juga bahwa peraturan protokol kesehatan bisa saja berubah sewaktu-waktu secara mendadak.
  • Seyogyanya tour operators juga mengetahui semua hal mengenai rumah sakit yang tersedia, dokter, perawatan, obat, dlsb yang mungkin diperlukan dalam perjalanan.
  • Wisatawan berkwalitas adalah orang manja. Mereka juga mengharapkan diberi lebih banyak informasi, pendalaman dan pengetahuan baik mengenai destinasi yang ada maupun segala yang dilihat, dinikmati dan dikunjunginya. Mereka juga ingin mengalami hal-hal khas di destinasi.
  • Pastikan bahwa destinasi, hotel maupun restoran yang dikunjungi bermutu dan bersertifikasi CHSE.
    Akhir kata, mari kita berdoa dan mengharap bahwa Tahun 2021 akan membawa berkah dan khususnya recovery bagi Kepariwisataan Indonesia. SELAMAT TAHUN BARU 2021. Semoga Pariwisata Indonesia Semakin Jaya
Penulis adalah: Pengamat Pariwisata dan mantan Managing Durector Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.