Masker dan Alam, Pameran Lintas Seni Bangkitkan Pariwisata Yogya

this formate

Gaum casual warna hitam karya desainer Lia Nystafa,  lambang ketidak bebasan saat  pandemic Covid-19. ( Foto: Satrio Purnomo).

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Bertajuk Masker dan Alam, pameran lintas karya dari karya para pelaku seni di Yogyakarta menjadi cara dan terobosan terbaik bangkitkan pariwisata, kata Singgih Raharjo SH MEd, Kepala Dinas Pariwisata DIY 

“Pameran bertema Masker dan Alam ini adalah cara dan terobosan yang baik untuk DIY.Kita semua wajib bangkit untuk mengatasi semua kendala di tengah pandemi global saat ini,” kata Singggih.

Didukung oleh Gaia Cosmos Hotel, beberapa kreator membuat kegiatan Pameran “Masker dan Alam” yang dilihat dari sudut seni lukis, patung, interior, Foto, Fahion maupun tulisan puisi.

Menurut dia, pandemi global COVID-19 bisa saja membuat seseorang tertegun, termenung atas musibah yang menghantam pariwisata Yogyakarta ini. Namun semua itu jangan sampai larut.

“Bahwa pameran ini adalah hasil dari meditasi dari para penggiat seni selama pandemi tentunya mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta karena menyangkut ekonomi kreatif,” ujarnya.

Singgih berharap semua seniman dapat melalukan yang terbaik dalam karya seni untuk meningkatkan dan mengangkat pariwisata Yogyakarta. 

Sejak penerapan tatanan hidup baru atau  New Normal dimulai, beragam aktivitas dan kreativitas pun sudah mulai bergerak.

Singgih mengapresiasi cara untuk mengaitkan keberagaman dengan satu pemikiran yang sama dalam benang merah, ke prihatin an dan kepedulian dan menjalin hubungan harmonis dalam seni dan motivasi diri ini.

Kadispar DIY, Singgih Raharjo melihat pameran karya fashion dan interior.

“Para kreator seni di Jogja mencoba menawarkan sebuah Ide dari kondisi yang sederhana dari sebuah masker yang wajib dipakai,” tegas Singgih Raharjo SH.

Bertempat di Gaia Cosmos Hotel Sabtu (29/8/2020) para kreator seni Yogyakarta menawarkan ide dari kondisi yang sederhana, dari selembar masker dan sikap tentang alam semesta, termasuk kesedihan dan kebersamaan menghadapi pandemi Covid-19.

Terlibatnya para kreator seniman ternama membuat pameran yang dimulai dari tanggal 29 Agustus dan akan berakhir di 4 September 2020 ini dapat menghidupkan pelaku seni dan pariwisata Yogyakarta yang terdampak pandemi.

Seniman yang terlibat dalam pameran ini, yaitu Karya Fashion dari Lia Mustafa, Karya Patung dari Andre Suryaman dan Timbul Raharjo, Karya Lukis dari Isro Media Legal, Karya Interior Dari Deddy Effendi, Karya Foto dari Fausan Armando dan Pradita Dian serta Karya Puisi dari Reza Rusandi dan Vika Aditya.Andre Suryaman

Lia Mustafa tampilkan 14 outfit baju-baju casual dengan warna cream, hijau dan coklat. Ketidak bebasan saat dan pandemic Covid-19 digambarkan dengan warna hitam.

Oufit itu dipadukan dengan masker-masker dari simbol pohon atau tumbuhan akar daun dan ranting serta juga CroChet, masker rajutan.

Acara fashion juga menampilkan  paduan suara yang indah sehingga kegiatan ini saling berbagi dalam memberikan inspirasi, kompak, gesit dan tepat.

Closing Ceremony akan dilaksanakan tanggal 4 September 2020 ditutup dengan perayaan Fashion Show by Lin Grigo, Ang Hermana dan Fariz

 

Tren Baru Wisatawan Sekaligus Sukarelawan Untuk Dukung Pengembangan Pariwisata Indonesia

this formate

Rizky Handayani ( tengah)  bersama Cakra Khan dan Budi Doremi. ( Foto Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menilai voluntourism sebagai salah satu tren wisata baru yang potensial mendukung pengembangan destinasi wisata di Indonesia.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Rizki Handayani dalam seminar daring bertajuk New Normal Stage Jumat (28/8/2020), mengatakan ke depan tren pariwisata itu bukan sekadar jalan-jalan santai, tetapi pariwisata yang memberikan kontribusi atau manfaat kepada destinasi wisata yang dikunjungi oleh wisatawan.

“Jadi, sekarang trennya adalah anak-anak muda datang sebagai sukarelawan ( volunteer)  dalam rangka menciptakan rasa kepedulian terhadap alam dan budaya destinasi wisata Indonesia,” kata Rizky.

Jadi Voluntourism mengandung makna wisatawan yang bertanggungjawab, dengan melakukan kegiatan pariwisata sambil menjadi sukarelawan. Hal ini adalah salah satu bentuk kegiatan dalam mendukung pengembangan destinasi wisata, jelasnya.

Dia mencontohkan, di Sumba ada voluntourism yang membuat gerakan shoes for Sumba yang bertujuan untuk memberikan sepatu bagi masyarakat lokal Sumba.

Bentuk lain dari kegiatan voluntourism ialah dengan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak di suatu destinasi, misalnya dengan mengajari mereka gerakan memungut sampah.

“Hal tersebut memperlihatkan bahwa ketika kita travelling atau jalan-jalan, kita juga bisa sambil menjaga lingkungan yang ada di sekitar destinasi wisata tersebut,” ujar Rizki.

Voluntourism juga dianggap sangat lekat dengan penerapan protokol kesehatan berbasis cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE). Sehingga, dengan kegiatan itu dapat meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi wisata.

