Shukor Yusuf: Merugi Terus MAS Selayaknya Tutup

0
122
Malaysia Airlines (Foto: Repro Google)

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Pendiri perusahaan konsultan penerbangan Endau Analytic, Shukor Yusuf menilai, operasional bisnis maskapai penerbangan Malaysia Airlines (MAS) selayaknya ditutup, menyusul kerugian yang diderita maskapai tersebut selama bertahun-tahun.

Menurut Shukor, tidak ada masalah terkait kapasitas jika Malaysia Airlines menghentikan operasional bisnisnya. Sebab kekosongannya akan diisi maskapai lain. “MAS harus ditutup. Tak ada alasan ekonomi atau keuangan untuk mempertahankannya dalam kondisi seperti saat ini. Bisnis yang merugi tidak dapat berlanjut tanpa batas waktu,” kata Shukor dilansir New Straits Times, Jumat (8/3/2019).

Jika maskapai nasional ditutup, lanjut Shukor, asetnya dapat digunakan untuk membayar utang, sementara beberapa pekerjanya dapat dialihkan ke maskapai lain, seperti Malindo Airways atau AirAsia. “Menurut saya, yang lebih penting adalah menangani orang-orang yang bertanggung jawab atas kehancuran MAS. Harus ada akuntabilitas,” kata dia.

Dilanjutkan, pertanyaan yang masih harus dijawab adalah apakah MAS benar-benar membawa efek berganda bagi perekonomian Malaysia dari sektor pariwisata seperti yang diklaim oleh Khazanah Nasional Bhd sebagai pemegang saham tunggal MAS.

Pengamat penerbangan Maybank Investment Bank Bhd, Mohshin Aziz, sepakat cara terbaik MAS menghentikan operasi, mengingat rencana turnaround-nya selama bertahun-tahun telah gagal. “Haruskah Malaysia memiliki maskapai penerbangan nasional? Argumen itu menjadi semakin lemah karena kita telah berkali-kali menolaknya,” kata dia.

“Saat ini, keterikatan dan sentimen terhadap maskapai nasional tidak sekuat sebelumnya. Sebelumnya, ada rasa bangga yang melekat pada mereka.Tetapi hari ini, keterikatan emosional tidak lagi kuat, terutama di antara generasi muda,” lanjut Mohshin.

Namun, kata Mohshin, MAS dapat dijual ke pihak yang tertarik atau mengadakan usaha patungan dengan maskapai lain, atau perusahaan induknya Malaysia Aviation Group Bhd dapat menjual salah satu anak perusahaannya, seperti MAB Engineering.

Sejak delisting dari Bursa Malaysia, selama periode 2015 hingga 2017, MAS telah mencatat kerugian RM 2,3 miliar karena pelemahan mata uang ringgit, dan juga biaya bahan bakar jet yang lebih tinggi. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here