“Selain itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik dan menandakan bahwa Indonesia sangat peduli dengan kebersihan, kesehatan, dan keselamatan wisatawan, ”

Pemerintah melalui Kemenparekraf telah meluncurkan I DO CARE atau Indonesia Care yang merupakan sebuah kampanye yang di dalamnya terdapat panduan-panduan protokol kesehatan di berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat kembali bangkit, kata Rizki.

Acara daring ini juga dihadiri dan dimeriahkan oleh dua musisi ternama Indonesia, yaitu Cakra Khan dan Budi Doremi. Musisi, Budi Doremi, mengatakan ketika travelling salah satu kegiatan yang ia suka adalah mengenal secara dekat dengan budaya masyarakat lokal.

“Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak suku dan bahasa, memunculkan ragam budaya yang berhasil menjadi daya tarik wisatawan. Sehingga, saya melihat bahwa wisata tidak hanya sekadar melihat landscape pemandangan alamnya saja,” kata Budi.

Menuryt dia, wisata itu adalah belajar pada manusianya. Yang dibangun dan yang dijaga tidak hanya alamnya, tetapi artefak yang paling berharga adalah manusia Indonesianya, tanbah Budi.

 

Menikmati Kuliner Cirebon Nasi Jamblang Beralas Daun Jati

this formate

CIREBON, bisniswisata.co.id: Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, mata mengantuk namun karena tujuan berikutnya adalah makan nasi Jamblang, salah satu kuliner khas Cirebon maka rasa penasaran bisa mengalahkan rasa kantuk yang menyerang.

Saya langsung masuk barisan berkaos hijau rombongan press tour Forwaparekraf yang antri mengular untuk mengambil makan malam yang disebut Nasi Jamblang atau Sega Jamblang yang kini juga menjadi identitas Cirebon. 

Bergaya masakan rumahan  dengan penyajian prasmanan. Sedikitnya 40 anggota rombongan membuat dua jalur antrian untuk memilih lauk pauk yang tersedia.

Nasi jamblang pada awalnya hanya menambahkan lauk-pauk sederhana seperti tahu, tempe, dan sambal. Namun seiring berjalannya waktu, lauk pauk nasi jamblang telah bertambah menjadi sekitar 40 jenis panganan.

Diantaranya ada semur dari daging, hati sapi, lidah, limpa dan ati ayam. Itu baru semur, ada lagi ayam goreng serundeng, ikan asin jambal, pare isi oncom, keripik udang, tahu, tempe, perkedel, cumi hitam dan masih banyak lagi. Tinggal kita pilih sesuai selera kita.

Sementara penampilan nasi jamblang sama dengan nasi putih hanya saja penggunaan daun jati pada nasi jamblang sebagai pembungkus membuat kuliner ini menjadi unik.

Antrian memilih lauk nasi jamblang yang beragam. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi)

Selain itu, penggunaan daun ini juga menghasilkan rasa yang lebih gurih dan aroma yang lebih sedap. Selain itu, daun jati juga berfungsi sebagai penahan agar nasi tidak mudah basi.

Sambil mengunyah dan browsing saya baru paham sejarah nasi jamblang berawal saat Belanda masih menjajah nusantara. Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36 yaitu Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Anyer-Panarukan guna memperlancar komunikasi dan perdagangan antar daerah.

Hal ini mengakibatkan wilayah Cirebon ikut terkena dampak dengan pembangunan tersebut. Ratusan pekerja dikerahkan guna membangun jalan raya ini. Untuk menyuplai makanan, masyarakat dari Desa Jamblang membuat bungkusan nasi yang dibalut dengan daun jati untuk para pekerja. 

Inilah yang kemudian mendasari penamaan nasi jamblang kebanggaan warga Cirebon. Banyak wisatawan yang datang makan di Nasi Jamblang ini. Jadi tidak heran jika parkiran halaman Bu Nur  mobil penuh dan harus antri.

Sejarah nasi jamblang ibu Nur sendiri berawal dari warung sederhana di sudut  Jln.Tentara Pelajar  tapi tempat kami makan adalah rumah makan  yang lebih besar  di Jln  Cangkring 2 no.34, Kejaksan, Cirebon.

Konon para pejabat hingga selebritis pun tak ingin ketinggalan menikmati kelezatan nasi jamblang ibu Nur ini. Begitu banyak pilihan tapi setelah duduk ternyata pilihan lauk saya tidak ‘ menggunung ‘ hanya terdiri dari semur daging sapi, pepes telur asin sama tahu.

Berhubung tinggi antara meja makan dan bangku panjang cuma beda-beda tipis, tidak seperti meja makan di restoran umumnya,  jadi makan kurang byanan cendrung membungkuk.

Di tambah lagi sudah seharian di Desa Wisata Cibuntu,  jadi saya memilih cepat ke bis untuk kembali ke hotel. Besoknya melanjutkan perjalanan ke Bandung……

 

Strategi Jitu H. Awam Untuk Kesejahteraan Warga Desa Wisata Cibuntu

this formate

 H. Awam, Kepala Desa Wisata Cibuntu, Kuningan, Jawa Barat. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi)

KUNINGAN, Jabar, bisniswisata.co.id: Kesejahteraan itu milik rakyat sehingga dahulukan kepentingan warga Desa Wisata Cibuntu adalah yang utama untuk menjadi desa yang berprestasi dan mampu melestarikan adat istiadatnya, kata H . Awam, Kepala Desa Wisata Cibuntu.

” Bagaimana caranya sejahtera ? ya pimpinan yaitu ketua kelompok Sadar Wisata desa Cibuntu, Kecamatan Pesawahan harus bersikap adil dalam membagi pekerjaan termasuk mengisi permintaan homestay,” kata H. Awam

Dirinya sebagai Kepala Desa Wisata Cibuntu maupun keluarga dan kerabatnya tidak boleh mengambil prioritas dalam hal melayani jasa-jasa yang dibutuhkan oleh kunjungan wisatawan terutama jasa homestay.

“Banyak Desa Wisata di Tanah Air akhirnya tidak berkembang karena konflik kepentingan dari pengurus Pokdarwis, Kepala Desa dan jajarannya yang justru mengambil tamu sendiri untuk rumah mereka yang juga menjadi homestay,”

Di situlah akhirnya kesejahteraan dan keadilan menjadi tidak merata. Kalau tamu sudah tidak tertampung di homestay milik rakyat barulah kepala desa boleh buka pintu. Intinya harus ada giliran yang adil dan merata serta tercatat sehingga semua menjadi transparan tentunya.

” Setelah jadi Desa Wisara Cibuntu, maka harga tanah di sini naik menjadi Rp 400.000 per meter. Oleh karena itu saya minta pakta integritas dari warga, kita tidak butuh investor dari luar, kita tidak menjual tanah pada pihak luar,” kata H. Awam.

Dia menjelaskan bahwa terbentuknya desa wisata ini tidak langsung jadi sendiri, ada banyak proses dan dilakukan dari hasil observasi dan uji kelayakan dari mahasiswa STP Trisakti pada tahun 2011. Saat itu ada tiga mahasiswa yang diutus meneliti.

“Setelah mereka kembali ke Jakarta, mereka buatkan laporannya ditindak lanjuti serta diadakan pembinaan kembali. Warga Desa Cibuntu pada 2012 mulai sepakat merintis desa wisata sesuai arahan para mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti hingga menjadi desa wisata binaan perguruan tinggi itu, ” jelasnya.

Awam bercerita bahwa  proses menjadi desa wisata itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Banyak desa yang harus dilakukan penelitian hingga 8 kali, sementara Cibuntu baru dua kali penelitian sudah bisa mendapatkan legalisasi sebagai Desa Wisata yang pada 15 desember 2012 sudah bisa soft launching oleh Pemda Cirebon.

Alhamdulillah, Cibuntu punya modal dengan masyarakatnya yang kondusif, keamanannya terjaga, bersih dan tertib. Hal ini karena sering dilakukan pembinaan agar desa wisata ini semakin berkembang.

Akhirnya pada 2016, penilaian dari kemenpar juga, salah satu homestay yang ada di  Cibuntu, itu menjadi peringkat ke 5 di Asean pada 2016. Lalu pada tingkat nasional di Hotel  Bidakara Jakarta tahun 2017, meraih posisi kedua setelah Bali.

“Penilaian juga dari kemenpar, kami mendapat penghargaan CFT (Community First of Tourism)  yang pariwisata dengan pemberdayaan masyarakat.” kata H. Awam

 

Wisata Edukasi di Cibuntu a.l Kampung Kambing dan situs penemuan jaman megalituk muda.

Menurut dia, dari awal penerapan Sapta Pesona yang ditekankan terdiri dari  tujuh unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan bukan hanya jadi slogan.

“Kita harus menciptakan suasana indah dan mempesona, dimana saja dan kapan saja. Khususnya ditempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan dan pada waktu melayani wisatawan,”

Dengan kondisi dan suasana yang menarik dan nyaman, wisatawan akan betah tinggal lebih lama, merasa puas atas kunjungannya dan memberikan kenangan indah dalam hidupnya, ungkap H. Awam.

Desa Wisata Cibuntu terletak sekitar 28 km dari Kota Kuningan, atau 56 menit jika menggunakan mobil. Berkunjung ke desa ini selain pemandangan apalagi yang bisa dilihat dan bisa menjadi wisata edukasi ?

“Di sini banyak situs peninggalan pra sejarah,  adanya mata air Kahurupan yang bisa diminum langsung dari sumbernya dan ada juga curug ( air terjun)  serta ada kampung domba untuk wahana edukasi,”

Dari rekam jejak digitalnya, kata H. Awam, bagi anak milenial bisa dibaca dulu sejarahnya arca peninggalan sejarah masa hindu Budha di Desa Cibuntu, Kabupaten Kuningan yang terkenal dengan sebutan situs Saurip Kidul, Bujal Dayeuh dan Hulu Dayeuh.

Kalau dilihat langsung mungkin tidak menarik karena hanya batu atau onggokan, kebon kosong berpagar,  tempat penemuan sesuai titik kordinatnya. Seharusnya memang dipasang papan keterangan mengenai sejarah penemuan di situs-situs yang kini sudah tersimpan di museum.

Tahun 1967 pernah ditemukan Peti Kubur Batu di kebun warga dan di dalam peti ada beberapa Kapak Genggam. Penemuan peti kubur batu, diyakini berasal dari gelombang kebudayaan megalitik muda.

Bulan Februari 1972, Tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) Jakarta menemukan lagi puluhan Kapak Genggam, Gelang dan Kelenting, serta 1 (satu) Kapak Genggam dari Saurip II (Kidul) berwarna Ati ayam.

Satu hal yang membuat desa wisata ini unik adalah mereka memiliki Kampung Kambing. Seluruh kambing milik warga di taruh di sana yaitu jenis kambing Garut.

Kampung Kambing merupakan kandang khusus yang memiliki lebih dari ribuan kambing. Meski begitu, lingkungannya masih bersih, sehingga tidak perlu khawatir dengan bau kotorannya. 

Kampung kambing yang terpisah dari Desa Wisata Cibuntu kini banyak dikunjungi anak-anak sekolah hingga PNS untuk memahami cara pembudidayaan maupun perawatan yang datang dari berbagai daerah lainnya di Jawa Barat termasuk sekolah-sekolah di Jabotabek.

Awam mengatakan selama pandemi semua aktivitas dipending termasuk rencana membuat balai desa yang permanen. Tamu sekarang bisa berkunjung namun semua homestay tidak boleh menerima tamu dulu.

“Sekarang, menyambut New Normal, kami sudah membuka kembali pariwisata desa wisata cibuntu, tentu dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti mencuci tangan, pakai masker dan jaga jarak. Kita sudah siapkan tempat untuk mencuci tangan. Berkunjung boleh, tapi kalau untuk menginap masih kita larang,” ujarnya.

Ke depan dengan adanya balai desa pihaknya  ingin menonjolkan pertanian kopi hasil budi daya masyarakat Cibuntu asli, tambahnya sambil mengakhiri obrolan..

 

 

 

Protokol Kesehatan Jadi Andalan, Desa Wisata Cibuntu Siap Sambut Wisatawan Kembali

this formate

Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Johan Sompotan, menerima penyambutan di Desa Eisata Cibuntu, Kuningan, Jabar. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi).

KUNINGAN, Jabar,  bisniswisata.co.id: Hari kedua kegiatan ‘Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan & Cirebon‘ 2020  membawa para anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf)  berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu, Kuningan yang merupakan salah satu Desa Wisata berbasis komunitas terbaik di Indonesia.

Kabupaten Kuningan memiliki beberapa tempat wisata alam menarik yang patut dikunjungi. Kesejukannya mungkin membuat orang betah untuk berlibur di sana. Salah satu tempat wisata yang bisa dikunjungi selama berlibur di Kuningan adalah Desa Wisata Cibuntu di Kecamatan Pasawahan.

Di desa wisata tersebut, masyarakat setempat menawarkan keindahan alam yang masih asri. Wisatawan yang berkunjung bisa mempelajari kebudayaan setempat. Sembari berinteraksi dengan masyarakat setempat, wisatawan bisa menikmati hamparan rerumputan hijau yang membentang di bawah kaki Gunung Ciremai.

Ciri khas sebuah Desa Wisata adalah mampu menerapkan Sapta Pesona. Saya jadi ingat logonya yang dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur Kemanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan. 

Program ini disiapkan sebelum RI menggelar VISIT INDONESIA YEAR 1991 dengan tujuan  untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi tuan rumah yang baik.

Sapta Pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Negara kita. Sapta Pesona kini oleh Kemenparekraf ditransformasi menjadi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Menyesuaikan dengan era pandemi global dimana setiap langkah pemerintah menjadi sorotan dunia maka Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan yang menjadi inti CHSE juga sama dengan tujuan Sapta Pesona.

Benar saja, kedatangan rombongan yang kali ini berseragam hijau terang menyesuaikan dengan warna alam pedesaan langsung disambut dengan tarian selamat datang. Ketua Forwaparekraf Johan Sompotan bak pejabat negara dilindungi dari terik matahari dengan payung besar. 

Sementara anggota rombongan dibelakangnya sudah ambyar sebagian menepi takut sorotan matahari. Anak-anak dari Sanggar Desa Cibuntu bergantian menari, main angklung dan terakhir menarikan tetenong besar, alat masak di kepala.

Keramah tamahan warga desa langsung terasa dengan sambutan serta minuman sereh dan umbi-umbian sebagai snack ucapan Selamat Datang. Untuk mencapai desa di kaki Gunung Ciremai ini memang lumayan terasa jauh tapi mata dimanjakan dengan hamparan sawah hijau.

Tarian Selamat Datang, tari Tetenong dan Musik angklung wujud keramah tamahan warga Desa Wisata Cibuntu

Desa Wisata Cibuntu lokasinya dekat dengan hutan pinus yang merupakan kawasan hutan dari Gunung Ciremai. Untuk menuju lokasi ini, dari Cirebon, maka rute yang dilalui adalah melalui Cirebon – Sumber (Plangon) – Mandirancan – Paniis – Cibuntu yang berjarak sekitar 30 km.

Kuningan dikenal luas sebagai surganya wisata alam di provinsi Jawa Barat. Sehingga bisa dibilang Kuningan merupakan salah satu destinasi wisata terbaik dan paling aman dari resiko penyebaran Covid-19. 

Momentum adaptasi kebiasaan baru ini pun seakan menjadi kesempatan terbaik bagi Kabupaten Kuningan untuk semakin mempromosikan diri menjadi salah satu destinasi wisata terbaik bagi para wisatawan domestik. 

Soot wisata di Desa Wisata Cibuntu dan homestay yang tersedia

Desa Wisata Cibuntu kini telah memiliki homestay dan camping site sehingga sangat cocok dijadikan sebagai destinasi wisata keluarga atau korporasi   ( outbound camp)

Dijelaskan oleh Kepala Desa Wisata Cibuntu, H. Awam bahwa kawasan ini sangat dijaga baik kelestarian dan tetap dikelola oleh pihak lokal, yaitu masyarakat setempat secara tradisional meski saat ini kita hidup di era digital.

“Kami cukup bangga menjadi bagian dari Desa Wisata Cibuntu yang memiliki daya tarik bukan karena hiasan saja yang mempercantiknya, akan tetapi pembinaan berkesinambungan dan komitmen komunitas masyarakatnya,” kata Pak Kades, H. Awam.

Dalam menjaga keberadaan Desa Wisata Cibuntu yang jadi kekuatan utama. Masyarakat Desa Wisata Cibuntu pun selalu menjaga Sapta Pesona sebagai acuan mengelola keberlangsungan Desa Wisata ini, terangnya.

Sementara dalam sambutannya, Johan Sompotan selaku Ketua Forwaparekraf melayangkan pujian terhadap Desa Wisata Cibuntu yang pernah menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia maupun Asia Tenggara.

“Kami terpesona dengan sambutan hangat Desa Wisata Cibuntu. Kenapa kami pilih Desa Wisata Cibuntu, karena Desa Wisata ini telah menerapkan protokol kesehatan yang baik,” kata Johan Sompotan.

Kondisinya yang merupakan kawasan wisata luar ruang sehingga punya resiko penyebaran Covid-19 yang rendah dan tentunya telah siap menerima kehadiran wisatawan dari berbagai tempat karena sudah terjamin kualitasnya yang telah diakui di Indonesia maupun Asia Tenggara,” jelasnya.

Atraksi wisata di sini cukup beragam dan yang bisa dilakukan di antaranya adalah berenang dan berkemah. Ada juga Air Terjun Gongseng yang bisa dikunjungi serta situs-situs peninggalan pra sejarah seperti batu Megalatikum.

Jika ingin coba meminum air alami yang segar, maka bisa langsung menuju mata air Kahuripan. Banyak yang datang dan langsung membuktikan minum langsung air dingin pegunungan dan hasilnya malah lebih bugar.

Jika menjelajah lebih jauh, wisatawan bisa melihat sebuah tebing yang letaknya tidak jauh dari Air Terjun Gongseng. Di dekat tebing terdapat sebuah gazebo yang telah dibangun oleh masyarakat setempat. Wisatawan bisa bersantai sejenak di sana sebelum lanjut menjelajahi Desa Wisata Cibuntu. Nah bagaimana ?  cuss…meluncur saja ke sini……

 

Kebangkitan Industri Halal, Sejauhmana RI Bisa Berkontribusi

this formate

Presenter TV & News Anchor Twinda Rarasati menjadi moderator webinar dengan nara sumber Hamid Slimi dan Iman Ali Aliaqat. ( Foto: IHLC)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Indonesia seharusnya dapat menangkap adanya kebangkitan halal industri di era pandemi global, karena dari sejumlah sektor di industri ini ada yang mengalami booming seperti halnya halal food, kata DR Hamid Slimi, Ketua Halal Expo Kanada.

Berbicara dalam webinar bertajuk Revival Halal Industry yang diselenggarakan Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) dan Bank Indonesia, Rabu lalu, Hamid mengatakan Indonesia dengan daya saing biaya manufaktur yang lebih rendah dibandingkan negara lain seharusnya bisa tingkatkan ekspor produk makanan halal ( halal food).

” Kanada seperti Australia memang produsen produk makanan yang melayani kebutuhan dunia, kalau biaya manufaktur di Indonesia jauh lebih murah bisa saja negara-negara exportir merelokasi pabrik di sini,” ungkapnya dalam diskusi virtual itu yang diikuti peserta internasional dari berbagai negara.

Selain Hamid Slimi, hadir pula sebagai keynote speaker Prijono, Ketua Pengembangan Ekonomi dan  Keuangan Syariah Bank Indonesia serta Iman Ali Liaqat, Research Analisyst DinarStandard.

Pembicara lainnya adalah Rachmat Hidayat, Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik & Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) dan Amalia Sarah Santi, VP Marketing Investment & Digital Transformation PT Paragon.

Hal yang jadi pertanyaan Slimi Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, tetapi perusahaan produk olahan makanan halal justru memilih China dan Hongkong untuk food logistic, kata Hamid Slimi lagi.

Industri halal memang belum banyak dipahami oleh banyak negara. Kanada umat Islamnya hanya 1,2 juta orang tapi dikenal sebagai negara exportir halal food product disamping di kenal karena keunggulan bidang pharmasi, medical dan riset.

“Bagi negara yang paham bahwa Halal Food adalah bisnis besar untuk melayani 1,8 miliar umat Muslim di dunia maka saya sarankan Indonesia fokus pada industri manufaktur terutama Industri makanan dan  minuman halal,” ungkapnya.

Meski mungkin butuh waktu 10 tahun untuk menyadarkan berbagai pihak,Indonesia harus bisa minimal menjadi halal food hub karena posisinya juga memungkinkan untuk itu, seperti Singapura yang juga menjadi hub dari berbagai produk dan jasa kebutuhan dunia.

Sementara Iman Ali Liaqat, Research Analisyst DinarStandard menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 di halal industry ada yang melonjak permintaannya atau sebaliknya jadi menurun sedikit atau malah anjlok.

Dampak COVID-19 pada perekonomian negara-negara Islam

Hal yang penting adalah pasar halal mana saja yang terdampak, negara mana saja yang terdampak dan apa akibatnya. Setelah itu dilihat dimana area peluangnya, ungkapnya.

” Akibat pandemi permintaan halal food naik, sebaliknya Muslim Friendly Travel ( Halal Tourism) terdampak parah. Dampak level medium ada di sektor kosmetik halal,” 

Menurut dia, para pemimpin ekonomi halal akan ditentukan oleh apa yang mereka lakukan di sepanjang tiga langkahnya dalam mengelola krisis atau disebutnya sebagai strategi jangka menengah 1-3 tahun.

” Pandemi menuntut kita melakukan Return ( Kembali)  , Reform ( Pembaruan ) dan  Reinvent,” ungkap Iman Ali Liaqat

Menurut dia belanja bahan makanan online sedang melonjak, 20% -30% di banyak pasar, permintaan makanan yang sehat  ( halal food ) dan tidak terkontaminasi menciptakan peluang untuk pertumbuhan global makanan halal.

Keterlibatan digital yang tinggi di sebagian besar industri ke konsumen ( B to C) menyediakan banyak peluang bagi banyak orang.

Lonjakan besar dalam konsumsi dan penyerapan layanan secara  online, mendorong peluang untuk media ‘gaya hidup halal’ digital, aplikasi digital, dan pendidikan bertema Islam juga naik.

Pembelajaran / pendidikan online adalah transisi jangka panjang ke pembelajaran online hybrid. Untuk 

solusi fintech ,  proposisi keuangan asli dan tafakul digital mendapatkan momentum. Sedangkan pertumbuhan keuangan sosial Islam seperti sedekah, zakat, wakaf juga naik.

Return maksudnya lakukanlah perencanaan kontingensi yang kuat untuk pandemi di masa depan. Reform termasuk reformasi fungsi pemerintah diperlukan untuk menemukan kembali, mengevaluasi kemitraan dan strategi pendanaan untuk memungkinkan menemukan kembali bidang prioritas,”

Sedangkan Reinvent dengan melakukan evaluasi rantai nilai dan bagaimana gangguan dapat dikurangi dan diminimalkan di kejadian-kejadian mendatang.

“Dorong adopsi dan inovasi teknologi untuk mendukung skenario “Normal Baru” dan jangan tinggalkan sektor UMKM karena merelah motor penggerak perekonomian,” kata Iman Ali Liaqat.

 

Pelaku Ekonomi Kreatif Diajak Selalu Gunakan Batik dalam Setiap Karya

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pelaku ekonomi kreatif agar tak segan selalu menggunakan batik sebagai materi dalam setiap karya termasuk di bidang fesyen, kriya, dan interior, ungkap Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, MM, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf.

Berbicara dalam Talkshow Obrolan Tentang Batik (OTENTIK): “Batik Representasi Indonesia Untuk Fesyen, Kriya, dan Interior“, Kamis (27/8), dia menjelaskan keunikan batik yang terletak pada motif dan warna tiap daerah dapat dikolaborasikan dengan fesyen dan desain interior.

Hal tersebut pun dapat dijadikan inovasi untuk mendukung roda perekonomian di Indonesia yang terdampak COVID-19.Meskipun batik  sudah dikenal di seluruh dunia, tapi harus coba mempertahankan dan menyebarluaskan dalam fase pandemi ini.

“Kami mendorong serta mengajak para pelaku ekonomi kreatif agar tetap produktif di masa adaptasi kebiasan baru ini untuk mendukung roda perekonomian Indonesia yang terdampak COVID-19,” ujar Wisnu.

Parekraf di bidang kriya, fesyen, dan desain interior juga harus didukung dengan kompetensi dan sertifikasi agar karya yang dihasilkan pun berkualitas serta memiliki nilai jual tinggi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif, Muhammad Ricky Fauziyani, S.Sos., M.Pd, menjelaskan bahwa Kemenparekraf akan memfasilitasi para pelaku parekraf di bidang kriya, fesyen, dan desain interior untuk mendapat skema pembelajaran untuk menunjang kemampuan.

“Jadi nanti kita juga akan membuat satu skema satu pembelajaran dan itu sifatnya gratis,” jelas Ricky.

Manajer Pemasaran Lembaga Sertifikasi Profesi Batik, Rahayu Sulistyowati, berharap di masa pandemi COVID-19 ini kain batik bisa terus dikolaborasikan dengan subsektor fesyen hingga desain interior untuk menghasilkan inovasi baru untuk diterima oleh masyarakat.

“Dengan selembar kain yang berkualitas lalu kita kolaborasikan dengan fesyen akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Dari kolaborasi ini, kami membutuhkan dukungan pemerintah dalam kaitannya dengan market,” ujar Rahayu.

Jadi intinya di masa pandemi ini meskipun terjadi penurunan di omzet saya berharap kolaborasi tetap berjalan,” tambahnya.

 

Turki Makin Populer Jadi Destinasi Wisata Muslim

this formate

Turki makin populer di kalangan wisatawan muslim (foto: trtworld)

TURKI, bisniswisata.co.id: Setelah muncul pertama kali di China akhir tahun lalu, COVID-19 kini telah menyebar ke 215 negara. Hal ini memicu ketakutan global serta kejatuhan ekonomi parah. 

Banyak negara kemudian membatasi perjalanan udara dan memberlakukan aturan lockdown. Tujuannya agar penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan itu dapat dicegah.

Sektor pariwisata dan industri penerbangan termasuk yang paling parah terdampak akibat pandemi COVID-19. Kini, pandemi masih membayangi wisatawan. 

Studi terkini menunjukkan jumlah wisatawan yang melancong ke luar negeri masih minim. Di tengah keadaan ini ternyata  minat terhadap wisata halal yang menawarkan privasi lebih besar justru meningkat.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Turki Anadolu Agency, Sekjen Organisasi Wisata Halal Internasional, Emrullah Ahmet Turhan, mengatakan wisata halal menawarkan bentuk wisata yang memahami kebutuhan privasi.

Inilah keunggulan yang bisa ditawarkan kepada para pelancong yang menuntut privasi lebih tinggi di masa yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.

Wisata halal dirancang khusus bagi pelancong yang hendak taat menjalankan hukum Islam, antara lain menginap di hotel yang tidak menyajikan alkohol serta ketersediaan fasilitas spa dan kolam renang yang terpisah untuk pria dan wanita.

Menurut Turhan orang-orang dapat menikmati liburan musim panas dengan tetap menaati aturan jarak sosial yang sebetulnya merupakan bagian dari konsep wisata halal. Di Turki, misalnya, hampir 30 hotel telah mentransformasi diri menjadi hotel yang mengusung konsep  wisata halal.

“Pengembangan wisata halal mendapatkan momentumnya setelah jumlah pelancong internasional yang datang ke Turki menurun tajam di tengah pandemi,” ujarnya, seperti dilansir Hurriyetdailynews.

Pemilik fasilitas akomodasi pun kini semakin banyak yang beralih menyasar wisatawan domestik untuk mengkompensasi kerugian akibat berkurangnya wisatawan asing. Ada tren peningkatan jumlah hotel yang menawarkan jasa wisata halal, tambahnya.

 ”Dia menambahkan, semua hotel kini memberlakukan protokol kesehatan yang ketat. Selain untuk melawan COVID-19,  hal itu dilakukan juga ntuk menjaminan keamanan tamu yang menginap di sana.

Sekadar catatan, kata Turhan, wisata halal adalah ‘bisnis serius’ yang pada 2018 nilainya secara global telah mencapai US$171 miliar. Ada 121 juta muslim di seluruh dunia yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri setiap tahun.

 “Sekitar 8,5 juta Muslim datang ke Turki untuk liburan,” katanya. Angka itu mewakili 10% total wisatawan muslim global.

Wisatawan muslim juga dapat menggairahkan ekonomi lokal. Menurut Turhan rata-rata pelancong muslim membelanjakan uangnya setidaknya US$1.296  atau sekitar 18 juta rupiah di Turki.

Semakin populer 

Belum lama ini Pemerintah Turki mengembalikan Hagia Sophia di Istanbul menjadi masjid setelah sebelumnya berfungsi sebagai museum dan diakui UNESCO sebagai warisan dunia. 

Menurut sejarahnya, Hagia Sophia pertama kali dibangun sebagai katedral di jaman Kekaisaran Bizantium Kristen.Tak lama berselang, tepatnya pada Jumat (21/8) lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali memerintahkan Museum Kariye yang merupakan bekas gereja untuk menjadi masjid lagi. 

Seperti dilansir Al Arabiya,museum yang dahulu merupakan gereja Kristen Ortodoks kuno, dikembalikan fungsinya menjadi masjid kembali oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdrogan, pekan lalu. 

Keputusan untuk mengubah museum kariye menjadi masjid datang hanya sebulan setelah konversi kontroversial serupa untuk Hagia Sophia yang diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. 

Sejarah bangunan berusia 1.000 tahun itu sangat mirip dengan Hagia Sophia. Bahkan museum Kaiye banyak yang menyebut sebagai bangunan ‘tetangga’ Hagia Sophia  yang berada tak jauh dari wilayah Chora yakni di tepi barat bersejarah Tanduk Emas di sisi Eropa Istanbul.

 

 

Bupati Kuningan : 174 Obyek Wisata Siap Dengan Protokol CHSE

this formate

Bupati Kuningan Acep Purnama S.H., M.H saat memaparkan program pariwisata Kabupaten Kuningan. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi)

KUNINGAN, bisniswisata.co.id:  Bupati Kuningan, Acep Purnama S.H., M.H.memastikan bahwa seluruh destinasi wisata di Kabupaten Kuningan telah sepakat menerapkan protokol kesehatan dengan tegas serta disiplin. 

Pemkab Kuningan, diakui Acep telah terus melancarkan berbagai strategi demi mempersiapkan sektor pariwisata Kuningan pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru ini.

“Bahkan guna mensosialisasikan pentingnya memakai masker, kami membagikan masker kepada masyarakat yang tidak pakai masker dan per tanggal 28  besok kami akan mulai berlakukan tindakan yang tegas dengan tidak mengizinkan masyarakat tanpa masker untuk masuk ke kawasan wisata dan kawasan ekonomi di Kuningan,” jelasnya.

Berbicara saat menerima kunjungan 40 wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Forwaparekraf) dipimpin ketuanya, Johan Sompotan, Acep menjelaskan  wilayahnya memiliki 32 Kecamatan dan 376 kelurahan.

“Kami bersinergi dengan beberapa Kabupaten/Kota yang saling berbatasan langsung. Kami menamakan program ini Kunci Bersama yang merupakan inisial dari 9 nama Kabupaten/Kota yang bersepakat saling bersinergi” 

Kunci Bersama yaitu diantaranya Kab. Kuningan, Kab. Cirebon, Kota Cirebon, Kab. Ciamis, Kab. Brebes, Kab. Banjar, Kab. Majalengka & Kab. Pangandaran, tambahnya 

Kuningan yang memiliki 174 objek wisata ini, kata Acep punya potensi lebih lagi untuk mengembangkan sektor pariwisata sekaligus ekonominya pasca COVID-19.

“Saya yakin bahwa Kuningan punya potensi untuk mengembangkan sektor pariwisata dan ekonominya. Sebagai contoh di kawasan Gunung Ciremai yang punya peluang untuk menjadi kawasan wisata potensial dan dengan bantuan investasi dari pihak swasta maka kami akan dapat mewujudkan kawasan Gunung Ciremai yang lebih ramah wisatawan ke depannya,” ungkap Acep.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Kab Kuningan, Dr.Toto Toharudin MPd mengatakan semua instansi terkait dan aparat keamanan mulai pekan depan 31 Agustus juga sepakat untuk menerapkan standard CHSE dari Kemenparekraf.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menyusun protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan atau cleanliness, health, safety, environment (CHSE) di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bupati Kab Kuningan bersama Ketua Forwaparekraf, Johan Sompotan dan pejabat lainnya usai diskusi.

” Kami sudah sepakat dan punya pakta integritas dengan 174 obyek wisata di Kabupaten Kuningan untuk menerapkan CHSE. Kami seiring sejalan dengan Dinas kesehatan dan aparat untuk melabel CHSE,” kata Toto Toharudin.

Jadi, tambahnya, mulai minggu depan bagi obyek wisata di Kabupaten Kuningan yang tidak siap dengan CHSE sudah langsung ditutup operasionalnya, sedangkan yang bupati sampaikan bahwa mereka  menyatakan 100 % siap tapi jika kenyataan dilapangan berbeda harys tutup apalagi teken pakta integritas.

” Peninjauan mulai akhir Agustus kita harapkan minimal 70% dari jumlah obyek wisata di Kab. Kuningan siap dikunjungi wisatawan,” tuturnya 

Kunjungan para anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) mendapatkan sambutan yang hangat dari Bupati  dengan sajian menu makan malam berupa Sate Ayam Bumbu Kacang dan Bakso Sapi yang sangat lezat.

Pada kesempatan memberikan sambutan, Ketua Forwaparekraf, Johan Sompotan menegaskan alasan Forwaparekraf memilih Provinsi Jawa Barat dan khususnya Kuningan dalam kegiatan ‘Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan dan Cirebon’ pada tanggal 27-30 Agustus 2020.

“Alasan kenapa Forwaparekraf memilih Jawa Barat sebagai destinasi pertama dalam rangkaian ‘Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan & Cirebon’ karena jaraknya yang sangat dekat dari ibukota Jakarta. Sementara Kuningan dipilih karena merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat dengan destinasi wisata alam yang potensial,” terangnya.

“Saya yakin bahwa Kuningan punya potensi untuk mengembangkan sektor pariwisata dan ekonominya. Sebagai contoh di kawasan Gunung Ciremai yang punya peluang untuk menjadi kawasan wisata potensial dan dengan bantuan investasi dari pihak swasta maka kami akan dapat mewujudkan kawasan Gunung Ciremai yang lebih ramah wisatawan ke depannya,” ungkap Acep.

Menjawab pertanyaan wartawan seputar pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai ( TNGC) yang dibawah Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kadis Pemuda Olahraga, Pariwisata Kab Kuningan, Dr.Toto Toharudin MPd menjelaskan memang ada konflik kepentingan dengan Pemkab Kuningan.

” Kami lagi membentuk pansus berdasarkan keluhan masyarakat karena keberadaan TNGC bukan ke arah konservasi alam yang baik tapi jadi eksploitasi bisnis. Kerjasama dengan swasta tetap harus dalam frame  konservasi alam seperti harapan Bupati Acep Purnama,” tegasnya.

Dalam hal pengelolaan kawasan, Balai TNGC harus  selalu memperlakukan masyarakat sebagai subyek sekaligus menjadi tuan rumah di desanya sendiri dengan berpedoman pada tiga pilar pengelolaan yaitu kelola ekologi, kelola ekonomi dan kelola sosial budaya.

 

Berwisata Aman dan Nyaman di Keraton Kasepuhan Cirebon

this formate

Sultan Kacirebonan Pangeran Abdul Gani Natadiningrat SE (tengah) potong tumpeng , di dampingi Kadis Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon dan Johan Sompotan ( kanan), Ketua Forwaparekraf.

CIREBON, bisniswisata.co.id: Rombongan Forum Wartawan Pariwisata & Ekonomi Kreatif yang tiba di Keraton Kasepuhan Cirebon mendapat penjelasan mengenai empat struktur utama yang menyangga berdiri kokohnya Kasepuhan Cirebon  dari Raden Muhammad Hafid Permadi, Kepala Bagian Pemandu Keraton Kasepuhan

Kota Cirebon selama ini dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Barat yang masih sangat kental unsur sejarah dan budayanya. Terlebih, wilayah ini merupakan bagian dari sebuah Kasepuhan Cirebon yang masih memegang erat kebudayaannya secara turun temurun hingga kini.

Dijelaskan oleh Raden Muhammad Hafid Permadi, Kepala Bagian Pemandu Keraton Kasepuhan Cirebon bahwa terdapat empat struktur utama yang menyangga berdiri kokohnya Kasepuhan Cirebon ini.

“Empat struktur utama yang menjadi penyangga kokohnya Kasepuhan Cirebon ini, yaitu Masjid,  Alun-alun, Pasar dan Keraton,” tambahnya.

Masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan masyarakat, Pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat, Alun-alun sebagai pusat aktifitas seni dan budaya masyarakat serta Keraton sebagai pusat pemerintahan Keraton,” kata Raden Muhammad Hafid Permadi.

Patung harimau putih sebagai lambang keluarga besar Pajajaran dan Mande Karesmen, tempat perangkat gamelan/ kesenian serta Sultan bersama Ketua Forwaparekraf Johan.

Dengan sentralnya peranan Keraton Kasepuhan Cirebon ini di tengah masyarakat, tentu sangat pantas bila Keraton yang arsitektur gedung-gedungnya terpengaruh sentuhan khas Jawa Kuno dan Eropa ini, dianggap sebagai simbol kebangkitan pariwisata Kota Cirebon.

Untuk tetap menjaga arsitektur dan kondisi bangunannya, selain dilakukan perawatan bangunan secara rutin yang juga menggandeng berbagai pihak lain untuk dapat berkolaborasi melestarikan peninggalan sejarah dan budaya. Tidak ketinggalan kolaborasi program pendukung penerapan protokol kesehatan di  Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Saat ini ada beragam Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak swasta dan BUMN guna membantu melestarikan bangunan Keraton serta mendukung fasilitas protokol kesehatan, seperti misalnya dengan penyediaan wastafel portable di berbagai titik di Keraton,” terangnya.

Sementara Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon, Wandi Sofyan menegaskan bahwa Kota Cirebon sangat memperhatikan protokol kesehatan di berbagai destinasi wisata khususnya di Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Kami terapkan protokol kesehatan di setiap destinasi wisata Kota Cirebon. Ada program ‘3M’ yang terdiri dari Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan. Seluruh langkah protokol ini dilakukan karena potensi wisatawan berasal dari kawasan zona merah,” ujarnya.

Dan sebagai informasi tambahan untuk mendukung digitalisasi pariwisata di Kota Cirebon, diluncurkan sebuah aplikasi yang dapat memudahkan wisatawan meng-update informasi pariwisata Kota Cirebon yang bernama Cirebon Wistakon yang dapat di-install via Google Play Store.